
Setelah keributan di depan gerbang sekolah, Adlet membawa perlengkapannya ke asrama putra yang akan digunakannya. Barang miliknya yang sedikit dibawa masuk hanya dalam beberapa putaran.
“hmm... kamar yang tidak terlalu buruk, meski begitu aku rasa ruangan ini terlalu besar”
Melepas bajunya, dia berganti ke sesuatu yang lebih mudah untuk bergerak sambil mengecek jadwalnya. Setelah upacara penerimaan besok, sebuah rapat dan pesta penyambutan menunggu. Para siswa akan memilih antara dua, tiga atau lima tahun kurikulum… pastinya akan banyak lagi yang lebih bertalenta dibandingkan dirinya, dan dia bersaing dengan mereka untuk menjadi kesatria.
Saat dia memikirkan hal semacam itu, Adlet mulai menggerakkan tubuhnya diruangan yang telah dia atur. Dengan semua ketegangan dan kecemasan ini, jika dia tidak bergerak, dia akan merasa semakin tegang. Tetapi bahkan jika dia melakukannya, dia tidak bisa tenang. Sejak dia datang ke akademi, dia mengalami kecemasan dan kegelisahan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
“Apa ini? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya…”
Ucapnya sambil dia berpakaian yang cukup agar dia tidak malu walau terlihat berjalan-jalan. Walau dia berjalan mengitari sekolah tepatnya areal di sekitar asrama putra, perasaan aneh bergema di dalam kepalanya…ah apalah! Dia membiarkan kakinya bergerak sesuka mereka.
Dan dalam keadaan gelisah dan gugup tak menentu itu dimana kakinya membawanya… adalah asrama putri.
Adlet cukup bingung akan kenyataan bahwa dia secara tidak sadar berjalan kesini. Beberapa tentara perempuan datang menghampirinya dengan waspada.
“Apa yang kau lakukan disana? Ini adalah asrama putri, dan laki-laki dilarang untuk masuk.”
Itu adalah penjelasan yang sopan, tetapi asrama putri menampung beberapa siswi yang memiliki derajat tinggi. Dan para tentara ini yang akan pertama disingkirkan jika sesuatu terjadi, para lelaki tidak lain hanyalah pembawa masalah. Karena itu, walaupung mereka sopan, terdapat tenaga pada tangan yang mereka gunakan untuk menggenggam gagang pedang dipinggang mereka.
“M-maafkan aku. Aku hanya tersesat… dapatkan anda menunjukkan jalan ke asrama putra?”
“…aku akan membawamu kesana. Tetapi jangan berpikir alasan itu dapat berguna untuk kedua kali.”
Kelompok tentara itu menyuruh satu orang menemaani Adlet dan mengantarkannya ke tempatnya.
“Haduh, akan bermasalah jika kalian bangsawan tidak mengontrol diri kalian! Dengarkan, satu kesalahan, dan itu akan menjadi masalah besar yang akan menimbulkan kekacauan…”
Si tentara perempuan berjalan didepan memarahi dan menjelaskan dengan nada lelah. Masalah sekolah ini yang sering disembunyikan merupakan sumber dari kesulitan yang tak henti bagi para tentara.
Sepertinya kalian melalui sesuatu yang sulit… yang dapat Adlet rasakan. Lagi pula dia tidak memiliki perasaan tidak senonoh, dan itu adalah tempat yang pikirnya tidak akan didatanginya lagi. Adlet kadang meminta maaf pada perkataan si tentara perempuan sambil dia menyusuri jalur ke asrama putra.
“Ah! Bisa kau tunjukkan kartu pelajarmu? Ini adalah peraturan, agar lebih jelas, jadi aku harus memastikan identitasmu…”
__ADS_1
Sekolah menampung begitu banyak siswa, dan membawa kartu pelajar merupakan sebuah kewajiban. Ini untuk mencegah agar tidak ada orang asing yang dapat masuk, tetapi mengatur para siswa adalah tujuan utamanya. Kartu pelajar merekam jumlah penahanan dan berbagai macam masalah yang disebabkan oleh seorang siswa.
“Ini dia.”
Adlet selalu mencoba yangterbaik dalam menaati peraturan, dia terus membawa kartu pelajarnya seperti yang ditetapkan peraturan sekolah yang telah dipastikannya sebelumnya. Ketika dia menyerahkan kartu pelajarnya…
“Adlet draig benar? Apa yang membawa mu sampai ke asrama perempuan? Apa kau berencana melakukan sesuatu?”
“T-tidak, saya benar-benar hanya tersesat!”
“Baiklah kalau begitu, kali ini ku maaf kan, pastikan kau tidak mendekati area itu lagi, karena itu melanggar peraturan”
Adlet cukup kasihan melihat tentara perempuan terlihat letih itu. Dan pada saat yang sama, dia paham bagaimana Akademi ini melindungi para siswa dan siswinya… Apakah aku terlihat sangat semencurigakan itu? Itu yang ada di pikirannnya, dia menjadi sangat depresi.
...
Entah bagaimana dia dapat menyelesaikan kesalahpahaman tadi, Adlet kembali ke kamarnya dan istirahat. Mungkin berinteraksi dengan lebih banyak orang baru daripada sebelumnya membuatnya lelah, dan walaupun masih terlalu dini, dia memutuskan untuk tidur.
