
Kedua wanita tersebut mendatangi Bagas yang berdiri di depan tempat kasir. Di temani dengan seorang pria yang berjas, rambutnya rapih dan memakai sepatu hitam mengkilap. Apakah pria itu atasan si cewek cupu? oh tidak, di bikin babu gue di sini!.
"Ini pak orangnya, mungkin lebih baik bapak yang menentukan balasan untuk orang yang tidak mau berbayar!" ucap si cewek monster menekan setiap katanya. gue liat dari tampangnya seperti memiliki dendam kesumat terhadap gue.
"Baiklah." pak manajer menatap gue intens.
sedangkan gue hanya terdiam dan menunduk.
"Untuk menyelesaikan administrasi ini tanpa harus repot-repot. Anda bisa menggantinya dengan bekerja di tempat ini untuk sementara." unjukan pak manajer tersebut membuat gue menelan ludah karena tidak menerima kenyataan tersebut.
"Apa pak!?" ucap gue nada tinggi. terlihat cewe monster sedang menahan tawanya.
"Kalo boleh, saya akan pulang terlebih dahulu untuk mengambil dompet saya dan habis itu saya akan membayar semua admistrasinya." lanjut gue, mencoba merayu pak manajer.
"Maaf untuk kali ini tidak bisa! Anda bisa saja menelfon salah satu keluarga anda untuk mengantarkan dompet jika memang benar tertinggal. tanpa harus anda yang ke sana." ucap pria berjas terkekeh.
"Hihihi!!" terdengar sangat pelan suara tawa si Kunti Monster. sambil membungkam mulutnya.
'Apes gue apes! masa cowok setampan gue harus menerima pekerjaan jadi pelayan kopi?!' ucap batin gue.
"Bagaimana?" tanyanya lagi.
"Yaudah pak! saya menerima penawaran bapak." dengan terpaksa gue menerima penawaran tersebut.
"Baiklah anda sementara bekerja sebagai waiters yaitu penghantar sajian kopi." ujar pak manajer.
"Hahahaha!" wanita monster tersenyum menyeringai.
"Mmm baiklah pak," ucap gue tersekat.
"Yaudah kamu bisa memulai bekerja sekarang. ingat ini hanya 2 hari saja."
"2 hari?!" sergah gue terhadap manajer yang hendak melangkah pergi.
"Iya perjanjian ini 2 hari! kamu tahu kan setiap pecinta kopi di sini membayar berapa?" menatap gue sambil menaikkan sebelah alis.
__ADS_1
Saat itu gue hanya mengernyitkan dahi, dan tak lama manajer tersebut melenggang pergi.
"Yaudah mas tampan, mas tampan cuman ngasih-ngasih kopi yang udah siap saji ke para pelayan." goda Wiwi. Ya Wiwi teman Nayla si cewek monster.
"Nah ingat! ingat! Lo es batu, harus kerja yang bener!" hardik Nayla.
"Iss apaan si lo?!" ucap gue geram. Menatap wajah monster menyebalkan terlalu lama mungkin akan semakin membuat gue ayan.
\=\=\=
Di saat sinar jingga mulai meninggalkan cakrawala. Sebentar lagi caffe akan segera di tutup, karena jarum jam yang sudah menunjukkan pada pukul 05.30 WIB. gue lihat jadwal yang terpajang di salah satu tulisan yang ada di dinding, caffe akan di buka dari pagi sampai malam itu setiap hari Minggu dan Kamis. selain dari hari itu mungkin akan lebih cepat di tutup.
"Huaahh! untung aja besok cuty kuliah. kalo aja besok kuliah bisa berabe urusannya." ujar gue masih duduk di tengah-tengah sekeliling bangku caffe yang sudah kosong.
Sejak siang tadi, masih terdengar sorak ramai pengunjung cafe. Sore sekarang, Bagas merasakan kesunyian di sertai lelahnya bekerja dengan mengeluarkan keringat kasar.
"Baru segini! gue udah cape. apalagi orang-orang di luar sana, yang berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri dan mungkin untuk keluarganya pula." gue termenung sejenak.
"Woyy!! Lo masih ada di sini?" tiba-tiba suara Nayla seperti petir menyambar datang menghampiri gue.
