
Angin musim semi berhembus, membawa daun-daun hijau dari pepohonan, menari bersama dengan alam sekitar, lalu jatuh tepat diatas telapak tangan seorang laki-laki.
Laki-laki itu tengah berdiri di beranda sebuah kastil besar. Memejamkan matanya, menikmati angin yang berhembus. Ia membuka matanya saat merasakan sesuatu menyentuh telapak tangannya yang terbuka.
Sebuah daun.
Ia menatap daun itu, kemudian tersenyum kecil lalu melepaskannya kembali, membiarkannya terbawa angin.
"..sikapmu itu yang akan membuat masalah besar untuk Edenteria" suara itu datang dari seorang wanita tua yang tengah duduk didalam ruangannya.
Nia, -laki laki diberanda itu- berbalik dan melangkah kedalam ruangan. Duduk disalah satu kursi disana lalu menatap kedua tetua kerajaan yang dipilih sang Penguasa untuk menjadi penasehat Edenteria.
"Jadi ada apa?" tanya Nia dengan sopan. Walaupun begitu wanita tua dihadapannya menunjukkan ekspresi tersinggung yang kentara.
Wanita tua itu ingin segera mengangkat suaranya, namun sosok laki-laki tua yang duduk disebelahnya menyela.
"Nia.." Nia menatapnya, memberikan kesempatan bicara. Laki-laki tua itu menghela nafasnya sebentar sebelum melanjutkan perkataannya.
"Kau adalah Aldrich tertinggi saat ini, keberadaanmu sangat berpengaruh, hal itu memberikanmu tanggung jawab besar, karena itu kami mengharapkan tindakan bijaksana dimasa depan" ucapnya.
Nia tersenyum, ia melirik Lian, laki-laki lain yang memang sejak tadi berdiri disampingnya.
"Hal ini bisa kita bicarakan sambil minum teh kurasa, astaga.. apa yang baru saja kulakukan.." ucapnya sambil menepuk keningnya.
"Aku lupa mengambilkan minuman untuk kalian, oh tolong maafkan ketidaksopanan ku ini" ucapnya dengan nada sopan, jelas sekali ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku tau kau mengerti apa yang baru saja kukatakan.." ucap laki-laki tua itu mempertegas kata-katanya tadi.
Nia kembali melirik Lian disampingnya, dan akhirnya Lian mengerti. Ia segera angkat bicara.
"Ehem, maaf tuan Arion, kurasa kami sudah menjalankan semua hal yang seharusnya kami lakukan"
"Ya.. Kecuali satu hal" Lian mengangkat sebelah alisnya.
"Bagaimana dengan dia?" laki laki tua bernama Arion itu kembali bertanya.
"Ahh, masalah itu" Nia berdiri dari tempat duduknya, lalu kembali berjalan kearah beranda. Matanya menatap langit.
"Apa anda tau, langit melambangkan kebebasan.."
"Walaupun begitu ia tetap ditempatnya, memayungi dunia seburuk apa pun kondisinya" ucap Nia yang kini kembali menatap kedua penasehat kerajaan itu.
"Hal semacam itu tidak bisa.."
Tok tok tok
Sebuah ketukan dipintu memotong perkataan wanita tua itu, sedetik kemudian pintu terbuka, menampakkan dua orang gadis bersurai coklat dibaliknya. Salah satu dari mereka mengenakan zirah besi dengan paduan sebuah rok merah pendek, tatapan tajam bagai elang serta sebuah pedang dipinggangnya. Yang lainnya mengenakan jubah berpergian berwana hitam.
"Ah.. Noey, Bella.. aku sudah menunggu kalian, masuklah" ucap Nia pada kedua gadis yang baru datang itu.
Rasa canggung menyelimuti kedua gadis itu, melihat kehadiran tetua kerajaan diruangan itu membuat keduanya terdiam sesaat diambang pintu, namun sedetik kemudian kedua penasehat kerajaan itu bangkit dari tempat duduknya.
"Sepertinya kami akan menunggu jawabanmu nanti, sudah cukup untuk sang Pertama, jangan sampai dia juga bertindak semaunya.." ucap Arion dingin, matanya menatap tajam kearah Nia dan Lian yang terpaku di tempat mereka berdiri.
Nia tersenyum hampa.
"Baiklah, akan kupastikan hal itu takkan terjadi" ucap Nia datar. Kemudian kedua penasehat itu berjalan keluar ruangan, melewati kedua gadis didepan pintu yang menunduk hormat pada mereka.
"Masuklah.." ucap Lian kemudian mempersilahkan Noey dan Bella masuk, nada bicaranya sudah kembali normal. Berhadapan dengan para tetua membuatnya harus bersikap formal. Sedangkan Nia duduk dimejanya, meja kerja Aldrich pertama.
"Tak biasanya mereka berdua datang kesini.." ucap Noey membuka percakapan. Ia berdiri tepat didepan meja kerja Aldrich pertama, Bella ikut berdiri disampingnya setelah menutup pintu dibelakang.
"Hanya hal biasa, mengontrol pekerjaan kami.." ucap Lian santai sambil berjalan kesisi kanan ruangan, mengambil tempat diatas kursi rajutan yang empuk. Ia duduk disana sambil menyilangkan kakinya.
"Jadi ada apa?"
Noey melirik gadis disebelahnya.
"Aku hanya mengantar Bella, ia baru saja tiba dari tugas yang kau berikan" ucap Noey menjelaskan.
Lian kembali bangkit dengan bergairah.
"Jadi sudah kau dapatkan?"
Bella tersenyum kecil, kemudian ia mengeluarkan sebuah perkamen dari balik pakaiannya kemudian meletakkannya diatas meja, Nia mengambilnya kemudian membacanya.
"Kami mendapatkannya, walau tak terlalu banyak.. Seperti yang anda perkirakan" ucap Bella sambil mengeluarkan sebuah permata biru sebesar kepalan tangan dari sakunya.
"Tambang itu sudah menjadi sarang Goblin, beberapa dari kami terluka akibat pertempuran, karena itu kami hanya mendapatkan sekitar 150 buah"
Lian meraih permata itu, melihatnya dengan ketertarikan yang besar.
"Candellion biru.. Salah satu hal yang menarik didunia ini, 150 buah? Itu lebih dari cukup"
Nia memperhatikan ketertarikan temannya itu. Lalu tersenyum jahil.
"..dan apakah keajaiban benda itu yang membuat anda tertarik wahai tuan Aldrich ketiga"
Lian meliriknya dengan tajam.
"Apa apaan cara bicaramu itu.."
"Aku juga ingin tau, apa yang kau rencanakan dengan benda itu?" Noey terlihat tertarik juga. Sedangkan Bella hanya diam ditempat.
Lian tersenyum.
"Ada sesuatu yang ingin kuciptakan, dan dengan Candellion ini, hal itu mungkin bisa saja terwujud" jelasnya yang sepertinya masih tak bisa dimengerti oleh ketiga orang itu. Tercetak jelas diwajah ketiganya.
"Haaahh.. Apa harus kujelaskan?" ucapnya yang terdengar seperti semangat nya tiba-tiba menguap. Walaupun begitu, ia tetap menjelaskan.
"Candellion, adalah salah satu dari tiga permata yang memiliki kekuatan menyerap dan menangkap tekanan Cloe seseorang, lalu menyimpannya serta melepaskannya dalam bentuk energi yang berlipat"
Bella menatap Aldrich ketiga itu dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Apa hal itu benar benar bisa dilakukan?maksudku, permata sekecil itu punya kemampuan yang luar biasa, apa itu mungkin?"
Lian tak menjawab, ia melempar Candellion ditangannya keatas, melambung dilangit-langit ruangan. Kemudian ia menunjuk Candellion itu sambil merapal matra.
"Aux de brue flare~"
Sebuah petir kecil menyambar dari ujung jarinya kearah Candellion yang masih melambung dilangit-langit ruangan. Tak ada efek yang berarti, namun seluruh petir yang menyambar itu terlihat seperti diserap oleh permata itu.
Setelah selesai, Candellion itu jatuh ditangan Nia. Ia menggenggamnya, ada sesuatu yang aneh pada Candellion itu.
"Berdenyut.." ucapnya.
"Itu adalah tekanan Cloe yang baru saja diserapnya, berdenyut karena tekanan yang ada" ucap Lian sambil tersenyum kecil.
"Sangat berguna, terima kasih Bella" ucap Lian lagi.
Bella menunduk hormat.
"Aku hanya menjalankan tugas.." ucapnya.
"Baiklah, Bella.. kau boleh pergi, beristirahatlah, jangan sampai kau terlihat lelah saat festival besok" ucap Nia sambil mempersilahkan Bella pergi.
"Noey tetap disini, ada yang ingin aku bicarakan"
Bella menunduk hormat pada Nia dan Lian. Lalu beralih ke Noey.
"Aku permisi kapten" ucapnya.
Noey memutar bola matanya.
