
"Nama Pradikta tak terlalu penting yang terpenting banyak banyak bersyukur dengan apa yang kita miliki"
Ya nama gue Amel Shaqueena Pradikta nama Pradikta kudapat dari nama belakang kakek dan semua keturunanya.
Ayahku empat bersaudara ayahku anak nomer tiga dan tinggal di pulau Jawa semua saudara ayah tinggal di pulau Sumatra.
Kakekku pemilih PT Dikta Jaya Company yang bergerak disegala sektor industri. Telah memiliki berpuluh pulub anak cabang dan semuanya tersebar diselurub Indonesia sampai Asia.
Pucuk kekuasaan tertinggi sekarang ada ditangan pakdhe Ibra Pradikta anak pertama kakek.
Ayah memilih menetap diPulau Jawa dan membuka bisnis bengkel dan toko kelontongnya dari nol tanpa sepeser uang pun dari kakek.
Sekilas cerita silsilah keluaga ayah.
"Heh malah ngelamun,gue turut berduka atas meninggalnya ayah lo,gue juga baru tau tadi ketika ibu lo cerita"
"Iya tak apa semua sudah berlalu kita semua sudah mengikhlaskan semuanya.
Btw selanjutnya rencana lo apa?
Dengan helaan nafas Dewa berucap "ya ikut kelurga besar ke kampungnya Anis selanjutnyabgue mau minta maaf tapi sebelum gue kesana gue miinta nomernya Anis boleh"
"Ntar gue tanyaim Anis dulu gue gak mau nanti salah paham dan jadi masalah kedepannya"
"Oke no problem, sedikit cerita gue tau lo dulu sama Amar gimana!gue yakin 100% didasar hati lo pasti menyimpan perasaan cinta dan sayang cuma kalian gengsi ngakuin nya?gue juga tau kalo Amar sudah tunangan dengan Ryana.
Ryana temen sekampus Amar dan dia anak dari kolega papanya Amar lo tau kan keluaraga Adiwija selalu berambisi untuk menjadi keluarga terhebat ditanah air.Dan keluarga Ryana mempunyai power itu meskipun keluarga Ryana masih kalah jauh daru keluarga Pradikta"
Sedikit penjelasan dapat gue simpulin dari cerita Dewa karena hartalah Amar menerima tunangan itu dan mengingkari janji yang telah dia ucapkan.
Ya satu janji yang Amar ucapkan dan tak ada satu orangpun tau hanya aku Amar dan Tuhan yang tahu.
"Lo tau banyak tentang masalah persaingan di dunia bisnis, itulah sebabnya ayah gue gak mau mengunakan nama harta keluarga Pradikta meskipun ayah masih memiliki hak.beliau juga gak mau putri semata wayangnya jadi korban dan beruntungnya seluruh keturunan kakek gue gak pernah ada yang mau menjodoh jodohkan walaupun banyak relasi yang meminta ataupun mendekatkan diri.
Tapi keluarga lo menjodohkan sepupu lo dengan saudara gue murni karena ingin mempererat talu persaudararaan kan bukan karena tau kalo keluarganya besannan dengan keluarga Pradikta kan? cecarku kemudian karena aku merasa ada yang mencurigakan.
"Enggaklah Mel keluarga kita bukan tipe keluarga yang gila harta dan gengsi. Itu murni karena hutang balas budi pakdhe kepada ayahnya Anis ..." diam sejenak menghirup oksigen sebanysk banyaknya mengumpulkan keberanian keikhlasan hati untuk mengawali ceritanya itulah yang dapat kulihat dari pancaran matanya.
"Lanjut hehe" candaku
"Hehe karena balas budi itulah akhirnya pakdhe menjakib tali silaturohmi dengan menjodohkan salah satu anaknya karena anak pakdhe laki laki semua otomatis dari pihak pakdhemu yang perempuan dan lo tau Mel gue baru tau sejarah ini kemaren karena kakek cerita semuanya tanpa ada yang ditutup tutupi dan lo tau Mel gimana perasaan gue waktu itu tahu kenyataan ini, gue gak rela makanya gue buru buru kesini mana tau Anis masih disekitaran sini tapi nyatanya dia gak disini" jelaa sekali kesedihan yang tergambar setelah memceritakan awal mulanya.
__ADS_1
"Ikhlasin De Tuhan tidak pernah menguji hambaNya melebihi kemampuannya kkarena
Semua sudah ditakar tinggal kita bagaimana menyikapinya, jangan berkecil hati berdoalah jika Anis memang jodohmu kelak suatu saat pasti akan bersatu, untuk saat ini lo hanya bisa pasrah dan menerimanya dan jangan lupa usaha, belum ada janur kuning melengkung hehee" kugaungkan semangat ebara biar Dewa gak loyo.
