Dunia Keluarga Suami

Dunia Keluarga Suami
Merasa bersalah


__ADS_3

Berniat membantu, Arumi justru merasa sesak ketika melihat Pria yang membuat kehidupan pernikahannya bernasib buruk.


Gara-gara Pria itu, sikap Dika pada Arumi berubah 180 derajat. Arumi harus kehilangan sikap hangat Dika, karena kesalahpahaman itu.


Arumi terpaku dan merasa sesak, rasanya marah tapi tak bisa berkata apapun. Hanya saja, kedua Netranya memerah dan berkaca-kaca.


"Apa anda baik-baik saja, Nona?" Tanya Yohan melihat Arumi yang tiba-tiba memucat.


Lalu Arumi berusaha mengatur napasnya lagi. Kejadian itu sudah cukup lama berlalu, ia tak ingin membahas lagi.


"Ya, saya nggk apa-apa. Kalau begitu saya permisi, montirnya akan datang sebentar lagi" Tutur Arumi setelah cukup tenang. Ia bahkan langsung pergi, tanpa menoleh pada Saga.


"Terimakasih, Nona" Teriak Yohan, dengan jarak yang sudah agak jauh.


Sementara Saga, ia masih termangu menatap punggung Arumi yang bahkan sangat mirip dengan Kekasihnya.


"Benar, aku ngga mau berurusan lagi dengan Pria itu. Lagi pula aku ngga yakin, dia mengingat kejadian itu kalau aku mengungkitnya!" Sambil berjalan, Arumi terus menerus menenangkan dirinya.


Arumi berjalan dengan buru-buru agar segera sampai ke rumahnya.


Namun siapa sangka ketika Arumi hampir sampai, tiba-tiba ia di hentikan seseorang di belakangnya.


"Tunggu!" Dengan nafas tersengal-sengan, Saga mengejar Arumi.


Sontak Arumi membelalakkan kedua matanya. Bagaimana bisa, Pria ini tidak tahu malu mengikuti dirinya sampai ke rumah.


"Ma, mau apa kamu?" Cetus Arumi penuh kebencian.


Saga menunjukkan sebuah sapu tangan bercorak bunga milik Arumi yang jatuh ketika mengambil ponsel.


Sapu tangan tersebut jadi alasan untuk Saga mengetahui siapa Wanita yang memiliki wajah seperti Aluna.


Masih dengan tatapan sengit, Arumi segera menyambar benda itu dari tangan Saga.


"Terimakasih!" Wanita itu kembali berbalik arah, ia tak mau terjadi kesalah pahaman lagi jika ada yang melihatnya.


"Tunggu! Kamu mau membiarkanku kelelahan begini karena berlari mengembalikan barangmu?" Ujar Saga, memegang tangan Arumi.


"Aku kan ngga minta kamu mengembalikannya! Kenapa nggak kamu buang saja?" Sentak Arumi membuat Saga keheranan.


Mengapa Wanita ini terlihat sangat membenciku? Pikir Saga, heran.


"Siapa namamu?" Tanya Saga ke tujuan utama. Alih-alih mengembalikan Sapu tangan, Pria itu hanya ingin mengenal siapa Arumi.


"Lepas!!!" Cetus Arumi melototi Saga. Jarang sekali Arumi menunjukkan emosinya pada seseorang.


Setiap hari, Arumi harus menahan emosinya. Ia harus terlihat baik-baik saja, dan mengalah atas apa yang terjadi padanya.


Namun kali ini, ia tak bisa berbuat demikian. Arumi terlihat ingin memukulnya.


"Memangnya sulit ya, menyebutkan nama saja???" Perlahan, Saga melepas tangan Arumi.


"Sampai detik ini pun kamu masih ngga tahu malu sampai menanyakan namaku?" Tutur Arumi, berada di puncak amarah.


"Apa maksudmu?"


"Percuma bicara sama orang mesum sepertimu! Silahkan pergi dari sini, atau aku akan melaporkanmu ke polisi sebagai penguntit!!!" Ancam Arumi dan berakhir dengan tatapan dingin.


Entah mengapa, perasaan Saga tak nyaman melihat sikap Arumi padanya. Apakah karena Arumi sangat mirip dengan Kekasihnya?


Arumi berjalan terburu-buru, namun ia tak melihat jalanan dengan benar. Alhasil, Wanita itu hampir terserempet motor.


Beruntungnya, Saga menangkap tubuh mungil Arumi dan berhasil menghindaru bahaya.


Tanpa mereka sadari, Ada bahaya yang lebih parah lagi yang tak bisa di hindari.


Tepat saat Saga berusaha menolong Arumi dengan menangkap tubuhnya, tak sengaja berpapasan dengan Dika yang baru saja pulang dari kantor.

__ADS_1


"Apa ini?"


Arumi tersentak dan melepaskan tubuhnya dari Saga. Seketika perasaannya jadi kacau! Arumi ketakutan, ketika Dika melihat dirinya bersama dengan Saga. Pria yang pernah menciumnya dulu.


