
Saat itu, muka gue memerah layaknya seperti tomat. gara-gara bocah tengik itu, gue ketauan sama cewe Monster. Dia berkacak pinggang dan melakukan kontak mata secara intens.
"Ngapain Lo di sini?! tanya Nayla mendongkrak.
"Gu-gue di sini," tutur gue terbata-bata. masih ga sadar bahwa di dunia ini ada cewe monster berbadan manusia. bodoh kali ya gue? setiap kali ngomong di depan matanya. seakan-akan bibir gue tuh kelu.
"Apa? Jangan-jangan Lo ngikutin gue dari tadi?!" ucap Nayla. Menurunkan pandangannya dan membuat hati gue terasa lega.
"Eh! kaga. gue lagi nyari tanam-tanaman, sama si? ini dia." berpura-pura menarik lengan Rifki yang tampak polos. jujur saat itu, pengen banget gue tampol tu anak! Bingung! gue harus jawab apa. tatapannya yang tajam menghabiskan semua kata-kata.
"Tanaman apa! padi? rumput? buat makan sodara lo kambing!?" tutur cewe monster. begitu menyekak mati rasa gue. Please! Lo tuh cantik. jangan buat muka Lo tuh rusak, gara-gara ekspresi Lo kaya mau bunuh orang.
"Dasar Lo cowok aneh!" ucap Nayla. cepat-cepat dia melenggang pergi meninggalkan gue yang terdiam mati rasa.
"Gara-gara Lo si! Ngapain juga si lo ngagetin gue?!" tandas gue kesal. langkah demi langkah gue kembali memasuki kelas.
Di ruangan kelas, tidak sedikit orang yang mengajak gue pulang bareng, maen bareng, jalan bareng. Ya begitulah menjadi mahasiswa populer.
Arsitektur mewah, dan bangunan yang tinggi, begitulah kampus gue saat ini. Kebanyakan kalangan berpangkat yang mampu berkuliah di universitas terkenal di kota ini. Mungkin ada sebagian orang yang masuk melalui jalur beasiswa.
"Bro! Lo jadikan abis pulang kampus kita ngopi bareng?" ucap Toni, menepuk pundak gue.
"Jadilah! gue juga pengen keluar udah lama banget ngerem di rumah. Udah kaya ayam bertelur," timpal gue. mulai menduduki bangku barisan ke-3. saat itu para mahasiswa masih keadaan sepi. hanya ada gue dan Toni. Jadi otak gue gak begitu pusing mendengar ocehan para cewek-cewek yang ngajakin kesana dan kesini.
"Eh, bro! bukannya lo tadi di ajakin jalan sama si Sherly anak jurusan akutansi itu?" tutur Toni. mengangkat sebelah alisnya.
"Prioritas gue bukan cewek bro! kita kan jarang-jarang bisa kumpul bareng. bener gak?" jawab gue, begitu mantap.
"Asik lah. Yaudah gue cabut dulu, bentar lagi dosen mau masuk." Toni melambaikan tangan dan segera berlari menuju kelasnya.
Toni. Ya! Toni Anggaran seorang pria yang mahir menggoda setiap wanita. parasnya cukup tampan. Tapi, tidak setampan gue!. dia juga temen sedari kecil, orangnya asik, baik. Banyak hal sulit yang gue lewatin bersama dia.
Jam kedua kuliah sudah masuk.Tinggal menghitung beberapa menit lagi menunggu kedatangan dosen.
Sebagian orang asyik dengan ponsel pintarnya. ada si kutu buku! ya pasti tekun membaca buku. Gue? Bagas Arya Winata? Pria yang di anggap dingin oleh semua orang, pemikiran yang jenius menjadi perhatian setiap mata mahasiswa.
__ADS_1
"Selamat siang semua!" ucap Pak Karmadi. membawa sebatang kayu yang cukup besar. berjalan perlahan mendekati salah satu mahasiswi yang duduk di barisan paling depan.
"Siang pak!" jawab mahasiswa serentak.
Entah! Apa yang dimaksud pak Karmadi, dia mendekati mahasiswa yang duduk di barisan depan.
"Ehh kamu, Rambut kamu kenapa!?" tanya pak Karmadi menatap tajam mahasiswi tersebut. pasti ada kesalahan!
"Siapa pak?" sahut mahasiswa yang dituju. polos! hanya membelai rambutnya.
