
"Assalamualaikum."Ucap keempat sahabat itu serempak ketika tiba di kediaman Tiwi.Ya, sesuai rencana awal mereka tadi paga setelah jam kuliah selesai mereka akan ke apartment Tiwi untuk mendengarkan cerita Arinda.
Kini keempat sahabat itu masuk ke apartment Tiwi.Tiwi dan Arinda langsung ke dapur meletakan belanjaan yang mereka beli tadi.Sebenarnya itu belanjaan Tiwi untuk stoknya beberapa hari kedepan.Sedangkan untuk camilan mereka tinggalkan di meja depan.
Selesai membuat minum Tiwi dan Arinda kembali ke depan nenemui dua sahabat lainnya yang sudah asyik nyemil.
"Nah lo udah pada makan aja kalian gak sopan banget jadi tamu."Celetuk Arinda.Reni dan Anya menyengir kuda tanpa merasa malu.Sedangkan Tiwi hanya tersenyum.
"Udah ya gak papa kok...sekarang saatnya lo cerita Rin."Seru Tiwi yang kini juga sudah duduk danyemil bersama yang lain.
"Iya Rin ayo buruan gue udah gak sabar, iya nggak Nya...?"Timpal Reni dan di angguki oleh Anya.
"Ya udah iya iya gue cerita.Jadi gini..."Arinda menarik nafas sebelum memulai ceritanya.
//flashback on//
Tok tok tok
"Arinda sayang apa bunda boleh masuk...?"Tanya Rahma Ibunda Arinda.
"Masuk aja Bun nggak dikunci kok."Arinda yang asyik rebahan pun mempersilahkan Bundanya masuk.
"Ada apa Bun..?"Arinda bangun dari baringnya dan mendudukan diri tegak di atas ranjang setelah Rahma masuk.
Bukannya menjawab Rahma malah tersenyum.
"Kok Bunda tersenyum sih ada apa Bun...?Ada hal yang Arinda perlu bantu atau apa..?"Arinda bingung menatap wajah Bundanya yang tersenyum penuh arti.
"Turun yuk..Ayah mau bicara.Ayah sudah menunggu di bawah."Seru Rahma.Entah kenapa ia merasa bahagia akan kabar yang diberikan suaminya dan Rahma pun berharap putri tunggalnya juga mau menerima dengan bahagia.Meskipun ia tau pasti akan ada penolakan terlebih dahulu.Namun Rahma yakin masa depan anaknya akan cerah nantinya.
"Hmmmm harus banget ya Bun sekarang..?"Tanya Arinda hnaya sekedar memastikan.
"Iya dong sayang harus sekarang juga."Seru Rahma.
"Baiklah yuk." Ajak Arinda yang kini tengah menggandeng lengan sang Ibunda.Dengan rasa penasaran dengan kabar apa yang akan ia dapatkan Arinda turun ke bawah.
"Hai sayang, putri ayah sini duduk nak."Sesampainya di ruang keluarga Arinda langsung di sambut sang Ayah Abimanyu.
__ADS_1
"Ada hal penting apakah sehingga ayah memanggilku di jam seperti ini."Ya memang jam sudah agak larut sudah jam 10 malam waktunya istirahat.
"Duduk sini."Pinta Abimanyu sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Nenek mu merindukanmu."Ucap Abimanyu.Sontak membuat rona wajah Arinda berubah menjadi riang.Sungguh ia pun sangat merindukan sang nenek.
"Sungguh...?Akupun merindukannya Ayah.Apakah Ayah berencana mengajakku berkunjung ke tempat nenek..?"Arinda begitu antusias membicarakan kerinduannya pada Nenek Imah Ibu dari Ayahnya karena tinggal Nenek Imah lah neneknya satu-satunya karena nenek dari Bundanya sudah kembali ke Rahmatullah begitu pula dengan kedua kakeknya.
"Begini sayang, Ayah harap kamu jangan marah ya.Ini permintaan Nenekmu."Perlahan Abimanyu menjelaskan pada Arinda.
"Permintaan Nenek, apa itu Ayah.?" Tanya Arinda yang sudah merasa penasaran.
"Nenek ingin melihatmu menikah, dan Nenek juga sudah punya lelaki pilihannya untukmu."Jelas Abimanyu.
"Apa....? Tapikan Arinda masih kuliah Ayah.Arinda masih ingin bebas tidak ingin menikah muda.Arinda juga tidak ingin di jodohkan.Arinda ingin menikah hanya dengan orang yang Arinda cintai."Protes Arinda.
