Edenteria

Edenteria
Festival Vanor


__ADS_3

Pagi hari di Edenteria adalah hal yang menakjubkan, udara pegunungan yang sangat sejuk dapat ditemukan dikerajaan ini. Angin berhembus membawa ketenangan keseluruh penjuru kerajaan, bersama dengan nyanyian indah para burung yang terbang dari pohon kepohon.


Terlebih lagi hari ini, festival besar yang diadakan rutin setiap tahun demi mengenang hari perdamaian antar ras diselenggarakan.


Edenteria kini telah dihias dengan berbagai aneka pernak-pernik perayaan. Setiap sudut kota telah dipasang bendera-bendera benua Gondwana yang merupakan lambang perdamaian.


Tak ketinggalan dengan ornamen lain yang dipasang oleh penduduk sendiri, menambah kecerian pagi itu.


Kastil juga tak kalah meriah, panji-panji besar Edenteria dipasang dipuncak-puncak menara, menari-nari tertiup angin. Tepat didepan kastil sebuah panggung besar didirikan, beberapa pertunjukkan akan ditampilkan saat festival berlangsung.


Dari gerbang utama kota, terlihat banyak sekali orang berdatangan dari penjuru negeri. Memadati jalan-jalan kota hingga atrium, tak hanya manusia, beberapa dari ras lain juga ikut hadir memeriahkan festival itu.


Terlihat para Pixie yang terbang kesana-kemari dengan suara gemerincing lonceng mereka, juga sekelompok Dwarf yang bergerombol keluar dari kedai-kedai, serta masih banyak lagi dari mereka yang antusias dengan festival yang diadakan hari itu.


***


"Dimana Udzaa?" tanya Lian sambil memasuki ruang kerja Aldrich, ia mendapati Nia, Noey dan Kevin sudah ada disana.


"Oh selamat pagi, jubah yang bagus" ucap Kevin menggoda.


Lian tak memperdulikannya, ia melangkah masuk dengan kerepotan karena jubahnya yang cukup besar dibagian belakang.


"Aku benci jubah ini" gumamnya.


Nia tengah berdiri menghadap keberanda, menatap penduduk Edenteria yang tengah berkumpul dibawah sana, menunggu para Aldrich membuka festival.


Nia segera menoleh saat mendengar Lian bergumam kesal dibelakangnya.


"Dimana Udzaa?" tanyanya.


"Itu yang kutanyakan sejak tadi" ucap Lian kesal.


"Jubah ini, apa kita harus mengenakannya?" ucapnya lagi sambil menari bagian belakang jubahnya itu, jubah berwarna putih dengan garis keemasan itu adalah jubah para Aldrich, yang hanya dikenakan disaat-saat tertentu.


"Si bodoh itu pasti masih tidur" ucap Noey geram.


"Aku sudah mengutus beberapa pengawal untuk menjemputnya" Kevin mengambil apel dari atas meja, disaat itulah pintu terbuka.


Kedua tetua kerajaan melangkah masuk dengan wajah datar.


"Nia, kenapa kau belum memulai acaranya" Arion berkata dengan tegas.


"Ah, maaf tuan Arion, kami masih menunggu Udzaa.. Kurasa dia sadang dalam perjalanan" jawab Nia sambil tersenyum


Wanita tua disebelah Arion berdecak kesal.


"Dua tahun menghilang dan dia kembali dengan angkuhnya"


"Aku sangat mengetahui siapa yang angkuh disini, madam Zola" ucap Lian skeptis sambil menyunggingkan senyumannya yang malah membuat wanita tua itu kembali bedecak kesal.


"Tak tau sopan santun" gerutunya pelan.


"Tak ada waktu lagi Nia, kau harus segera memulainya" kini Arion berkata dengan penekanan pada setiap katanya, yang membuat Nia tak bisa mengelak lagi.


"Baiklah, ayo kita mulai" ucapnya singkat kemudian berjalan menuju beranda, diikuti yang lainnya.


***


Drap.. Drap.. Drap..


Ditengah kota yang ramai terlihat tiga gadis kecil yang tengah berlari, salah satu dari mereka mengenakan lencana Divisi Kedua dilengannya, dengan rambut coklat yang diikat twintail membuatnya terlihat lucu saat berlari.


Gadis yang lain berlari dibelakangnya, seorang gadis dengan lencana Divisi Kelima tergesa-gesa berusaha menyamakan langkahnya dengan temannya. Seorang gadis lagi yang mengenakan dress sederhana berwarna putih berlari paling belakang, rambut biru gelapnya yang panjang mengayun kesana-kemari saat ia berlari.


"Ayo Tarisa!! Cepat!! Kita bisa ketinggalan pembukaannya nanti!" ucap gadis twintail itu kepada temannya.


"Ta-tapi, Donna.."


"Ayo Tarisa!! Cepat!!" gadis dari Divisi Kelima itu menarik lengan temannya.


Mereka bertiga berlari menerobos kerumunan manusia di atrium, Tarisa yang tak bisa mengejar kedua temannya itu terjatuh saat mencoba melewati seorang pedagang.


"Hei!! Hati-hati kalau jalan" hardik pedagang itu kasar dan segera pergi.


Tarisa mengaduh kesakitan kemudian kembali bangun dari posisi jatuhnya. Ia memandang sekitar, mencoba untuk mencari kedua temannya itu didalam kerumunan orang banyak.


"Donna! Risma!!"


Ia berusaha berjalan menembus kerumunan itu, cukup sulit karena tubuhnya yang kecil. Ia berkali-kali terdorong oleh tubuh-tubuh besar lainnya. Ia sudah sampai dipusat kota, namun ia tak tau harus kemana karena begitu banyaknya orang memenuhi jalan, ia melihat atrium disampingnya, sebuah menara kayu yang dibangun penduduk sebagai hiasan festival ada didepannya. Ia menoleh ke segala arah.


"Donna!! Rismaa!! Kalian dimana?"


"Tarisaaaa!" gadis itu mendengar namanya dipanggil, ia menoleh dan melihat kedua temannya ada diujung jalan. Segera saja ia berlari kearah keduanya namun tak memperhatikan sekelilingnya, seorang pedagang secara tak sengaja menyentuh menara kayu disana yang perlahan mulai jatuh.


"Tarisa awaass!!" teriak kedua temannya itu memperingatkan, namun terlambat, Tarisa menoleh kearah menara kayu yang hanya beberapa meter lagi akan menimpanya.


BRUAAAAAKK!!!


Menara kayu itu jatuh dengan sempurna. Beberapa orang memekik, namun beruntung tak ada seorangpun yang terluka. Donna dan Risma yang melihat itu tak mampu berkata apa-apa, namun sebelum mereka berdua mencerna apa yang telah terjadi, sesuatu yang terlihat seperti asap putih meluncur turun tepat disamping mereka.


