
Ruang kerja Ariel.
"Siapa yang meminta gadis itu datang hmm." Dengan nada mencibir Ariel bertanya dan tidak lupa tatapan sinis juga ia tunjukan untuk assisten sekaligus tangan kanannya yang tidak lain merupakan sahabatnya sendiri.
"Maafkan atas kelancangan saya tuan muda, saya melakukan ini untuk kebaikan tuan muda bungsu." Reynald langsung menjawab pertanyaan Ariel, tentu ia sadar cibiran Ariel ditunjukan untuknya.
"Huft, Reynald kau seharusnya tidak menyeret gadis asing itu kerumah utama ini, ia tetaplah seorang gadis asing dan lihatlah sepertinya gadis itu menguasi ilmu sihir, aku tahu ia pasti sudah menyebar sihir pada keponakan - keponakanku." Keluh Ariel dengan wajah yang terlihat begitu kesal.
"Sebenarnya ada apa ini dan gadis manis itu siapa, aku seperti pernah melihatnya tapi entah dimana, dan si tampan kecil kenapa menangis seperti itu, aku bingung sekali." Harun yang sejak tadi diam akhirnya tidak tahan lagi untuk menanyakan hal yang mengganjal didalam hatinya.
"Kemarin Daniel, Ruby dan Derren hilang, maid yang berkerja kurang lebih tujuh tahun bersama kita ternyata mata - mata saingan bisnis keluarga ini, mereka menghilang ditelan bumi dan Daniel, Ruby serta Derren ditinggal begitu saja di parkiran mall." Jelas Ariel menerawang kejadian kemarin.
"Really, ternyata seorang Ariel Marsellino bisa kecolongan juga, bahkan mereka sudah mengawasi keluarga ini hampir tujuh tahun tapi tidak ada yang menyadarinya." Dokter Harun cukup tercengan dengan kabar ini, musuh berada dalam jarak yang begitu sempurna dekat dan keluarga berpengaruh serta ditakuti banyak orang tidak menyadari hal itu.
"Hmm." Hanya itu jawaban dari Ariel.
"Bagaimana dengan keluargamu yang lain, bukankah paman dan bibi sedang diluar negeri dan untuk kakakmu bukannya sedang ada urusan juga diluar, apa mereka sudah mengetahui hal ini ?" Tanya dokter Harun.
"Hilangnya tiga kurcaci sudah sampai ke telingan tuan besar, beliau marah besar dan memberi ancaman yang cukup menakutkan dan berpengaruh buruk untuk perusahaan Ariel, dan untuk nona tertua entahlah." Jelas Reynald yang paham Ariel malas bicara.
"Lalu tentang gadis itu bagaimana ?" Tanya Harun semakin penasaran.
"Agnes, ia gadis yang menemukan keberadaan Daniel, Ruby dan Derren, ia tidak sendiri karena ada satu sahabatnya yaitu Serena, mereka tidak sengaja menemukan Daniel, Ruby dan Derren di parkiran hotel, awalnya Serena menolak untuk sekedar menghampiri ketiganya tapi Agnes berhasil meyakinkan, setelahnya Agnes memutuskan membawa Daniel,Ruby dan Derren mungkin gadis itu menyadari ada yang tidak beres secara mereka anak dibawah tujuh tahun berada di parkiran mobil tanpa adanya pengawasan orang dewasa." Jelas Reynald.
"Mereka baru ditemukan tadi pagi, dan setelah dibawa kembali baby Derren jadi rewel, sekarang lihatlah baby itu diam setelah kedatangan gadis asing itu, bukankah mencurigakan pasti gadis itu sudah menebar sihir." Bukan Reynald yang melanjutkan tapi Ariel, pria tampan yang tidak terima dengan tingkah keponakannya hingga menyeret gadis asing tidak bersalah menjadi korban fitnahnya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu ? .. tidak terima ha!" Sentak Ariel dengan bola mata yang hampir meloncat keluar.
"Tidak bukan seperti itu,, kami setuju dengan pikiran anehmu itu." Jawab Harun dengan mengecilkan suaranya di akhir.
__ADS_1
Bukk .. pen yang sejak tadi berada di tangan Ariel akhirnya terbang juga mengenai kepala dokter tampan yang sedang mengadu kesakitan.
"Seharusnya kau mengalah saja dokter Harun, percuma berdebat dengan bos yang selalu benar dan menganggap dirinya salah." Batin Reynald kasian sekaligus geli sendiri, ia mana mungkin juga merutuki atasan sekaligus sahabat tak berperasaan seperti Ariel.
Lain halnya dengan tiga pria mapan yang sedang sibuk diruang pribadi milik Ariel, saat ini gadis manis dan cantik tidak lain adalah Agnes sedang sibuk menikmati kebersamaan dengan baby Derren.