"Sabar dulu sayang, dengerin Ayah dulu."Rahma menenangkan putrinya agar mau mendengarkan perkataan suaminya.
"Tapi Bun, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya.Bukan lagi zamannya Nenek dan Kakek juga bukan zaman Bunda dan Ayah." Ucap Arinda."Arin ingin menentukan masa depan Arin sendiri.Menikah di saat Arin siap dan dengan lelaki yang Arin cintai.Pokoknya Arin nggak mau di jodohin"Sekali lagi Arinda menegaskan jika ia tidak ingin di jodohkan.
"Lelaki itu sholih nak, yakinlah masa depanmu akan lebih indah bersamanya.Percayalah Nenekmu tidak mungkin salah memilihkan pasangan untukmu."Timpal Abimanyu, berharap anaknya masih mau mendengar.
"Arin nggak mau di jodohin pokoknya titik."Arinda berlalu begitu saja kembali ke kamarnya tanpa perduli Ayah Bundanya yang brlum selesai bicara dan terus memanggilnya.
"Brakkkk." Suara pintu di banting.
Arinda menolak keras perjodohan yang di ajukan neneknya.Karena ia ingin merubah tradisi perjidohan dan menikah muda yang turun temurun di keluarganya.Ini zaman milenial bukan zaman old.
//flashback off//
"Ohh jadi lo mau di jodohin Rin, terus lo tolak.?"Arinda mengangguk mendengar pertanyaan Reni.
"Tapi Rin, nggak mau coba ketemu dulu gitu sama orang yang mau di jodohin sama lo.?"Timpal Tiwi.
"Aduuhhh gue mikirin aja ogah ya, apalagi ketemu.Kalau misalnya dia jelek, tua, kepalanya botak gitu, atau pendek bagaimana..?Atau malah lebih parah dari itu." Arinda jadi membayangkan masa depannya hancur."Hiiiiiiii"Arinda bergidik setelah sadar dari lamunannya.
"Iya juga sih, gue pun ogah kalau gitu.Eh tapi kalau orang yang di jodohin sama lo itu ganteng,muda dan tajur bagaimana...?"Tanya Tiwi lagi.Anya dan Reni memasang wajah seriusnya menatap Arinda menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Arinda.
__ADS_1
"Tetap gue nggak mau kecuali yang di jodohin sama gue Akbar tanpa di bujuk gue langsung mau terima."Wajah bete tadi berubah menjadi sumeringah kala ia membicarakan Akbar.
"Itu mah mau nya lo."Ucap Anya, Tiwi dan Reni serempak.
"Gue juga mau di jodohin sama Levin."Ucap Anya.Sang penggemar Levin tidak mau kalah dalam menghayal nendapatkan pria impiannya.
"Nah loh gue baru kepikiran..."Kata Reni menggantung membuat ketiga sahabatnya penasaran.
"Kepikiran apa lo Ren.?"Tanya Arinda.
"Kalau yang di jodohkan sama lo itu musuh bebuyutan lo sendiri alias Levin bagaimana.?"Sontak pertanyaan yang asal keluar dari mulut Reni itu mencuri perhatian yang lain.
"Iya juga ya, bisa jadi tu Rin."Celetuk Tiwi.
"Yah kok Levin sih, Levin itu harusnya sama gue dong gaes."Ucap Anya mengerucutkan bibirnya."Tapi gue nggak apa-apa juga sih Rin melepas Levin demi lo."Ketiganya yang mendengar penuturan Anya hanya memutar bola matanya, bosan mendengar Anya berceloteh.
"Ogah gue mah."Kata Arinda jutek.
"Tapi mending Levin loh Rin daripada ciri-ciri yang lo bayangin tadi.Ya, meskipun Levin orangnya pecicilan suka tebar pesona gitu masih ganteng enak gitu diliat daripada orang yang lo bayangin tadi."Ujar Anya.
"Udah ah gak nemu solusi gue cerita sama kalian bertiga.Mending gue cerita sama Bang Rendy aja deh kalau gitu, biasanya idenya cemerlang.
Arinda sudah memutuskan untuk berkeluh kesah pada Rendy sepupunya anak dari Om Gani kakaknya Ayah.Rendy sangat menyayangi Arinda layaknya adik kandungnya bahkan ia tak pernah membedakan antara Arinda dan Syifa adiknya.Maka dari itulah Arinda yang notabane nya anak tunggal merasa tidak pernaklh kekurangan kasih sayang dari saudara.
.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️
Maafkan jika masih banyak typo dan ceritanya kurang menarik.
Terimakasih sudah mampir.
__ADS_1