
Sebagai Pria yang bijaksana, Dika berencana untuk membeli pakaian ganti untuk Istri-nya. Ia sempat melihat toko pakaian yang masih buka, sehingga memilih pergi terlebih dulu untuk membeli baju.
Rupanya Toko yang ia lihat hanya menyediakan macam-macam Kaos dan kemeja Pria. Tak mau ambil pusing, Dika memilih 2 kaos berwarna Putih untuk dirinya dan Arumi.
Begitu selesai melakukan pembayaran, Pria itu lalu kembali ke Hotel Cempaka. Tempat dirinya akan bermalam bersama Istrinya.
Langkah demi langkah ia susuri dengan perasaan bahagia. Ia harus menuju ke lantai atas, untuk sampai ke kamarnya.
Namun belum sempat tangannya menekan tombol, tiba-tiba pintu lift itu terbuka.
Seketika, Dika menjatuhkan paperbag berwarna coklat yang ia bawa, begitu melihat kejadian yang tak terduga ada di hadapannya.
Sulit di percaya, namun ini sangat nyata. Dika membulatkan kedua matanya, menyaksikan Istrinya sedang berci*man dengan seorang Pria.
Sementara itu, sepasang mata yang di penuhi dengan bulir air mata pun, menangkap ke arah dimana Dika berdiri.
Dengan sekuat tenaga, Arumi berhasil melepaskan diri dari jeratan Pria asing itu.
"Bi, aku bisa jelaskan!" Dengan suara yang gemetar, tubuh yang terlihat kecil itu mulai mendekat ke arah Dika.
Namun Dika terlihat masih termangu, dengan apa yang baru saja ia lihat.
Sementara itu, Pria asing yang baru saja menci*m Arumi dengan rakus kini terjatuh gontai ke lantai. Lalu pintu lift kembali tertutup.
Arumi kini menyentuh tangan Dika yang masih termangu. Ia menyebut kembali namanya dengan lembut. Wajahnya memperlihatkan perasaan rasa bersalah.
Hal yang membuat Arumi sedih ialah, ketika Dika menjauhkan tangannya dari Arumi.
Pria itu seakan enggan di sentuh olehnya. Tubuhnya seketika berbalik membelakangi Arumi.
"Bi, ini cuma salah paham. Aku ngga mengenal siapa Pria tadi. Dia, dia tiba-tiba melakukan itu padaku! Aku sangat takut" Tuturnya kembali menderaikan air mata.
Wanita itu memang sangat ketakutan. Tetapi rasa takutnya seketika berubah menjadi cemas, saat kejadian itu di lihat langsung oleh Dika.
Seolah tak peduli, Dika terus membelakangi Arumi dan tak mau berbalik ke arahnya.
"Kita harus pulang!" Katanya lalu di susul dengan melangkahkan kakinya, yang semakin menjauh dari Arumi.
"Bi, bukankah kita mau menginap?"
Dika menghentikan langkahnya sejenak, begitu mendengar kata tersebut. Pria itu benar-benar telihat sangat kecewa. Sikapnya yang hangat seketika menjadi sangat dingin terhadap Istrinya.
Tanpa sepatah kata, Dika kembali melangkahkan kakinya. Melihat itu, Arumi pun berlari mengejarnya. Ia tahu, bahwa Suaminya tak percaya dengannya begitu saja.
"Bi, aku berani sumpah. Aku ngga mengenal Pria itu!" Suara Arumi terdengar lantang namun bergetar, saat kembali menjelaskan pada Dika.
Pria itu lalu masuk ke dalam taxi, dan di ikuti Arumi di belakangnya. Siapapun pasti akan marah, ketika melihat Wanitanya berci*man dengan Pria lain.
Kepercayaan yang ia bangun selama beberapa tahun ini, retak begitu saja. Dika masih terdiam membisu, hingga kini sampai di pelataran rumahnya.
Sementara Arumi, ia masih berusaha menjelaskan pada Suaminya. Wajahnya begitu gelisah, bahkan air mata yang berderai tadi sudah mengering.
Karena hari sudah larut, suasana rumah pun sepi. Kedua orang tua Dika tampaknya sudah tertidur pulas karena kelelahan.
*
Kini dua jam berlalu setelah kejadian buruk menimpa Arumi. Wanita itu hanya terisak, menatap Suaminya yang sudah terlelap tidur.
