Duka Dimalam Pertama

Duka Dimalam Pertama
bab 1


__ADS_3

SAH.....


seketika kata sah menggema didalam sebuah rumah yang menjadi tempat dilaksanakannya prosesi ijab qobul tersebut.


dengan lantangnya sang pengantin pria mengucapkan kalimat sakral tersebut dalam satu tarikan nafasnya.


disaat yang bersamaan, dari dalam sebuah kamar sang pengantin wanita berjalan menghampiri dengan senyuman yang terus menghiasi wajah cantiknya. akhirnya hari yang ditunggu tunggu datang juga. kini dia telah resmi menyandang status seorang istri dari lelaki yang dicintainya.


"Cium tangan suamimu, nak"


bisik sang ibu ketika ia sudah sampai dihadapan Agam, laki laki yang telah resmi menjadi suaminya beberapa menit yang lalu.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


serangkaian acara telah dilaksanakan, karena memang hanya ada acara ijab qobul saja, tanpa adanya resepsi. lalu dilanjut dengan acara makan makan dengan keluarga dan beberapa tetangga yang ikut menyaksikan acara tersebut.


kini waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. hanya tinggal beberapa orang yang masih ada sedang membersihkan rumah dari sisa sisa acara. Sedang yang lainnya sudah pergi dari siang tadi. karna memang acara hanya ijab jadi tidak terlalu lama.


ketika yang lain sedang sibuk, di dalam sebuah kamar berukuran 3x3 itu sepasang anak manusia yang kini telah menjabat sebagai suami istri, telah selesai membersihkan dirinya masing masing.


"Lagi ngapain??" tanya sang suami ketika melihat istrinya sibuk melihat lihat dalam lemari.


"ini lagi mau beresin baju, kan aa sekarang tinggal disini."


"terus kenapa dari tadi cuma liatin isi lemarinya aja??"


"aku lagi bingung a."


"bingung kenapa hmm??" tanyanya sambil melingkarkan tangannya ke perut sang istri.


"aku bingung baju aa mau ditaro dimana, lemari aku penuh semua"


"oohh.. jadi itu alasannya kenapa istri aa dari tadi cuma liatin isi lemari??" Agam berbicara sambil terus menciumi tengkuk sang istri.


"iihhh... aa geli tau" sambil terus mencoba melepaskan pelukan suaminya, bukannya terlepas Agam malah semakin mengeratkan pelukannya dan menaruh kepalanya di pundak sang istri.


" terimakasih "


" untuk apa a?"


" untuk selalu setia sama aa, terimakasih sudah menerima aa, selalu sabar menghadapi sikap aa selama ini."


brigita melepaskan pelukannya dan berbalik menghadap kearah suaminya, menatap lekat manik matanya.


"harusnya aku yang berbicara seperti itu a." sambil mengelus wajah kekasih halalnya.


" aa selalu ada disampingku, menemaniku disaat aku susah maupun senang, terimakasih aa sudah memilihku untuk menjadi seorang istri."


" brigi, kamu adalah perempuan berhati malaikat yang dikirimkan tuhan untukku, teruslah seperti ini walaupun nantinya aku tidak disisimu lagi."


" jangan bicara seperti itu a, aku harap kita akan selalu bersama sampai tuhan sendiri yang memanggil kita untuk pergi"


Brigi pun langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"kita tidak tau apa yang akan terjadi sayang. jika itu terjadi, tolong hiduplah seperti biasa, bahagialah, maka akupun akan bahagia"


Brigi pun tidak dapat menjawab, tenggorokannya serasa tercekat mendengar penuturan sang suami, dia hanya bisa memeluk. entah kenapa hatinya terasa sakit ketika sang suami berbicara seperti itu.


sambil melepaskan pelukannya dia berbicara,


" sudahlah, kita makan dulu yuk! aa pasti laperkan tadi gak sempet makan siang."


