
Pada pagi hari yang lain, Adlet kembali berlari. Telah beranjak tiga belas tahun, Adlet telah memahami untuk mengontrol Mana melalui tubuhnya untuk berlari dengan kecepatan luar biasa. Jika di berlari di jalan-jalan ibu kota seperti itu, paman dan masyarakat sekitar akan terganggu dan komplain, maka dari itu sekarang dia meninggalkan daerah tersebut, dan mulai berlari dan berlatih di sepanjang dindin luar kota. Dia akan berlari secara tegak lurus menyusuri diniding tersebut.
Dia akan berlari hingga matahari terlihat melewati dinding, sebelum kembali dia akan memakan terlebih dahulu bekal yang dia bawa dan kembali kerumah untuk membantu pamannya berdagang dan dilanjutkan dengan bersekolah... keseharian Adlet tidak berubah dalam empat tahun ini.
Walaupun empat tahunberlalu, perlakuan pada Adlet belum berubah. Masih banyak orang yang meremehkan dan megejek impian yang mengada-ada itu. Walaupun begitu, Adlet tidaklah sedih. Untuk Adlet, yang hanya mengimpikan untuk menjadi seorang Dragion secepat mungkin, dia tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkan mengenai hal lainnya.
Akhir-akhir ini, ia kurang puas akan jawaban yang ia terima dari gurunya di sekolah karena tidak mendapatkan jawaban yang jelas akan pertanyaan yang dia ajukan, jadi Adlet mulai beranjak ke belajar otodidak, di waktu istirahat sekolah dia selalu menyempatkan pergi ke perpustakaaan untuk membaca beberapa buku untuk mencari jawaban yang diinginkannya.
Selama kesehariannya berlatih disekitar tembok luar kota, adlet sering bertemu juga dengan beberapa prajurit kerajaan, tak lupa Adlet juga meminta untuk diajarkan menggunakan pedang pada beberapa prajurit kerajaan tersebut. Walaupun hanya sekedar prajurit biasa keahlian berpedang mereka sangatlah terampil, mereka juga tak menahan diri untuk menyerang Adlet dalam latih tandingya. Meskipun Adlet juga sering diejek pula oleh prajurit-prajurit tersebut, dia tidak mempedulikannya dan tetap mengajak mereka untuk latihan. Adlet dapat mengalami secara langsung pengalaman berpedang yang mendekati pertarungan sebenarnya, in i merupakan pelajaran yang berharga yang ia terima... maka dari itu Adlet sangat menghaormati para prajurit itu.
Suatu hari Adlet menyadari bahwa selama ini di selalu diperhatikan. Dia selalu diperhatikan oleh gadis kecil berambut hitam, di Senatus dimana rambut pirang sangatlah lazim tetapi gadis ini meninjolkan rambut dan mata berwarna hitam yang langka. Gadis ini sering memperhatikannya dari kejauhan.
Adlet selalu memulai latihannya cukup pagi, pertama kali gadis ini melihatnya dia pikir Adlet merupakan orang yang mencurigakan. Dan sejak hari itu, dia akan bangun pada saat itu untuk mengamati sosok mencurigakan itu.
Bagun pagi-pagi sekali, pergi keluar, dan kembali setiap hari pada saat yang sama. Itulah yang dilakukan Adlet setiap harinya menurut apa yang si gadis kecil itu lihat.
Pada saat itu, kesannya terhadap Adlet adalah,
“keren...”
Gadis kecil ini mencoba mendekati Adlet dan sepertinya memiliki ketertarikan terhadapnya. Dia setiap hari selalu memperhatikannya dari kejauhan, itu berlanjut mengingat walaupun Adlet sering diejek dan dihina oleh orang-orang di sekitarnya
...
“...Apa yang sedang kau lakukan disana?” tanya Adlet ke gadis kecil itu
Sontak si gadis kecil itu kaget
__ADS_1
“-eh..hah!?”
Suatu hari, setelah selesai melakukan latihannya, Adlet memutuskan untuk berbalik dan menghampiri gadis kecil itu sebelum pulang. Adlet telah sejak lama menyadari keberadaan gadis itu dan sengaja tidak mau menyapanya. Tetapi saat itu terus terjadi hari ke hari, dia mulai risih dan mulai kehabisan kesabaran...
Ketika dia berbalik dan menghampirinya, dia melihat seorang gadis yang selalu memperhatikannya tanpa pernah mengenalinya sebelumnya....itulah kesan Adlet.
