Dragon Dream

Dragon Dream
Impian sang kesatria


__ADS_3

Akademi semakin sibuk saat memasuku semester ketiga. Kelulusan kelas serta masa depan mereka... para siswa yang terdaftar memempatkan semangat dan atusianme mereka pada turnamen antar kelas.


“kalau begitu, Adlet dan Ryoko, lalu berikutnya adalah...”


Mereka yang memiliki nilai bagus, atau yang dianggap kompeten oleh guru diminta untuk mewakili kelas mereka. Walaupun memungkinkan untuk ditolak, akan tetapi hanya sedikit yang menolak tawaran tersebut. Berpartisipasi sebagai perwakilan kelas pada umumnya dilihat sebagai suatu kehormatan.


Suatu kesempatan emas bagi mereka untuk meletakkan nama mereka di luar sana.


Kelas telah berakhir, dan sudah diputuskan bahwa Adlet akan menjadi salah satu anggota yang berpartisipasi. Saat ini, dia sedang membaca buku di kelas setelah kelas selesai. Karena dia harus mengembalikan buku perpustakaan hari ini, dia berencana untuk membaca dan mengembalikannya sebelum kembali ke asrama.


Disamping Adlet, Ryoko juga membaca buku di kelas. Sepanjang semester ketiga, dia terus bertindak bersama dia. Tapi daripada membaca buku... dia menatap Adlet.


Di mata Ryoko, Adlet adalah orang yang aneh, tapi itu yang hanya terlihat di depan. Dia menyatakan dia ingin menjadi seorang Dragion yang kuat, dan melihatnya saat dia berusaha sangat menyenangkan. Terlebih lagi, kehidupan sekolahnya telah diselamatkan olehnya pada hari pertama. Ryoko menganggap Adlet sebagai sesuatu yang melampaui teman baik.


... Apakah Adlet mengetahui itu.


Adlet selesai membaca bukunya, meletakkannya di atas meja. Saat dia melakuakknya, dia mulai percakapan dengan Ryoko.


“turnamen antar kelas... pertandingan pertama kita adalah dengan kelas Astra, kan?”


Ketika Adlet tiba-tiba memulai topik pembicaraan, Ryoko panik di dalam.


“Y-ya... apakah kau gelisah?”


“gelisah? Jika mungkin, aku ingin melawan Astra. Sejauh mana aku tumbuh, apa yang kurang dariku... jika melawan Astra ‘yang terkuat’ di angkatan kita mungkin aku akan dapat memahaminya. Dan... jika aku melakuakannya, aku akan berusaha untuk menang.”

__ADS_1


Bagi Adlet, kekalahan itu tidak berarti. Dia bisa berdiri lagi. Tapi yang terburuk dari itu adalah kemenangan tanpa manfaat apa pun.


Dari melawan orang lemah dan menang, melawan seseorang yang kuat dan kalah memiliki nilai lebih pada Adlet saat ini. Saat ini, dia berada di lingkungan belajar, dan ini adalah pertandingan...


“kau selalu sangat optimis, Adlet... aku iri.”


Saat izumi menunduk, Adlet menanyakan apa yang ada dalam pikirannya selama ini.


“apa yang kau inginkan, Ryoko? Kau datang ke akademi inin karena kamu punya tujuan kan?”


Ryoko mulai berbicara walaupun sedikit malu. Mimpi Ryoko adalah mendapatkan status kesatria di Senatus... dan bukan hanya mengincar status biasa, di atas kesatria standar, dia ingin menjadi bagian elit yang dikenal di Senatus sebagai High knight... itu sulit di pundak orang asing seperti Ryoko. Tapi meskipunbegitu, dia dikirim untuk memperbaiki nasib keluarganya, High knight bukan lah posisi satu generasi. Di Senatus yang menghargai darah baru, itu berarti mendapatkan status yang mulia. Tetapi ujian dan standar yang ditetapkan setinggi dengan apa yang akan kau dapat juga.


“mengapa kau menginginkan status kesatria di Senatus? Bukankah keluargamu adalah keluarga kesatria di negara asalmu?”


