
Kediaman Marsellino
Ariel tampak pusing mendengar tangis baby Derren, setelah menangis cukup lama di mobil akhirnya baby Derren tertidur mungkin kelelahan, dua jam berlalu tiba - tiba saja Ariel dan yang lain dibuat kaget karena baby Derren yang kembali menangis dan tidak bisa ditenangkan.
"Apa yang terjadi hmm, segera hubungi dokter aku takut ada yang salah dengannya." Titah Ariel tidak terbantahkan lagi.
Ariel jelas sudah tidak mau menerima saran dari Reynald dan yang lain, sudah lebi dari empat kali ia mengikuti saran yang diberikan oleh assisten sekaligus tangan kanannya tapi lihatlah tidak ada hasil yang memuaskan.
Reynald segera keluar dari kamar tuan mudanya, ia terpaksa menghubungi dua orang berbeda untuk memberi perintah.
"Bawa dokter Harun kerumah utama segera, jika dia menolak seret saja." Ucap Reynald tanpa perasaan dan langsung mematikan telepon secara sepihak, bagaimana jika dokter Harun sedang sibuk.
"Hallo, bawah nona Agnes kemari, saya tidak mau tahu bagaimana cara kalian membawanya kemari, waktu kalian satu jam dari sekarang." Ucap Reynald tanpa basa - basi, ia tidak perduli bagaimana cara kaki tangannya membawa nona Agnes ke kediaman utama keluarga Marsellino dan juga ia tidak terlalu perduli. Yang ia harapkan dengan datangnya gadis itu tuan muda bungsu bisa segera diam dari rewelnya.
"Tuan, tuan muda Ariel memanggil anda." Ucap seorang pelayan yang keluar dengan tergesa - gesa.
"Hmm, ajak yang lain keluar karena percuma berkumpul didalam jika tidak bisa menenangkan tuan muda bungsu." Jawab Reynald dengan suara yang terdengar dingin, tatapannya juga sangat tajam membuat pelayan yang ada jadi khawatir.
"Baik tuan." Jawab pelayan itu, ia mengikuti langkah kaki tuan muda Reynald dan mulai menggiring satu persatu rekan sesama pelayan yang ada.
"Dimana Harun, aku akan mengirimnya ke dunia lain jika berani menolak kemari." Tanya Ariel dengan wajah semakin merah.
Bingung, takut kesal dan semua sudah menyatu dengan sempurna, bagaimana jika keponakannya sakit dan hal buruk lainnya.
Ruby ? gadis manis itu sedang tidur dikamarnya tanpa tahu jika adiknya sedang menangis.
Daniel anak pertama itu sedang kelas berkuda tepat satu jam lalu ia berangkat.
Hampir lima belas menit berlalu, terlihat seorang pria muda dengan kameja putih dan celana bahan tanpak berwajah kusut masuk kedalam kediaman utama keluarga Marsellino.
"Harun, kau lama sekali." Kesal Ariel begitu matanya tidak sengaja menangkap keberadaan dokter pribadi keluarganya.
__ADS_1
"Jalanan macet, anak buahmu memaksaku kemari, dan kau harusnya menegur mereka agar berkendara dengan benar." Kesal Harun.
Bagaimana tidak kesal jika pada saat ia sedang mengisi seminar di salah satu universitas ternama, tiba - tiba saja beberapa orang bertubuh tegap dan tinggi datang dan memaksanya keluar, akibat ia menolak ia diseret paksa dan menganggap orang - orang suruhan Ariel sangatlah keterlaluan.
"LEPAS." Suara teriakan seorang gadis menyita indra pendengaran ketiga pria tampan mapan dan jomblo itu, Ariel dan Harun tampak bingung sedang Reynald pria itu tampak menghela nafas kasar.
"Tidak asing .." Ucap Ariel tanpa sadar, sepertinya ia mengenali teriakan itu tapi suara teriakan siapa itu.
Reynald melangkah kaki keluar sedangkan Ariel dan Harun tetap ditempat mereka.
Pov Reynald.
Aku tidak menyangka gadis itu cukup bar - bar, semoga saja setelah mendengar penjelasan dariku ia akan sedikit bersikap baik.
"Ehmm, permisi nona." Ucap Reynald begitu Agnes semakin dekat dengannya, ia juga mengangkat tangan kanannya agar kaki tangannya segera pergi meninggalkan mereka.