Ketika asap putih itu menghilang, terlihat Tarisa dibaliknya masih dengan keterkejutan yang sama dari sebelumnya.


"Tarisaaa!!" mereka berdua segera berlari kearahnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Donna dengan nada khawatir. Tarisa yang masih shock hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Oh kalian temannya?" ucap sosok lain yang berlutut disamping Tarisa.


"Ah, Aldrich keempat!?" pekik mereka berdua terkejut.


Udzaa tersenyum lebar kearah mereka bertiga sambil melambaikan tangannya.


"Hai.."


***


Kastil sudah dipenuhi banyak orang, para penduduk serta para pendatang, memadati halaman kastil, menunggu Aldrich untuk memulai Festival.


Didalam kastil para tamu kerajaan sedang bercengkrama satu sama lain, beberapa dari mereka adalah para petinggi kerajaan lain, serta beberapa bangsawan besar dari ibu kota.


Salah satu bangsawan dari Akiba tengah berdiri disamping meja makanan, ia terlihat meneliti semua makanan yang ada disana, dari bentuk tubuhnya yang besar bisa diketahui jika dirinya adalah pencinta makanan.


"Emm.. Makanan apa ini? Apa ini enak?" gumamnya sambil memperhatikan sepiring makanan diatas meja.


"Ah, itu Bouve Bousquet sir, terbuat dari bermacam jenis sayur yang tumbuh di tanah ini" seorang laki-laki menyahut disebelahnya, sang bangsawan menoleh lalu mendapati sosok laki-laki tengah tersenyum lebar kearahnya.


Laki-laki itu mengenakan ikat kepala berwarna merah didahinya, amat kontras dengan rambut gelapnya. Ia juga mengenakan baju tanpa lengan, memamerkan lengan kekarnya yang berhias tato hitam. Salah satu pelipisnya terdapat luka gores yang membuatnya terlihat menakutkan walaupun sedang tersenyum.


Itulah yang dirasakan sang bangsawan saat melihat laki-laki aneh disampingnya.


"Em, ada yang salah sir?" tanyanya sopan, walaupun terdengar bagai sebuah ancaman ditelinga sang bangsawan itu.


"Err.. Ti-tidak, a-aku tidak apa-apa" ucapnya gugup sambil pergi menjauh, meninggalkan laki-laki itu bingung.


"Ada apa dengannya" gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia menatap kearah bangsawan itu pergi namun sedetik kemudian pandangannya teralihkan oleh sosok Iro yang berjalan tergesa-gesa kedalam kastil.


"Aahh~~ Kapteeeenn!!" panggilnya dengan keras seraya berlari menyusulnya menaiki tangga.


.


.


.


.


Iro berbelok dilorong selanjutnya, ia mendengar suara yang memanggilnya itu dan amat mengenalinya namun ia tak punya niat untuk menghentikan langkahnya sampai pada akhirnya laki-laki itu berhasil mengejarnya.


"Selamaaaatt pagiiii kapteeenn!!" sapa laki-laki itu dengan semangat.


Iro hanya meliriknya sebentar, kemudian menjawabnya singkat.


"Pagi.."


Laki-laki itu mencoba menyamakan langkahnya dengan sang kapten kemudian memulai pembicaraan, dari hari yang indah hingga topik tentang hama Wrecksput, laki-laki itu mengoceh sendiri. Hingga akhirnya sang kapten kesal.


"Djabo, apa kau tak punya tugas lain?"


Mengetahui sang kapten mengakui keberadaannya, laki-laki yang dipanggil Djabo itu tersenyum lagi.


"Oh tidak ada, kapten, ini hari festival, dan hari libur, jadi kurasa aku akan tetap bersamamu, kau tau, untuk memastikan dirimu tetap aman" ucapnya sambil tersenyum.


Iro hanya memutar matanya, ia berbelok dikoridor selanjutnya. Dari arah yang berlawanan terlihat sang wakil kapten Divisi Kedua, Dinda tengah berjalan sambil menikmati Loliglop ditangannya.


"Ternyata kau disini" ucap Dinda pada Djabo yang sama sekali tak mendengarkan, tanpa berkata apapun lagi Dinda segera menarik ujung baju Djabo agar mengikutinya.


"Semua wakil kapten diharuskan berkumpul dihalaman"


Djabo ditarik paksa oleh Dinda ke halaman, ia berusaha melawan dengan berpegangan pada dinding namun tenaga Dinda lebih kuat membuatnya tak bisa melawan.


"Dindaaa!! Lepaskan aku!! Kapteeenn, biarkan aku ikut dengan muuuu!!"


Djabo masih berusaha melawan sebisanya dengan berpegangan pada apapun yang bisa ia raih, namun percuma. Hingga pintu utama kastil Dinda melemparnya kehalaman, membuatnya tersungkur tepat dibawah kaki seorang wanita.


"Adududuhh.. Sakit sekali" keluhnya, ia menatap kaki jenjang seorang wanita didepannya, melihatnya dari ujung kaki, keatas, terus keatas..


Buakhhh!!


"Apa yang kau lihat bodoh!!" wanita itu menendang Djabo sebelum laki-laki itu melihat apa yang seharusnya tak ia lihat(?).


Djabo kembali tersungkur diundakan pintu masuk kastil, Dinda berjalan melewatinya sambil menginjak tubuhnya. Gadis kecil itu melemparkan pandangan jijik padanya.


"Kuhajar kau nanti" ucap Djabo sambil meringis.


Dinda berdiri disamping wanita yang baru saja menendang Djabo tadi, wanita itu mengenakan jubah panjang berkerah tinggi dengan belahan dibagian samping kakinya, rambutnya yang merah menyala-nyala bagaikan kobaran api, dipuncak kepalanya ia mengenakan topi runcing hitam-kelabu yang senada dengan jubahnya.


Wanita itu adalah Meiza, wakil kapten Divisi Kelima. Melipat kedua lengannya didepan dada sambil menatap kearah Djabo dengan tajam.


"Tatapanmu itu selalu membuatku terkesan" sebuah suara mendesis terdengar dibelakang Meiza. Dinda menoleh kesumber suara dibelakangnya tanpa ekspresi.


Walau tanpa menoleh, Meiza tau persis siapa yang tengah berdiri dibelakangnya.


"Aku tak tertarik denganmu" ucapnya datar.


Dibelakang sana terlihat sosok laki-laki, tengah duduk ditepi air mancur kastil, menatap Meiza dengan mata merahnya. Laki-laki itu menyeringai dengan menyeramkan, giginya yang runcing bagai serigala membuat beberapa penduduk yang berbaris dibelakang air mancur melangkah mundur.


