
Saat Arumi dan Dika berjalan munuju ke Warung sate langganan mereka, Tak di sangka ada sebuah mobil yang melaju begitu cepat, sehingga hampir saja membuat Arumi celaka.
Beruntungnya, Dika cepat tanggap. Ia sigap menangkap tubuh Arumi dari bahaya.
"Kamu ngga apa-apa kan, Mi?" Tanya Dika, merasa was-was.
Terlebih Arumi, Wanita itu hanya mengangguk dengan tatapan yang tak bisa di ungkapkan. Wajahnya begitu panik, karena hampir saja dirinya dalam bahaya.
"Ayo masuk, kita minum air dulu biar kamu tenang!" Sambil memapah Kekasihnya, Dika melirik ke arah belakang guna mengetahui siapa pemilik mobil yang hampir mencelakai calon istrinya.
Namun sayangnya mobil itu sudah tak terlihat. Banyak yang mengatakan, bahwa menjelang pernikahan seseorang harus selalu hati-hati, karena ada banyak ujian yang terduga.
Untuk menenangkan Wanita yang akan menjadi Istrinya, Dika memberikan sebotol air mineral untuk Arumi.
Wanita itu masih sangat terkejut, karena baru saja mengalami hal bahaya.
"Habis ini kita pulang, ya. Kita ngga boleh terus di luar, karena kita mau menikah" Ujar Dika, membelai kedua pundak Arumi. Menurut kepercayaan keluarganya, calon pengantin tidak boleh terlalu sering keluar rumah. Takut (sial) katanya.
Sementara Arumi, ia hanya menggangguk dan tersenyum menatap Calon suaminya. Ia lega, sekaligus bahagia karena telah menemukan sosok Pria seperti Dika.
"Makasih, Bi.. " Dalam hati Arumi bermonolog.
***
Setelah selesai menikmati makanan favoritnya, Mereka lalu kembali untuk pulang.
Seperti biasa, Dika terlebih dulu mengantar Arumi ke rumah. Hubungan di antara mereka jarang sekali mengalami perdebatan.
Arumi yang tenang dan tidak suka mempermasalahkan hal sepele. Juga Dika, yang kalem dan tak suka mendebat. Keduanya sangat terlihat serasi, bahkan teman-teman mereka pun merasa iri dengan hubungan percintaan mereka.
Setibanya di rumah, Arumi membereskan tiap sudut ruangannya agar lebih rapi. Itu adalah aktifitas sehari-harinya. Ibunya yang sudah tua tak bisa banyak bergerak, untuk sekedar beres-beres rumah.
Namun Arumi tak mempermasalahkan hak tersebut. Ia menjalaninya dengan sepenuh hati, semata-mata untuk keluarga.
Arumi menyiapkan Sate yang juga di bawa pulang tadi, untuk lauk Ibu dan adiknya.
*****
Singkat waktu...
Hari pernikahan Arumi pun telah tiba. Dika menyewakan gedung untuk acara pernikahan sakral mereka, mengingat bahwa Rumah Arumi terlalu kecil untuk sebuah acara keluarga besar.
Hari ini Arumi tampak sangat cantik, dengan balutan kebaya putih serta siger sunda sebagai mahkota di kepalanya. Arumi tengah di tata oleh dua orang MUA, untuk menyempurnakan penampilannya.
Sementara di sudut lain, Ada seorang Pria yang tengah gugup untuk mengucap janji suci dengan Kekasihnya.
Dia adalah Mahardika. Pria yang siap meminang Arumi sebagai Istrinya. Di saksikan oleh keluarga besar dari dua belah pihak, Dika semakin gugup. Tangannya memucat, karena bagaimanapun, ini adalah yang pertama kalinya bagi Dika.
"Apa kamu sudah siap, Nak Dika?" Tanya Pramono, selaku Penghulu pernikahan mereka.
Dika lalu mengatur nafasnya agar lebih tenang, dan di susul dengan anggukkan kepala.
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai"
Pramono lalu mengangkat tangannya, untuk di jabatkan pada mempelai Putranya.
Suara gelegar seorang pengulu pun mulai terdengar melalui mic yang di gunakannya.
