Dragon Dream

Dragon Dream
Rasa malu dan kebanggan


__ADS_3

Monster dalam bentuk babi hutan dengan matanya berwarna merah menyala yang terlihat tidak menyenangkan saat terlihat bersiap untuk menyerang. Dengan kondisi teman-teman sekelasnya yang bahkan tidak bisa bergerak ke belakang, Adlet menyalurkan Mana melewati tuuhnya, lalu dialirkan lagi ke pedangnya sehinggah dialiri oleh Mana. Ryoko yang merespon dengan cepat hal itu mencoba mengayunkan katana-nya ke babi hutan tersebut, tapi...


“tch! Itu terlalu sulit untuk dipotong!”


Pedang katana-nya terpental karena tidak mampu menahan benturan. Babi itu menggunakan kaki belakangnya untuk menggaruk tanah beberapa kali sebagai aba-aba untuk siap menyerang. Adlet maju untuk menyerangnya tapi... tubuh Adlet di terbangkan oleh serangan babi hutan itu hingga tubuhnya menabrak pohon, Adlet bisa merasakan sakit menyebar di sekujur tubuhnya.


“kuh!”


Pada serangan berikutnya dari babi hutan itu, Adlet menghindarinya dan menembakan sihir kepadanya. Tembakan sihir dasar berupa bola api itu mengenai kepala babi hutan tersebut, tetapi tidak terlihat cedera padanya.


“sial!”


Mendapatkan kembali posisinya, Adlet menghadapi babi hutan itu. Sejumlah siswa yang memberi respon terlambat akan hal ini, menyerang dengan sihir, dan senjata di tangan mereka.


Angka adalah kekuatan... tetapi monster itu tidak cukup lemah untuk ditekan oleh kelas yang kelelahan dan Adlet yang terluka.


Adlet belum menyerah. Dragion adalah yang terkuat di Senatus. Itu berarti jika dia kalah, dia tidak akan punya masa depan sebagai Dragion. Hilangnya Dragion adalah kekelahan negara... itu adalah informasi dari beberapa buku yang telah dibacanya dan hidup dalam kepalanya.


Babi hutan itu kembali akan menyerang rudel dengan taring yang menonjol dari rahang bawahnya...


Memeras kekuatan ditubuhnya, Adlet mengayunkan pedangnya. Akibatnya... taring dari babi hutan itu patah, walaupun begitu Adlet kalah dalam pertempuran kekuatan dan kembali di terbangkan pada saat yang sama sekali lagi. Meskipun taringnya patah, babi hutan itu tetap datang ke arah Adlet. Ketika itu dia sudah sulit untuk berdiri untuk menghindari serangan dari binatang itu


“cukup sampai disana.”


Bersamaan dengan suara itu, para penjaga di belakang menyerang babi itu sekaligus. Sihir mereka membakar babi hutan, pedang dan tombak mereka memotong dan menusuknya...Adlet dan teman-teman sekelasnya ditunjukkan seberapa berbedanya kekuatan mereka.


Semua diselesaikan dengan cepat. Musuh yang bahkan tidak dapat mereka lawan... sebelum penjaga mengalahkan itu dalam sekejap, hari Adlet dipenuhi dengan penghinaan. Rasa malu karena permaianan pedang dan sihir yang dipolesnya tidak membuahkan hasil sama sekali, malu pada kenyataan bahwa dia akan mati jika dia tidak siselamatkan.


Itu semua mengisi Adlet dan menjadi keksalan yang tak tertahankan.


...


“Ayo kita mundur” kata Ryoko yang menyruh Adlet untuk menarik dirinya.


“Mundur? Jangan bodoh! Setelah sampai sejauh ini, kita tidak bisa mundur begitu saja!” Adlet tidak dapat melihat sekelilingnya karena rasa malu dan jengkelnya, membuat Adlet menentang.


“Adlet...”


Merasakan perasaan Adlet, Ryoko tidak bisa berkata apa-apa lagi.


“hanya sedikit lagi... kita masih bisa maju...”

__ADS_1


Benar, itu tidak akan lama hingga ke titik tujuan... hanya setengah lagi. Teman-teman sekelas yang kelelahan dan Adlet yang terluka benar-benar tidak punya pilihan lain selain mundur.


