Drama Cinta Berakhir Bucin

Drama Cinta Berakhir Bucin
Mengejutkan


__ADS_3

Arinda dan Levin terus membangun cemistry mereka agar saat bertemu kedua orang tua dan nenek Arinda tidak lagi kaku hingga terlihat seperti pasangan kekasih yang sesungguhnya.


Sampai siang mereka berlatih hingga rasa capek menghinggapi keduanya tak jauh berbeda ke enam orang yang bertindak selaku penonton itu pun merasa capek,haus dan lapar.


"Capek, yang istirahat dulu ya."Ujar Kevin membuat mata Arinda melotot ingin keluar karena saking terkejutnya mendengan Levin yang memanggilnya sayang.Keenam penonton itu pun mengaga mendengarnya tak kalah terkejut.


"Kenapa respon kalian seperti itu...?Kalian ini bagaimana sih bukankah kalian yang meminta gue bersikap semanis mungkin sama pacar gue.Ya biar nantinya nggak kagok."Levin pun menjelaskan maksud dari perkataannya barusan.


"Deg."Jatung Arinda bergetar mendengar kata sayang yang diucapkan Levin.


"Gue kaget sumpah.Ini jantung pakai bunyi segala lagi.Hampir aja gue berharap beneran lo panggil sayang Vin."Batin Arinda.


"Astaga sadar Rin ini misi lo buat gagalin perjodohan jangan sampai baper sama playboy satu ini."Gerutunya dalam hati.


"Mmm, ada benernya juga sih elo.Ok gue ikutin permainan lo."Timpal Arinda.Yang lain pun mengangguk setuju.


"Ya sudah ayo kita makan, lets go." Riko tampak sangat bersemangat mendengar kata makan.Karena memang dia doyan makann tetapi anehnya dia tidaklah gendut.


Levin kembali membuat kaget semuanya terutama Arinda sepanjang perjalanan menuju kedai bakso yang menjadi tempat favorit mereka selama latihan di taman ini.Levin menggenggam erat tangan Arinda, menggandengnya sambil berjalan.


Meskipun kaget tetapi Arinda sudah faham maksud Levin jadi Arinda pun menikmati genggaman itu.


"Serasi sekali mereka."


"Ihhh pengen gandengn juga deh rasanya."


"Memang mereka pasangan yang cocok, cantik dan ganteng."


Kira-kira seperti itulah komentar orang-orang yang melihat mereka berjalan bergandengan hingga sampai di kedai bakso dan mie ayam.


Setelah tiba mereka memesan bakso dan mie ayam.Saat makan pun adegan romantis sepasang kekasih pura-pura itu masih tetap berlanjut.Hingga membuat pengunjung lain menjadi baper akan tingkah mereka.


Seperti yang saat ini Levin tengah mengusap sudut bibir Arinda yang belepotan dengan kuah mie ayam yang dimakannya.Hingga mata keduanya bertemu sejenak dan mereka seolah terhipnotis oleh pandangan masing-masing.


"Ekhmm.... permisi mas mba dunia bukan cuma milik kalian berdua."Celetuk Ferly sambil cekikikan hingga membuyarkan fikiran kedua sejoli itu yang kini entah kemana.


"Apaan sih, mmm gimana akting kita bagus nggak..?"Ucap Arinda berharap teman-temannya mengerti jika itu hanya akting.

__ADS_1


"Huh sumpeh deh gue kaget pas di tatap begitu."-Batin Arinda


"Hmmm, akting apa akting..?"Anya yang sejak tadi gemas melihat tingkah mereka akhirnya buka suara.


"Ya akting lah, biar nanti orang tua gue percaya.Kalian aja percaya gini nggak mungkin ortu gue nggak akan percaya, tapi nenek gue itu loh yang di khawatirkan karena dia bisa tau kebohongan seseorang dari matanya."Arinda membuang nafas kasar.


"Sudah tenang aja dan jangan lupa berdoa semoga nenek lo percaya sama akting kalian.Asal kalian kerjasama dengan baik insyaallah semua akan berjalan sesuai keinginana.Semangat Rin."Tiwi mencoba memberikan kata-kata semangat untuk Arinda.


"Iya Rin Semangat."Timpal Anya seraya mengangkat tangannya ke udara.Diikuti oleh semuanya.


"Terimakasih ya untuk dukungan kalian semua.Gue akan semangat."Ucap Arinda yang kini sudah semangat kembali untuk menjalankan misi.


Selesai makan mereka semua langsung pulang kerumah masing-masing.


***


Kediaman Keluarga Levin


Sesampainya di rumah Levin mengernyit heran menatap mobil putih merk Honda Jazz itu terparkir di pekarangan rumahnya.Namun sesaat kemudian iya tak menghiraukannya karena baginya mungkin saja rekan kerja papanya sedang bertamu.


