Edenteria

Edenteria
Akhir Sebuah Festival II


__ADS_3

Pertempuran masih berlangsung, festival Vanor berakhir dengan kekacauan. Beberapa bangunan hangus dilahap api, angin malam berhembus membuatnya makin besar. Walaupun begitu keadaan telah terkendali, pasukan Undead telah berhasil dipukul mundur, sebagian besar terbuyarkan menjadi debu. Bantuan besar dari para Void mengubah keadaan. Sementara itu Atrium telah bebas dari invasi mayat hidup yang beberapa saat lalu menjadi sebuah masalah besar.


Jrash!!


Dimas menancapkan pedangnya ketanah, menembus kepala Undead yang kemudian terbuyarkan oleh sihir cahaya dari salah seorang dari Divisi Sembilan yang datang sebagai bala bantuan. Dimas menjatuhkan diri kemudian, terduduk lemas disamping bordes utama Atrium yang tak lagi berbentuk, terengah kelelahan.


Zayn melipat kembali busur peraknya, menyimpannya dibalik jubahnya kemudian melangkah kearah Dimas dengan tatapan mengejek.


"Apa-apaan kau ini? datang terlambat, dan jatuh lebih dulu"


Dimas memicingkan pandangan kesal kearah Zayn.


"APA KAU PERNAH MENGENDALIKAN RATUSAN VOID SEKALIGUS!!??" teriaknya kesal sambil menunjuk-nunjuk wajah Zayn dengan pedangnya. Sebaliknya Zayn hanya memutar matanya bosan, ia terkekeh dan kemudian mengambil tempat disebelah Dimas.


"Ya ya ya, aku tau" ucapnya sambil duduk bersandar disamping Dimas. Ia menatap kerusakan yang terjadi disekelilingnya.


"Bagaimana keadaan yang lain?"


Dimas kembali menghela nafasnya.


"Semua sudah terkendali, dan aku takkan mau bergerak lagi dari tempat ini" ucap Dimas dengan nada lesu.


"Aku sudah menghabiskan Cloe milikku, padahal baru saja merasakan betapa menyenangkannya tidur setelah perjalanan panjang kemarin"


Zayn tertawa kecil. Kemudian Syifa datang menghampiri mereka berdua, melaporkan bahwa perimeter Atrium telah bersih dari Undead. Zayn bangkit dari posisi duduknya, agak kehilangan keseimbangan saking lelahnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Syifa. Gadis air itu bertanya tanpa nada, membuatnya terdengar seakan sama sekali tak mencemaskan apapun. Zayn menggeleng, walaupun begitu tak bisa dipungkiri kalau dirinya juga telah kehabisan tenaga, namun ia tetap berusaha berdiri.


"Lebih baik kita segera ke gerbang utama" ucapnya, matanya hampir kehilangan fokus, membuatnya sekali lagi terhuyung hampir jatuh, Syifa membantunya berdiri. Dimas menatap temannya itu.


"Tak perlu memaksakan diri, aku tau keadaan disebelah sana sepertinya cukup gawat.." Dimas terbatuk sebentar, ia berharap semua ini cepat selesai agar dirinya bisa kembali tidur. Dan kemudian gelisah saat menyadari bahwa topi tidurnya sedang berada ditangan orang asing.


"Tapi, serahkan saja pada si bodoh itu" ucapnya lagi dengan sisa-sisa tenaganya. Ia menghela nafas dalam. Keempat wakilnya menghadap, Rough melaporkan jika situasi disetiap tempat telah berhasil dikendalikan, tapi ia meminta izin untuk mengeceknya secara langsung. Dimas mengiyakannya.


"Segera beri tau aku jika semuanya oke, aku tak bisa mempertahankan para Void lebih lama lagi" Keempat wakilnya mengangguk mengerti, kemudian berpencar ke segala arah.


***


Dilain pihak bangsal rumah sakit juga tengah merayakan kemenangannya. Kedatangan para Void sebagai bala bantuan membuat mereka berhasil memenangkan perimeter mereka, walaupun kerusakan tak bisa dihindari. Beberapa bagian rumah sakit telah hangus terbakar, menyisakan seonggok batuan hangus disudut sana, beberapa orang dari Divisi Lima tengah membantu sebagian pasukan yang cedera, membawa mereka masuk kedalam rumah sakit, atau sekedar memberikan pertolongan pertama, sedangkan Divisi Sembilan sudah disebar kesegala tempat, hingga menyisakan sedikit kelompok dari mereka.


Sekitar puluhan Void berpakaian pelayan ikut membantu. Sebagian dari mereka yang bertubuh besar berusaha memindahkan beberapa batu bekas reruntuhan yang menghalangi jalan, sebagian lagi masih siaga dengan senjata-senjata menyeramkan mereka, pedang bermata ganda, kapak super besar dan beberapa yang mirip kemoceng dengan duri tembaga sebagai bulunya.


Iqbal dan beberapa orang dari Divisinya tengah berjaga didepan gerbang rumah sakit sambil menikmati seteko penuh jus Aprikot hutan saat Rouge dan Violet datang.


"Ha bantuan lagi?" tanya Iqbal, sambil mengangkat gelas jusnya. Ia menawari kedua gadis itu untuk minum jus, tapi Rough menolak walau sepertinya Violet menatap gelas ditangan Iqbal dengan penuh minat.


"Kami kemari hanya ingin memastikan keadaan" jelas Rough yang kemudian menatap sekeliling, sedangkan Violet menyambut uluran segelas jus dari salah satu laki-laki Divisi Lima.


"Tapi sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan" ucapnya lagi, Iqbal mengangkat bahunya.


Kemudian Lian datang kearah mereka dari dalam rumah sakit ditemani seorang Void perempuan yang memanggul sebuah gada berduri besar dipunggungnya tanpa kesulitan, ia melangkah kearah Iqbal digerbang rumah sakit.


Iqbal menawari Aldrich ketiga itu segelas jus, Lian menolaknya, sebagai gantinya ia menatap Rough, gadis bersurai merah itu.