(Realitan adalah sesuatu yang keras. Jika monster itu tidak muncul, mungkin dia sudah berhasil mencapai tujuan... yah, wajar saja seorang anak kecil tidak bisa berbuat banyak dalam situasi seperti ini.)


Melihat Adlet, Helena berpikiran seperti itu.


Dari sudut pandang seorang pengawas, Helena telah menentukan jika lanjut adalah sesuatu yang mustahil, dan telah mengirim beberapa orang ke depan untuk memberi tahu para guru. Melihat Adlet yang sudah menyerah mengatakan pada dirinya harus menjaga anak-anak lebih lama lagi akan merepotkan.


Melihat tekad dan semagat dari anak-anak muda adalah yang diinginkan Helena. Tapi...


“ki-kita bisa pergi sedikit lebih jauh, kan?”


“i-itu benar, kita bisa melakukannya!”


“itu hanya sedikit lagi, jadi tetaplah kuat”


Melihat Adlet dan Ryoko, teman-teman sekelas mengatakannya atas kemauan mereka sendiri. Apakah itu untuk melindungi diri mereka sendiri, atau mereka memikirkan Adlet? Tidak ada yang bisa berkata apapun.


Tetapi teman-teman sekelas itu akhirnya menatap mata Adlet di sanalah ia akhirnya mengerti bahwa mereka tidak dalam keadaan untuk melanjutkan. Tidak ada yang membantu orang yang cedera, senjata mereka compang-camping, dan bdia bisa melihat wajah yang compang-camping. Melanjutkan lebih jauh akan berbahaya...


Adlet mengepalkan tangannya, dan setelah beberapa saat, dia melepaskannya dan menyatakan...


“kelas kita...akan mundur.”


...


Di tempat terpisah, Helena memberi kesan pada Adlet. Melihat anak-anak seperti mereka bertahan adalah kejutan, tetapi fakta bahwa Adlet memutuskan untuk mundur setelah melihat mereka juga patut dipuji.


Helena dengan cerdik mengambil taring babi hutan yang telah dipatahkan oleh Adlet di tangannya.


Untuk beberapa alasan, tubuh si babi hutan itu menjadi kabut hitam dan menghilang. Taring ini sendiri yang menjadi satu-satunya bukti keberadaan babi abnormal itu... tapi taring ini sangat indah bagi Helena. Hampir seperti bahan kelas satu. Dia akhirnya menyimpannya di tasnya sendiri.


Dengan peraturan sekolah, dia tidak seharusnya menyelamatkan mereka kecuali mereka benar-benar dalam keadaan terdesak. Para penjaga tidak akan mengangkat kanan kecuali para siswa menunjukan keadaan untuk dibantu.


...


“aku bisa berjalan sendiri...”


Setelah mendapat pukulan keras ke tubuh, Adlet meminjam bahu dari Ryoko dan Helena saat dia berjalan. Pada awalnya, dia memaksakan dirinya untuk bergerak dengan kakinya sendiri, tetapi tubuhnya langsung berteriak. Kelelahan tubuhnya karena menggunakan Mana, dan memar yang besar di tubuhnya.


“jika kamu berjalan dan jatuh di belakang yang lain, apa yang akan kamu lakukan?... Kita akan segera sampai disana, jadi bertahanlah” kata izumi menceramahi Adlet.

__ADS_1


“mungkin keinginan mu memang kuat, tapi... tubuhmu lah yang menangis” kata Helena


Ryoko benar-benar khawatir, melihat kondisi Adlet yang seperti ini. Akhirnya mereka tiba di pintu keluar hutan.


Dan samping nasib buruk yang mereka alami, kelas Astra baru saja mencapai tujuan dengan kekuatan mereka sendiri. Melihat kelas Adlet yang compang-camping, kelas Astra mengambil sikap sombong. Fakta bahea mereka mencapai tujuan telah meningkatkan ego mereka sedikit.


“kalian mengundurkan diri? Apa yang kalian lakukan di hutan ini, piknik?”