"Itulah yang membuatku terkesan" ucapnya lagi dengan suara rendah, ia kini menoleh kearah Dinda yang berdiri tak jauh dari Meiza.


"Hoo, kau juga disini gadis kecil, apa kau tersesat" ucapnya lagi sambil kembali memamerkan deretan gigi runcingnya.


"Hentikan nada bicara mu itu~" ucap Dinda dengan nada takut, ia mengerucutkan bibirnya membuatnya semakin terlihat seperti gadis kecil yang polos, matanya membesar dan berkaca-kaca layaknya ingin menangis.


"Kau membuatku takut.."


Laki-laki bergigi runcing itu melompat dari tempat duduknya dan mendarat tepat didepan Dinda dengan suara gemerincing rantai Axe dibelakang tubuhnya, ia menatap gadis itu dengan mata merahnya.


"Kau takut? Benarkah ituu.." godanya sambil menyeringai lebar.


"Hentikan, atau kubunuh kau" tatapan berkaca-kaca Dinda kini berubah menjadi tajam, suaranya berubah menjadi lebih dingin membuat laki-laki didepannya itu terdiam seketika.


Takkk!!


Sebuah gagang pedang membentur kepala laki-laki bergigi runcing itu. Bella datang dari belakang dan menghantam kepala laki-laki itu dengan pedangnya.


"Hentikan itu Akuma!" ucapnya santai sambil berjalan.


"Geezzz, kau tau itu sakit sekali Bella!" ucap laki-laki bernama Akuma itu sambil mengelus kepalanya.


Bella menoleh kebelakang sambil tersenyum.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku, telat sedikit saja kau bisa mati.." ucap Bella sambil mengedikkan dagunya kearah Dinda.


Akuma menatap Dinda yang lebih pendek darinya, gadis itu masih menatapnya dengan tajam. Akuma merendahkan dirinya agar sejajar dengan Dinda.


"Hee, kau tau kan, aku hanya bercanda.."


Mata Dinda perlahan melembut.


"Habisnya suaramu menakutkan~" ucapnya yang kini telah kembali seperti gadis kecil biasa.


"Kitakan sudah lama tak bertemu, aku ingin sekali menggodamu.." ucap Akuma sambil tersenyum, walaupun masih terlihat menyeramkan dengan deretan gigi runcing miliknya.


Bella menatap keatas, kearah beranda terbuka diatas sana.


"Mereka belum memulainya" ucap Meiza yang membuat Bella menatap kearahnya.


"Kau tampak berbeda.."


Meiza segera menatap Bella dengan wajah ceria.


"Benarkah!!? Hari ini aku menggunakan ramuan pemancar aura buatan Helene, apakah terlihat hasilnya? Apakah aku terlihat makin cantik?" tanyanya dengan antusias sambil menyentuh wajahnya, Bella hanya bisa tersenyum kikuk menanggapinya.


"Kurasa Helene salah memberi ramuan padamu, tenagamu malah lebih kuat" ucap Djabo yang berjalan kearahnya, masih dengan tangan dipipinya, tempat Meiza menendangnya dengan tenaga ekstra.


Meiza mengerucutkan bibirnya kemudian memalingkan wajahnya, merasa terhina.


Bella kembali tersenyum kikuk.


"Daripada itu, kenapa mereka belum memulainya?" tanya laki-laki lain yang baru saja datang, semuanya menatap kearah laki-laki itu. Ia mengenakan pakaian biasa, sebuah syal berwarna hitam melingkar dilehernya. Ia berjalan dengan mata yang tetap tertuju pada sebuah buku ditanganya.


"Ah! Kiruru!" ucap Meiza sambil memanggil laki-laki itu dengan antusias.


"Bagaimana penampilanku hari ini?" tanyanya tak penting.


Kiruru tak menjawab, ia hanya mengacungkan jempol kirinya kearah Meiza tanpa mengalihkan pandangannya, membuat Meiza kembali cemberut.


Djabo tertawa melihatnya yang kemudian kembali menerima pukulan diwajah dari Meiza.


"Kau masih membaca buku membosankan itu? Heh?" ucap Akuma saat mengetahui kehadiran Kiruru.


Kiruru sama sekali tak menjawabnya, membuat Akuma kesal.


"Bisakah kita mulai acara ini? aku sudah rela bangun pagi hanya untuk ketempat ini" ucap Kiruru.


"Kurasa ada sedikit masalah diatas sana" jawab Bella sambil menatap ke beranda terbuka.


"Udzaa belum datang, mereka masih menunggunya" sosok gadis menginterupsi mereka, gadis berambut biru lembut itu berjalan menuruni undakan bersama 4 gadis lain dibelakangnya.


"Udzaa?" Bella menaikkan alisnya.


Gadis berambut biru muda itu mengangguk singkat. Berusaha menjawab, tapi 4 gadis lainnya membuatnya terganggu.


"Kalian berempat! Bisakah diam sebentar?" ucapnya tajam pada keempat gadis dibelakangnya.


Keempat gadis itu menjawab bersamaan, membuat gadis berambut biru itu bertambah kesal.


"Tolong hentikan mereka, sebelum Syifa merusak hari yang cerah ini" ucap Kiruru dengan nada peduli yang dipaksakan.


"Rouge, Bleu, Rose, Violet, lebih baik kalian diam" ucap Bella yang memang tak ingin badai datang hari ini. Keempat gadis itu diam dengan paksa, berjalan kearah Dinda dengan bisik-bisik mengganggu.


"Jadi, Udzaa kembali?" tanya Bella yang kemudian diiyakan oleh Syifa. Syifa menghela nafasnya, jubah birunya terlihat cerah seperti langit hari ini.


"Kapten memberi tahuku pagi ini"


"Wah, festival ini makin menarik saja" ucap Akuma dengan bergairah sambil berjalan menjauh dari Dinda yang sudah dikelilingi keempat gadis merepotkan itu.


"Master juga memberitahu kami semalam" tambah Rouge, gadis berambut merah serta jubah merahnya. Ketiga temannya, Rose, sang gadis berambut dan jubah merah muda, lalu Violet bersurai ungu dengan jubah berwarna senada, serta Bleu dengan jubah serta rambut berwarna biru. Mereka berempat adalah wakil kapten Divisi Ketujuh.


"Yayaya.. Terserah kalian saja" ucap Syifa malas.


"Udzaa sudah kembali?" Djabo kembali berjalan kearah mereka dengan pipi memar.


"Ini berarti sudah saatnya aku menantangnya" ucapnya lagi sambil menepuk tinjunya.


Akuma terkekeh mendengar perkataan Djabo.


"Teruslah bermimpi, akulah yang akan melawan Aldrich keempat"


"Kau meragukanku?" ucap Djabo dengan tajam.


