
Episode 8, Dunia Immortal? Bersama sahabat baruku.
Di pagi yang cerah, berdiri dua orang gadis yang telah siap bertempur dengan gaya di era tersebut.
Michael atau Xia de Lucia dengan menggunakan kostum perang Romawi kuno. tak lupa, cadar merah pekat bertengger diantara hidung dan telinganya.
Matanya setajam elang, namun bulat. Netra hitam legamnya mampu membuat orang yang melihatnya terpesona. Hidung mancungnya yang menonjol dibalik cadar nya masih saja keliatan nampak. Bibir ranumnya yang berbentuk sangatlah seksi dibalik cadar merah pekat itu. Tubuhnya terbentuk, dan tingginya proporsional. Rambutnya diikat kuncir kuda
Menambah kesan tegas disana.
Sedangkan, tak jauh berbeda dengan gadis di sampingnya.
Mei Lu Che dengan kostum Chinnese ancient warrior armor. Terlihat sangat cantik. Rambutnya ia sanggul, Serta cadar merah cerah bergelantungan di wajahnya. Hidung mungilnya yang sedikit mancung dapat menyangkal cadar supaya tidak turun. Bibir merah merona nya yang kelewat Seksi.
Dapat membuat Om om tertarik , tidak hanya bercanda kok.
Seruling ia selipkan di pinggangnya dengan erat, benda pusaka utamanya.
Mereka berdua saling menatap, lalu mengangguk pelan.
"Kita bisa, Kita siap!" Ucap mereka serempak, kemudian menatap kearah depan secara bersamaan.
Barang barangnya telah ia simpan didalam tubuhnya (hehe) menggunakan sihir maksudnya.
Mereka berdua perlahan berjalan menyusuri hutan. Pastinya, Lu Che yang memimpin jalan.
Butuh waktu berjam-jam untuk sampai di pemukiman warga. Dan itu pun masih ada gangguan dari penghuni hutan tersebut. Akan tetapi, bagi mereka Easy ezzz.
Dam! Mereka telah sampai di pemukiman warga, setelah melewati berbagai rintangan dan waktu berjam jam mereka akhirnya sampai, meski hanya sampai di pemukiman bukan di pusat kotanya.
Micha menatap keseluruhan pemandangan itu. Sangat indah, pikirnya.
"Lu Che, kita akan kemana?" Tanya nya pandangannya tetap menyelusuri pandangan didepannya, atasnya, bawahnya, hingga sampingnya, xixixi.
Lu Che pun menoleh kearah sumber suara, "Ini sudah siang, matahari sangat terik. Kau ingin singgah dulu atau akan terus berjalan?" Tanya nya balik. Sesungguhnya ia juga bingung mau kemana, payah.
Micha akhirnya menoleh mengabaikan pemandangan yang ada, "Ya, kurasa kau benar. Lebih baik kita singgah dahulu. Mungkin ada yang baik dan memberikan tumpangan pada kita." Segera setelah Micha mengatakan itu, Lu Che akhirnya mengangguk dan memberi kode untuk mengikutinya.
"Disana, kita numpang saja disana." Lu Che menunjuk tempat yang akan mereka singgahi, Sebuah rumah gubuk dari kayu.
__ADS_1
Micha mengangguk, Pikirnya Begini amat ya, kehidupan di dunia ini ga kaya di dunia asli gue, tapi gak apa lah seru juga.
Ia pun mengikuti arah yang ditunjuk Lu Che, dan singgah sebentar.
"El, eh Xia-- begini, sebenarnya aku juga tidak tau ingin kemana, itu tergantung padamu." Ujarnya membuka suara setelah duduk.
Micha melirik sekilas pada orang disampingnya, kemudian menatap orang yang berlalu lalang. "Akupun juga tidak tau, Yang pastinya kita menjelajahi dunia ini dengan menutupi identitas kita, kan?" Tanya Micha, ia tetap berfokus pada pemandangan didepannya.
Lu Che mengangguk, Kemudian diam. Sedetik kemudian ia berkata, "Kalau begitu, aku ingin bertanya padamu." Setelah ucapan itu keluar dari mulut Lu Che, ia berbalik badan sepenuhnya mengarah pandang ke arah Micha.
Micha juga menatapnya dengan serius, ia merasa itu sangat penting, setelahnya ia mengangguk mengiyakan.
Lu Che menatap Micha intens, ia kemudian kembali berkata, "Sebenarnya, aku memiliki dendam kepada seseorang. Dia sudah menghancurkan keluargaku. Dan bahkan, dia lah yang membuat aku terkena kutukan es itu. Dan, kau lah yang dapat menyelamatkan ku dari kutukan itu, Michael. Aku rasa aku sangat senang saat kau mengatakan kita adalah sahabat. Aku tak pernah memiliki seorang sahabat." Airmata nya kembali luluh membentuk sungai yang mengalir di pipinya yang tertutup cadar, Ia menatap lekat mata hitam legam milik seorang yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
Sedangkan, Micha yang ditatap juga terhanyut dalam keadaan, ia juga nampak berkaca kaca, entahlah.
Lu Che menarik nafas dalam dalam sembari tangannya mengusap matanya yang telah dibanjiri air mata.