"Jadi kamu benar-benar berhubungan dengannya, Mi?" Tanya Dika yang masih berada di atas motor.


"Oh, anda kan dari Brilliant Grup?" Ujar Saga mengenali wajah Kliennya.


Begitu pun dengan Dika, yang menoleh ke arah Saga tanpa ekspresi. Tatapannya begitu dingin dan penuh kebencian.


"Apa ini? Apa dia mengabaikanku?" Gumam Saga dalam hati.


Dika hanya fokus pada Arumi untuk mendengar jawaban dari pertanyaannya.


"A, aku ngga ada hubungan apa-apa dengannya, Bi. Aku berani sumpah!" Arumi kini tak lagi memedulikan Saga. Ia hanya perlu menjelaskan pada Dika, dengan kesalahpaham yang mungkin akan semakin rumit.


"Tunggu! Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Pria yang tak tahu apapun itu.


"Saya Suaminya? Kenapa? Sampai kapan anda mau mengganggu Istri orang???" Tampaknya, Dika sudah tidak tahan lagi.


"Hei jaga ucapanmu? Lagi pula ini pertemuan pertama ku dengannya. Apa maksudnya dengan kata 'Sampai kapan?" Saga merasa tak terima dengan ucapan Dika. Ia lebih mendekat lagi menuju ke tempat Dika berpijak.


"Ck, pertemuan pertama? Apa kalian sedang main drama? Kalian menganggapku bodoh, ya???" Dika pun sama, ia kini turun dari motornya.


Kedua Pria itu berlagak seperti akan berkelahi.


"Bi, cukup! Ayo kita bicarakan di rumah!" Tutur Arumi dengan lembut, sambil menenangkan Suaminya.


"Kenapa? Dia sudah disini sekarang. Lebih baik kalian akui saja perbuatan kalian!!!" Dika terus memojokkan Arumi, seolah ia berselingkuh dengan Pria yang ada di hadapannya.


"Apa-apaan si orang ini? Sejak pertama bertemu denganku, tatapannya sudah seperti api yang membara! Sial .. Sebenarnya apa yang terjadi sih !!!!" Monolog Saga dalam hatinya.


Semakin lama, perdebatan mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat di jalan tersebut.


"Bi, ayo pulang!" Ujar Arumi meninggikan suaranya, melihat orang-orang yang memerhatikan mereka.


"Hentikan! Asal kamu tau, aku sudah sabar selama ini!!!" Siapa sangka, Dika menghentakkan tangan Arumi hingga membuatnya hampir jatuh.


"Ah, sialan!!! Kalian benar-benar memuakkan!!!" Umpat Dika meninggalkan Arumi dan Saga dengan sepeda motornya.


Melihat Dika pergi dengan marah, membuat Arumi menangis terisak. Bagaimana lagi Arumi harus menjelaskan tentang ini?


Saga pun sama, ia terlihat ingin menepuk punggung Arumi demi menenangkannya. Tetapi ia takut di anggap pria yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Pria itu hanya bisa menatap iba Arumi yang masih terisak.


Seperti melihat Aluna menangis, Saga ikut merasa sesak atas kesedihan Arumi.


"Kenapa kamu di perlakukan seperti ini oleh suamimu?" Gumam Saga dalam hati.


Cukup lama, Saga menatap Arumi yang tengah terisak merasakan kesedihannya.


"Sebenarnya Saya ngga tau apa yang terjadi. Saya adalah klien Pak Dika di perusahaan, tapi saya ngga nyangka kalau anda Istrinya" Ujar Saga.


"Ini semua gara-gara kamu? Kamu yang menyebabkan pernikahan ku jadi begini!!! Kenapa kamu lakukan ini? Memangnya salah apa aku???" Tangis Arumi semakin memecah, hingga ia harus duduk meringkuk di jalanan.


"Kenapa ini salahku? Kita bahkan baru bertemu" Saga lalu ikut duduk, mensejajarkan posisinya dengan Arumi.


"Baru bertemu katamu??? Kamu lupa kejadian 6 bulan yang lalu di Hotel? Kamu tiba-tiba menciumku, dan Suamiku melihat itu semua!!! Kamu masih bisa mengatakan kalau ini pertemuan kita???? Ini semuaa gara-gara kamu!!" Arumi akhirnya bisa mengatakan hal itu pada Saga.


Tak ada kata lain dari Saga, Pria itu hanya terdiam membisu. Berusaha mengingat sesuatu yang ia lupakan.


"Jangan mengangguku! Tolong... Ini sudah cukup berat untukku!!!" Dengan deraian air mata di pipi, Arumi pergi meninggalkan Saga yang masih terdiam tanpa kata.


Cukup lama Saga berdiri memikirkan masalah yang terjadi. Namun ia tak bisa mengingatnya.