"Semua sudah selesai, kak Mei sedang bekerja keras merawat mereka yang terluka" ucapnya menanggapi pertanyaan Rough. Ia kemudian beralih kearah Iqbal yang masih duduk bersandar disamping pagar rumah sakit.


"Ada baiknya jika kita mengabari Kevin tentang situasi saat ini" ucapnya yang kemudian mendapat sebuah angkatan ibu jari dari Iqbal. Lian melemparkan sebuah Candellion kebiruan berbentuk persegi kearah Iqbal.


"Katakan juga untuk segera mengirim Kiruru kesini setelah ia selesai disana, kurasa kak Mei butuh sedikit bantuan"


Iqbal menggenggam Candellion modifikasi itu hingga berpendar. Candellipvon, sebuah alat komunikasi besutan Alvian yang mampu mentransmisi aliran Cloe pengguna ke pengguna Candellipvon lain dalam radius 5 km. Tak lama kemudian Iqbal sudah terhubung dengan Kevin.


Lian beralih kearah Rough.


"Oh iya, sampaikan juga pada Dimas, dia bisa melepas jurusnya, kukira dia cukup kepayahan mengontrol mereka sekaligus" ucapnya sambil mengerling kearah Void disampingnya, sedangkan gadis Void itu tak bereaksi apa-apa, ia hanya berdiri disamping Lian dengan protokol keamanan yang diperintahkan Dimas.


"Terkadang ini sedikit membuatku takut, mereka bekerja layaknya mesin" ucapnya lagi. Rough mengangguk mengerti.


Iqbal menginterupsi, mengabarkan bahwa ia sudah menyampaikan semuanya.


"Kiruru akan segera kesini" ucapnya, Lian mengangguk. Ia menatap jauh kegerbang utama tanpa suara. Iqbal mengikuti arah tatapan Lian.


"Aku juga merasakannya.." ucap Iqbal yang membuat Lian tersadar.


"Sesaat tadi.. hanya sesaat, aku merasakan Cloe yang cukup mengerikan disana, jujur aku sedikit terkejut, membuatku mendapat luka ini" tunjuknya kearah bahunya sendiri yang kini telah diperban.


"Lucu sekali bukan, aku lengah dan mayat jelek itu membawa kapak besar.. ya begitulah akhirnya"


Iqbal menghela nafasnya. Ia memutar bahunya yang tak terluka, mencoba merenggangkan tubuhnya setelah petarungan. Kemudian meminum habis jus Aprikot hutan digelasnya.


"Tapi tak perlu khawatir bukan? Udzaa akan mengurus bagian itu, takkan ada masalah kecuali.." ia menggantung kalimatnya sambil menatap langit malam.


"Sepertinya kita perlu renovasi besar-besaran di gerbang utama minggu ini" ucapnya sambil tertawa kecil. Lian ikut tersenyum kecil, mau tak mau ia menyetujui perkataan Iqbal.


Rough mengangguk setuju, sedangkan Violet sudah menghabiskan gelas ketiga jus Aprikotnya ketika sesuatu terjadi. Mereka semua merasakannya, bahkan Violet sampai menjatuhkan gelas keempatnya.


"!!" Iqbal bertukar pandang dengan Lian. Begitu juga dengan Rough dan Violet.


"Ada apa ini!??" Lian menatap kearah gerbang utama. Untuk sesaat tadi, mereka berempat merasakan aliran Cloe milik Noey berhenti. Itu bukan pertanda yang bagus, Iqbal segera meraih pedangnya yang sempat ia sandarkan disamping gerbang rumah sakit, namun bahunya terasa nyeri.


"Kau tetap disini, aku yang akan memeriksanya" Lian beralih kearah Rough dan Violet.


"Kalian berdua ikut aku" ucapnya lagi, kemudian melesat kegerbang utama, disusul Rough dan Violet dibelakangnya.


***


Duarr!!


Untuk kesekian kalinya malam ini, ledakan besar terjadi di gerbang utama. Zach terpukul mundur karena ledakan itu, kepulan debu menipis, memperlihatkan sosok Udzaa yang berdiri sambil menggenggam pedang besarnya dengan kuat, menatap penuh amarah kearah laki-laki didepannya.


Frans cukup terkejut dengan kedatangan kakaknya, ia sendiri sudah tak bisa banyak bergerak, walaupun ia masih merasakan amarah kuat dalam dirinya. Ia bahkan tak merasakan kedatangan Udzaa sebelumnya, hingga kakaknya itu berdiri didepannya sekarang.


"Tenangkan dirimu.." Udzaa berkata tanpa menoleh. Kata-kata itu seperti menyihir Frans, melemaskan otot-ototnya begitu saja hingga ia bahkan tak kuat berdiri. Lututnya goyah, ia jatuh terduduk di lantai batu dengan keringat mengalir dari dahinya. Nafasnya tersenggal, ia dapat merasakan nyeri di dadanya, tepat diatas tulang iganya yang patah.


Errol melayang rendah diudara, kemudian meluncur turun tepat disamping Frans. Frans menatap katak hitam-kelabu yang telah melipat sayapnya itu kebalik punggungnya, ia berusaha tersenyum kecil kearahnya.


"Kau tak apa-apa gero~" tanya Errol dengan suara khas katak miliknya. Frans menggeleng lemah.


Kemudian Iro dan Dinda muncul dikanan-kiri Udzaa dengan penuh luka ditubuh keduanya, Iro menoleh kebelakang, berterima kasih pada Errol yang sudah menolong mereka berdua sebelumnya. Udzaa menyadari kehadiran keduanya. Iro dengan nafas pendek, penuh luka serta kelelahan, sebaliknya Dinda, walau lukanya sama banyaknya dengan Iro, gadis kecil itu terlihat penuh tenaga, menggeram kecil dengan setengah tubuhnya berubah gelap, mata kanannya terluka hingga tak dapat dibuka sedangkan mata kirinya menghitam sempurna tanpa pupil.


Udzaa melirik sekilas sosok Dinda disampingnya, yang setengah berubah ke bentuk yang mengerikan. Ia cukup terkejut melihat keadaan Dinda saat ini, gadis kecil itu masih terlihat prima karena paksaan wujud lainnya. Udzaa menepuk pundak tegang gadis kecil itu, yang kemudian melemas seketika. Dengan satu sentuhan itu, Dinda kembali kewujud normalnya, gadis kecil berkulit bak porselen dengan kini penuh keringat dan kelelahan.


