Drama Kehidupanku

Drama Kehidupanku
9. selalu salah


__ADS_3

kalian mungkin pernah mengalaminya, sesuatu yang mungkin sangat sangat menyebalkan satu kata beribu makna, satu kata yang dapat menggoreskan luka.


"pergi sulit, bertahan sakit" bukan soal cinta melainkan keluarga, posisi tersebut di mana saat kita benar benar muak berada di rumah di marah, di bentak, di kasarin, nggak di anggap benar, sampai sampai di samain dengan anak tetangga. Di posisi itu membuat kita ingin kabur dari rumah, atau melukai diri sendiri, tapi sulit karna kita mikir dua kali sebelum melakukanya.Dan karna hal itu akhirnya kita lebih milih bertahan tinggal di rumah, walaupun sakit.


sama halnya dengan Rena, faktor keluarga membuatnya harus terus menerus menahan sakit, bukan hanya fisik melainkan batin, di mana ayah kandung yang tak memiliki rasa percaya sama sekali, bahkan menganggap dirinya tak ada dan tak pernah ada dalam hidupnya.


walaupun Rena adalah gadis kecil yang tomboi, dan tidak gampang menangis, tapi Rena juga tidak bisa memungkiri bahwa ia akan lemah jika sudah berhadapan dengan ayahnya.semua yang ayahnya katakan selalu terngiang ngiang di telinganya.


bayangan sosok ibunya yang menjadi penguatnya selama ini, membuatnya rapuh saat sudah melihat dan mendengar kata kata tajam ayahnya, seolah benar bahwa ayahnya menyesal memiliki anak perempuan.


_______________


setelah selesai dengan urusan yang membuat hatinya was was, akhirnya Rena tiba di kawasan komplek elit yang tak lain adalah kediaman keluarga Handoko tepat pukul 4:35.


hmphh...


hembusan nafas kasar keluar saat Rena masih berdiri di depan rumah ber cat putih nuansa kuning matahari, rasa berat memasuki rumah bak neraka yang selalu menorehkan luka.


Rena berjalan memasuki rumah tersebut dengan wajah yang bercampur entah bahagia atau sedih. hanya dia dan tuhan yang tau.


saat mulai membuka pintu terlihat sang ayah sedang duduk di ruang tamu dengan sebuah kertas koran menghias tanganya.


kreaaattt.....


Rena membuka pintu lebih besar agar dapat memasuki rumah yang katanya akan di wariskan ke adik tirinya yang tak lain adalah Raga.


Muhammad Raga Handoko. anak yang masih menginjak usia 14 tahun tersebut adalah anak kebanggaan di keluarga ini, anak yang memiliki sifat seperti Raman keras kepala dan egois.


"Dari mana" kata kata biasa yang membuat Rena hapal akan ada pertanyaan tersebut.


Rena yang awalnya sudah sampai di dekat pintu dapur harus melangkah memutar badan dan mengahadap sang baginda raja yang memiliki hak atas rumah yang ditinggalinya.


saat sudah berada di samping kursi sang ayah Rena menjawab dengan hormat agar tak menimbulkan kekacauan, tapi bukan Raman namanya jika tidak mencari cari kesalahan pada diri putrinya yang menjadi jelmaan upik abu, karna secara tak langsung Rena sudah seperti pembantu di rumah nya sendiri.


"Rena habis cari kerja ayah"ujar Rena sesopan mungkin.


"hmmh memang ada yang mau menerimamu, dengan statusmu yang masih pelajar"ujar Raman dengan sedikit sunggingan senyum dan mata yang sesekali melirik ke arah Rena.

__ADS_1


"ada ayah, sekarang Rena sudah dapat kerja"ujar Rena dengan masih menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Raman mulai menutup koran yang ia pegang, dan meletakanya di meja, lalu menyeruput kopi yang sudah tersedia dengan masih duduk di singgasananya.lalu Raman memperhatiakan Rena yang berdiri dengan wajah kelelahan tapi tidak bisa di sembunyikan bahwa ada rasa bahagia juga yang tergambar.


"lalu jika aku bertanya mengapa kau berangkat subuh hari ini, apa alasanmu"melihat Rena dengan tatapan tajam.


"Rena ada piket kelas yah, hari ini"Rena berbohong.


"oh ya" ujar Raman dengan nada selidik, dan hanya di balas anggukan oleh Rena.


"dia bohong pah"ujar Raga yang entah datangnya dari mana, dan langsung duduk di sofa samping Raman.