"Aku harus selidiki ini!" Gumam Pria itu setelah tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Saga lalu pergi meninggalkan tempat itu dan berencana kembali untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


Tak butuh waktu lama bagi Saga untuk menemukan Yohan. Mereka terlebih dulu kembali ke Apartemen.


Dalam perjalanan, Saga hanya terdiam hingga membuat Yohan bertanya-tanya dalam hati.


"Udah lama aku ngga lihat reaksi seperti ini pada Tuan Saga. Dari mana dia sebenarnya?" Guman Yohan dalam hati.


Selama 30 menit kemudian, Yohan menepikan mobil di depan gedung Apartemen Luxury.


Saga lalu segera turun, dengan ekspresi yang sama seperti tadi.


"Han, Pergilah ke Hotel Cendana. Pastikan kamu kembali dengan membawa rekaman cctv dari lobi, sampai ke depan kamar yang saya gunakan 6 bulan yang lalu" Ujar Saga menghentikan langkahnya sejenak.


"Apa? Ta, tapi itu kan sudah lama banget, Tuan" Protes yohan pada perintah atasannya.


"Kalau perlu bawa sekalian rekaman cctv yang ada di Lift. Saya beri waktu 3 hari" Katanya lalu kembali melangkah, memasuki Apartrmen.


"Apa-apaan dia??? ARRRGGGGGHH..." Yohan terlihat frustasi, karena Saga selalu memberinya perintah kurang masuk akal.


Mau tidak mau, Yohan harus mengerjakan perintah atasannya. Pria itu lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


****


Setibanya di rumah, Arumi tak menemukan keberadaan Suaminya. Wanita itu hanya merenungi ketakutannya sendirian di kamar.


Harus bagaimana lagi, cara dirinya untuk menjelaskan pada Dika. Arumi menangis terisak, rasa gelisah menguasai perasaannya. Ia bahkan tak keluar dari kamar, meskipun Tiana beberapa kali memanggilnya.


Hingga malam tiba, Dika belum juga kembali. Arumi terus menatap jarum jam di dinding kamarnya, suasana malam begitu hening.


Kedua matanya sembab karena terlalu lama menangis. Arumi merasa sangat takut! Bagaimana ia akan menjalani pernikahannya, setelah kesalahpahaman yang semakin menjadi-jadi.


***


Setelah berusaha mendapat file rekaman cctv di Hotel Cendana 6 bulan yang lalu, Yohan akhirnya menyerahkan sebuah Flasdisk berwarna hitam pada Saga.


Yohan menghabiskan waktu dua hari untuk mendapat akses rekaman cctv tersebut. Selama itu, Saga bahkan tak bisa tidur. Ia selalu menunggu kabar dari Yohan.


"Bagus! Bulan ini aku akan menambah bonus 5x lipat untukmu!" Tutur Saga menatap datar Sekertaris pribadinya.


"Terimakasih, Tuan"


Yohan lalu berlalu pergi dari ruangan atasannya dengan lega.


Tak lama, Saga lalu segera memasangkan Flasdisk tersebut ke komputernya. Ia memeriksa satu persatu, bagian kamar, lobi bahkan pada bagian lift-nya.


Pria itu menatap gambar dirinya yang tergulai tak berdaya, karena mabuk berat.


Lalu pada rekaman lift, tepat pada menit ke 5 lebih 20 detik, ia melihat Wanita yang begitu mirip dengan Kekasihnya yaitu Aluna, masuk ke dalam lift.


Melihat itu, Saga mulai mengamati video rekaman cctv tersebut. Ia kembali melihat dirinya yang beranjak dengan payah, sambil menatap Arumi.


Disana, Arumi terlihat ketakutan begitu menyadari Saga tengah mabuk berat. Apalagi saat Saga dengan tiba-tiba mencium Arumi dengan rakus.


"What the f*ck!" Saga mengumpat ketika melihat dirinya bertindak tak senonoh pada Arumi.


Tangan kanannya menutupi mulutnya yang tak sanggup berkata. Namun tangan kirinya sempat menghentikan rekaman tersebut.


Tak lama kemudian, Saga kembali menyalakan video itu. Ia melihat Arumi yang menangis ketakutan karena ulahnya. Ia bahkan melihat moment, ketika Dika melihat tindakan Saga pada Arumi.


"Si*l!!! Jadi ini alasan Pria itu menatapku dengan penuh amarah. Karena ini juga, Wanita itu membenciku!!! Kenapa aku bisa melupakan kejadian ini??? Alkohol memang buruk! Aku ngga akan mabuk lagi" Saga bergumam dan langsung melepas Flasdisk tersebut.


Pria itu beranjak dari kursinya, dan berdiri menghadap ke arah jendela.


Tiba-tiba ia merasa bersalah pada Arumi. Karena ulah dirinya, hubungan Arumi dengan Suaminya menjadi runyam.


"Tapi siapa sebenarnya dia? Kenapa wajahnya begitu mirip dengan Aluna?" Gumam Saga bertanya-tanya...

__ADS_1


-


NEXT---


__ADS_2