Sebuah Akad nikah, yang begitu sakral terdengar begitu serius. Semua saksi yang ada disana dengan tenang menyimak, dan menyaksikan Akad Nikah antara Dika dan juga Arumi.
__ADS_1
"Saya terima, Nikah dan Kawinnya Arumi Dewi Binti Alfareza dengan emas kawin berupa set Perhiasan 15 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai"
Dengan satu tarikan nafas, Pria bernama Mahardika berhasil mengucap Janji suci dengan Wanita bernama Arumi.
"Bagaimana para saksi?"
Pramono lalu mengangkat kedua tangannya, sambil mengucap kata 'Alhamdulillah' Ketika para saksi mengatakan SAH.
Akhirnya, Keduanya telah resmi menjadi pasangan Suami Istri. Arumi lalu menautkan tangannya pada tangan Dika, serta mencium punggung tangan Pria yang kini bisa di sebut suaminya.
Begitu pula dengan Dika, yang tak segan menunjukkan rasa cintanya di depan umum, dengan cara mencium kening Arumi.
Lalu doa-doa kembali di jabarkan oleh Pramono. Beberapa orang disana ikut serta mendoakan, kedua mempelai pengantin yang tengah berbahagia.
Ucapan selamat keluar dari mulut-mulut para kerabat yang hadir menjadi saksi Pernikahan mereka.
Hari ini adalah hari paling bahagia bagi Arumi. Keinginannya untuk menikah telah tercapai, tentu saja Wanita itu juga sangat bersyukur.
Tepat setelah akad nikah di selenggarakan. Pihak keluarga Dika mengadakan resepsi pernikahan mereka. Sekaligus juga mengundang para tamu undangan, mulai dari rekan-rekan, serta kerabat dekat mereka.
Namun tidak dengan Arumi, Wanita itu justru tak menyebar undangan. Hanya ada beberapa teman kerjanya saja yang menghadiri pernikahannya.
Awalnya Arumi tak tahu, jika keluarga Dika akan mengadakan resepsi yang cukup meriah ini. Pasalnya, ia tak ingin memberatkan pengeluaran Dika dengan Resepsi yang di adakan, baginya dengan sebuah Akad nikah saja sudah cukup.
Disana, para tamu undangan mulai kembali memerikan selamat pada yang berbahagia. Di hari yang bahagia ini pun, Arumi terus menunjukkan wajah senyumnya di hadapan orang-orang.
*****
Hingga akhirnya, Acara pun telah berlalu. Rasa capek tentu di rasakan oleh keluarg, terlebih Arumi dan juga Dika.
Setelah acara berlalu, Dika lalu berencana untuk mengajak Arumi menginap di hotel dekat gedung acara resepsi pernikahan mereka.
Pria itu menghampiri Istrinya, yang tengah membereskan perlengkapan baju pengantinnya.
"Iya mi. Aku kan Cowo, jadi cepet beres! Kamu masih lama?" Tanya Dika, duduk di sofa sambil menatap Istrinya, yang masih di lucuti tatanan rambutnya.
"Sebentar lagi, Pak. Duh pasti ngga sabar, ya? Hehe" Celetuk Anisa, seorang penata rias sekaligus penata rambut Arumi.
Dika hanya tersenyum, sambil menatap Arumi dengan malu-malu. Keduanya saling menatap dari pantulan cermin.
Tak lama setelah menghabiskan waktu sekitar 25 menit, Akhirnya Anisa selesai membersihkan make up Arumi.
"Udah selesai kan, Mbak?" Tanya Arumi, sambil menatap wajahnya di depan cermin.
"Sudah, Non. Buruan tuh udah di tunggu Pak suami, xixi" Anisa lalu menggoda Arumi, dengan membisiki telinganya.
Arumi hanya bisa manahan malu, lalu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Dika yang sudah lama menunggu.
"Ayo?" Ucap Arumi, membangunkan Dika yang hampir ketiduran menunggu dirinya.
Dika sedikit tersentak, namun ia segera bangun saat melihat Arumi di hadapannya.
"Makasih ya, Mbak? Kami permisi dulu" Arumi lalu berpamitan terlebih dulu, pada Anisa yang sejak pagi sibuk mendadani dirinya.
"Iya, semangat ya kalian? Jangan buru-buru, Hehe" Anisa terlihat semangat, menggoda pasangan pengantin baru itu.