"Waalaikumsalam Warohmatullah."Sahut ibunya Levin.


Keluarga Levin keluarga terpandang ayahnya pebisnis yang maju juga ibunya pemilik beberapa butik muslimah.Namun orang tuanya tidaklah sombong dan angkuh.Mereka ramah tamah dan masih dalam lingkup Agama yang kuat.


"Duduk sini dulu sayang, papa sama mama mau bicara."Fatimah mengawali pembicaraan.


"Ada apa ya pah, dan mereka ini siapa..?" Levin bertanya karena bingung melihat sepasang orang tua yang tak jauh berbeda usianya dengan orang tuanya.Kini Levin sudah duduk di samping Fatimah.


"Makanya ini baru mau papa perkenalkan."Levin mengangguk saja.


"Perkenalkan ini Om Bima dan Tante Meta."Pramono ayah Levin memperkenalkan keduanya pada putra nya.


"Levin." Ucap Levin seraya mencium tangan kedua orang paruh baya itu.


"Levin, maksud om Bima datangbkemari ingin membicarakan perjodohan kamu dengan anak mereka.Perjodohan ini sudah kami sepakati setahun yang lalu oleh almarhum kakekmu." Ucap Pramono menjelaskan.


Levin tentu saja terkejut mendengarnya karena ia masih belum ingin membina rumah tangga di usianya saat ini.Levin masih ingin bermain-main dengan cewek-cewek yang selalu mengejarnya di kampus.Dan dia masih suka sama Tiwi.

__ADS_1


"Maaf om, tante, dengan segala kerendahan hati aku menolak perjodohan ini."Levin dengan tegas menolak hal ini.


Orang tuanya tidak terkejut mendengar jawaban Levin karena mereka tau pasti Levin punya alasan mengapa ia menolak.Padahal kedua orang tuanya membebaskan pilihan di tangan Levin hanya saja amanah kakek juga tidak bisa mereka abaikan.


Berbeda halnya dengan Bima dan Mery mereka tampak kecewa dengan keputusan Levin.Namun mereka tak mau menyerah begitu saja, mereka mencoba membujuk Levin untuk sekedar memikirkan terlebih dahulu.


"Nak Levin, maaf apa tidak sebaiknya kalian bertemu dulu sebelum menolak perjodohan ini."Ucap Mery lembut, berharap levin mendengarkannya.


"Iya nak, apa kamu tidak ingin bertemu dulu dengan calonmu.Papa tau kamu tidak suka perjodohan tetapi alangkah baiknya kalian bertemu terlebih dahulu sebelum kamu memutuskan untuk menolak perjodohan ini."Baru saja Merry tersenyum saat mendengar Pramono mencoba membujuk Levin kini kembali kecewa karena kalimat selanjutnya yang di ucapkan Pramono karena tidak tegas menurut Merry.


"Maaf om tante saya punya kekasih, dan saya sangat mencintai dia."Levin kembali memberi alasan yang menurutnya itu bisa membantunya.


"Baik, kalau begitu saya mau lihat pacar kamu itu.Lusa saya akan kembali lagi.kesini membawa anak perempuan saya dan kamu juga bawabitunpacar kamu.Saya yakin anak saya jauh lebih baik dari pada pacarmu itu."Ucapnya ketus dan memaksa.


"Permisi."Sepasang suami istri itu kemudian berlalu begitu saja dengan angkuhnya.


"Waalaikumsalam warohmatullah."Ucap Fatimah seraya mengelus dada karena kaget melihat sikap tidak sopan calon besannya itu.


"Pah, ada apa sih ini sebenarnya..?Levin masih belum mengerti, mengapa bisa papa menyetujui niat kakek yang ingin menjodohkan aku setahun yang lalu bahkan dengan wanita yang tidak ku kenal."Levin ingin tau alasan sebenarnya dari kedua orang tuanya.Orang tuanya hnaya diam karena mereka tau anaknya lagi emosi jadi mereka akan jelaskan nanti.


"Sikap orang tuanya juga tidak sopan seperti itu.Levin tidak suka."Kemudian ia berlalu kekamarnya.


Sungguh levin masih syok mendengar hal mengejutkan itu.Ia bahkan tidak bisa berfikir jernih saat ini.Levin membanting pintu kamar cukup keras dan membuang tasnya kesembarang arah ia langsung merebahkan dirinya di kasur king sizenya.


.


.


.


.


.


**Mohon maaf lahir dan batin reader semuanya.🙏🙏🙏🙏🙏


terimakasih sudah membaca, semoga menghibur kalian yang di rumah aja ya.maafkan typonya**.

__ADS_1


__ADS_2