"Aku, tidak pernah keberatan bahkan jika aku mati untuk sahabatku sendiri--" Ucapannya terhenti saat Micha menyanggah kalimatnya. "Lu Che! Apa yang kau katakan. Jangan membuat keadaan menjadi sedih, kita akan berjuang bersama, ingat. Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi, Langsung saja mengarah pada intinya." Lu Che mengangguk sambil mengusap kembali air matanya yang berkali kali telah lolos keluar dari mata bermanik cokelat hazelnya.
Ia kembali melanjutkan. "Aku sangat senang saat mempunyai seorang sahabat yang kini bersamaku, aku bahkan tidak pernah menangis. Tetapi, baru kali ini aku menangis, didepan orang yang aku anggap sangat spesial ini." Ia kembali menarik nafasnya dalam dalam, lalu menghembuskannya. "Aku merasa memiliki banyak hutang Budi pada sahabatku yang cantik ini, yang entah dari mana. Namun, dia sangatlah spesial melebihi apapun.
Jadi, Sahabat.. Apakah kamu mau membantuku untuk kesekian kalinya?" Ucapnya bergetar menahan tangis, ia merasa sudah sangat banyak merepotkan orang didepannya itu.
Ia mengangguk, meski tak tau harus membantu apa.
"Ya, katakan saja Lu." Kata kata singkat itu mampu membuat Seorang Lu Che terharu.
Ia kemudian meraih tangan Michael yang lembut dan putih seputih susu. "El, terimakasih." Ucapnya lagi, Dia sangat berbelit Belit.
"Aku, membenci saudari tiriku, namanya Mei Guang Li, Dia sudah banyak menghancurkan keluargaku, bahkan tahtaku.
Aku dulu adalah calon permaisuri kerajaan Lugowei, Tetapi, karena Guang Li tidak terima, ia merebut tahtaku dengan cara memfitnahku.. Sebenarnya banyak sekali kejahatan yang telah ia lakukan, aku akan menceritakannya tetapi tidak Sekarang.
Guang Li, sekarang dia menjadi permaisuri di kerajaan Lugowei. Aku sangat membencinya melebihi apapun. Aku bersumpah, setelah kutukan es beku itu hilang, aku akan membalaskan dendam ku." Ia menjeda ucapannya.
"Dan, aku tidak berniat untuk membawamu ke dalam permasalahan ku.
Akan tetapi, sangat dibutuhkan seorang teman sejati, tidak hanya seorang diri.
__ADS_1
Aku benar benar minta maaf padamu, El. Tapi, kali ini saja, kau adalah sahabatku satu satunya. Kau adalah orang yang sangat spesial menurutku.
Bisa kah kita bersatu? Aku ingin membalaskan dendam ku, El.
Setelah semuanya terbalas, aku berjanji apapun yang kamu mau, aku akan menurutinya. Aku bersumpah atas nama dewa." Kata katanya mampu membuat Micha mematung, ia mengerjap ngerjapkan matanya berkali kali.
"Emm, baiklah Lu Che, tetapi? Apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu?" Micha menatap wanita itu.
"Tujuan utama kita adalah, meminta bantuan kepada raja diatas raja di dunia ini."
"Humm? Siapa itu?" Micha penasaran.
"Dia adalah raja diatas raja didunia ini. Aku hanya bisa meminta bantuan kepadanya terlebih dahulu, supaya lebih memudahkan perjalanan kita.
Dia lebih tau dari kita," Jelas nya memberikan kesan penasaran pada Micha.
"Ouh begitu, tapi siapa namanya?" Pertanyaan itu membuat Lu Che menghentikan menatap wajah Micha. Ia menjawab. "Sebenarnya ini tidak boleh, Asmodeus prince Leviathan De Lucifer. Nama panjang putra yang mulia Raja Asmodeus Behemoth Lucifer, seorang raja diatas raja. Besok, dia akan diresmikan sebagai raja kita." Ujarnya.
Micha mengangguk anggukkan kepalanya, "Ooo, baiklah." Singkat nya.
"Kita akan kesana dalam waktu dekat ini." Lu Che memberitahukan.
Micha kembali mengangguk singkat, "Seberapa jauh?" Ia bertanya dengan mara yang tak menatap lawan bicaranya. "Terbilang cukup jauh. Dan kerajaan tempat tinggal raja Leviathan berada di atas langit. Kerajaan Skyfer Diamond.
Kerajaan yang paling besar dari semua kerajaan yang ada, kita akan melewati beberapa rintangan saat hampir mendekati istana langit itu." Lu Che menjelaskan dengan sabar, sudah pasti Micha hanya mengangguk, kemudian kembali bertanya.
Micha mengangguk lagi, ia nampak melihat sebuah taman yang berisikan bunga bunga tak berujung dari jauh. Ia menyenggol lengan Lu Che, kemudian menunjuk taman berbunga itu.
Seolah mengisyaratkan bahwa ia sangat ingin kesana. Lu Che yang mengerti kemudian tersenyum, dan mengangguk. "Ayo!" Ucapnya singkat kemudian berdiri saat Micha menarik tangannya tak sabaran.
Dan disinilah mereka berdua, di taman bunga yang luas, nan tak berujung.
Mereka berdua tertawa kecil berlarian kesana kemari layaknya anak kecil.
Micha sangat menyukai bunga tulip diantara semua bunga yang ada, ia merasa senang. Seperti disyurga rasanya.
Sedangkan Lu Che berbicara dengan peri peri kecil yang mengerubungi taman bunga tersebut. Ya, ada peri kecil disana.
Mereka berdua tampak senang.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
HAPPY Reading pada readers tercinta.