Dunia Keluarga Suami

Dunia Keluarga Suami
Bi, Nikah Yuk?


__ADS_3

Di sebuah Restoran besar di Ibukota, Terlihat seorang Wanita tengah sibuk mencuci piring kotor dalam jumlah yang sangat banyak.


Tiap satu tumpuk piring kotor berisi 15 hingga 20 piring. Benda bulat dan lebar namun kotor itu, tak kunjung selesai di kerjakan, lantaran seseorang lagi-lagi meletakkan tumpukan piring kotor di westafel tempat mencuci piring.


Melihat piring kotor yang semakin menumpuk, Wanita itu mempercepat gerakan tangannya agar mengurangi jumlah piringnya.


Namun lagi-lagi, Seseorang meletakkan kembali tumpukan piring kotor dan berminyak di Wetafel yang sudah kosong.


Hal itu membuat Wanita bernama Arumi kesal, ia melempar sarung tangan cuci piringnya ke westafel yang masih berisi air, hingga mencipratkan air ke wajahnya.


" Sialan! " Gumam Arumi dalam hati. Setiap hari harus bergelut dengan piring kotor, selama hampir satu tahun.


Pekerjaan paru waktu ini di lakukan, setelah Arumi menyelesaikan pekerjaan lainnya.


Terlahir di keluarga pas-pasan membuat Arumi harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Apalagi setelah Ayah-nya meninggal, bukannya mendapatkan warisan tanah atau uang, Arumi justru mendapat Warisan Hutang yang di lakukan oleh mendiang Ayah-nya.


Dari 4 bersaudara, Hanya Arumi lah yang mau mempertanggung jawabkan Hutang milik Ayah-nya.


Selain untuk menghidupi dirinya sendiri, Arumi harus memberi nafkah pada Ibu dan juga adiknya.


Kedua kakaknya sudah memiliki kehidupannya masing-masing, sehingga tak membuat Arumi harus meminta pada mereka.


Memiliki hubungan yang renggang, membuat Arumi kesulitan saat tengah menghadapi Problema hidup.


Namun di sisi lain, Arumi memiliki seseorang untuk berkeluh kesah. Seseorang yang mampu meluruhkan rasa lelahnya ketika selesai bekerja.


Dia adalah Mahardika, Pria yang kerap di sapa Dika, tak lain ialah Kekasih Arumi. Hubungan keduanya sudah terjalin selama 4 tahun.


Tepat pada pukul 11 malam, Arumi akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu keluar dari gedung Restoran, sambil menekan tengkuk lehernya karena merasa lelah.


Wajahnya begitu lelah, bahkan lupa untuk mengelap keringatnya terlebih dulu.


Hingga suara Klakson motor berhasil mengejutkan Wanita itu.


" Ka, kamu ngagetin aja! " Celetuk Arumi, menoleh ke arah pengendara Motor tersebut.


Rupanya dia adalah Dika, Pacar Arumi yang datang untuk menjemputnya.


" Lagian kamu jalan sambil ngelamun. Ayo naik! " Sambil menegur, Dika menyodorkan helm bermerk Ink kepada Arumi.


Taka banyak Waktu, Arumi segera mengenakan helm tersebut, lalu naik di Jok belakang motor matic yang di kendarai Dika.


Udara malam hari cukup menyegarkan, ketika di nikmati dari atas motor. Ini bukan pertama kalinya bagi mereka melakukan hal ini.


Hal sederahana, namun sangat ajaib dan membuat rasa lelah seketika hilang.


Di selingi dengan candaan, Dika mengusap lutut Arumi, saat tengah menunggu lampu merah berganti menjadi Hijau.


Saat ini, Arumi merasa sangat di cintai. Ia merasa menjadi Wanita paling bahagia, karena bertemu dengan Dika, yang mau menerima dirinya apa adanya.

__ADS_1


" Bi.. Nikah Yuk? "


Sambil menyenderkan dagunya di pundak Dika, Wanita itu berkata lirih. mengingat pepatah, bahwa Menikah adalah solusi untuk menghentikan penderitaan yang selama ini di rasakan.


" Memang kamu sudah siap? " Tanya Dika, menatap wajah Arumi dari kaca spion sebelah kiri.


Namun hanya di sahuti dengan anggukkan kepala.


Bukannya putus asa, hanya saja Arumi tidak ingin lagi merasakan lelahnya bekerja. Tertekan oleh atasan, atau rekan-rekan kerja yang tidak sejalan dengannya. Hal itu cukup memilukan bagi Arumi.


Memangnya, mau sampai kapan Aku begini?


Lagi-lagi Arumi melamun di perjalanan. Tatapannya menatap ke sembarang arah, namun pelan-pelan sayup, dan hampir terpejam. Bahkan Dika tak tega melihatnya.


Pria itu lalu mengusap tangan Arumi, yang melingkar di perutnya.


" Kalau kamu benar-benar sudah siap, besok aku akan datang bersama keluargaku " Tutur Pria itu, tetapi mungkin tak terdengar oleh Arumi yang sudah terpejam.


Dika sangat mencintai Arumi, karena telah menemaninya saat dirinya tak memiliki pekerjaan. Berkat campur tangan dukungan dari Arumi, kini Pria itu sudah memiliki pekerjaan tetap menjadi Staf di salah satu Perusahaan Manufaktur di Indonesia.


