
Seminggu sudah berlalu kini tiba saatnya hari dimana calon suami pilihan nenek Imah akan datang menemui Arinda.
"Hoammm" Arinda menguap sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya selama kurang lebih 4 jam.
Ya, Arinda hanya tidur 4 jam malam ini karena dia merasa cemas dan takut bertemu hari ini.Meskipun ia sudah menemukan solusi untuk mencegar perjodohan ini terjadi.Tetapi ia masih merasa takut, takut jika sandiwaranya dan Levin terbongkar di hadapan nenek nantinya.
Tok Tok Tok
"Jam berapa sih ini...? perasaan baru aja gue tidur sudah ada yang ngetuk pintu aja.Apalagi gue kan halangan jadi nggak sembahyang."Gerutu Arinda sambil mengerjap-ngerjapkan matanya menciba mengumpulkan nyawa yang entah separuhnya ada di mana saat ini.
Arinda mengambil HP yang ada di meja kecil samping tempat tidurnya."Whattt, ternyata sudah pukul 7." Arinda kelabakan karena jam menunjukan pukul 7 pagi sedangkan dia ada kuliah pukul 9 pagi dan harus presentasi, seingatnya.Bahkan saking paniknya ia tidak lagi menjawab ketukan pintu yang juga sudah berhenti sejak beberapa detik yang lalu.Mungkin yang ketuk pintu sudah tau jika Arinda sudah bangun.
Arinda berhenti dari tindakan buru-burunya menyiapkan perlengkapan yang akan di bawanya ke kampus saat ia teringat sesuatu.Arinda kembali mengambil HP yang ia banting di kasur begitu saja.
"Huhhh....Alhamdulillah hari ini hari minggu."Arinda bernafas lega mendapati hari ini hari libur dan itu berarti ia tak perlu kekampus dan mikirin presentasi.Sekarang Arinda tinggal menyiapkan diri agar bisa totalitas dalam berakting.
Dengan malas Arinda menyambut hari ini.Ia bangkit lalu membersihkan diri di kamar mandi.Tak butuh waktu lama Arinda selesai dengan ritual mandinya.Kemudian ia bersiap-siap untuk menemui sang pacar pura-pura.
***
Arinda menunggu Levin di taman tempat biasa mereka latihan menjadi pacar pura-pura, anggap saja mereka pemain teater.
Biasanya mereka di temani oleh sahabat-sahabat mereka termasuk Brian sahabat Levin yang baru datang dari luar kota juga bergabung dan ikut andil dalam rencana mereka.
Hari ini masih terlalu pagi tepatnya pukul 9 pagi, satu jam lebih pagi dari biasanya mungkin karena Arinda terlalu bersemangat untuk menggagalkan keinginan sang nenek.
"Huh mereka belum pada datang."Gumam Arinda sembari duduk di kursi taman.Arinda melirik jam yang melingkar di pergelangan kanannya."Jam 9.... pantesan belum adayang datang.Mungkin karena bersemangat gue jadi kepagian datangnya."Biasanya ia yang telat tetapi hari ini dia datang lebih dulu.
"Gue temenin mau....?"Tiba-tiba ada suara yang menyaut dari arah belakang dan rasanya suara itu tidak asing di telinga Arinda.
Arinda memutar tubuhnya miring dan mengarankan kepalanya ke arah suaradan benar saja dugaannya."Levin...... lo kok nggak bareng anak-anak....?"Arinda merasa penasaran karena melihat Levin datang sendirian dan sepagi ini.
"Nggak, gue cuman profesional aja sebagai aktor harus disiplin dong.Ini hari penentuan jadi akting gue harus bagus dong biar bisa yakinin keluarga lo nanti malam."Ucap Levin.Arinda pun mengangguk karena menurutnya apa yang Levin katakan juga ada benarnya.
"Sebelum kita mulai latuhan.Gue boleh minta tolong nggak sama lo....?"Levin berharap Arinda membantunya.
"Tolong apa kalau gue bisa gue bantu."Kata Arinda.
"Gue mau kita lanjutin sandiwara ini setelah urusan lo sama keluarga lo selesai."Ucap Levin, membuat Arinda mengernyitkan kening .
__ADS_1
"Maksud lo gimana...?"Arinda coba memperjelas permintaan Levin.
"Ya kita lanjutin sandiwara pacaran pura-pura kita,tapi kali ini dari pihak gue.Gue lagi perlu cewek pura-pura juga buat....."Belum selesai Levin bicara Arinda sudah menertawakannya.
"Hahahahaha...."tawa Arinda pecah."Lo di jodohin juga....hahaha gue nggak nyangka orang kayak lo bakal di jodohin juga."Arinda terus tertawa karena menurutnya lucu.
