
Episode 2, perjalanan hidup Michael, part 2.
*Halo ibu, ayah!
Selamat membaca surat ini ya.
Maafin Micha ya Bu, yah, Micha udah nggak kuat buat tinggal dirumah lagi, rasanya seperti tinggal di kandang harimau.
Micha nggak kuat lagi denger ayah sama ibu bertengkar terus terusan, nggaada jeda.
Ayah sama ibu ngga kasian apa sama Micha sama kak Iky? Mental Micha tergoyahkan Bu, Ayah dan ibu gak tau kalau semenjak ini micha selalu menahan diri Bu dan bangkit dari rasa traumamental.
Ibu ga tau kan? ayah gatau kan? Ayah dan ibu cuma bisanya bertengkar terus.
Micha cape ibuu ayahhh micha capee!!
Micha lebih baik pergi Bu meski micha gatau mau kemana tapi ini lebih baik daripada Micha gila disitu.
Iya tau, Ibu sama ayah sering nurutin permintaan Micha, tapi sekarang permintaan micha adalah pengen kaya temen temen Micha keluarganya bahagia, mereka selalu mendapatkan kasih sayang. Dan pastinya ga bertengkar terus kayak ayah sama ibu!
Pasti kalo Micha bilang gini ibu selalu nyangkal dan nyuruh Micha buat ngeliat yang dibawah Micha yang lebih parah orang tuanya sampe pisah.
Tapi itu lebih baik Bu dari pada bertengkar terus kaya ibu sama ayah.
Ibu sama ayah selalu ngasih Micha pake uang , Ayah gila kerja sama kaya ibu, tapi pas ngumpul dirumah bukannya baikan tetapi berantem! Dan yang ayah sama ibu kasih ke micha selalu uang dan uang. Micha ga cuma butuh uang Bu meski micha seneng sama uang tapi ngga cuma uang terus Bu! micha butuh kebahagiaan yah!
Cuma Kaka yang sedikit mengerti keadaan Micha.
Dan ya, Micha selalu salah Dimata ayah ibu, dan Micha akui Micha sering mengecewakan ibu sama ayah, tapi sadar ngga? Itu juga karna ayah dan ibu sendiri! Kalau kalian mengerti sama Micha pasti ga bakal kaya gini.
Tapi mau gimana lagi, Micha bakalan pergi.
Tapi micha gabakalan bunuh diri kok, micha bakalan berusaha di negara orang.
Micha cuma mau minta satu aja sama ayah ibu, Jaga diri ayah sama ibu disana, jangan sampai diantara kalian melakukan yang aneh aneh, apalagi sampe bunuh diri karena kepergian Micha,
Dan yang Micha inginkan juga semoga ayah sama ibu cepet sadar yah, Micha pengen banget ayah sama ibu akur.
pengen kumpul kumpul kaya temen temen Micha, rasanya bahagia banget.
tapi apalah daya, ga terlalu berharap, cuma itu yang Micha minta sekarang.
insyaAllah, nanti micha bakal balik lagi yah, Yang terpenting kalian jaga diri ya.
Maafin Micha udah jadi anak yang ga berbakti sama kalian, selalu ngebantah, dan nakal. Tapi itu juga engaruh kalian.
__ADS_1
Maaf Micha mengecewakan yah Bu, tapi Micha janji setelah kepulangan Micha Micha bakalan buat kalian bahagia, Micha harap saat Micha pulang kalian bisa duduk bersama sama kakak dan senyuman kalian tetap tidak luntur.
Micha mau saat Micha pulang nanti kalian nungguin Micha dengan bahagia.
Micha berharap itu yah Bu.
Bilangin juga ya ke kakak, Micha pergi dulu bentar, gausah dicariin mungkin nanti pulang sendiri, cuma lagi nenangin diri aja.
gitu ya ayah, Bu.
Maaf sekali lagi dari Michael, Dan makasih buat semuanya. sehat selalu kalian, Micha sayang sama ayah sama ibu!
Sampai jumpa ibu, Assalamualaikum*.
Sebuah surat yang Micha tulis dan ia letakkan di atas meja kamar kakaknya.
Dimalam hari yang begitu dingin itu, ia menatap nanar kearah rumah yang 14 tahun sudah ia tinggali, susah sedih bersama kedua orang tua serta kakaknya.
Ia menatap kearah bulan diatas langit sana, sungguh indah.
Ia berdoa semoga ini adalah jalan terbaik.
Dengan langkah yang lesu ia berjalan kearah motor matic nya yang terparkir di area Garasi.
Disana juga ada mobil, tetapi tidak mungkin jika Micha menggunakannya meski ia sudah tahu, tetapi bocah sepertinya akan di pantau polisi haha.
