
Udzaa terengah-engah mengatur nafasnya, bulir-bulir keringat turun dari dahinya. Ia menatap sekitar. Ia duduk diatas tempat tidur putih, didalam sebuah ruangan berukuran sedang yang juga berwarna putih. Indra penciumannya membaui aroma berbagai ramuan.
Ia beralih menatap jendela yang terbuka, menampakkan langit cerah diluar sana. Samar-samar ia mendengar kicauan burung-burung yang terbang di langit.
Udzaa menyentuh kepalanya yang terasa pusing, ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Penyerangan besar-besaran, kota yang luluh lantak, pemuda gila yang mengontrol ribuan Undead, kemudian sosok berjubah yang menyeringai kearahnya. Kepalanya makin berputar, kemudian pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang.
Meiza melangkah masuk dengan jubah putih, mendorong sebuah troli yang penuh dengan ramuan yang menggelegak.
"Ah, kau sudah sadar?"
Udzaa menatap wanita itu. Meiza mengulurkan tangannya diatas dahi Udzaa, mengecek suhu tubuhnya.
"Tidak demam, tapi kau harus istirahat untuk pemulihan" ucap Meiza sambil mengangkat sebuah gelas perunggu yang berisi cairan berwarna pucat keatas meja disamping tempat tidur.
"Ini Casrone, berguna untuk mempercepat pemulihan mu, mungkin takkan seenak Amonte, tapi kau harus habiskan ini"
"Apa yang terjadi?"
Meiza menatap Aldrich keempat itu.
"Yang terjadi?" Meiza duduk ditempat tidur Udzaa, tangannya sibuk menuliskan sesuatu diatas selembar perkamen.
"Aku tak tau detilnya, tapi Lian membawamu yang tak sadarkan diri kesini" ucapnya lagi menyelesaikan tulisan di perkamennya kemudian menempelkannya di kaki tempat tidur itu.
"Bahkan Aldrich keempat sampai kehabisan Cloe, siapapun dalang dibalik serangan semalam kurasa dia orang yang cukup hebat"
"Bagaimana keadaan yang lain?"
Meiza tersenyum menatapnya.
"Kau tau satu hal yang membuatku menyukaimu? kau selalu mengkhawatirkan orang lain dibanding dirimu sendiri, padahal kau juga baru sadar"
Udzaa menatapnya bingung.
"Maksudku bukan suka yang seperti itu, ayolah kau pasti mengerti.." Udzaa tak berkomentar.
"Tak perlu mengkhawatirkan yang lain, Mou Dinda dan Iro, luka mereka tak terlalu parah hanya saja mereka perlu istirahat untuk sementara" ucapnya lagi. Meiza menatap keluar jendela, melihat langit cerah diluar sana.
"Kak Noey?" Meiza mengalihkan pandangannya dan menatap Udzaa.
"Aku tak bisa memastikan apakah Noey baik-baik saja, dibandingkan kalian, luka Noey cukup besar, Cloe miliknya sudah sampai dititik terendah" jelas Meiza.
"Walaupun begitu Noey masih gadis terkuat di Edenteria, orang lain takkan bisa bertahan dengan begitu banyak racun ditubuhnya"
Udzaa masih terdiam, kepalanya masih terasa pusing. Aroma ramuan disampingnya sama sekali tak membantu, malah membuatnya semakin pusing.
"Aku sudah mengajukan izin untuk melakukan operasi, tapi aku tak terlalu mahir dengan operasi semacam itu, tapi kurasa Frans bisa, hanya saja aku tak tau dimana dia sekarang"
"Apa maksudmu?" Udzaa bertanya, hal itu membuatnya teringat. Frans terluka saat mencoba melarikan diri, belati itu menusuk punggungnya. Mengingat hal itu membuat Udzaa mengenyahkan rasa pusing di kepalanya.
"Aku tak tau, Rouge dan Violet datang semalam membawa mereka, tapi Errol muncul dan berkata kalau ia yang akan mengurus Frans, jelas aku tak mengizinkannya, sekali lihat saja aku bisa yakin Frans sedang sekarat, tapi katak itu bersikeras untuk membawa Frans"
Udzaa terdiam, dan sedikit merasa lega.
"Tak apa-apa, Errol tau apa yang dilakukannya, tak perlu cemas soal itu sekarang" Meiza menatap Aldrich keempat itu dengan ragu. Udzaa tak menghiraukannya, ia menarik selimutnya kesamping, kemudian bergerak pelan.
"Hei, apa yang mau kau lakukan? kau harus istirahat" ucap Meiza saat melihat Udzaa berusaha berdiri.
Udzaa tak mendengarkan, ia meraih gelas ramuannya, meneguknya habis kemudian melangkah perlahan ke pintu setelah sebelumnya berterimakasih pada Meiza, lalu ia keluar dari ruangan itu meninggalkan Meiza berdiri disana menatap punggung Aldrich keempat dengan sebal.
***
Udzaa melangkahkan kakinya perlahan, keluar dari bangsal rumah sakit. Hari sudah pagi, langit terlihat cerah diatas sana, tapi ia masih bisa merasakan suasana semalam.
Sebagian Edenteria mengalami kerusakan, beberapa rumah hangus terbakar menyisakan puing-puing kehitaman disana-sini. Beberapa penduduk telah kembali ke kota, kini mereka tengah bergotong-royong membereskan bangunan-bangunan yang hancur karena serangan semalam. Mereka yang rumahnya selamat juga ikut membantu mereka yang kesulitan. Beberapa orang menyapanya selagi mereka bekerja memperbaiki rumahnya, Udzaa membalas dengan anggukan singkat.
Kerusakan paling besar ada di Atrium. Bangunan yang sebelumnya berdiri bagai pohon raksasa itu kini hanya menyisakan sedikit ruangan, sisanya hancur. Tapi Atrium sedang dalam perbaikan saat Udzaa melewatinya, lagi-lagi beberapa orang menyapanya. Udzaa berhenti disana, berniat untuk membantu, tapi mereka tidak mengizinkannya, disaat itu seorang gadis kecil berlari menghampirinya.
"Aldrich keempat.." seorang gadis dengan rambut biru gelap datang kearahnya, gadis itu mengenakan sebuah dress putih sederhana yang terlihat agak lusuh.
Udzaa menatap gadis kecil yang kini berdiri didepannya. Udzaa harus sedikit merendahkan tubuhnya untuk menyejajarkannya dengan gadis itu.
"Ya?"
"Anda tidak apa-apa?" ucap gadis itu dengan nyaringnya, Udzaa tersenyum mendengar suaranya.
"Saya mendengar anda masuk bangsal rumah sakit hari ini"
"Aku tak apa-apa, bagaimana denganmu? Tarisa?" Gadis kecil tersenyum lebar saat Udzaa menyebut namanya.
"Anda ingat nama saya.." Udzaa mengangguk kecil, kemudian Tarisa bercerita tentang bagaimana ia pergi keatas tebing dibelakang kastil malam tadi bersama orang-orang lainnya. Bagaimana teman-temannya, Risma dan Donna bertugas mengawal semua orang menuju atas tebing.
"Sayang sekali, kota jadi rusak separah ini"
Udzaa menepuk puncak kepala gadis itu dengan lembut kemudian tersenyum.
"Jangan khawatir, sebentar lagi semuanya akan kembali seperti biasa" ucapnya yang membuat Tarisa ikut tersenyum. Kemudian gadis itu meminta izin untuk melanjutkan perjalanannya ke bangsal rumah sakit, ia ingin menjenguk kedua temannya itu, gadis itu berlari lagi sambil melambaikan tangannya kearah Udzaa.
Udzaa membalasnya singkat, kemudian melanjutkan perjalanannya.
Pertemuannya dengan Tarisa membuat dirinya cukup lega, setidaknya ia berhasil melindungi tempat ini. Tak ada korban dari pihak penduduk walaupun ada puluhan prajurit penjaga gerbang utama yang gugur malam itu.
Dari apa yang ia dengar dari perbincangan penduduk, akan diadakan upacara pemakaman untuk setiap korban semalam. Memberikan mereka yang gugur sebuah penghormatan terakhir.
Udzaa sampai di gerbang utama. Dibawah sinar matahari, kerusakan yang diakibatkan pertarungan semalam terlihat jelas. Dinding pembatas sebelah kiri terlihat seperti pagar tanaman yang baru saja diinjak sekelompok kuda, cabang-cabang pohon besar meliuk-liuk bagai ular disana, sebagian hancur karena ledakan sebagian lain masih utuh, walau tak lagi seperti semula.
Udzaa melangkah melewati gerbang utama, seorang prajurit penjaga menghampirinya, menanyakan alasan kedatangan Aldrich keempat itu ke gerbang utama. Udzaa berkata ia ingin jalan-jalan ke hutan sebentar. Prajurit itu menawarkan Udzaa untuk membawa beberapa pengawal, tapi Udzaa menolaknya dengan halus.
"Tak perlu, aku hanya ingin berkeliling sebentar"
Udzaa berjalan masuk kedalam hutan, menuju batas perimeter kerajaan. Ia bertemu Jose dan pasukannya yang tengah berjaga disekitar sana. Sebagaimana prajurit sebelumnya, Jose menawarkan untuk membawa beberapa anak buahnya untuk mengawal, tapi Udzaa menolaknya.
Ia berjalan lebih dalam ke hutan, meninggalkan Jose dan pasukannya dibelakang. Semakin dalam, pepohonan semakin lebat hingga cahaya matahari hampir tak bisa menembusnya. Beberapa saat kemudian ia berhenti didepan sebuah rumah pohon yang cukup besar. Ia melangkah mendekat, kemudian mengetuknya. Dari dalam terdengar seseorang sedang melepas gerendel pintu, kemudian pintu itu mengayun terbuka, memperlihatkan sosok wanita bersurai merah muda yang digelung ke belakang kepalanya, jubah abu-abu nya terlihat tua dan lusuh, wanita itu menatap Udzaa yang masih berdiri didepan pintu rumahnya.
"Hai Poppy, apa kabar?"
***
Kevin melangkah masuk kedalam ruang kerja Aldrich dengan setumpuk perkamen ditangannya, menutup pintu dibelakangnya dengan kaki, kemudian melangkah ke meja terdekat dan meletakkan tumpukan perkamen itu disana.
Nia duduk dibalik meja itu, menatap perkamen yang diletakkan Kevin di mejanya.
"Sebanyak ini?"
Kevin mengangkat bahunya.
"Beberapa dokumen yang harus disetujui, beberapa surat permintaan maaf untuk bangsawan yang datang saat festival, serta beberapa perkamen yang harus kau lihat sendiri" jelas Kevin, Nia mengambil perkamen pertamanya dengan enggan.
Kevin beralih ke sosok Lian yang sedang duduk bersandar dikursi berlengannya. Beberapa plester menutupi luka di wajahnya. Kevin menjatuhkan sebuah surat kabar keatas meja didepan Aldrich ketiga itu.
"Seperti yang kau bilang, pelarian besar-besaran di Battojairu"
Lian segera menyambar surat kabar didepannya, ia tak perlu repot-repot membalikkan halaman, karena apa yang ingin ia lihat adalah halaman utama berita itu. Disana tertulis dengan huruf besar keemasan "PENJARA SIHIR BATTOJAIRU BERHASIL DITEMBUS", diikuti oleh sebuah foto benteng ditengah laut yang hancur dibeberapa bagian.
"Jadi memang benar.." gumam Lian sambil meneruskan membaca.
"Pengacau itu tahanan kelas satu, jadi tak begitu mengherankan jika ia sekuat itu" ucap Kevin berpendapat.
"Andai saja semalam aku bisa bergerak.." ucap Nia geram sambil meremas pena ditangannya dengan kuat hingga pena itu hancur, menumpahkan tinta keatas perkamen didepannya.
"Sial,.." ucapnya lagi sambil berusaha untuk membersihkan tumpahan tinta di mejanya.
Kevin mengambil apel dari atas meja didepan Lian yang masih sibuk membaca. Kemudian mengambil tempat di kursi kosong disudut ruangan.
"Aku sudah mengira, orang yang bisa mengendalikan ribuan Undead sekaligus pastilah bukan orang sembarangan, hanya saja.." Kevin menggigit apelnya.
"Aku tak pernah berpikir kalau Udzaa bisa kalah seperti itu"
Lian mengangkat kepalanya dari surat kabar ditangannya.
"Sudah kubilang bukan, bukan orang itu yang mengalahkannya, tahanan itu seharusnya sudah mati saat Udzaa menggunakan Cero nya" jelas Lian, ia membalik halaman surat kabarnya, mencari beberapa informasi yang bisa ia dapatkan.
"Kalau saja laki-laki itu tak datang menolongnya"
Kevin kembali mengunyah apelnya.
"Ah ya, soal laki-laki misterius yang kau ceritakan itu, apa benar dia.. emm bagaimana menyebutnya, menepis Cero mu?" Lian menatap tak suka kearah Kevin, walaupun begitu ia mengangguk.
"Kalau begitu laki-laki itu jelas lebih berbahaya"
"Apa kau mengenalinya?" kini giliran Nia yang bertanya, ia menggoreskan pena barunya ke perkamen lain.
"Tidak, aku tak pernah melihat orang itu" ucap Lian pelan. Bahkan dirinya tak pernah melihat elemen solid kegelapan sepekat milik laki-laki itu, bahkan Udzaa tak bisa mengatasinya. Kemudian sesuatu terasa mengganjal hatinya, ia mengingat bagaimana sikap laki-laki itu yang bicara seolah sudah lama mengenal Udzaa.
"Kurasa ia mengenal Udzaa.." bisik Lian tiba-tiba. Nia berhenti mengerakkan penanya, Kevin bahkan berhenti mengunyah.
"Apa maksudmu?"
Lian terlihat berpikir.
"Laki-laki itu tau tentang Cero, dan juga mengetahui kalau Udzaa yang menciptakannya, lalu saat tudung jubah itu terbuka, aku melihat ekspresi terkejut di wajah Udzaa" ucap Lian mengingat-ingat.
Kevin mendengarkan dengan seksama, begitu juga Nia yang menghentikan pekerjaannya sementara. Kemudian Lian berdiri dari kursinya tiba-tiba, seperti mengingat hal yang amat penting.
"Aku harus ke perpustakaan" ucapnya sambil melangkah pergi, menutup pintu dibelakangnya, meninggalkan Kevin dan Nia yang menatapnya bingung.
***
'Tuk'
Poppy meletakkan segelas ramuan berwarna ungu keatas meja didepan Udzaa yang mengernyit heran. Disaat itu Errol melayang rendah dari lantai atas kemudian mendarat halus diatas meja.
"Kau tak apa-apa gero~" katak itu bertanya.
Udzaa menggelengkan kepalanya lemah. Tapi Poppy kembali dari dapur dengan dua gelas ramuan lain.
"Mungkin kau cukup hebat untuk berkata tidak apa-apa, tapi tubuhmu tetap saja perlu penanganan" ucapnya sambil kembali meletakkan gelas-gelas itu didepan Udzaa.
