
Adlet telah dewasa, dia sekarang berumur enam belas tahun. Latihannya selama ini telah membuat tubuhnya tumbuh dan membuatnya kuat. Saat ini dia telah mampu menggunakan sihir dasar, dia juga menguasai tektik berpedang, menggunakan tombak, dan memanah...dia telah mendapatkan berbagai macam keahlian. Chisa yang selalu mengikutinya telah berumur delapan tahun. Tubuhnya pun telah berkembang, dan dia juga mempelajari hal yang sama seperti Adlet.
Tahun ini seluruh kerja keras Adlet selama ini mulai dari menambah porsi belajar dan giat berlatih akhirnya terbayarkan. Dia mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di akademi kesatria ternama di Senatus, dimana disanalah cara mendapatkan kualifikasi untuk menjadi kesatria.
“Adlet, apa kamu akan pergi ke akademi?”
Ketika Chisa mengayunkan tombaknya ke arahnya, Adlet menerimanya dengan pedangnya sambil menjawab.
“iya, jika tidak pergi kesana, tidak akan bisa mendapatkan kualifikasi untuk menjadi kesatria, kamu harus menjadiakn tujuanmu juga jika ingin menjadi kesatria juga”
Melihat wajah Chisa yang merasa kesepian, hati Adlet terasa sedikit perih mengingat waktu yang mereka habiskan bersama selama ini. Rasanya akan sangat berbeda tanpa kehadiran Chisa.
“jangan khawatir. Kalau sudah libur panjang aku akan kembali” kata Adlet menyenangkan hati Chisa
“benarkah!?”
Walau sedang melakukan percakapan yang mengharukan, mereka terus mengayunkan senjata mereka. Kemampuan mereka telah berkembang pesat, bahkan sampai dimana mereka terlihat tertawa sambil mencoba untuk membunuh lawannya. Gerakan langkah kaki dari Chisa dan ketajaman tusukannya dapat membuat orang yang lebih tua malu jika melihat kemampuannya, dan Adlet yang menangkis serangan-serangan itu sambil melakukan percakapn merupakan hal yang luar biasa.
...Jika mereka tidak diremehkan, mungkin mereka berdua akan menjadi terkenal di seluruh Senatus dalam artian yang baik.
Merasakan sudah cukup lama mereka berlatih dan tampak bajunya sudah basah karena keringat, Adlet menghentikan latihannya. Mengikutinya, Chisa duduk di tempat dan mengatur pernapasannya.
“apakah akademi kesatria menyenangkan?” tanya Chisa
“entahlah...siapa yang tahu? Untukku, disana merupakan tempat untuk menjadi seorang kesatria, dan aku tidak terlalu peduli jika disana menyenangkan ataupun tidak... Aku tidak akan pergi ke suatu tempat hanya untuk bersenang-senang, tetapi tidak menjadikanku seorang kesatria” ujar Adlet
Adlet melakuakn perawatan pada pedang latihannya sambil menjawab pertanyaan Chisa. Chisa juga telah mempelajari juga bagaimana cra melakukannya, dan dia mulai merawat tombaknya.
“bagaimana cara menjadi seorang kesatria?”
“kamu harus menyelesaikan kurikulum dasar, mendapat nilai yang cukup untuk jalur kesatria, dan mengambil ujian bertarung dan tulis”
__ADS_1
“uuuuuh...Aku tidak pandai dalam ujaim tulis”
Menyadari matahari sudah tinggi, Adlet mengakhiri percakapan. Ia langsung kembali pulang untuk membantu pamannya di pasar dan dilanjutkan dengan ke sekolah.
...
Bebebrapa hari kemudian, Adlet dijemput oleh kereta kuda khusus yang telah disediakan oleh akademi kesatria. Adlet membawa perabotan dan kebutuhannya sehari-hari yang sudah dia siapkan sebelumnya
Masayrakat yang menyaksikan itu tidak percaya akan apa yang mereka lihat. Anak yang selama ini mereka ejek akhirnya diterima lewat jalur beasiswa ke akademi kesatria ternama di kerajaan Senatus. Pamannya tentu sangat terharu sekaligus bangga akan pencapaian yang telah Adlet dapat dari hasil kerja kersanya.
Adlet tidak tahu apakah semua usahanya selama ini cukup atau tidak, nyatanya dia masih belum mengerti tentang ‘kebajikan’ yang dulu dimaksud oleh kapten Julius, walaupun begitu Adlet tetap ingin menjadi seorang Dragion.
Ketika ia berangkat, Adlet mempunyai surat dari Chisa yang tergenggam di tangannya
‘lakukan yang terbaik!’
Kata-kata itu sendiri membuat hatinya terasa ringan...melihat keluar dari jendela kereta kuda, dia melihat langit tinggi yang tetap sama dan pada ssat yang sama dia melihat naga yang didambakannya berlomba melintasinya. Saking senangnya Adlet mengeluarkan tubuhnya dari jendela yang dimana dia terlihat seperti akan melompat keluar, dia terus memandangi naga itu dengan penuh rasa kagum.
...
