
Di suatu tempat yang terbentang, di lorong yang remang-remang, terdapat seorang lelaki tua yang khusus berbisnis untuk bahan-bahan. Menuju ke sana, Helena telah membawa ‘Taring babi’ yang dia dapatkan di pekerjaan terakhirnya sebagai pengawas pada kegiatan akademi. Orang tua itu dengan antusian menilai taring yang ia nyatakan sebagai bahan kelas satu.
“... darimana kamu mendapatkan ini? Ini pertama kalinya aku melihat barang seperti ini.”
“itu rahasia... jadi berapa harganya?”
Tanpa banyak basa-basi lagi, lelaki tua itu hanya menghela nafas melihat kelakuan Helena. Dia sudah kenal dengan Helena selama beberapa tahun, dan sementara dia benar-benar terampil, itu dipertanyakan apakah dia memiliki kemampuan untuk membawa bahan sebagus ini entah darimana.
“dalam sifat kekerasan bahan ini dan sihir di dalamnya... itu semua cukup tinggi. Siapa pun yang memotong ini pasti sangat terampil.”
Mengeluarkan sedikit sinisme santai, dia memberikan sejumlah uang sebagai harga dari barang tersebut. Melihat itu Helena mencoba beberapa kali untuk menawar harga yang lebih tinggi... pada akhirnya, dia hanya mendapatkan harga pasti yang sudah di ajukan oleh lelaki tua itu sebelumnya.
“apakah itu benar-benar luarbiasa?”
“sebagai bahan, jabawanku iya. Jika kamu bisa mendapatkannya dalam jumlah besar, aku akan menerimanya dengan senang hati”
Helena ingat Adlet. Dia memiliki keterampilan... haruskah aku untuk memanfaatkannya? Dia dengan sungguh-sungguh memikirkannya agar mendapatkan keuntungan yang berlimpah.
...
“badanku sakit”
Beberapa hari berlalu sejak kejadian di hutan itu, dan Adlet berbaring di tempat tidur di ruang perawatan akademi... bahkan jika itu disebut rang perawatan, itu adalah fasilitas dengan skala rumah sakit kecil. Nyeri menjalar di seluruh tubuhnya, dan sementara sihir penyembuhan tetap di gunakan...
“itu karena kamu terlalu memaksakan dirimu sendiri. Jika kita tidak memiliki sihir penyembuhan, kamu tidak akan bisa bergerak selama beberapa bulan”
Ryoko tetap berada di samping Adlet, membukakan kulit buah di kursi dekat tempat tidurnya. Meskipun dia tidak ahli dalam tugas seperti ini, tapi dia berusaha dan setelah itu dia menyerahkan buah itu ke Adlet.
“aku akan keluar dalam dua atau tiga hari, dan kemudian aku harus melatih diri dari dasar.”
“itu memang baik untuk semangat, tetapi beristirahatlah dulu untuk sekarang”
Ketika mereka sedang berbincang, pintu ruang perawatan tiba-tiba terbuka.
“yo, sudah lama kita tidak bertemu, Adlet”
__ADS_1
Orang yang masuk dengan kata-kata itu adalah Helena, dia membawa beberapa buah tangan.. sungguh baik, pikir Adlet. Tapi Ryoko masih berjaga. Dia tidak berharap banyak karena merasa Helena memiliki maksud lain kepada Adlet.
“aku pikir hanya personil yang relevan yang bisa masuk akademi”
Pada setial kata-katanya, ada duri yang dapat dirasakan, tapi...
“aku datang untuk melaporkan ini dan itu tentang tugasku, gadis kecil. Kamu baik-baik saja Adlet? Kalau saja kami bisa menyelamatkanmu lebih cepat, ini semua tidak akan terjadi”
Dia tidak menghadapi reaksi sinime dari Ryoko. Ryoko menjadi lebih waspada, sedang kan itu Adlet...
“i-iya baiklah...”
Matanya dicuri oleh pakaian Helena yang sedikit terbuka. Ryoko akhirnya menghela nafas. Tetarik oleh reaksi Adlet, Helena mencoba menggidanya dengan mendekatkan wajahnya ke Adlet.
“o-oy..!”
Mata Adlet tidak bisa berpaling dan Helena...
“kemana kau melihat anak muda?.... kau harus menatap ke mata jika sedang berbicara”
Secara tiba-tiba Ryoko menepuk tubuh Adlet
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya dan menggeliat kesakitan. Setelah itu Helena berhenti menggoda Adlet.