"Kau harus habiskan semuanya, aku tak menerima penolakan" ucapnya lagi kemudian menarik sebuah kursi tinggi dan duduk disana menghadap Udzaa.
"Aku baru saja menghabiskan segelas ramuan pucat dari Meiza.." keluh Udzaa lemas sambil mengangkat gelas berisi ramuan ungu itu kemudian menghabiskannya.
"Huee.. pahit"
"Jelas saja, itu sari daun Gottle" jelas Poppy sambil mendorong gelas berisi ramuan lain kearah Udzaa.
"Yang ini mungkin lebih baik"
Udzaa menyesapnya sedikit, cairan kebiruan itu mengalir melewati mulutnya, masuk kedalam tenggorokannya. Kemudian matanya terbuka lebar.
"Ini.."
Poppy tersenyum kecil.
"Felixia Gourment, mungkin rasanya tak terlalu mirip, tapi khasiatnya masih sama"
Udzaa menghabiskan ramuan itu, menatap gelasnya yang sudah kosong ditangannya. Lidahnya merasakan rasa yang sudah lama tak ia rasakan.
"Kirana selalu punya sekuali penuh ramuan ini di kamarnya"
"Bicara soal itu.." Poppy menggantung kata-katanya.
"Apa dia benar-benar datang? aku merasakannya semalam.."
Udzaa tak menjawab, tapi dari wajahnya Poppy yakin Udzaa mengiyakannya. Keduanya terdiam, hanya ada suara Errol yang sedang mengunyah beberapa kacang. Disaat itu Frans melangkah turun dari lantai atas, melangkah perlahan di kaki tangga spiral. Udzaa menatapnya.
"Kau sudah sadar?" Poppy bertanya kearahnya, Frans mengangguk lemah. Punggungnya dililit perban putih dibawah pakaiannya.
"Kalau begitu kau harus tetap ditempat tidur, kau belum pulih sepenuhnya"
Frans mengenakan sepatunya, kemudian berdiri lagi, berniat pergi. Tapi Udzaa menghentikannya.
"Kembali ketempat tidur.." Frans menggelengkan kepalanya, ia berkata harus bergabung dengan para penyembuh di rumah sakit, terlebih lagi hanya dirinya yang bisa melakukan operasi untuk Noey. Udzaa menggenggam pergelangan tangannya, memaksanya untuk tetap disana.
"Perhatikan dirimu sendiri, kau bahkan belum pulih sepenuhnya"
Frans menarik tangannya lepas dari genggaman Udzaa.
"Aku baik-baik saja, jangan perlakukan aku seperti anak kecil!" ucapnya keras kemudian bergegas ke pintu.
"Aku harus ke rumah sakit, mereka membutuhkanku" ucap Frans sebelum ia mendorong pintu terbuka kemudian pergi.
"Ceh, gadis itu.." ucap Udzaa kesal, ia menoleh kearah Errol dan memintanya untuk mengejar Frans. Katak kelabu itu merentangkan sayapnya, kemudian melesat pergi.
"Kupikir dia ada benarnya, kau bersikap terlalu keras padanya" ucap Poppy sambil membereskan gelas kosong dari atas meja. Udzaa menatapnya dengan enggan.
"Tak perlu khawatir, gadis itu bisa memulihkan tubuhnya lebih cepat darimu"
"Bagaimana dengan lukanya?" tanya Udzaa yang kembali duduk ditempatnya semula, menatap punggung wanita bersurai merah muda itu yang tengah menyalakan tungku api diatas meja disudut ruangan.
Poppy meletakkan sebuah kuali kecil keatas tungku api itu, kemudian mengisinya dengan air dan mulai mengaduknya dengan sendok sup.
"Aku terkejut saat Errol datang semalam, Frans tak sadarkan diri, aku memang merasakan ada pertempuran di kota, tapi tak kusangka jika dampaknya cukup besar" ucapnya sambil memasukkan beberapa bahan herbal kedalam kuali itu sambil tetap mengaduknya.
"Secara keseluruhan tak ada luka yang parah, hanya saja beberapa tulang iganya patah, tapi itu pekerjaan mudah untukku" ucapnya lagi sambil kali ini meneteskan sebuah cairan dari botol kecil ditangannya, ketika cairan itu menyentuh dasar kuali, air didalam kuali menggelegak kemerahan.
"Punggungnya.." ucap Udzaa yang membuat Poppy menoleh kearahnya.
"Aku tau, belati itu penuh racun yang tak pernah kulihat, walaupun begitu aku menemukan ramuan yang cocok untuk itu. Selebihnya lukanya tak terlalu dalam" Poppy melangkah ke sisi lain ruangan, dimana terdapat sebuah lemari besar berisi bahan-bahan pembuat ramuan miliknya. Ia menarik setoples besar berisi sesuatu yang terlihat seperti bola mata. Udzaa mengernyit jijik melihatnya. Poppy mencampurkan beberapa bola mata itu kedalam kualinya yang seketika berubah warna menjadi kekuningan.
"Hanya saja.." Poppy berbalik setelah mengaduk kualinya. Menatap Udzaa yang matanya masih mengarah ke toples berisi bola mata disamping kuali itu.
"Ada retakan kecil di kristalnya"
"Aku sudah menambahkan beberapa hal disana, mencegah retakan itu membesar, jadi tak perlu khawatir" ucap Poppy cepat-cepat sebelum Udzaa mengangkat suaranya. Poppy meraih sebuah tanduk spiral dari lemarinya, kemudian kembali untuk mengirisnya dengan pisau perak lalu mencampurnya kedalam kuali.
"Hanya saja katakan padanya untuk tidak mengerahkan Cloe nya terlalu sering, setidaknya untuk saat ini, aku tak tau apa yang akan terjadi jika ia terlalu memaksakan diri" ucapnya lagi sambil mengisi sebuah botol kaca kecil dengan ramuan dari kualinya yang kini telah berubah jadi kuning pucat.
Poppy melangkah kearah Udzaa, ia menutup botol kaca itu dengan gabus, kemudian menyerahkannya pada Udzaa.
"Teteskan saja ke minumannya, sekali sehari, ini akan membantunya"
"Apakah ini aman? maksudku dengan bola-bola mata yang kau masukkan.." ucap Udzaa sambil menaikkan sebelah alisnya membuat Poppy tertawa kecil.
***
Rumah sakit cukup sibuk hari ini, beberapa penyembuh berjalan kesana-kemari. Aroma ramuan membumbung di udara ketika seorang penyembuh membawa troli berisi segala macam ramuan melewati aula. Beberapa orang berkumpul di aula, mendaftarkan diri untuk menjenguk kerabatnya atau hanya ikut membantu.
Dimeja informasi Meiza sibuk membaca sejumlah perkamen, wajahnya terlihat lelah karena belum sempat beristirahat sejak semalam. Sebagai salah satu penyembuh senior, ia harus mengontrol semua orang yang terluka, memastikan mereka mendapatkan perawatan medis yang tepat. Ia berbicara dengan seorang penyembuh lain disampingnya, mendiskusikan sesuatu sambil menunjuk kedalam perkamennya, kemudian ia menyerahkan perkamen itu.
"Aku akan berkeliling sebentar, setelah itu aku mau pulang untuk istirahat, Aldrich ketiga meminta ku untuk ikut mengawal Aldrich kedua ke Akiba" ucapnya pada penyembuh disampingnya.
"Baik nona" balas penyembuh itu singkat. Kemudian Meiza melangkah pergi, melewati orang-orang yang memenuhi aula.
Meiza melangkah menuju lorong rumah sakit, berpapasan dengan penyembuh lain, melewati setiap ruangan yang pagi ini dipenuhi banyak pasien. Ia berbelok diujung koridor, menaiki tangga untuk sampai ke lantai dua. Ia bertemu Kiruru, laki-laki itu tengah duduk didepan pintu ruangan yang bertuliskan 'BAGIAN LUKA GAWAT' sambil membaca sebuah buku. Laki-laki itu menoleh kearahnya saat ia mendekat.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Meiza langsung.
Kiruru menutup bukunya.
"Tak terlalu mengkhawatirkan, tapi cukup kritis, kita perlu melakukan sesuatu" jelasnya sambil melirik pintu disampingnya.
Meiza menghela nafasnya, kemudian memijat keningnya pelan. Ia ikut melirik pintu ruangan didepannya.
"Sudah kukatakan pada Aldrich keempat kalau kita butuh Frans untuk melakukan operasi itu, mudah-mudahan saja ia bisa menyampaikannya" Kiruru mengangguk mengerti.
"Untuk saat ini sampai Kapten datang, kita hanya bisa memberinya ramuan pendukung" ucap Kiruru yang dibalas anggukan kecil oleh Meiza.
"Kalau begitu aku akan memeriksa ruangan lain, ku serahkan soal Noey padamu" ucap Meiza yang kemudian melangkah ketempat lain.
Ia berbelok ke koridor lain, berhenti disebuah pintu ruangan diujung koridor itu, membuka pintunya lalu melangkah masuk. Hal yang pertama ia dapatkan adalah sebuah bantal putih yang melayang tepat ke wajahnya.
Mou, pelaku pelemparan bantal itu terpaku ditempatnya. Meiza menatapnya garang.
"Lemparan bagus" ucap Dinda singkat sambil melangkah kembali ketempat tidurnya. Meiza mengambil bantal dibawah kakinya kemudian melemparkannya kembali kearah Mou tepat diwajahnya hingga gadis itu terjungkal dari tempat tidurnya.
"10 poin untuk lemparan mu" ucap Iro dengan nada penuh minat.
Meiza melangkah masuk, melihat tiga buah tempat tidur yang masing-masing telah diisi oleh ketiga gadis itu. Melihat ketiganya bisa bicara, bahkan bertengkar seperti itu, membuktikan bahwa sia-sia saja mengkhawatirkan ketiganya. Entah kenapa Meiza malah tak mengerti jalan pikiran Udzaa yang lebih mengkhawatirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.
'Khususnya untuk mereka bertiga ini..' batin Meiza kesal.
Mou duduk diatas tempat tidurnya diujung ruangan dengan wajah sebal. Dahinya diperban, ada bercak darah disana, tapi sepertinya tak berpengaruh pada gadis itu.
Disampingnya Iro juga sedang duduk, bukan ditempat tidurnya melainkan di kursi yang dikhususkan untuk para penjenguk. Ia juga tak lebih baik dari Mou, banyak sekali luka yang kini dililit perban, namun hal itu tak membuatnya terlihat seperti seorang pasien rumah sakit. Alih-alih ramuan, gadis bersurai keunguan itu malah menyesap gelas Amonte.
Tempat tidur terakhir ditempati Dinda yang seharusnya mengalami luka paling parah diantara mereka semua, namun gadis kecil itu malah terlihat paling segar dari yang lain. Dinda, yang duduk ditempat tidurnya sambil menatap sekeranjang penuh makanan manis yang entah ia dapat darimana, sekarang sedang sibuk memilih manisan mana yang harus ia makan lebih dulu.
"Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya kalian pasien atau bukan.." ucap Meiza sebal kearah mereka bertiga.
"Jangan terlalu banyak bergerak! Jahitan di lehermu bisa terbuka!" omel Meiza kearah Dinda. Gadis itu terlihat terlalu banyak menggerakkan lehernya, dimana terdapat sebuah luka menganga beberapa jam lalu.
"Aku tak apa-apa, jangan menganggapku anak kecil hanya karena luka ini" ucap Dinda dengan nada kesal sambil menggerakkan kepalanya kesegala arah dengan sebal yang akhirnya membuat lukanya sedikit terbuka, darah merembes keluar menodai perban dilehernya membuat gadis itu memucat sempurna.
Meiza berteriak gila-gilaan sambil melangkah dengan cepat ketempat tidur Dinda.
"Gyaaa!! Dasar gadis kecil bodoh!!! bocah bodoooh!!" teriak Meiza.
.
.
.
Beberapa menit kemudian Meiza berhasil memperbaiki jahitan dileher Dinda, menutupnya dengan perban lain. Ia menatap gadis kecil itu dengan tatapan tajam.
"Buka lagi lukamu, dan aku akan menjahitnya menyatu dengan tanganmu!" ucap Meiza dengan tegas.
"Ya..ya..ya terserah padamu" balas Dinda dengan enggan sambil membuka bungkus sebuah lolipop.
Meiza melotot kearahnya.
"Darimana kau dapat semua ini?" Meiza menunjuk keranjang manisan diatas pangkuan Dinda. Gadis itu tetap sibuk menjilati lolipop nya.
"Faruq baru saja datang menjenguk" ucap Iro sambil mengambil sebungkus lolipop dari keranjang itu.
"Boleh aku minta satu" Dinda mengangguk singkat.
"Apa-apaan laki-laki itu, ini rumah sakit, bukan tempat wisata.. seenaknya saja memberi manisan pada pasienku" ucap Meiza dengan geram.
"Dan kalian! kenapa malah menerimanya!?"
Iro menatap Meiza, menghentikan kegiatannya membuka bungkus lolipop ditangannya. Mou ikut bergabung ke tempat tidur Dinda, mencoba untuk meraih satu tapi tangannya ditepis gadis bersurai coklat itu.
"Manisan akan membuat berat badanmu bertambah, jangan sentuh" ucap Dinda sinis.
"Oh ya terima kasih telah diingatkan" balas Mou dengan kesal, ia memutar matanya.
"Tiga gelas ramuan pahit untuk sarapan, oh jelas itu yang paling kubutuhkan" ucap Mou sebal yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Meiza.
"Dan kau akan meminum gelas lain jika kau tidak kembali ketempat tidur mu" Mou mengeluarkan kalimat penolakan namun ia tetap berjalan kembali ketempat tidurnya. Menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti 'seorang gadis kecil makan manisan dan wanita dewasa menyesap ramuan pahit'.
Dinda terkekeh mendengar Mou menggerutu. Meiza berpaling kearah Dinda.
"Kau juga seharusnya tidak memakan itu, aku akan menyitanya" ucap Meiza sambil mengambil keranjang manisan itu dari pangkuan Dinda yang segera mengeluarkan protesnya.
Dinda meracau tak jelas, protes tentang pelayanan buruk yang diberikan seorang penyembuh dirumah sakit ini, dalam hal ini adalah Meiza, tapi Meiza tak menghiraukannya. Ia mengambil lolipop dari tangan Dinda, juga yang dipegang Iro yang baru saja berniat untuk memasukkannya ke mulut. Sebagaimana Dinda, Iro ikut memprotes, menyinggung kedudukannya sebagai Kapten Divisi yang seharusnya mendapatkan keringanan.
"Hei, itu diskriminasi!!" Dinda memprotes ucapan Iro sedangkan Mou tetap bergumam kesal ditempat tidurnya.
"Gadis kecil makan manisan, wanita dewasa minum ramuan pahit"
Disaat itulah pintu ruangan terbuka, Frans melangkah masuk dengan lemah. Gadis-gadis itu menatap kearahnya, kecuali Mou yang masih menggerutu sambil memandang keluar jendela.