Di malam pertama pernikahannya, ia harus merasakan hal menyakitkan seperti ini. Pria asing yang tiba-tiba menci*mnya, membuat Dika menjadi dingin terhadap Arumi.
Suara isakan tangisnya bahkan tak dapat di dengar. Karena Arumi menutupi wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
Entah dosa apa yang Arumi lakukan, sehingga harus mengalami hal pahit ini.
***
Tak terasa pagi hari telah tiba. Sinar matahari yang menyilaukan, menembus melalui sela sela jendela dan membuat Pria yang tengah tertidur pulas mengernyitkan dahinya.
Tangan berotot miliknya kini memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Ia mendesis, merasakan ngilu pada kepalanya.
"Tuan, anda harus bangun! Jika jadwal pagi ini terlewat, maka anda akan berhadapan dengan Tuan besar!" Terdengar suara yang berat membangunkan Pria yang sedang berbaring di ranjang.
"Jam berapa ini, Han?" Dengan mata yang masih terpejam, Pria itu bertanya pada seorang Asisten yang membangun tidurnya.
"Jam 9, Tuan"
Sontak Pria itu membuka matanya lebar-lebar. Ada jadwal penting yang harus ia lakukan pagi ini. Jika ia melewatkannya, maka akan menjadi masalah baginya.
Rupanya, Pria itu ialah Malvino Saga. Pemimpin perusahaan manufaktur, yang menjalankan bisnis makanan. Sekaligus Pemimpin perusahaan terbesar di Indonesia.
Pria yang kerap di panggil Saga itu, di temukan oleh sekertaris Pribadinya tergeletak di dalam lift.
Yohan adalah Pria yang setia menjadi tangan kanan Saga selama beberapa tahun ini.
Untuk pertama kalinya, Saga bangun kesiangan akibat pengaruh alkohol yang ia minum semalam.
Semalam tadi, ia baru saja menghadiri Reuni yang di adakan di Hotel Cempaka. Saga bertemu dengan teman-teman SMA-nya, dan menghabiskan beberapa botol miras.
Apalagi, ketika teman-temannya membahas tentang kisah masa lalunya. Hal itu Membuat Saga terprovokasi. Pria itu semakin bersemangat untuk menenggak beberapa miras yang telah di sediakan.
Hingga sampai acara reuni tersebut selesai, alkohol telah berhasil menguasai kesadaran Saga. Asisten pribadi yang bernama Yohan, tak pernah memposisikan dirinya, jauh dari Saga. Ia bergegas menangani Tuan Saga, yang sudah mabuk berat.
Dengan susah payah, Yohan mengendalikan Saga yang keras kepala. Namun akhirnya, Yohan memilih memesan kamar untuk Saga, karena terlalu sulit di atasi.
Tepat saat Yohan memesan kamar, Saga mulai berkeliaran tanpa sepengetahuan Yohan. Hingga akhirnya, ia di pertemukan dengan Arumi di dalam lift.
Arumi di matanya sangat mirip dengan Wanita yang pernah ia Cintai dengan sepenuh hati. Wanita itu bernama Ayuna, Cinta pertama sekaligus tunangan Saga.
Pria itu telah kehilangan Ayuna sejak 2 tahun lalu. Perasaannya masih terjebak pada masa lalu, yang membuatnya tak bisa melupakan Yuna.
Tunangannya telah pergi meninggalkan Saga untuk selama-lamanya. Meski sangat berat, namun Saga harus mengikhlaskan kepergiannya.
Namun begitu, bukan berarti ia bisa melupakan wajah Wanita yang sangat ia cintai begitu saja.
Dalam kesadarannya yang di pengaruhi alkohol, Saga yang saat itu mengira bahwa Arumi adalah Yuna pun segera menci*mnya tanpa pikir panjang.
Pria itu sangat merindukan Kekasihnya. Ia tak sadar dengan apa yang ia lakukan, akan menyebabkan masalah untuk Arumi.
Pagi ini pukul 9 lebih 15 menit, Saga terduduk di sebuah Cafe. Tampaknya ia telah melewatkan janji yang di atur oleh Kakeknya.
Janji temu dengan Wanita yang akan di jodohkan dengannya, telah batal begitu saja. Mungkin Wanita itu terlalu enggan untuk menunggu Saga lebih lama lagi.
