DOKTER CANTIK VS CEO MAPAN

DOKTER CANTIK VS CEO MAPAN
Episode 3.


__ADS_3

keesokan harinya masih pukul 07.30 pagi apartemen yang ditempati Agnes dan Serena sudah sangat ribut dengan beberapa tamu tak di undang, yah bagaimana bisa sekumpulan pria berbadan besar dan tegap tengah memaksa untuk masuk kedalam apartement mereka.


"Ada apa ini, dan siapa kalian ha !." Teriak Agnes dengan tatapan menyala penuh emosi, ia baru bisa tidur pukul dua dini hari karena Derren terus menangis tidak ingin ditinggal tidur dan sekarang pukul 07.30 sudah ada yang bertamu dengan cara tidak sopan.


"Hmm, nona biarkan kami masuk. Kami hanya perlu memeriksa apartement anda untuk memastikan apakah yang kami cari ada didalam atau tidak." Jawab seorang pria yang diperkirakan adalah ketuanya.


"Tidak bisa, aku tidak akan membiarkan kalian masuk. Sudah tidak sopan masih berani meminta untuk di ijinkan masuk, kalian pikir kalian siapa ha!." Amuk Agnes lagi, tidak habis pikir untuk apa pula pria - pria berbadan tegap ini memaksakan diri untuk masuk kedalam apartementnya.


"Oek, oek." Terdengar suara bayi menangis, Agnes segera berjalan masuk menuju kamarnya dengan langkah kaki tergesa - gesa.


"Aduhh baby tampan, kenapa nangis hmm tenang yah kakak cantik ada disini." Bujuk Agnes dengan suara yang kian melembut, jauh berbeda dengan cara ia menyambut tamu tidak sopan sebelumnya.


"Tatata." Baby mungil itu berusaha mengapai wajah cantik Agnes yang kusut karena baru habis bangun tidur.


"Nakal sekali hmm, sudah buat kaka begadang sekarang nangis terus cengar cengir, mau kakak cium yah hmm hmm." Gemas Agnes dengan terus menghujani Derren dengan berbagai kecupan.


"Brukk." Suara pintu lumayan keras membuat Derren kaget dan kembali menangis, sedangkan Agnes jangan ditanya lagi matanya sudah melotot dan hampir saja keluar dari tempat jika tidak disadarkan oleh tangisan Derren.


"Hei, kembalikan keponakanku. Kau dasar penculik anak." Teriak seorang pria tampan yang tiba - tiba menerobos masuk.


"Kau, apa yang kau katakan ha !, siapa penculik anak. Dasar tidak sopan keluar !." Jawab Agnes dengan suara yang naik beberapa oktaf.


Sedangkan Ariel pemuda yang menerobos kamar Agnes dibuat cengo, bagaimana bisa ada seorang gadis yang memiliki wajah cantik dan menggemaskan mempunyai emosi yang menyala - nyala seperti itu.


"Tuhan, tolong jauhkan jodoh saya dari sifat galak seperti itu, kasian anak - anak saya dan juga saya tidak mau nantinya jadi suami yang takut istri, jadi tolong yah jauhkan wanita - wanita macam ini dari garis jodoh saya. Amin." Ucap Ariel dalam hati lagi pula ia tidak bisa juga mengucapnya dengan terang - terangan.

__ADS_1


"Keluar." Ucap Agnes dengan suara tertahan, tapi tidak dengan tangannya yang sudah siap untuk mengayunkan sebuah benda kearah Ariel, pria asing yang menerobos masuk kedalam apartementnya.


"Ada apa ini ribut - ribut, astaga ini siapa kau ha berani - beraninya, Agnes apa ini kekasihmu kau membawanya masuk kesini." Teriak Serena dengan tatapan tidak percaya, ditambah lagi wajahnya yang tampak syok mendapati banyak pria berbadan tegap yang berdiri didepan pintu kamar Agnes.


"Serena jaga mulutmu, mana mungkin aku memiliki kekasih seperti pria tidak sopan ini, dan keluar aku bilang keluar." Suara Agnes menyadarkan Ariel dan Serena yang tenga sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.


tatatata ahh bagaimana bisa bayi ini sibuk sendiri,, Derren menggeliat dan semakin berusaha meraih wajah cantik Agnes hingga atensi semua orang terfokus padanya.