"Huff, terima kasih untuk itu, aku merasa sedikit lebih baik" ucapnya dengan nafas berat.


"Beristirahatlah, biar aku yang mengambil alih dari sini" ucap Udzaa sambil mengambil satu langkah kedepan. Iro merangsek maju, mensejajarkan dirinya dengan Aldrich keempat itu.


"Aku akan membantu.." ucap Iro. Udzaa melarangnya.


"Jika kau masih punya tenaga untuk berdiri, lebih baik segera bawa kak Noey menyingkir dari sini" ucap Udzaa kemudian. Iro membantah dengan keinginan untuk tetap berada disana, tapi hal itu menyulut kemarahan Aldrich keempat.


"Apa ucapanku kurang jelas!" Iro segera membungkam mulutnya sendiri, kemudian mengangguk patuh. Ia menoleh kearah Frans yang mencoba untuk berdiri. Frans memberi tatapan jika mereka harus segera membawa Noey kerumah sakit.


Dengan sisa-sisa tenaganya, Frans menyanggah tubuh Noey yang tak sadarkan diri, sementara Iro mengangkat Mou yang juga tak sadarkan diri. Mereka bersiap untuk pergi, tubuh mereka perlahan berdenyar, mengepul halus dengan perlahan, mengabur kedalam kabut putih tebal tepat ketika Udzaa menghempaskan tekanan Cloe miliknya, Errol mengikuti.


Sementara itu, Zach menatap tajam kearah mereka. Dengan seringai menyeramkannya, ia melesat menyerang. Udzaa mengayunkan pedang besarnya kearah Zach yang dengan mudah berkelit melewati Udzaa tanpa hasrat untuk melawannya. Ia lebih memilih menyerang kelima gadis dibelakangnya yang sedang berusaha pergi.


"Kalian pikir bisa pergi begitu saja hahhh!!!!" raungnya sambil melesat melewati Udzaa, bersiap melompat kearah mereka, berniat membunuh semua gadis-gadis itu, dengan tatapan gila ia menggenggam belati perak dengan kuat hingga bergetar ditangannya.


Udzaa menghalangi Zach dengan cepat, ia mengayunkan pedangnya secara horizontal, berusaha menebas tubuh lawannya. Namun Zach bergerak terlalu cepat, ia berhasil menghindari serangan. Udzaa tak mau mengalah, ia mengarahkan tendangannya pada punggung Zach yang berhasil ditangkis dengan kakinya. Udzaa kembali melayangkan pedangnya kearah laki-laki itu yang kemudian ditangkis mudah dengan bilah belati miliknya.


"Akulah lawanmu" ucap Udzaa dengan geram.


Zach terkekeh, menatap balik manik Onyx Udzaa dengan hina. Bilah perak milik Zach berhasil menahan pedang besar Udzaa, bergetar karena kekuatan yang dipaksakan.


"Oh maaf sekali, aku tak tertarik denganmu, aku punya urusan lain, aku ingin membunuh gadis pirang itu, jadi boleh permisi sebentar?" ucapnya yang kemudian menendang Udzaa tepat diperutnya, membuatnya terpental.


Tanpa menunggu lagi, Zach melesat kearah Frans yang balik menatapnya tajam disela-sela kabut yang menyelubungi tubuhnya. Namun gerakannya mendadak terhenti, ia tak bisa menggerakkan badannya. Zach menyadari bahwa ia tengah berdiri di sebuah bayangan besar, membentuk area lingkaran hitam dengan tekanan gravitasi yang kuat membuatnya dipaksa berlutut. Zach menoleh kebelakang dengan susah payah lalu mendapati bahwa Aldrich keempat lah yang merapal sihir itu.


Zach mendecih kesal, ia menatap tajam kearah Udzaa. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya, kemudian memicingkan matanya kearah Udzaa yang entah kenapa membuat sihir milik Aldrich keempat itu menghilang. Zach yang telah berhasil meloloskan diri segera berpaling, melemparkan belati peraknya yang kemudian melesat tepat kearah kelompok Iro dan yang lainnya saat sihir perpindahan mereka telah siap. Iro dan Dinda berhasil menyatu dengan kabutnya, dan meluncur pergi sebagai kabut putih ke angkasa.


Frans menyusul kemudian, namun saat ia berhasil menyatu dengan kabut dan hendak melesat pergi, sontak saja kabut terhempas dari dirinya dengan cepat, menghilang begitu saja, menampakkan dirinya dengan sebuah belati perak menancap dipunggungnya. Zach menyeringai penuh kemenangan.


"!!" Frans tersentak, ia roboh begitu saja bersama tubuh Noey yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


Zach berusaha melesat kearahnya dengan nafsu membunuh, namun Lian datang tepat waktu untuk menghadangnya. Zach terpukul mundur, terpental karena serangan Lian hingga menabrang dinding batu.


"Sepertinya aku datang tepat waktu" ucap Lian sambil terengah, terlihat sekali ia berusaha keras untuk datang dengan cepat. Rough dan Violet muncul setelahnya, mereka berdua segera memasang kuda-kuda bertempur.


Lian segera menganalisa keadaan secepat mungkin. Dinding gerbang utama yang hampir hancur, tubuh tak bernyawa para prajurit penjaga dimana-mana, dahan-dahan pohon besar yang menyeruak keluar dari lantai batu, membuatnya menjadi pagar tanaman terbesar yang pernah ia lihat. Sedetik kemudian Lian teringat perkataan Iqbal tentang renovasi besar-besaran, namun ia segera menyingkirkan pikiran itu, ada hal yang lebih penting.


Rough dan Violet bergerak kearah Frans yang tak sadarkan diri, begitu juga dengan Lian yang cukup khawatir dengan Noey. Namun belum sempat ia berkata-kata, tekanan Cloe yang amat besar menyentak tubuhnya. Diujung sana ia melihat Udzaa berdiri dengan kabut hitam yang menguar kuat, membuat udara terasa menyakitkan.