Agam tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.


ketika keluar dari dalam kamar keadaan rumah sudah kembali seperti semula, tidak terlihat seperti habis dilaksanakan sebuah acara didalam rumah tersebut. brigi terus menuntun suaminya menuju meja makan. disana sudah ada orangtua dan adik brigita.

__ADS_1


Agam langsung menarik sebuah kursi untuk diduduki sang istri.


" idih.. pengantin baru sok romantis nih " canda sagita adik satu satunya brigi


" kenapa sih?? sirik yaaa....." jawab brigi sambil terus mengembangkan senyum pada sang adik. menurutnya senyuman sang kakak itu menjengkelkan karna pasti akan ada sesuatu yang membuat dirinya bad mood seketika.


" apaan sih.. nggak yah aku juga bisa kali romantis romantisan kaya teteh, wleee" sambil menjulurkan lidahnya.


" mau romantis sama siapa?? kamu kan jomblo dari lahir"


" ya sama ayah lah "


Plak..


" aduh... sakiiit" sagi mengusap usap tangan yang kena geplakan ibunya


" enak ajah. si ayah cuma punya ibu ya,, jadi gak boleh diromantisin siapa siapa termasuk kalian"


sang ibu berbicara sambil menunjuk kedua anaknya dengan centong nasi.


" iihhh... ibu apaan sih.. ayah, ibu tuh marahin maen pukul seenaknya kan Ade jadi sakit, tuh liat tangan Ade jadi merah, jadi gak mulus lagi kan, kalo gak mulus nanti Ade jadi jelek, kalo jelek nanti gak ada yang mau sama ade, nanti ayah gak jadi dong punya mantu Lee min hoo nya"


cerocos sagita saat sedang mengadu pada sang ayah, sedang yang di ajak bicaranya hanya menanggapi dengan tersenyum sambil geleng geleng kepala. anak bungsunya ini memang berbeda dari sang kakak yang lebih kalem tidak banyak bicara.


" gaya kamu de mau sama si leho, dianya aja belum tentu mau sama kamu" jawab sang ibu


" si ibu maen ganti nama orang aja, namanya Lee min hoo ibu bukan leho" sambil terus memajukan bibirnya.


" hahaha..


tawa sang kakak ketika adiknya mulai merajuk


" lagian de Lee min hoo mana mau sama kamu, mandi aja sehari sekali itu juga kalo udah di guyur duluan sama ibu "


" ih.. ngarang aja si teteh mah, mana ada Ade mandi sekali sehari"


" siapa teh? aku kenal gak?"


" kenal, dia tuh suka sama kamu tapi malu mau bilangnya. tar deh teteh atur waktu biar kamu bisa ketemuan sama dia, soalnya dia orang sibuk. nanti teteh bilangin kalo kamu mau dilamar"


" orangnya ganteng kan?? "


" ganteng, ganteng banget malah kaya oppa oppa Korea gitu" brigi bicara sambil sesekali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


" aseekk.. kalo kaya gitu mah ade juga mau. langsung diajak pelaminan juga hayu lah"


dengan antusias sagita membayangkan seperti apakah wajah lelaki yang dibicarakan kakanya dengan sesekali tersenyum menghayalkan dia sedang berada di atas pelaminan dengan pujaan hatinya.. di lain sisi brigita tersenyum melihat kelakuan sang adik yang mesem mesem sendiri, dia tidak tau kalau yang dimaksud adalah tukang bubur ayam yang suka keliling depan rumahnya .


" kapan kamu masuk kerja gam??"


pertanyaan sang ayah membuat kedua gadis itu tersentak dari lamunannya.


" mungkin hari Selasa yah, soalnya besok sabtu minggu kan libur, jadi Agam ambil cutinya hari ini sama Senin aja "


ayah hanya mengangguk nganggukan kepalanya mendengar jawaban menantunya


" kalo teteh gimana?? masih lanjut kerja??