Selamat 4 tahun berpacaran, Dika tidak sering membawa Arumi ke rumahnya untuk bertemu dengan Keluarganya. Hanya bisa di hitung dengan jari.


Perjalanan menuju ke Rumah menghabiskan waktu 15 menit, kini Dika menepikan Sepeda Motornya, di depan Rumah Arumi.


" Mi, kita sudah sampai! " Pelan-pelan, Pria itu membangunkan Kekasihnya dengan lembut.


Arumi mengerjapkan matanya, dan tersadar jika dirinya sudah sampai di Rumah.


Dika mengangguk pelan, ia mengerti bahwa Kekasihnya sangat Lelah, karena bekerja seharian hingga larut malam.


" Oh ya, untuk yang tadi. Kalau kamu sudah siap, besok aku akan datang bersama orang tuaku untuk membicarakan pernikahan Kita " Ujar Dika, mengusap Rambut Arumi.


" Apa? Memangnya harus secepat itu, Bi? " Katanya terdengar kaget. Pasalnya, Arumi berkata sembarang saja, saat hampir memejamkan matanya tadi.


Panggilan kesayangan mereka adalah, Mi dan Bi. Sehingga tak ayal, jika Arumi tak memanggil Dika dengan namanya.


" Bukannya kamu tadi mengajakku menikah. Maka aku akan mengabulkannya, apa kamu senang? "


Kedua sejoli itu, seakan tak ingin berpisah. Mereka masih mengobrol ringan di depan rumah Arumi.


" Cih, kamu sendiri gimana? Senang nggak kalau menikahiku? "


" Tentu saja, saat ini aja aku masih ingin bersama. Tapi sayangnya, Waktu sudah larut! Aku pulang ya, Mi? " Tutur Dika, menunjukkan wajah manja.


" Hati-hati di jalan, Ya Bi? Kalau udah sampai rumah, kabari aku "


Dika tersenyum menatap Arumi, sebelum melajukan Sepeda Motornya.


Sementara itu, Arumi hanya bisa menatap Dika yang semakin tak terlihat wujudnya.

__ADS_1


Arumi lalu segera masuk ke dalam Rumahnya, karena cukup dingin berada di Luar.


Wanita itu selalu membawa Kunci cadangan, agar tak mengganggu istirahat ibunya di tengah malam.


Karena waktu sudah larut, Arumi dan Dika tak sempat makan bersama. Namun begitu, Dika sempat membelikan cake di Mini market untuk mengisi perut Arumi sebelum tidur.


Hanya saja, Arumi ingin memakan makanan berkuah saat ini, sehingga Wanita itu memilih untuk memasak Mie Instan di dapur.


Rumah kecil 4 petak itu, memiliki dapur berukuran mini. Namun cukup bagi Arumi, untuk membuat suatu masakan untuk keluarganya.


Beberapa saat kemudian, Mie instan tersebut matang dengan sempurna. Arumi lalu membawanya ke meja makan, dan segera menyantapnya.


Namun, saat baru mengangkat sendoknya, tiba-tiba adik laki-laki Arumi terbangun dan menghampiri dirinya.


" Ada apa Al? Kamu mau Mie? " Tanya Arumi, melihat gelagat Adiknya.


" Minta uang Mbak! "


Adik laki-laki Arumi, yang bernama Alvaro itu baru menginjak kelas VIII SMP.


" Memangnya mau kemana jam segini? Ini sudah malam, Al. Mending kamu tidur!!! " Tegur Arumi, merasa kesal di buatnya.


" Aku mau ke Warnet! Minta 10 ribu saja, pelit banget!!! "


" Bukannya mbak Pelit, tapi ini sudah malam! Anak seusia kamu tuh jam segini Istirahat aja!!! " Selera makannya mendadak hilang, gara-gara Alvaro.


" Ck, ***** banget! "


Alvaro mendengus kesal, ia bahkan menghentakkan kakinya kembali masuk ke Kamar.


Arumi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Semakin tumbuh besar, Alvaro semakin bisa menjawab ucapannya.


Mereka terkadang berdebat, hanya karena urusan sepele. Namun begitu, tak membuat Arumi membenci Alvaro.


****


Keesokan harinya, Arumi mengambil Cuti kerja, mengingat tentang ucapan Dika semalam.


Sejak pagi, Arumi sudah membersihkan Rumahnya. Mana kala, Keluarga Dika jadi datang, sehingga Wanita itu menyiapkannya sebaik mungkin.


Arumi bahkan sudah mengatakan pada Ibunya, Beliau tak keberatan jika Arumi akan menikah. Hanya saja, Lasmi hanya bisa menyaksikan di atas kursi Roda.


Sementara itu, Kedua kakak-nya tidak ada yang datang meskipun Arumi sudah memberinya kabar.


Rupanya, Ucapan Dika benar-benar Serius. Pria itu datang bersama Kedua Orang Tuanya, serta tetua yang lain untuk melamar Arumi.


Di temani oleh Lasmi, Alvaro dan juga Pamannya, Arumi menyambut dengan tangan terbuka keluarga Dika.


Setelah banyak membicarakan tujuan utama-nya, kini Dika dan Arumi duduk berhadapan.

__ADS_1


" Bagaimana, Nak Arumi. Apa kamu mau menerima Lamaran Mahardika? " Tanya Salman, selaku Ayah kandung Mahardika.


***


__ADS_2