"Buat aku percaya kalau begitu.." tantang Akuma.


"Kalian berdua hentikan" ucap Dinda sambil menatap keatas. Kiruru menutup bukunya dengan satu gerakan


"Acaranya akan dimulai"


***


Gemuruh suara terompet kerajaan dibunyikan, menandakan acara pembukaan festival akan segera dimulai.


Dari beranda terbuka diatas kastil, berdiri Nia menghadap kearah rakyatnya. Jubah putih yang ia kenakan melambai tertiup angin, dibelakangnya ada Lian dengan jubah yang sama berdiri bersama kedua penasehat kerajaan, Arion dan Zolla.


Dibarisan belakang, berbaris para kapten dari kesembilan divisi.


Noey, sang kapten Divisi Pertama mengenakan zirah setengah badan dengan rok berwarna merah, dipinggangnya sebuah pedang perak mengkilat terkena sinar matahari.


Lalu Faruq sang kapten Divisi Kedua, mengenakan armor terbaiknya yang berwarna perak, pedang dan perisainya tersimpan dipunggungnya. Kemudian disampingnya, kapten Divisi Ketiga sekaligus penasehat siasat tempur kerajaan, Kevin, berdiri dengan jubah hitamnya dengan tudung yang menutupi kepalanya.


Kapten Divisi Keempat, Mou, berdiri dengan senyuman diwajahnya, gadis dengan pakaian biru-putih itu terlihat ceria menatap kearah kumpulan orang dibawah sana. Lalu disampingnya, Iqbal, sang kapten Divisi Kelima, menguap malas, matanya setengah menutup karena terpaan sinar matahari pagi itu, kain merah yang dipakai untuk membungkus pedang dipunggungnya menari diterpa angin.


Selanjutnya sang kapten Divisi Keenam, Zayn dengan tatapan tajam dan dingin, jubah hitamnya ikut menari bersama angin. Otot-otot lengannya terlihat jelas dari bagian jubahnya yang terbuka.


Disampingnya sang kapten Divisi Ketujuh, Dimas, menatap malas kesegala arah, mengenakan jubah hitam-kelabu dengan kerah tinggi berbulunya, pedang hitam miliknya ia sampirkan dipundak.


Lalu kapten Divisi Kedelapan, Iro, gadis berambut ungu gelap serta pakaian dengan warna senada, memasang wajah serius. Dua pedang pendeknya ia letakkan dibelakang pinggangnya. Kemudian yang terakhir, kapten Divisi Kesembilan, Fransiska, surai pirang panjangnya mengayun karena angin. Ia mengenakan pakaian senada dengan rambutnya, terlihat cerah dengan perpaduan warna kuning dan biru langit, syal merah yang melingkar dilehernya ikut menari bersama angin. Sebuah tombak panjang berwarna emas terlihat berada dibalik punggungnya.


Kesembilan kapten itu menyihir semua penduduk dibawah sana, menatap mereka kagum. Dibawah sana, para wakil kapten terlihat berbaris didepan air mancur, menatap beranda terbuka diatas sana.


"Kuharap ini takkan berlangsung lama" bisik Djabo disela-sela pidato Aldrich Kedua. Bella segera memberinya tatapan tajam, membuatnya diam seketika.


Ditengah-tengah pidato itu seorang gadis datang menerobos barisan penduduk, lalu bergabung dengan barisan wakil kapten. Gadis itu, tanpa banyak bicara, segera berbaris disamping Meiza.


Meiza menatapnya.


"Darimana saja kau Jose?"


Gadis yang dipanggil Jose itu menoleh.


"Aku kesiangan, maaf, aku harus menyeret seseorang di atrium tadi" ucapnya yang membuat Meiza bingung.


Sedangkan sesuatu terbang dengan cepat dilangit, tepat diatas mereka.


"Apa itu?" gumam Meiza.


***


Syuuut.. Tap!


Udzaa berhasil mendarat dengan mulus dibelakang barisan para kapten. Errol melayang disampingnya, memberikan jubah putih kearahnya yang segera ia kenakan sambil berjalan perlahan tanpa suara.


"Lihat itu, siapa yang baru saja datang" bisik Faruq yang membuat semua mata menatap Udzaa yang dengan langkah hati-hati mengendap-endap dibelakang para tetua, berusaha untuk berdiri disamping Lian tanpa diketahui keduanya.


"Dasar si bodoh itu" ucap Zayn kesal. Sedangkan Dimas menguap disampingnya.


Errol meluncur halus tanpa suara dan mendarat tepat dipundak Frans.


"Kalian kemana saja?" bisik Frans


"Kami kesiangan gero~" jawab Errol pelan.


"Kami terlibat keributan di atrium gero~"


Frans sedang mencerna perkataan terakhir Errol saat Udzaa berhasil sampai ditempatnya tanpa diketahui para tetua.


Posisi para tetua yang berdiri sedikit lebih didepan dibandingkan Lian membuatnya lebih mudah menyelinap.


Lian yang menyadari kehadirannya memarahinya tanpa suara sedangkan Udzaa hanya menyatukan kedua tangannya sambil meminta maaf.


"Kau ini kacau sekali" bisik Lian sepelan mungkin. Udzaa hanya tersenyum kikuk sambil berusaha memperbaiki jubahnya yang sedikit kusut disana-sini. Namun tanpa peringatan sedikitpun, Nia menarik kerah jubah Udzaa tanpa menoleh.


"Kabar bahagia lainnya.." ucap Nia sambil kemudian memperlihatkan Udzaa pada semua orang bagaikan memamerkan hasil buruannya didepan umum.


"Aldrich keempat telah kembali bersama kita"


Gemuruh suara penduduk memenuhi halaman, membuat Udzaa tak tau harus berkata apa. Nia melepas pegangannya pada kerah jubah Udzaa, kemudian mundur beberapa langkah, mempersilahkan Udzaa untuk melanjutkan pidatonya.


Udzaa yang memang tak tau apa-apa hanya menatap Nia dengan horror.


"Apa yang kau lakukan" bisik Udzaa pelan tanpa mencoba tersenyum kearah orang-orang dibawah sana.


"Itu hukuman karena kau telat" balas Nia yang membuat Udzaa ingin sekali memukulnya. Ia melirik para tetua yang kini menatapnya.


Kini gemuruh sorak sorai telah mereda, semuanya menunggu sosok Aldrich keempat memulai pidatonya, Dimas menyeringai ditempatnya.


Udzaa benar-benar ingin menghilang saat ini, ia tak terbiasa bicara didepan banyak orang. Tapi kini ia mau tak mau harus melakukannya. Dalam hati ia mengutuk Nia.