“sungguh memalukan... “


“Astra, kamu katakan sesuatu juga dong”


Seseorang di kelas memanggil Astra. Untuk Astra, ini adalah keadaan dimana Adlet telah ditinggalkan kelasnya sendiri. Dia adalah seorang yang telah kalah yang akan berkata, ‘aku tahu sejak awal kami tidak pernah mencapai tujuan’. Dia menginginkan adegan seperti itu terjadi. Dan Adlet dengan bunga di kedua legannya juga terlihat. Dalam pikiran Astra, si bodoh Adlet itu akhirnya mundur, meminjam pundak pengawas cantik dan kecantikan nomor satu di kelas, ‘Ryoko Shiranami’.


Dalam acara ini, protagonis akan tetap tidak terlibat. Tetapi karena keinginan Astra telah keluar. Dia ingin memberi Ryoko dan pengawas cantik itu kesan yang baik...


“ketika kau mundur, kau punya bunga di setiap lenganmu... apakah kau meremehkan semua itu? Mengapa kau tidak memikirkan masalah yang kau timbulkan disekitarmu.”


Pada kata-kata itu ejekan dari kelas Astra mulai sampai ke Adlet. Ketika mereka mempertaruhkan hidup mereka menghadapi monster berbahaya di sepanjang jalan... apakah memang ada kebutuhan untuk mengejek mereka begitu?... Adlet melepaskan pundak Ryoko dan Helena, dan berjalan kehadapan Astra.


“memang benar kami mundur, tetapi kami bertemu monster berbahaya. Dan aku mengerti bahwa aku telah meresahkan banyak orang.”


Adlet tahu dia telah menyusahkan kelasnya, dan diatas itu, dia berniat mendesak mereka melanjutkan tapi tidak dia lakukan.


“hmm, monster apa itu?”


Adlet menjelaskan kepada Astra. Itu adalah monster babi ganas, dengan tubuh hitam, corak putih, dan mata merah... begitu dia selesai menjelaskan karakteristiknya, Astra tertawa terbahak-bahak.


“tidak mungkin monster sperti itu muncul di hutan ini, bodoh. Dengar... di sini jika monster berbahaya seperti itu ada di sini, acara ini tidak akan pernah diadakan. Kamu hanya mempermalukan diri sendiri ketika kamu membuat alasan seperti itu tanpa memahami fakta dasar itu.”


Begitu dia menyelesaikan kata-katanya, Astra mengirim pandangan ke Ryoko dan Helena sebelum memimpin teman-teman sekelasnya. Dari Kedua wajah mereka, mereka sepertinya berkata, apa yang dia lakukan?


“a-aku minta maaf, Adlet.”


“kami akan berusaha lebih keras lain kali.”


“untuk berpikir mereka tidak akan percaya... haruskan aku menjelaskan kepada para guru?”


Karena Adlet masih berdiri, teman-teman sekelasnya mengirimkan beberapa kata untuk menghibur. Tapi Adlet tampak terkejut pada kenyataan bahwa kelas Astra hampir tidak mengalami cedera sama sekali. Ketika kelompoknya sendiri terluka hanya dengan berjalan melalui hutan... Adlet hanya bisa merasa malu pada dirinya sendiri.


Dia pasti bisa mempersiapkan diri lebih baik. jika dia mungumpulkan informasi dan peralatan dari saat dia menjadi ketua kelas... Adlet menoleh ke teman-teman sekelasnya. Dia memeriksa semuanya.

__ADS_1


“teman-teman, kali ini adalah kesalahanku. Aku minta maaf... tetapi jika kalian masih mengizinkanku mengambil alih komandi berikutnya, aku pasti akan membawa kelas kita ke tujuan. Tidak...kita akan menjadi yang pertama! Lain kali, kita akan menargetkan nomor satu! Jadi bisakah kalian memberikan kesempatan berikutnya kepadaku... aku tahu aku terlalu meminta banyak disini, tapi...kumohon!”


Ketika Adlet menundukan kepalanya. Orang-orang di sekitarnya bingung. Padahal mereka yakin dia akan meyalahkan mereka..., dari kelas tersebut kemudian menaikkan suara persetujuan atas kemauan Adlet tadi.


__ADS_2