
Hari ini, Romi menikah dengan Lucy. Mama dan papanya sangat senang, karena dikedua anak lelakinya sudah menikah.
Lucy harus menelan pil pahit kecewa dimalam pertamanya. Bagaimana tidak? Romi justru minum minuman di malam pertamanya. Padahal sebelumnya, dia tidak melakukan hal itu dan tidak suka pada minuman keras.
Tapi dia tidak bisa mendapatkan Ayu dan melakukan malam pertama dengan Lucy, membuatnya harus menenggak minuman untuk mengusir bayangan Ayu dari benaknya.
"Ayu.... aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu menikah dengan adikku," Romi meracau tidak karuan.
Lucy hanya bisa mengusap airmatanya menahan cemburu dan sakit hati.
Romi bersandar pada sofa dikamar pengantin. Kemejanya terbuka dan rambutnya acak-acakan. Sementara Lucy sudah siap dengan memakai gaun tipis dan transparan dimalam pertama pernikahanya.
"Romi, tidak ada ayu disini. Bisakah kamu tidak menyebut namanya dan membuat hatiku sakit?"
Kata Lucy mendekati Romi dan membelai wajahnya yang putus asa.
"Kenapa kau datang dan menghancurkan impianku. Kebahagiaan dan cintaku?"
"Romi, sadarlah. Kita punya anak. Kita punya Mira. Dia butuh sosok ayahnya. Dia butuh kamu Romi. Jangan meracau seperti ini," Lucy sedih dan menangis melihat kondisi Romi dan dirinya sendiri yang di abaikan di malam pengantinnya oleh suaminya sendiri.
Sampai akhirnya, Romi tidak sadar dan Lucy memapahnya membawanya ke ranjang mereka.
Dengan sabar mengelap wajahnya dan menyelimutinya.
Pagi harinya. Saat sarapan semua keluarga berkumpul di meja makan yang besar.
Romi duduk disamping Lucy dan Ayu disamping Aditya.
Ayu dan Aditya saling berpandangan tersenyum manis.
"Kami ada kabar untuk kalian," kata Aditya menatap seluruh anggota keluarganya.
__ADS_1
"Ayu, hamil," kata Aditya sambil menatap Ayu yang tertunduk.
Hamil? Bagaikan sebuah pisau menikam hati dan jantung Romi, mendengar adik iparnya hamil.
Tuntas sudah penderitaannya. Pintu kembali untuk menikahinya sudah tertutup dengan berita ini. Awalnya dalam hati percaya jika Ayu tidak benar-benar menyerahkan dirinya pada Adiknya dan menurut nya hanya seperti pernikahan diatas kertas.
Tapi berita kehamilan Ayu, telah membuktikan jika mereka benar-benar telah melakukanya. Bukan sekedar pernikahan demi pelarian dan harga diri. Melainkan pernikahan yang sesungguhnya.
Romi masih berharap, Ayu akan kembali padanya dan berpisah dari Aditya. Namun harapan itu sirna sudah. Sia-sia dia mengharapkanya saat ini, karena dia akan menjadi adik iparnya selamanya.
"Selamat Aditya dan juga Ayu," kata Lucy lalu melirik pada suaminya sendiri yang salah tingkah.
"Mama dan papa sangat senang. Rumah kami akan menjadi ramai oleh anak-anak kalian, selamat ya....Ayu, jaga kesehatanmu..." kata Mamanya tersenyum pada menantunya.
"Iya ma," Ayu hanya tertunduk. Dia bahkan tidak berani melihat ke arah Romi. Dalam hatinya juga ada semacam rasa yang tidak bisa dia ungkapkan. Rasa itu masih ada dan tertinggal disana. Dia hanya berusaha menguburnya semakin dalam.
Aditya memahami apa yang di pikirkan istrinya.
Dia sudah menyelamatkan harga dirinya. Dan sekarang, setelah menjadi suaminya, juga tetap memahami apa yang terjadi antara dia dan Romi.
Bahwa butuh waktu untuk move on bagi Ayu. Dan Aditya terlihat bersabar menunggu Ayu benar-benar bisa move on dari kakaknya.
"Aku akan menyuapimu..." kata Aditya lalu mendekatkan piring ke dadanya dan menyuapi Ayu.
Romi yang melihat hal itu tidak tahan lalu bangkit dan tidak jadi sarapan.
"Romi, mau kemana?" Tegur mamanya.
"Romi mau ke kamar ma. Ada yang tertinggal," sahut Romi pergi dari acara makan bersama keluarganya.
Tidak tahan rasanya melihat Ayu dan Aditya begitu mesra di hadapannya.
__ADS_1
Lucy yang juga berusaha sabar dan memahami Romi, lalu menyusulnya.
Sampai dikamar, Lucy berdiri di hadapan Romi.
"Aku akan menemanimu disini,"
Romi tidak peduli dan mengambil minuman lalu menenggaknya.
Lucy menahan tangan Romi.
"Ini bukan kebiasaanmu. Jika kau belum bisa melupakannya. Tidak papa. Tapi, aku tidak mau kau merusak dirimu sendiri dengan melampiaskanya pada minuman ini," kata Lucy mengambil minuman itu dari tangan Romi.
Mereka bertatapan. Lucy lalu memeluk Romi dengan erat.
"Tidak papa. Jika kau memelukku dan membayangkan dirinya. Tidak masalah jika kau tidur denganku dan memikirkan dirinya. Bahkan tidak masalah jika kau menatapku tapi dia yang ada dihati mu," kata Lucy dan menyentuh sanubari Romi.
"Maafkan aku. Aku egois. Tapi, beri aku waktu untuk semua ini,"
"Aku akan menunggumu Romi, sampai kau melupakannya dan menerima aku,"
"Terimakasih...."
Romi lalu memeluk istrinya dan mengusap airmatanya yang menetes di pipinya.
Tamat
Terimakasih teman-teman sudah mampir dan membaca kisah ini....
Yuk, lihat novel yang lainnya karya "Mona Al"
Salam sayang 😘🥰
__ADS_1