"Sudah berapa kali kubilang, tak perlu memanggil ku begitu jika didalam kastil" ucap Noey dengan wajah bosan, sedangkan Bella hanya tersenyum kecil kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Kini tinggal mereka bertiga yang tersisa, hening menyelimuti ruangan putih itu, hanya terdengar detak jarum jam serta suara Lian yang menggosok kacamatanya.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Noey yang mulai bicara. Ia menatap Nia, Aldrich kedua itu tak menjawab, ia hanya memandang kosong kearah sisi lain ruangan. Memandang sederet jubah putih yang tergantung rapi disana.
Empat jubah putih itu tersimpan disana, didalam sebuah lemari kaca yang dibuat khusus untuk itu. Jubah putih itu sendiri adalah jubah kebesaran para Aldrich, angka dipunggungnya yang dirajut dengan benang emas mewakili para Aldrich itu sendiri.
Nia masih menatap kearah lemari kaca itu sampai pada akhirnya Noey kembali bersuara.
"Apa ini soal ketua?"
Nia berpaling dari lemari itu, beralih menatap Noey yang masih berdiri didepannya.
Ia tersenyum.
"Aku tak tau apa yang ada dipikirkannya, sudah empat tahun sejak hari itu tapi sampai saat ini tak ada satupun kabar darinya"
Lian menatapnya, ia juga merasakan hal serupa. Dan mungkin bukan hanya dia, melainkan seluruh penduduk Edenteria juga merasakannya.
Perginya Aldrich pertama, ketua serikat yang sejak dulu selalu bersama mereka. Kini entah dimana, menghilang begitu saja meninggalkan mereka.
Nia memutar kursinya menghadap beranda, ia menatap langit cerah musim semi.
"Mungkin ini sudah pernah kutanyakan, tapi aku ingin menanyakannya sekali lagi.."
"Apa kau tau sesuatu?"
Noey terdiam, ia menatap bagian belakang Aldrich kedua itu.
"Tak ada, aku tak tau apa pun"
"Begitu? kupikir.." Nia menghela nafasnya kemudian kembali berkata.
"...karena kalian berasal dari desa yang sama, kau akan tau sesuatu"
Noey terdiam, ia menatap jubah Aldrich pertama didalam lemari kaca.
"Sejauh yang ku tau, orang itu.. memang selalu merepotkan, bertindak semaunya, bertingkah bodoh sambil meneriakkan mimpinya"
Lian berdiri dari posisi duduknya. Mengenakan kembali kacamatanya.
"Kuakui, aku kehilangan sosoknya, tak ada orang yang lebih mengenal kita semua selain dia"
"Ya"
Nia kembali memutar kursinya menghadap meja. Pandangannya sudah berubah, ia tak ingin berlarut-larut dalam hal ini.
"Besok adalah hari dimana festival Vanor diadakan, bagaimana persiapannya?" ucapnya, kini dengan nada yang lebih cerah.
Noey tertegun sebentar, namun ia segera mengerti perubahan sikap Nia saat ini. Sebagai Aldrich tertinggi saat ini, ia tak mau menunjukkan kegelisahannya. Kemudian Noey segera menjawab.
"Semua berjalan lancar, sampai saat ini sudah mencapai 90%, aku yakin festival besok akan sempurna"
"Baguslah.. Kalau begitu aku harap besok menjadi hari yang menyenangkan.." ucap Nia sambil tersenyum, Lian dan Noey juga ikut tersenyum melihatnya.
***
Trinking~
"Selamat dataaang~" sapa seorang penjaga toko yang menyambut kedatangan sang pelanggan, gadis berkaus putih yang berlapis jaket tipis berwarna sama. Syal merah dilehernya terlihat mencolok, walaupun ini musim semi namun udara diluar masih terlalu dingin memaksa beberapa orang untuk mengenakan baju hangat.
Gadis itu melangkah masuk, tersenyum pada penjaga toko, kemudian mulai berjalan mengitari toko mencari bahan makanan yang akan ia beli.
Ia mengambil beberapa sayuran, buah-buahan dan kemudian berhenti tepat didepan meja daging.
Ia menatap daging putih yang berjajar di atas meja, sebuah papan tanda menjelaskan bahwa itu adalah daging RoutRabbit. Seekor kelinci yang masih dalam kategori monster, bermata tiga dan berbulu tebal, lebih besar dari kelinci normal.
'Aku sangat suka RoutRabbit!!'
Bayangan seorang anak laki-laki melintas begitu saja dikepalanya, anak laki-laki dengan suara nyaring yang memekakkan telinga.
Gadis itu segera menggelengkan kepalanya, kemudian mengambil beberapa potong daging yang besar.
.
.
.
.
.
"Terima kasih, silahkan kembali lagi~" ucap sang penjaga toko sambil melambaikan tangannya pada pelanggannya itu.
Gadis itu berjalan lurus, menjauh dari toko tadi. Helaian pirangnya yang diikat ponytail berayun setiap kali melangkah. Terlihat lucu.
Ia berjalan perlahan, membawa kantong kertas berisi belanjaan didepan dadanya. Matanya menatap tak fokus kejalan, wajahnya yang datar menunjukkan keresahan yang ia rasakan.
Tap tap..
"Hei Frans!!"
"Ka Mou?"
***
Lian mengambil salah satu cangkir teh yang baru saja diletakkan seorang pelayan kastil diatas meja. Menghirup aroma cairan coklat ditangannya sambil memejamkan matanya.
"Ahh~ harumnya aroma teh disore hari.."
"Terima kasih 79" ucap Nia kepada pelayan wanita yang membawakannya teh. Pelayan itu tersenyum lalu menunduk hormat.
"Ada lagi yang bisa saya ambilkan, tuan Nia?" ucapnya lembut.
Nia menggeleng lalu tersenyum.
"Tidak, terima kasih, ini sudah cukup.."
Gadis pelayan itu kembali menunduk hormat kemudian berlalu pergi. Noey menatapnya hingga pintu ditutup, lalu beralih menatap Nia yang sedang meminum tehnya.
"Sampai sekarang aku masih belum mengerti kenapa mereka dinamakan dengan angka.." ucap Noey
"Begitu juga denganku.." ucap Lian sambil meletakkan cangkir teh diatas meja yang berada tepat disampingnya.
"Andai angka itu tak ada di pakaiannya, mungkin aku akan keliru memanggilnya"
"Hanya kepala pelayan dan lima pelayan atas yang punya nama cukup normal" Nia meletakkan cangkir tehnya lalu tersenyum kecil.
"Kurasa, Dimas cukup kesulitan menentukan nama untuk mereka"
Noey masih berdiri ditempatnya sejak tadi, teh miliknya yang diletakkan 79 diatas meja didepannya sama sekali tak disentuhnya.
Lain dengan Lian yang bahkan sudah mengosongkan isi cangkirnya.
"Festival Vanor" Lian memecahkan keheningan, ia berdiri, berjalan mendekat pada kearah dua temannya itu.
"Kurasa akan lebih meriah dari tahun lalu"
"Ya, akan banyak pendatang yang hadir, terlebih lagi para pedagang dari berbagai daerah, selain itu berbagai orang dari keluarga bangsawan sudah mulai memenuhi Atrium.." ucap Noey membenarkan perkataan Lian. Ia melipat tangannya didepan dada, kemudian menatap Nia yang masih menikmati tehnya.
"Lalu.. kapan kau akan menjelaskan soal pertemuanmu dengan Penguasa?"
Nia hampir menyemburkan tehnya saat mendengar Noey bertanya, beruntung ia masih bisa mengendalikan diri. Ia meletakkan cangkir tehnya, kemudian menatap Noey yang berdiri dengan tatapan tajamnya. Sekilas ia melihat Lian yang berdiri disebelah Noey dengan wajah terkejut.
"Aku tak ingat pernah mengatakan hal itu.." ucap Nia sambil memasang senyum kecil, walau jelas terlihat kalau ia berusaha menutupi sesuatu.
"Jangan pernah meremehkan pendengaran Elf.." sebuah suara terdengar, kemudian pintu mengayun terbuka menampakkan sosok Kevin dibelakangnya. Ia melangkah masuk kedalam ruangan, ia menarik turun tudung jubahnya, menampakkan kulit wajahnya yang halus serta telinga runcing khas Elf.
"Ah... Ternyata kau.." Nia memijat pelipisnya pelan melihat Kevin melangkah masuk setelah menutup pintu dibelakangnya.
"Ingatkan aku untuk memasang mantra penolak-indra diruangan ini nanti.." ucapnya lagi sambil menatap Lian.
Kevin tersenyum miring, mendengus pelan. Ia berhenti tepat disamping Noey.
"Aku tak sepenuhnya Elf, mantra itu takkan berguna untukku"
"Kalau begitu biar kupasang mantra penolak-Kevin, kurasa aku pernah membacanya disebuah buku" ucap Lian bergurau sambil menyebutkan mantra yang tak pernah ada. Kevin tersenyum datar.
