Dragon Dream

Dragon Dream
Kehangatan disekitarnya


__ADS_3

Libur panjang di tahun pertama sekolah. Bersamaan dengan itu, Adlet pulang ke rumahnya. Walaupun jika dia hanya pergi selama tiga bulan, semuanya merupakan pengalaman baru untuknya, dan merasa sedikit pertumbuhan pada dirinya.


Tapi tidak ada perubahan pada perlakuannya di sekitar lingkungannya. Jika mereka menyadari aku bukanlah hanya bermimoi dan mengada-ada, akankah perlakuan orang-orang disekelilingku berubah? Itulah harapan kecil Adlet. Setelah mengalami berbagai macam pertemuan di sekolah, hidupnya tidaklah begitu menyakitkan.


Lebih dari itu… ketika pamannya melihat kartu laporan hasil pedidikannya, dia merasa bangga dan senang pada Adlet yang mendapatkan pencapaian seperti ini. Paman Adlet juga pernah bercita-cita menjadi seorang kesatria, mengetahui Adlet mendapatkan hasil seperti ini dia sangat senang dan bangga.


“kau hebat sekali adlet, dengan nilai2 ini kau pasti akan mudah menggapai apapun keinginanmu....hahahahah.”


...


“Adlet? Ketika kau akhirnya pulang, kau terlihat murung.”


Chisa mulai khawatir sambil dia memakan sarapannya bersama Adlet, dan bertanya. Adlet yang selalu mmemakan sarapan dengan rasa yang buruj tanpa maninggalkan apapun sama sekali belum menyentuh makanannya.


“hmm...ya, hei, menurutmu kenapa aku di benci oleh orang-orang sekitar hanya karena cita-cita ku ini?”


“?? Apa yang kau bicarakan Adlet? Aku cukup menyukaimu.”


Melihat senyum polos Chisa sambil mengatakan itu Perasaan Adlet mulai tenang.


“begitu ya... nemar juga. Terma kasih, Chisa”


Adlet pikir. Terdapat waktunya ketika dia menghiraukan sikap sekelilingnya itu. Tapi sekarang dia telah mulai merasakan kegelisahan terhadap kebencian disekitarnya… itu mungkin dikarenakan dirinya yang lemah, dia meyakinkan dirinya.


Dan pada saat yang sama, Adlet paham dia perlu menjaga orang-orang yang memegang perasaan positif padanya. Sejak saat ini, dia yakin untuk menghadapi pertemuan penting lainnya.


“Dan juga! Kau tidak akan menjadi Dragion jika seperti itu. Kau adalah seseorang yang tidak pernah putus semangat.”


Pada kata-kata itu, Adlet tersenyum.


“Kau benar! Itu benar sekali. Tidak seperti diriku untuk depresi terus.mau melakukan beberapa latihan?”

__ADS_1


“Iya! Aku akan menunjukkanmu seberapa kuat aku dalam tiga bulan ini.”


...


Seperti itu, liburan pun usai, dan Adlet kembali ke Akademi. Dia tiba di sekolah beberapa hari lebih awal, dan ketika dia melihat sekitar, kenalan yang dapat ditemuinya hanyalah Ryoko. Menyiapkan beberapa kue dari daerahnya sebagai oleh-oleh, Adlet mengajak Ryoko untuk mekanannya di kantin. Dia membawa beberapa kue standar. Melihatnya, Ryoko menerimanya dengan segan.


“aku minta maaf. Aku tidak dapat membawakan buah tangan apapun.”


Pada perkataan itu, Adlet bertanya tanpa basa basi.


“kau tidak pulang ke rumah? Kenapa?”


Sambil sedikit ragu-ragu, Ryoko telah memahami kepribadian Adlet selama tiga bulan terakhir. Adlet jarang bertingkah sambil membaca suasana. Dia tidak akan ambil pusing untuk mengingat hal-hal yang tidak menarik baginya. Pada sisi lain, dia akan mencoba sekuat tenaga untuk mempelajari semua yang dapat dipelajari jika dia tertarik…


Menyerah, Ryoko pun menjelaskan.


“Rumahku sangatlah jauh, dan keluargaku tidaklah berkecukupan. Dan aku seorang wanita, kan? Namun sekarang aku memasuki akademi kesatria di negeri seberang. Aku memiliki beberapa kerabat yang tidak terlalu memikirkannya dan mengizinkanku tinggal di tempat mereka. Ini mungkin sulit untuk dipahami dengan perbedaan budaya kita.”


Apalagi, dia tertarik akan permainan pedang Ryoko. Awalnya dia melihat Ryoko menarik ‘katana’ yang tipis dan melengkung untuk memotong, dia merasa kagum.


Tetapi walaupun begitu, Adlet tidak akan menyangkal budayanya.


