
Episode 7, Tahap Penyembuhan.
4 Bulan setelah berhasilnya Michael menguasai benda pusakanya. Ia bahkan Tampak sangat lebih kuat dari sebelumnya.
Kini Gadis bernama Xia De Lucia itu sedang terbaring lemah diatas ranjang kamar Lu Che.
Ya, gadis itu jatuh sakit karena badannya tak cukup kuat untuk menerima segala kekuatan yang telah menyatu dengan tubuhnya.
Auranya tampak kuat sekali, Namun sayangnya gadis itu masih terkulai lemah diatas Ranjang berukuran sedang milik Lu Che.
Sudah 1 Minggu Michael terbaring lemah di sana. Ia masih menerima segala kekuatan yang menyatu dengan tubuh gadis itu. Setiap malam, Gadis itu pasti bergerak gerak seakan bermimpi buruk.
Lu Che tak bisa apa apa, karna memang itulah konsekuensi nya, Apalagi Michael yang terlalu giat berlatih bahkan sangat semangat setelah pertengahan belajar.
Lu Che mengira gadis itu tak kuat, namun diluar dugaannya, Ia bahkan sangat kuat dan hebat bisa menguasai dan melafal semua Teknis sihir, kekuatan spiritual, bela diri, dan lain lain.
Lu Che juga berfikir, mungkin yang dialami Michael saat ini adalah sangat sangat lumayan. Karena sebenarnya seorang yang menguasai ilmu sihir lebih dari 1000, pasti akan menerima efek kejang kejang dan sakit selama berbulan bulan.
Tidak dengan Michael, Yang saat ini baru seminggu sudah muncul pertanda ia akan bangun dari alam bawah sadarnya.
Hingga saat dua hari setelahnya, Micha tersadar dengan membuka perlahan matanya. Ia menyesuaikan cahaya di dalam ruangan itu sembari mengerjap ngerjapkan matanya yang memiliki netra berwarna hitam legam.
Gadis yang kini kita sebut Xia De Lucia itu bangun dari tidurnya dan berusaha duduk sambil menyenderkan tubuhnya dipunggung kasur.
"Lu Che, apa yang telah terjadi?" tanyanya sedikit panik.
"Anda tidak sadarkan diri selama 1 minggu nyonya, efek dari seluruh kekuatan yang anda pelajari selama ini." Jawabnya menatap ke lantai.
"Oh begitu, ya? Ugh badanku terasa sakit semua." Ungkapnya.
"Istirahat dulu saja nyonya, Saya akan membuatkan anda sup dan ramuan supaya cepat pulih." Ujar Lu Che setelahnya pergi keluar dari ruangan menuju dapur.
Micha menuruti kemauan Lu Che, ia berbaring lagi sembari memijati kepalanya yang terasa nyut nyutan dan pusing. Tubuhnya terasa sangat remuk. Bahkan seperti ada kekuatan yang mengelilingi tubuh Micha.
Micha tenggelam dalam pikirannya, inilah yang ia inginkan, masuk kedunia lain dan merasakan seperti di film film, dan itu benar-benar tercapai.
__ADS_1
Sekilas senyum muncul di kedua sudut bibir ranum tersebut.
Ia memejamkan mata.
Selang beberapa menit, Lu Che kembali memasuki ruangan dengan membawa nampan berisi sup, bubur, air putih, dan juga ramuan.
Perlahan, ia membuka mata setelah Lu Che memanggilnya.
Kemudian Lu Che membantu Majikannya untuk duduk.
Lu Che mengambil bubur, ia menyuapi Micha dengan telaten.
Mata Micha menatap Lu Che sambil menelan buburnya. Ia terharu, entahlah.
Lu Che yang merasa ditatap pun menatap balik Majikannya itu. Hingga manik mata mereka bertemu. "Ada apa nyonya? Apa anda butuh sesuatu?" Tanyanya memastikan. Micha menggeleng, Air mata menetes dari pipinya, kemudian ia menghapusnya dengan kedua jempolnya. "Tidak, Lu Che. Aku hanya merasakan Dejavu. Aku, Aku tersentuh dengan segala perlakuan kau pada ku." Manik mata hitam legam itu menatap manik mata berwarna cokelat hazel didepannya. Ia menghentikan kalimatnya setelahnya berucap. "Terimakasih." Kemudian saat itu juga Lu Che menitikkan air matanya. Ia tak tau, ia juga merasa tersentuh, mungkin pengaruh keadaan.