"Ayoo kita keluar, sepertinya mereka keluargamu hmm." Ucap Agnes dengan penuh kelembutan, jauh berbeda dengan cara berbicara kepada Ariel.


Ruang tamu.


"Baiklah saya Agnes dan yang ini sahabat saya Serena, kemarin kami tidak sengaja menemukan dua anak kecil dan satu bayi di parkiran mall, tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk akhirnya kami membawa mereka kemari." Jelas Agnes dengan tatapan serius dan penuh keyakinan, tidak ada kebohongan didalamnya.


"Hari ini rencananya kami akan mencari keluarga mereka, tapi siapa yang menyangka pagi - pagi akan ada tamu yang tidak di undang, menerobos masuk dan membuat keributan sungguh tidak sopan." Lanjut Agnes dengan pedas.


"Hm,, ambil mereka dan pulanglah." Jawab Agnes tanpa berbasa - basi.


Tatata .. bayii ini terus saja mencari perhatian Agnes, Agnes yang merasa terpanggil tanpak menoleh dan tersenyum gemas.


"Hei, pulanglah pamanmu sudah menjemput." Usir Agnes dengan sadis.


"Silakan, pintu tidak bergeser dari tempatnya jadi saya rasa tidak perlu di antar lagi." Lanjut Agnes dengan tatapan yang terahli pada Ariel.


"Hmm, tanpa disuru saya dan yang lain memang akan segera pergi." Ketus Ariel ia langsung keluar dengan memegang kedua keponakannya dan stoler bayi didorang Reynald.

__ADS_1


Daniel dan Ruby tidak mengeluarkan suara mereka, tapi sepertinya gadis kecil itu merasa enggan untuk ikut pulang, tempat ia bermalam terasa menyenangkan dan ramai beda dengan rumah paman mereka yang sunyi.


Serena menatap Agnes dengan tatapan tidak percaya.


"Sudahlah, sekarang aku ingin istirahat dulu, semalam balita tampan itu tidak membiarkan aku tidur dengan baik." Ucap Agnes sebelum meninggalkan Serena di ruang tamu.


Sementara itu.


"Bos, ternyata yang menemukan mereka cantik yah, dan yah gadis itu sedikit galak sepertinya cocok jika menjadi pendampingmu." Goda Reynald dengan sengaja.


Jujur saja Reynald begitu senang karena gadis yang bernama Agnes begitu galak, gadis itu juga sama sekali tidak terpesona dengan ketampanan atasannya. mungkin saja jika itu gadis lain mereka akan mencari kesempatan dalam kesempitan jika mengetahui anggota keluarga dari orang yang kita tolong adalah seorang pria muda bernama Ariel Marsellino.


"Diam." Sentak Ariel tidak terima dengan godaan Reynald, ia jelas tidak mau jika nanti kata - kata laknat Reynald malah berbuah menjadi doa dan dikambulkan oleh yang maha kuasa.


"Huaaa." Sentakan Ariel membuat baby Derren kaget, ia menangis dan wajah yang mulai merah.


"Paman, jangan teriak - teriak dong." Sebel Daniel karena adiknya menangis, ia cukup posesif pada adik bungsunya yang masih kecil.


"Paman jahat, dede yubi jadi nangis." Sedih Ruby, ia tidak tega adiknya menangis kejar.


"Daniel, Ruby paman tidak bermaksud membuat baby Derren menangis, Paman hanya tidak sengaja dan yang harusnya disalahkan itu paman Reynald ok." Ucap Ariel lembut, ia juga menyalahkan Reynald.


Reynald mencibir dalam hati, jelas saja tuan muda kecil menangis karena sentakan Ariel. Tapi bagaimana bisa ia yang disalahkan disini.


"Maafkan paman yah." Ucap Reynald terpaksa.

__ADS_1


Ariel memutar bola mata jengah, sebal sekaligus bingung sendiri karena keponakannya yang paling kecil tidak mau berhenti menangis.


__ADS_2