
Menjalin hubungan dengan seseorang, seringkali berujung pada Komitmen. Entah itu Putus atau Terus! Namun ada pula pasangan yang berkomitmen untuk Menikah, dan mempunyai anak-anak yang lucu.
Hal itu tentu adalah sesuatu yang indah, jika di bayangkan dalam angan-angan.
Ketika seseorang sedang bahagia, mereka akan memikirkan hal indah untuk hidupnya.
Seperti yang telah di katakan oleh Arumi. Dalam sayup-sayup mata mengantuk, Arumi bergumam untuk mengajak Pacarnya Menikah.
Menikah adalah keinginannya, agar dirinya terlepas dari beban penderitaannya selama ini. Dengan menikah, mungkin Arumi tidak lagi merasa lelah dan harus pulang larut karena bekerja.
Setelah mengatakan hal itu pada Dika, keinginannya di wujudkan olehnya.
Mahardika, beserta keluarga datang ke rumah Arumi dengan niat Melamarnya. Mereka di sambut, oleh kerabat dekat Arumi.
Tak ada masalah apapun dalam hal ini. Kedua Orang Tua Dika terlihat baik-baik saja, mereka justru tampak ramah. Apalagi, mengingat hubungan Putranya dengan Arumi yang sudah berjalan bertahun-tahun.
" Jadi, apa kamu mau menerima lamaran Mahardika? " Tanya Salman, selaku Ayah kandung Dika.
Arumi, gadis berparas Ayu, yang selalu menunjukkan sikap tenang itu menganggukkan pelan kepalanya. Ia bersedia menerima Lamaran Mahardika.
Lalu, Dika menautkan Cincin Emas berukuran 5 gram di jari manis Arumi, sebagai tanda cintanya dan bukti bahwa Arumi telah terikat dengannya.
Selesai membicarakan Lamaran, kedua keluarga itu lalu melanjutkan obrolan kecil dan juga di selingi dengan penentuan hari Pernikahan mereka.
" Baiklah, kita sudah tentukan hari dan tanggalnya. Semoga tidak ada halangan, untuk satu bulan kedepan! " Kata Salman, menentukan hari Pernikahan mereka, yang akan di langsungkan bulan depan.
Arumi terlihat sangat bahagia, setelah penentuan tanggal pernikahan mereka. Begitupula dengan Dika yang ikut merasa senang.
Kedua pasangan sejoli itu saling mencuri-curi pandang, di tengah-tengah obrolan dua keluarga belah pihak.
Siapapun pasti akan sangat senang, saat di lamar oleh sang kekasih.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini keluarga Dika pun memilih pamit untuk pulang.
Arumi lalu mendorong keluar kursi roda milik Ibunya, untuk mengantar para tamu pulang.
Wanita itu menatap Calon keluarga barunya, yang satu persatu masuk ke dalam mobil.
Arumi tersenyum, saat mendengar suara klakson memberi tanda kepergian mereka.
"Alhamdulillah ya, Bu. Sebentar lagi Arumi akan menikah. Doakan Kami ya, Bu semoga semuanya berjalan lancar" Tutur Arumi, membungkukkan kepalanya, mendekat kepada Ibunya, yaitu Lasmi.
"Ibu selalu doakan yang terbaik untukmu, Nak. Tapi kamu ngga akan lupain kewajiban kamu, kan? Ingat Adikmu masih sekolah, dan membutuhkan biaya!" Lasmi perlahan menggenggam tangan Putrinya.
Sebagai Orang tua, Lasmi tak bisa menentang keinginan Putrinya untuk menikah.
"Aku mengerti, Bu. InsyaAllah Aku akan bantu biaya sekolah Alvaro!" Arumi lalu meyakinkan Lasmi, agar tak mencemaskan Alvaro.
***
Beberapa hari kemudian telah berlalu. Arumi masih seperti biasanya, melakukan kerja part time untuk mendapatkan uang.
Meski begitu, di tengah-tengah kesibukannya, Dika menyempatkan waktu untuk membawa Arumi fiting baju pengantin serta membeli perlengkapan seserahan.