Ia mulai menyalakan motornya dengan hati hati, bensinnya masih full. Helm dipakainya.
Kemudian menjalankan motornya melewati pedesaan yang ada disana, hingga ia melewati Kota kelahirannya.
3 jam kemudian, ia berada di provinsi Jawa Barat.
Hingga saat fajar mulai menampakkan dirinya, ia masih setia menyetir kendaraannya sampai ia berhenti dikapal dengan sepeda motornya.
Ya, gadis itu kini telah berada dikapal, ia bertujuan untuk tinggal di Tiongkok.
beberapa jam kemudian hari mulai siang, Micha sampai di tempat tujuan setelah semuanya selesai, ia kemudian melenggang pergi dari kapal tersebut dengan sepeda motornya.
Ia memang pandai mengendarai motor, meski usianya masih dibawah umur.
Ia juga pandai bersandiwara dirinya sudah cukup umur apalagi badannya yang seperti anak SMA saja.
Micha selama di dalam pesawat mencari perumahaan yang akan ia tinggali di Tiongkok, setelah menemukan rumah yang akan ia tinggali ia segera memesan rumah itu.
Setelah menginjakkan sepedanya di negeri asing itu, Tiongkok.
__ADS_1
Ia kemudian melajukan motornya diatas kecepatan rata rata, bensinnya tinggal setengah tapi itu lebih dri cukup.
Ia mencari komplek perumahan yang akan ia sewa itu. Begitu sampai di sana, terlihat pemilik rumah tersebut sudah menunggunya di depan teras.
Micha dengan ragu ragu ia turun dari motornya setelah memarkirkan motor tersebut di garasi rumah itu.
"Permisi pak" ucapnya dengan menggunakan bahasa Mandarin.
Ya, Micha mengetahui bahasa Mandarin namun hanya sedikit saja, sebab ia memang keturunan situ.
Orang itu berdiri dan segera menjawab. "Iya, nak. Apakah kamu yang menyewa rumah ini?" Dengan menggunakan bahasa Mandarin, Micha menjawab. "Iya pak, 10 Yuan kan selama satu bulan?" Dan segera diangguki oleh pria tua renta itu dengan senyum.
"Baik pak, ini uangnya. Terimakasih" Micha menjulurkan uang yang sebelumnya ia telah ubah menjadi mata uang Tiongkok. "Sama sama, nak, semoga betah ya. Saya pergi dulu. Jika ada apa apa bisa hubungi saya, dan ini kuncinya." Ucapnya dengan menggunakan bahasa Mandarin, Micha rada ngelag karena terlalu panjang dan di terobos oleh orang tersebut ( Berbicara dengan cepat ). Tetapi seketika ia menyunggingkan senyuman dan meng iyakan nya tak lupa ucapan terimakasih. Saat itu juga pria paruh baya itu pergi menggunakan mobilnya.
Ia sekarang memandangi rumah berlantai dua. Sederhana namun lumayan.
Apalagi terbilang murah hanya 10 Yuan saja setiap bulannya, yang jika dirupiahkan adalah Sekitar 200 ribu an mata uang Indonesia.
Ia melangkah kan kakinya sambil menenteng dua tas di sisi kanan dan kirinya yang lumayan berat itu.
Ia memandang takjub, Rumah yang menurutnya sangat murah itu terlihat mewah.
Ia, Micha kemudian menaiki lantai dua, dia sudah tau letak ruangan ruangan yang ada, karna sebelum memilih ia juga melihat isi dalam rumah tersebut.
Sesampainya dilantai dua, ia mengamati setiap lantai yang di lapisi oleh marmer yang terbilang mewah.
Setelah itu ia memasuki kamar yang diyakini adalah kamar tidurnya, ia meletakkan semua tas disana. Tubuhnya terlalu lelah akan tetapi ia tetap membereskan barang yang ia bawa itu.
1 jam berlalu, kini Micha telah selesai merapikan barang barangnya,
kamar bernuansa pink itu terasa nyaman dipandang apalagi pink adalah warna kesukaannya, ia jadi teringat kamar tidurnya semasa di Indonesia.
Dan alhasil ia teringat pada kedua orang tuanya.
BERSAMBUNG...
Ini juga sebuah motivasi ya.. buat para orang tua, untuk selalu memperhatikan anaknya, terutama yang seringkali bertengkar.
Sebisa mungkin jauhi hal seperti itu, kasihanilah anaknya.
Itu saja dari saya, selamat membaca.
Jangan lupa like, dan jika bosan atau novel ini tidak menarik bisa saja kalian skip ya, jangan menghujat. Akan tetapi kritikan dan saran sangat dibutuhkan.
Terimakasih semua, bantu support yaaa:')
__ADS_1
Salam : Dilatte.