"Makasih ya Mel lo udah mau dengerin curhat gue"
"Iya gak papa,,duh kepala gue " kenapa ini Tuhan
"Mel lo gak papa" kulirik sekilas nampak Dewa panik melihatku memegang kepalaku yang tiba tiba pusing
"Mbak mbak sini apa bos kalian menyimpan obat sakit kepala,dia mengeluh sakit"
"Ada nas sebentar saya ambilkan dulu" setengah berlari oelayan itu mengambil dan nembawajan obat besera minumnya.
"Ini Mel diminum dulu obatnya,makanya jangan mikir yang berat slow aja"
Sekalu teguk obat sudah masuk dalam keongkongan dan kepalaku berangsur nembaik
"Majasih ya De" terdengar syara adzab dari masjid dan kami semua nenghentikan semua aktivitasnya untuk melaksanakan ibadah sholat magrib.
"Sholat yukk De mumpung deket masjid " ajakku pada Dewa dan langsung diiyakan.
Karena sebelum aku ke masjid sempat berpesan pada salah satu pegawaiku untuk memesankan makan malam.
"Ayo De dimakan dulu karena menghadapi kerasnya hidup butuh tenaga extra" ucapku kemudian dan suksea membuat Dewa tersenyum manis. Olha ya bener saja Anis cinta manti orangnya gantemg kalo senyum manis e
"Lo ini Mel ada ada aja,oke gue makan loel btw makasih ya "
"Siap"
"Setelah ini lk mau kemana De?apa langsung balik?
"Penerbangan gue masih besok Mel daN gue mau nyari pènginapan deket bandara aja, lebih deket"
"Ya udah ntar gue antar sekalian balik lerumah"
"De beneran lo gak ada langlah yamg greget buat Anis? tanyaku yang tiba tiba dontak membuat Dewa menghentikan makannya dan menanggapi pertanyaanku
"Emang ngajak sesat lo ini, gue udah dimaafin Anis aja udah syukur alkhamdulillah "
"Lha sapa tau lo pengi gitu" kuberikan senyum termanis biar tak kena murka sang Dewa.
__ADS_1
"Mel gimana kondisi kepala lo?
"Udah mendingan De "
"Ya udah kalo dah mendingan ,apa itu efek dari kecelakaan yang lo alami waktu itu" tanya Dewa
"Iya De sekarang efeknya dan kemarennya gue abis operasi karena ada gumpalan darah dideket otak gue" penjelasanku akhirnya.
"Ngomong nhomong udah berapa lama lo buka toko kue ini?
"Baru enam bulan yang lalu,iseng iseng gue De sambil nunggu job mc apa dekor jadi gue nyoba buka toko roti sekaliam nyalurim hobby ee gak taunya malah pada suka,kalo udah rezeki gak akan kemana De" terangku dengan bangga dan penuh percaya diri.
"Gila makin kaya aja keluarga lo hahaaaa" sahutan Dewa tak ayal membuatku ikut tertawa.
Kulihat jam ditangan udah hampir jam tujuh waktunya pulang.
"Kalo gitu gue pamit balik dulu mau nyari penginapan ntar lo kemaleman pulang mana nyetir sendiri abis sakit pula, yuk Mel sebelumnya maksih ya karena udah mau dengerin curhat gue dan gue minta tolong nomernya Anis " pamit Dewa
"Oke ntar coba gue minta ijin dulu sama Anis,gue bantu jelasin biar hatinya terbuka, btw sampe ketemu lagi besok dikampung ya"
"Oke, lo kuat nyetir sendiri? Apa gue telponin Amar biar dia yang nganter lo balik?
"Gak perlu tadi gue abis ketemu ntar eneg dia liat muka gue lagi"
"Heh apa lo barusan ketemu sama Amar?
Gimana apa dia sama calom bininya ketemu lo? pertanyaan apa ini,tapi kenapa aku sakit dengar Amar punya calon istri
"Iya,,udah sana cepet nyafri taksi sana ntar hoyelnya pada tutup ngembel diairpot lo nanti hahahaa" ejekku dengan penuh tawa mengembang menutipi kelaraan hati ini.
"Elahh gengsikan lo sebenernya mau lah dianteri Amar secara pria yang difunggu selama bertahun tahun balik ee malah balim bawa calon bini aduh aduhhh sakitnya tu disini mak jleb"
"Yee udah sana balik,gue juga mo balik takut kemaleman,tapi gak papa ya lo gak gue anter nyari penginapan"
"Santai Mel gue laki yang gue kasihan tu lo perempuan nyetir sendiri"
"Gak papa udah biasa, gue balik dulu ya bye" ku bergerak menuju mobil yang yerparkir didepan toko dan kulajukan dengan kecepatan sedang memebelah jalanan ibukota menuju rumah.
Kata kata yang diucapkan Dewa selama diperjalanam terua terngiang ngiang diotakku
Kenapa Amar mau menerima perjodohannya dengan Ryiana? Ada apa sebenarnya apa yang kau sembuyikan dariku Mar
__ADS_1