Dunia Keluarga Suami

Dunia Keluarga Suami
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Tuhan bisa membolak balikan hati manusia. Yang awalnya hangat dan penuh kasih sayang, bisa menjadi dingin tak berperasaan dalam waktu sekejap.


Seperti yang terjadi pada hubungan pernikahan Arumi dan Dika. Semenjak menikah, Dika bahkan tak pernah membawa Arumi untuk sekedar berjalan-jalan bersama, seperti dahulu sebelum menikah.


Hal itu terjadi, hanya sebuah kesalahan yang di buat oleh orang asing.


Sejak saat itu, Dika tak bisa melupakan kejadian memuakkan dalam hidupnya.


Sikapnya sangat berubah drastis pada Arumi, meskipun sesekali ia memberi perhatian pada Arumi.


Seperti yang sedang di lakukan saat ini, Ketika melihat tangan Arumi memerah melepuh akibat tersiram air panas.


Arumi sejenak terenyuh, ia merindukan Dika yang penuh perhatian seperti ini padanya.


Dika menatap luka bakar pada tangan Arumi, ia terlihat khawatir meskipun sikapnya dingin selama ini.


Sikap dinginnya selama ini, tak lain ialah karena dirinya sering bertemu dengan Saga di Perusahaan. Ia tak bisa melampiaskan amarahnya, kecuali pada Arumi.


"Aku ngga apa-apa, Bi" Sahut Arumi, tersenyum getir.


Di bandingkan dengan sikap hangat Dika yang telah lama hilang, luka bakar bukanlah apa-apa.


"Maaf, ya Mi. Gara-gara bantuin acara Viko kamu jadi terluka" Tutur Vita, ketika melihat tangan Arumi yang memerah.


"Nggak mbak, ini karena aku aja yang ceroboh. Selamat ulang tahun, ya Koko" Ucap Arumi mengusap kepala Viko.


"Imaacih Tante" Vita kembali menirukan suara anak kecil, mewakili jawaban Viko.


"Mi, ayo pulang!" Ujar Dika menarik tangan Arumi.


"Pulang apanya. Biarkan dia makan dulu! Dia belum makan" Tiana lalu menyuruh Arumi duduk, dan menyantap makanan yang ia masak sendiri.


Begitu pula dengan Dika, yang juga menemaninya makan.


"Kalian kapan punya anak? Sudah menikah setengah tahun masak belum jadi juga?" Celetuk Ambar, Kakak kandung Tiana.


"Kami akan berusaha lagi, Bibi" Sahut Arumi, dengan wajah tersenyum.


"Harus itu, kasian Suamimu kan sudah pengen gendong bayi"


Semakin kesini ucapan Ambar semakin menjadi. Tetapi tak ada cara lain, selain tetap sabar dan tenang menghadapinya.


"Kamu juga makan yang banyak, Mi. Tubuhmu terlalu kurus, jangan sampai kamu ma*dul"


Deg...


Tiba-tiba Dika menghentakkan sendoknya di atas piring. Ia menjadi muak, mendengar celotehan Ambar.


"Bi, ini ngga ada hubungannya dengan berat badan! Kenapa Bibi makin keterlaluan?" Dika terlihat emosi ketika Ambar terus menerus memojokkan Arumi.


"Loh, bibi benar kok. Perempuan yang terlalu gemuk atau terlalu kurus itu susah hamil! Di bilangin kok ga percaya!!!" Seru Ambar tak mau mengalah.


"Udah, bi. Aku ngga apa-apa kok!" Hingga Arumi kini melerai perdebatan mereka.


Tanpa bicara apa-apa lagi, Dika meninggalkan rumah Vita. Begitupun dengan Arumi yang ikut menyusul Suaminya Pulang.


"Semuanya, maaf ya. Aku haru mengejar Dika" Pamita Arumi, meninggalkan tempat itu.


***


Setibanya di rumah, Arumi kembali menenangkan Dika yang kini semakin bertemperament.


Usaha Arumi untuk menenangkan Dika, berakhir dengan Tidur bersama. Namun Tak ada yang terjadi di antara keduanya.

__ADS_1


Selama ini, Dika jarang menyentuh Arumi. Pria itu juga kerap pulang dalam keadaan mabuk, sehingga saat bercinta dengan Arumi, ia tak bisa menanamkan benih pada Istrinya.


