
Suasana seketika hening saat bertatap wajah dengan cewek monster tersebut. sorak ramai pengunjung cafe yang hanya mengisi seluruh ruangan.
"Bu-bukan! Lo salah denger kali! Lo Nayla monster kan?" jawab gue membungkam mulut. sekalinya gue bicara, keceplosan! meskipun hal tersebut memang fakta.
"Apa! Lo ngomong? dasar es batu!" ketus Nayla. menatap gue sinis.
"Ehh! ko Lo ada di sini?" tanya gue penasaran.
"GUE DI SINI KERJALAH!" mencemooh gue. Emang, dia doang yang berani ngerendahin gue di depan orang banyak! Monster dasar monster!
"Emang kaya Lo!" lanjut cewe monster sambil tersenyum simpul. Muka ledekannya jelas sangat terlihat.
"Lo ngomong apa tadi?!" tandas gue kesal. melihat wajah tengil cewe monster tersebut pengen banget gue banting kopi para pengunjung.
"suutt udah! udah! ko malah berantem di sini si?!" ucap teman kerjanya, mencoba meredakan keadaan yang berlimbung.
"Mas, silahkan lihat menu kopinya. kebetulan ada yang khusus buat mas ganteng ini." ujar wanita yang bersampingan dengan cewek Monster tersebut. perkataannya lembut sangat lembut.
"Mm, mbak saya pesan kopi espresso aja.." ucap gue santai, menjaga image yang kekinian.
"Berapa mas ganteng?" goda wanita yang berada di samping Nayla si monster. sedangkan dia hanya memicingkan mata.
"Satu aja mbak." balas gue simple.
"Hahh! gaya gede beli kopi cuman satu!" celetuknya cewek monster. Seperti menganggap enteng dengan pandangan tepat menghunus ke arah gue.
'Ini cewek bener-bener udah bikin malu gue' imbuh gue dalam hati.
"Wey kata siapa! Lo liat sekumpulan laki-laki yang di duduk sebelah sana?! dia semua gue yang traktir!" ucap gue begitu mantap. Dengan keyakinan penuh, membuktikan kalo gue gak boke! bisa-bisanya tu cewe monster ngerendahin Bagas tampan.
"Oww!" timpal Nayla mengangkat sebelah alisnya sembari mengerutkan keningnya.
"Udah kalian berdua tuh! jangan bikin keributan di sini. nanti aja kalo mau di ruangan sepi." sahut wanita yang hendak memberikan secangkir kopi. tidak ada yang menanggapi, sesaat semuanya terhenyak dalam diam.
"Nih mas ganteng kopinya." lanjut wanita tersebut, langsung memberikan secangkir kopi dengan lengan yang Mengusap-ngusap jari jemari gue. jujur gue kurang suka!
"Apa? ribut! di tempat sepi!?" tutur gue bersamaan di susul dengan cewe monster itu.
__ADS_1
"Tuh kan! barengan. Makanya jangan kaya kucing sama anjing! takutnya nanti kaya kisah Romeo dan Juliet." Cemooh wanita itu membuat perut gue terasa bergolak dan mual.
"Huekk huekkk!" tiba-tiba si cewek monster itu berpura-pura seperti orang hamil yang sedang muntah.
"Kenapa Lo nya?" tanyanya tercekat.
"Sebel aja gue dengernya," ucap si cewek monster. sambil tersenyum sinis.
"Woy Lo! emng Lo kira gue gak sebel? gue tahan dari tadi pengen muntah gue dengernya!" balas gue tak mau kalah.
Tak lama kemudian Toni menghampiri gue. Kabarnya dia akan meninggalkan caffe tersebut, dan segera melenggang pergi untuk pulang. Belom aja gue duduk! udah mau pada pulang! bodoh dasar bodoh! gara-gara Lo juga Bagas yang telat.
"Eh bro!" ujar Toni menepuk pundak. menyadarkan gue untuk keluar dari sebuah keributan sepele dengan cewek monster tersebut.
"Ko Lo banget?!" tanya Toni.
"Sorry! tadi gue abis ketemu sama monster. jadi agak berabe, gak bisa cepet-cepet pesen kopinya." balas gue, merasa puas ketika melihat raut wajah Nayla Monster berubah memerah dengan sangat merona.
"Yah, gue sama mereka mau langsung cabut dari sini." ucap Toni tanpa mengindahkan perasaan orang lain. Lalu menunjuk ke arah temen-temen gue yang masih asyik berbincang bincang.