"Udah ketawanya....?"Mendengar pertanyaan Levin yang ketus itu membuat Arinda membungkam mulutnya."hehe sory."Arinda nyengir kuda.
"Makanya dengerin dulu orang ngomong jangan main potong begitu aja."Dari perkataannya Levin mulai kesal.
"Iya-iya maaf."Wajah Arinda di tekuk.
"hmmm" hanya deheman yang Levin keluarkan.
"Jadi gini, mantan gue yang sudah lama hilang dari peradaban itu muncul lagi dan minta balikan sama gue.Ya gue nggak mau lah secara gitu prinsip gue nggak mau balikan sama mantan.Apalagi gue memang hanya main-main aja pacaran selama ini nggak pakai hati.Lo masih ingat Rasya ngga...?"Jelas Levin panjang lebar juga menanyakan nama seseorang.
"Oooooh begitu, gie kirain playboy kaya lo bakal di jodohin juga.Eh tapi tunggu lo bilang Rasya kah tadi...?"Arinda merasa penasaran mengapa Rasya yang disebut Levin.
"Rasya yang seksi, putih,cantik,tapi keganjenan itukah...?Apa Rasya itu mantan lo yang lo ceritain barusan...?"Rasa kepo Arinda muncul.
"Iya, dia Rasya.Jadi gue harap lo bisa bantu gue jika tiba-tiba di nongol di kampus.Gue males ladenin dia, dia itu lebih parah dari cewek-cewek yang godain gue di kampus biasanya.Jadi gue harap lo.mau lah bantu gue."Levin meminta hubungan timbal balik lah semacam simbiosis mutualisme dengan Arinda.
"Heleh, di kamous mah emang lo nya aja suka tebar pesona sana sini makanya tu cewek-cewek pada ngejar lo.Coba nggak gitu nggak bakalan tuh cewek-cewek mau sama lo yang pemarah,emosian,dan suka maksa."Cerocos Arinda.
"Tu kan, lo memang pemarah nggak bisa bisa di ajak brcanda dikit langdung emosi sampai ke ubun-ubun."
"Lagian lo juga mancing-mancing gue.Jadi mau lanjut nggak nih pacaran pura-puranya...?Kalau mau lanjut minta maaf dulu lo ama gue."
"Idih gitu."
"Mau nggak..?kalau nggak mau gue tinggal nih."
"Tau."Arinda cemberut.
"Hey...assalamualaikum copel favorit gue."Tiba-tiba Tiwi datang bersama yang lainnya.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh.Tetapi maaf ya ralat omongan lo barusan.Kita bukan copel dia bukan pacar gue asal lo tau."Arinda bicara seraya menunjuk Levin dengan jarinya.
"Siapa juga yang mau jadi pacar lo.Ogah gue."Levin memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa mesti berantem coba, cuma masalah kecil doang nggak usah diributin.Lo Vin jangan emosian jadi orang."Tutur Tiwi.
"Tuh dengerin Tiwi ngomong."Arinda bicara masih dengan nada ketusnya.
"Gue nggak akan ketus jika sama lo Tiwi.Sayangnya lo nggak pernah melihat gue."Batin Levin tersenyum kecut.
"Lo juga Rin, jangan ambekan jadi cewek."Lanjut Tiwi.Dan semua teman-teman mereka membenarkan perkataan Tiwi.
"Tuh dengerin."Levin membalas perkataan Arinda.
"Udah-udah lebih baik kalian bermaafan sekarang.Padahal tadi gue udah seneng loh liat kalian akur gitu,cemistrinya dapat banget tu kaya tadi.Ups."Anya nyerocos aja kaya mobil nggak ada rem nya.
Mendengar penuturan Anya membuat Levin dan Arinda saling berpandangan karena mereka berfikir sama.
"Jadi lo pada ada di sini sejak tadi....?"Levin memicingkan matanya guna mencari tau kebenaran.
"Iya ayo ngaku."Arinda menimpali.
"Hehehe,, iya."Jawab Anya cengengesan.
"Kenapa baru nampakin diri sekarang...?"Arinda merasa kesal pada teman-temannya.
"Kita cuman nggak mau ganggu orang pacaran."Riko yang menjawab pertanyaan Arinda.
"Kita itu cuman pacaran pura-pura.Berapa kali sih harus gue ingatin ke kalian semua."TegasArinda.Sedangkan Levin hanya diam kali ini.
"Nggak masalah pura-pura dulu ntar juga pacaran beneran.Pemanasan dulu lah,gue paham kok paham banget malah."Ferly menimpali membuat semuanya tertawa kecuali dua orang yang sedang mereka bicarakan.
.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️
Maaf nih ya banyak typo nya atau malah ceritanya nggak nyambung harap maklum.hehehe.
__ADS_1
Baca terus ya jangan lupa komen,like,dan share.
Terimakasih😊😊😊