"HEI, SIAPA KAU HA !, BAGAIMANA BISA MENYURUH ORANG SEENAKNYA UNTUK MEMAKSAKU KEMARI." Amuk Agnes tidak tertahan lagi.
"Masuklah." Ajak Reynald dengan sopan, ia perlu kepercayaan gadis ini agar semua berjalan dengan semestinya. Lebih tepatnya agar supaya gadis dihadapannya tidak banyak berteriak lagi.
"Kau, aku atlit taekondow kau bisa mati jika berani macam - macam padaku." Ketus Agnes, ia sedikit melunak melihat pria yang sedikit tidak asing itu tampak baik dan tidak punya niat jahat.
Samar - samar ia mendengar suara tangis bayi, tapi bayi siapa apa bayi pria ini. Ayoo ikuti saya ajak Reynald.
Agnes mengikuti langkah kaki Reynald menuju lantai dua, berjalan sepuluh sampai dua puluh langkah pria itu berhenti dan menunggunya sebelum membuka pintu.
Suara tangis bayi semakin jelas, dan Agnes semakin dibuat penasaran dengan tangis bayi itu.
"Ayo masuk." Ajak Reynald.
Begitu masuk kedalam mata lentik Agnes langsung menangkap keberadaan keberadaaan baby tampan yang tampak menangis, astaga mata Agnes membelak begitu menyadari bayi itu adalah Derren, bayi laki - laki yang tidak sengaja ia temukan kemarin hari.
__ADS_1
"Astaga, kenapa mereka membiarkanmu menangis seperti ini hmmm. Ayo - ayo ikut kakak." Suara lembut Agnes seolah berhasil menghipnotis Derren, bayi itu secara teratur mulai berhenti menangis dan mulai menaikan tangan.
"Berhenti, siapa yang menyuruhmu kemari ha, jangan sentuh keponakanku." Ucap Ariel dengan suara beratnya, ia tidak terima setelah bermenit - menit keponakan bungsunya tidak mau diam dan sekarang begitu mendengar suara gadis asing ia langsung diam dan seperti terhipnotis begitu saja.
Agnes mendelik tidak suka, tapi tetap saja tangannya meraih jari jari mungil milik Derren. Ia langsung membawa bayi tampan itu kedalam gendongannya dan tidak lupa menjulurkan lidah pada Ariel.
"Tatatata." Bayi ini mulai berceloteh dengan riang, bukannya tadi ia terus menangis yah.
"Huft, syukurlah keputusan yang sudah gw ambil membawa pengaruh baik, urusan Ariel belakangan saja." Batin Reynald bernafas dengan sedikit lega, bayi itu sudah diam dan mulai berceloteh.
Ariel berjalan mendekat kearah Agnes, Agnes yang menangkap pergerakan itu segera memberikan tatapan tajamnya bukan membuat takut malahan membuat lawan gemas.
"Kemarikan." Tekan Ariel dengan mata yang sudah membulat sempurna, yah ia akan memaksa untuk mengambil baby Derren dari pelukan hangat Agnes.
"Masih baby tapi sudah mata keranjang yah." Cibir Ariel dalam hati melihat keponakannya yang sudah sembuh dari rewel.
Jangan lupakan dokter Harun, pria matang dengan profesi sebagai dokter itu terlihat terpesona dengan kecantikan Agnes.
"Ehmm." Dehem Reynald menyadarkan dokter Harun.
"Siapa dia, hmm ?" Tanya dokter Harun dengan berbisik pada assisten Reynald.
"Nanti aku ceritakan, sebaiknya kau ajak bos keluar dan biarkan gadis itu yang menjaga tuan muda bungsu." Jawab Reynald tak kalah lirih.
"Ehmm, tuan muda mari ikut saya sebentar." Meskipun sebenarnya tidak berani tapi dokter Harun tetap mengusahakan, rasa penasarannya lebi besar dari rasa takutnya saat ini.
Tatapan Ariel berahli pada dokter Harun, dokter pribadi keluarga Marselino merupakan sahabatnya juga.
Next ? silakan Like, Vote, ++Fav , comment masukan dan kritik yang membangun, Terima kasih.
Love, @angelicaclaudiatengker.
__ADS_1