"Rough, Violet.. segera bawa Frans dan Kak Noey pergi dari sini!" perintahnya yang segera dipatuhi oleh kedua gadis itu.


Rough dan Violet kemudian pergi membawa Frans dan Noey segera, lalu sebuah ledakan terjadi. Lian menoleh kearah ledakan itu berasal. Udzaa meledakkan hampir separuh gerbang utama, membuat pecahan bebatuan terlempar ke segala arah.


Debu menipis hingga Lian bisa melihat sosok Udzaa yang benar-benar lain. Sosok lainnya adalah laki-laki berambut coklat yang terlempar keluar 50 meter dari gerbang utama, terseok-seok dengan tubuh penuh luka. Laki-laki itu berusaha berdiri, namun luka ditubuhnya cukup parah.


Lian mendekat kearah Udzaa, berdiri tepat disampingnya, dan menyadari bahwa Aldrich keempat itu benar-benar tengah mengamuk. Dari jarak sedekat itu, elemen solid milik Udzaa terasa kuat. Kabut berwarna gelap berputar mengelilingi tubuhnya bagai tornado kecil, angin yang berhembus terasa menyayat kulit. Bahkan untuk dirinya sendiri, kegelapan itu membuatnya sedikit gemetar.


"Sudah lama sekali rasanya melihatmu seperti ini" ucap Lian dengan nada santai, berusaha untuk tetap terlihat tenang.


Udzaa menoleh tanpa menanggapi perkataan Lian. Kemudian segera beralih kearah musuhnya, laki-laki yang kini berhasil bertahan dari serangannya barusan.


Disisi lain, Zach berdiri dengan sisa tenaganya. Walaupun begitu, ia kembali jatuh berlutut. Tubuhnya penuh dengan luka, darah memercik dari dalam mulutnya saat ia terbatuk. Rambut coklatnya lebih acak-acakan daripada sebelumnya. Ia menatap kedepan, tepat kearah dua laki-laki yang tengah berdiri diatas dinding gerbang utama yang telah hancur itu, terlebih lagi sosok dengan aura kegelapan yang baru saja menyerangnya.


Ia tak mengerti, laki-laki itu menyerangnya dengan elemen kegelapan yang sama seperti miliknya. Tapi kenapa kerusakan yang ditimbulkan begitu besar. Pada dasarnya serangan elemen kegelapan takkan banyak berpengaruh pada pengguna elemen kegelapan seperti dirinya. Namun kenyataannya sekarang ini, ia terluka cukup parah. Malah lebih parah daripada semua luka yang ia dapat malam ini.


"Siapa kau sebenarnya?"


Udzaa menatap laki-laki itu dengan tajam. Ia mendengar Lian yang berkata untuk menangkap laki-laki itu, namun entah kenapa ia tak menyetujuinya. Ia ingin membunuhnya. Melenyapkan orang yang telah menghancurkan rumahnya, menyakiti teman-temannya. Ia ingin menghancurkannya, membuyarkannya menjadi abu. Udzaa tak lagi bisa berpikir jernih, karena yang ia ingat adalah dirinya yang melesat cepat menerjang laki-laki itu sambil mengayunkan pedang besarnya.


"Aku adalah orang yang akan membunuhmu!"


***


Lian tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seingatnya, ia telah mengatakan bahwa laki-laki itu harus ditangkap hidup-hidup dengan tujuan untuk menginterogasinya, menanyakan alasan penyerangannya malam ini. Namun kini yang terjadi adalah Udzaa melesat sambil mengayunkan pedangnya dengan gila. Didepan sana ledakan terjadi lagi ditempat Udzaa menghantamkan pedang besarnya, sebuah pohon hancur seketika karena dampak ledakannya.


Disisi lain, Lian dapat melihat bahwa musuh mereka berhasil menghindari serangan gila Udzaa. Walau harus mengorbankan sebelah tangannya hancur oleh pedang Udzaa yang kini berpendar gelap alih-alih kebiruan.


Lian segera menghampiri Udzaa dengan kesal.


"Apa kau tak mendengarkanku? Kita harus menangkapnya hidup-hidup"


"Sekarang sudah terlambat.." balas Udzaa pelan. Suaranya terdengar lebih suram dari biasanya. Lian paham dengan hal itu, karena dibandingkan elemen solid cahaya, kegelapan lebih sulit untuk dikendalikan. Dan sejauh yang ia tau, tak ada pengguna elemen kegelapan sekuat Udzaa di Edenteria.


"Kau lihat apa yang sudah ia lakukan malam ini? membiarkannya hidup sementara banyak orang tak berdosa yang ia bunuh?" Udzaa menoleh kearah Lian, ia berkata dengan suara yang berat, manik Onyx-nya mengilat tajam.


Lian menepuk punggung temannya itu. Yang entah kenapa membuat tangannya terasa bagai membeku, namun ia tak mempermasalahkannya. Lian menghela nafasnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Sudah kubilang berulang kali bukan, membunuh orang yang bersalah takkan pernah menyelesaikan masalah" ucapnya. Jauh didalam dirinya, Lian agak cemas jika dirinya tak berhasil membuat Udzaa tenang karena Aldrich keempat yang mengamuk hanya dapat dihentikan oleh Noey. Namun ia sedikit lega saat melihat wajah temannya itu sedikit melembut.


"Ceh, aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu itu" ucap Udzaa yang suaranya kini kembali seperti biasa.


"Jadi kita sepakat untuk menangkapnya?"


"Terserah kau saja" balas Udzaa sekenanya sambil mengayunkan pedang besarnya yang kini telah kembali berpedar kebiruan. Lian terkekeh disebelahnya, lalu menatap lawan mereka yang sedang menunggu.


Disisi lain, Zach meremas lengan kirinya dengan kuat karena hanya itulah yang tersisa disana. Sebagai gantinya darah mengalir keluar, menetes dari pangkal siku kirinya. Ia benar-benar kepayahan untuk saat ini, terlebih lagi ia masih harus bertarung dengan dua orang didepannya. Selain itu ia juga merasakan kalau pasukan Undead miliknya telah berhasil dikalahkan.


