
Makan malam yang canggung.
Waktu terus saja berlalu dengan begitu cepat bahkan sekarang tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 18.45 yang mana sebentar lagi waktu makan malam akan segera tiba, matahari sudah tenggelam seperti kenangan yang lalu - lalu.
"Ehmm, karena sudah malam kakak pamit dulu yah." Agnes sangat menikmati kebersamaan bersama Daniel, Ruby kecil dan Derren hingga akhirnya matanya tidak sengaja menangkap jam diding yang tidak jauh dari jangkauan matanya, terpaksa ia harus kembali karena takut jika sahabat kesayangannya khawatir dan yah sekarang setelah menyusun berbagai kata akhirnya dengan penuh kelembutan, tidak lupa mengikut sertakan senyum manisnya ia mencoba untuk berpamitan.
Tapi lihatlah usahanya tetap saja membuat Ruby kecil yang sedang senyum - senyum sambil menyusun Lego langsung murung begitu mendengar Agnes berpamitan dan itu semua tidak lepas dari mata tajam Ariel yang sejak tadi mengawasi Daniel, Ruby dan Derren beserta satu gadis asing yang berhasil memikat hati ketiga bocah itu.
"Ehmm, kakak bagaimana sebagai ungkapan terima kasih karena sudah menjaga kami semalam sekarang kakak makan malam bersama kami." Ajak Daniel, sebagai kakak tentu ia paham dengan raut wajah Ruby yang terlihat murung begitu Agnes berpamitan.
Mendengar ajakan Daniel dan melihat raut wajah Ruby yang murung membuat Agnes tidak tega untuk sekedar, lagian ini hanya makan malam bukan hal besar bukan pikir Agnes.
"Baiklah, ajakan makan malam diterima." Jawab Agnes dengan wajah ceria, Ruby yang mendengar langsung kembali tersenyum senang begitu pula dengan Daniel yang tersenyum kecil.
"Permisi tuan makanan sudah siap." Ucap seorang art yang bertugas malam itu.
"Baik." Jawab Ariel singkat.
"Ayo." Ajak Ariel singkat, dan langsung mengambil baby Derren dari stoler baby untuk dibawah dan diletakan di tempat duduk makan bayi.
Baru saja mereka akan memulai makan malam, terdengar suara gadu dari arah pintu masuk, Ariel memicingkan mata siapa yang datang malam - malam pikirnya.
"Permisi tuan muda, tuan dan nyonya sudah tiba." Ucap seorang pengawal yang masuk tergesa - gesa.
Mata Ariel melotot sempurna, bagaimana bisa kedua orangtuanya tiba - tiba kembali tanpa pemberitahuan. Daniel dan Ruby kecil yang sedang makan tidak diperkenankan untuk sekedar meninggalkan meja makan.
Tuan Hanz Marsellino & Nyonya Marsellino ( Margaret ).
"Selamat malam." Terdengar suara yang hangat dan berat, yah tentu saja itu suara milik tuan Hanz, beliau terlihat memasuki ruang makan dan di ikuti oleh seorang wanita yang tampak cantik di usia menginjak 55tahun.
"Pa," Jawab Ariel lirih.
__ADS_1
"At mayam opa. ( Selamat malam opa.) " Jawab Ruby dengan makanan yang memenuhi isi mulut.
"Cucu oma yang paling cantik, sedang makan apa hmm ?." Suara lembut milik Ny. Marsellino.
"Uby, mam ayul. ( Ruby, makan sayur.) " Jawab Ruby dengan menunjukan isi piringnya.
"Ehmm, ma sepertinya ada tamu eh ternyata ditinggal dua hari Ariel langsung mengajak anak gadis kerumah loh." Ucap Tn. Marselino dengan wajah serius meski sebenarnya ia hanya bercanda.
Tn, nyonya Marsellino bukan tidak tahu mengenai gadis muda yang saat ini sedang duduk di meja makan keluarga mereka karena setiap hal yang berhubungan langsung dengan keluarga sudah dipastikan tn & nyonya tidak akan ketinggalan informasi dan lihatlah sekarang gadis itu tampak takut dan malu mungkin karena sudah bertamu dirumah orang sampai malam hari.
