
Ulang tahun Mira yang ke 2 tahun.
Ayu sedang menghias ruang tamu membantu Lucy menempelkan hiasan untuk acara ulang tahun Mira.
Lucy dan Ayu memanjat untuk menempelkan balon pada dinding.
Mereka memanjat tangga bersamaan. Lucy menatap Ayu dan mengucapkan terimakasih karena mau membantunya.
"Sudah tugasku, aku adalah adik iparmu,"
"Kau tidak menaruh dendam padaku?"
"Dendam? Tidak, itu bukan sifatku. Meskipun aku kecewa pada awalnya. Karena kedatangan mu aku akhirnya harus menikah dengan Aditya,"
"Bagaimana perasaan mu? Aditya atau Romi yang kau pikirkan saat ini?"
Mendengar pertanyaan sangat pribadi dari Lucy, Ayu menatap mata Lucy dengan tajam.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Maafkan aku, harusnya tidak aku tanyakan. Bukankah awalnya kau akan menikah dengan Romi. Dan akhirnya kau justru menikah dengan adiknya. Jadi, aku tahu siapa yang kau pikirkan,"
"Hh, kau pasti sedang cemburu padaku. Baiklah, agar kau tidak gelisah, biar aku jawab dengan jujur, yang aku pikirkan adalah suamiku. Siapapun dia, ketika sudah menjadi suamiku, maka hanya dia yang punya hak itu, kau puas sekarang?" dan saat berkata hal itu, tiba-tiba Mira berlari kencang dan menabrak tangga yang mereka naik.
Mereka berdua pun kehilangan keseimbangan dan jatuh bersamaan. Disaat yang sama, Romi yang baru turun dari atas, melihat hal itu. Dengan reflek dia berlari dan menangkap salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Romi!?" Teriak Lucy yang jatuh ke lantai.
Romi kaget dan tersadar lalu melepaskan Ayu dari pelukannya.
"Lucy, kau tidak papa?"
"Kau keterlaluan! Bukanya menolong calon istrimu, kau malah menangkap adik iparmu! Romi...."
"Sorry, sorry, aku reflek tadi," kata Romi lalu menggendong Lucy.
Ayu hanya melihat mereka berdua saat Aditya menepuk pundaknya.
"Biar aku menggendongmu," kata Aditya yang menangkap basah Ayu sedang menatap Romi.
Tapi, Aditya tidak marah. Karena dia tahu, Ayu sedang berusaha move on.
"Tidak, aku hanya kaget, lalu hilang keseimbangan tadi,"
Ayu masih berdebar saat tiba-tiba Romi menangkapnya tadi.
Hua hua hua.
Mereka semua menoleh pada Mira yang menangis ketakutan.
"Astaga Mira!" Romi dan Aditya lalu bersamaan mendekati Mira.
__ADS_1
Mereka sampai tidak sadar, jika Mira ada disana dan ketakutan.
"Sydah, tidak papa, jangan menangis..." Romi menggendong Mira dan membawanya ke pangkuannya.
"Putri papa....jangan menangis. Mama tidak papa. Semua akan baik-baik saja...." kata Romi mencoba menenangkan Mira.
Ayu mendengar ucapan Romi dan mengulangnya dalam hati.
Ya, semua akan baik-baik saja.
Ayu perlahan lalu bangun setelah nyerinya hilang. Dia berjalan mengambil balon yang berserakan.
Namun salah satu balon malah terbang terkena angin ke pangkuan Romi.
Romi menoleh pada Ayu dan menatapnya dalam keheningan.
Romi lalu bangun dan menyerahkan balon itu padanya.
"Andaikan hati dan perasaan bisa ringan seperti balon ini. Maka tidak akan merasakan sakit karena tertekan," bisik Romi saat menyerahkan balon itu.
Ayu hanya diam membisu dan mengambil balon dari Romi.
Aditya melihat Ayu dan Romi dari tempatnya berdiri. Aditya dengan jelas bisa melihat kecanggungan Ayu setiap kali berhadapan dengan Romi.
Dan juga, sikap Romi yang masih menyimpan rasa cinta untuk Ayu.
__ADS_1
Aditya mencoba memahami semua ini. Karena cinta tidak bisa dipaksakan. Dan sisa perasaan yang tertinggal, dia serahkan pada waktu yang akan menghapus nya perlahan-lahan.