" masih yah, kemarin teteh udah bilang sama yang punya cafe kalo teteh mau keluar, katanya suruh tunggu sampe waktu gajian satu Minggu lagi"


" oh, ya udah gapapa. asal teteh jangan lupa ijin dulu sama Agam sekarang dia suami teteh"


" iya ayah, aa juga udah ijinin kok"


setelah makan malam yang masih sore selesai brigi membantu ibunya membawa piring bekas makan tadi kedapur, disana sudah ada Sagi yang sedang mencuci peralatan bekas makannya. sedangkan para laki laki sedang mengobrol di teras depan rumahnya.

__ADS_1


" oh iya yah, habis ini agam mau ijin pulang dulu kerumah mamah sebentar"


" mau ngapain a??" tanya sang ibu ketika keluar dari dalam rumah sambil membawa kopi ditangannya untuk ayah.


" mau ambil lemari bu, kata brigi lemarinya penuh jadi Agam mau ambil dulu yang dirumah"


" ooh.. kalo gitu nanti ayah bantu, kapan mau kesananya?"


" gak usah yah, lagian cuma lemari plastik jadi bisadi bongkar dulu, nanti habis Maghrib yah"


" ya sudah kalo begitu kita masuk sebentar lagi adzan Maghrib "


Agam pun masuk mengikuti langkah sang ayah ke dalam rumah. didalam ia tidak melihat keberadaan istrinya ia pun melangkahkan kakinya menuju kedalam kamar.


Ceklek..


Agam membuka pintu dengan pelan takut mengganggu kegiatan istrinya. dilihatnya brigi sedang duduk didepan meja riasnya sambil menyisir rambut.


" sayang " panggil Agam pada istrinya


brigi tidak menjawab hanya memperhatikan wajah suaminya lewat cermin yang ada dihadapannya.


" nanti aa mau pulang dulu ambil lemari, kamu tunggu disini ya"


" kenapa aku gak di ajak ajah sama aa??"


" kalo kamu ikut gimana bawa lemarinya?? "


" tapi aa jangan lama, dari rumah mamah langsung pulang jangan kemana mana lagi "


" iyaa, ya udah kita solat dulu abis itu aa pergi "


brigi hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti suaminya mengambil air wudhu. ini pertama kalinya ia sholat diimami suaminya sendiri.


setelah sholat Maghrib mereka keluar dari dalam kamar..


" ayah mana de?? " tanya Agam ketika hanya melihat adiknya sendiri sedang menonton televisi.


" kayanya didepan a sama ibu. aa mau kemana??"


" mau kerumah mamah Dewi sebentar ngambil lemari "


" emang si teteh gak punya lemari ya a sampe aa harus bawa sendiri?? "


brigi pun mendelik tajam ketika mendengar omongan sang adik. Agam hanya tersenyum menanggapi.


" yah, Bu " ketika ia sudah sampai dihadapan kedua orang tuanya


" mau berangkat sekarang gan?" tanya sang ayah


" iya yah takut keburu malem nanti, titip brigi ya yah " kata Agam sambil mencium tangan kedua orang tuanya


" hati hati gam "


" iya yah, sayang aku pergi dulu baik baik disini yah "


" iya a, aa juga hati hati jangan ngebut dijalannya "


" iya, Assalamu'alaikum"


"wa'alaikumsalam"


agampun pergi dengan mengendarai sebuah motor. entah kenapa hati brigi tak tenang melihat suaminya pergi perasaan nya tak enak takut terjadi sesuatu dengan suaminya tapi ia segera menepis semua itu.


sedang di jalan Agam sedang mengendarai motornya dengan santai karna jarak antara rumahnya dan brigi tidak terlalu jauh hanya memakan waktu 15 menit. dari arah belakang sebuah mobil berkecepatan tinggi mendekat,. ketika akan menyalip motor Agam dari arah depan sebuah mobil juga sedang melaju, mobil di belakang Agam kaget lalu banting stir ke kiri dan menabrak motor yang sedang dikendarai agam.

__ADS_1


BRAKKK..


tabrakan pun tidak dapat terhindarkan mobil yang menabrak motor Agam terbalik setelah menabrak pembatas jalan sedangkan Agam terpental beberapa meter..


__ADS_2