Domineering Evil Woman System

Domineering Evil Woman System
Embrio


__ADS_3

malam yang penuh badai dan hawa dingin yang membuat tulang menggigil. suara hujan deras yang mengguyur, membuat suara gemerisik yang sangat bising. sesekali ada kilat dan petir yang menyambar, kilat perak panjang seakan seperti seekor ular bercahaya yang melintasi langit, mengaum dengan suara guntur yang memekakkan telinga.


di bawah guyuran hujan itu, berdiri seorang gadis berambut hitam, bertubuh kurus dengan pakaian yang compang-camping dan banyak bekas luka di tubuhnya yang diterangi oleh lampu jalan yang redup. gadis itu tertunduk dan tubuhnya menggigil karena di gigit oleh dinginnya angin malam dan air hujan. di depannya berdiri seorang lelaki gemuk yang satu kepala lebih tinggi darinya. pria itu memegang payung di tangan kirinya dan botol minuman keras di tangan kanannya.


sklera mata pria itu terlihat merah karena mabuk oleh alkohol. pria itu menatap gadis yang tertunduk di bawah hujan itu dengan penuh kebencian dan rasa jijik seperti melihat binatang kotor yang tidak berguna. perlahan, pria itu mengambil dua langkah ke depan dan menghampiri gadis itu.


karena gadis itu merasa bahwa pria itu mendekatinya, jadi gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap pria gemuk itu. mata gadis itu tidak memancarkan sorot apapun seperti gadis normal seusianya. mata gadis itu kusam seperti ikan mati dan tidak mempedulikan dunia ini. jika ada orang yang melihat sorot mata itu, mereka akan dingin sampai ke tulang. di mata yang kusam itu tidak ada emosi apapun kecuali kilatan kebencian yang mendalam kepada pria di depannya.


melihat tatapan gadis itu kepadanya, pria itu mengangkat botol minuman keras di tangannya, lalu...


Bang...!!


Brug...!


lelaki itu mengayunkan tangannya dan menggunakan botol alkohol untuk memukul kepala bagian kanan gadis itu hingga gadis itu tersungkur ke tanah berlumpur. darah mengalir bersama dengan air hujan dan bercampur dengan air berlumpur di bawahnya.


"jangan melihatku seperti itu.... wajahmu mengingatkanku pada wanita ****** itu"


Bang...!!


tidak puas hanya memukul gadis itu dengan botol, pria itu langsung menendang wajah gadis itu yang berusaha untuk bangkit dari tanah berlumpur. karena tubuhnya yang kurus, gadis itu kembali tersungkur ke tanah.


rasa sakit yang menusuk tulang dari luka di kepala dan juga tulang pelipis yang di tendang membuat gadis itu mengeram lemah. meskipun begitu, gadis itu tidak membuat teriakan seakan gadis itu sudah terbiasa di perlakukan seperti ini.


setelah pria itu melihat bahwa gadis itu tidak bangkit lagi, dia berbalik dan melangkah ke sebuah rumah kayu yang ada di belakangnya sambil terhuyung-huyung karena pengaruh alkohol.


sekitar tiga menit berlalu, gadis itu perlahan bangkit dan menopang tubuhnya dengan tangan yang kurus itu. dari balik lengan pakaiannya, dapat dilihat dengan jelas berbagai bekas luka baik baru maupun lama di lengannya. dengan lengannya yang kurus, pucat, dan gemetaran, gadis itu mengambil pecahan leher botol di tanah yang memiliki ujung tajam.


gadis itu mengeratkan giginya dan menggenggam pecahan botol itu dengan kuat, dan setelah mengambil nafas panjang, gadis itu memasukkan pecahan botol itu dan menyembunyikannya di balik pakaiannya. dia menggunakan tiang lampu jalan sebagai penopang untuknya berdiri. gadis itu melihat rumah kayu itu untuk beberapa saat dan kemudian dia berjalan ke jalan persimpangan yang berlawanan dengan arah rumah kayu itu.