"Aku berada tepat dibawah ruangan ini bersama Kak Noey saat para tetua itu masuk, memberi tau mu tentang pertemuan itu" jelas Kevin, ia berputar kemudian duduk di kursi yang sama dimana para tetua duduk sebelumnya.
"Aku heran, kau tau jika Kak Noey sedang berada di lantai bawah, bahkan sempat memintanya untuk datang, tapi kau tak tau jika aku ada disana" ucap Kevin lagi.
"Tunggu, memintanya?" Lian bertanya, kemudian beralih menatap Nia yang masih diam dibelakang meja.
"Kau memintanya datang? Bagaimana kau.."
"Daun.." ucap Noey yang kemudian membuat Lian semakin bingung. Lalu ia kembali bicara.
"Tak ada daun biasa yang punya tulisan 'datanglah dan bantu aku' dipermukaannya"
Nia menepuk dahinya sedangkan Lian menatap nya dengan pandangan aneh.
"Kapan kau menulisnya??"
"Itu tak penting, daripada itu bisa kau jelaskan? kenapa Penguasa ingin bertemu denganmu?" kini Noey kembali mendesaknya, menatapnya dengan tatapan sedingin es.
"Apa ini menyangkut kepergian ketua?"
Semua mata menatapnya, menunggu jawaban. Nia menghela nafas, ia menggeser cangkir tehnya kesamping, menyatukan jari jarinya kemudian mulai bicara.
"Ya sebenarnya bukan hanya aku yang akan bertemu Penguasa, semua pemimpin tiap kerajaan di benua ini akan datang ke pertemuan itu. Tapi khusus untukku, sepertinya mereka mau membahas masalah itu, walau tujuan sebenarnya adalah mencegah hal itu terulang"
"Ahh.. Aku mengerti, itu pasti tentang dia kan?" ucap Kevin yang segera dibalas anggukan kecil oleh Nia.
Noey menaikkan sebelah alisnya.
"Si bodoh itu?"
"Sudah dua tahun ia pergi, koreksi aku jika salah" Lian mengingat-ingat nya.
***
Grandel Cop, salah satu dari puluhan kedai di Edenteria. Terletak di bagian timur kerajaan, tak jauh dari Atrium pusat.
Kedai kecil yang terlihat sederhana ini merupakan tempat favorit para penduduk, khususnya bagi mereka yang tak punya banyak uang. Namun, walaupun menu yang disajikan cukup murah, rasa yang ditawarkan tak kalah dengan kedai-kedai besar di kerajaan ini.
Hari menjelang sore, Grandel Cop terlihat sepi. Hanya segelitir pengunjung yang terlihat disana. Salah satunya adalah tiga orang gadis yang kini duduk disudut kedai dengan gelasnya masing masing.
"Ahhh~ nikmatnya" ucap salah satu dari ketiga gadis itu dengan riang sambil meletakkan gelas Amonte miliknya. Gadis bersurai hitam panjang itu menatap kedua temannya yang duduk tepat dihadapannya.
"Aku sangat suka Amonte di kedai ini"
"Ini bukan Amonte biasa" Iro, gadis bersurai ungu gelap yang mengenakan pakaian santai itu, mencium aroma cairan jingga dalam gelasnya.
"Amonte biasanya dibuat dari Raspberry, jenis lain dari Strawberry yang tumbuh di tepi hutan. Tapi ini, agak berbeda"
"Mou, apa ini benar Amonte?" tanya Iro meyakinkan.
Gadis yang dipanggil Mou itu tertawa kecil, ia meneguk sedikit lagi Amonte miliknya.
"Iro, kau kenapa? Jangan kaku begitu, kita ini sedang tidak bertugas, santai saja, itu bukan racun"
Iro masih menatap gelas ditangannya. Mou segera beralih kearah lain, tepat pada gadis lain yang duduk disamping Iro. Gadis dengan syal merah itu terdiam.
"Hei, Frans.. Kau baik baik saja?"
Gadis bernama Frans itu tersadar dari lamunannya. Ia menatap Mou.
"Eh iya, kenapa Kak Mou?"
"Kau baik baik saja? Apa kau sakit?" tanya Mou dengan nada khawatir. Ia melihat wajah Frans cukup pucat, ditambah sebuah syal dilehernya, mungkin ia sakit.
Frans menggeleng pelan. Kemudian ia tersenyum kecil.
"Tak apa apa, aku baik baik saja" ucapnya, namun Mou masih menatapnya intens.
Frans yang ditatap seperti itu berusaha mengalihkan pembicaraan, ia menatap Iro yang masih memikirkan Amonte ditangannya.
"Kak Iro, itu hanya Amonte" ucapnya.
Iro menoleh, dari matanya menunjukkan kalau ia masih ragu. Tipe petarung seperti dirinya sudah terbiasa teliti dalam segala hal, terlebih lagi tentang makanan dan minuman. Keahliannya dalam hal mengolah racun menjadikannya 'sedikit' pemilih soal makanan.
Selalu waspada.
Atau terlalu waspada, jika itu menurut Mou.
"Kedai ini, Grandel Cop, memadukan Amonte dengan susu sapi. Membuatnya sedikit lebih cair dari biasanya" jelas Frans sambil melihat kedalam gelasnya. Ia menggoyangkan gelas Amonte miliknya kemudian menghirup aromanya.
"Raspberry yang digunakan juga bukan berasal dari hutan, melainkan dari kebun yang ditanam sendiri. Rasanya agak berbeda karena tumbuh dikebun, tekstur tanah di Edenteria yang cukup keras membuatnya tak bisa tumbuh sebagus di hutan" Frans mengambil sebuah sendok, lalu mengecap Amonte miliknya dengan sendok.
"Rasanya agak asam karena fermentasi susunya.. Ah, ya kurasa akan lebih baik jika ditambah sedikit madu lebah Wamps" ucapnya lagi sambil tersenyum dan kemudian sadar bahwa kedua temannya itu tak mengerti perkataannya, terlihat dari tatapan mereka kearahnya.
__ADS_1
"Eh, maaf.. aku bicara terlalu banyak ya"
Mou tertawa, begitu juga dengan Iro. Sedangkan Frans kini bingung, kenapa mereka berdua tertawa.
Namun Iro segera menguasai diri.
"Haha.. satu hal saja Frans" ucapnya sambil menahan tawanya.
"Sedikitpun, aku tak mengerti apa yang kau katakan barusan" ucapnya yang kemudian kembali tertawa sedangkan Frans hanya tersenyum kikuk.
"Dari pada itu.." kini Mou sudah berhasil menghentikan tawanya, walau dengan susah payah, terlebih lagi saat melihat senyum kikuk Frans.
"Belajaanmu banyak sekali.."
Frans melirik kantung belanjanya di atas meja, tepat disisinya. Benar sekali, sepertinya ia baru sadar kalau kantung kertas yang digunakannya sedikit menggembung karena banyaknya barang yang harus ditampung.
"Ya.. Ini untuk persediaan beberapa bulan kedepan" ucapnya.
"Aku sering mendapat tugas ditempat yang jauh, tak punya waktu untuk membeli semua ini. Jadi, selagi sempat aku membelinya dalam jumlah besar" ucap Frans lagi.
Mou menatap isi kantung belanja milik Frans, ia melihat beberapa buah-buahan, sayuran, serta daging yang sepertinya belum pernah ia lihat.
"Em, daging putih itu.." ucap Mou sambil menunjuk daging didalam kantung belanja coklat itu.
"Aku belum pernah melihatnya"
Iro menoleh, melihat kearah yang ditunjukkan Mou.
"Itu RoutRabbit kan?" Frans mengangguk kecil.
"RoutRabbit?" Mou terlihat bingung, Frans segera menjelaskan semua hal tentang RoutRabbit. Mou mengangguk mengerti.
"Enak kah?"
"Benar-benar enak, dagingnya berbeda dengan daging lain. Teksturnya lembut dan punya cita rasa sendiri. Walau kau hanya membakarnya tanpa bumbu, RoutRabbit tak pernah terasa hambar" jelas Iro yang kini telah yakin bahwa cairan jingga di gelasnya hanyalah Amonte. Ia meneguknya beberapa kali.
"Kau pernah mencobanya?" kini Mou bertanya pada Iro. Gadis bersurai ungu itu menatap langit-langit kedai lalu menjawab.
"Dulu, saat Master masih memimpin Divisi Delapan, saat bertugas keluar kerajaan kami sering berburu RoutRabbit dan memanggangnya untuk makan malam"
"Master paling menyukai bagian kepala" ucapnya lagi yang membuat Mou merasa mual.
"Huee menjijikan.."
"Kau harus mencobanya sesekali.." ucap Iro yang kemudian meneguk habis Amonte miliknya.
"Tidak, terima kasih. Aku tak mau merusak makan malam ku" balas Mou yang kemudian tertawa bersama kedua temannya itu.
***
"Izinkan aku untuk membawanya pulang" ucap Noey tiba-tiba, membuat Nia mengangkat sebelah alisnya.
"Si bodoh itu, aku akan menemukannya dan kupaksa pulang"
"Ahh, itu ide yang bagus" ucap Lian dengan nada setuju. Ia tersenyum miring.