Rena kaget dengan kedatangan adiknya yang tak ada henti hentinya membuat perang yang hampir tidak terjadi malah akan terjadi.


"Raga"Gumam Rena.


"maksudnya"nada suara Raman sudah berbeda.


"papahkan tau, ini masih masanya MOS, emang udah bagi kelas" ujar Raga dengan sebuah senyum licik.


Raman berbalik menatap Rena yang sudah terlihat gugup, karna ucapan Raga.


Raman berdiri dari duduknya dan menghampiri Rena yang terus mundur ke belakang untuk menghindarinya.lalu Raman menarik tangan Rena dan mengenggamnya dengan kuat.


"berani kau berbohong padaku, makin hari makin ngelunjak kau ya"Ujar Raman dengan nada tinggi.


"tidak ayah"Rena mulai menangis.


"hentikan air matamu itu aku jijik melihatnya, asal kau tau aku benci melihat wajahmu, kau selalu saja mencari masalah di rumah ini, tidak bisakah kau buat rumah ini damai dengan tidak membuat masalah heh."ujar Raman dengan nada membentak, dan menghempaskan tubuh Rena ke lantai.


"ugghhh" Rena merintih saat tubuh kecilnya menyentuh lantai.


Raman menarik Rena dan menyeretnya, lalu mendorong lagi hingga punggungnya mengenai meja dan menjatuhkan apa pun yang ada di atasnya hingga jatuh berserakan.


cacian dan hinaan keluar lagi dari mulut ayahnya, Rena hanya bisa menangis menahan sakit di punggungnya. rasa panas di telinganya karna mendengar cacian ayahnya yang hanya seputar"tak berguna, anak tak tau di untung, bodoh, aku benci memiliki anak sepertimu bla bla bla bla"


semua kata terkeluarkan sampai Raga buka suara.

__ADS_1


"sudah pah, papah naik saja ke atas tak usah capek capek ngurusin kakak"ujar Raga sambil berjalan mendekat ke arah Raman dan Rena.


"dengarkan baik baik, rapikan ini semua sebelum mamahmu pulang dari arisan jika dia menasehatiku lagi karna ulahmu keluar saja kau dari sini, anak tak tau di untung"ujar Raman menjauhi Rena dan berjalan menunju ke lantai dua.


saat punggung Raman telah tiada, baru Raga menghampiri Rena.


"kakakku yang baik dan cantik, aku kasihan melihatmu kenapa kau tak keluar saja dari rumah ini biar hidupku di rumah yang penuh drama ini usai"ujar Raga sambil berjongkok melihat wajah Rena yang sudah basah dengan air mata.


"Raga kenapa kau benci padaku, aku ini kakakmu"ujar Rena terisak.


"kakak tiri lebih tepatnya, itu faktanya tapi bagiku kau tak lebih dari seorang pembantu di sini"ujar Raga sambil berdiri" ingat baik baik aku ingin kau pergi dari rumah ini biarkan semua harta warisan jatuh ke tanganku tanpa sepeserpun menyentuh jarimu"ujar Raga sambil berlalu.


Rena mulai bangkit dari duduknya lalu membersihkan apapun yang berserakan di lantai, menghiraukan rasa sakit yang ada di punggung dan bahunya.


setelah selesai dengan semuanya Rena masuk ke dalam kamar membersihkan diri, sebelum keluar kamar untuk masak malam Rena memeluk bingkai foto Novi dan menangis kembali.


"ibu apa salahku pada ayah, apa aku seburuk itu di matanya"ujar Rena.


"tak apa Rena kau kuat, kau tak boleh lemah, sikap ayah hanya sementara sekarang bangun dan masak untuk makan malam"ujar Rena sambil berdiri dan meletakan bingkai foto Novi lalu ke luar dari kamar kecilnya.


Bersambung.......


Hei readers author titip salam nih buat kalian🥰


sekalian author titip koment, like ,vote ya🙏🙏


jangan pelit pelit budidayakan tinggalkan jejak,


kita burther saling menguntungkan.


Author bikin novel buat ngisi waktu luang kalian


kalian tinggalkan jejak buat Author senang🥰😂😂.


Jadi readers setia Author ya🙏🙏.


masuk GC author, bikin rame di sana maklumlah masih baru, masih sepi sepinya😅😅.

__ADS_1


oke jangan lupa sesajenya ya, yang banyak buat author hehehehe😂😂.


__ADS_2