Hari-hari yang penuh keluh kesah itu, kini Arumi jalani dengan penuh semangat. Karena sebentar lagi, dirinya akan menikah dan bebas dari pekerjaan yang melelahkan ini.
__ADS_1
Tumpukkan piring kotor bahkan tak membuat Arumi ngedumel. Wanita itu justru tampak semangat mengerjakannya.
Tepat jam istirahat, Ponsel Arumi berdering. Wanita itu terlebih dulu melepas sarung tangan cuci piringnya, dan mengambil ponsel dari saku celananya.
Rupanya, ia mendapat panggilan dari Dika. Betapa senang bukan kepalang, Arumi segera menjawan panggilan tersebut.
"Halo. Ada apa, Bi?"
"Sore ini, kamu pulang jam berapa, Mi? Kita harus cari cincin pernikahan. Kamu ngga ada waktu kan?" Tanya Dika dari balik telvonnya.
Arumi dengan semangat menganggukkan kepalany "Aku pulang jam 4 sore, Bi. Aku ada waktu kok!" Katanya dengan antusias.
Arumi sengaja mengurangi pekerjaan paruh waktunya, karena dirinya tengah di sibukkan dengan hari menjelang pernikahannya.
"Baiklah kalau begitu, Aku akan menjemputmu nanti" Ucap Dika, sebelum akhirnya menutup panggilan tersebut.
Bagaikan orang yang sedang kasmaran, Arumi tersenyum sendirian sambil menatap ponselnya yang menunjukkan walpaper foto dirinya bersama dengan Dika.
***
Singkat waktu, kini tibalah pukul 4 sore. Arumi lalu berkemas untuk pulang. Wanita itu lebih dulu ke toilet untuk membersihkan diri. Ia tidak ingin terlihat buruk, untuk bertemu dengan kekasih.
Benar saja, begitu dirinya keluar dari gedung Restoran, rupanya Dika sudah menungunya.
"Kamu udah lama nunggu, Bi?" Tanya Arumi, begitu melihat Dika.
"Nggak kok, Mi. Baru 5 menit sampai. Ayo naik!" Seperti biasa, Dika menyodorkan helm pada Kekasihnya. Arumi pun dengan sigap segera mengenakannya, dan naik di jok belakang.
Motor matic berwarna hitam mengkilap itu kini melaju dengan kecepatan sedang. Arumi dengan lugas, melingkarkan kedua tangannya, di perut Dika.
Butuh waktu 20 menit, untuk mereka sampai di sebuah Toko perhiasan. Beruntungnya, Toko tersebut belum tutup.
"Loh, Ibu?" Ujar Arumi, sedikit terkejut saat melihat Ibu Dika di Toko perhiasan tersebut.
"Kalian sudah sampai? Ibu sudah menunggu dari tadi. Ayo masuk!" Tutur Wanita parubayu bernama Tiana. Dia adalah Ibu kandung Mahardika.
"Hehe, maaf ya Mi? Aku lupa bilang, kalau Ibu ikut juga" Katanya dengan senyum canggung.
"Ngga apa-apa kok, Bi. Yuk masuk!"
Keduanya kini berjalan masuk menyusul langkah Tiana. Wanita parubaya itu terlihat sedang berdiri di depan etalase, dan memilih aneka Cincin pasangan untuk mereka.
Arumi hanya bisa tersenyum, sambil melihat-lihat jenis perhiasan lainnya.
"Yang ini saja, Gimana nak? Kalian suka nggak?" Tiana lalu menunjukkan model Cincin couple pada Arumi dan juga Dika.
Arumi hanya bisa tersenyum dan mengangguk, ia tak bisa meminta yang lebih. Namun tidak dengan Dika, Pria itu menolak pilihan yang di pilih Ibunya karena terlalu mencolok.