"Ah Frans.. kau baik-baik saja!?" Meiza yang pertama kali bersuara. Ia melangkah menyebrangi ruangan menghampiri gadis pirang itu.
Frans mengangguk lemah. Selanjutnya Iro juga datang menghampirinya, menanyakan hal yang sama.
"Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir.. daripada itu.." Frans mengalihkan pandangannya kearah Meiza.
"Kak Mei, bagaimana keadaan Kak Noey?"
Meiza menjelaskan keadaan Kapten Divisi pertama itu. Ia berkata telah mendapatkan izin untuk melakukan operasi besar terhadap Noey, namun hanya karena operasi besar itu bukanlah ranahnya ia tak bisa melakukannya begitu saja.
Frans mengangguk mengerti, kemudian mengalihkan pandangannya ketempat lain, menanyakan keadaan ketiga temannya itu.
"Mereka tak apa-apa, dirimulah yang harusnya kami khawatirkan" ucap Meiza.
"Errol, katak bodoh itu membawamu entah kemana padahal kau mengalami luka yang cukup parah"
Frans menjelaskan, ia berusaha membuat mereka semua, khususnya Meiza, yakin bahwa dirinya sudah baik-baik saja.
"Daripada memikirkan itu, lebih baik kita mulai operasinya" ucap Frans cepat-cepat sebelum Meiza atau yang lain menanyakan sesuatu lagi.
"Tapi Frans, apa kau yakin, kondisimu saat ini.."
"Kak Noey sedang menunggu, kita harus cepat" ucap Frans lagi yang akhirnya membuat Meiza menyerah, kemudian bersedia mengantarnya keruangan operasi setelah sebelumnya berpamitan dengan ketiga temannya itu.
"Jadi begitu.." ucap Frans saat Meiza selesai menjelaskan keadaan Noey saat ini padanya. Mereka sedang berjalan menyusuri koridor yang saat itu cukup padat dengan para penyembuh yang hilir-mudik kesana-kemari.
Kedua gadis itu berhenti di meja aula untuk mengambil beberapa perkamen yang ditinggalkan Meiza. Frans menyambar sebuah jubah putih khusus penyembuh dari lemarinya sebelum mereka kembali ke lantai dua.
"Maafkan aku.." ucap Meiza setelah mengatakan bahwa ia tak bisa membantu karena misi pengawalan yang diberikan padanya. Frans mengangguk mengerti.
Mereka berbelok diujung koridor, lalu berhenti didepan pintu masuk ke koridor 'Bagian Luka Gawat' tak jauh dari sana. Meiza menyerahkan perkamen ditangannya pada Frans, lalu pamit untuk pulang. Frans mengangguk, kemudian mendorong pintu didepannya terbuka setelah Meiza menghilang diujung koridor.
***
"Maaf.." ucap Bella yang saat itu tengah berada di ruang kerja Aldrich bersama Kevin dan Djabo, Wakil Kapten Divisi Delapan, setelah mengatakan alasan perihal dirinya yang tak bisa ikut mengawal kepergian Aldrich kedua ke Akiba.
Nia mengangguk mengerti, ia tak mempermasalahkan hal itu.
"Aku mengerti, Divisi Pertama lebih membutuhkanmu"
"Aku sudah memperkirakan hal ini, tapi tak kusangka keadaannya akan cukup rumit seperti ini" ucap Kevin yang duduk diatas sofa rajutan yang biasa ditempati Aldrich Ketiga. Ia menggenggam sebuah apel, memutar-mutarnya ditangan sambil menatap langit-langit ruangan.
"Noey merupakan kebanggaan Divisi Pertama, mereka semua menganggapnya sebagai pemimpin yang hebat.." ucap Bella, ia menatap lantai porselen dibawah kakinya.
"Saat ia jatuh, hal ini membuat semangat mereka menurun, karena itu aku tak bisa meninggalkan mereka saat ini"
Djabo bergerak tak nyaman ditempatnya berdiri. Ia mengerti apa yang sedang dikatakan Wakil Kapten Divisi Pertama itu. Ia sendiri mungkin akan merasakan hal yang sama jika Iro mengalami hal serupa. Walaupun Iro juga sedang terbaring di rumah sakit, kondisinya bahkan lebih baik daripada Kapten Divisi Pertama itu.
Nia menatap laporan tentang kondisi Noey yang dibawa Bella dari rumah sakit. Ia telah menyetujui permintaan Meiza untuk melakukan operasi besar terhadap Noey.
"Aku baru saja memberikan persetujuanku untuk melakukan operasi besar, Meiza berpendapat hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidupnya"
"Operasi yang hanya bisa dilakukan oleh Frans, tapi Meiza berkata kalau ia sendiri tak tau dimana Frans saat ini.." timpal Kevin.
"Kurasa dia berada di pondok Poppy.." ucap Djabo cepat yang kemudian mendapat tatapan dari ketiganya.
"Iro pernah memberitahuku kalau Poppy sudah seperti penyembuh pribadi Udzaa dan Frans.." ucapnya lagi.
Jam dinding diujung ruangan berdetak pelan, menggema memecah keheningan. Angin pagi itu berhembus lebih hangat daripada hari kemarin, membawa aroma musim semi melewati jendela beranda.
"Baiklah, tak apa, tak perlu khawatir Bella, masih ada Djabo dan Meiza, kami akan baik-baik saja" ucap Nia kemudian, tapi Kevin menegakkan posisi duduknya.
"Tapi disurat undangan itu tertulis bahwa para Raja harus didampingi setidaknya tiga orang pengawal, Lian juga sudah menegaskan kalau setidaknya kita harus mematuhinya.." ucap Kevin, ia menggigit apelnya.
"..ya walaupun aku yakin takkan ada yang bisa macam-macam denganmu diluar sana, tapi setidaknya kita harus menunjukkan rasa hormat dengan mematuhi perintah dari Akiba"
Nia memberi Kevin tatapan yang tak bisa diartikan yang diabaikannya saat itu juga.
"Kita bisa mencari pengganti Bella jika ia tak bisa, mudah saja.."
"Maaf, tapi sudah dari dulu tugas mengawal para Aldrich menjadi tanggung jawab Divisi Pertama, aku tak mau jika tak ada satupun dari kami yang ikut dalam tugas ini.." ucap Bella tiba-tiba, memotong perkataan Kevin begitu saja sambil menatapnya dengan sedikit kesal.
Kevin mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana?"
"Karena itulah tujuanku kesini, selain menyampaikan permohonan maafku, aku membawa seseorang untuk menggantikanku untuk ikut dalam misi ini" ucap Bella sambil kemudian memerintahkan seseorang untuk masuk.
Pintu ruangan mengayun terbuka menampakkan seorang gadis dibaliknya yang kemudian melangkah masuk. Gadis itu mengenakan pakaian yang berbeda dari anggota Divisi Pertama lainnya, namun lencana Divisi berwarna merah dibahunya menandakan jika ia berasal dari Divisi Pertama.
"Izin untuk menghadap.." ucap gadis itu sambil menunduk rendah. Nia mengangguk singkat.
"Namanya Bubble.." ucap Bella memperkenalkan gadis itu. Nia menatap gadis itu dari tempat duduknya sedangkan Kevin membuat ekspresi yang menandakan jika ia mengenal gadis bersurai biru pucat itu.
"Hoo, gadis dari kelompok Elite itu ya" ucap Kevin yang dijawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Bella. Djabo menatap Bubble dengan rasa penasaran.
"Ya, Bubble adalah salah satu dari lima prajurit Elite Morpheus" jelas Bella, diujung sana Kevin tersenyum bangga karena perkiraannya benar.
"Maaf sebelumnya karena merahasiakan ini, Morpheus berada dibawah perintah Noey langsung, itu membuat mereka bergerak secara rahasia, bahkan tak satupun dari anggota lain tau soal kelompok ini"
Djabo menatap Bubble lekat-lekat, ia tak percaya ada kelompok rahasia yang tak ia ketahui sebelumnya. Namun Nia tak terkejut sama sekali, sebaliknya ia memperlihatkan senyumnya yang biasa.
"Apa ia bisa diandalkan? maksudku tugas mengawal ini bukan perkara mudah, kau tau, sejauh ini hanya para Kapten dan wakilnya yang pernah mampu melakukan tugas ini" ucap Kevin, ia membetulkan posisi tudung jubahnya yang sedikit turun. Kevin tersenyum miring saat Bella menatapnya dengan kesal.
"Walaupun masih muda, kemampuan Bubble setidaknya setingkat denganku" ucap Bella yang masih menatap kesal kearah Kevin.
"Sebuah kehormatan untukku, mendapat pujian darimu nona Bella" ucap Bubble tiba-tiba, ia tersenyum sambil menunduk hormat. Gadis itu kemudian menoleh kearah Kevin.
"Kemampuanku sebenarnya masih sangat rendah, tapi walaupun demikian aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam tugas ini, aku akan mempertaruhkan segalanya, bahkan nyawaku sendiri untuk melindungi Aldrich Kedua" ucap gadis itu lagi, yang membuat Kevin terkekeh.
Nia menepuk dahinya, melihat Kevin memancing kata-kata itu keluar dari mulut gadis bersurai biru pucat itu. Djabo sampai mengernyitkan dahinya.
"Bubble, tak perlu sampai seperti itu, Kevin hanya menggodamu, jangan terlalu dipikirkan" ucap Nia kemudian. Kevin terkekeh dikursinya. Sedangkan Bubble menatap bingung.
"Baiklah-baiklah, maafkan aku" ucap Kevin kemudian membalas tatapan kesal Bella dengan senyumnya.
"Tapi setidaknya kita yakin Bubble akan melakukan yang terbaik"
Nia memutar matanya kemudian beralih kearah Bubble.
"Baiklah Bubble, kau ikut, kita akan berangkat sore ini, jadi kau masih punya waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, mohon kerjasamanya" ucap Nia yang kemudian dibalas anggukan mantap oleh Bubble.
***
Sementara itu dirumah sakit. Frans tengah bersiap di ruangan 301, di Bagian Luka Gawat bersama beberapa penyembuh lain. Ruangan itu sepenuhnya gelap, sumber cahaya hanya berasal dari sebuah lampu ditengah ruangan, tepat diatas sebuah tempat tidur besar.
Tempat tidur itu sepenuhnya berwarna putih, tubuh Noey yang tak bergerak terbaring disana, ia mengenakan pakaian putih yang terbuka dibagian perutnya. Dari mulutnya terpasang beberapa selang yang mengalirkan cairan jernih keluar-masuk tubuhnya. Dikedua lengannya selusin jarum kecil ditancapkan disetiap titik aliran Cloe miliknya, memutus aliran itu dengan paksa. Sementara itu diperutnya, sebuah garis hitam melingkar disana, terbuat dari tulisan mantra-mantra yang melingkar, tersambung dengan garis hitam lain yang mengarah lurus ke enam ornamen perunggu di sekeliling tempat tidurnya.
Beberapa penyembuh berusaha menstabilkan denyut jantung Noey yang semakin lemah atau mengutak-atik ornamen perunggu yang berdengung diujung ruangan, sementara Kapten Divisi Pertama itu tengah bertarung dengan maut.
Tak jauh dari sana Frans menatap perkamen yang diberikan Meiza padanya, membacanya sekali lagi.
Beberapa penyembuh sedang memeriksa perkamen lain, menuangkan beberapa cairan berwarna kedalam tabung atau menyediakan peralatan lain saat Kiruru melangkah masuk kedalam ruangan, ia mengatakan sesuatu pada salah satu penyembuh kemudian melangkah mendekat kearah Frans.
"Akhirnya kau datang" ucapnya yang membuat Frans mengalihkan pandangannya dari perkamen ditangannya.
"Ah, Kak Kiruru.." sapanya. Kiruru menanyakan kondisinya, namun Frans segera mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Sebelum Kiruru bertanya lebih jauh, Frans beralih pada penyembuh didekatnya.
"Warren, aku mau kau membuat sebuah ramuan" ucapnya sambil menyerahkan sepotong perkamen kearah penyembuh laki-laki yang bernama Warren itu.
"Semua bahan dan rinciannya sudah ku tulis disana, ingat! buat ramuan itu tepat seperti yang ku tulis!" ucap Frans dengan tegas, penyembuh bernama Warren itu mengangguk singkat kemudian pergi dengan perkamen ditangannya.
"Kak Kiruru, aku mau laporan terkini" ucap Frans yang beralih ke wakilnya itu. Kiruru mengangguk mengerti.
"Kapten Divisi Pertama, Noey.." ucap Kiruru sambil mengangkat papan klip dari atas meja, ia membaca isi perkamen disana. Ruangan yang minim cahaya itu membuatnya harus benar-benar memperhatikan tiap kata yang tertulis disana.
"Beberapa luka luar, dan sebagainya, tapi kondisi kritisnya ini disebabkan oleh racun ditubuhnya yang merusak sebagian besar sel motorik miliknya, membuatnya tak bisa bergerak sama sekali" jelas Kiruru.
Frans mendengarkan, ia menatap lurus kedepan, tepat kearah tubuh Noey yang terbaring tak sadarkan diri ditempat tidur.
"Sampai saat ini kita tak bisa memastikan racun jenis apa, ini jenis yang sama sekali belum terdaftar dalam data yang kita punya" ucap Kiruru lagi.
Frans mengingat perkataan Iro sebelumnya tentang ketidaktahuannya akan jenis racun itu. Jika Iro yang notabene selalu berurusan dengan racun tak pernah melihatnya, bagaimana dengan dirinya.
"Kak Iro telah mengonfirmasi jenis racunnya, ia sendiri tak mengetahuinya, karena itu percuma saja menyamakannya dengan data yang kita miliki, ini jenis racun yang belum pernah kita lihat sebelumnya" ucap Frans, lebih kepada dirinya sendiri.
"Racun ini menyerang sel tubuh bagai makhluk hidup, mereka menggerogotinya dari dalam, mencari setiap sel yang belum mereka sentuh, merambat ketempat lain" jelas Kiruru membacakan laporan ditangannya.
"Hingga saat ini, racun itu hampir sampai di jantungnya, jika mereka berhasil.."
"Tidak akan pernah selagi aku disini.." potong Frans dengan segera. Ia menoleh kearah Kiruru.
"Aku akan melakukan operasi sekarang, ini cukup rumit, maksudku, aku akan sedikit kesulitan dengan semua pakaiannya itu jadi.." ucap Frans sambil melirik kearah Noey.
"Kak Noey adalah seorang gadis, jadi kurasa aku perlu privasi disini.." ucapnya lagi. Kiruru mengangguk mengerti, ia memerintahkan kepada semua penyembuh laki-laki untuk pergi meninggalkan ruangan saat itu juga.
"Aku akan memeriksa Iro dan yang lain, aku akan ada di ruangan mereka jika kau butuh aku" ucap Kiruru, Frans mengucapkan terima kasih kemudian berpesan untuk memberitahu Warren agar meletakkan ramuan yang ia minta didepan pintu.
"Aku mengerti" ucapnya lagi sambil kemudian melangkah pergi.