"Aku berani bertaruh, Kak Noey pasti bisa membawanya pulang dengan sebuah rantai yang dikaitkan dilehernya" ucapnya lagi sambil terkekeh.
Kevin terlihat berpikir, dahinya mengerut lalu akhirnya bersuara.
"Ya, kupikir juga begitu, mengingat tak ada orang yang bisa menghentikan si bodoh itu selain Kak Noey"
"Tapi bagaimana kau akan menemukannya?"
"Aku akan mengajak Iro" jawab Noey, yang kemudian kembali bersuara saat merasakan kebingungan Kevin dibelakangnya.
"Saat ketua menempatkannya di Divisi Delapan sebagai kapten, si bodoh itu menanamkan Segel Empat Penjuru dua arah pada Iro"
"Segel Empat Penjuru?" Kevin sepertinya tertarik, terlihat dari sikap duduknya yang kini tak lagi bersandar santai dikursi.
"Dua arah.." koreksi Noey
"Ya, segel itu menghubungkannya dengan Iro hingga ia bisa melacak tekanan Cloe milik Iro serta mengetahui tempatnya berada, begitupun sebaliknya Setingkat lebih tinggi dari Mantra Pelacak Searchdon yang punya batas pada jarak tertentu, Segel Empat Penjuru tak memiliki batas, jadi kau bisa melacaknya dimanapun ia berada" jelas Noey.
Lian mengangguk mengerti. Sedangkan Nia tak memberikan ekspresi apapun, ia menatap kosong kedepan, tak fokus pada siapapun.
Angin berhembus dari beranda, membuat sang Aldrich Kedua itu terdiam sedangkan ketiga temannya masih membahas Segel Empat Penjuru. Ia merasa aneh pada dirinya, sesuatu dalam dirinya bagai menggelitik otaknya, membuat perasaannya tak tenang.
Ada apa?
Angin berhembus lagi, kali ini lebih kuat dari sebelumnya, membuat beberapa perkamen di meja terbang menjauhinya.
Sesuatu.
Ia merasakan sesuatu yang janggal. Otaknya berputar keras, mengabaikan suara teman temannya. Memejamkan mata, mendengar hembusan angin -yang ia rasa- aneh untuk ketiga kalinya.
Dan kemudian, -tepat saat Noey kembali meminta izin untuk kedua kalinya- ia membuka matanya. Lalu tersenyum miring.
"Kita bahas itu lain kali, kita kedatangan seorang tamu .."
***
Hyushh~
Angin musim semi berhembus menerpa jubah hitamnya, menampakkan kaki kuat yang melangkah dengan mantap. Seorang laki-laki berjubah hitam berjalan menyusuri hutan, tepat dibelakangnya sosok lain yang tak lebih tinggi dari lututnya, berjalan mengikutinya dengan derap langkah yang terdengar lucu.
Pyong~ pyong~
"Heii~ aku lapar-gero~" ucap sosok kecil hitam-kelabu berwajah katak yang hampir tak terlihat seperti katak. Kepalanya cukup besar dibandingkan tubuhnya, telinga panjangnya lebih mirip kelinci, walaupun tidak berdiri tegak melainkan menjuntai hingga dagunya.
Wajah bulat kelabu itu terlihat lucu dengan bola mata besar dan pupil bulat hitamnya. Ia berjalan lesu dengan dua kaki kecilnya, tas coklat besar dipunggungnya membuatnya terlihat amat kelelahan.
"Kau pikir, cuma kau yang kelaparan hah!?" ucap laki-laki berjubah hitam yang berjalan didepannya dengan nada tinggi.
Hal itu membuat tudung jubahnya merosot, menampakkan seorang laki-laki bersurai hitam dengan wajah kurus sama seperti postur tubuhnya, manik Onyx miliknya berkilat sebal.
"Huh.. aku kan punya 4 perut-gero" jawab sosok kecil itu yang ternyata adalah seekor katak monster berjenis DragonFrog yang sangat jarang ditemui dibenua ini, terlihat dari sepasang sayap yang mirip sayap naga menyembul dari balik punggungnya, terjepit diantara punggung dan tas besar yang ia bawa.
Laki laki itu berhenti tiba-tiba lalu menunjuk wajah sang katak dengan kesal.
"BAGAIMANA KAU PUNYA 4 PERUT DENGAN TUBUH SEKECIL ITU BODOH!!"
"JANGAN MENYEBUTKU BODOH, BODOH!!" balas katak itu yang juga berteriak dengan suara nyaringnya. Walaupun terdengar lucu.
"Hmbb! Lebih baik kau diam, suaramu bisa merusak telingaku" ucap laki-laki itu membuang wajahnya kemudian kembali berjalan.
"Hmb!! Suaramu bahkan bisa merusak seluruh dunia-gero!" balas katak itu tak mau kalah dan akhirnya pertengkaran kecil itu kembali dimulai hingga mereka berdua sadar bahwa mereka sedang kelaparan.
"Aku lapaaaar (geroo~)" ucap mereka berdua sambil tertunduk lemas.
Namun kemudian laki laki itu segera berdiri menggenggam tas besar katak hitam-kelabu itu lalu menariknya hingga si katak dan tasnya terangkat.
"Tak ada gunanya kita berdiam diri, kita harus terus berjalan" ucapnya kembali berjalan sambil mengangkat katak itu beserta tasnya.
"Tapi aku lapaaar-geroo~" rengek sang katak dengan suara lucu nya, kaki kecilnya menendang-nendang angin membuat laki-laki yang mengangkatnya sebal.
"Aku bisa menghabiskan seekor Minotaur jika aku mau-gero!!"
"Oh aku sangat ingin melihatnya" ucap laki-laki itu dengan nada mengejek sambil melirik kebelakang, kearah katak yang ia angkat di belakang punggungnya.
"Aku ingin lihat siapa yang akan dimakan"
Tak ada jawaban. Sepertinya katak itu menahan diri untuk tidak membalas ejekannya, ia cukup bersyukur karena tak perlu membuang tenaga untuk pertengkaran yang tak berguna.
Sebagai gantinya ia menatap kedepan. Jalan setapak hutan yang ia lalui mulai melebar, dan ia tau hanya tinggal beberapa meter lagi, mereka berdua akan sampai.
Pohon-pohon besar dikanan-kirinya sudah berkurang, digantikan oleh semak belukar dan beberapa pohon kecil. Kemudian didepan sana, ia melihat jalan terbuka menuju sebuah tebing yang sudah ia hafal.
"Hei kita sudah sampai" ucapnya sambil menurunkan katak itu ketanah sementara ia melihat sekelilingnya.
Hutan benar benar sudah berakhir, jalan setapak yang ia ambil punya medan yang cukup sulit tapi jarak tempuhnya lebih dekat.
Ia melangkah kedepan, menuju ujung tebing. Tebing curam yang cukup tinggi, dibawahnya terbentang lembah dan padang rumput luas. Warna hijau padang rumput memenuhi matanya, terhampar begitu luas.
"Banyak yang berubah sepertinya-gero~" ucap katak itu yang ternyata ikut memandang kelembah didepannya.
"Aku tak ingat pernah ada menara-menara itu-gero~" ucapnya lagi sambil menunjuk kedepan.
Kerajaan yang cukup besar berdiri diatas padang rumput luas, merapat di dinding tebing tempat mereka berdiri. Sebuah kastil besar dibangun tepat disisi tebing itu, empat menara baru telah dibangun tinggi hingga sedikit melewati batas tebing.
"Kurasa mereka baru menyelesaikannya" laki-laki itu melipat kedua tangannya didada, menatap kastil besar dibawah mereka. Kerajaan itu sedikit berubah dari 2 tahun lalu saat ia terakhir kali melihatnya, banyak bangunan-bangunan baru.
"Ahh, sepertinya kita datang di waktu yang tepat" ucapnya sambil menatap sebuah bendera besar berwarna putih-emas melambai keras tertiup angin.
"Festival Vanor, kukira akan diadakan besok"
Katak itu sontak terlihat ceria, wajah kelabunya berseri-seri.
"Kalau begitu, ayo cepat!! Kesana!! Kurasa mereka belum memindahkan tangganya-gero~" ucap katak itu sambil melompat senang namun ketika ia ingin berlari menuju tangga yang akan membawa mereka ke bawah tebing, sebuah tangan menarik tas besarnya.
"Kita takkan lewat jalan biasa" ucap laki-laki dibelakangnya, ia menggenggam tas si katak yang kini menatapnya bingung.
"Ma-maksud mu-gero"
Laki-laki itu menarik tas besar yang dibawah katak itu dengan kasar hingga terlepas dari punggungnya. Sayap si katak terlihat disana.
"Jangan bilang.. Ka-kalau" katak itu memasang wajah cemas, sedangkan laki-laki didepannya tersenyum lebar.