"Em.. Hai.." ucapnya dengan ragu-ragu. Sesekali melirik para tetua dari ekor matanya. Ia benar-benar tak tau apa yang ingin ia bicarakan.


"Bagaimana kabar kalian? Emm, pastikan kalian semua sehat-sehat saja ya.." ia mengutuk dirinya sendiri, pidatonya terdengar seperti sebuah surat cinta.


Dibelakang sana para kapten sedang berusaha mati-matian untuk tidak tertawa, bahkan Dimas harus menggigit pedangnya sendiri. Lain halnya para tetua yang terlihat tak suka.


"Em, hari ini festival besar akan diadakan, kuharap kalian menikmatinya, yaa.. Walaupun aku tak, em maksudku aku sudah disini sekarang, jadi ayo kita nikmati bersama" Udzaa bersumpah takkan pernah lagi, dalam hidupnya, untuk melakukan hal konyol seperti ini.


"Sekian.." ucapnya kemudian sambil sedikit membungkuk menutup pidatonya, gemuruh tepuk tangan terdengar memenuhi halaman kastil. Udzaa segera mundur dari tempatnya tadi, melihat teman-temannya menahan tawa dibelakang sana membuatnya ingin menghajar mereka semua saat itu juga.


"Ayo kita nikmati bersama? Ini pidato paling menggelikan yang pernah kudengar" bisik Iqbal sambil menahan tawanya. Noey diujung sana menghela nafas pelan.


Kemudian setelah berakhirnya pidato aneh dari Aldrich keempat, berakhir pula upacara pembukaan festival hari itu.


***


"Kau benar-benar ingin kuhajar yaa!!" teriak Udzaa saat mereka semua sudah berada didalam ruangan Aldrich. Tawa kini tak bisa ditahan lagi, Iqbal menirukan pidato Udzaa yang membuat mereka tertawa keras.


"Ayo kita nikmati bersama semua makanan yang ada" ejek Iqbal sambil meniru pidato Udzaa dengan sedikit perubahan, membuat Udzaa menatapnya kesal.


Ruangan Aldrich kini penuh dengan mereka semua, upacara pembukaan festival sudah selesai dan kini para penduduk serta para pendatang tengah menikmati hari penuh kegembiraan itu.


Nia tertawa dikursinya, masih dengan jubah Aldrichnya, menatap teman-temannya yang masih mengejek pidato Udzaa tadi.


Udzaa menunjuk-nunjuk dirinya dengan kesal, menyalahkannya karena menyuruhnya berpidato tanpa persiapan.


"Memangnya pidato mu akan lebih baik jika diberi persiapan?" tanya Kevin yang duduk di kursi berlengan tak jauh dari pintu. Memaksa Udzaa terdiak saat itu juga.


Tawa kembali meledak saat Dimas datang tiba-tiba sambil meniru pidato Udzaa, yang makin membuatnya kesal. Udzaa mengambil sebuah apel dari tempat buah yang dibawakan pelayan sebelumnya.


Disaat itu pintu kembali terbuka menampakkan sosok Arion dan Zola dibaliknya. Dimas segera melompat dari posisinya yang tengah duduk diatas meja.


Semua tawa mereda, hanyut dalam derap langkah kedua tetua itu saat memasuki ruangan.


"Terlihat sekali kalau kalian semua tengah bersenang-senang" ucap Arion dengan suaranya yang dalam, menatap datar kesegala arah. Zola disampingnya menambahkan dengan sinis.


"Pidato yang hebat, Aldrich keempat"


Nia bangkit dari kursinya, berusaha mencairkan suasana.


"Ah, tuan Arion, silahkan duduk" ucap Nia mempersilahkan sambil mendelik sekejap kearah Lian yang segera berdiri memberikan tempat duduknya.


"Tak perlu repot-repot" ucap Arion.


"Tak ada yang memuji prilakumu tadi, Nia" ucapnya lagi dengan dingin. Nia tak menjawab, hanya memandang datar kedepan.


"Kau tau pasti, bagaimana Aldrich keempat bersikap" ucap Arion yang kini bagai menusuk pada Udzaa yang masih terdiak ditempatnya.

__ADS_1


"Dan perbuatanmu tadi, setidaknya mencoreng nama baik kerajaan dimata para tamu besar, membiarkan Aldrich keempat berbicara didepan umum walau tau jika ia tak punya kemampuan itu" Udzaa berdecak kesal. Arion meneruskan perkataannya.


"Aku mengharapkan pengambilan keputusan yang lebih baik lain waktu" ucapnya kemudian beralih kearah Udzaa.


"Dan untukmu, Aldrich keempat.." Zola memicingkan matanya.


"Aku menuntutmu untuk lebih baik dalam bersikap, kedudukanmu sangat dipandang sebagai salah satu pemimpin kerajaan, aku takkan mempermasalahkan kemana perginya dirimu dua tahun ini, tapi kau harus tau.." ucap Arion yang kemudian terdengar semakin dingin.


"Kau tau persis alasannya kan.."


Mendengar hal itu sudah cukup membuat Udzaa kehabisan kesabaran. Ia meletakkan apel ditangannya keatas meja dan menekannya kuat-kuat, berusaha menahan amarahnya.


"Aku tau apa yang kulakukan, dan takkan kubiarkan seorangpun mengaturnya.." ucapnya tak kalah tajam sambil menatap Arion. Apel dimeja kini sudah hancur karena ditekan terlalu kuat.


"Aku tak peduli siapa pun itu.."


"Aldrich keempat!! Jaga mulutmu! Kau tak tau sedang bicara dengan siapa!" hardik Zola sambil menatap tajam kearahnya.


"Oh, aku sangat tau.." Nia berusaha menahannya namun Udzaa mengangkat tangannya, menyuruhnya agar tak ikut campur.


"Kalian takut darah kotor seperti ku membuat kekacauan kan?"


Arion dan Zola menatap nya tajam.


"Ku peringatkan kau.." ucap Arion tajam.


Udzaa menyeringai sinis, mengambil apel lain dari meja kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan.


Blam.


Ruangan kembali hening setelah Udzaa menutup pintu. Menyisakan aura menyesakkan.


Disaat itu Lian berusaha mengambil alih suasana


"Ah, tuan Arion, yang tadi itu.."


"Nia, aku akan bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi, sebagai gantinya, kupikir harus ada yang memberi temanmu itu kedisiplinan" ucap Arion sambil berlalu pergi bersama Zola dibelakangnya.


***


Kota kini ramai dengan para pengunjung, berbagai pedagang menjajakan dagangannya ditiap sisi kota, memikat para pengunjung dengan barang-barang atau bahkan makanan yang enak. Anak-anak berlarian menikmati hari libur dengan ceria, bersantai bersama keluarganya, berkeliling kota sambil menikmati festival hari ini.


