
"waalaikumsalam", balas Rendi dengan memandang kepergian bayangan reyhan yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Jujur ia saat ini sedang kalut, tapi ia sadar kalau tetap begini kasihan alya. Karena baginya, kebahagiaan alya adalah prioritasnya saat ini. Ia sudah bertekad jika ia menikah, paling tidak saat alya sudah memasuki pertengahan kuliahnya atau semester akhir. Karena ia masih ingin menemani tumbuh kembang alya untuk menuju dewasanya.
Setelah kepergian reyhan, rendi terus melamun hingga ia tak sadar jika ia saat ini dipanggil oleh salah satu temannya.
"Ren! Rendy!" panggil dion
"ada apa?", sahut rendi saat sudah tersadar dari lamunannya.
"kenapa?" tanya dion dengan rasa penasarannya, karena ia merasa kalau rendi sedang ada masalah.
__ADS_1
"adek gue mau prakerin di salah satu perusahaan di kota M, dan dia ingin sekali tinggal bareng ayah. Tapi aku gak tega. Akan tetapi, di sisi lain aku juga gak boleh egois Di." kata Rendi sambil melihat kesembarang arahnya.
"kamu coba aja dulu, pantau dari jauh Ren, jangan seperti ini kamu. Terus bangun komunikasi dengan Alya saat dia disana, karena kamu tahu sendiri Ren, alya itu masih labil pikirannya." sahut dion seraya meyakinkan keputusan yang telah dibuat rendi.
Mendengar jawaban dari Dion, Rendi langsung menatap dion dengan tajam. Sebenarnya ia juga bingung harus bagaimana, apakah ia harus mempertahankan egonya dengan gak ngebolehin adeknya tinggal bersama ayahnya, ataukah ia harus berani mengambil dan menerima segala resikonya jika adeknya bersama sang ayah.
"Apa maksud mu Dion, kamu gak tau apa yang aku rasakan sekarang. Dari kemarin, aku perang batin antara iya atau tidak. Aku gak rela adekku ketika harus menelan kekecewaan lagi. Aku dan reyhan sedari dulu berusaha mati-matian agar adek ku bisa mencapai keinginannya, agar adek ku punya masa depan yang cerah." kata rendi sambil menunduk dan suara yang berat, karena jika mengingat masalalu yang telah mereka lewati, ia sangat rapuh.
"baiklah, aku akan hubungi saudaraku yang disana sama hubungi bagas. Habis ini aku mau pulang dulu kasian adek gue, dari tadi nyariin gue karena merasa bersalah dengan gue." ucap rendi. Ia harus bisa menyembunyikan rasa khawatirnya di depan Alya, karena ia berjanji untuk selalu membahagiakannya
__ADS_1
"oke gak apa-apa, pulanglah, kasian dia. Terus kapan kamu balik ke kota G?" tanya dion
"mungkin nanti abis magrib aku balik ke sana, aku pulang dulu", balas rendi sambil berdiri dan mengajak temannya untuk bersalaman.
"baik lah, hayti hati di jalan, salam buat reyhan dan alya. Sebenarnya aku kangen dengan alya, sudah lama gak ketemu dia." jawab dion seraya berdiri dan membalas jabat tangan dari rendi.
"oke baiklah, nanti tak sampaikan salamnya. assalamualaikum." ucap rendi sampil melangkah pergi meninggalkan dion.
"waalaikumsalam", balas dion
__ADS_1
*semoga kamu sekeluarga lekas menemukan kebahagiaan kalian masing-masing* batin dion sambil menatap kepergian sahabatnya.