"Terus gue di sini?" tutur gue menekan setiap katanya. Niat awal gue kan pengen ngopi bareng. kumpul bareng temen-temen! kenapa gue jadi sendiri?
"Ishhh." jawab Nayla seperti bergidik ngeri.
Emang kira Lo, gue setan!
"Udah gapapa. lain kali nanti kita ngopi bareng lagi." sahut Toni meyakinkan diri gue.
"Ngopi bareng! apaan gue sendiri ko!" bisik gue dalam hati.
Gue dan Toni yang masih berdiri di depan tempat pemesanan. Berharap gue segera cepat-cepat pergi meninggalkan caffe tersebut.
Sedangkan kedua wanita yang berada di depan hadapan gue hanya terdiam, termasuk Nayla si cewek monster.
"Yaudah, masnya bisa langsung urus administrasinya di sebelah sana." ujar wanita berbaju seragam pekerja caffe.
"Mm maaf mbak, semua administrasinya bakal di tanggung sama temen saya." Balas Toni. menunjuk ke arah gue.
__ADS_1
"Yaudah bro, gue cabut bareng temen-temen duluan." Toni dengan santai tanpa dosa langsung melenggang pergi.
"Iyah mbak. tenang saya yang bakal bayar semuanya!" ucap gue sedikit berunjuk gigi. tatapan gue langsung mengarah ke cewek monster secara intens.
"Yaudah bapak! silahkan segera di bayar semua administrasinya." ucap cewek monster. di angguki langsung oleh gue.
Dengan mengenakan celana jeans hitam, telah gue siapkan di dalam kantungnya, dompet beserta ATM pribadi. Ketika hendak mengambil dompet, tangan gue menjalar ke suluruh tubuh mulai dari kantung celana lalu ke kantung baju. entah kemana itu dompet. kemungkinannya besar gue lupa menaruhnya di tas.
"Sebentar mbak, mungkin saya lupa taruh dompet saya di tas." ucap gue mulai bingung. Gimana harga diri gue? kalo sampe tuh dompet engga ada!
"Ya ya silahkan." cemooh cewek monster sedikit tertawa.
"Haha paling-paling tuh orang modus! ujung-ujungnya bakal ngutang juga." bisiknya masih terdengar sampai telinga gue. oke kali ini gabakal gue ladenin tuh monster. liat aja nanti!
Menghampiri tempat duduk yang sudah kosong. hanya tas gue tersimpan di atas meja caffe. cepat-cepat gue mengambil dompet tersebut. dan bagaimana ini?
"Aduhh mampus, gue inget tuh dompet gue tinggal di atas meja." pikiran gue tak terbayangkan. bagaimana nanti muka si monster jikalau tau gue gak bawa dompet. Dia bisa-bisa nyaci maki gue ampe kejer.
"Mohon maaf mbak sebelumnya saya lupa bawa dompet. dompetnya saya tinggal di rumah." malu-malu gue harus jujur dengan keadaan pahit tersebut.
"Mas, ganteng-ganteng ko gak bawa dompet?" tanya wanita yang bersampingan dengan Nayla si cewek monster.
"Iyah mbak saya lupa."
"Alahh, modus! ngomong aja gak punya duit!" celetuk cewek monster tanpa menoleh.
"Jelas-jelas gue tu lupa gak bawa dompet! bukan kaga punya uang!" tandas gue gak mau kalah.
"Alahh dasar es batu modus!" lagi-lagi bibirnya mengerucut. saat itu pengen banget gue cambik itu bibirnya.
"Suutt udah-udah kenapa si kalian?" sahut Vivi bijak.
"Mending kita ngomong baik-baik sama pak manajer." lanjutnya mengajak Nayal sedikit baik hati.
"Tuh denger! jadi cewek tuh sedikit lembut. jomblo seumur hidup baru tau rasa!" ketus gue sambil menaikkan sebelah alis. Si cewek monster hanya terdiam.
Saat itu, kedua wanita tersebut. segera mendatangi manajer cafe. Andai gue bisa pulang langsung gue ambil tuh dompet dan bayar tunai semua kopi yang telah di pesan. jikalau mau semua cafe beserta isinya gue beli.
__ADS_1
Bersambung....
Harap memaklumi typo yang bertebaran dimana-mana 🍃 jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ❤️