"Tentu saja!!" ucap laki-laki itu dengan semangat, kemudian tanpa peringatan ia menendang katak itu dengan keras dari tebing. Lalu tanpa ragu, ia juga ikut melompat tinggi dari atas tebing, meluncur menuju kastil.
"Kita pulang!!!"
"GYAAAAA!!! AKU TAK MAU MATI-GEROOOO!!"
***
"Silahkan datang kembali~" gadis pelayan Grandel Cop itu tersenyum kearah mereka bertiga sambil melambaikan tangan.
Mou membalasnya singkat kemudian berlari kecil mengejar kedua temannya yang berjalan lebih dulu.
Langit kini berwarna jingga, mengingatkan mereka dengan Amonte, kecuali awan-awan putih seperti kapas yang melayang memenuhi langit senja itu.
"Jadi apa rencana kalian setelah ini?" tanya Mou setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan kedua temannya itu.
Iro menoleh, lalu matanya menatap langit, berpikir dengan suara 'emm' panjang. Mou segera mengerti kalau teman ungunya itu belum tau apa yang harus ia lakukan.
"Em, aku akan masak makan malam, lalu pergi tidur setelah selesai menulis beberapa laporanku tentang festival besok" ucap Frans mengingat apa yang harus ia lakukan, terlebih lagi soal laporan itu. Seharusnya ia menyerahkannya hari ini, namun Kastil sedang ditutup sementara karena persiapan Festival.
"Wahh!! Frans kau bisa memasak yaa.. aku hampir lupa" ucap Mou dengan wajah takjub yang dijawab anggukan kecil oleh gadis pirang itu, syal merahnya melambai terkena angin dibelakangnya.
"Aku ingin sekali bisa memasak seperti mu, tapi sepertinya aku tak punya keahlian dalam hal itu.." tambahnya yang kemudian mendadak murung.
"Bukankah, Kak Mou punya beberapa pelayan?" tanya Frans pada gadis bersurai hitam yang berjalan disampingnya.
"Mereka, memasak untukmu bukan?"
Mou mengangguk lemah, lalu menoleh kearah Frans dengan tatapan iri.
"Tapi aku merasa gagal menjadi seorang gadis karena tak bisa memasak.."
"Seorang gadis yang baik tak ditentukan dari ia bisa memasak atau tidak.." sebuah suara mengagetkan ketiga gadis itu. Mereka menatap kedepan, dimana seorang laki-laki tengah berdiri disana.
"(Kak) Faruq!?"
Laki-laki itu tersenyum kearah mereka sambil mengangkat telapak tangannya.
"Hai.." sapanya ramah.
Laki-laki itu, Faruq. Kapten pasukan tempur Divisi Kedua, sosok Kapten yang cukup ramah pada orang lain. Frans memanggilnya dengan sebutan 'Kak' karena jelas Faruq lebih tua darinya, tapi Mou dan Iro tak pernah memanggil siapa pun dengan sebutan Kak, kecuali sang Kapten Divisi Pertama, Noey.
"Sedang jalan-jalan, eh?" tanya Faruq.
"Menikmati suasana sore.." jawab Mou sambil tersenyum lebar, lalu kembali menatap Faruq.
"Baru sampai?"
"Yap, benar sekali" jawabnya yang sadar akan penampilannya. Zirah besi lengkap serta pedang dan perisai yang tergantung dipunggungnya.
"Baru saja sampai dari Akiba" ucapnya lagi.
Mata ketiga gadis itu membulat. Kemudian rentetan pertanyaan keluar dari mulut Mou, menyerang Faruq yang tersenyum kikuk.
"Ah, beberapa tugas khusus dari orang-orang brengsek itu" jawabnya.
Mereka bertiga mengerti siapa orang-orang brengsek yang dimaksud Faruq, mereka tak lain adalah kedua Aldrich itu. Faruq memang tak terlihat akrab dengan para Aldrich, mengingat sering bertengkarnya mereka, walaupun itu sebuah pertengkaran konyol semacam menentukan nama pelayan Kastil.
"Hahh~ kenapa bukan aku yang mendapatkan tugas itu" keluh Mou dengan wajah yang lebih murung dari pada saat ia mengingat keahliannya dalam hal memasak.
"Aku sangat ingin ke Akiba"
"Sebenarnya tak ada yang menarik di sana" sebuah suara kecil terdengar dari belakang Faruq, kemudian sosok gadis kecil bersurai coklat panjang muncul dari sana sambil menjilat sebuah permen yang cukup besar.
"Akiba hanya kota besar membosankan.."
Mou mencibir gadis kecil itu.
"Kau bilang membosankan, tapi kau tetap menikmati permen itu Dindaa~"
"Emm, memangnya permen apa itu?" tanya Frans penuh minat pada permen besar berbentuk spiral warna-warni ditangan gadis kecil itu.
Mou menoleh kearahnya.
"Itu Loliglop, permen yang hanya bisa kau dapat di Akiba, permen segala rasa yang mengeluarkan aneka rasa buah disetiap jilatannya" jelas Mou.
"Dan gadis kecil itu bilang kalau Akiba hanya kota yang membosankan" ucapnya lagi dengan sebal.
Dinda, gadis kecil berambut coklat itu tersenyum innocent. Wakil kapten Divisi Kedua itu kini tampak seperti gadis kecil yang manis dengan senyumnya itu, walau mereka semua tau betul senyumannya itu adalah bagian dari kemampuan bertempurnya untuk mengecoh lawan.
"Kau tau, senyummu takkan berguna untukku" ucap Mou lagi yang kini makin sebal.
Faruq menghela nafasnya, bosan dengan semuanya, pertengkaran tak berguna yang hanya membuat telinganya terganggu. Ia tak sadar kalau dirinya juga selalu melakukan hal itu dengan para Aldrich.
"Hei hei bisakah kita hentikan pembicaraan tentang tugas ini? Ini seharusnya menjadi hari libur yang indah" ucapnya.
"Apa hanya aku yang bertugas saat festival akan berlangsung" ucapnya lagi
"Tidak, bukan hanya kau, semuanya punya tugas masing-masing, tapi semua Divisi yang bertugas sudah kembali hari ini. Aldrich ketiga tak mengizinkan siapa pun berada diluar kerajaan saat festival" ucap Iro yang sepertinya sudah menyerah memikirkan tentang apa yang akan ia lakukan setelah ini.
"Kak Noey dan Bella baru saja tiba beberapa jam yang lalu, Kevin dan Divisi nya tiba setelahnya, kemudian aku, Mou dan Frans kembali kemarin begitu juga Divisi lainnya"
"Aldrich ketiga sudah menrencanakannya dengan matang" tambah Frans.
Faruq merengut kesal, tangan kanannya terkepal.
"Aldrich ketiga, orang itu.. Aku akan menghajarnya" ucapnya kesal. Wajahnya yang tegas sedikit terkena sinar senja, terlihat menyeramkan, membuat Mou sedikit menjauh.
"Dia sengaja memberiku tugas ke Akiba karena tau, aku tak suka pergi ketempat yang jauh, dan butuh tiga hari untuk sampai kesana" ucap Faruq mejelaskan kekesalannya, dengan sedikit nada menyedihkan yang aneh.
"Pikirkan betapa lelahnya kaki ku ini, berjalan seharian hingga terperosok keatas jerami penuh lumpur"
"Kusarankan untuk tidak membayangkannya.." ucap Dinda sambil tetap menjilat Loliglop miliknya.
"Jelas aku takkan mau membayangkannya.." bisik Mou pada Frans yang kemudian tertawa kecil, begitu juga dengan Iro.
Faruq, kini wajahnya terlihat semakin sebal. Tiga orang gadis dan seorang gadis kecil tak cukup umur, tengah menertawakannya. Ini membuatnya benar-benar ingin menghajar Lian.
'Awas saja kau!' batinnya kesal.
.
.
.
.
"Hei Frans" panggil Faruq tiba-tiba, Frans menoleh kearahnya.
"Syal yang bagus" ucapnya sambil menunjuk syal merah yang dikenakan Frans. Syal itu berkibar tertiup angin sejak tadi menarik perhatian Faruq.
"Nia yang memberinya padaku dihari ulang tahunku Desember lalu" ucap Frans.
"Humm, tumben sekali orang itu" ucap Faruq mencibir Aldrich kedua itu.
"Kak Frans" panggil Dinda kali ini yang membuat Frans berhenti menatap syalnya, Ia menoleh kearah gadis kecil itu.
"Sepertinya malam ini punya makan malam yang besar yaa"
Frans menyadari perkataan Dinda tertuju pada kantung belanjaan besar ditangannya. Ia tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Bukan, ini hanya persediaan ku untuk beberapa hari dirumah"
"Jelas itu untuk persediaan memasaknya Dinda" ucap Faruq pada Dinda disampingnya. Kemudian melirik aneh pada Mou.
"Frans itu ahli dalam memasak, tak seperti seorang~" ucapnya lagi sambil melirik Mou.
"Hei hei! Beberapa saat yang lalu kau bilang seorang gadis yang baik tak dilihat dari ia bisa memasak atau tidak bukan.." ucap Mou yang sadar betul kalau Faruq sedang mengejeknya.