"Selesaikan makan kalian setelah itu langsung keruang keluarga." Ucapnya ny Marsellino dengan lembut, setelahnya ia dan suami serta beberapa penjaga meninggalkan ruang makan. Mereka akan menunggu di ruang keluarga agar Ariel, Agnes dan anak - anak bisa menyelesaikan makan terlebih dahulu.
Setelah tn dan nyonya meninggalkan ruang makan, tatapan Agnes langsung berubah ia melihat Ariel dengan tatapan sinis serta tidak suka.
"Kenapa, mau ku congkel matanya ?" Tanya Ariel dengan tatapan melotot, tidak terima dipandang sinis oleh Agnes.
"Cih." Decih Agnes dalam hati, tidak mungkin ia mengumpat secara terang - terangan didepan anak - anak.
"Yah hmm." Jawab Agnes lembut.
"Wah liatlah dia benar - benar penyihir, dia pasti mengincar keponakan - keponakanku." Batin Ariel dengan tatapan mata yang semakin bulat dan tajam membuat Agnes tidak nyaman.
"Paman, kenapa melihat kaka seperti itu ?.. apa kau menyukainya ?.." Tanya Daniel dengan sebal, ia tidak mau kakak cantik yang sudah menolong ia dan adik - adiknya merasa tidak nyaman.
"Siapa yang menyukainya, jelek." Jawab Ariel ketus.
"Hellow, apa dia merasa tampan seleraku juga tidak sepertinya." Cibir Agnes dalam hati.
"Hati - hati nanti suka beneran loh paman, sekarang bisa saja paman bilang kalau kak Agnes jelek tapi besok dan seterusnya tidak ada yang tahu." Mendengar jawaban pamannya Daniel langsung sebal, dalam hati ia berdoa agar paman dan kaka cantik berjodoh.
"Anak kecil tahu apa." Cibir Ariel.
__ADS_1
Daniel tidak menjawab tapi ia merotasi matanya pertanda malas untuk berdebat lebih, sedangkan Ruby sedang menikmati makanan yang disuapi oleh Agnes, astaga peri kecil ini begitu manis pikir Agnes.
Setelah menghabiskan makan malam mereka, Agnes, Daniel, Ruby kecil langsung berjalan berdampingan menuju ruang keluarga sedangkan Ariel mengikuti dari belakang sambil mendorong stoler baby yang berisikan baby tampan si Derren.
Dari sofa ny Marsellino mendapati pemandangan itu, ia tersenyum kecil melihatnya begitu pula dengan tn Marsellino yang merasa senang meski tidak memperlihatkan senyumnya.
"Ehm, ehmm cocok sekali seperti keluarga kecil yang hangat." Goda ny Marsellino.
Agnes tersenyum canggung dengan pipi yang merona, ia memang memang menyukai Daniel, Ruby kecil dan si baby Derren, tapi tidak ada dibenaknya untuk menyukai Ariel pria asing yang menyebalkan.
"Duduklah, kita bisa berbicara sebentar sebelum nona Agnes kembali pulang." Ajak ny. Marsellino.
Agnes dan Ariel mengambil posisi duduk yang berjauhan, Ny dan Tuan Marsellino hanya tersenyum kecil melihatnya.
"Ruby nempel terus ke kakak cantik, biasanya sama paman." Goda ny. Marsellino pada cucu perempuan satu - satunya itu.
"Hehehe, iya oma kan yubi pelempuan. (Hehehe, ia oma kan Ruby perempuan.) " Jawab Ruby dengan tampang imutnya.
"Oh yah, tapi biasanya main sama paman juga tidak apa - apakan." Jawab ny, Marsellino tidak mau kalah.
"Hehehe." Bingung mau menjawab apa lagi Ruby kecil hanya cengengesan.
"Daniel, kamu baik - baik sajakan nak. Seharusnya tidak perlu mengikuti kelas berkuda hari ini jika masih merasa tidak nyaman." Antensi semua orang kini tertuju pada Daniel yang tanpak tenang.
"Tidak apa - apa oma, lagian Daniel juga ingin berkuda." Jawab Daniel dengan senyum menenangkan.
"Huft, jangan terlalu lelah yah sayang, kau harus menikmati masa anak - anak seperti yang lain, berkuda jangan di utamakan terus." Ujar ny, Marsellino.
Next Yah ? ...
Like, Komen, Vote, Hadiah dong hehehe.
__ADS_1