Udzaa berjalan seorang diri ditengah keramaian, ia melangkah dengan lesu, menendang beberapa kerikil yang ia temui dijalan.


"Ceh, orang tua itu menyebalkan" gerutunya kesal. Ia melewati setiap pedagang disana dengan lesu, menatap kosong kepada setiap hal yang ia temui.


Ia melihat pedagang yang menjual berbagai makanan enak yang tak pernah ia temui, hal ini membuatnya berubah pikiran.


"Siapa yang peduli dengan omong kosong orang tua itu, ini hari festival" ucapnya cerah kemudian berlari kearah kedai makanan.


***


"Udzaa gawat sekali yaa" ucap Mou saat ia tengah berjalan bersama Frans dan Iro. Mereka bertiga telah meninggalkan kastil dan kini tengah menikmati ramainya festival dikota.


"Kurasa master punya alasan sendiri mengatakan hal itu" ucap Iro yang berjalan disampingnya. Mou tak membalasnya, ia sibuk menatap Frans yang sejak tadi terdiam.


"Hei, Frans, kau tak apa-apa?"


Frans tersadar dari lamunannya, kemudian tersenyum kearah Mou sambil mengalihkan pembicaraan.


"Ah, festival kali ini lebih ramai dari tahun kemarin ya!"


Mou mengangguk membenarkan, kemudian tertawa saat kembali menolak makanan yang dibelikan Frans disalah satu kedai.


"Kak Iro, ini hanya makanan biasa" ucap Frans menyakinkan. Sedangkan Mou masih tertawa, kedua tangannya penuh menggenggam makanan.


"Iro, sampai kapan kau bertahan dengan kecurigaanmu itu, tak mungkin makanan ini beracun" ucap Mou disela-sela tawanya sedangkan Iro masih kuat dengan pendiriannya. Frans hanya menggeleng sambil tertawa kecil.


"Ah kapten?" seseorang membuat tawa ketiga gadis itu terhenti. Mou menatap sosok itu.


"Jose?" ucapnya.


"Jadi kau sudah bisa bersenang-senang kali ini?" ucapnya lagi dengan jahil.


Jose yang sadar kalau tangannya kini penuh dengan pernak-pernik seorang gadis dari festival, menatapnya dengan wajah merah.


"Ti-tidak begitu, kapten, kau harus tau.. Ini.."


Mou menepuk pundak wakilnya itu.


"Tenang saja Jose, ini hari libur, dan kau tau.. tak ada salahnya untuk bersantai sedikit" ucapnya. Frans terkikik melihat wajah Jose yang mulai memerah.


"Kau terlihat manis sekarang Jose" ucapnya yang kemudian membuat Jose semakin salah tingkah. Jose masih membela dirinya kalau semua barang ditangannya bukanlah miliknya namun hal itu malah menambah rasa curiga Mou.


"Sudahlah, akui saja, lagi pula bukan hal aneh jika seorang gadis membeli sebuah pita cantik ini" ucapnya sambil mengambil sebuah pita merah muda dari tangan Jose.


"Kurasa warnanya cukup bagus" komentar Iro dengan minat.


"Ka-kapten ini tidak seperti.." belum sempat Jose menyelesaikan perkataannya teriakan seseorang membuat mereka menoleh.


Dari kejauhan terlihat Udzaa tengah berlari dengan cepat membelah keramaian festival dengan sekantung penuh makanan ditangannya, ia berteriak menyuruh semua orang untuk menepi, walau terdengar tak jelas karena mulutnya masih sibuk menelan sebuah daging bakar.


Dibelakangnya dua orang pengawal kerajaan berlari mengejarnya, meneriakkan namanya, berusaha membuatnya berhenti.


"Aldrich keempat!! Tolong berhenti!! Anda tak seharusnya berjalan tanpa penjaga!" teriak salah satu pengawal itu.


"Akhu hak bwuhuh whenhawal!!! (Aku tak butuh pengawal!)" teriak Udzaa sambil berusaha berlari menghidar dari para pengawal. Ia berlari melewati Mou, Frans, Iro dan Jose begitu saja, menyisakan debu dijalanan yang ia lewati.


"Selalu penuh keributan yaa, orang itu" komentar Mou, Frans hanya menggeleng, tak tau mau berkomentar apa.


Dilain pihak terlihat Noey yang berjalan dari arah atrium bersama ketiga gadis kecil lainnya yang terlihat tengah membawa banyak barang ditangan mereka.


"Oh, kalian juga disini?" sapa Noey.


Iro membalas sapaan Noey begitu juga dengan Frans, lain dengan Mou yang malah mengomentarinya.


"Kak Noey, apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya.


Noey menoleh.


"Oh ini, aku baru saja kembali dari toko senjata disebelah sana, mereka menjual berbagai senjata yang belum pernah kulihat, jadi kurasa aku sedikit membelinya, kau tau, untuk koleksi" jelasnya santai.


Mou hanya menatapnya aneh, sesuatu yang sedikit itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang terlihat. Ketiga gadis didepannya itu terlihat tengah menahan beban berat karena banyaknya senjata yang mereka bawa.


"Em, kak Noey, kurasa mereka agak kesulitan"


Noey tak mendengarkan. Ia malah menyapa Jose yang masih memegang pernak-pernik ditangannya. Mou bersikeras berkata kalau Noey keterlaluan hingga menyuruh ketiga gadis itu membawa barang miliknya.


"Kau ini kenapa sih? Mereka sendiri yang menawakan diri untuk membantuku" ucap Noey tak peduli. Tapi Mou tak terima begitu saja.


Dilain sisi Frans membungkuk cukup rendah, agar ia bisa sejajar dengan ketiga gadis itu.


"Kalian tak apa-apa? Kelihatannya itu cukup berat" tanya nya lembut.


"Kami tak apa-apa nona Frans" ucap salah satu dari mereka dengan tegas, rambut twintail nya bergoyang saat ia menggeleng kecil.


Frans tersenyum, ia dapat melihat lencana Divisi Kedua tersemat dilengan gadis itu, lalu lencana Divisi Kelima digadis satunya, tapi tak melihatnya digadis dengan dress putih yang berdiri paling kiri.


"Kalian berasal dari Divisi yang berbeda.."


"Itu benar nona, tapi walaupun kami baru saja bergabung, kami tak selemah kelihatannya" ucap gadis twintail itu dengan semangat. Walau kemudian meringis karena salah satu ujung pedang yang ia bawa sedikit menusuknya.


Gadis dari Divisi Kelima itu juga menunjukkan wajah penuh semangat, begitu juga dengan gadis dengan dress putih disana.


"Siapa nama kalian?" Frans bertanya.