Adlet tidak terlalu berpengetahuan dalam urusan luar negeri. Paling banyak, dia hanya mengerti tentang hubungan diplomatik. Dia tidak mengerti mengapa Ryoko ingin menjadi kesatria di Senatus.


Perbedaan Dragion dan High knight; High knight tingkat mengendarai naga pada saat bertarung, mereka memiliki peran defensif, perisai yang melindungi tokoh-tokoh penting negara. Jika Dragion adalah ujung tombak, mereka juga merupakan salah satu keberadaan yang penting di Senatus.


“mereka akan memintamu untuk meninggalkan negaramu, dan bersumpah setia kepada Senatus. Kamu akan menyisihkan negara tempatmu dilahirkan... apakah klanmu sudah memikirkan itu?”


“kamu benar-benar blak-blakan ya dalam bertanya... kami memiliki tekad. Itu sebabnya aku akan menjadi High knight. Jika akhirnya menjadi High knight dan mendapatkan status bangsawan.”


Melayani di bawah bangsawan peringkat tinggi adalah alami untuk keluarga-keluarga yang lebih muda. Bahkan jika kamu memberikan idealisme, betapapun berbakatnya keluargamu, kau tidak akan dapat bertahan jika kau menjadi musuh dari keluarga-keluarga yang lebih besar.


“aku mengerti, aku akan mendukungmu, dan aku akan mendukung klanmu. Kau harus mencari seorang bangsawan untuk mendukungmu selagi kamu bisa. Untungnya disini banyak bangsawan tinggi.”

__ADS_1


“... ya mungkin kamu benar.”


Ketika kelas diwarnai oranye di bawah sinar matahari terbenam, mereka berdua berdiri dan kembali ke asrama mereka sendiri. Jika bertanya pada Adlet apakah dia benar-benar ingin menjadi seorang Dragion, maka pasti dia tanpa ragu men jawab ‘iya’. Itu cukup jelas...


Dan jika karena dia bisa mengerti betapa seriusnya Adlet... bahwa dia akan mencoba yang terbaik. Dia memperbarui tekadnya.


...


Pada sisi Adlet, dia mengingat bagaimana sulitnya perjalanannya hingga bisa sampai pada keadaan seperti ini. Sambil dia berbaring di kamarnya dia mengingat semua itu. Kerasnya perjuangannya yang dia lakukan mulai dari latihan keras yang dia lakukan setiap hari dan ejekan yang dia terima menjadi sebuah bahan bakar bagi dirinya untuk semakin mengokoh kan tujuannya untuk menjadi seorang Dragion yang kuat.


“apakah aku bisa....? ah! Apa yang ku pikirkan, tentu saja bisa”


Adlet meyakinkan dirinya dengan kata-kata itu dan sebentar lagi turnamen antar-kelas juga akan dilaksanakan, tentunya sebagai salah satu perwakilan kelas dia harus melakuakn yang terbaik agar tidak mengecewakan teman-temannya.


Setiap pagi Adlet selalu dilatih oleh Helena tentang sihir praktis, Helena selalu tampak kacau saat pagi hari, dapat terlihat dari rambutnya yang acak-acakan dan tampangnya yang mengantuk.


“huweee.... apakah kita tidak bisa mengganti jam latihan kita ke waktu dimana matahari sudah cukup tinggi? Aku benar-banar mengantuh”


Walaupun selalu mengeluh seperti itu Helena tetap mengajarkan Adlet sihir praktis sesuai janjinya, tentu saja dia juga punya niat lain selain menjadi gurunya secara Cuma-Cuma. Adlet sangat antusias pada apa yang diajarkan oleh Helena, dia banyak bertanya kepada Helena tentang apa yang tidak dia mengerti.


Dalam waktu yang singkat ini sebelum turnamen antar kelas ini dimulai, Adlet yakin bahwa dirinya akan bertambah kuat dan meraih kemenangan untuk kelasnya.


“ya benar, pasti bisa! Aku pasti menang!”


“oii..oii ada apa tiba-tiba berkata seperti itu? Latihan kita masih panjang lo... jangan kau hilang pikiran di saat latihan, tetaplah fokus”

__ADS_1


“ya... maafkan aku, aku hanya terbawa suasana...”


__ADS_2