Ketika pagi tiba, dia membuka kedua matanya saat fajar yang telah menjadi rutinitasnya. Setelah mendapatkan seragam yang dia lupa ambil dihari sebelumnya, dia menyadari dia masih punya waktu, jadi dia memutuskan untuk pergi ke halaman asrama anak laki-laki.
“Semuanya rupanya bekerja keras. Jika aku tidak melakukan yang terbaik, mereka akan melampauiku dalam waktu singkat.” Kata Adlet pada dirinya sendiri.
Adlet akhirnya menemukan ruang terbuka di halaman dan mulai mengayunkan pedangnya. Dia melihat sejumlah seniornya dan coba menemuinya untuk mengajaknya untuk latih tanding sekaligus melepas keringat.
Setelah beberapa waktu telah berlalu, suara lonceng berdentang enam kali… mendengar itu, para siswa mulai beres-beres dan berjalan ke arah kantin. Adlet ragu akankah dia ikut atau tidak dengan seniornya yang mengajaknya ke kantin lebih awal.
“Kau siswa baru, kan? Lebih baik kau ikut, kau bisa santai dulu sekarang… tempatnya masih sepi jam segini.”
“kantin cukup populer loh.. jadi sebaiknya bergegaslah.”
“Kantin akan ramai jika lonceng berdentang tujuh kali.”
Dengan begitu dia mengikuti kakak kelasnya, dan memasuki kantin sekolah. Di dalamnya, banyak anak laki-laki dengan piring mereka menumpuk tinggi dengan makanan...melihat itu membuat perut Adlet sakit karena mengingat kebiasaaanya yang sekarang untuk makan makanan dengan teratur dan sehat.
__ADS_1
“Lihat, bukankah sekarang sepi? Aku Terra, kelas tiga.”
“Aku Adlet. Adlet Draig.”
“Disini banyak bangsawannya, Aku dari desa, jadi aku tidak terlalu mengerti bagaimana harus berinteraksi dengan mereka. Jadi aku sangat senang jika bertemu orang yang sama-sama hanya orang biasa, salam kenal ya.”
Kak Terra, dengan rambut merah panjangnya yang diikat ke belakang. Kulit kecoklatan dan tubuhnya yang kuat sedikit terasa menakutkan, tetapi setelah berbincang dengannya, dia merupakan pria yang ramah.
‘Iya!”
Untuk Adlet, ini adalah saat dimana dia mendapat teman yang dapat berbincang dengannya selain Chisa.
...
Kembali ke kamarnya dari kantin, Adlet berganti ke seragamnya, memasuki bangunan besar atas perintah sekolah. Dibandingkan sebuah auditorium, ini lebih seperti… sebuah tempat yang mirip arena. Walau pertarungan memang dilangsungkan di tempat ini, penjelasannya tidaklah salah, lalu…
“Saya bersuka cita akan banyaknya pemuda-pemudi yang kami sambut melalui pintu kami tahun ini…”
Setelah menerima pidato panjang dari kepala sekolah, para siswa terbagi dalam beberapa kelas dan memasuki kelas mereka masing-masing. Pada umumnya, sekolah hanya memberikan pelajaran dasar pada dua tahun pertama, dan pembagian kelas hanya untuk memisahkan bangsawan yang saling berseteru, atau mengumpulkan mereka yang memiliki status rendah dalam satu tempat… itu merupakan hal semena-mena.
Tapi Adlet merupakan anak biasa, jadi mungkin tidak ada pengaruh terhadap keadaan anak bangsawan lainnya yang akan ditimbulkannya jika masuk kelas manapun. dia dikirim ke kelas yang terdiri dari para bangsawan muda, jadi sekolah dipenuhi dengan suasana tegang.
“Aku harap kita dapat akur satu sama lain untuk dua tahun kedepan.”
Wali kelas memberikan salam singkat, dan perkenalan di kelas. Saat ingin memperkenalkan diri Adlet sedikit gugup namun dia berhasil menyelesaikan perkenalannya tanpa masalah....
Akan tetapi!
“Ryoko Shiranami”
Dengan perkenalan seorang gadis, udara kelas mulai terasa berat. Rambut dan mata hitam adalah pemandangan langka di Senatus; Sebuah kelas yang berpusat di sekitar bangsawan. Untuk seorang gadis oriental berada di kelas itu, itu mungkin berada di bawah kepura-puraan pertukaran budaya ciri-ciri oriental itu menjadi target sempurna bagi anak-anak. Ejekan bermunculan, dan pernyataan untuk menjahili gadis itu terdengar.
Para laki-laki dibelakanya menarik rambut panjangnya, yang dikuncir kuda sambil mengoloknya… Ketika si gadis sedang dijahili, Adlet teringat oleh sosok Chisa jika melihatnya walaupun rambutnya tidak seperti Chisa yang lurus dan terlihat halus untuk disentuh. Bagi Adlet suasana ini terlihat salah lalu....
__ADS_1
“Apakah kalian tidak bisa berhenti? Tahukah betapa memalukan kalian terlihat?” Adlet meneriaki anak-anak yang menjahili Ryoko.
Cukup sepatah kata dari mulut Adlet untuk membuat kelas kembali sunyi. Si guru mendukungnya dan mengingatkan para siswa yang menjahilinya. Untuk anak-anak ini yang tumbuh sebagai bangsawan, mereka terbiasa untuk mengejek orang yang lebih rendah derajatnya dari mereka atau yang terlihat aneh oleh mereka. Pada akhirnya, guru memuji Adlet, dan mereka yang disekitarnya ikut setuju...