"Apaan gue bentar lagi pulang! lagian kerja di tempat sempit tidak berkualitas kaya gini. mana betah gue kerja lama-lama di sini." hardik gue menatap sinis ke arah Nayla si cewek monster.
"Udah beres Lo ngomong? terserah Lo mau ngomong apa! yang jelas kita yang kerja gak nyusahin kedua orang tua." sahut Nayla nampak sewot.
"Biarin gak masalah buat gue. mau Lo kerja buat orang tua Lo! adek Lo! buat kucing Lo sampai ke semut-semut pun gak ada masalah bagi gue! terserah!" balas gue tak mau kalah.
"Dasar cowok es batu! besar kepala!" hardiknya. menunjuk ke arah gue."
"Apa? Lo ngomong apa tadi." bisik gue pelan. perlahan tubuh gue mendekati gadis monster tersebut. sampai tubuhnya terpentok di ujung ruangan.
"Ihh apaan si loh!" ucap cewek monster tanpa menoleh. memutarkan mata seperti menghindari pandangan.
"Malam hari ini gue pengen deket terus sama Lo," goda gue lembut. semakin dekat, sangat dekat gue berhadapan dengan Nayla. saat itu pula dia memejamkan matanya.
"Wajah Lo bener-bener cantik." Rayuan gombal gue mulai menyentuh lengan si cewek monster dengan erat.
__ADS_1
"Hahahaha muka Lo cantik kaya monster!" teriak gue, tepat di depan wajah Nayla. Dia langsung membuka mata dan akhirnya.
"Dasar Lo pe'a!"
"Plakkk!"
Sentak Nayla, memukul pundak gue. Kondisi saat itu masih berdekatan. kali ini gue merasa bahwa pukulan Nayla tersebut seperti sentuhan rasa sayang.
"Lo bener-bener ya jadi cewek tuh harus sedikit lembut." gue mulai tak sadarkan diri. halu gue menganggap kalo cewe yang ada di depan gue itu adalah tunangan gue.
"Apaan si lo!" sesaat gue tak menghiraukan suaranya, pikiran gue saat itu mulai merancau.
"Lembut itu kaya gini." lengan gue mulai berinteraksi dengan mengusap-ngusap wajah mungilnya. mata nanar gue sudah menutupi ingatan siapa orang yang di depan gue.
"Lo gila ya?!" melihat wajahnya yang sensual. membuat gue saat itu memancarkan api gairah.
"Suuttt!" menutup mulut kecilnya. tidak ada hal lain yang melintas dalam pikiran gue selain menikmati kedekatan gue dengan dia.
"Siapapun yang ada di sini tolong gue! es batu udah gila! tolong gue!" sesekali gue mendengar teriakan cewek monster tersebut. dirinya mulai meronta-ronta. Namun apalah daya pikiran gue saat itu sudah berkelana.gue mulai mengeksplor mulut, kemudian mengecup bibir ranumnya. Halu gue beranggapan tidak ada hal lain yang gue ingat selain menikmati keindahan saat berdua dengan tunangan gue.
"Plakkk!!" gue mulai tersadar saat Nayla melayangkan telapak tangannya ke area wajah gue.
Terhenyak dalam diam "Lo! Lo!" ucap gue sambil mengusap-usap kelopak mata. mencerna kejadian seraya menatap wajah Nayla yang sudah di bendungi amarah.
"Gila Lo ya! tega maksa orang buat lakuin hal keji kaya gitu."
"Plakkkk!" lagi-lagi tamparan Nayla berhasil mendarat di kedua pipi gue. cewek monster tersebut cepat-cepat berlari meninggalkan gue yang masih berdiri terdiam.
"Nayy!" Teriak gue, sambil menatap langkah jejak Nayla. Nayla menahan Isak tangisnya lalu berlari terhuyung-huyung.
Sejujurnya gue merasa bersalah, karena perlakuan tak layak terhadap Nayla yang gue kira sebagai Maira tunangan gue.
Bersambungg....
Mon maaf banget ya🙏 aku telat up baru bisa hari ini😊 moga-moga aja aku bisa konsisten buat tiap hari😉
__ADS_1
Terimakasih buat kalian yang sudah membaca. jangan lupa berikan Krisan yang baik buat novel ini❤️