"Sepertinya akan sedikit sulit mulai sekarang" pikirnya sambil berlutut ditanah. Kemudian ia terkekeh.


"Padahal aku yakin sudah cukup senang melawan gadis-gadis itu, tak pernah sekalipun aku mendapat lawan yang tangguh seperti mereka, ternyata aku salah, sepertinya akan lebih menarik jika sejak awal aku bertarung denganmu.."


Zach, dengan penampilan kacaunya tertawa bagai seorang yang kehilangan kewarasannya. Ia menatap Udzaa dengan tajam, gairah membunuhnya kembali, membuat tubuhnya bergetar menahan rasa bergejolak di dalam tubuhnya.


"Aku.. akan, membunuhmu..." ucapnya parau.


"Tutup mulutmu, dan lenyaplah" Zach menatap lebar seakan bola matanya dipaksa keluar dari rongganya. Menatap kearah dimana Udzaa sedetik yang lalu berdiri, tapi kini hanya menyisakan sosok Lian. Ia menoleh perlahan kebelakang, kemudian pendar kebiruan terpantul di bola matanya.


Udzaa mengayunkan pedang besarnya dengan cepat, tepat kewajah Zach yang segera hancur oleh bilah kristal biru itu.


Lian terkejut melihatnya, kini tubuh Zach berdiri kaku tanpa kepala. Namun alih-alih darah, kepala itu terbuyarkan menjadi debu. Udzaa menendang tubuh tanpa kepala itu yang juga melebur bagai pasir.


"Tak kusangka, menukar tubuhmu dengan Undead dalam waktu sesingkat itu.." ucap Udzaa sambil menoleh kebelakang.


Tepat dibelakangnya, Zach bersandar disebuah pohon, terengah-engah kehabisan nafas. Ia menatap Udzaa dengan ragu.


'Apa ini? Aku bahkan tak merasakan kehadirannya? Siapa orang ini?' Zach bertarung dengan pikirannya sendiri berusaha menganalisa laki-laki didepannya itu. Ia tak percaya ada orang yang bisa membuatnya terpojok seperti ini.


"Siapa kau sebenarnya?"


Zach tak menjawab. Ia benar-benar terpojok, tehnik pertukaran tubuh itu takkan bekerja untuk kedua kalinya, berbahaya untuk kondisi tubuhnya saat ini. Ia harus merelakan tangan kanannya sebagai bayaran. Dan kini tanpa kedua tangannya, akan sulit memanggil Undead lain. Zach menyumpah, dia benar-benar kalah.


"Pertukaran yang tak menguntungkan bukan?" ucap Udzaa sambil melihat tangan kanan Zach yang kini menghilang, menyisakan darah yang mengalir deras dari luka terbuka dibahunya.


"Kali ini kau takkan bisa menghindar" Udzaa kembali mengeluarkan aliran Cloe yang besar, angin malam berhenti berhembus, udara seakan mencekik. Pedang besarnya memadat sedemikian rupa, mengecil hingga seukuran Rapier biasa dengan bilah kehitaman.


Namun sebelum ia sempat melancarkan serangan, dua buah pedang menghujam tubuh Zach. Menembus tubuhnya dari bahu, menyilang didadanya, terkunci ketanah dengan segel sihir yang terlihat rumit. Lian melangkah kedepan.


"Sudah kubilang, kita perlu dia hidup-hidup" Lian menatap Udzaa dengan marah membuat Aldrich keempat itu berdecak kesal, membatalkan serangannya, mengubah kembali pedangnya kebentuk semula.


"Aku yang urus dari sini" ucap Lian lagi sambil melangkah mendekati Zach yang kini tak bisa bergerak.


Udzaa mendengus kesal, ia menancapkan pedangnya ketanah kemudian ikut melangkah mendekati Zach. Zach tak bisa bergerak, tubuhnya terkunci dua pedang yang menembus bahunya hingga ke tanah. Lian menatapnya lekat-lekat.


"Aku berjanji takkan membunuhmu" ucapnya yang bagai sebuah hinaan ditelinga Zach.


"Kau berkata seolah bisa membunuhku kapan saja.." cemoh Zach sambil membalas tatapan Lian dengan tajam, menantang Aldrich ketiga itu.


Lian tak banyak bicara, namun kedua pedang yang menancap dikedua bahu Zach bergerak perlahan, seakan ada sebuah tangan yang mendorongnya untuk menembus tubuhnya lebih dalam. Zach mengernyit menahan sakit.


"Kau sudah mengerti kan?" ucap Lian.


"Aku bukanlah tipe orang yang suka menghabisi lawan secara langsung seperti kebanyakan orang lain.." ucap Lian lagi, dibelakangnya Udzaa mendecih kesal.


"Aku lebih memilih untuk mencoba mencari informasi yang mungkin berharga dari lawanku.."


"Jadi katakan, siapa kau dan kenapa kau menyerang kami?" tatapan mata Lian berubah tajam seketika, yang sontak membuat Zach merasakan kekuatan besar seolah menekannya kebumi. Tapi kemudian ia menguasai dirinya.


"Kalau begitu, kau buang-buang waktu, lebih baik cepat bunuh aku" tantang Zach dengan seringai meremehkan diwajahnya.


Lian tak membalas, ia terdiam, mengatur siasat untuk mengorek informasi dari laki-laki didepannya ini, hingga matanya berhenti disatu titik, sebuah tanda hitam kemerahan didada Zach.


"Tanda ini.." Lian menggantung kata-katanya. Ia melihat sebuah rajah dengan bentuk kelelawar hitam kemerahan serta sebuah garis horizontal didadanya. Ia tak memperhatikannya selama ini, karena tubuhnya yang penuh bercak darah menyamarkan rajah itu.


"Kau tahanan Battojairu?"


"Apa?" Udzaa menaikkan sebelah alisnya dengan heran, ia melangkah lebih dekat, menatap kearah tanda yang dilihat Lian.


"Tato kelelawar merah dan sebuah garis, itu artinya kau tahanan kelas satu!!??"