Frans menghela nafasnya, kini yang tersisa di ruangan itu hanyalah dirinya dan lima penyembuh wanita. Ia menatap kearah Noey kemudian mengambil nafas dalam.
"Hygene, Pompona, Ultima" Frans menyebut nama para penyembuh disana yang segera menatap balik kearahnya.
"Aku mau kalian bertiga untuk fokus menghentikan pendarahan yang terjadi saat aku memulai operasi" ucapnya kemudian beralih kedua penyembuh lain di sisi kirinya.
"Demeter, Emesta, kalian berdua bantu aku" ucapnya lagi yang kemudian mendapat anggukan mantap dari Demeter dan Emesta.
"Ini akan jadi operasi yang panjang, dengan kekuatanku yang sekarang setidaknya kita akan menyelesaikannya dalam lima jam" Frans menggulung lengan jubahnya, ia juga mengikat rambutnya kebelakang kepala. Frans melangkah maju hingga berdiri tepat di kaki tempat tidur Noey.
"Aku akan mulai dengan pembedahan besar, kuserahkan pendarahan yang terjadi pada kalian" ucapnya lagi kearah Hygene, Pompona dan Ultima.
"Kita akan mengeluarkan semua racun itu dari tubuhnya sampai tak tersisa" Demeter dan Emesta mengangguk.
Frans menutup matanya kemudian merapal mantra yang rumit. Sementara ia merapal mantra itu, sebuah lingkaran sihir yang cukup besar muncul tepat diatas tubuh Noey, melayang sekitar setengah meter diatasnya. Mantra itu cukup panjang, sebuah tangan yang tak terlihat seakan menuliskan kata-kata kuno kedalam lingkaran sihir itu, memenuhinya dengan cahaya.
Disisi lain, Hygene yang berdiri tepat dikepala tempat tidur serta Pompona dan Ultima yang ada dikanan-kirinya ikut merapal mantra mereka sendiri. Lingkaran sihir terbentuk didepan tangan mereka yang terjulur kedepan. Demeter dan Emesta juga merapal mantra, membuat kedua telapak tangan mereka berpendar, pendar yang berbentuk lidah api namun dengan ujung yang tajam, membuatnya terlihat seperti pisau bedah yang besar, yang kemudian mereka gunakan untuk merobek pakaian Noey.
Peluh menetes turun dari dahi Frans, mengalir melewati pipinya, dan menetes dari dagunya. Lingkaran sihir yang ia buat masih setengah jadi, tapi wajahnya telah menampakkan betapa lelahnya gadis itu. Namun ia tak menghiraukan rasa lelahnya, hingga pada akhirnya lingkaran sihir miliknya sempurna. Ia membuka matanya, manik biru miliknya berkilat tajam.
"Baiklah, kita mulai" ucapnya lagi yang mendapat anggukan dari kelima penyembuh lainnya.
***
Hari menjelang siang. Matahari makin naik dari tempatnya terbit di ufuk timur. Beberapa penduduk sedang beristirahat sebelum kembali melanjutkan memperbaiki bangunan yang ada setelah makan siang. Begitu juga dengan renovasi besar-besaran di gerbang utama. Puluhan prajurit dari tiap Divisi bergotong royong mengangkat balok kayu besar, sebagian lainnya memotong dahan pohon besar yang merambati dinding gerbang utama. Beberapa bagian dari dinding itu telah berhasil diperbaiki dengan menambahkan beberapa campuran plester kapur.
Tak jauh dari sana, beberapa tenda besar didirikan. Tenda itu memuat beberapa peralatan yang ada, diantaranya adalah campuran kapur dan air, beberapa batu dan kayu-kayu berukuran sedang.
Ditenda lain terlihat sosok Iqbal yang tengah mengatur jalannya renovasi besar-besaran itu. Ia mengenakan helm yang biasa dikenakan para penambang batu bara berwarna kuning dengan sebuah lampu disisi depan. Ditangannya, ia menggenggam sebuah perkamen besar berisi cetak biru gerbang utama. Ia sedang meneriakkan perintah kepada beberapa orang disaat Dimas datang.
"Apa-apaan topimu itu" ucap Kapten Divisi Tujuh itu yang menatap helm dikepala Iqbal.
Iqbal menoleh kearahnya.
"Oh hai, seperti yang kau lihat, aku sedang memimpin renovasi ini" ucapnya, ada sedikit nada bangga didalamnya tapi Dimas terlalu malas untuk menghiraukannya.
"Kau mau jus?" tawar Iqbal sambil mengangkat teko berisi jus Aprikot hutan ditangannya.
"Jika aku disuruh datang hanya untuk jus itu, lebih baik aku kembali" ucap Dimas malas.
Iqbal menggeleng.
"Oh tidak, tentu saja tidak.." ia melirik kedalam tenda dibelakangnya.
"Mereka sudah menunggumu didalam" ucapnya lagi, Dimas segera melangkah masuk kedalam tenda, meninggalkan Iqbal yang kembali meneriakkan perintah-perintahnya.
Tatapan bosan Faruq menyambutnya ketika Dimas menyibakkan tirai tenda dan melangkah masuk. Ia melihat Kevin duduk diujung sana, diatas sebuah kursi lipat, tengah mendiskusikan sesuatu dengan Zayn.
Kevin yang mendapati Dimas telah datang segera menghentikan obrolannya dengan Zayn.
"Akhirnya kau datang juga" ucapnya.
"Lupakan basa-basinya, dan langsung ke inti" ucap Dimas enggan. Ia mengibaskan tangannya kearah Kevin yang menatapnya kesal.
"Kau tau, kepalaku masih terasa pusing"
Iqbal melangkah masuk kedalam tenda. Ia membawa serta teko jus Aprikot hutannya, meletakkannya keatas meja disana, kemudian berdiri disamping Dimas.
"Baiklah, semua sudah berkumpul" ucapnya sambil melirik Dimas.
"Lalu ada apa?"
Kevin berdiri dari posisi duduknya. Menatap keempat temannya itu. Faruq, yang kini tak lagi mengenakan zirahnya terlihat tak bersemangat, sedangkan Zayn masih dikursinya, memutar-mutar sebuah belati perak yang sebelumnya ia gunakan untuk memotong apel.
"Aku memanggil kalian kesini untuk membicarakan sesuatu" ucap Kevin membuka obrolan.
Dimas menarik sebuah kursi kemudian duduk disana sedangkan Iqbal bersandar dimeja.
"Situasi kali ini cukup sulit untuk kita, penyerangan semalam berdampak buruk untuk Edenteria" sambung Kevin.
Faruq menguap.
"Sore ini Nia akan berangkat ke pertemuan para Raja di Akiba, sedangkan Lian, ada hal yang sedang ia urus sendiri kemudian Udzaa masih harus memulihkan diri" ucap Kevin lagi, ia melangkah ke meja, menuangkan jus Aprikot hutan milik Iqbal kedalam gelas.
"Selain renovasi ini, kita juga perlu mengirim utusan untuk menyampaikan permohonan maaf kepada bangsawan yang hadir di festival kemarin, ini penting untuk hubungan bilateral" Kevin meneguk sedikit jus digelasnya.
"Jadi maksudmu, kau mau kami yang menjadi utusan itu?" ucap Faruq. Kevin mengiyakannya.
"Kau tau, kita bisa mengirim beberapa pasukan untuk itu"
"Jika begitu, para bangsawan akan menganggap kita tak menghormati mereka, bila Aldrich tak bisa melakukannya, setidaknya kita yang harus pergi" ucap Zayn, ia mengambil apel dan memotongnya.
"Persis seperti itu" ucap Kevin setuju. Faruq menghela nafasnya.
"Ayolah, aku belum cukup istirahat" Dimas mengeluh, ia baru saja mendapatkan waktu untuk tidur setelah semalaman bermain pukul-pukulan dengan sekumpulan zombie.
"Dan aku juga harus menyelesaikan renovasi ini" tambah Iqbal yang ikut menuangkan jus ke gelasnya.
"Atau mungkin kita bisa memanggil beberapa Void untuk sedikit mempercepat.." ucapnya lagi yang kemudian terhenti oleh tatapan tajam Dimas.
"Aku tak mau" ucapnya tegas. Iqbal mengangkat bahunya kemudian meminum jusnya.
"Aku mengerti, yang ku maksud bukan untuk dikerjakan hari ini" ucap Kevin menjelaskan.
"Kita bisa pergi besok, setelah istirahat atau apapun itu" ucapnya lagi. Disaat itu terdengar suara-suara dari luar tenda, Iqbal segera bergegas keluar tenda untuk memastikan.
"Apa boleh buat kalau begitu" ucap Dimas dengan enggan, begitu juga dengan Faruq.
"Selain itu aku juga sudah menggerakkan beberapa orang untuk bergabung kedalam kelompok penjaga, kurasa cukup" ucapnya lagi.
Kevin mengangguk. Faruq dan Zayn juga mengatakan hal yang sama, mereka berdua telah memerintahkan masing-masing Divisinya untuk berjaga di setiap perimeter kerajaan. Iqbal kembali masuk kedalam tenda, mengabarkan bahwa mereka kekurangan beberapa bahan untuk pembangunan. Kevin menyarankan untuk mengistirahatkan para prajurit hari itu, sementara ia mengatur sebuah kelompok untuk pergi mendapatkan material lain.
"Atau mungkin kita bisa memesannya langsung, tapi aku khawatir akan butuh waktu lama untuk sampai kesini" ucapnya.
"Tapi tak kusangka kerusakannya akan separah itu"
"Aku sudah mengatakannya pada Lian, kalau Udzaa akan membuat kita mengadakan renovasi besar-besaran" ucap Iqbal sambil menatap cetak biru gerbang utama yang ia buka diatas meja.
"Tapi tak kusangka, sebagian besar kerusakan malah disebabkan Cero miliknya"
"Kita takkan punya gerbang utama lagi jika itu Cero milikku" ucap Dimas pelan dengan nada mencibir.
"Atau Cero milikku" sambar Faruq.
"Dan siapapun itu akan mati dihajar Kak Noey" ucap Kevin kemudian. Iqbal terkekeh ditempatnya sementara Zayn tersenyum miring melihat Dimas dan Faruq memucat.
***
Udzaa melangkah cepat melewati koridor rumah sakit, disampingnya Kiruru berusaha menyamakan langkahnya. Mereka berdua baru saja bertemu di ruangan tempat Iro dan yang lain berada, setelah mendengar penuturan Kiruru perihal Frans yang tengah melakukan operasi besar itu, Udzaa segera melangkah pergi menuju ruangan tempat Noey dirawat.
".. lagipula Kak Noey harus segera mendapatkan penanganan, atau kalau tidak.." ucap Kiruru sambil tetap menyamakan langkahnya dengan Aldrich keempat itu.
Udzaa tak menghiraukannya, ia mendorong pintu menuju lorong Bagian Luka Gawat. Tapi kemudian berhenti didepan ruangan 301. Kiruru menahannya, ia merintangi pintu itu dengan tangannya.
"Kau tak boleh masuk, operasi ini perlu privasi khusus.." jelasnya yang mendapat tatapan bingung dari Udzaa.
"Setidaknya itu yang ia katakan.."
Udzaa menatap pintu didepannya,pintu itu punya jendela kecil diatasnya, namun tirainya ditutup hingga ia tak bisa melihat kedalam. Disamping pintu ia melihat seorang penyembuh laki-laki dengan sebuah troli yang mengangkut kuali besar berisi ramuan, ia segera berdiri dan menunduk hormat saat melihat kedatangan Aldrich keempat itu, Udzaa mengangguk singkat.
"Dia belum sepenuhnya pulih.." ucap Udzaa tanpa alasan.
"Aku tau, tapi bahkan Kapten pun tak punya pilihan lain.." balas Kiruru.
Udzaa menyatukan kedua telapak tangannya, ia menatap lantai porselen dibawah kakinya tanpa arti.
"Bagaimana kondisinya?"
Kiruru menatapnya singkat, kemudian menyandarkan dirinya dikursi, ia menatap langit-langit.
"Sebenarnya aku tak bisa mengatakan ia baik-baik saja, kondisinya lebih buruk daripada yang pernah kulihat selama ini"
"Gadis-gadis itu.." Udzaa mengepalkan tangannya.
"Mereka selalu memaksakan diri"
Kiruru tertawa kecil, Udzaa beralih menatapnya.
"Lucu sekali mendengar kata-kata itu keluar darimu, jika kau bertanya padaku tentang siapa yang tak pernah melihat kondisinya sendiri sebelum bertindak, aku tidak akan bisa menjawabnya" ucap Kiruru, ia mengeluarkan sebuah buku dari balik jubah putih yang kini ia kenakan.
"Karena kita semua akan selalu melakukan apapun untuk menolong seorang teman tanpa berpikir bagaimana keadaan kita jadinya"
Udzaa terdiam. Didalam hatinya ia menyetujui perkataan Kiruru. Ia bisa merasakan hal itu, terjun kedalam pertempuran demi melindungi seorang teman bukanlah hal baru baginya, ia sudah menanamkan itu sejak. Hal itu, entah kenapa membuatnya teringat sesuatu. Disaat memikirkan hal itu, pintu ruangan 301 mengayun terbuka.
Frans melangkah keluar dari ruangan dengan wajah pucat, bulir-bulir keringat meluncur dari dahinya, helaian pirangnya menempel ke pipi dan dahinya. Udzaa sontak berdiri dari kursinya. Frans menatapnya dengan mata lelah, manik birunya terlihat redup, walaupun begitu ia tetap berkata dengan suara parau.
"Semuanya berjalan lancar, tak ada yang perlu dikhawatirkan" ucapnya lemah.
Udzaa ingin mengatakan sesuatu tapi Frans mengalihkan pandangannya kearah penyembuh laki-laki yang terlonjak bangun dari tempat duduknya.
"Ah Warren" ucapnya, ia melirik sebuah kuali besar diatas troli yang berada tak jauh dari Warren. Ia melihat kedalam kuali itu, kemudian dengan sebuah sendok kecil ia mengambil sedikit ramuan itu lalu mencicipinya.
Frans terdiam sebentar kemudian meletakkan sendok kecil itu kembali ke tempatnya. Ia mengatakan kalau ramuan itu sempurna.
"Berikan ramuan ini sebagai infus, tak perlu yang lain, tapi sebelum itu berikan juga sedikit ramuannya untuk Kak Iro, Kak Mou dan Dinda, mereka juga memerlukannya"
"Kita perlu membuatnya dengan jumlah banyak, kupikir layak untuk simpanan, juga salin catatan yang kuberikan padamu dan simpan bersama data ramuan yang lain"
"Pompona sedang mengurus beberapa luka luar sekarang, ia akan keluar sebentar lagi, berikan saja ramuan itu padanya, kau bisa segera ketempat Kak Iro dan yang lain" Warren mengangguk mengerti.
Kiruru bangkit dari tempat duduknya.
"Kapten kau baik-baik saja?" Frans mengangguk lemah, kemudian tersenyum kearahnya. Ia beralih kearah Udzaa.
