
Baru saja Dika melupakan kejadian yang mengecewakan dalam hidupnya, namun ia harus di pertemukan kembali dengan Pria yang mencumbu Istrinya.
Benci tentu ada dalam diri Dika, ketika melihat klien dari Smartfood. Namun begitu, Dika berusaha untuk menenangkan diri dan profesional dengan pekerjaannya.
Saga dengan ciri khasnya yang tegas dan penuh wibawa memimpin rapat tersebut untuk bekerja sama dengan perusahaan tempat Dika bekerja.
Mata Dika hampir tak lepas memerhatikan Saga. Mengapa ada Pria sesempurna itu di dekat Istrinya?
Makin lama berada di ruang rapat, yang ada hanya kesal.
"Baik, kita akhiri sampai disini saja. Untuk kedepannya, kami akan terus berhubungan. Mohon kerja samanya" Ujar Saga mengakhiri rapat yang menghabiskan waktu satu jam lebih 20 menit.
Kini Saga dan Yohan berlalu meninggalkan ruang rapat. Keduanya kembali menjadi pusat perhatian, saat berjalan keluar dari tempat tersebut.
"Han, apa kau sadar dengan Pria yang tadi memakai kemeja biru?" Tanya Saga menghentikan langkahnya, hingga membuat Yohan hampit menabrak dirinya.
"A, apa ada masalah?"
"Lupakan!!!" Saga lalu kembali melangkahkan kakinya, dan di ikuti Yohan di belakangnya.
Dalam perjalanan pulang, Saga terdiam memikirkan sesuatu. Yohan yang melihatnya pun heran "Ada apa, Tuan?" Tanya Pria itu, menatap ke arah kaca spion di atasnya.
"Aku masih kepikiran dengan Pria tadi. Kenapa tatapannya padaku seperti bara api? Memangnya dia mengenalku? Seolah aku berbuat sesuatu yang brutal padanya. Membuatku kesal saja!" Saga kini sudah tak tahan lagi.
"Oh, kemeja biru tadi. Memangnya ada masalah apa?"
"Mana ku tau! Kalau aku tau, aku ngga akan sekeras ini berpikir. Dasar! Menyupir yang benar sana!!!" Bukannya meredamkan amarah, Saga justru semakin terbawa emosi.
*
Hari telah berlalu, Arumi kembali menyiapkan makanan untuk makan malam keluarganya.
Wanita itu tampak bahagia akan menyambut suaminya pulang bekerja. Ia menyiapkan makanan favorit Dika, yaitu telur balado.
Sementara Tiana, ia sedang bermain bersama Cucunya di ruang Tv sehingga Arumi sendirilah yang menyiapkan makan.
Kini tibalah Dika pulang. Arumi segera menyambutnya dengan hangat.
Namun tidak dengan Dika. Pria itu menampakkan wajah datar, ketika melihat Istrinya membereskan tas dan sepatu miliknya.
"Bi, mau mandi dulu apa makan dulu? Aku udah nyiapin makanan favorit kamu di meja" Tutur Arumi dengan lembut.
"Makan saja!" Tanpa menoleh pada Arumi, ia segera berjalan menuju ke meja makan.
Meskipun herat, namun Arumi hanya menganggap bahwa Dika mungkin kecapean.
Dika kini menyantap makan malamnya tanpa mengajak Istrinya untuk makan bersama. Lantas Arumi hanya menemani Dika di sampingnya.
__ADS_1
"Loh, Mau kemana bi?" Tanya Arumi, saat melihat Dika beranjak dari kursi.
"Aku kenyang!" Hanya beberapa suap saja, Dika sudah masuk ke kamar dan meninggalkan makanan yang sudah susah payah Arumi buat.
Sikap dingin Dika kembali membuat Arumi cemas.
"Kenapa ya?" Arumi bertanya-tanya dalam hati.
"Wahh makan enak nih!" Tak lama setelah Dika masuk. Tiba-tiba Adik perempuan Dika dantang untuk makan malam.
Arumi lalu memilih menghampiri Suaminya, yang kembali bersikap dingin terhadapnya.
Mondar-mandir, Arumi menunggu Dika selesai mandi. Ia bingung harus berbuat apa, supaya Dika tak bersikap dingin padanya.
Mengapa hubungannya tiba-tiba berubah setelah menikah? Bahkan dulu Dika tak pernah cuek padanya. Arumi merasa sedih untuk yang ke sekian kalinya.
'Ceklek'
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Arumi segera melangkah menghampiri Dika.
"Bi, ada apa? Apa kamu ada masalah?" Tanya Arumi dengan suara lembutnya.
Dika membisu. Ia justru menuju ke ranjang, untuk segera beristirahat. Rasanya ia tak mau berdebat. Apalagi saat Arumi bersikeras tak mengenal Pria itu.
Pada akhirnya Dika memilih diam, dan bergelut dengan perasaannya sendiri.