di temani dengan suara guntur, dan hujan serta angin yang menderu, gadis itu berjalan tertatih-tatih dan terhuyung-huyung karena kepala yang masih terasa pusing yang di sebabkan oleh guncangan otak akibat pukulan keras di kepala.


karena dia terus terguyur oleh hujan, darah yang mengalir di kepalanya kurang terlihat. dari penerangan lampu jalan yang redup, dapat di lihat bahwa mata gadis itu terlihat tajam dan menakutkan.


berjalan sekitar 400 meter, gadis itu berhenti dan bersandar di tiang lampu jalan untuk mengambil nafas dan mengistirahatkan tumbuhnya. hanya perlu waktu kurang dari satu menit, gadis itu kembali berjalan. dia memegang lengan kiri bagian atas dengan lengan kanannya, berusaha untuk mengurangi rasa dingin di tubuhnya.


"hujan akan terus membuat suhu tubuhku turun. untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil, tubuh akan mengkonsumsi lemak dan energi dua kali lebih cepat daripada biasanya. dengan tubuhku yang lemah dan suhu tubuh yang terus menurun, diperkirakan aku akan segera tidak sadarkan diri dalam waktu kurang dari tiga puluh menit."


gadis itu bergumam pelan lalu mengeratkan gigi dan mengigit lidahnya supaya dia bisa tetap mempertahankan kesadarannya dan tidak jatuh pingsan di tempat ini. dengan menitih tembok pembatas rumah di pinggir jalan, gadis itu kembali berjalan hingga ke sudut gelap sekitar seratus meter dari tempat itu.


gadis itu melihat ke belakang beberapa kali lalu mengambil sebuah persimpangan dan memutari beberapa rumah untuk kembali ke rumah kayu lelaki gemuk itu. melihat rumah kayu, gadis itu melangkah perlahan menuju bagian samping rumah kayu. dia meraih sekring dan membuat lampu di seluruh rumah padam.


dengan langkah pelan dan basah, gadis itu masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ke sebuah ruangan. melihat dari gerakannya, gadis itu sudah sangat familiar dengan tata letak rumah kayu. di dekat jendela, gadis itu samar-samar melihat bayangan pria gemuk itu yang berbaring di meja dengan tangan kanan yang masih memegang botol anggur. selain botol anggur, di meja itu juga terdapat botol obat dan segelas air minum.


gadis itu memandang pria gemuk itu dalam diam. perlahan, dia mengeluarkan pecahan botol dari balik pakaiannya dan berjalan mendekati pria itu langkah demi langkah. kilatan petir mencerminkan bayangan wajah gadis itu yang menatap pria yang tertidur di atas meja dengan kejam dan menakutkan. pupil matanya hitam pekat benar-benar hitam pekat, lebih pekat dari gelapnya malam.


gradakk...!!


tanpa di duga, pria itu sadar dan berbalik ke arah gadis itu. dia berdiri dengan tidak stabil dan melangkah ke arah gadis itu. gadis itu hanya melihat pria itu mendekat ke arahnya dalam diam dan wajah yang dingin tanpa ekspresi apapun.

__ADS_1


"kamu ...hiks... gadis ******, anak tidak berguna... hiks ..."


sambil berjalan, pria itu mengutuk gadis itu dengan kata-kata kejam. meskipun menerima makian yang begitu kejam, gadis itu tetap diam dengan genggaman ke pecahan botol yang semakin erat.


berjarak sekitar dua langkah, gadis itu tiba-tiba bergerak dan menikamkan pecahan leher botol yang tajam itu ke arah pankreas.


"kamu..."


pria itu membelalak tidak percaya. hanya saja gadis itu tetap tanpa ekspresi dan mendorong lebih kuat.


"seperti yang aku duga. seluruh organ manusia di lindungi dengan baik. bahkan jika aku mengincar bagian perut, itu tidak akan bisa menembus lebih dalam hanya dengan pecahan botol karena perlindungan otot yang kuat. apalagi sekarang kondisiku sangat lemah. tapi inilah yang aku harapkan."


meskipun luka itu tidak sangat fatal, tapi karena gadis itu mendorong dengan kuat, dan karena pria itu masih mabuk, dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang dengan bagian belakang kepala membentur bagian sandaran kursi.


setelah pria itu terjatuh dan tidak sadarkan diri, gadis itu menyentuh bagian arteri di leher pria itu dan merasakannya secara perlahan.