Gadis itu menjawab dengan semangat memberi tahu namanya, hingga Frans kini tau nama mereka semua. Gadis twintail itu adalah Donna kemudian Risma dari Divisi Kelima lalu Tarisa yang mengenakan dress putih itu.


Frans tersenyum melihat semangat ketiga gadis kecil itu, kemudian ia melirik sebentar kearah Noey yang masih beradu pendapat dengan Mou.


Merasa semuanya aman ia menjentikkan jarinya, serentak barang yang dibawa ketiga gadis itu terangkat ringan.


"Ah!" ketiga gadis itu terkejut, kemudian Frans mengedipkan sebelah matanya yang dibalas senyuman cerah ketiganya.


"Baiklah terserah kau saja" ucap Noey menyudahi perdebatan tak berguna itu, kemudian menatap ketiga gadis yang membawa belajaannya.


"Kalian masih kuat?" tanyanya.


Ketiga gadis itu mengangguk mantap, sambil melirik kearah Frans yang tersenyum kecil.


"Baiklah, ayo" kemudian Noey kembali berjalan meninggalkan Mou yang masih bersungut-sungut.


"Dasar.." keluh Mou kesal. Sedangkan Iro hanya menatap bingung kearah Frans yang tersenyum aneh.


***


Di sisi lain kota, Udzaa akhirnya berhasil lepas dari kejaran pengawalnya. Ia bersembunyi diatap sebuah kedai, menipu kedua pengawal itu kemudian keluar dengan wajah bahagia.


"Haha, terlalu cepat seratus tahun untuk mengikutiku" ucapnya bangga kemudian berniat melangkah pergi, namun tak sadar ia masih di tempat yang tinggi. Akhirnya ia terjatuh dari atap sebuah kedai.


Greb!


Beruntung sebuah tangan berhasil meraih kerah bajunya sebelum wajahnya mengikuti semua makanan miliknya yang sudah lebih dulu menyentuh tanah.


"Heee, makanan ku!" teriaknya penuh penyesalan. Ia menatap keatas, melihat sosok yang membuatnya kini tergantung diudara karena kerahnya digenggam.


"Hei bodoh! Kau tau apa yang kau lakukan!! Kau membuat makananku jatuh!!" makinya pada sosok itu.


"Jangan marah-marah seperti itu dong, Aldrich keempat!" ucap sosok itu yang tak lain adalah Djabo. Ia memamerkan seringainya.


"Atau kau lebih suka ikut jatuh?" ancamnya kemudian.


Udzaa mendengus kesal.


"Kalau begitu cepat, lepaskan aku!!" berontaknya kasar.


"Tenang-tenang, aku kesini karena ingin mengajakmu menyelesaikan pertarungan kita.." ucap Djabo yang kini kembali tersenyum lebar. Membuat Udzaa terdiam, melihat Udzaa terdiam, Djabo tau jika itu artinya adalah iya.


"Aku yakin kau pasti tertarik" ucapnya lagi.


Udzaa terdiam sejenak dengan keadaan masih tergantung diudara. Kemudian ia melirik Djabo dengan serius, lalu menyunggingkan seringai lainnya.


"Bawa aku ketempat pertarungannya.." ucapnya yang kemudian dibalas senyum menyeramkan dari Djabo.


.


.


.


.


.


.


.


Tap.


"Kita sampai!" ucap Djabo tajam saat mereka telah tiba ditempat pertarungan.


Udzaa tersenyum sinis.


"Boleh juga seleramu dalam memilih tempat"


"Terima kasih atas pujiannya, Aldrich keempat!" balas Djabo tak kalah sinis.


Keduanya saling bertatapan tajam, pertarungan kini tak terelakkan lagi. Di hari festival yang seharusnya damai ini, ada sebuah keributan yang akan terjadi. Sang Aldrich keempat melawan wakil kapten Divisi Kesembilan.


"Kau sudah siap?" tanya Djabo.


Udzaa tersenyum merendahkan.


"Kapanpun kau mau"


"Kuharap kau tak keberatan jika peserta bertambah satu, Aldrich keempat"


Udzaa melirik kearah pria bergigi runcing itu.


"Ceh, berapapun yang harus kulawan, itu takkan ada pengaruhnya untuk ku"


"Bagus, karena aku juga membawa seorang wasit" ucap Akuma lagi sambil menarik kerah pria lain yang tak lain adalah Kiruru.


"Yo!" ucap Kiruru dengan nada tanpa minat.


"Bagaimana?" kini ia bertanya kearah Djabo.


"Terserah kau saja, tapi jangan harap bisa menang dariku" ucap Djabo dengan percaya diri.


"Khukhu! Bunyikan saja loncengnya sekarang"


.


.


.


.


.


Dakk!!!


"3 MANGKUK BESAR MISO SPESIAL!! SILAHKAN DINIKMATI!!" teriak seorang pemuda tiba-tiba sambil meletakkan tiga mangkuk besar miso didepan mereka bertiga.


"Yak, mulai~" ucap Kiruru sambil mengangkat tangannya tanpa semangat, sedangkan matanya masih terpaku pada buku ditangannya.


Kemudian mereka bertiga segera menghabiskan mangkuk besar itu secepat mungkin disertai suara penuh semangat dari ketiganya.


"UWOOOOO!!!"


"Apasih yang kalian lakukan?" ucap Mou yang baru saja datang bersama Iro dan Frans.


***


Hari menjelang malam, matahari semakin turun diufuk barat, meninggalkan semburat jingga pada awan-awan putih diangkasa. Burung-burung berterbangan, berlomba kembali kerumahnya, terlihat seperti bayang-bayang hitam yang melayang dilangit.


Keadaan kota yang ramai tak surut begitu saja saat sore menjelang, beberapa pengunjung mungkin kembali ke penginapan untuk beristirahat sebentar, namun tak sedikit juga yang tetap dikota untuk menikmati festival lebih lama lagi. Terlebih lagi malam nanti, upacara penutup yang pastinya akan lebih meriah akan digelar di depan kastil, membuat para pengunjung enggan melewatkan kesempatan ini. Alih-alih kembali ke penginapan, banyak dari para pengunjung memilih untuk menghangatkan diri dikedai kedai minum.


Toads Head, sebuah kedai kecil dipinggir jalan utama kota telah menyalakan penerangannya seperti kedai lain. Papan nama yang dipasang diatas kedai ikut menyala, mengayun dengan suara derit saat angin berhembus.


Didalam kedai, terlihat ketiga laki-laki yang tengah tergeletak tak berdaya diatas meja dengan tumpukan tinggi mangkuk besar disisinya.


Pertarungan yang mereka sebut sebagai pertarungan antar pria itu berakhir seimbang, tak ada satupun dari mereka yang kini kuat mengangkat kepalanya.