Lian mencekik Zach tiba-tiba, tak terlalu kuat namun cukup membuat laki-laki itu sulit bernafas. Lian mendesaknya dengan menancapkan pedang itu lebih dalam dengan tangannya sendiri.


"Katakan kenapa kau ada disini!?? Apa yang sedang kau rencanakan?"


Dengan cukup sulit, Zach menyeringai lagi kemudian menjawab.


"Apa yang membuatmu yakin kalau aku akan menjawab pertanyaanmu?" seringai Zach semakin gila, membuat Lian putus asa hingga melepas cekikannya.


"Terserah padamu, tapi kau akan ikut denganku, aku akan segera mengirimmu lagi ke penjara" ucap Lian tapi ia melihat gerakan yang dibuat Udzaa disampingnya.


"Tak perlu, tak ada lagi informasi yang bisa kita dapatkan, habisi saja dia sekarang" ucap Udzaa sambil menyelesaikan lingkaran sihir ditangannya yang kini berpendar kehitaman.


"Lagipula tahanan kelas satu selalu dihukum mati, jadi bukan sebuah masalah kurasa.."


"Udzaa!! Hei hentikan.." tapi Lian terlambat, sihir Udzaa sudah selesai, sebuah bola energi berwarna hitam muncul dari ujung jarinya kemudian melesat tepat kearah Zach yang tak bisa bergerak sama sekali.


Ledakan besar akibat sihir itu terjadi, asap kehitaman mengepul tinggi, meninggalkan ceruk ditanah yang memanjang hingga setengah kilometer menjauhi mereka. Tak ada yang tersisa dari Zach, bahkan sehelai rambut pun.


Lian mengerjap sambil terbatuk akibat ledakan itu, ia tak terluka walau berada dalam radius serangan, Udzaa telah merapal mantra perlindungan disekitarnya. Lian membiasakan matanya diantara debu yang berterbangan, ia tak melihat tanda-tanda keberadaan Zach, begitu juga Cloe miliknya, semua seolah menghilang begitu saja. Lian mendapati sosok Udzaa yang masih berdiri ditempatnya, masih menjulurkan tangan kanannya untuk sihir sebelumnya.


Lian menatap ke sekeliling, tanah tercongkel habis didepannya, sebuah ceruk besar tercipta ditempat dimana Zach terkunci sebelumnya. Beberapa pohon disekitar sana tercabut hingga akarnya, terpelanting menjauh dari tempat ia berdiri. Lian beralih kearah Udzaa.


"Apa kau sudah gila!!? Cero milikmu bisa saja menghancurkan sebagian Edenteria!!" Lian berteriak kearah Udzaa yang kini menoleh kearah temannya itu.


"Ya tapi nyatanya tidak kan? Lagipula itu satu-satunya yang terlintas di kepalaku" ucap Udzaa dengan nada tak bersalah.

__ADS_1


"Sudah lama tak kugunakan, tapi melihat hasilnya kurasa cukup bagus" ucapnya lagi, kemudian Lian memarahinya habis-habisan.


Udzaa tak peduli dengan Lian yang kini berteriak kepadanya, sejak awal ia sudah diizinkan untuk mengamuk oleh Nia, selain itu ia tak tahan melihat seringai menjijikan laki-laki itu begitu pula perbuatannya malam ini.


"Baiklah baiklah aku mengerti" ucapnya saat menurutnya Lian sudah keterlaluan memarahinya.


"Aku hanya melenyapkan satu orang, sedangkan perbuatan orang itu sudah membunuh puluhan orang, apa kau ingat?"


"Tak semua hal bisa kau balas dengan cara yang sama.." ucap Lian tajam.


Udzaa berusaha membalasnya namun sebuah suara menginterupsi mereka. Sebuah suara dalam yang entah berasal darimana, suara itu bagai menggema dari suatu tempat yang jauh.


"Sayangnya malam ini tak ada yang terbalaskan, Aldrich ketiga.."


Udzaa dan Lian menatap ke sekeliling, mencari sumber suara itu, namun beberapa saat kemudian sesuatu mewujud didepan mereka.


Sebuah bayangan hitam muncul dari ketiadaan, mewujud bagai pusaran waktu, memadat dengan cepat membentuk sosok berjubah hitam bersama dengan sosok Zach yang walau terlihat tak berdaya, tapi masih hidup.


Keterkejutan tercetak jelas di masing-masing wajah kedua Aldrich itu. Mereka sama sekali tak merasakan kehadiran sosok itu hingga detik terakhir, begitu pula dengan Zach yang aliran Cloe-nya menghilang sesaat tadi, menandakan kematiannya. Namun apa yang mereka berdua lihat saat ini, tak pernah mereka perkirakan.


"Apa yang terjadi? dia seharusnya sudah mati" ucap Udzaa bertanya-tanya, ia tak bisa mencerna kejadian ini.


Begitu juga dengan Lian, walau tak ia katakan, tapi wajahnya jelas menggambarkan kebingungan yang sama dengan Udzaa. Ia tak pernah melihat seorang pun yang bisa mengelak dari Cero milik Udzaa, terlebih lagi Cero yang ditembakkan dari jarak sedekat itu. Lalu bagaimana dengan sihir pengunci miliknya yang jelas membuat Zach tak bisa bergerak sedikit pun.


Lian menatap sosok berjubah yang sepertinya berhasil menyelamatkan Zach pada detik terakhir. Walau ia tak bisa memastikan bagaimana caranya orang itu meloloskan diri dari Cero milik Udzaa.


"Siapa kau? bagaimana mungkin kau bisa lolos dari Cero milik.." tanpa sadar itulah yang Lian katakan.


"Itu jenis sihir yang harus dilatih, kekuatannya yang besar memerlukan kontrol yang besar juga, sedikit saja kesalahan, menghindarinya bukan perkara sulit" sosok berjubah itu berkata dengan suara yang dalam, wajahnya tak terlihat dibaling tudung jubahnya, tapi Lian yakin sosok itu sedang menyeringai penuh kemenangan.


"Bagaimana kau tau soal Cero, aku yang.." ucap Udzaa yang terpotong oleh sosok berjubah itu.