Frans menatap lemah kearah kakaknya itu, ia melihat raut cemas diwajahnya. Kemudian Frans juga tersenyum lemah kearahnya.
"Apa-apaan wajahmu itu, sama sekali tak cocok untukmu" ucapnya lemah.
Namun sedetik kemudian kesadarannya menghilang, tubuhnya jatuh didepan Udzaa yang segera menangkapnya. Ia masih sempat mendengar Udzaa memanggilnya, setelah itu semua menjadi gelap.
***
Sore harinya Iro, Mou dan Dinda sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Iro yang memaksa untuk melihat kondisi Frans harus menyerah saat Udzaa melarangnya, begitu juga dengan Mou yang begitu bersikeras, namun kemudian terdiam saat Udzaa dengan tegas mengatakan bahwa Frans butuh istirahat total.
Mereka bertiga berpisah didepan rumah sakit, Dinda segera pergi ke toko manisan diujung kota, berkata bahwa Meiza takkan bisa menghentikannya saat ini, sedangkan Iro dan Mou berjalan bersama menuju kastil. Mereka bertemu Nia didepan pintu kastil.
"Berpergian jauh?" tanya Mou. Nia menoleh saat Mou dan Iro datang.
"Begitulah" jawabnya singkat.
Sesaat kemudian Djabo datang bersama Meiza yang membawa ransel besar dipunggungnya. Djabo mengenakan pakaian tempurnya dibawah jubah berpergian, keenam pedangnya disampirkan di kanan-kiri pinggangnya. Sebaliknya Meiza yang memanggul sebuah ransel mengenakan jubah merahnya, jubah berpergiannya masih terlipat diatas ranselnya.
"Maaf terlambat, gadis ini merepotkan sekali" ucap Djabo sambil tersenyum lebar kearah Nia. Meiza segera memukul belakang laki-laki itu hingga terjungkal kedepan.
"Maaf, tak sengaja" ucapnya datar.
Mou bertanya tentang tujuan mereka, dan setelah ia tau jika mereka akan pergi ke Akiba Kapten Divisi Keempat itu mengerang.
"Arghhh kenapa bukan aku saja"
Nia tertawa kecil, mengatakan bahwa dirinya tak tau apa-apa, Kevin lah yang mengatur hal itu. Kemudian disaat itulah Kevin datang bersama Bubble.
"Ada apa ini? aku mendengar namaku disebut" ucapnya.
Mou menunjuk-nunjuk wajah Kevin dengan kesal, mengatakan kenapa bukan dirinya yang diberi tugas ke Akiba.
"Kau sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit, laki-laki macam apa diriku ini jika melibatkan seorang gadis yang sedang lemah tak berdaya untuk ikut serta dalam misi?" ucap Kevin membela diri. Namun Mou sama sekali tak terima, ia meracau tak jelas tentang keadilan dan hak-hak wanita yang akan berlangsung lama jika saja Nia tak menghentikannya.
"Simpan omelanmu nanti Mou, kau bebas memarahi Kevin sepuasnya, tapi sekarang aku harus pergi" ucap Nia sambil tersenyum, Kevin menatap Aldrich kedua itu dengan tatapan yang seolah berkata 'oh terima kasih sekali, aku akan sangat menikmati ocehannya'.
"Jadi.." Nia menatap Djabo, Meiza dan Bubble.
"Kalian sudah siap?" tanyanya, ketiganya mengangguk. Nia menatap ke langit yang sudah berwarna jingga. Matahari semakin condong ke barat selagi mereka bicara.
"Hari sudah sore, jadi kita akan gunakan kabut untuk sampai ke stasiun kereta di desa Yunbin sebelum gelap" ucapnya lagi, kemudian menatap kearah mereka bertiga.
"Ah, ano.. maaf tuan Aldrich, aku tidak bisa.." Nia menatap Bubble yang bicara sambil mengangkat tangannya.
"Oh, aku lupa, maaf" ucapnya kemudian memberi tatapan kearah Meiza yang sedang mendengarkan cerita Iro tentang Noey yang berhasil menjalankan operasi.
"Meiza, tolong bantu Bubble ya"
"Oh baiklah, maksudku tentu.." ucapnya sambil tersenyum kearah Bubble, ia melepas ransel dari punggungnya kemudian melemparkannya kearah Djabo.
"Aku membawa Bubble, setidaknya bawakan ranselku" ucapnya lagi saat Djabo berusaha mengangkat suaranya.
Akhirnya Nia berhasil meredakan pertengkaran keduanya, hari semakin sore, jadi mereka harus segera berangkat. Kevin, Iro dan Mou mundur beberapa langkah sementara Nia dan yang lainnya memudar menjadi kabut.
Nia bergabung lebih dulu dengan kabut dan melesat menjadi kabut putih ke langit, Djabo menyusul setelahnya. Sementara Meiza harus memfokuskan diri lebih lama karena Bubble bersamanya.
"Pegang tanganku" ucap Meiza, Bubble menggenggam tangannya sebelum Meiza mulai berdenyar. Kabut menguar dari tubuh Meiza, mengelilingi mereka berdua, hingga kemudian menyatu, berdenyar sebagai kabut putih lalu melesat membelah langit senja.
Kevin, Iro dan Mou menatap jalur kabut putih yang ditinggalkan Meiza.
"Aku ingat saat pertama kali melakukannya" ucap Mou tiba-tiba, Iro menoleh kearahnya.
"Rasanya seperti kau lebih rela berjalan kaki keliling dunia ini daripada harus merelakan kakimu menguap menjadi asap barbeque" ucapnya yang membuat Iro tertawa, Kevin menatapnya dengan sebelah alisnya terangkat.
***
Frans membuka matanya, dan menemukan bahwa dirinya berada disebuah ruangan beraroma ramuan. Kepalanya terasa pusing, kakinya mati rasa, pandangannya sedikit kabur, tapi sebuah sentuhan ditangannya menghilangkan semua itu.
Udzaa berdiri tepat disamping tempat tidurnya. Manik Onyx miliknya mengilat tajam, tapi Frans masih bisa menemukan gurat cemas diwajah kakaknya itu.
"Selamat pagi" ucap sang Aldrich keempat itu.
Frans mau tak mau tersenyum mendengarnya, jelas saja, ia bisa melihat langit gelap diluar jendela ruangan itu, tapi Udzaa malah mengucapkan selamat pagi.
"Kau pikir aku bodoh, tak ada pagi dengan langit gelap" ucap Frans lemah.
"Oh tentu saja ada, orang kadang menyebutnya pagi buta.." ucap Udzaa membela diri namun Frans memotongnya.
"Aku bisa mencium aroma daging panggang dari kantin rumah sakit, orang bodoh mana yang memanggang daging di pagi buta"
Udzaa tersenyum lebar.
"Baiklah-baiklah aku kalah" ucapnya.
Frans berusaha untuk bangun, Udzaa mencoba melarangnya namun Frans tetap bersikeras, kini ia terduduk ditempat tidurnya. Tubuhnya masih terasa lemas, namun kepalanya sudah tak lagi pusing. Ia bertanya berapa lama dirinya tak sadarkan diri, Udzaa mengatakan ia tak sadar selama beberapa jam, tapi yang ia rasakan seperti berhari-hari.
Frans bertanya lagi perihal Noey yang kemudian Udzaa memberitahunya bahwa Kiruru sedang mengurusnya. Tapi hal itu memberi ingatan pada Udzaa untuk kembali memarahi adiknya itu. Dengan tangan dipinggang Udzaa memarahinya layaknya seorang ibu memarahi anaknya. Mau tak mau Frans tertawa mendengarnya.
"Aku baik-baik saja Bu" ucapnya sambil tertawa lagi.
Udzaa kemudian menyodorkan segelas ramuan yang ditinggalkan Kiruru untuk Frans. Ramuan itu adalah ramuan yang sama dengan ramuan yang dibuat Warren sebelumnya. Udzaa menatap gelas itu sebentar kemudian menyerahkannya pada Frans.
"Kau tau cara membuat Felixia Gourment?"
Frans yang telah meneguk ramuannya menatap kearah Udzaa dengan bingung.
"Maksudmu ramuan ini?" Udzaa mengangguk.
"Jadi namanya Felixia Gourment?" Frans menatap ramuan kebiruan di gelasnya. Ia mengingat semua bahan dan cara untuk membuatnya dengan jelas.
"Poppy menyuruhku meminumnya pagi ini, ia berkata ini akan mengurangi efek racunnya, dan kemudian aku tau begitu saja" ucapnya menjelaskan, kini setelah meminum ramuan biru itu wajahnya kembali cerah perlahan.
Udzaa memutar matanya, ia lupa kalau adiknya itu punya kemampuan seperti itu. Frans bisa mengetahui semua bahan dan cara membuat makanan atau minuman hanya dengan mencicipinya. Frans menatap Udzaa bingung dengan alis terangkat, Udzaa mengibaskan tangannya, memberitahunya kalau ia tak apa-apa.
Keheningan terjadi kemudian, Frans menatap ramuan di gelasnya dalam diam, sedangkan Udzaa tiba-tiba merasa kalau langit-langit ruangan itu cukup menarik. Hanya bunyi jam dinding serta suara langkah kaki penyembuh di lorong yang terdengar saat itu sampai kemudian Udzaa memecahkan suasana, ia meraih sesuatu dari balik jubahnya, sebuah botol kecil berisi cairan kuning pucat.
"Poppy berpesan agar kau tak terlalu sering menggunakan Cloe" ucapnya sambil memberikan botol kecil itu pada Frans, ia meraihnya.
"Juga, teteskan ramuan itu di makanan atau minumanmu sehari sekali" ucapnya lagi. Frans mengangguk mengerti.
Kemudian hening lagi, namun tak berlangsung lama. Kali ini Frans yang bicara.
"Kak.." Udzaa yang baru saja menggigit sebuah apel menatapnya.
"Kurasa ada yang aneh di punggungku, bisakah tolong kau periksa?" pintanya lemah, manik birunya terlihat redup. Udzaa mengerti, ia melangkah kebelakang Frans yang menanggalkan jubah putihnya, kemudian sedikit menurunkan pakaiannya hingga punggungnya terlihat.
Disana, tepat dibawah tengkuknya, sebuah Candellion berwarna kuning berpendar lemah. Udzaa menatapnya, Candellion langit itu tak seharusnya berpendar. Ia melihat sebuah tanda tercetak jelas diatas Candellion itu, sebuah goresan melintang disana, ditempat luka akibat belati yang dilemparkan Zach semalam. Disekelilingnya Udzaa melihat garis hitam segel yang ditambahkan oleh Poppy memudar perlahan. Udzaa meletakkan tangannya tepat diatas Candellion itu, sesaat kemudian ia merasakan sebuah amarah besar yang mengalir dari Candellion itu.
"Ugh!" Frans mengernyit merasakan nyeri dilukanya.
Udzaa merapal mantra singkat, membuat sebuah segel baru diatas segel milik Poppy yang telah menghilang sempurna. Ia menyelesaikannya segera, kemudian Frans kembali membetulkan jubahnya.
"Untuk sementara aku membebaskanmu dari tugas keluar kerajaan" ucap Udzaa kemudian. Mau tak mau Frans mengangguk setuju.
"Aku merasa amat marah saat Kak Noey jatuh setelah menerima serangan orang itu" ucap Frans tiba-tiba, Udzaa yang kembali ketempat duduknya menoleh kearahnya.
"Kemudian untuk sesaat aku merasa ingin mencabik-cabiknya"
"Jangan khawatir, itu normal, semua orang akan merasa seperti itu jika melihat temannya dilukai didepan matanya" ucap Udzaa menenangkan, ia menggigit apelnya lagi.
"Tapi sebelumnya, ditengah festival, punggungku terasa nyeri, maksudku, kristal itu seperti terbakar" ucap Frans lagi sambil mengingat-ingat hal aneh yang ia rasakan saat festival semalam.
Udzaa terdiam ditempatnya, ia tak jadi menggigit apelnya lagi. Pikirannya melayang ke malam itu, dimana ia melepas segel Kiso Boukutten dari Tiara karang. Udzaa tersadar kalau Frans menatapnya sejak tadi. Ia berusaha terlihat seolah tak ada yang terjadi.
"Mungkin hanya perasaanmu saja" ucapnya kemudian, namun ia segera berkata lagi sebelum Frans bertanya.
"Aku akan tinggalkan kau sekarang, jadi istirahatlah" ucapnya.
Frans mengangguk lagi, ia menatap botol ramuan ditangannya tanpa arti sampai sebuah tangan menepuk puncak kepalanya dengan lembut. Ia mendongak, mendapati Udzaa tersenyum kearahnya.
"Tak perlu dipikirkan, kau adalah adik dari Aldrich keempat, takkan ada yang terjadi, aku janji" ucapnya, yang entah kenapa membuat Frans ikut tersenyum.
Kemudian Udzaa meletakkan sebuah syal merah dipangkuannya.
"Walaupun sudah masuk musim semi, tapi udara masih terasa dingin, jaga dirimu tetap hangat" ucap Udzaa yang kemudian melangkah menuju pintu.
"Yeah tuan Aldrich" balas Frans lirih sambil tersenyum. Sementara pintu ruangan mengayun menutup, meninggalkan keheningan menemaninya, hangat bersama syal merahnya.
***
Malam telah datang, matahari telah bertukar tempat dengan sang bulan yang kini menatap sendu di langit bersama debu-debu bintang musim semi. Setiap orang telah menghentikan pekerjaannya masing-masing, kecuali para penjaga yang tetap berada di posisinya.
Beberapa lampu yang baru saja dipasang disekitar area renovasi mulai menyala satu persatu. Beberapa prajurit datang untuk bergantian tugas jaga di gerbang utama, selebihnya menyebarkan diri keluar gerbang. Beberapa kelompok prajurit bergegas ke hutan, berjalan hingga batas perimeter Edenteria. Disana telah menunggu kelompok lain yang telah berjaga sejak pagi.
Api unggun sudah dinyalakan ditengah sebuah tanah lapang yang tersembunyi diantara lebatnya hutan, beberapa tenda kecil didirikan mengitarinya. Kelompok yang baru datang melapor, kemudian menggantikan tugas mereka berjaga.
Jose, yang memimpin pasukan penjaga dihutan barat ini tengah duduk menghadap api. Seseorang melangkah kearahnya, melaporkan tentang pergantian prajurit. Jose mengangguk singkat.
"Nona, anda bisa kembali ke kota, kami akan berjaga disini" ucap seorang dari prajurit yang baru saja datang itu, tapi Jose menolak, ia ingin tetap ditempatnya.
Wakil Kapten Divisi Keempat itu masih terdiam menatap api unggun didepannya. Rambut hitamnya yang tak terlalu panjang diikat, mencuat tajam dibelakang kepalanya. Membuat kepalanya sekilas terlihat seperti buah nanas. Dahinya tertutup poni yang tak beraturan, beberapa helai rambut kadang turun menutupi matanya. Wajahnya terlihat cantik dengan kulit Tan yang menawan, walaupun begitu ia tak suka dengan hal-hal feminim yang membuatnya lebih terlihat seperti laki-laki. Ia mengenakan jubah coklat diatas pakaian jaring-jaringnya, kaki jenjangnya terbalut celana pendeknya putihnya. Salah satu kakinya dililit perban putih hingga ke ujungnya. Sebuah pedang ia sandarkan ke pohon besar disebelahnya.
Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan dahan-dahan pohon. Lidah api menjilat liar saat tertiup angin, menggerakkan bayang-bayang secara acak. Jose mencabuti rumput dikakinya, melemparkannya tanpa alasan kedalam api. Seseorang melangkah kearahnya dari belakang, Jose memicingkan matanya, dengan cepat ia menyambar pedangnya kemudian berbalik kebelakang sambil menghunuskan bilah besi miliknya.
Akuma berdiri disana, tersenyum miring, memamerkan deretan gigi runcingnya, seakan tak terjadi apa-apa padahal bilah tajam milik Jose hanya berjarak setengah senti dari lehernya.
Jose memutar matanya, ia melangkah mundur sambil kembali menyarungkan pedangnya. Ia meniup anak rambutnya yang menutupi mata dengan kesal.
__ADS_1
"Aku hampir saja membunuhmu" ucapnya sambil kembali duduk didepan api.
Akuma terkekeh mendengarnya, ia melangkah mendekat dengan suara gemerincing yang berasal dari rantai dibelakang tubuhnya. Rantai itu melilit kedua tangannya, menjulur panjang ke punggungnya, tersambung dengan sepasang kapak besar bergerigi merah disana. Malam ini Akuma mengenakan mantel kulit tanpa lengan yang terlihat tak nyaman dengan kerah tinggi dibagian belakang, ia tak mengenakan pakaian lagi dibawahnya, menampakkan dada bidangnya berhias luka parut diberbagai tempat.
"Masih terlalu cepat 100 tahun untuk membunuhku" ucap Akuma.
Jose tak menghiraukannya. Ia kembali menatap api didepannya. Akuma duduk disebelahnya. Jose melihat laki-laki itu dari sudut matanya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini? pos mu bukan disini"
Akuma meraih botol minumnya, ia meneguknya. Jose mencium bau wiski api dari botol itu.
"Aku hanya berkunjung" ucapnya kemudian meneguk kembali minumannya. Akuma menawari Jose yang dibalas gadis itu dengan tatapan sinis.
"Aku bukan peminum sepertimu"
Akuma kembali terkekeh, ia kemudian memulai pembicaraan soal tugas menjaga yang diberikan pada mereka. Ia berpendapat kalau tugas itu terasa membosankan. Mau tak mau Jose menyetujuinya dalam hati.
"Djabo dan Meiza, mereka diberi tugas untuk mengawal Aldrich kedua ke Akiba, aku melihat mereka melintas dilangit" ucapnya.
"Tapi aku tak iri pada mereka berdua, yang ku inginkan adalah sebuah pertarungan" ucap Akuma lagi dengan suara dalam yang sedikit menyeramkan. Jose meliriknya sebentar.
"Tak perlu khawatir, aku punya firasat kau akan mendapatkannya dalam waktu dekat" ucap Jose. Akuma menyeringai kearahnya, kemudian tertawa. Laki-laki itu merangkul pundak Jose yang matanya membulat sempurna. Dengan refleks Jose melepaskan diri dari rangkulan itu, kemudian mengunci tangan Akuma hingga laki-laki itu mengerang kesakitan.
"A-aw, baiklah baiklah, aku mengerti tak ada rangkulan, aku menyerah!" ucapnya sambil menepuk-nepuk tanah pertanda menyerah. Jose melepaskan lengan laki-laki itu.
Akuma memeriksa lengannya, cengkraman Jose terbilang kuat untuk seorang gadis. Tapi beberapa saat kemudian Akuma terkekeh.
"Aku menarik kata-kata ku, kau mungkin bisa saja membunuhku" ucapnya sambil menyeringai, yang dibalas tatapan tajam dari Jose.
Malam semakin larut, bulan bergerak perlahan. Angin berhembus makin sering, mengusik lidah api unggun yang kini menjilat liar. Akuma sudah pergi, laki-laki itu pamit beberapa saat lalu untuk kembali ke posnya, setelah meninggalkan sekantung kue kering.
Jose kembali duduk sendiri. Beberapa bawahannya sesekali melaporkan keadaan sekitar. Dari isi laporan itu, Jose memastikan bahwa malam ini akan tetap tenang seperti sekarang.
"Yaa kecuali cuacanya.." ucap Jose sambil menatap langit yang bergemuruh diatasnya.
***
Petir bergemuruh di langit, berdentum dengan keras. Angin berhembus kian kencang, membuat cuaca terasa lebih dingin. Desa Yunbin bersiap menghadapi badai.
Para penduduk dan beberapa pengunjung desa itu bergegas untuk berlindung dari badai yang sepertinya akan datang. Kedai-kedai minum penuh sesak dengan para pelancong dari berbagai tempat. Desa Yunbin yang merupakan desa yang cukup besar memang telah menjadi sebuah terminal antar kota sejak lama, desa ini menjadi penghubung diantara kedua kota besar yang mengapitnya, membuatnya menjadi sebuah tempat persinggahan. Desa Yunbin juga menjadi jalur utama perdagangan dan kegiatan ekonomi lainnya, setiap barang yang dikirim dari kota pelabuhan Dexter akan melewati desa ini untuk menuju ibu kota.
"Dan jalur kereta melewati desa ini dari Dexter" ucap Nia sambil melepas tudung jubahnya. Kini dirinya, Djabo, Meiza dan Bubble tengah duduk disebuah bilik kedai minum di desa Yunbin. Cuaca yang buruk membuat perjalanan mereka tertunda, kereta yang harusnya mengangkut mereka ditangguhkan hingga pagi.
"Jalur kereta dibangun sepanjang daerah pesisir, dengan keadaan cuaca seperti ini akan cukup beresiko jika tetap melanjutkan perjalanan" ucapnya lagi.
Seorang pelayan mengantarkan minuman ke bilik mereka, Djabo memesan makan malam untuk mereka semua.
"Aku dengar sup kacang di desa ini enak" ucapnya saat pelayan itu pergi mengambilkan pesanan mereka.
Meiza melihat sekeliling. Kedai itu cukup besar untuk ukuran tempat yang tersembunyi dari jalan utama desa. Banyak orang tengah menikmati minuman mereka di bilik masing-masing. Dimeja utama, tiap kursinya telah diisi oleh sosok-sosok bertudung. Kemudian Meiza menatap kearah sosok bertudung lain yang baru saja melewati pintu masuk, kelompok bertudung lain dengan perawakan besar melangkah dibelakangnya. Meiza menatap ganjil ke seluruh ruangan, semua pengunjung kedai itu mengenakan jubah dan tudung tertutup, seolah mereka tak ingin keberadaannya diketahui orang lain.
Ketika pelayan itu datang kembali membawa nampan yang penuh dengan sup kacang, kelompok besar yang baru saja datang itu mengisi bilik disebelah mereka.
"Perasaanku saja atau semua orang disini menyembunyikan wajah mereka" ucap Meiza pelan saat pelayan itu pergi dari bilik mereka.
Djabo yang sedang menyantap sup kacangnya melirik kesamping, memastikan perkataan Meiza.
"Aku juga merasa begitu"
Bubble yang sejak tadi terdiam juga ikut memperhatikan. Nia menangkap gerakan yang dibuat Bubble, gadis itu sekilas terlihat tenang tapi matanya bergerak bagai radar, menatap kesana kemari, siap dengan serangan apapun yang akan datang.
"Tak perlu khawatir" ucap Nia yang mengaduk mangkuk supnya.
"Kedai ini memang seperti itu, selain sebuah kedai minum, tempat ini juga digunakan sebagai tempat transaksi terlarang" ucapnya.
Meiza menatap horror kearah Aldrich kedua itu. Begitu pula dengan Djabo dan Bubble.
"Apa??"
Nia menceritakan kisahnya tentang dirinya yang sering menggunakan tempat ini sebagai tempat pertemuan dengan Udzaa. Kedai itu memungkinkan segala rahasia yang terjadi didalamnya tetap menjadi rahasia. Alasan Nia memilih tempat ini sekarang adalah untuk mendengarkan setiap informasi yang bisa ia dapatkan.
"Kalian tak perlu khawatir" ucapnya dengan tenang, ia mengatakan itu pada mereka khususnya Bubble yang mengangguk kecil. Nia tersenyum kearahnya.
"Jadi, Bubble" Nia telah menghabiskan supnya, ia menatap Bubble yang balas menatapnya. Gadis bersurai biru pucat itu punya sorot mata yang unik, Nia tak melihat sedikit pun rasa ragu darinya.
"Aku belum terlalu mengenalmu, tapi entah kenapa aku seperti pernah melihatmu sebelumnya"
Bubble mengedip bingung. Kemudian segera menguasai dirinya.
"Maaf, tapi ini pertama kalinya aku bicara denganmu tuan" ucap Bubble. Nia mengangguk mengerti kemudian mengalihkan pertanyaannya mengenai kelompok khusus tempat Bubble berada. Namun Bubble menolak untuk bercerita, karena kelompoknya bergerak secara rahasia.
"Sekali lagi aku minta maaf, tapi kami hanya menerima perintah langsung dari Kapten Noey" Djabo menatap tak suka kearah gadis itu begitu juga dengan Meiza, namun Nia hanya tersenyum kearahnya, meminta maaf telah bertanya.
Suasana di bilik mereka hening kemudian, hanya terdengar suara-suara kedai minum yang makin ramai. Hujan turun meramaikan, bersamaan dengan angin yang bertiup kencang, menggetarkan jendela-jendela kaca disana.
"Kami adalah pengubah bentuk" ucap Bubble tiba-tiba. Nia yang baru saja mengangkat gelasnya terhenti di udara saat Bubble bicara, begitu juga Meiza dan Djabo yang kemudian menatap gadis itu.
"Alasan kenapa aku tak bisa mengatakannya adalah karena aku sendiri tak begitu mengerti"
"Kapten Noey bukan hanya merahasiakan ini dari orang luar, melainkan juga pada kami sebagai anggotanya" Bubble bergerak tak naman di tempat duduknya. Nia mendengarkan.
"Aku tak tau bagaimana dengan anggota lain, tapi yang bisa kukatakan adalah kami semua punya kemampuan untuk merubah bentuk"
Djabo meneguk habis minumannya.
"Merubah bentuk?" tanyanya dengan nada bingung, seketika Bubble menyentuh tangannya lalu sedetik kemudian sosok Djabo yang lain mewujud di kursi Bubble. Djabo, yang asli, memekik tertahan, melihat dirinya sendiri didepannya.
"Aku adalah yang terakhir dari jenis ku, ras Glamopoid, pengubah bentuk" Djabo yang baru, berbicara dengan suara Bubble. Meiza amat terkejut dengan kemampuan Bubble hingga tak bisa berkata-kata.
"Ras kami punya kemampuan untuk membaca setiap unsur penyusun kehidupan makhluk lain hingga ke bagian terkecil sekalipun hanya dengan sentuhan. Kemudian dengan informasi itu, kami membentuk kembali setiap sel kami hingga menyerupai makhluk itu.." jelas Bubble, ia mengangkat tangannya. Djabo bisa melihat sebuah luka kecil di lengan bagian bawahnya, luka yang didapatkannya dari kecil, Bubble bisa menirunya dengan amat detail. Kemudian Bubble menyentuh Meiza dan dalam hitungan detik sosok Djabo berubah menjadi Meiza
"Suaranya.." kini Bubble bicara dengan suara Meiza, membuat Meiza yang asli mengernyit terkejut.
"Bahkan Cloe, dan teknik miliknya" ucap Bubble lagi sambil mengangkat tangannya yang berpendar kebiruan, kemudian api biru muncul dari tangannya.
"Oh mustahil, ColdFire ciptaanku" ucap Meiza saat melihat tehnik ciptaannya dirapal dengan mudah oleh Bubble. Sedetik kemudian Bubble kembali berubah menjadi dirinya sendiri.
"Inilah salah satu alasan kenapa Kapten merahasiakannya" jelas Bubble, ia menatap kebawah dengan sendu, ia merasa seperti telah melakukan perbuatan yang memalukan.
"Karena jika informasi ini sampai bocor, ia khawatir kalau aku akan diburu, seperti halnya keluargaku"
Tak ada yang bicara, semuanya terpukau melihat kemampuan Bubble. Walaupun sebenarnya mengubah tubuh sendiri menjadi sesuatu yang lain bukan perkara sulit, dengan sihir yang tepat siapapun bisa melakukannya, bahkan bagi orang sekelas Meiza yang merupakan seorang Animorph, hal itu cukup mudah. Tapi sampai tingkat meniru jenis Cloe dan setiap jurusnya, itu terdengar menakutkan.
"Aku tau apa yang kalian pikirkan" Bubble berkata dengan suara bergetar, cairan bening mengalir dari matanya.
"Aku ini monster" ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Djabo bereaksi lebih dulu.
"Kau bercanda? tadi itu sangat menakjubkan!" ucap Djabo dengan keras, Meiza sampai harus memukul lengan laki-laki itu untuk membuatnya menutup mulutnya.
"Hei itu sakit" Meiza menatap tajam kearahnya. Kemudian beralih pada Bubble.
"Bubble, tak satupun dari kami menganggapmu seperti itu, aku mengerti kalau dirimu berbeda, dan pasti sangat sulit untukmu" ucap Meiza dengan lembut, ia merangkul gadis itu kepelukannya.
"Sebelum sampai Edenteria, semua orang melihatku sebagai monster, mereka ingin membunuhku, aku diperlakukan seperti binatang ternak, diperjualbelikan untuk kepentingan mereka hingga akhirnya aku bertemu Kapten" Bubble bicara dengan parau.
"Kapten membebaskanku dari lingkaran perbudakan, dan memberiku kehidupan" ucapnya lagi.
Nia merasa tak nyaman. Secara tak langsung ialah yang membuat Bubble harus menceritakan semuanya. Ia mengangkat tangannya, kemudian menyentuh bahu gadis itu, yang sontak menatapnya dengan tatapan aneh.
"Bukan hanya kau yang berbeda" ucap Nia, ia tersenyum kearah Bubble yang menatapnya tak percaya.
"Kau pasti sudah merasakannya bukan?"
"Al-Aldrich kedua, anda.." Bubble tak bisa menyelesaikan ucapannya, sesaat yang lalu tepat setelah Nia menyentuhnya, ia bisa merasakan setiap sel tubuh Aldrich kedua itu, yang berbeda dari orang lain. Nia mengangguk.
"Cloe milikku mati, aku terlahir sebagai satu-satunya manusia yang tak bisa mengalirkan Cloe dengan wajar, aku bahkan takkan bisa merapal mantra remeh sekalipun" ucap Aldrich kedua itu.
"Walaupun begitu, aku dianugerahi tubuh yang kuat, jika kau tak percaya, Djabo bisa memberimu salah satu pedangnya yang bisa kau gunakan untuk memotong tanganku, tapi aku yakin, tergores pun aku tidak" ucapnya lagi.
