Dibalik Senyum Alya

Dibalik Senyum Alya
DSA EPS 5


__ADS_3

Pada malam harinya, sekitar pukul sepuluh malam, Rendi sudah sampai di rumah, tetapi Alya yang mengerti kondisi kakaknya yang lelah karena perjalanan jauh , akhirnya ia memutuskan untuk berbicara besok, dan malam ini ia gunakan untuk saling berbincang dengan kedua kakaknya. Tidak dapat dipungkiri, ia sebenarnya sangat merindukan waktu bersama dwngan kedua kakaknya itu.


"kakak udah sampai? Alya kangen banget sama kakak, Gimana kabar kakak, baik saja kan kak?", Ucap Alya sambil meluk erat tubuh Rendi.


Rendi terkekeh melihat adiknya yang masih manja padanya, tapi itu semua tidak menjadi beban buatnya.


"kamu itu ya, udah besar masih aja gini, kalo tanya itu satu-satu dek", jawab rendi sambil membalas pelukan erat adeknya, sedangkan reyhan yang melihat itu hanya tersenyum.


"hehehe, maaf kak, abisnya aku kangen banget sama kakak, terus begini ya kak, aku sayang kak ren sama kak rey, terimakasih sudah hadir dalam hidup alya", jawab alya setelah melepaskan pelukannya dan memandang kedua kakaknya.


"buat kami, kamu akan selalu jadi adek kecil kakak, kakak lebih menyayangimu sayang," laNjut Reyhan untuk menimpali ucapan adeknya.

__ADS_1


Malam semakin larut, tetapi mereka masih bercanda satu sama lain, dan akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kamar masing-masing dan tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kicauan burung dan mentari sudah menyapa langit di ufuk timur, memaksa Alya untuk segera bangun dan menjalan kewajibannya sebagai umat islam. Setelah selesai, ia segera pergi untuk belanja sayur supaya bisa segera untuk memasak. Hari ini, Alya memutuskan untuk memasak brokoli pedas manis kesukaan kedua kakaknya.


"akhirnya masakanku sudah matang dan siap untuk dihidangkan", batin alya


"kak ren, kak rey, makanannya sudah siap, segera kesini, kita makan bersama?", titah Alya saat sudah selesai menata makanannya.


"iya bentar sek, kakak cuci tangan dulu," sahut rendi dan reyhan secara bersamaan dari depan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, mereka telah sampai dimeja makan, dan segera untuk mengambil nasi dan lauk pauknya. Kegiatan sarapan berlangsung dengan hening, hanya dentingan sendok yang terdengar diantara mereka bertiga. Setelah beberapa saat kemudian, semua sudah selesai dengan kegiatannya, alya segera membuka suara untuk mengawali percakapannya.


"kak, aku mau bicara sama kakak, tpi alya mohon dengan kalian jangan langsung marah, dengarkan alasan alya sebentar ya kak!". Ucap Alya dengan alya takut-takut, karena Alya tau kakaknya akan marah jika bahas tentang orang tuanya,.


"kamu mau ngomong apa sih dek, bicara yang jelas, jangan belit-belit gitu," lanjut Rendi dengan nada tegasnya, karena rendi merasa ada sesuatu yang akan terjadi.


"iya dek, kamu mau ngomong apa, kakak dengerin kok sayang,", Ucap Reyhan dengan lembut, karena Reyhan lah yang lebih dapat mengontrol perasaan emosinya dari pada Rendi.


"Alya mau prakerin kak, tapi Alya dapat rekomendasi dari guru Alya untuk prakerin di perusahaan bagian pengujian kualitas air, dan letaknya di kota M kak, gimana menurut kakak?", ucap alya dengan kepala menunduk, takut untuk melihat reaksi dari kakak pertamanya.


"apa di kota M? terus tempat tinggal kamu gimana kalo kamu disana?", sanggah Rendi dengan nada yang sudah agak dinaikkan, berbeda dengan reyhan yang masih berusaha untuk mengatur keterkejutannya dengan ucapan adeknya. Karena ia tidak mau membuat adeknya semakin takut.

__ADS_1


__ADS_2