“H-hai...namaku Chisa Dregana!”
Sementara gadis itu memberikan sebuah ucapan seperti sebuah salam dan perkenalan, dia menatap dengan rasa ingin tahu kepada Adlet, Adlet merasa terganggu dengan keadaan canggung ini, tapi dia mulai sedikit tertarik dan mencoba untuk membalas itu dengan apa adanya...
“...hai, aku Adlet Draig”
Sejak hari itu, Chisa dengan berani mendekati Adlet. Adlet pun juga tertarik untuk berinteraksi dengan gadis ini, dia merasa tidak masalah untuk itu walaupun terkadang agak risih jika selalu diperhatikan.
“Bwee, ini rasanya pahit...”
“Itu penuh akan nutrisi, jadi kamu harus makan dengan benar... kunyah dengan benar... tidak, jangan hanya menelannya, kamu harus mengunyahnya!”
Terhadap pahit yang membuka lubang di perutnya, Chisa menelannya sebelum dia merasakan rasanya. Itu merupakan hal yang mengejutkan untuk Adlet...
Sepertinya Adlet dan Chisa sama-sama tidak menyukai makanan seperti ini walaupun dengan embel-embel sehat.
Dan dia juga mengajarkan Chisa tentang Dragion dan berbagai hal menarik yang telah dia pelajari di sekolah ataupun secara otodidak
“waaah...hebat sekali mereka menjadikan makhluk sehebat itu untuk tunggangannya” Chisa terkagum akan cerita Dragion dari Adlet
“lebih tepatnya mereka saling menerima satu sama lain...jadi tidak ada pihak yang dirugikan” lanjut penjelasan dari Adlet tentang Dragion
__ADS_1
Mungkin Adlet menganggapnya sebagai gangguan pada awalnya. Tapi dia belajar betapa besarnya keberadaanya ketika Chisa tidak ada seperti biasanya karena sakit. Ketika orang yang selalu mengikutinya tidak ada, dia tidak bisa tidak khawatir.
Dan melihat Chisa kembali mengikutinya keesokan harinya, dia merasa tenang. Menyadari itu Adlet...
“apa kamu merasa kesepian?” tanya Adlet
“kenapa” Chisa bingung akan pertanyaan Adlet
“...tidak apa-apa. Sekarang jangan manja, kamu harus mengunyah makananmu dengan benar...seperti kataku, jangan hanya menelannya saja!”
Pada kenyataannya dia dapat bercakap-cakap dan bersenda gurau saat menikmati makanan mereka, Adlet sangat bersyukur dan berterima kasih.
...
Dan pada hari lainnya, Adlet melihat Chisa dan orang tuanya yang juga ternyata berjualan di pasar ibu kota. Mereka berdua saling menyapa, melihat keadaan seperti itu pamannya Adlet merasa senang dan lega ketika tahu bahwa keponakannya memiliki teman lain, mengingat banyak yang tidak suka pada Adlet.
Walaupun demikian hal ini berimbas pula pada Chisa, dia dikucilkan oleh anak sebayanya karena berteman dengan Adlet. Meskipun begitu orang tua dari Chisa tidak pernah melarangnya untuk bergaul dengan Adlet, karena mereka tahu Adlet memiliki tekad dan semangat untuk mencapai mimpinya, itu bukanlah hal buruk dimata mereka malahan itu juga merupakan contoh yang baik.
Tidak hanya dikucilkan, terkadang Chisa juga mendapat perundungan dari anak-anak sebayanya. Menyadari itu Adlet tahu bahwa ini disebabkan oleh dirinya jadi sudah menjadi tanggung jawabnya pula untuk melindungi Chisa. Adlet sering kali merasa bersalah akan hal ini, bahkan dia meminta Chisa jangan mengikutinya lagi, tapi Chisa tidak pernag mengiyakan perkataan Adlet. Chisa selalu menolak jika diminta menjauhinya
“hei Chisa, mungkin lebih baik kau tidak perlu mengikutiku lagi...ini demi keselamatanmu juga”
“kenapa aku harus menjauhimu?...lagi pula kau selalu ada saati anak-anak lain mau menjahiliku dan aku mengikuti mu karena kemauanku sendiri jd aku tahu resikonya”
“heh...terserah kau saja lah”
Sedikit cemas Adlet juga bersyukur mendengar jawaban dari Chisa. Mereka menjadi duo yang sangat kompak satu sama lain dan saling menerima keadaan.
__ADS_1