"Tak apa nyo-" Kalimat Lu Che terhenti saat Micha memotongnya. "Jangan panggil aku nyonya lagi, bisakah kita bersahabat, Lu Che?" Pernyataan serta pertanyaan itu membuat Lu Che mematung. Tak lama ia mengangguk tersenyum. Air matanya ia hapus menggunakan tangannya. "Baik lah, El kita sahabat." Ucapnya dengan tersenyum gembira, hidungnya memerah karna habis menangis. Micha tersenyum gemas melihat itu semua. Ia mencubit Hidung mungil Lu Che. Sedangkan yang di cubit terlihat kesal namun lucu dimata yang melihatnya.
"Ishh, El! Jangan cubit hidungku beginiiii! Lebih baik kau makan dulu sup ini supaya cepat pulih." Lu Che dengan gemasnya menarik paksa tangan Michael yang sempat mencubit hidungnya lagi.
Dan Michael harus istirahat agar ramuannya bisa menyebar ketubuhnya.
*****
Lima jam kemudian, Michael terbangun dari tidurnya. Ia merasa lebih baikan dari pada sebelumnya. Bahkan ia bisa menari nari tak jelas lagi.
"Lu Cheeeeee! Oh Lu cheeeee dimana kamuuu aku DiSiNIiii." Teriaknya menggema di rumah itu.
Lu Che pun berlari sekonyong-konyong ke arah dimana Michael berada.
Gadis itu tampak lebih bersemangat dari sebelumnya. "Heii kenapa kau bengong? Dimana letak kamar mandi, aku ingin mandi." Tanya nya pada Lu Che.
Lu Che pun tersadar dari lamunannya, ia pun dengan cepat menjawab. "Ehhhh, Dimana ya.. Eh disana." Ucapnya dengan menunjuk salah satu pintu yang sudah tak terawat, Micha berjalan kearah yang ditunjuk Lu Che. Namun tak ada apa apa.
Ia segera berbalik dan pergi kearah dimana Lu Che berdiri. "Hei, dimana? Kamu menipu ku, ya?" Ungkapnya to the point.
__ADS_1
Lu Che memutar bola matanya malas. Ia pun menarik paksa tangan Michael Dengan halus kemudian menuntunnya.
Disana terdapat sebuah air telaga yang luas. Ia menunjukkan nya pada Micha yang sudah melongo. "El, ini tempat pemandiannya. Jangan berfikir bahwa dunia ini sama seperti di duniamu." Ujarnya kemudian menepuk lembut bahu Michael dan pergi meninggalkan Michael sendirian.
Michael pun perlahan turun dan merasakan kakinya yang lembut merasa dingin. Airnya berwarna biru segar, dan bening. Ia kemudian langsung menyeburkan diri kedalam telaga itu.
Auranya berkali-kali lipat terpancar saat selesai mandi, ternyata telaga itu bisa membuat orang lebih cantik yaa.
Michael pun pergi kekamar Lu Che, ia membuka pintu lemari. Dan mengambil salah satu baju yang akan ia pakai.
Tubuhnya sangat pas dengan baju itu, eh terbalik.
Ia merasa cantik saat memutar balikkan tubuhnya didepan cermin.
Kemudian ia merias wajahnya dengan berbagai alat rias yang ada disana.
Ia memolesi wajahnya tipis tipis tak lupa pelembab di bibirnya supaya terlihat lebih segar.
Ia keluar dan menghampiri Lu Che yang sedang asyik membersihkan rumah.
"Luu cheeeee aku cantik tidak?" Tanya nya dengan melompat lompat tidak jelas.
Lu Che merasa El sahabatnya itu memang benar benar cantik. "Yaa, kau cantik." Jawabnya seadanya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Eummm, kapan kita akan pergi kedunia luar di dunia ini?" Tanya Micha kembali dan menatap Lu Che yang kemudian menatapnya.
"Untuk itu, kurasa dua hari lagi. El, kita harus menyiapkan semuanya dan harus mempersiapkan diri." Jelasnya pada Sahabatnya yang nampak sedikit bersedih, mungkin karena ia sangat ingin mengetahui dunia luar, Tidak hanya di tengah tengah hutan.
******
Keesokan harinya, Michael dan juga Lu Che telah mempersiapkan semuanya, Mulai dari pakaian, pedang, ramuan, dan juga beberapa barang lainnya, telah siap termasuk Diri mereka sendiri. Mereka berdua kemudian berjalan kearah kasur dan memaksakan diri untuk tidur lebih awal setelah menyelesaikan persiapannya.
****
__ADS_1
BERSAMBUNG...