
Keesokan paginya, Siti benar-benar sudah tidak datang lagi kekantor. Dia mengirim pesan singkat yang isinya tentang sisa hasil usaha mereka.
Ayu baru saja sampai kantor ditemani Aditya.
"Siti tidak datang?" tanya Aditya duduk disofa.
"Dia benar-benar marah karena kita akan menikah," sahut Ayu lirih dan sedih.
"Aku bersalah dalam hal ini. Karena aku sudah tahu sejak awal jika Siti mencintaimu. Tapi aku sendirilah yang menghancurkan hatinya," kata Ayu sedih menyesali apa yang sudah terjadi saat ini.
"Jangan salahkan dirimu sendiri Ayu. Kau juga tidak bersalah. Semua ini sudah takdir kita berdua," kata Aditya menatap lekat Ayu, berusaha menenangkannya.
"Aku kehilangan sahabatku, dan kita tidak bisa lagi menjalankan usaha ini bersama. Mungkin akhir bulan ini, aku akan menutupnya. Aku akan mencari pekerjaan lain," kata Ayu membuka berkas dan mulai menghitung uang yang akan dia bagi berdua dengan Siti.
Siti tidak menerima panggilannya. Dan hanya memintanya untuk mengirimkan uangnya ke rekening miliknya.
"Ayu...tenangkan dirimu. Masalah pekerjaan tidak usah kamu pikirkan. Kita akan menikah, kamu bisa membantuku dikantor. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Nanti kamu sakit," kata Aditya.
Ayu diam saja dan segera menyelesaikan semua pekerjaannya di bantu Aditya.
Hingga sore hari semua sudah selesai. Aditya tidak pergi kekantor. Dia membantu Ayu mengirimkan semua barang yang sudah di packing untuk dikirimkan kepada konsumen.
__ADS_1
Malam harinya, Ayu pulang agak terlambat bersama Aditya.
Mama Weni tersenyum saat Ayu datang bersama Aditya dan mereka terlihat akrab dan dekat.
"Aditya, kamu tadi tidak ke kantor?" tanya Mamanya.
"Tidak ma. Aditya membantu Ayu dikantornya. Temannya resain. Ayu sendirian dan mungkin usahanya akan dia tutup," kata Aditya.
"Ayu, dua Minggu lagi kamu akan menikah, jika kamu mau bekerja, kamu bisa membantu Aditya dikantornya, jika temanmu sudah resain, maka kau akan kerepotan mengurusnya sendirian," kata Mama Weni saat Ayu dan Aditya bergabung denganya diruang tamu.
"Iya ma," sahut Ayu.
"Ayu kemarilah, mama sudah mengatur semuanya untuk pernikahan kalian. Besok kalian bisa fiting baju pengantin," kata Mama Weni.
"Kenapa cepat sekali ma?" tanya Ayu kaget karena akan menikah dengan Aditya dua Minggu lagi.
"Karena mama tidak mau hal buruk terjadi lagi dengan rencana pernikahan kalian. Mama ingin kalian cepat menikah. Biar mama tenang dan juga kedua orang tuamu yang sudah tiada. Untuk apa menundanya? Kalian juga sudah siap bukan?"
"Saya siap ma," jawab Aditya tiba-tiba membuat Ayu mendongak menatapnya.
"Bagaimana denganmu Ayu?"
__ADS_1
"Iya, Ayu juga sudah siap..." kata Ayu lirih hampir tidak terdengar.
Tiba-tiba, Romi masuk bersama Lucy. Mereka baru saja dari makan malam diluar. Mama Weni yang menyuruhnya.
Romi masuk keruang tamu dan menatap Ayu dari kejauhan tempatnya berdiri.
Menatapnya lama sekali.
"Ayu, ayo kita keatas," kata Aditya saat melihat Romi menatap Ayu sangat lama.
"Iya," jawab Ayu lalu berjalan di belakang Aditya dan bersama naik keatas.
Ayu tahu jika Romi terus menatapnya. Ayu juga tidak mengerti apa yang di inginkan Romi dari tatapannya itu. Kenapa masih berat melepaskan Ayu jika dirinya sendiri akan menikah dengan mantan kekasihnya.
Lalu kenapa harus menatapnya seperti itu? Tatapannya sangat menyakitkan, terasa menusuk di hati Ayu. Hingga Ayu memilih untuk terus menghindarinya.
Saat di tangga, tiba-tiba, Ayu hampir saja terpeleset. Karena kakinya tidak menginjak anak tangga dengan benar.
Dengan sigap, Ayu di tangkap oleh Aditya. Merekapun berpelukan sangat erat, karena Ayu juga kaget hampir terjatuh.
Romi yang melihat kejadian itu, memalingkan wajahnya tidak tahan melihat kemesraan mereka berdua.
__ADS_1
Dia lalu pergi meninggalkan ruangan itu dan dia terlihat sangat cemburu dan kesal.