".. menciptakannya? Kau bertanya bagaimana aku bisa tau? Seharusnya kau katakan pada dirimu sendiri untuk tidak mudah mengajari orang lain sihir milikmu" ucap sosok itu.


Lian beralih menatap Udzaa.


"Kau kenal orang ini?" Udzaa menggelengkan kepalanya, matanya menatap hampa kearah sosok berjubah didepannya.


"Aku.. aku tak tau" Udzaa merasakan sosok itu tersenyum dibawah tudungnya. Ia merasakan hal yang buruk sedang terjadi.


Lian juga merasakan hal itu, tanpa menunjukkan gerakan yang berarti, Lian melancarkan serangannya, dua buah pedang muncul dari udara, sihir pengunci Lian telah aktif. Kedua pedang itu meluncur turun tepat kearah sosok berjubah itu, namun sesuatu menghancurkan sihirnya.


"Aku sudah lihat sihir milikmu.. tak ada gunanya" ucapnya, kedua pedang itu terbuyarkan menjadi titik-titik debu kemudian jatuh ketanah, bergabung dengan debu lainnya.


'Orang ini berbahaya' pikir Lian, ia melirik Udzaa yang benar-benar tak siap untuk menyerang, karena itu ia mengambil langkah sendiri.


Lian melesat cepat kearah sosok itu, melancarkan serangannya secara langsung yang sayangnya dipatahkan dengan mudah. Namun Lian tetap memburunya, ia memanggil sebuah pedang dari ketiadaan, menebaskannya tepat kearah musuhnya yang lagi-lagi berhasil menghindar.


"Orang sepertimu, menjadi salah satu pemimpin kerajaan ini? sungguh menggelikan" ucapnya meremehkan.


Lian menyerang lagi, kini ia kembali memanggil sebuah pedang ditangan kirinya yang bebas. Dengan dua pedang ia melancarkan serangan silang tepat ke kepala sosok itu, dan lagi-lagi dihindari dengan mudahnya. Lian terlempar kebelakang oleh sebuah tekanan yang ia tak tau berasal darimana, namun ia berusaha bertahan walaupun tekanan itu semakin kuat menghantamnya. Ia melempar kedua pedangnya lurus kearah musuhnya, yang membuatnya bagai serangan yang sia-sia.


"Jangan membuatku tertawa.." sosok itu mengibaskan tangannya, menyebabkan hantaman besar yang membuat Lian terpental jauh.


Namun sosok Lian menguap menjadi kabut putih, berubah menjadi sebuah pedang. Sebagai gantinya Lian berdiri tepat dibelakang sosok berjubah itu, menjulurkan tangan kanannya lurus kepunggung sosok itu.


"Tehnik pengganti tubuh, cerdik sekali"


"Jangan meremehkan Aldrich Edenteria.." bersamaan dengan kata-katanya, Lian merapal mantra dengan kecepatan luar biasa. Sebuah lingkaran sihir terbentuk ditangannya, dari ujung jarinya sebuah bola energi berpendar kemerahan yang kemudian melesat lurus dengan kecepatan luar biasa menghantam punggung sosok berjubah itu.


Namun sesuatu terjadi, sosok itu mengibaskan jubahnya, membuat sebuah aura hitam menguar karenanya, membelokkan Cero milik Lian.


"!!" Udzaa terkejut melihatnya, begitu juga dengan Lian. Cero milik Lian berbelok tepat menuju kota, Lian segera membatalkannya hingga Cero miliknya hanya menghantam dinding pembatas, meledak dengan kuat.


"Apa yang kau.." kata-kata Lian terputus, sebuah tangan mencekik lehernya, mengangkatnya hingga kakinya menjauhi tanah.


"!!" Lian tak bisa bergerak.


Udzaa yang melihat itu segera bergerak, Cloe miliknya terbakar menjadi aura gelap yang kuat. Ia melesat menerjang, menyerang tangan sosok itu yang tengah mencekik Lian. Sosok itu melepas cekikannya, melempar Lian kearah Udzaa yang sedang melesat kearahnya. Lian terlempar menghantam tubuh Udzaa yang ikut terlempar kebelakang.


"Menyedihkan.."


Udzaa terbatuk, punggungnya terasa nyeri karena menghantam sebuah pohon. Lian juga tak lebih baik dari dirinya, Aldrich ketiga itu terengah-engah. Udzaa membantunya berdiri.


"Tanda ditanganmu itu.." Udzaa menatap tajam kearah sosok berjubah hitam itu. Lian yang masih kepayahan, melihat tanda yang dimaksud Udzaa. Sebuah rajah merah, berbentuk dua kepala naga yang bersilangan ditangan sosok itu.


"Hoo, maaf soal ini, aku sudah berusaha menghilangkannya tapi seperti yang kau tau.." ucapnya dengan suara yang terkesan meremehkan. Udzaa menatapnya tajam dengan penuh kebencian.


"Api klan Anthera.." Udzaa mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Tak mudah dihilangkan, bahkan.." Udzaa kembali mengeluarkan aura gelapnya lagi, tekanan udara terasa menyakitkan.


"Setelah ia mati.." Lian bersumpah melihat seringai dibawah tudung itu.


Tanpa aba-aba, Udzaa melesat dengan liar, ia meraung ganas. Pedang miliknya yang semula menancap ditanah, melesat terbang kedalam genggaman tangannya, merubah bentuknya menjadi Rapier dengan bilah kebiruan. Udzaa menyabetkan pedangnya tepat ke tudung sosok itu, yang tak bergerak sedikit pun seolah menerima serangan Udzaa begitu saja.


Sraatt!!


Serangan Udzaa merobek tudung itu, serta sedikit menorehkan luka dipipi pucat sosok itu. Udzaa mendarat mulus dibelakangnya. Tudung sosok itu robek, kemudian turun, memperlihatkan sebuah wajah dibaliknya. Wajah seorang laki-laki dengan manik Obsidian yang lebih gelap daripada langit malam.


***


Lian tak mengerti apa yang sedang terjadi. Malam terasa amat panjang, langit yang menyelimuti malam terlihat begitu gelap tanpa hadirnya bintang, walaupun begitu ia tak bisa menandingi kegelapan dibawahnya.