"Aku berubah pikiran sekarang" jawab Faruq yang kali ini membuat Frans, Iro dan juga Dinda tertawa. Sedangkan Mou kesal dibuatnya.
"Aku akan memasak! Kau pikir aku tak bisa hah!"
"Kalau begitu biarkan aku mengunjungi Madam Hopkins diklinik nya, menanyakan apakah ia punya beberapa ramuan penangkal sakit perut" tawa Dinda makin keras, begitu juga Frans dan Iro. Sedangkan Mou, wajahnya memerah kesal dibawah cahaya senja.
Matahari semakin condong ke barat, meninggalkan bayang-bayang hitam diantara cahaya jingganya. Beberapa toko telah memasang tanda tutup, tapi tak sedikit juga yang tetap buka dimalam persiapan festival ini.
Orang-orang yang berlalu-lalang dijalan utama kerajaan itu sesekali menoleh kearah sekelompok gadis yang tertawa, serta laki-laki berzirah yang juga ada disana.
Angin berhembus perlahan saat itu, tawa mereka mulai menipis, menyisakan Mou yang kini tengah menyerang Faruq dengan pukulan-pukulan kecilnya.
Iro dan Frans tertawa kecil melihatnya, terlebih lagi Frans yang kini terlihat sedikit merasa nyaman daripada beberapa saat yang lalu.
Tapi tawanya tak berlangsung lama, setelah melihat Mou sukses menendang Faruq, Frans menghentikan tawanya.
Bukan tanpa alasan, ia terdiam, ada sesuatu yang mengganggunya.
Ia mencium sesuatu, bau yang amat dikenalnya. Kemudian ia menyadari sesuatu, kantung belanja miliknya terlepas begitu saja dari dekapan tangannya, meluncur jatuh ketanah.
Mou menoleh kearahnya, mengabaikan Faruq yang mengaduh kesakitan.
"Frans? Ada apa?" tanya Mou yang mendekat kearahnya. Namun Frans tak bergeming, ia tetap diam ditempatnya berdiri.
Ia, tanpa sadar mengabaikan pertanyaan-pertanyaan Mou. Ia terlalu sibuk meyakinkan dirinya dengan apa yang baru saja ia rasakan.
Ia menciumnya lagi, bau yang sama. Bahkan ia sempat mendengar teriakan, walaupun terdengar lemah, tapi ia benar-benar mengenal suara itu.
Ia akan beranggapan semua ini adalah khayalannya, jika ia manusia normal. Tapi sejak kecil, penciuman serta pendengarannya memang melebihi manusia biasa, bahkan Elf sekalipun.
Karena itu, tak peduli dengan teriakan Mou yang khawatir, ia berbalik, kemudian berlari secepat yang ia bisa.
Iro yang melihatnya juga ikut bingung, namun tak bisa mengikuti jejak Mou meneriaki nama Frans.
Sesuatu juga terjadi pada dirinya. Ia merasa kepalanya berat, ada hawa yang membuat tubuhnya terasa tertekan. Mou yang menoleh kearahnya kini terlihat bingung.
"Iro??"
Iro terdiam, ia sama sekali tak berniat untuk menjawab panggilan Mou. Ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia berpikir sejenak, mengabaikan ucapan-ucapan Mou disampingnya.
Apa yang terjadi pada dirinya, ia sudah memastikan tak ada racun dalam Amonte yang beberapa saat lalu ia minum.
Ini bukan gejala racun, pikirnya lagi. Ia kembali berpikir walau tak menemukan jawabannya. Namun matanya membulat sempurna saat ia rasakan tangan kanannya bergetar.
Tepat dipergelangan tangannya, ada sedikit rasa terbakar bagai terkena percikan api. Bergetar pelan.
Ia amat terkejut, tak pernah ia merasakan hal ini lagi, setidaknya untuk dua tahun terakhir. Dan kemudian saat ia yakin tangannya bergetar dengan cukup kuat, ia berlari kearah yang sama dengan Frans.
"Ada apa ini?" tanya Mou yang melihat kedua temannya berlari kearah yang sama. Kemudian dengan cepat ia mengambil kantung belanja milik Frans, lalu menoleh sebentar kearah Faruq.
"Aku pergi dulu" ucapnya yang kemudian berlari mengejar kedua temannya meninggalkan Faruq berdiri disana bersama Dinda.
"Mereka itu kenapa sih?" tanya Faruq kebingungan. Dinda yang berdiri disampingnya hanya mengangkat kedua bahunya, tidak tau.
"Oh lihat! Apa yang jatuh dari langit itu?" Faruq kembali bersuara sambil menunjuk keatas langit. Dinda menengadahkan kepalanya, melihat kearah yang ditunjukkan Faruq.
"Entah, mungkin kotoran burung" jawab Dinda sekenanya.
"Bagaimana bisa gadis kecil seperti mu mengatakan hal menjijikan dengan datar seperti itu" ucap Faruq sambil menatap Dinda heran yang dibalas dengan senyum innocent gadis itu.
__ADS_1
"..dan jangan menatapku dengan senyum menyebalkanmu itu!!"
***
"Tamu?" Noey jelas tak mengerti apa yang baru saja Aldrich kedua itu katakan, bukan hanya dirinya, Lian dan Kevin juga sama tak mengertinya.
"Ya tamu" ucap Nia lagi, tersenyum untuk kesekian kalinya pada mereka bertiga yang terlihat masih bingung dengan apa yang barusan ia katakan.
"Tamu apa yang kau maksud?" kini Kevin yang bertanya.
Angin kembali berhembus perlahan, menggoyangkan tirai pintu kaca beranda dibelakang Nia.
"Apa kalian tidak merasakannya?"
Tak ada yang menjawab, semua terlihat masih didalam kebingungan yang sama sampai sebuah suara mengejutkan mereka.
"Apa kalian sudah melupakanku hanya dalam waktu dua tahun?"
Suara itu berasal dari beranda, tepat dibelakang Nia. Angin berhembus lagi, membuat tirai kembali menari ditempatnya. Sosok laki-laki berjubah hitam terlihat sedang berjongkok di ujung beranda, tepat diatas pagar pembatas.
Tudung yang dikenakan laki-laki itu merosot turun karena hembusan angin, memperlihatkan wajah yang amat mereka kenal.
"Aku sangat kecewa.." ucap sosok itu lagi.
Lian, Kevin serta Noey terperanjat saat menyadari kalau sosok itu adalah..
"U-udzaa.." Noey, matanya membulat melihat sosok itu.
Laki-laki itu tersenyum lebar, lalu mengangkat sebelah tangannya.
"Hai, apa kabar?"
***
Lian, Kevin dan Noey terkejut, mata mereka membulat melihat sosok itu. Nia tersenyum kecil, ia tak perlu menoleh untuk tau siapa sosok itu.
"U-udzaa.."
"Hai... Apa kabar?"
"Kurasa kau masih sama seperti dulu" Nia bersuara, mengabaikan tatapan tatapan terkejut dari ketiga temannya. Ia berkata tanpa menoleh.
"Apa kau masih belum mengerti tentang sesuatu yang mereka sebut pintu masuk?"
Udzaa, sosok berjubah itu tersenyum lebar. Cukup merasa senang dengan perkataan Nia, seolah orang itu tau apa yang mau ia lakukan.
"Kalau begitu bisa kau jelaskan, hal penting yang kau sebut pintu masuk itu" ucapnya dengan gairah tinggi.
Nia bangkit dari tempat duduknya, ia tertawa pelan. Sedangkan ketiga temannya masih terdiam disana.
"Baiklah, aku akan mengajarimu sekali lagi"
"Hoo.. Aku sungguh tak sabar dengan itu" ucap Udzaa yang kemudian melompat kebelakang dengan tinggi.
Nia berbalik menghadap beranda, lalu ia menggumamkan sesuatu dengan pelan.
"Cloth~"
Seketika muncul sebuah lingkaran sihir yang berpendar kebiruan dibawah kakinya. Dengan perlahan lingkaran itu naik menembus kakinya, terus naik hingga kemudian menghilang setelah melewati kepalanya.
Dan kini, Nia telah mengenakan pakaian yang lain. Zirah tempur standar miliknya. Kemudian melangkah keberanda. Ketiga temannya mengikuti dibelakang.
Langit benar-benar mengerti. Sudah pukul 7 malam, namun langit masih belum gelap sama sekali, seolah memberi waktu untuk Nia 'mengajar'.
Tap.
Udzaa, kini berdiri -atau tepatnya melayang diudara- tak jauh dari beranda tempat dimana Nia dan yang lain berada.
"Wahh.. Sepertinya kau bersemangat sekali sampai mau menggunakan baju bodohmu itu"
"Kalau begitu seharusnya kau yakin akan jauh lebih 'pintar' dari baju bodoh ini" ucap Nia sambil meraih sesuatu dari belakang pinggangnya. Disana terlihat sepasang Glove besi miliknya, ia mengenakannya, kemudian Glove itu berpendar kebiruan singkat.