Bendanya seolah tak bisa mengeluarkan benih. Sedih tentu di rasakan oleh Arumi, tetapi apa boleh buat.


***


Pagi harinya berjalan seperti biasa. Arumi selalu sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Ia tak pernah absen untuk tak membuat makanan, meskipun dalam keadaan tak enak badan.


Dika sendiri selalu menikmati sarapan buatan Istrinya dengan lahap.


"Bi, nanti siang aku izin pulang ke rumah Ibu, Ya?" Ujar Arumi, pada Dika yang sedang mengenakan dasi.


"Iya, hati-hati" Begitulah jawaban singkat Dika. Entah mengapa, sikapnya pada Arumi sangat berubah. Padahal itu jelas bukan kesalahannya.


Mungkin, Dika memang orang yang pendendam dan tak bisa melupakan hal keji yang menimpanya begitu saja.


"Ya, Bi makasih"


Arumi lalu kembali ke dapur untuk menuntaskan pekerjaan memasaknya.


****


Setelah mendapat izin, Arumi pun bergegas pulang ke rumah Ibunya. Sudah 3 bulan Arumi tak berkunjung ke rumah Ibunya, sehingga ia berniat untuk menjenguknya.


Arumi pergi menggunakan busway, agar lebih cepat sampai. Penampilannya sangat sederhana, namun cocok untuk Arumi.


Wanita itu mengenakan rok plisket motif bunga, dengan panjang 7/8 serta kemeja putih berlengan panjang.


Ada pula slingbag kecil yang melingkar pundaknya. Rambutnya yang di kuncir kuda, membuat Arumi terlihat bersinar dan ceria seperti anak-anak.


Arumi lalu turun di pemberhentian busway, dan harus berjalan memasuki daerah rumahnya yang sudah tak jauh.


Setibanya di rumah, Arumi membantu Ibunya untuk duduk di kursi roda. Netranya memerhatikan isi rumah yang berantakan.


Hal itu membuat Arumi sedih. Ia tak bisa menyalahkan Adik laki-lakinya karena tak bisa membereskan rumah, ia juga harus memaklumi Ibunya yang sudah tidak bisa leluasa bergerak.


Atas keinginannya sendiri, Arumi mulai membereskan rumahnya. Ia lagi-lagi harus menaghan tangisnya.


Bagaimana tidak? Arumi sangat rajin membersihkan rumah Mertuanya, sementara rumah Ibunya begitu kacau tak berantakan.


Arumi harus menghabiskan waktu satu jam untuk membereskan rumah yang tak terlalu luas itu.


Tak lama, ia kembali duduk di samping Ibunya, yaitu Lasmi.


"Bu maaf, ya. Aku baru nengok Ibu" Tutur Arumi sangat merasa bersalah.


"Ngga apa-apa, pasti kamu repot menyiapkan makan untuk Suamimu. Bagaimana? Apa kamu kerasan? Mertuamu baik, Kan?" Tanya Lasmi tanpa jeda. Di usianya yang sudah tua, Lasmi tentu sangat berpengalaman, hidup menjadi seorang Istri dan juga menantu.


"Ibu mertuaku baik kok, Bu. Ibu sendiri gimana? Apa kakinya masih suka sakit?"


"Ya beginilah, Mi. Karena sudah Tua, ibu cuma bisa begini" Jawab Lasmi, pasrah.


Arumi lalu memijat kaki Ibunya dengan lembut.


"Oh, ya Mi. Minggu depan Alvaro harus bayar ujian nasional. Apa kamu ada uang? Ibu bingung harus minta siapa lagi. Mau minta kakak-kakakmu Ibu ngga enak, karena mereka sudah memberi Uang untuk makan sehari-hari. Kamu ada kan?" Ujar Lasmi.


Arumi hanya mengangguk pelan. Uang bulanan yang Dika berikan ialah 3 juta, itu pun harus di gunakan untuk berbelanja sehari-hari.


Setelah menghemat selama 3 bulan, Arumi memiliki tabungan. Ia berencana untuk memberikan uang tersebut pada Lasmi, untuk biaya sekolah.