***
Dika bahkan semakin dingin padanya. Apalagi, ia mungkin sering bertemu dengan Saga di perusahaannya.
Setiap hari, Dika hanya bekerja dan pulang untuk tidur. Sesekali menyentuh Arumi ketika pulang bekerja, namun Pria itu tak bisa melakukan orga*me karena pengaruh alkohol.
Namun begitu, Arumi masih tetap setia dan memaklumi Dika. Meski ia tidak tau akan sampai kapan, hal ini terjadi.
Menjalani hari sebagai ibu rumah tangga rupanya jauh lebih berat dari yang Arumi bayangkan. Ia harus selalu bangun pagi, dan menyiapkan makanan untuk keluarga.
Apalagi, Dika masih enggan untuk pisah rumah dengan Ibunya. Hal itu membuat Arumi sedikit kesulitan. Ia terpaksa harus menghadapi hari-hari yang melelahkan.
Hari ini Vita mengadakan acara ulangtahun Viko untuk yang ke dua tahun. Acara tersebut di hadiri oleh keluarga dan kerabat dekat mereka.
Sebagai menantu perempuan, Arumi tentu sangat di butuhkan dalam hal ini. Arumi membantu segala hal, mulai dari memasak, hingga membungkus bingkisan untuk di bawa pulang anak-anak yang hadir di acara ulang tahun Viko.
Kini semua sanak saudara dari pihak Tiana tiba. Mereka semua duduk di depan untuk melakukan sesi tiup lilin.
Sementara Arumi hanya menatap pemandangan itu dari dapur. Suara nyanyian selamat ulang tahun mulai di nyanyikan oleh orang-orang yang turut merayakan acara tersebut.
Namun Arumi lagi-lagi hanya bisa menatap itu. Ia lalu menundukkan kepalanya, melihat penampilan dirinya yang mengenakan celemek hitam seperti Pembantu.
__ADS_1
Seketika matanya berkaca-kaca. Sebenarnya peranku apa disini?
Dalam diam Arumi menahan air matanya. Ia tentu sadar, bahwa tidak ada orang lain yang bisa memihaknya selain Dika.
Sambil melihat seluruh orang yang hadir di sana, Arumi terus bermonolog. Ia mencari-cari keberadaan seseorang yang mungkin bisa membawanya ke depan dan ikut merayakan acara tersebut.
Namun ia sama sekali tak menemukan Suaminya. Terpaksa Arumi harus menyeka air matanya agar tak sampai jatuh.
"Mba, airnya sudah mendidih mau di taruh di mana ya?" Tanya seseorang yang yang di perintahkan untuk memasak.
"Biar saya saja, Bu" Arumi lalu memilih memindahkan air panas yang sudah mendidih itu ke dalam termos.
Tak sengaja, Arumi menumpahkan air panas tersebut dari gayung dan mengenai tangannya.
Sontak Wanita itu mendesis kesakitan, dan segera berlari menuju ke westafel untuk membasuh tangannya dengan air dingin.
"Kenapa aku apes banget sih?" Gumamnya sambil mendesis merasakan luka bakar di tangannya.
Kini rasa terbakar pada tangannya mulai mereda, namun tangannya jadi memerag karena cukup banyak air panas yang mengenainya.
Tidak ada yang melihat kejadian tersebut. Hingga akhirnya, acara ulang tahun pun selesai.
Semua keluarga kini sedang makan bersama setelah perayaan tersebut. Lalu, tepat saat Dika tiba.
Dika langsung memberikan kado pada Viko, begitu masuk ke dalam rumah Vita.
"Selamat ulang tahun, Koko" Ujar Dika menggendong Viko dengan gemas.
"Imaacih Om, kadonya" Sahut Vita menirukan suara anak kecil.
"Kamu pasti sudah pengen punya anak kan? Lihat saja, kamu sudah gemas begitu sama Koko" Celetuk Kakak kandung Tiana, dengan sindiran.
Ucapannya itu hanya di sahuti dengan senyuman oleh Dika. Ia sendiri bingung, dengan pernikahan yang hambar ini.
"Ngomong-ngomong dimana Rumi?" Tanya Dika, tak menemukan keberadaan Istrinya.
"Di belakang, aku panggilkan ya?" Dinar pun beranjak memanggil Arumi untuk ke depan.
Tak lama kemudian, Arumi pun keluar dan membuat banyak pasang mata menatapnya.
Penampilan Arumi saat ini tak jauh berbeda dengan Bibi tukang masak-masak di belakang.
"Ya ampun Arumi, kamu dari mana saja?" Tanya Vita, seolah tak merasa bersalah.
"A, aku... "
Dika menarik tangan kiri Arumi dengan mata yang hampir keluar.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Kedua matanya membelalak, melihat kemerahan pada tangan Istrinya..
\=\=\=\=))))NEXT\=\=\=))))