Helena mencoba menjual jasanya untuk menjadi pengawal pribadi sebagai cara untuk mendekati Adlet. Adlet telah melihat kekuatannya sebagai seorang petualang, dan dia memahami itu... tetapi Adlet menunjukkan ketidaksetujuan.
“menjadi pengawal pribadi ku? Bahkan jika kau memintaku untuk itu, yah... kesatria dan prajurit di akademi menurutku sudah cukup, mereka bahkan sangat hebat, dan lagi pula aku tidak punya uang untuk membayarmu”
“hmm... dalam hal itu ah benar, Sihir! Akau akan mengajarimu penggunaan praktis untuk sihir! Aku akan memberimu pelajaran Cuma-cuma”
Saat dia dengan panik memikirkan berbagai hal, kata-kata yang secara acak dia lepaskan dari mulutnya memberi Ryoko firasat buruk. Ketika Ryoko memahami kepribadian Adlet, dia memiliki keyakinan bahwa dia akan menyetujuinya karena dia akan menerima hal baru.
“benarkah!? Sihir yang membakar babi hutan itu benar-benar mengejutkanku. Aku tidak dapat menganggapnya sebagai sihir yang sama dengan yang aku gunakan... apakah itu mungkin bagiku?”
Menemukan pijakannya, Helena mulai membangun rencananya. Memperbaiki posturnya, dan menundukan kepalanya...
__ADS_1
“serahkan padaku. Sihir, terutama sihir serangan adalah keahlianku, aku akan membawa kemampuannmu ke tingkat yang dapat kamu gunakan dalam pertempuran sungguhan.”
“maka kalau begitu aku menyetujuinya! Tidak, dalam hal ini, aku yang akan memintamu untuk mengajariku. Jika tubuhku sudah pulih, bisakah kita berlatih setiap hari, pagi dan sore?”
“...eh? se-setiap hari? Pagi sore?... di pagi hari, maksudmu sekitar jam saat lonceng akademi berdentang tujuh kali?”
Helena tiba-tiba membuat wajah enggan... dia susah jika harus bangun di pagi hari. Dia lebih suka berkeliaran di malam hari hingga fajar...
“bel kelima, mungkin? Apakah itu tidak boleh? Kalau begitu sayang sekali, sepertinya kau tida...”
Bagi Helena ini adalah kesempatan yang besar, jd tidak boleh di sia-siakan...
“tidak, jika Kau menginginkannya, aku akan melatihmu kapan saja.”
“terima kasih!”
Melihat itu Ryoko hanya bisa terdiam dan membuat wajah tidak senang.
...
Si Gadis elf sedang sibuk memikirkan Adlet, yang di temu di pintu masuk akademi dulu. Dari sana, cukup banyak waktu berlalu, tetapi bahkan sekarang dia tidak bisa mengeluarkannya dari kepalanya. Meskipun dia terkadang menyebabkan masalah di akademi, Adlet menjadi semacam selebritis.
Dan setiap kali dia mendengar desas-desus tentang Adlet, itu semua membuat Sarah tidak tenang. Adlet itu hanya orang biasa... bisa di katakan bahwa Sarah sedang gelisah dan merana. Melihat kebawah untuk orang biasa seperti itu, jangan mimpi mana mau dia seperti itu.
Tapi Sarah tidak bisa mengira bahwa Adlet tidak seburuk yang dia pikirkan. Ada desas-desus lain menyebar, dan mereka semua meyebut Adlet orang yang menyeramkan. Tetapi jika kau bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, kau akan mendapatkan reaksi yang berbeda.
Kelas Adlet tidak pernah menghianatinya. Adlet bekerja keras, dia tidak pernah mebeda-bedakan siapa pun... hanya itu yang pernah dia dengar.
“seperti apa dirimu yang sebenarnya... “
Sarah menghembuskan nafas... melihat sosoknya, teman sekamarnya mengeluarkan sebuah kalimat.
“Sarah.... bukankah itu namanya kau sedang jatuh cinta.”
Mendegar itu Sarah langung salah tingkah, dan wajahnya memerah.
__ADS_1
“haa..! apa yang kau katakan, aku buaknya menaruh perasaan atau apa kepadanya ya, hmph”
Sarah membantah dengan penytaaan yang tidak bisa dipegang kebenarannya