Telah melihat naga sebelum mencapai Akademi Kesatria Senatus, Adlet sangat bersemangat. Semakin lama kereta kuda dari Adlet bergerak sangat lambat, dan ternyata terjadi antrian panjang masuk akademi yang menimbulkan kemacetan di gerbang. Meski begitu, Adlet menghabiskan waktu tanpa meperdulikannya. Buku mengenai Dragion yang telah sering dibacanya hingga membuat pengikatnya rusak, dan buku pelajaran barunya yang sangat diperlukan di sekolah... dia membaca semua itu untuk menghabiskan waktu.
Terlihat para siswa yang ingin menghindari kemacetan tersebut memutuskan untuk berjalan kaki, dan bebrapa diantanyanya memandang rendah Adlet karena membaca buku yang sudah usang.
Disana, seorang gadis muda meneriakinya.
“Kampungan sekali, membaca buku tua dan lusuh tentang dragion yang sombong itu...manusia benar2 aneh, apalagi orang sepertimu”
Adlet bereaksi berlebihan terhadap teriakan itu. Meletakkan bukunya, dia melompat keluar dari kereta kudanya dan memelototi si gadis. Rambut keemasan dengan mata hijau yang seakan berkilau dan telinga panjang... melihat si gadis yang tidak lain merupakan ras elf, Adlet memberi bantahan atas ucapan gadis itu...
“aku mau kau menarik kembali ucapanmu...”
__ADS_1
Adlet sendiri tidak paham kenapa dia melompat dari kereta kudanya dan mendekati si gadis elf itu. Ketika dia biasanya tidak akan memikirkan pendapat orang-orang disekitar, untuknya untuk bereaksi hingga seperti itu sangatlah diluar dugaan... Adlet yakin jika dia hanya gugup karena telah datang ke tempat baru.
“...aku minta maaf atas kelancanganku dan berkata yang tidak-tidak” Adlet meminta maaf untuk menghindari keributan
“Kau ini benar2 orang yang aneh ya...dilihat dari tampilanmu kau hanya orang biasa tanpa kedukukan kan?”
Ketika Adlet mencoba untuk memperpanjang masalah ini, si gadis elf itu malah memperumitnya.
“kau terlalu santai! Ketika kau tahu kau tidak sejajar dengan para siswa lainnya, dan kau malah enak-enakan membaca buku seperti itu? Bukankahkau harus ada adab yang kau ikuti!?”
si gadis elf menegurnya dengan mata yang sombong, Apa yang dilakukan oleh gadis elf itu adalah perilaku yang tidak baik dan dapat menghasilkan perpecahan. Tidak baik jika ada pertengkaran diantara pelajar hanya karean status sosial, seharusnya mereka saling menghormati keadaan masing-masing. Penjaga di gerbang sekolah berkumpul untuk mengendalikan situasi ini. Ini merupakan hal yang sering terjadi setiap tahunnya, ini merupakan linkaran yang terus berulang...
“aku memahami perbedaan kita. Walaupun begitu aku datang kesini untuk belajar... jika aku telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang menyinggungmu, aku minta maaf”
Adlet tidak dapat memahami kenapa dia berkelahi dengan gadis elf itu. Dia biasanya hanya mengabaikannya...
Ketika hal itu terjadi, seorang pemuda mengitari gerbang, datang dengan jalan kaki seperti siswa terdaftar lainnya yang menghindari kemacetan. Dia menggumakan pakaian mewah seorang bangsawan, walaupun dia menghiasinya sedikit. Ketika dia tiba di pemandangan yang tak dapat terlukiskan dari Adlet dan si gadis elf, dia tertawa.
“oy...oy, apa yang anak tidak berpengalaman sepertimu lakukan, mendekati seorang gadis elf?”
Pada saat itu orang-orang yang melihat kejadian tersebut saat itu, tidak ada yang memahami perkataanya. Pada saat permasalahan ini belum selesai...tentu saja kedatangan orang ini membuat keadaan menjadi aneh.
Rambut perak dengan mata berwarna merah dan hijau yang sangat indah. Seorang lelaki yang sangat cantik hingga terlihat tidak wajar, di pakaian anak laki-laki itu ‘lambang dari Count Arde” tersulam dengan benang emas.
“tidak, kami telah selesai disini” Si gadis elf segera mendapatkan kembali ketenangannya, pergi seperti kabur dari bocah Count Arde dan Adlet.
“haaaah? Kenapa menjadi seperti ini, tadi harusnya kalian melanjutkannya dan setelah terjadi pertarungan, pemengangnya bisa mengangkat derajatnya dimata yang kalah...kenapa tidak sesuai skenario sih?”
Orang-orang disekitar mendapati monolog sang bocah yang aneh dan sangat menyeramkan. ’Sebuah pertarungan? Ya ampun yang benar saja! Lelaki itu dari salah satu keluarga dari tiga raja besar yang ada di Senatus!’ Adlet dan bocah itu dipisahkan secara paksa, dan mereka diminta segera masuk ke dalam akademi.
Itulah pertemuan dari bocah yang menggangap dirinya ‘tokoh utama’, dan ‘penghalang’-nya Adlet
__ADS_1