Meiza mengikuti teladan Nia, ia melepas rangkulannya dari bahu Bubble.
"Begitu pula diriku, aku seorang Animorph, dan jika kau tak tau, aku bisa berubah menjadi binatang apapun yang ku mau, hanya saja aku menanggalkan semua kemampuan sihir ku saat dalam wujud binatang, itu membuatku bisa diserang dengan mudah" ucapnya.
"Oh ya, aku merindukanmu dalam bentuk kelinci seperti waktu itu" ucap Djabo terkekeh yang kemudian kembali mendapatkan pukulan di perutnya.
"Intinya adalah, kita semua, dengan segala kekurangan kita, ditakdirkan bertemu di Edenteria" ucap Nia, ia mengisi kembali gelasnya yang kosong kemudian menuangkan minuman juga di gelas Bubble.
"Kita bisa saling mengisi kekurangan masing-masing, dan kau tak perlu merasa sendiri, kini kau punya teman disampingmu"
Bubble tersenyum kecil mendengar kata-kata Aldrich kedua itu, ia menyapu air matanya, meraih gelasnya dan meminumnya. Sesaat kemudian ia merasa lebih baik dari sebelumnya.
Hujan masih turun dengan deras diluar sana, beberapa pengunjung kedai sudah mulai berkurang. Djabo berdiri dari tempat duduknya, ia berniat mencari sebuah penginapan untuk mereka, kemudian pergi.
Meiza menceritakan beberapa kejadian lucu saat ia berubah menjadi marmut dulu. Bubble tertawa kecil mendengarnya. Gadis itu terlihat lebih santai daripada sebelumnya.
"Jadi, kau bisa meniru semua orang dengan sempurna?" tanya Meiza diakhir ceritanya tentang petualangannya menjadi seekor elang botak di pengunungan.
Bubble meletakkan gelasnya, ia menggeleng pelan kemudian menjawab.
"Tak ada teknik yang sempurna, aku bisa berubah menjadi siapapun hingga detil terkecil, tapi aku masih punya tanda yang menunjukkan kalau itu aku" jelasnya. Nia mengangguk, sedangkan Meiza yang ingin bertanya lagi namun Nia melarangnya.
"Itu rahasia miliknya sendiri, apa jadinya jika rahasia tentang perubahanmu diketahui orang lain?" Meiza menatap kesal, tapi ia mengiyakannya dalam hati. Bubble tertawa kecil.
"Tapi kau bisa berubah menjadi siapapun semaumu kan? tak hanya binatang saja" ucap Meiza dengan nada iri. Tapi Bubble kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak juga, sejauh ini aku bisa meniru siapapun, kecuali Aldrich keempat dan Nona Frans" ucapnya, Nia menatap dengan heran. Meiza juga mengangkat alisnya.
"Aku juga tak mengerti kenapa, selama ini aku bisa meniru semua orang dengan sempurna, tapi saat aku mencoba meniru mereka berdua.." Bubble berhenti, ia terlihat tak tau bagaimana cara untuk mengatakannya.
"Susunan tubuh mereka seperti berbeda, terlebih lagi dengan Cloe mereka, benar-benar berbeda"
Nia terdiam. Ia sedikit tertarik dengan hal ini. Udzaa memang punya kekuatan besar yang mungkin saja melampaui batas kemampuan Bubble untuk menirunya. Tapi Frans ada ditingkat yang berbeda, dalam hal ini, setingkat dengan para Kapten Divisi lainnya. Tapi kenapa Bubble tak bisa menirunya. Kenyataan bahwa Frans adalah adik dari Aldrich keempat juga tak bisa menjelaskan hal ini, karena jelas Frans bukanlah adik kandungnya.
Lamunan Nia berakhir saat Djabo kembali ke bilik mereka, mengatakan bahwa ia telah mendapatkan penginapan untuk mereka malam ini. Setelah itu, Nia tak lagi memikirkan hal itu. Argumennya bahwa kakak-beradik itu spesial sudah cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya tadi.
***
Hujan juga telah sampai ke Edenteria, membuat Jose tak lagi bisa bertahan didepan api unggunnya. Gadis itu terpaksa masuk kedalam tenda besar yang didirikan disana. Beberapa bawahan menawarinya untuk minum, membuatnya mengingat sesuatu.
Jose melemparkan sekantung kue kering yang ditinggalkan Akuma pada prajurit itu.
"Kue kering, Akuma yang memberikannya padaku, kurasa akan cocok dengan minuman kalian" ucap Jose sambil melangkah ke sisi lain tenda, ia mengangkat sebuah lampu minyak dari meja.
"Bawakan aku minuman tanpa alkohol yang kau punya" ucapnya lagi.
Jose duduk disebuah kursi lipat disudut tenda setelah meletakkan lampu minyak keatas meja disampingnya. Ia menyandarkan punggungnya, menghela nafas sambil menatap keluar tenda. Hujan diluar sana semakin lebat, tapi bukan berarti pasukannya rela berhenti melaksanakan tugasnya. Beberapa orang terlihat kembali ke tenda hanya untuk mengambil jubah anti air, kemudian kembali berpatroli.
Seorang bawahannya membawakan segelas besar Amonte, meletakkannya diatas meja. Jose mengangguk, mengucapkan terima kasih. Ia merapat ke meja didepannya, meminum cairan jingga itu dengan sedotan sambil tetap memperhatikan titik-titik air yang jatuh menghujam tanah diluar sana.
Angin berhembus cukup kencang, membuat udara malam itu cukup dingin. Namun Jose sama sekali tak bergerak dari tempatnya duduk menikmati Amonte, walau sekedar mengambil mantelnya di sisi lain tenda, ia tak merasa kedinginan dengan pakaian yang ia pakai saat ini. Ia tidak sendirian didalam tenda, beberapa prajurit tengah beristirahat. Sebagian dari mereka mengambil tempat untuk tidur disudut tenda, sebagian lain sedang menikmati minuman mereka sambil bercengkrama tak jauh dari tempat Jose duduk.
Jose memicingkan matanya saat ia menangkap gerakan, salah satu prajuritnya datang menghampiri bersama temannya. Jose menoleh kearahnya, mendapati sosok laki-laki yang tak lebih tua darinya menatap dengan ragu. Dibelakangnya seorang gadis berpenampilan sama, jubah coklat yang basah karena hujan belum sempat ia tanggalkan dari tubuhnya. Air menetes dari ujung jubahnya yang berlumpur.
"Ada apa?" Jose bertanya kearah mereka berdua. Ia menangkap gerakan gadis yang berdiri dibelakang, ia mendorong rekan laki-lakinya itu untuk bicara.
"Ma-maaf nona Jose, aku ingin melaporkan sesuatu" Jose mendengarkan.
"Sebenarnya kami berdua menemukan tanah yang longsor disebuah tebing berbatu tak jauh dari sini" ucap laki-laki itu dengan ragu. Terlebih lagi saat melihat Jose menaikkan sebelah alisnya, bingung.
"Lalu kenapa?"
Laki-laki itu terlihat takut mengatakannya, hal itu membuat rekannya geram, memukul bahu laki-laki itu dengan keras kemudian melangkah maju.
"Maaf nona Jose, tapi kami mengira longsor itu terlihat tak wajar, terlebih lagi di tebing berbatu itu" ucap gadis itu dengan jelas. Jose berpikir sejenak, tapi tak menjawab.
"Kami, maksudnya aku dan rekanku ini, mendapatkan sebuah misi pengawalan bersama beberapa orang lainnya, kami mengawal salah satu bangsawan untuk datang ke festival, kami melewati daerah ini, tebing itu masih utuh" jelas gadis itu lagi, Jose masih mendengarkan.
"Kau tau kan serangan semalam bisa saja.." tapi perkataan Jose dipotong oleh gadis itu. Sebenarnya ia agak kesal saat gadis itu berani memotong perkataannya.
"Aku juga pikir begitu, tapi jika melihat kembali pola serangan semalam, daerah ini sama sekali tak punya alasan untuk disentuh, jarak daerah ini lebih jauh daripada sisi perbatasan yang lain" Jose terdiam. Ia mengaduk Amonte tanpa minat.
"Aku dengar Aldrich keempat bertarung di gerbang utama, dan ledakan besar yang membuat langit sesaat terang itu karena teknik Aldrich keempat.." ucap gadis itu.
'Cero' batin Jose saat mendengarkan penjelasan gadis itu tentang teknik yang digunakan Aldrich keempat semalam, kemudian menatapnya. Hujan diluar tenda sedikit mereda walau tidak sepenuhnya. Ia menunjuk gadis yang sedang mencoba menjelaskan sesuatu itu dengan sedotan ditangannya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?"
"A-aku ingin bertanya, apakah teknik yang digunakan Aldrich keempat itu punya dampak besar? maksudku, bahkan untuk daerah yang jauh dari jalur serangan" mau tak mau Jose terdiam. Ia berpikir sejenak.
Daerah tebing berbatu cukup sulit mengalami longsor bahkan oleh hujan besar sekalipun. Jose menatap dua orang yang berdiri didepannya itu, mereka sudah memastikan kalau tebing itu masih utuh dihari festival, kemudian malam ini tebing itu sudah longsor. Jose mengalihkan pandangannya ketempat lain, ia mengira-ngira. Gadis itu berasumsi kalau Cero milik Aldrich keempat mungkin menyebabkan longsor itu, tapi Jose mendengar nada keraguan disana.
Jose tau ia tak bisa merapal Cero, karena itu ia tak tau seberapa kuat teknik itu. Tapi ia yakin bahkan dampaknya takkan terjadi diluar jalur serangnya. Sesaat kemudian gadis itu kembali berkata, namun Jose memotongnya. Hujan diluar sana telah berganti dengan gerimis kecil.
"Bawa aku kesana" ucap Jose.
.
.
.
Sraak.
Jose menampakkan kakinya ditanah berbatu. Ia menurunkan tudung jubah yang ia kenakan, beberapa titik air segera menyambutnya, menghujaninya dengan rintik kecil. Jose menatap lurus kedepan, dimana sebuah tebing kokoh berada, setidaknya sebelum sesuatu menghancurkannya.
Jose menatap langsung sebuah longsor yang dikatakan dua bawahannya. Ia mengetuk-ngetuk kakinya ketanah, memeriksa kepadatan tanah itu. Tapi percuma saja, apa yang ada dibawah kakinya kini adalah sebuah batu yang mustahil dihancurkan tanpa sengaja.
Tapi kenyataannya adalah tebing itu hancur dibagian tepi, meluncurkan batuan penyusun tebing itu merosot menuruni tebing, jatuh menutupi sebagian sungai yang mengalir dibawahnya. Jose, dengan hati-hati melangkah ke tepi, menjulurkan kepalanya untuk melihat seberapa tinggi tebing itu yang ternyata cukup tinggi.
"Hati-hati nona Jose" gadis bawahan Jose itu berkata pelan dibelakangnya.
Jose ingin menjawab gadis itu tapi matanya menangkap gerakan sesuatu ditengah tumpukan tebing yang hancur itu. Melambai-lambai dengan gila karena terpaan angin yang kuat, sebuah jubah, atau lebih tepatnya sebuah potongan jubah berkibar.
"Tetap disini, aku akan memeriksanya" ucap Jose yang kemudian melompat menuruni longsoran tebing itu.
Jose menarik potongan jubah ditengah longsoran itu, meloloskannya dari jepitan batu besar. Ia menatap potongan jubah itu. Berwarna putih kusam, lusuh tapi terlihat masih baru. Samar Jose mencium bau terbakar dari jubah ditangannya. Ia menoleh keatas tebing, memberitahu bawahannya yang berteriak memanggilnya bahwa ia tak apa-apa. Jose kembali menelusuri daerah itu. Ia turun lebih jauh, hingga sampai ke dasar tebing. Dari sana langit terlihat sangat jauh diatas sana, sebagai gantinya dinding tebing batu berdiri dengan kokoh dikedua sisinya, sungai besar mengalir dari kanannya dengan deras karena hujan yang baru saja turun. Runtuhan tebing itu menghalangi sebagian sungai, hingga air sedikit meluap di tempat ia berdiri sekarang.
Jose mengedarkan pandangannya kesegala arah, ia berniat untuk kembali keatas tebing setelah yakin tak ada apa-apa sebelum matanya menangkap sebuah tangan terjulur keluar dari runtuhan batu disisi lain sungai.
Jose segera menghampirinya. Seseorang terjebak dibawah reruntuhan tebing itu. Dengan susah payah ia mencoba menggeser batu-batu besar yang menimpa tangan pucat itu. Hingga pada akhirnya ia melihat seorang gadis kecil tertelungkup tak sadarkan diri saat ia berhasil memindahkan reruntuhan tebing dari atasnya.
Jose mencoba untuk menyadarkan gadis itu, ia menepuk pipi gadis itu beberapa kali, memanggilnya, namun tak ada yang terjadi. Gadis itu terlihat pucat, ia punya beberapa luka ditubuhnya, rambut putihnya terlihat lusuh dan basah karena hujan, ikat kepala berwarna merah di dahinya lengket oleh darah dari pelipisnya. Tubuh gadis itu terasa dingin tapi Jose masih merasakan denyut jantungnya. Kemudian tanpa berpikir lagi, ia mengangkat gadis itu, membawanya keluar dari tebing runtuh itu.
***
Udzaa menutup keran wastafel setelah selesai membasuh wajahnya, ia menatap pantulan dirinya yang balik menatapnya melalui cermin. Ia kembali membasuh wajahnya kemudian keluar dari kamar mandi.
Udzaa melangkah kedalam ruangan berukuran kecil, dindingnya dicat dengan warna coklat yang terlihat nyaman, Errol bergelung diatas tempat tidur disudut ruangan. Udzaa mengambil sebuah minuman dari tempat penyimpanannya, meminumnya sambil duduk ditempat tidur.
Udzaa telah menanggalkan jubahnya, ia kini mengenakan pakaian biasa berwarna putih. Lampu kamarnya menyala redup, menciptakan suasana remang di kamarnya.
"Gero~" Errol mengerjap saat mendapati Udzaa duduk ditempat tidur dengan botol wiski api ditangannya.
"Kupikir kau takkan pulang gero~"
Udzaa memicingkan matanya kearah Errol.
"Kau berniat untuk tidur disana sepertinya?" ucapnya, Errol menunjukkan senyum lebarnya. Udzaa mengayunkan tangannya diudara, membuat Errol terlempar secara sihir dari tempat tidurnya.
"Gero!!" geram katak kelabu itu. Ia berusaha mengatakan sesuatu atau lebih tepatnya menyumpah, tapi Udzaa berkata lebih dulu.
"Kau ingat saat aku melepas segel Tiara karang di Divisi riset?" tanyanya, ia menatap tanpa minat kearah meja diseberang ruangan. Di atas meja itu sebuah pigura menampakkan foto dirinya bersama Frans dihari ia diangkat menjadi Aldrich keempat.