"Oh ya, Arumi. Kamu jangan tersinggung ya,karena Ibu ikut kesini. Ibu cuma mau bantu kalian nyari perhiasan yang bagus!" Ujar Tiana, tiba-tiba. Padahal dalam hati Arumi tak berpikir apapun tentang dirinya.
"Nggak kok, Bu. Aku justru berterimakasih karena Ibu mau membantu Kami mencari Cincin. Terimakasih ya, Bu?"
Arumi yang terlihat polos lalu mendekat ke arah Tiana, untuk ikut memilih.
"Yang ini Gimana? Suka nggak?" Tiana lagi-lagi menunjukkan model yang mencolok.
__ADS_1
"Iya, Bu. Senang kok!" Katanya tersenyum sendu.
"Kamu serius, Mi? Kamu boleh pilih yang lain kok!" Ujar Dika tiba-tiba.
"Ini saja, Nak! Ini lebih baik dari tadi kan? Terus ini ada simbol Love nya, bagus kan?" Tiana terus meyakinkan Keduanya agar setuju dengan pilihannya.
"Aku terserah Arumi saja, Bu. Kalau dia suka, aku juga suka!"
Beruntungnya Arumi mendapat calon suami yang baik seperti Dika.
"Ini saja ya, Mi. Lagi pula ini sudah sore, Tokonya pasti mau tutup!" Bisik Tiana, di telinga Arumi.
Wanita itu hanya mengangguk, menyetujui pilihan Calon mertuanya.
"Nah gtu dong! Mbak, tolong bungkuskan yang ini, Ya?" Pinta Tiana, pada Pelayan Toko perhiasan tersebut.
"Baik, Bu!"
Akhirnya cincin sudah terpilih, mereka kini sedang menunggu Cincin tersebut di kemas.
"Beratnya masing-masing 2gram ya, Bu. Jadi totalnya Dua juta delapan ratus ribu rupiah. Pembayarannya mau cash apa debit, Bu?" Tanya Pelayan terdebut.
"Debit, Mbak!" Sahut Tiana sambil menyodorkan Kartu atm.
"Bu, kok cuma 2 gram? Kenapa ngga cari yang 5gram?" Tanya Dika dengan wajah serius.
"Yang 5 gram ngga ada Nak. Modelnya jadul, lagi pula Arumi juga suka kok sama modelnya. Iya kan, Mi?"
"I, iya Bu" Arumi terbata, menyahuti ucapan Tiana.
Entah mengapa Dika terlihat kesal. Ia seolah tau, dengan maksud Ibunya yang tiba-tiba meminta ikut ke Toko perhiasan.
Kini Pembayaran pun sudah di lakukan. Mereka akhirnya keluar dari Toko perhiasan.
"Aku antar Arumi pulang dulu ya, Bu. Ibu pulang naik Taxi, aku sudah pesanin. Ibu tunggu disini saja" Ujar Dika, sebelum pergi meninggakkan Tiana.
"Yasudah hati-hati ya, Kalian"
Dika dan Arumi lalu kembali ke parkiran motor. Sementara itu, Dika merasa tidak enak dengan Arumi yang membawa Ibunya untuk memilih Cincin.
"Maaf ya, Mi" Ucap Dika tiba-tiba.
"Loh, maaf kenapa, Bi. Eh bi, makan yuk? Aku laper" Arumi terlihat mengganti topik. Ia tahu, bahwa saat ini Dika sedang merasa tak nyaman.
"Ayo! Kamu mau makan apa?"
"Gimana kalau kita makan sate kambing, Hehe"
Tanpa lama-lama lagi, Dika menuruti keingan Calon istrinya menuju ke warung Sate pinggir jalan langganan mereka.
Mereka menghabiskan sekitar 5 menit, untuk sampai di Warung sate tersebut. Perlahan, Arumi turun dari motornya sambil melepas helm.
Begitu pun dengan Dika, Keduanya lalu berjalan dari tempat mereka parkir menuju ke Warung sate yang akan mereka datangi.
Tak di sangka, ada sebuah mobil hitam pekat yang melaju begitu cepat...
__ADS_1
*
Selamat membaca...