Kakeknya telah mengatur pertemuan Saga dengan seorang Putri walikota. Namun ini bukan pertama kalinya, Saga mengagalkan rencana Kakeknya.
Perjodohan Orang kaya memang rumit, tetapi inilah faktanya.
Saga telah di besarkan di keluarga kaya. Ia menuruni kecerdasan genetik dari Kakenya yang bernama Martin sandiego.
Pria itu tersenyum menyeringai, karena telah kembali menggagalkan rencana Perjodohan konyol yang di atur oleh Kakeknya.
Saga hanya perlu menyiapkan telinga, untuk mendengar ocehan Kakek Martin padanya.
"Apa anda sengaja berbuat begini, Tuan?" Tanya Yohan, berdiri di dekatnya.
__ADS_1
"Kenapa tanya. Bukannya kamu yang paling tahu?" Dengan santai, Saga meneguk Americanonya yang tingga setengah gelas.
"Tapi, Ka..."
Belum sempat Yohan selesai berbicara, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia lantas memasang wajah yang tak enak, karena tau siapa yang menghubunginya.
Kedua Netranya sejenak menatap ke arah Saga. Ia meminta persetujuan, haruskah dirinya menjawab telfon tersebut yang merupakan dari Kakek Martin.
Tanpa banyak kata, Saga merebut ponsel milik Yohan dan segera menjawab panggilan dari Martin.
"Halo? Dimana kamu? Kenapa Putri Walikota itu pulang? Apa yang Anak itu lakukan?" Martin bertanya tanpa jeda dari balik telfon.
Saga lalu menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya. Kakek Martin benar- benar berisik.
"Aku ngga berbuat apapun. Aku cuma telat 30 menit!" Jawab Saga dengan nada santai.
"Dasar bocah kurang ajar! Mau sampai kapan kamu melakukan ini?" Kakek Martin kembali menerocos, ketika mengetahui bahwa Saga yang menjawab panggilan tersebut.
Namun, Saga segera menekan tombol merah dan mengakhiri panggilan tersebut.
Lalu Yohan hanya melihat kejadian yang sudah tak asing lagi baginya.
"Mau kemana, Tuan?" Tanya Yohan ketika melihat Saga beranjak berdiri.
"Ke kantor!"
Saga melangkah lurus, sambil mengenakan kacamata hitamnya. Hal itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian, para pengunjung Cafe tersebut.
Pria itu kini duduk di kursi belakang mobilnya, lalu di susul Yohan yang mengemudikan mobilnya.
Tampaknya Saga tak mengingat kejadian semalam. Tindakannya yang sembrono membuat nasib buruk bagi seseorang.
"Han, Semalam aku masuk ke kamar jam berapa?" Tanya Saga, sambil menatap ke arah Spion.
"Jam 1 dini hari, saya membawa anda masuk ke kamar. Ada apa, Tuan?"
"Tidak ada!" Singkat Saga menjawab. Ia terlihat sedang mengumpulkan kepingan ingatan semalam.
"Lagi-lagi aku mempimpikan Yuna!" Gumam Saga dalam hatinta. Rupanya Pria itu mengira, pertemuannya dengan Arumi hanyalah Mimpi.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di Perusahaan.
***
Pagi tadi seusai bangun tidur, Arumi seperti Istri pada umumnya. Ia bangun pagi, lalu menyiapkan sarapan untuk keluarga Dika.
Namun sikap Dika terhadapnya masih saja Dingin. Arumi hanya mencoba untuk membuat suasana agar tak semakin runyam.
Dika adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia mempunyai kakak perempuan yang sudah menikah, serta adik perempuan yang masih duduk di bangku SMA.
Setelah semuanya pergi bekerja dan bersekolah, kini hanya ada Arumi dan Ibunya di rumah.
Karena sejak pagi sudah beraktifitas, Arumi pun lantas mandi, membersihkan diri dari keringat.
Wanita bergelar Istri itu terduduk di sofa ruang Tv, dengan handuk yang melilit di kepalanya.
Jarang sekali Arumi menghabiskan waktu bersantainya seperti ini. Ia sedikit merasa lega, karena bebannya berkurang. Arumi tak harus di kejar waktu, tentu ia mensyukuri apa yang terjadi dalam hidupnya.
"Arumi, ayo temanin Ibu" Ujar Tiana tiba-tiba.
"Kemana, Bu?"
__ADS_1
***
Next--)