"Aku melihat sesuatu sesaat sebelum ledakan itu terjadi, seperti sebuah ingatan seseorang, kau merasakannya juga kan?" Errol mengangguk.
"Kau tau, ternyata Frans merasakannya juga" ucap Udzaa lagi, ia meneguk wiski api ditangannya.
"Sebelumnya, saat Frans menyentuh Tiara itu.."
"Kau berpikir kalau itu berhubungan?" Errol menatapnya, Udzaa mengangguk. Ia mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kristal berbentuk poligon perak tergeletak ditangannya.
"Aku menariknya dari Tiara itu, sesaat setelah ledakan, segel itu menutupinya, jadi Lian dan Nia tak sempat melihatnya"
Errol melayang mendekat kearah Udzaa, ia menatap kristal perak itu dengan bingung. Katak kelabu itu kemudian mendarat mulus disamping tempat tidur. Udzaa menyodorkan kristal itu ketangan Errol.
"Itu mirip sekali dengan.."
"Ya, aku juga berpikir begitu, lebih-lebih lagi aku merasakan hal yang aneh saat menyentuhnya" Udzaa, sekali lagi menatap pigura di meja.
"Perasaan yang sama saat aku menyentuh Candellion milik Frans"
Errol menatap kristal ditangannya, kemudian menghela nafas kecil.
"Sepertinya itu cuma perasaanmu saja gero~"
"Frans baru saja terluka, ini hari yang berat untuk kita semua-gero, lebih baik kita tidur, masih banyak yang harus dilakukan besok pagi gero~" ucap Errol, yang kemudian dijawab dengan sebuah anggukan oleh Aldrich keempat itu.
"Tapi sepertinya, sekarang kita punya dua Candellion langit gero~"
***
Hujan kembali turun saat Lian menutup buku kesepuluhnya. Aldrich ketiga itu menghela nafas berat, ia memijat keningnya. Kacamatanya turun hingga keujung hidungnya. Ia sedang berada di perpustakaan kerajaan yang telah sepi. Duduk didepan perapian sambil memegang buku berjudul 'Daftar Serikat Hitam' ditangannya. Setumpuk buku lainnya tergeletak begitu saja disamping kakinya.
Api diperapian didepannya berderik lemah, tenggelam dalam suara rintik hujan diluar sana. Lian kembali menatap buku ditangannya. Ia tak menemukan petunjuk apapun dari semua buku yang ia baca, bahkan dalam buku ditangannya yang memuat lebih dari seratus nama serikat hitam yang pernah ada.
Ia mencoba mengingat kembali rajah ditangan laki-laki misterius yang menyerang kerajaan mereka semalam. Ia sudah memastikan bahwa itu adalah rajah khusus tahanan Battojairu. Laki-laki itu cocok dengan sebuah profil tahanan kelas satu penjara sihir Battojairu bernama Zach yang ia baca di surat kabar. Tapi tanda berbentuk dua kepala naga yang bersilangan, yang di rajah ditangan laki-laki lain yang ia lihat malam itu tak bisa ia temukan dimanapun. Tak ada sedikitpun catatan tentang rajah itu.
Udzaa tau tentang tanda itu, tapi Aldrich keempat itu menolak mengatakannya. Lian yakin kalau tanda itu adalah simbol untuk sebuah serikat. Sudah sewajarnya sebuah serikat punya tanda untuk tiap anggotanya. Jeanne Light Cracker sendiri juga punya tanda untuk mencegah adanya penyusup diantara mereka, tanda yang juga tercatat dalam buku katalog serikat resmi. Tanda yang ia cari tak terdaftar disana, itu berarti kemungkinan besar tanda itu milik serikat hitam, serikat ilegal yang tak terdaftar. Tapi sekali lagi ia menemui jalan buntu, bahkan didaftar serikat hitam, ia tak menemukannya.
"Tanda apa itu sebenarnya.."
"Anda masih disini, Aldrich ketiga" sebuah suara memecah keheningan perpustakaan malam itu. Lian menoleh kearah datangnya suara itu dan mendapati Helene menatapnya dari balik rak buku tak jauh dari sana.
"Ah Helene, kau juga masih disini? kukira semua orang sudah pergi" ucap Lian, ia membetulkan letak kacamatanya.
Helene, wanita berjubah putih itu tengah meletakkan kembali beberapa buku keatas rak. Ia mengenakan kacamata bulan separo, rambut pirang kotornya digelung acak-acakan. Ia melangkah mendekat setelah selesai mengembalikan buku-buku itu ketempatnya.
"Aku ada di ruanganku sejak tadi, anda tau, merapikan beberapa berkas, penyembuh dari rumah sakit mengirimkan berkas ramuan baru, katanya itu ramuan khusus buatan nona Frans yang berhasil menyembuhkan nona Noey dan yang lain soal racun itu" ucapnya.
Lian mengangguk kearah wanita ahli ramuan didepannya. Ia lega mengetahui bahwa teman-temannya baik-baik saja, terlebih lagi soal Noey.
"Jadi, apa yang sedang anda cari?" tanyanya yang menatap tumpukan buku dikaki Lian.
"Kuperhatikan sejak tadi, anda terus membuka buku dengan ekspresi bingung"
Lian tertawa kecil.
"Benarkah? apa wajahku terlihat sebingung itu?" Helene mengangguk. Lian kembali menghela nafasnya. Ia meletakkan buku ditangannya keatas tumpukan buku lainnya. Ia membenarkan posisi duduknya kemudian menatap Helene.
"Kau tau aku sedang mencari sesuatu, aku menemukan sebuah tanda yang kuyakini sebagai tanda dari sebuah serikat" Lian menatap wajah Helene yang terlihat mendengarkannya bicara.
"Tapi aku tak menemukannya dimana pun, bahkan di daftar serikat hitam" ucapnya lagi.
"Memangnya tanda seperti apa?" Lian menggambarkan tanda yang ia maksud, sebuah gambar dua kepala naga yang saling bersilangan. Helene terdiam sebentar, membayangkan tanda yang baru saja dikatakan Lian.
"Dua kepala naga yang saling bersilangan yaa, emm, apa yang anda maksud itu tanda serikat Naga Kembar?"
"Apa? serikat naga apa?"
"Naga Kembar" ucap Helene lagi. Lian terlihat bingung, membuat Helene harus menjelaskan.
"Anda tau aku lahir di Akiba dan besar disana, beberapa tahun yang lalu, sepuluh tahun yang lalu kurasa, ada sebuah serikat kecil beranggotakan 13 orang yang muncul begitu saja entah darimana" ucap Helene bercerita, ia mengambil tempat duduk disebuah kursi tak jauh dari kursi Lian.
"Walaupun hanya serikat kecil, tapi mereka melakukan hal-hal yang luar biasa, yang bahkan tak bisa dilakukan serikat besar lain. Sepak terjang mereka segera menarik perhatian semua orang, mereka menjadi serikat bayaran yang menerima permintaan untuk perang, walaupun begitu mereka sendiri yang menentukan pihak mana yang bergerak atas nama keadilan"
"Puncaknya mereka menghentikan usaha sebuah kerajaan besar untuk menguasai kerajaan Elf, 13 orang itu berperang sendirian melawan ribuan penyihir hitam dan banyak lagi" ucap Helene.
Lian menatapnya.
"Bagaimana kau bisa tau banyak soal mereka" Helene menatap perapian disampingnya.
"Sejujurnya, mereka pernah menyelamatkanku saat Akiba menjadi medan perang bertahun-tahun lalu, keluargaku mati, mereka merawatku dan membawaku kedalam perlindungan khusus kerajaan" jelas Helene. Ia mengingatnya dengan jelas, bagai baru saja terjadi kemarin.
Lian menatap tak mengerti.
"Tapi aku tak menemukan apapun tentang serikat itu di.."
"Tentu saja, anda membaca katalog yang diterbitkan kerajaan pusat Akiba, mereka takkan menceritakan apapun soal serikat itu, mereka pikir itu aib" Lian menatap tak percaya kearah Helene, ia bertanya tentang bagaimana gadis itu tau tentang serikat itu kalau bahkan Akiba merahasiakannya.
"Anda ingat, pamanku bekerja dibagian arsip kerajaan disana, suatu hari aku mencuri dengar pembicaraannya dengan sang Raja tentang serikat itu, kalau diingat lagi, sudah lama sekali sepertinya"
Lian akhirnya mengerti. Ia takkan bisa menemukannya dimanapun karena mereka tak pernah mau menuliskannya. Tapi Lian masih belum mendapatkan jawaban tentang kenapa serikat itu dianggap sebagai aib oleh Akiba. Helene tak tau jawabannya, gadis itu berkata kalau ia terlampau mengantuk untuk mendengarkan pembicaraan pamannya waktu itu hingga ia tak mengetahui apapun lebih dari itu.
"Tapi walaupun Akiba tak menganggapnya sebagai aib sekalipun, anda mungkin akan tetap kesulitan mendapatkan informasi tentang mereka" ucap Helene lagi.
"Mereka sangat tertutup, sangat rahasia, bahkan tak ada seorangpun yang tau persis bagaimana wajah para anggotanya, mereka selalu bergerak dengan topeng" jelas Helene lagi, Lian mengangguk mengerti.
Lian terdiam. Pikirannya menerawang. Dengan berhasilnya ia mengetahui tanda itu bukan berarti ia mengetahui semuanya. Ia merasa masih ada sesuatu yang tertinggal, sebuah kepingan puzzle terakhir yang tak bisa ia temukan. Selain itu, tak ada yang tau tentang cerita ini, tapi kenapa Udzaa mengetahuinya. Lian menyadari kalau Aldrich keempat itu punya koneksi luas diluar sana, bahkan ia mengenal tiga pemimpin besar pasukan tempur Akiba. Mungkin dari sana ia mengetahuinya, pikir Lian.
Helene bangkit dari kursinya. Ia pamit untuk pulang.
"Sudah malam, aku permisi" ucapnya, setelah sebelumnya mengatakan bahwa kekuatan serikat Naga Kembar tak bisa dibayangkan, bahkan jauh melampaui kekuatan gabungan keempat Aldrich sekalipun.
***
Pagi harinya Udzaa terbangun karena ketukan dipintunya. Ia keluar dari selimutnya dengan malas, Errol tertidur ditempat tidurnya, tempat tidur kecil yang tergantung didinding tak jauh dari jendela.
Udzaa melangkah gontai kearah pintu depan, kemudian membuka pintu itu, menatap langsung kearah Frans yang tengah berdiri didepan pintunya sambil melipat tangannya didepan dada.
"Kau pikir jam berapa sekarang?" ucapnya kesal. Udzaa tak menghiraukannya, matanya masih terlalu berat untuk dibuka. Dengan enggan ia bertanya.
"Cepat cuci mukamu, ikut aku kerumah sakit" ucap Frans.
Udzaa mengerang malas, tapi Frans memukul kepalanya, membuatnya membuka matanya secepat mungkin.
"Aduuhhhh, itu sakit tau" Udzaa mengusap kepalanya, ditempat Frans memukulnya. Frans menatap tajam kakaknya itu, memaksanya untuk ikut dengannya.
"Aku baru saja bangun, setidaknya beri aku waktu untuk mandi dan sarapan.." ucap Udzaa lemah, kantuknya mulai menyerang lagi, namun ia membuka mata cepat saat Frans berniat memukulnya lagi.
"Baiklah-baiklah, aku cuci muka saja.." ucapnya lagi sambil berniat untuk kembali kedalam, mencuci wajahnya dan mengambil jubahnya. Tapi langkahnya berhenti, kemudian berbalik lagi menatap Frans.
"Hei, kenapa pagi ini baumu lain?" tanya Udzaa dengan lemas, ia masih belum bisa melawan kantuknya.
"Justru itu yang ingin kubicarakan denganmu" ucapnya lagi. Frans berdecak kesal, ia meletakkan tangannya di pinggang.
"Kita kedatangan tamu.."
.
.
.
.
Akhirnya dengan sedikit paksaan, Frans berhasil menarik Udzaa ikut dengannya. Mereka berdua melangkah masuk kedalam rumah sakit yang hari ini lebih lenggang dari kemarin. Udzaa bertanya maksud Frans membawa dirinya kerumah sakit pagi-pagi sekali, bahkan penyembuh yang biasanya duduk dimeja informasi di aula depan belum datang. Frans tak menjawabnya, ia menarik tangan Aldrich keempat itu mengikutinya, menaiki tangga hingga sampai di lantai dua. Mereka menelusuri koridor lantai dua, berbelok menjauhi koridor 'Luka Gawat' dan masuk ke bangsal umum.
Mereka berdua masuk kedalam ruangan itu, Udzaa mengikutinya dengan malas, matanya masih setengah terpejam menahan kantuk, tapi tak berlangsung lama karena Aldrich keempat itu segera membuka matanya lebar-lebar saat ia menginjakkan kakinya kedalam ruangan itu.
Ia tersentak, bahkan Frans bisa merasakan tangan kakaknya itu mengejang didalam genggamannya. Frans melirik kebelakang sebentar kemudian melepas pegangannya pada tangan kakaknya kemudian berjalan lebih dulu, meninggalkan Udzaa terpaku didepan pintu.
Bangsal umum dipenuhi tempat tidur, setidaknya ada sekitar selusin tempat tidur diruangan itu, di langit-langit ruangan terdapat rel besi tempat tirai-tirai bergantung, yang biasa digunakan untuk menutup tempat-tempat tidur itu. Semua tempat tidur itu kosong kecuali satu, tempat tidur diujung ruangan, yang diisi oleh seorang gadis bersurai putih.
Apa yang membuat Udzaa terkejut bukanlah keberadaan gadis itu, melainkan apa yang tengah berputar-putar diudara saat ini. Udara diseluruh bangsal umum itu terasa berat baginya hingga dadanya sesak. Ia merasakan tekanan Cloe yang kuat, mengendap diruangan itu, terkurung semalaman, dan menyentak keluar ketika Frans membuka pintu sebelumnya.
Udzaa melihat Frans yang kini berdiri disamping tempat tidur gadis bersurai putih itu. Dengan langkah berat Udzaa menghampirinya. Dadanya terasa amat sesak, udara disekitarnya seakan menolak untuk ia hirup. Dengan susah payah akhirnya ia sampai, berdiri disamping Frans yang menatapnya.
"Apa yang sebenarnya.." Frans tak perlu menjawab karena Udzaa akhirnya mengerti saat ia menatap gadis yang sedang tertidur disana.
Gadis itu menjelaskan semuanya. Perubahan bau Frans pagi ini, serta perasaan menyakitkan yang ia rasakan kini. Udzaa mengerti hanya dengan sekali lihat. Gadis itu tertidur dengan damai, bersurai putih, berkulit pucat, beberapa lukanya telah diperban dengan terburu-buru namun lebih dari itu semua. Sebuah kristal kecil berbentuk poligon mengilat diterpa cahaya matahari yang mengintip dari sela-sela tirai jendela.
"Errol, ini yang ketiga" bisik Udzaa, padahal tak ada Errol disana.
***
__ADS_1