Udzaa bertarung dengan liar, menebarkan aura gelap ke sekelilingnya. Dilain pihak, aura sosok lain yang tengah bertarung dengannya tak kalah gelap. Tak pernah dilihatnya sosok yang bisa seimbang bertarung dengan Udzaa, elemen solid milik sosok itu serupa dengan milik Udzaa, membuat pertarungan itu terlihat menyeramkan.


Lian sendiri masih kepayahan karena serangan sebelumnya. Tangan sosok itu terasa menyerap kekuatannya, menghisapnya kedalam kegelapan sedingin es. Disisi lain, Lian mendapati Zach juga tak berdaya didepan sana, tergolek lemas dengan kedua tangan yang telah hilang. Untuk sesaat Lian cukup bersyukur ia tak harus bertarung melawannya sementara Udzaa melawan sosok berjubah itu, karena ia sendri tak yakin apakah ia masih bisa berdiri.


Sebagai gantinya, Lian mengalihkan perhatiannya pada sosok berjubah itu. Tudung yang menyembunyikan wajahnya sudah terlepas, kini ia bisa melihat sosok laki-laki bersurai hitam dengan kulit pucat itu. Dilihat dari postur tubuhnya, laki-laki itu tak lebih tua darinya, bahkan mungkin lebih muda. Walaupun begitu, kenyataan bahwa ia mampu menyeimbangi Udzaa cukup membuktikan bahwa dia bukanlah laki-laki biasa.


Yang lebih mengkhawatirkan dari itu semua adalah matanya. Manik Obsidian itu lebih gelap daripada kegelapan itu sendiri, Lian tak bisa melihat pantulan cahaya apapun dari matanya, seolah-olah mata itu hanya melihat kedalam kegelapan semata. Bahkan ia tak menampakkan ekspresi apapun, seolah laki-laki itu adalah mayat hidup sempurna.


Ledakan terjadi lagi, memaksa keduanya mengambil jarak. Udzaa terengah-engah, ia terlihat kelelahan. Disisi lain, laki-laki itu tampak tak terlihat lelah sama sekali, bahkan tak ada satupun bulir keringat diwajahnya.


"Kau bertarung dengan hebat seperti biasa, tapi itu tak cukup" ucap laki-laki itu, suaranya sama sekali berubah. Kini ia terdengar seperti seoarang anak berumur belasan tahun.


"Apa ini yang mereka sebut iblis hitam Jeanne Light Cracker? Sungguh mengecewakan.."


Udzaa masih terengah-engah. Ia sudah terlalu banyak mengeluarkan Cloe, walaupun Lian tau jumlah Cloe milik Aldrich keempat tergolong besar diantara mereka, tapi Udzaa juga punya batasan.


Udzaa mengangkat pedangnya yang kini berbentuk Rapier, namun sedetik kemudian pedang itu kembali kebentuk semula. Aura gelap yang selama ini berputar mengelilingi tubuhnya juga ikut lenyap. Ia jatuh berlutut ditempatnya.


"Sudah selesai kurasa?" ucap sosok itu yang kemudian berpaling kearah lain. Ia melangkah kearah Zach.


"Aku cukup terkejut melihatmu kewalahan, Zach.." ucapnya. Zach mendongak kearahnya dengan lemah. Berniat menjawab namun laki-laki itu menyelanya.


"Tak perlu bicara, simpan tenagamu, kau perlu menjelaskan sesuatu untukku, tapi saat ini kita harus pergi"


Udzaa bangkit lagi, walau terlihat sekali ia telah kehabisan Cloe. Ia berdiri dengan menyangga tubuhnya dengan pedang besarnya.


"Kau.. takkan kemana-mana.." ucap Udzaa dengan nafas yang tak beraturan.


Laki-laki itu melirik kearahnya.


"Lihat dirimu sendiri, kau tak berharga sama sekali saat ini.. sejak dulu aku tak pernah tertarik denganmu.." ucap laki-laki itu, ia menyentuh dada Zach yang sontak punya kekuatan untuk berdiri.


Zach berdiri disamping laki-laki itu, walau wajahnya masih menunjukan betapa lemah dirinya saat ini.


"Aku takkan membiarkanmu.." Udzaa dengan sisa-sisa tenaganya merapal mantra, bola energi hitam memadat di ujung jarinya.


"Udzaa!! Hentikan!!.." Lian berteriak memperingatkan. Dengan kondisi seperti itu Udzaa memaksa dirinya merapal Cero. Lian berusaha berdiri.


"Dengarkan temanmu itu.. bukankah itu yang selalu ia ajarkan?" ucap laki-laki itu yang tubuhnya mulai larut menjadi kabut kehitaman, begitu juga dengan Zach.


Lian menatap terkejut melihat perubahan menuju kabut itu. Laki-laki itu menggunakan tehnik yang sama dengan mereka, Lian sama sekali tak mengerti kenapa, namun ia tak bisa memikirkannya sekarang, Udzaa hampir selesai dengan Cero-nya.


Lian menangkap gerakan Udzaa setelahnya, mengangkat tangan kirinya, mensejajarkan dengan tangan kanannya kedepan.


'Cero dengan kedua tangan?'


"Corocial Cero.." sedetik kemudian bola energi hitam itu melesat dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan jejak ceruk ditanah yang dilewatinya, melesat menuju sosok musuhnya. Namun sayang sekali, laki-laki itu berhasil mencapai perubahan kabutnya, Cero milik Udzaa menembus kabut hitam itu, melesat melewatinya, kemudian berbelok ke langit, meledak diatas sana membuat langit hitam berkilau dengan cahaya akibat ledakan itu, bagai siang hari dalam sepersekian detik, lalu kembali menjadi selimut gelap malam.


"Kita akan bertemu lagi, sampai jumpa Aldrich keempat.." suara laki-laki itu menggema dilangit malam, kemudian kabut hitam itu melesat dan menghilang.

__ADS_1


Udzaa terpaku ditempatnya berdiri, menatap hampa hingga kemudian tubuhnya jatuh ketanah dan kesadarannya menghilang


***


__ADS_2