Kini keduanya berjalan berdampingan, dengan perasaan yang tak karuan. Deg-deg'an sekaligus gugup telah menguasai mereka.
"Bi, kita mau kemana?" Tanya Arumi, masih berjalan di samping Dika.
__ADS_1
"Karena sudah kemalaman, Gimana kalau kita menginap di hotel cempaka saja? Lokasinya tepat di depan gedung ini, jadi kita tinggal nyeberang jalan raya saja dari sini" Dika pelan-pelan menjelaskan pada Istrinya.
Mendengar hal itu, Arumi menghentikan langkahnya. Jantungnya semakin tak karuan, ia tak bisa mengelak bahwa dirinya sudah resmi menjadi Istri Dika.
"Mi, kenapa diam?" Dika berbicara sendiri sambil terus melangkah. Namun saat menyadari tak ada respon dari Arumi, Pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
Dika mengernyit, namun tak segan segera kembali menghampiri Arumi yang terdiam mematung.
"Mi, ada apa?"
Lamunan Arumi terbuyar, ketika mendengar suara Dika yang cukup mengejutkan.
"Nggak apa-apa kok, Bi"
"Ayo!" Tanpa malu-malu lagi, Dika menggandeng tangan Arumi.
Lagi pula kenapa harus malu, dia kan Istriku! Begitu kata Dika.
Selang beberapa saat kemudian, sampailah mereka di Hotel Cempaka. Keduanya baru saja memesan kamar suite, untuk hari spesial mereka.
Wanita bergelar Istri itu semakin berdebar, ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa malam ini.
"Mi, kamu masuk duluan ya? Aku akan membeli sesuatu lebih dulu" Tutur Dika, sambil memberikan Key card pada Arumi.
Wanita itu pun menyetujuinya, lalu sambil tersenyum menatap punggung Dika yang semakin jauh.
Arumi menghela napas, menatap Key card yang ada di tangannya. Ini adalah kali pertama bagi Arumi, pergi ke Hotel mewah. Ia bahkan tak tahu cara menggunakan Key card tersebut.
Dengan penuh keyakinan, Arumi pun melangkahkan kakinya, memasuki gedung Hotel.
Perlahan jari lentiknya menekan tombol lift, untuk menuju ke lantai 10. Bagitu sampai di Lantai 5, Lift itu terbuka.
Seorang Pria terlihat tak berdaya masuk ke dalam lift tersebut, bersama dengan Arumi.
Wanita itu awalnya tak bergeming. Namun saat melihat Pria di sampingnya hampir tumbang, Arumi bergegas memgangi pundaknya.
"Anda tidak apa-apa?" Suara lembutnya membuat Pria itu mengangkat kepalanya.
"Yuna.." Pria itu berkata dengan lirih dan samar-samar.
"Yuna, kemana saja kamu? Aku hampir lelah menunggumu" Pria itu tiba-tiba menggenggan kedua tangan Arumi dengan erat, hingga membuatnya sedikit takut.
"Ma, maaf.. Tapi aku bukan Yuna. Tolong lepaskan tangan saya" Pinta Arumi dengan sopan, sambil berusaha melepaskan diri.
Kini sampailah Arumi di lantai 10. Arumi melangkahkan kakinya, begitu Pintu lift terbuka.
Namun tak di sangka, Pria itu kembali menarik tangan Arumi. Bahkan kali ini, Pria itu mendaratkan ci*man di bibir Arumi.
Pintu lift kembali tertutup. Pria itu mendesak tubuh Arumi dan menci*mnya dengan keserakahan.
Arumi yang tak kuasa pun hanya bisa meneteskan air matanya.
Bagaimana bisa ada Pria yang begitu sembrono seperti ini? Arumi marah. Ia berusaha melepaskan diri, namun Pria itu begitu rakus.
Hinga kini lift kembali terbuka di lantai 1, Pemandangan yang tak seharusnya terjadi itu, terlihat oleh Seseorang dengan jinjingan di tangannya.
Paparbag berwarna coklat itu pun terjatuh, bersamaan ketika Lift terbuka.
Dia adalah Mahardika, yang tak lain adalah Suami Arumi.
__ADS_1
Bagaimana Arumi akan menjelaskan kejadian ini?
Selamat membaca...