"Naiklah kepanggung, dan cepat ajari aku.." tantang Udzaa dengan senyuman miring diwajahnya.
"Dengan senang hati.." balas Nia yang menoleh sekilas kearah Kevin dibelakangnya.
"Bantu aku sedikit, Kevin" ucapnya lagi, kemudian melompat tinggi, keluar dari beranda.
Kevin, pada awalnya tak begitu mengerti. Namun saat Nia melompat, ia akhirnya tau apa yang harus dilakukan.
Ia merapal mantra kecil.
"Blind Pad!" ucapnya sambil menjulurkan tangannya kedepan. Seketika muncul sebuah pijakan persegi transparan diudara, berkilat terkena biasan cahaya senja.
Tap.
Nia mendarat dengan mulus diatas pijakan transparan itu, yang kini membuatnya terlihat melayang diudara, sama halnya dengan Udzaa.
"Ahh aku lupa, ada seorang Magic Caster" ucap Udzaa yang walaupun diucapkan dengan tenang, sebuah nada kebodohan khas dirinya terdengar dari suara.
"Kita takkan kalah, begitu kan, Errol?" katak hitam-kelabu muncul dari belakang tubuhnya, meluncur terbang dengan sepasang sayap hitam.
"Yap, betul sekali-gero" ucap Errol, sang katak DragonFrog itu. Kedua lengannya dijulurkan kedepan dengan ibu jari serta telunjuknya disatukan.
"Pantas saja" gumam Lian tiba-tiba, ia melipat kedua tangannya didepan dada. Ia sudah tak lagi terkejut, terlebih lagi tentang hal yang akan dua temannya itu lakukan. Ia sudah terlalu sering menghadapinya, tentu saja ia hafal.
"Kupikir bagaimana ia bisa menggunakan mantra Pijakan-Udara itu, ternyata Errol yang melakukannya"
"Kita mulaii!!" ucap Udzaa dengan keras sambil berlari tepat kearah Nia. Errol dengan cepat membuat pijakan transparan lainnya sehingga membuat Udzaa terlihat seperti berlari diudara.
Nia tetap diam ditempatnya, sambil tersenyum kecil. Sedangkan Udzaa sudah melompat kearahnya, ia menarik pedang besar miliknya dari belakang punggungnya, mengarahkannya pada Nia yang masih tak bergeming.
Traangg!!
Bunyi logam yang beradu, jelas terdengar disana. Nia mengangkat tangannya, menahan serangan pedang besar itu hanya dengan telapak tangannya saja.
"Huh, tanpa Glove ini aku mungkin sudah terpotong menjadi dua" ucapnya.
Udzaa terhenti diudara, ia menggenggam pegangan pedangnya dengan kedua tangannya, berusaha menekannya lebih kuat tapi pedangnya tak bergeming.
"Sial.."
Dengan putus asa, Udzaa mengayunkan kaki kanannya, berusaha menendang sisi kiri Nia yang ternyata kembali ditahannya dengan tangan yang lain.
Udzaa mendorong dirinya, mencoba membuat jarak diantara mereka, ia mendarat di atas pijakan transparan beberapa meter dari Nia.
Nia tersenyum miring.
"Aku yakin itu pasti sakit" ucapnya mengejek.
Udzaa, walaupun memang benar kaki kanannya berdenyut sakit, ia tak mau memperlihatkan hal itu. Sebagai gantinya ia ikut tersenyum miring.
"Sarung tangan bodohmu itu sungguh merepotkan"
Udzaa mengayunkan pedang besar nya kekanan dan kiri, membuat suara 'wush' keras disetiap ayunannya. Kemudian ia menjulurkan pedangnya lurus kearah Nia.
"Kalau kau hanya bertahan seperti itu, kau takkan bisa menang" ucapnya.
Nia terdiam, ia menatap laki laki didepannya tanpa ekspresi membuat laki-laki itu mengerang kesal karena menganggap dirinya tak dihiraukan, segera saja ia menyerang.
Serangan tergesa-gesa bukanlah lawan untuknya. Nia masih tetap diam, menahan semua serangan yang dilancarkan Udzaa dari segala arah. Kemudian ia kembali teringat sesuatu, rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan ini.
Pertarungan kecilnya bersama teman-temannya, yang selalu ia lakukan dulu. Berubah menjadi kaku. Hanya karena ia seorang Aldrich, bukan berarti ia tak boleh bersenang-senang bukan.
Tapi entah kenapa dirinya merasa ditekan oleh peraturan tak tertulis milik para penasehat tua itu. Membuat dirinya lebih kaku dari sebelumnya. Sikap teman-temannya berubah, seiring dengan berubahnya sikapnya sendiri.
Apa bagusnya seorang Aldrich?
Trang!!
Pedang besar itu kembali beradu dengan Glove milik Nia. Sama sekali tak ada perubahan, serangan-serangan yang dilancarkan Udzaa dapat ditahannya dengan mudah.
Udzaa, untuk kesekian kalinya, membuka jarak diantara mereka. Terengah-engah disamping Errol yang terbang disana.
"Sudah mulai menyerah?" tanya Nia tersenyum.
"Ceh, takkan pernah" balas Udzaa yang kemudian menoleh kearah Errol.
"Saatnya rencana kedua.."
***
Srakk..
Frans berhenti disana, tepat didepan gerbang utama Kastil. Gerbang hitam berjeruji itu dijaga oleh beberapa pengawal, namun sepertinya para pengawal malah tertarik dengan sesuatu diatas sana.
Jauh diatas gerbang utama, sebuah pertarungan sedang berlangsung. Melayang-layang diatas sana.
Frans sangat mengenali pedang besar itu, pedang dengan bilah berpendar kebiruan yang tak lain adalah milik..
"Udzaa!?"
Frans menoleh kebelakang, dilihatnya Iro dan Mou telah berdiri disana, menatap kelangit senja diatas Kastil.
"Itu benar Udzaa kan?" Mou menyipitkan matanya, berusaha sebaik mungkin melihat keatas sana. Sedangkan Frans hanya terdiam.
***
Nia mengangkat sebelah alisnya, bingung. Tapi ia yakin untuk kali ini ia harus serius sedikit, salah-salah dia bisa terlontar jauh.
Udzaa terlihat lebih serius sekarang ini. Ia menutup matanya, mengatur nafasnya perlahan kemudian dengan cepat membuka matanya dan menyerbu kedepan.
Nia tertawa kecil, memposisikan kaki kanannya sedikit kedepan. Kuda-kuda bertahan yang sempurna.
Udzaa datang dengan cepat, tanpa banyak bicara ia mengayunkan pedangnya hingga dapat menebas kepala sang Aldrich kedua itu, kalau saja ia tak menghindar.
Berhasil menghindar bukan berarti serangan telah selesai. Udzaa kembali mengayunkan kakinya mencoba menendang Nia namun tetap ditahan olehnya.
Meringis sedikit karena rasa sakit dikakinya, ia melompat, berputar, kemudian Errol dengan cepat membuat pijakan transparan lain diatas sana yang lalu digunakan Udzaa untuk melucur kebawah, tepat kearah Nia.
Nia merubah gestur tangannya, kini terkepal kuat lalu mengarahkannya keatas, menyambut pedang besar yang terhunus kearahnya.
Namun sedetik sebelum pedang itu menyentuh kepalan tangan besar Nia, Udzaa menariknya kembali kearahnya, sebagai gantinya tangan kirinya yang bebas menyentuh kepalan tangan Nia.
Menahan berat badannya disana, bertumpu pada tinju Nia yang terarah keatas. Udzaa tertawa kecil.
"Kena kau!"
Ia berputar turun dari sana, mengayunkan pedangnya kearah sisi kanan tubuh Nia yang tak terjangkau oleh tangannya.
Disaat Udzaa yakin akan menang, Nia menunjukkan sedikit kemampuannya.
Angin besar muncul tiba-tiba entah dari mana, menyeret Udzaa sedikit kebelakang hingga ayunan pedangnya tak mengenai sasarannya.
Ia tau, kecepatan pukulan Nia memang tak bisa dianggap remeh. Angin itu berhenti kemudian.
Jarak kembali terbuka diantara mereka yang kini bertukar posisi. Udzaa berdiri tepat didepan beranda sedangkan Nia ada didepan Errol.
"Gerakan yang bagus" puji Nia sedikit, namun tak dijawab oleh Udzaa. Laki-laki itu hanya tersenyum penuh kemenangan, melihat itu Nia sontak tersadar ada yang aneh dibelakangnya.
Ia menoleh dan mendapati Errol mengeluarkan bola api yang cukup besar dari mulutnya, meluncur kearahnya. Beruntung ia dapat menghindar disaat terakhir, bola api itu melesat melewatinya.
Nia menatap Errol dengan pandangan kesal, Errol membalasnya dengan senyum lebar yang aneh kemudian meluncur terbang kearah lain menjauhi dirinya. Senyum yang sama dengan Udzaa, pikirnya lalu kembali tersadar ada sesuatu dibelakang punggungnya.
