Dilamar Kakaknya Di Nikahi Adiknya

Dilamar Kakaknya Di Nikahi Adiknya
Bab 25


__ADS_3

Lucy melihat sejak tadi jika Romi memperhatikan sepasang pengantin baru yang sedang makan dengan mesra. Lucy sadar, jika Romi belum bisa move on dari Ayu, meskipun Ayu sudah menikah dengan adiknya sendiri.


Mama Weni turun dari tangga dan mengajak Lucy serta Romi untuk duduk dimeja yang lain.


"Romi, Lucy, ikut mama," kata Mamanya mengajak mereka berbicara hal penting.


Setelah mereka duduk, mamanya mulai mengingatkan mereka untuk hari baik pernikahannya.


"Kalian akan menikah satu bulan lagi, jadi kalian bisa mempersiapkan diri," kata mamanya.


"Tapi ma, apa tidak terlalu cepat," Romi nampak keberatan menikah dengan Lucy secepat itu.


"Terlalu cepat bagaimana? Apa yang akan kau tunggu? Menunda hal baik, justru akan membuka peluang hal tidak baik," kata Mamanya menegaskan.


"Lucy sudah siap," sahut Lucy menatap pada Romi yang nampak masih ragu.


"Bagaimana dengan kamu Romi? Kamu sudah siap kan? Cepatlah menikah demi putrimu," kata Mamanya mengingatkan.


"Iya ma, Romi juga sudah siap," kata Romi terpaksa. Setiap mengingat putri nya yang tidak dia ketahui selama ini, hatinya menjadi trenyuh. Dia harus mengalahkan cintanya pada Ayu dan mulai menerima Lucy, ibu dari anaknya.


"Mama senang kalian punya komitmen dalam hal ini, ya sudah, jika begitu, mama akan mempersiapkan semuanya," kata Mama Weni.


"Oh ya, kalian akan tetap tinggal disini untuk sementara setelah menikah," kata Mama Weni.


"Tidak ma, kami akan tinggal di apartemen saja," kata Romi yang tidak akan tahan setiap hari melihat kemesraan Ayu dan Aditya didalam rumah ini.


"Kenapa?" Mama Weni nampak terkejut.


Lucy segera paham alasan Romi tidak mau tinggal disini. Dia pasti sakit hati melihat kemesraan Ayu dan Aditya. Karena dia sendiri belum bisa move on dari perasaan nya pada Ayu.


"Saya setuju dengan Romi, kami akan tinggal di apartemen saja," sahut Lucy menatap Romi.

__ADS_1


"Ya sudah jika itu yang kalian inginkan,"


Lucy lalu berbicara berdua dengan Romi.


"Aku tahu kenapa kau ingin tinggal di tempat lain, karena kau belum bisa menerima kenyataan jika Ayu menjadi istri adikmu bukan?"


"Bicarakan hal yang lainnya. Omonganmu sangat ngelantur," kata Romi berusaha menutupi perasaannya.


"Aku bisa melihatnya. Matamu tidak bisa menyembunyikan perasaan mu. Tapi, aku yakin, suatu saat mata penuh cinta itu hanya akan menatapku," kata Lucu dengan yakin.


"Sudahlah, kita bicarakan hal lainnya saja, kau bilang akan mengadakan acara ulang tahun Mira. Kenapa kau tidak menyiapkan ya sejak sekarang?" tanya Romi mengalihkan pembicaraan.


"Meskipun kau menutupinya, aku tahu apa yang ada dalam hatimu Romi. Aku tahu siapa yang kau pikirkan saat ini. Dan kemana matamu ingin terus memandang," kata Lucy menggigit bibir bawahnya.


"Kau ingin aku menikah denganmu bukan? Akan aku lakukan. Tapi aku tidak yakin, dengan perasaan ku padamu, kita menikah karena Mira. Jika tidak ada Mira. Aku tidak akan menikah denganmu. Jadi, kau harus ...."


"Aku harus siap dengan konsekuensi nya. Jika kau hanya akan menjadi ayahnya dan bukan suami yang seutuhnya," tukas Lucy dengan dada sesak karena cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


"Bagus kau mengerti dan memahami apa yang terjadi. Jadi kita tidak akan bersikap seperti mereka. Kau juga tahu siapa yang aku inginkan bukan? Kau juga tahu siapa yang ada di hatiku. Kau bahkan tahu, kemana mataku ingin selalu menatap,"


Didalam kamarnya, Lucy menangis tersedu-sedu. Mira yang melihatnya, lalu berlari ke arah Omanya.


"Oma, mami menangis...." kata Lucy pada Omanya yang sedang duduk bersama Aditya dan Ayu.


Aditya dan Ayu saling berpandangan.


"Dimana?" tanya Omanya.


"Di kamar," kata Mira.


"Kalian lanjutkan saja, Mama akan menemui Lucy dulu," kata mama Weni.

__ADS_1


"Iya ma," Kata Ayu dan Aditya sambil tersenyum manis. Terlintas di benak mereka kenangan manis semalam. Dan membuat Aditya menyentuh paha Ayu dibawah meja dengan tangan kanannya.


Ayu melihat ke bawah dan ternyata tangan Aditya di atas pahanya.


Ayu segera mengambil tangan itu dan meletakkanya di atas meja.


"Kamu nakal sekali," kata Ayu.


"Aku kan suamimu. Jadi, aku bisa menyentuhmu kapan saja dan dimana saja dan...."


"Sudah, jangan diteruskan. Kamu mulai ngelantur...." tukas Ayu mencubit punggung tangan Aditya.


"Aduh!" Aditya berteriak manja. Dan saat itu Romi akan kekamarnya. Menoleh kearah mereka. Hatinya sakit seperti disayat sembilu melihat kemesraan mereka.


Tidak disangka, sesakit ini.


Mama Weni menemui Lucy dan melihatnya tersedu-sedu didalam kamarnya.


"Lucy...ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Mama Weni.


"Tidak papa ma. Ini memang kesalahan Lucy. Harusnya Lucy tidak datang dan mencari Romi," kata Lucy.


"Kenapa dengan Romi? Dan apa maksudmu?"


"Lucy tahu, jika Romi menikahi Lucy hanya demi Mira. Karena Romi sendiri sudah mengatakanya. Dia hanya akan menjadi ayahnya tapi bukan suami yang seutuhnya," kata Lucy mengadu pada calon mertuanya.


"Romi bilang begitu....Ya ampun Romi, apa yang dia katakan?"


"Sudah, kamu jangan menangis. Nanti biar mama yang berbicara dengan Romi,"


Mama Weni lalu ke kamar Romi dan langsung duduk disampingnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tega mengatakan hal itu pada Lucy? Mama tahu kamu mungkin belum bisa menerimanya seutuhnya. Tapi Romi, dia adalah ibu dari putrimu. Kamu harus menyayanginya karena jika dia bahagia, putrimu juga akan bahagia. Ingat Romi, jika dia tidak datang, maka kesalahan besar akan terjadi. Kamu menikah dengan Ayu dan anaknya akan kehilangan haknya. Kau harusnya bersyukur, dia mencarimu, dan kau mendapatkan putrimu yang sudah dia rawat sendirian. Jangan egois dan hanya memikirkan perasaan mu saja. Mama tahu, kamu kecewa tidak jadi menikah dengan Ayu. Tapi dia juga sudah membesarkan putrimu dengan baik sendirian. Kau harus menghargainya. Romi, pokoknya mama tidak ingin melihat Lucy menangis lagi seperti ini. Mengerti!?" kata Mamanya panjang lebar.


Romi diam saja.


__ADS_2