"yah, masih hidup."


dia melirik botol anggur utuh di tangan pria itu, lalu meraih dan mengambilnya. meletakkannya beberapa cm dari kaki lelaki itu. dia melirik ke sekitar dan menemukan sepatu boot pertanian di bagian sudut ruangan. keluarga gadis itu memang hanya bekerja sebagai petani, jadi wajar jika ada sepatu boot disana.


dia mengambil sepatu itu dan mengenakannya. dilihat dari penampakannya, sepertinya sepatu itu sudah di bersihkan dengan baik. dia melangkah ke arah botol yang dia letakkan tadi dan menginjak dengan keras.


prang...!!


tentu saja karena tekanan yang besar, botol itu retak dan pecah. setelah botol hancur, dia menggesekkan kakinya dan membuat tanda goresan di lantai. dia melepas sepatu itu dan memakaikannya di kaki pria itu. melirik hasil karyanya, dia melangkah ke atas meja dan mengambil botol obat lalu membacanya.


dengan hanya membaca beberapa kata, dia melihat gelas air di atas meja. membuka tutup obat itu dan menuangkan obat tablet berbentuk bulat pipih putih di dalamnya ke dalam gelas berisi air. di dalam botol itu berisi sekitar tujuh puluh tablet dan semuanya di masukkan ke dalam gelas. dia melarutkan tablet itu dengan air dan mengaduknya dengan jari. setelah air berubah menjadi putih dan obat larut secara sempurna, gadis itu kembali menghampiri pria gendut yang tidak sadarkan diri di lantai. dia dengan paksa membuka mulut si gendut dan memaksa si gendut untuk menelan obat yang terlarut itu.


"aku membuatmu tetap hidup, supaya kamu masih bisa mencerna obat itu, ayah."


setelah mengucapkan itu, gadis itu tersenyum menakutkan dengan latar belakang kilat yang terlihat dari jendela. gadis itu tidak memperhatikannya lagi, lalu berjalan menuju dapur. meskipun ini rumah kayu di pinggiran kota kecil, disini tetap terdapat kompor gas untuk memasak. karena tidak ada uang, jadi mereka menggunakan gas yang sudah kuno, bukan kompor listrik canggih. dia melonggarkan selang regulator dan membiarkan gas yang mudah terbakar itu tersebar di udara. bajunya yang basah, dia menggunakannya untuk menutupi hidungnya supaya tidak menghirup butana dan propana dari tabung gas tersebut.


di melihat di sekitar rumah, lalu menghampiri kabel dan colokan di sekitar dapur. mengambil dua buah sendok dan menghubungkan ke dua sendok itu dengan kawat. kawat itu di lilitkan berkali-kali di antara ke dua belah sendok. setelah di rasa cukup, dia memasukkan ke dua gagang sendok itu ke lubang colokan yang ada di dinding.


setelah dia membuat semua pengaturan itu, dia kembali ke tubuh pria itu yang berkedut dan kejang karena pengaruh obat yang telah di cerna. dia mencabut pecahan botol yang menancap di perut atas pria gemuk itu dan membawanya keluar dari rumah.


di luar, gadis itu melihat langit yang masih memamerkan perkasanya dengan badai dan juga petir yang menggelegar. dia kembali menyalakan sekring dan ledakan yang keras segera terdengar, dan rumah kayu itu berguncang sangat keras. tidak lama setelah itu, lidah api langsung menerobos jendela kaca dan terlontar ke luar seperti semburan naga api.


melihat rumah yang dilalap oleh api, gadis itu berjalan menuju jalan yang tadi dia lalui. pecahan botol itu, dia melemparkannya ke sekitar pecahan botol lain yang tadi di gunakan untuk memukul kepalanya.


dia berjalan kembali menyusuri jalan yang sama dari jalan saat dia datang, dan menghindari jalan dia pergi. sekitar lima belas menit kemudian, dia berjalan kembali ke persimpangan gelap tadi dan terus berjalan.


hanya beberapa ratus meter, gadis itu mulai terhuyung-huyung dan wajahnya berubah menjadi jauh lebih pucat.