“Terdapat banyak hal yang tidak aku ketahui mengenai budaya, jadi aku tidak dapat mengatakan apapun. Tapi aku tidak berpikir kau harus merendahkan dirimu hanya karena kau seorang wanita. Kau kuat, dan cantik.”


“Tunggu, apa!? A-Adlet? A-apa yang kau katakan!?”


Wajah Ryoko memerah. Tetapi pada saat yang sama, dia mengingat kepribadian Adlet. Dari sudut pandangnya, Adlet dapat dikatakan aneh. Pada suatu saat dia akan melakukan hal yang berlebihan, dan karena itulah, dia sering menarik perhatian sekitarnya. Namun dia seorang pekerja keras, dan bersungguh-sungguh… Adlet pada dasarnya tidak dapat memuji.


Cukup sering dia bingung terhadap perkataannya yang datang tanpa pikir panjang, tetapi mendengar Adlet mengatakan dirinya cantik adalah hal yang membuatnya senang.


“Ada apa? Apa aku mengatakah hal buruk lagi? Kalau begitu akau akan meminta maaf…”

__ADS_1


“Hah, bukan begitu. Aku hanya tidak berpikir ada orang yang melihatku secara langsung dan mengatakan bahwa aku itu cantik sebelumnya… ngomong-ngomong, apa kamu menikmati perjalananmu pulang?”


Ryoko mencoba untuk mengganti topik pembicaraan. Tetapi...


“Oh? Apakah rumahku lebih menarik? Padahal aku lebih tertarik mempelajari yang kau katakan sebelumnya tadi.”


Tidak dapat menghindarinya, Adlet dengan hati-hati menjelaskan padanya dengan wajah yang memerah. Untuk memberitahunya secara tidak langsung, atau dia nantinya akan salah paham jika Adlet mengatakannya secara langsung padanya dengan serius tentang wajahnya… setelah hal itu berlalu dua hari sebelum sekolah dimulai pun berlanjut, beberapa siswa yang tersisa memperhatikan Adlet dan Ryoko dengan tatapan hangat.


...


Pada semester kedua, dan dimana bersamaan dengan sebagian besar kegiatan sekolah. Siswa kelas satu dan dua hanya diajarkan kurikulum dasar, jadi mereka melaksanakannya bersamaan dengan kegiatan belajar sehari-hari. Tetapi akademi pada umumnya merupakan tempat untuk meluluskan kesatria dan ahli sihir, kekuatan perang dan pejabat… acara ini dimaksudkan dengan tujuan tersebut.


“Bulan depan, kita akan berlatih teknik untuk berburu monster. kegiatan gabungan ini antara kelas satu dan dua, dan kalian tidak akan mendapat nilai jika kalian bolos.”


Seperti yang telah dijelaskan oleh wali kelas. Ini adalah latihan yang menggunakan hutan yang cukup dekat dengan sekolah. Tentu saja, walau dikatakan dekat, jaraknya tetap beberapa kilometer jauhnya… monster yang diburu pastinya yang siapapun dapat kalahkan.


Ini adalah latihan bertarung untuk melatih kerjasama ke dalam tubuh mereka. Tentu saja, seorang pemburu handal akan ikut. Dengan perseteruan antar kelas, ini akan menjadi sebuah kompetisi. Peringkat pertama diantara kelas dua akan mendapatkan hadiah yang disebut kehormatan… yah, sebernarnya mereka tidak mendapatkan apapun.


“Pertempuran, ya… ini pertama kalinya untukku.”


Adlet begitu semangat mendengar latihan yang orang lain enggan untuk berpartisipasi. Dia akan menantang monster yang orang lain dapat kalahkan, namun monster yang umumnya berkelompok. Sementara ini dapat memastikan keamanan sekolah, ini juga bertujuan untuk mengurangi populasi monster, membuat latihan ini sangat bermanfaat.


“Kalau begitu mari kita mulai kelas. Buka halaman…”


...


Sebuah kejanggalan sedang berlangsung di dalam hutan dekat sekolah. Pohon-pohon tumbang, dan mayat dari monster lemat berserakan di segala tempat. Bersamaan dengan geraman lemah, sebuah sosok besar yang diselimuti dengan bulu bergerak.


“Grrrrrooooo!!!”


Seekor babi hutan yang kuat, dengan kedua matanya merah menyala sambil menerkan monster-monster. Sementara itu terdapat situasi yang tidak normal, si monster yang tidak cocok dengan sekitarnya menghilang ke dalam hutan.

__ADS_1


Kulit berbulu hitam, dengan garis putih menghiasi seluruh tubuhnya, sebuah monster yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Namun apa arti dari kehadiran ‘monster yang asing’ ini…


__ADS_2