"Niaa!! Awas!!" teriakan peringatan Lian terdengar sesaat kemudian, ia menoleh kebelakang.
Udzaa ada disana, hanya tinggal beberapa senti darinya. Bilah pedang besarnya berapi, menyala-nyala dengan hebat. Ia mengarahkan pedang itu pada Nia.
Tak ada waktu untuk menghindar.
DUAAARR!!
Ledakan yang cukup besar terjadi disana. Sedetik sebelumnya Kevin telah memasang pelindung tambahan dibawah serangan Udzaa, menjaganya agar tak berdampak pada para penduduk dibawah.
Api dari ledakan alih-alih mengarah kebawah, malah membumbung tinggi kelangit senja, menyaru dengan warna jingga diatas sana.
Kevin menepuk keningnya.
"Haahh, sebenarnya apa yang dia pikirkan sih, serangan sebesar itu bisa membahayakan yang lainnya.."
"Ingatkan aku untuk menghajarnya nanti" ucap Noey dingin.
.
.
.
.
.
.
.
Asap ledakan menghilang, Udzaa sudah yakin menang. Namun ketika semua asap itu lenyap, ia tak melihat Nia disana.
"Ke-kemana dia"
"Kau tak pernah belajar ya.." Udzaa menoleh segera, melihat sosok Nia yang ternyata ada diatasnya. Ia menyipitkan matanya, silau karena sinar matahari senja menyerbu masuk ke matanya.
"Pikirkan dampak seranganmu lebih dulu dasar bodoh!" ucap Nia dengan nada kesal. Ia menendang pergelangan tangan Udzaa hingga pedang besarnya terlepas, kemudian meluncur kebawah, menancap berbahaya ditanah hampir mengenai beberapa pengawal.
Udzaa yang masih terdiam tak bisa melawan, Nia kembali menendangnya hingga terpental cukup jauh membentur Errol yang ada dibelakangnya.
"Gero!!"
Nia segera menyerbunya, mengarahkan tendangannya dari atas kebawah, tapi dengan cepat Udzaa menahannya dengan kedua tangannya.
"Masih bisa bertahan rupanya" ucap Nia mengejek. Udzaa menatapnya sebal, berusaha berdiri namun tekanan akibat tentangan Nia tak bisa membuatnya bergerak.
"Ingat ini" ucap Nia lagi yang membuat perhatian Udzaa terpaku padanya.
"Kau berhutang semangkuk Miso padaku" ucapnya lagi yang kemudian menekankan kakinya dengan lebih keras hingga pijakan transparan disana retak.
"EHH!?"
"GERO!!?"
PRANNG!!
Mantra Pijakan-Udara milik Errol hancur sepenuhnya, membuat mereka berdua meluncur jatuh dengan teriakan berisiknya.
"GYAAAAAA(GEROOO!!)"
BRUAK!
"Setidaknya kalian jatuh dengan keren" ucap Nia yang masih berdiri diatas sana sambil terkekeh kecil.
Dibawah sana, Udzaa jatuh tepat didepan Frans, Iro, dan Mou. Errol jatuh tepat diatas wajahnya.
"Kuhajar .. Kau.. Nanti.."
***
Langit mulai gelap, pertarungan konyol itu sudah berakhir. Udzaa berdiri, mengibaskan jubahnya, membersihkan dirinya dari debu yang menempel.
Errol menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan rasa pusing dikepalanya.
"Akan kubalas lain kali!!" teriak Udzaa sambil mengepalkan tangannya kearah Nia yang masih berdiri diatas sana. Nia tertawa kecil.
"Akan kutunggu.." jawabnya.
Udzaa terdiam, ia masih merasa pusing dikepalanya. Ia menatap kearah atas, tempat ia bertarung tadi lalu beralih menatap tanah. Menyadari betapa tingginya ia jatuh.
"Beruntung aku tak mati" gumamnya dengan wajah pucat.
"Gero.." gumam Errol yang juga berpikiran sama, yang kemudian ditatap Udzaa dengan heran.
"Bukannya kau bisa terbang"
Errol menunjukkan wajah amat terkejutnya, lalu dengan suara serak ia berkata.
"A-aku lupa!!"
Pertengkaran kecil kembali terjadi disana, Errol yang tak mau disalahkan karena mereka kalah berteriak kencang. Udzaa tetap mengatakan kalau Errol lah penyebab kekalahan mereka karena Mantra Pijakan-Udara nya terlalu lemah.
Sibuk dengan pertengkaran itu hingga tak menyadari bahwa ada tiga orang gadis yang memperhatikannya sejak tadi.
"Udzaa?" Mou mengangkat suaranya.
Udzaa menghentikan pertengkarannya, lalu menoleh kearah sosok yang memanggilnya. Ia tertegun mendapati tiga sosok gadis tengah berdiri didepannya.
"Benarkan.. Itu Udzaa!!" ucap Mou riang karena tebakannya benar.
Frans menatap Udzaa tanpa ekspresi. Sedangkan Udzaa hanya diam dengan kikuk, menggaruk kepalanya lalu mengangkat tangannya.
"Halo.."
Frans tak menjawab, ia melangkah kedepan Udzaa dengan cepat. Lalu tanpa peringatan ia melancarkan pukulan dengan tenaga yang besar hingga Udzaa terpental menabrak gerbang utama yang masih tertutup.
"Ke-kenapa kau me-mukul ku.."
"Pergi tanpa memberi tau, menghilang dua tahun tanpa kabar dan sekarang kau kembali hanya berkata 'halo'!!?" ucap Frans dengan suara tinggi sementara Udzaa bangkit sambil mengelus pipinya sendiri, tempat pukulan Frans mendarat.
"Kau pikir aku senang?" Frans menarik beberapa buah dari kantung belanjanya yang sedang dibawa Mou.
"Dasar bodoh!! bodoh!! BODOH!!"
"Hei hei! Hentikan! apa kau berusaha membuatku jadi jus" Udzaa mencoba menghindari lemparan buah-buah itu namun telat menghindari buah terakhir yang tepat mengenai wajahnya, membuatnya kembali tersungkur.
"Bodoh!" Frans menundukan kepalanya dalam.
"Aku senang, kau baik baik saja" ucap Udzaa tiba-tiba dalam posisi berbaringnya, wajahnya masih berdenyut sakit karena lemparan buah itu.
"Dua tahun ini Nia selalu mengabariku perkembangan yang terjadi disini.. semuanya, bahkan tentang mu"
Frans, matanya membulat. Ia terdiam ditempatnya berdiri menatap Udzaa yang kini bangun dari posisi berbaringnya.
Laki-laki itu tersenyum lebar.
"Sepertinya aku benar" ucap Udzaa menatap benda yang melingkar di leher Frans.
"Syal itu cocok untukmu.." ucapnya lagi sambil tersenyum lebar.
Frans tak bisa berkata. Ia mengingat hari dimana Nia memberikan syal itu padanya, dan memang aneh mengingat Nia susah memberikannya hadiah ulang tahun dihari sebelumnya.
Udzaa mendongak menatap para pengawal yang melihat dirinya dari balik pintu gerbang utama. Ia meletakkan tangannya dipinggang, menatap para pengawal itu.
"Apa kalian akan tetap berdiri disana atau segera membuka gerbang sialan ini?" ucapnya dengan kesal.
Sontak para pengawal segera membuka gerbangnya terburu-buru. Terdengar beberapa bisikan dari sebagian besar pengawal disana.
"Cepat buka gerbangnya!" perintah seorang pengawal yang sepertinya adalah pemimpin mereka, lalu berjalan mendekat kearah Udzaa.
"Mohon maafkan ketidak sopanan kami Tuan" ucapnya sambil menunduk dalam.
"Sepertinya banyak pengawal baru ya" ucap Udzaa sambil menjulurkan tangan kanannya kesamping, kemudian pedang besar nya melesat kearah genggamannya.
Ia mengayunkannya kekanan dan kiri sebelum kemudian meletakkannya kembali dibalik punggungnya
Pemimpin pengawal itu menyingkir kesamping, memberikan jalan padanya.
Udzaa menoleh kebelakang, mendapati Frans, Iro dan Mou masih terdiam disana.
"Kenapa kalian diam disana?"
"Ayo masuk, ada banyak hal yang ingin kuceritakan pada kalian" ucapnya yang kemudian berjalan memasuki gerbang itu.
Mou tersenyum, kemudian menarik tangan kedua temannya itu. Mengajak mereka masuk kedalam Kastil.
Diatas sana, Nia berjalan mendekat ke beranda. Lalu berpaling kearah Lian.
"Kumpulkan mereka semua, kita adakan penyambutan Aldrich Keempat" ucapnya sambil melangkah kedalam ruangan.
Sementara diluar sana, langit sudah gelap sempurna. Namun sekumpulan bintang mulai bersinar meramaikan malam gelap hingga pagi kembali menjelang.
__ADS_1
***