
Setelah reyhan memohon, akhirnya rendi menyetujuinya dan tak lupa ia berpamitan terlebih dahulu dengan teman-temannya. Sebenarnya tadi pergi karena ia masih kedal dengan perdebatan tadi pagi, tapi bertepatan dengan itu, ada temannya yang pulang dari luar negeri, akhirnya mereka mengadakan meet up.
"bro, gue tinggal bentar ya,", pamit rendi pada teman-temannya.
"oke bro", ucap serempak teman-teman Rendi.
Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari teman-temannya, ia segera mengajak pergi reyhan dan mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. Karena tak mungkin ia berbicara di tempat yang sangat ramai. beberapa saat setelah rendi menatap sekitar, akhirnya ia mendapat tempat tersebut. Akhirnya mereka mendudukkan dirinya pada kursi masing-masing yang telah disediakan disana. Akan tetapi, setelah beberapa saat mereka duduk, tidak ada yang mulai pembicaraan satu sama lainnya, karena sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga pada akhirnya reyhan lah yang memulai pembicaraan duluan.
__ADS_1
"apa maksud kamu?", tanya reyhan dengan nada datarnya.
"apa?", jawab rendi yang lebih datar dari reyhan.
"apa begini cara kakak, setelah membuat kesepakatan dan menyetujuinya, kamu langsung pergi begitu saja!. Kamu bahkan gak memikirkan gimana Alya," tanya reyhan dengan menaikkan nadanya satu oktaf, karena ia sebenarnya juga gak bisa menahan rasa kesalnya. Entah rasa kesal bagaimana ia juga bingung.
"cuma sebentar kamu bilang? Kamu tahu gak, tadi alya nanyain kamu, alya nangis karena merasa bersalah dan kamu percaya apa yang dikatakan alya? Alya akan mundur jika kita benar-benar gak ikhlas. Karena baginya restu dari kita sangat penting, karena menganggap kita sebagai orang tuanya, ayah dan ibu. Kamu gak tau rasanya gimana, saat memergoki alya nangis sendirian di kamar saat sholat malamnya, sakit kak rasanya." jelas reyhan panjang lebar dengan suara yang parau akibat menahan sesaknya beban di dadanya.
__ADS_1
"Apa aku terlihat egois? Lantas aku harus gimana reyhan, aku cuma gak tega sama alya, cukup dulu saja alya kena luka fisik Han, aku gak sanggup lihat alya menangis karena menahan luka", snggah rendi sambil mengacak rambutnya frustasi. Karena sebenarnya ia juga bimbang pada kepurusan yang telah diambilnya. jujur ia takut keputusan tersebut salah.
"Ya itu konsekuensinya kak, apa kakak pikir aku juga gak takut? takut banget malah. Tapi kita juga gak boleh egois, wajar jika alya ingin dekat dengan ayah, karena dari dulu dia yang gak pernah dapat kasih sayangnya. Kita jangan egois kak", jawab reyhan yang tak kalah frustasinya dari rendi. Ia sebenarnya juga bingung harus apa .
"oke kita sepakat saja, misalnya disana alya gak diperlakukan baik, kita carikan tempat kos yang nyaman atau kita cari opsi lain saja gimana? Kita hubungi budhe Sri dan mas Anta supaya mereka juga ikut menjaga alya, misalnya saat libur biarkan alya diambil mas Anta. Selain itu kakak akan hubungi bagas, teman kakak yang ada di sana, misalkan Alya butuh sesuatu yang mendadak. Toh dia juga sudah kenal alya dengan baik." ucap Rendi berharap dapat memberikan solusi dari permasalahannya.
"oke kita sepakat seperti itu. Bulan depan ia mulai prakerin. Sekarang aku harap, kakak pulang, kasihan alya kak. Kita habiskan waktu di rumah atau kemana yang bisa quality time. Aku pulang dulu. assalamualaikum" ucap reyhan seraya berdiri dan segera pergi dari hadapan rendi. Karena ia tak mau membuat alya khawatir, sebab tadi ia izin bilang cuma sebentar perginya.
__ADS_1