"Kamu! siapa lagi?" ketus dosen killer. melorotkan kecamata yang di pakainya. mungkin ingin melihat jelas apa yang di lihatnya. khawatir penyebab penglihatan matanya yang minus.
"Ya Tuhan. Itu dosen apa rampok?!" terdengar ucapan cewe monster tersebut di depan gue. Sejujurnya gue pengen banget ketawa ngakak saat itu. Cewek muka monster bilang ke orang rampok!
"Hu hu hua!!" gue menutup mulut mencoba buat menahan rasa ketawa.
"Heyy!! kenapa kamu!?" hentak pak Kamardi. menatap ke arah gue secara intens.
"Degg!" tiba-tiba nafas gue tersengal. melihat tatapan dosen killer tersebut.
"Gak- gapapa pak," balas gue pelan. dan menunduk setelahnya.
"Yasudah! diam semua! Kamu? itu rambut kamu kenapa?!" mengulang pertanyaannya dan gue berhasil mengalihkan pandangan dosen killer tersebut.
"Rambut saya itu di bleaching abis itu di highlight Pak," balas mahasiswi tersebut begitu santai.
"Blecing blecing! heglek! heglek! anak zaman sekarang ada-ada aja tingkahnya." cemooh pak Karmadi tersenyum sarkas.
"Highlight Pak,!" ucapnya membenarkan perkataan pak Karmadi.
"Ahh sudah! sudah! sama saja." sahutnya simple.
Saat itu, Seluruh mahasiswa yang mengisi ruangan tersebut. membungkam mulut dan menahan rasa ketawa.
Setelah jam kuliah usai, para mahasiswa satu demi satu meninggalkan bangunan eksotis tersebut.
__ADS_1
***
Terlihat seorang wanita berdiri menghadap jalan. kemungkinan menunggu kendaraan yang melintas. Tak gue duga! ternyata, wanita yang Berdiri di pinggir jalan itu adalah cewek Monster yang sering gue perhatiin di kelas.
Segera gue memasuki mobil dan berhenti sebentar di depannya. niat gue bukan menawarkan pernegosasian melainkan ingin rasanya diri ini, selalu melihat wajah monster ketika marah di sepertikan gemerlap petir yang menyambar.
"Teett! tettt! tettt!!"
Deruan mobil tengil gue, menyengkak sampai terdengar bising di telinga cewe monster tersebut.
"Woyy! apaan si?! Lo lagi Lo lagi!" ucapnya. memberikan kontak mata dengan sinis. segera gue buka jendela mobil, melihat jelas wajah cantik sang monster itu.
"Kasian amat hidup Lo! jalan kaki. sekalian aja ngerayap biar kaya cicak!" tutur gue sembari senyum menyeringai. melihat raut wajahnya yang bergemuruh amarah, pengen banget gue ketawa terbahak-bahak melihat Nayla sang monster tersebut.
"Gue hajar Lo ya?! Bisa-bisanya Lo ngomong kaya gitu!" tandas Nayla kesal. Sebentar dia melepaskan sebelah kanan sepatunya. melayangkan ke muka gue yang tampan itulah keinginannya saat itu. segera gue menancapkan gas dengan cepat dan langsung meninggalkan cewek monster tersebut.
"mmm apa!? wleee." Cemooh gue terhadapnya.
Darahnya mulai memuncak. saatnya gue cabut dari tempat itu!
"Beummm!!"
suara tancapan gas sangat kencang.
"Ihh dasaar cowok ngeselin sok kegantengan!" itulah ucapan terakhir yang gue dengar sebelum jaraknya yang jauh.
"Itu cewek! unik! apalagi kalo wajahnya lagi marah udah kaya monster anaknya si kingkong." batin gue. sambil menyetir mobil.
"Tapi imut juga." ucap gue, senyum-senyum.
weyy? kenapa senyum-senyum sendiri? gas Lo sakit ya?.
"Ngeeengg!" gue semakin menambah kecepatan dengan sangat tinggi. bagas Lo aneh! banyak cewek-cewek yang ngejar dan ngantri di belakang Lo! lantas mengapa cewek monster itu yang Lo pikirkan sekarang?.
Harap memaklumi typo yang bertebaran dimana-mana 🍃 mohon bijak saat membaca menjaga ketidak nyambungan dalam cerita😉
__ADS_1
Selamat membaca ❤️