"Kaka." Suara yang terdengar menggemaskan tertangkap indra pendengaran Agnes.
Agnes memperhatikan keseluruhan ruangan dan tidak sengaja mendapati sosok anak perempuan yang sedang berjalan kerarahnya.
"Ruby." Jawab Agnes dengan yakin, ia kemudian merentangkan satu tangannya agar anak perempuan itu leluasa memeluknya.
"Cup." Satu kecupan Ruby kecil arahkan untuk kakak cantik yang baru saja ia kenal semalam.
Agnes tertawa kecil setelah menerima kecupan hangat dari Ruby kecil, ia kemudian cupp .. cupp .. cupp.. membalas tiga kecupan hangat dipipi kanan kiri dan hidung Ruby kecil.
"Oek.." Astaga lihatlah bayi tampan ini sepertinya cemburu.
"Hihihi." Tawa kecil Ruby terdengar begitu candu, gadis kecil itu ikut menjahili adiknya dengan menoel hidup kecil adiknya.
"Etss, jangan keras - keras yah sayang, nanti dedenya nangis." Dengan lembut Agnes menahan tangan kecil Ruby, Ruby kecil yang sudah dinasehati tanpak mengerti dan mengangguk - anggukan kepala.
"Dimana kakakmu hmm ?." Tanya Agnes, sejak tadi ia tidak melihat kehadiran Daniel.
"Pelgi beluda." Jawab Ruby dengan wajah seduh.
Ruby kecil sangat ingin mengikuti semua kegiatan sama persis seperti kakaknya, tapi untuk mengikuti kelas berkuda usia dan badan mungilnya tidak memenuhi persyaratan, akhirnya ia hanya diperkenankan mengikuti kelas renang.
"Kenapa sedih hmm." Tanya Agnes bingung.
__ADS_1
"Atu dak boleh itut elas uda. ( Aku tidak boleh ikut kelas kuda.)" Jawab Ruby dengan wajah berkaca - kaca, Ruby kecil kembali mengingat penolakan mommy and daddynya.
"Uhhh sayang, tidak perlu bersedih begitu dong, nanti setelah Ruby tumbuh semakin besar pasti dibolehkan ikut kakak Daniel berkuda." Hibur Agnes dengan mengelus - elus kepala Ruby kecil.
"Cius ?" Tanya Ruby kecil dengan pandangan berbinar.
"Tatatata." Lihatlah bahkan Derren seolah - olah mengatakan iya.
"Ehmm." Jawab Agnes tanpa kepastian yang jelas, tapi terlihat Ruby kecil begitu senang.
Balik keruang kerja pribadi milik Ariel.
"Kau lihat gadis itu pasti sudah menabur sihir pada keponakan - keponakanku, mereka bahkan terlihat sangat dekat padahal baru kenal satu malam." Cibir Ariel dengan tatapan kesal.
Kegiatan Agnes selama berada di kediaman utama keluarga Marsellino tidak lepas dari pengawasan Ariel, Harun dan Reynald.
Reynald dan Dokter Harun tampak menikmati wajah cantik Agnes tanpa memperdulikan setiap umpatan Ariel yang tertuju pada gadis itu.
"Hei, hei lihatlah bahkan kalian sampai seperti orang bodoh hanya karena melihat wajahnya, pasti kalian sudah kena mantra sihirnya." Dengan tatapan tak percaya serta kasihan Ariel mengomentari kedua rekan sekaligus sahabatnya.
"Astaga aku harus segera mencarikan penawar, bisa bahaya jika sampai seluruh penghuni ini diberi mantra sihir oleh gadis itu." Ariel tampak berdebat dengan batinnya sendiri.
Harun yang tidak sengaja melihat Ariel melamun segera menyenggol lengan Reynald.
"Bos, bos sekarang apa lagi yang berada dalam otak pintarmu itu hmm." Batin Reynald berteriak frustasi.
Dokter Harun kembali memperhatikan monitor, ia terasa begitu candu menikmati kebersamaan nona manis, ruby kecil dan baby Derren.
"Sepertinya akan susah jika baby Derren dan Ruby kecil terus menempel pada nona Agnes, kenapa aku tidak terpikir akan hal ini astaga matilah aku, ini bukan menghilangkan masalah tapi menambah masalah." Batin Reynald baru menyadari sesuatu.
__ADS_1
Yah Reynald ceroboh dengan membuat Agnes dan baby Derren semakin dekat, di tambah Ruby kecil tampak sangat senang akan kehadiran kakak cantiknya. Habislah sudah kau Reynald.
Next Episode ? cukup 20 like, 5 komen, 50 Hadiah dan 5 Vote hehehe tidak ada yang gratis bukan ?...