"sepertinya aku sudah tidak bisa lebih jauh lagi..."


gadis itu terjatuh ke genangan air berlumpur yang bau dan kesadarannya semakin menipis. karena kehilangan darah dan semua energinya telah habis, dia tidak sadarkan diri di bawah hujan yang lebat. air hujan dan lumpur terus memercik ke tubuhnya yang kurus.


lampu cerah tiba-tiba muncul di tengah lebatnya hujan dari ujung jalan dan berhenti tidak jauh dari tubuh gadis itu. seorang pria dengan jas hitam dan kemeja putih keluar dari bagian pengemudi. dia mengambil sebuah payung hitam lalu membuka pintu belakang.

__ADS_1


"nyonya."


pria itu membungkuk dengan sangat sopan dan menggunakan payung hitam untuk melindungi seorang wanita tua sekitar pertengahan lima puluh tahunan. pria itu rela basah-basahan dan melindungi wanita tua itu dari hujan dengan satu-satunya payung yang ada.


meskipun wanita itu terlihat tua, tapi dari sorot matanya yang bersemangat dan penampilannya yang berkelas, dapat dilihat bahwa dia merupakan seorang nyonya kaya yang kebetulan lewat di tempat ini.


dia mengambil langkah dengan cepat lalu menghampiri tubuh gadis yang tidak sadarkan diri di tengah jalan. tubuh gadis itu sudah tertutup lumpur yang bau dan kotor, tapi seperti tidak mempermasalahkan hal itu, nyonya itu mengangkat tubuh gadis itu dan meletakkannya di pahanya tanpa memperdulikan pakaian mahalnya akan berubah menjadi kotor.


"ini dia... ini dia..."


nyonya tua itu menangis dengan sedih sambil terus memanggil 'ini dia' di mulutnya. air mata terus menetes dengan cepat dari sudut matanya yang sedikit berkeriput. wanita itu menekan bagian arteri tangan gadis itu dengan tangannya yang gemetaran dan merasakan detakan nadi yang sangat lemah selama beberapa menit.


"sangat lemah.... CEPAT.... mengemudi ke rumah sakit terbaik dan terdekat di kota ini..!!"


nyonya tua itu mengangkat tubuh gadis yang kotor itu ke dalam mobil, dan dengan panik segera memerintahkan pria berjas hitam tersebut.


"baik, nyonya."


tanpa pikir panjang, gas mobil itu langsung di injak dan mobil meraung menembus hujan yang turun. nyonya tua itu mengeluarkan sebuah foto dari tas tangan yang ada di tempat duduk di sebelahnya. dia melihat gambar di foto itu dengan tangan gemetar lalu menoleh ke wajah kotor dan pucat gadis yang ada di pangkuannya. air mata terus menetes tak terkendali, dan tangan yang memegang foto itu gemetar.


"bertahanlah... bertahanlah..."


dia terus berbicara pada gadis di pangkuannya yang tidak sadarkan diri. suaranya gemetar dan tenggorokannya tercekat.


.....


«Embrio seri 179108A... aktifasi_»


«menghubungkan dengan tuan rumah_»


«selesai... penghubungan sukses_»


«mengakses informasi dunia... selesai_»


«ditemukan ruang lintas dimensi_»


«memeriksa efektivitas... kecepatan latihan meningkat 200% lebih cepat_»


«meminta akses ke penghubung ruang lintas dimensi_»


«permintaan di tolak_»


«menghubungkan paksa dengan ruang lintas dimensi... selesai_»


«mencatat data statistik tuan rumah_»


(akhir dari chapter ini)


jika menarik bagi kalian, mohon dukungan dan share ke yang lain, yak...

__ADS_1


__ADS_2