"Bu, apa satu juta dua ratus cukup? Rumi cuma punya ini, sisanya untuk pegangan Rumi" Katanya sambil memberikan uang satu juta pada Lasmi.

__ADS_1


"Iya, Nak. Terimakasih ya? Varo beruntung punya Kakak seperti kamu"


Lasmi lalu menyimpan uang tersebut dalam dompetnya.


Kini uang tabungan Arumi hanya tersisa 800ribu. Masih cukup sampai bulan depan, untuk berbelanja.


Selama seharian Arumi bermain di rumah Ibunya. Namun karena sudah pukul 3 sore, Arumi harus segera pulang sebelum Dika pulang.


Wanita itu lebih dulu berpamitan dengan Lasmi, lalu kembali ke rumah dengan menggunakan Busway.


Jarak tempuh perjalanan pulang ke rumah menghabiskan waktu 30 menit.


Sementara Dika pulang pukul 5 sore. Arumi yakin ia masih sempat menyiapkan minuman untuk Suaminya setelah pulang bekerja.


Tak lama kemudian, Tibalah Arumi di pemberhentian busway. Ia harus mencari ojek, untuk sampai di rumah.


Saat tengah berjalan di tepian jalan, Arumi sempat melihat sebuah mobil mogok di pinggir jalan.


Wanita itu bahkan melihat pemiliknya mondar mandir kebingungan. Dengan sikap alaminya, Arumi mendekati orang itu.


"Mobilnya kenapa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Ujar Arumi berniat untuk membantunya memanggil montir. Arumi sendiri, ialah Wanita yang cukup cepat menangkap situasi yang ada di hadapannya.


"Oh, ini ban mobil saya kempes. Apa anda orang sini?" Sahut Pria itu dengan ramah, lalu di sahuti anggukan kepala oleh Arumi.


"Kebetulan tempat tinggal saya di daerah sini, jadi saya tahu bengkel mobil terdekat. Apa mau saya panggilkan?" Tutur Arumi sambil mengeluarkan ponselnya dari tas.


"Kalau begitu, maaf merepotkan"


Arumi kini sedikit menjauh, untuk mengubungi bengkel mobil yang ia kenal.


"Wajahnya terlihat nggak asing!" Gumam Pria itu dan berlalu menuju ke sisi mobil bagian belakangnya.


Pria yang mengemudi mobil tersebut terlihat sedang mengetuk kaca belakang.


"Tuan, bangun! Sebentar lagi, montir akan datang" Ujar Pria itu mengetuk-ngetuk kaca mobil bagian belakangnya.


Siapa sangka, Rupanya Pria itu adalah Yohan dan juga Saga.


Keduanya mengalami pecah ban, sejak 45 menit yang lalu. Meski Yohan sudah memanggil montir, namun montir yang ia panggil tak kunjung datang dan membuat Saga ketiduran di dalam mobil.


Hingga Akhirnya tibalah bala bantuan dari Arumi, yang memanggil tukang bengkel kenalannya saat bekerja sambilan.


"Mana montirnya? Kamu ini manggil montir atau siapa sih? Ngga becus banget!!!" Saga kesal setelah keluar dari mobil. Mood nya benar-benar buruk hari ini.


"Nona itu sudah memanggilkan montir, Tuan" Ucap Yohan, sopan.


Arumi lalu berbalik arah dan kembali menghampiri Yohan.


"Pak, 5 menit lagi dia akan sampai. Bapak tunggu saja disini" Sambil mengantongi ponselnya, Arumi berjalan menghampiri Yohan.


Namun seseorang di belakang Yohan kembali di buat melongo, dengan sosok Arumi yang sangat mirip dengan kekasihnya.


Netranya membelalak sempurna, dadanya bahkan berdebar ketika melihat Arumi.


Tidak hanya itu, Arumi pun tak kalah tersentak ketika melihat Saga.


Benar! Pria yang membuat pernikahannya hambar.


Dadanya sesak mengingat kejadian kala itu. Kejadian yang mungkin tidak Saga sadari..


"Ka, kamu!" Gumam Arumi mengernyitkan keningnya.


Apa yang akan terjadi dengan pertemuan kedua mereka???

__ADS_1


\=\=\=))))NEXT\=\=\=))))


__ADS_2