"Kupikir, kita seri kali ini" ucap Djabo yang sangat tak berdaya bahkan untuk bicara.


"Khukhukhu, tak kusangka kalian berdua kuat juga" tambah Akuma.


Udzaa malah hampir memuntahkan kembali miso yang ia makan.


Sedangkan para gadis yang menatapnya hanya menghela nafas melihat kelakuan mereka. Kiruru masih saja tak peduli dengan sekitarnya.


"Kalian ini.." ucap Frans dengan pandangan jijik kearah ketiganya.


"Apanya yang pertarungan antar pria"


"Kali ini kau tak ikut bertarung juga?" tanya Mou pada Kiruru yang masih serius dengan bukunya. Terkadang ia bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dibaca laki-laki itu hingga bisa mengalihkan semua perhatiannya dari lingkungan sekitar.


"Sejak kapan aku ikut pertarungan bodoh ini" ucap Kiruru datar, kemudian ia menutup bukunya, lalu menatap kesekitar.


"Eh, kapten? Sejak kapan kau ada disini?" tanya nya dengan nada terkejut yang tidak dibuat-buat.


Mou menatapnya kesal.


'Jadi sejak tadi dia pikir hanya ada dirinya didunia ini?' batin Mou.


Frans menjawabnya singkat, kemudian menghabiskan minuman miliknya.


"Ah, kak Kiruru.." Kiruru mengangkat tangannya, menghentikan perkataan Frans.


"Kiruru saja" ucapnya.


"Apa jadinya seorang kapten memanggil wakilnya dengan sebutan kak"


Frans mengernyit kebingungan, pasalnya ia tak tau harus memanggil wakilnya apa. Sikap hormatnya kepada yang lebih tua menuntutnya untuk memanggil mereka dengan sebutan kak.


Hal ini tak kunjung selesai, hingga akhirnya Udzaa terbangun dari tidurnya.


"Ahhh.. Dimana aku? apa aku sudah mati?" ucapnya aneh.


"Jadi sejak tadi kau tertidur" Mou menyahut heran.


Udzaa tak memperdulikan ucapan Mou, ia berusaha mengendalikan dirinya. Perutnya terasa mual dan akhirnya apa yang sudah ia tahan sejak tadi terjadi juga.


"Kau benar-benar menjijikan" ucap Frans tajam kearah kakaknya yang kini muntah ditempatnya duduk.


"Aku bersyukur, aku belum mati" ucap Udza, Iro menghampirinya kemudian menepuk punggungnya.


"Tenang master.." ucapnya menenangkan.


"Kau akan mati dengan tenang setelah ini" ucap Iro lagi sambil menunjukkan sebuah kertas berisi tagihan yang harus dibayarnya.


"Aku benar-benar mati!!" teriak Udzaa dengan kencang, tak mengindahkan apapun, bahkan rasa mualnya menghilang begitu saja.


"Tabungan ku.." sedihnya.


"Ahahahah.. Tenang saja Aldrich keempat!" seorang laki-laki paruh baya dengan ikat kepala bertuliskan 'selamat datang' tertawa kearah Udzaa.


"Miso kali ini kuberikan secara gratis untukmu" ucapnya lagi yang kemudian membuat cahaya kehidupan dimata Udzaa kembali terpancar.


"Benarkah itu paman!!"


"Tentu saja, anggap saja itu sebagai hadiah selamat datang kembali dariku" ucapnya sambil kembali tertawa.


"Ahh.. Paman!! Kau memang yang terbaik!!" ucap Udzaa sambil mengacungkan ibu jarinya kedepan diselingi tawa dari yang lain.


***


Malam sudah datang, kini kota sudah gemerlapan dengan lampu-lampu yang dinyalakan, di atrium lebih gemerlap dengan cahaya para peri yang berterbangan kesana-kemari.


Para pengunjung telah kembali memadati jalan kota, menunggu upacara penutup yang akan diselenggarakan sebentar lagi.


Udzaa sudah kembali ke kastil dengan perut penuh, berniat untuk sekadar merebahkan tubuhnya diruangan Aldrich, namun baru saja ia mencapai puncak undakan utama, Errol melayang cepat kearahnya tanpa peringatan.


"Ehh.. Apa yang kau lakukan sih!" teriak Udzaa yang kini ditarik paksa oleh Errol. Ia ditarik kesisi lain kastil, kearah bangunan besar disebelah sana.


"Oy! Aku lelah, biarkan aku istirahat sebentar"


"Nia menunggumu di Divisi Riset" sahut Errol.


Udzaa mendesah malas.


.


.


.


.


Sesampainya di Divisi Riset ia segera disambut dengan lemparan pedang besarnya oleh Lian.


"Dari mana saja kau, aku bosan seharian disini" ucapnya mengeluh.


"Padahal festival diluar sana, tapi aku malah terkurung disini"


Udzaa meletakkan pedangnya bersandar ke dinding, kemudian menatap Nia yang sedang berdiri tak jauh darinya.


"Apa sih maumu? Aku lelah sekali, aku ingin istirahat sebentar sebelum upacara penutupan nanti" ucap Udzaa malas.


"Tak ada waktu" ucapnya mengabaikan perkataan Udzaa. Ia segera berjalan pergi kearah pintu lain diseberang ruangan.


"Ikuti aku.."


Mau tak mau Udzaa mengekor dengan malas, diikuti Lian dibelakangnya yang lagi-lagi melempar pedang besar kearahnya.


Pintu itu mengarah keruangan lain, ruangan besar yang penuh dengan kuali-kuali dengan cairan mencurigakan, meletup-letup, serta beberapa benda aneh lain yang tak dimengerti apa kegunaannya.


Nia berhenti disamping sebuah ornamen berbentuk lingkaran pipih yang melayang diudara, ditepinya terlihat goresan-goresan yang tak dimengertinya.


Udzaa menatap bosan.


"Lalu apa?"


"Hoo!! Aldrich keempat!!" sebuah suara mengejutkan mereka, seorang laki-laki dengan jubah gelap usang berdebu yang berkelip menyilaukan mata datang. Penampilannya benar-benar kacau, dengan sebuah kacamata google yang ia kenakan serta beberapa jelaga hitam diwajahnya yang menyiratkan kalau dirinya baru saja terkena ledakan hebat.


"Aku sudah dengar tentang kepulanganmu"


Udzaa menaikkan sebelah alisnya.


"Kau yakin, tidak baru saja terkena ledakan atau semacamnya?"


"Atau malah ia sendiri yang meledak" tambah Errol yang melayang di langit-langit ruangan.


"Tidak tidak" ucapnya cepat.


"Alvian, kita tak punya banyak waktu" ucap Lian yang baru saja memasuki ruangan.


Laki-laki yang dipanggil Alvian itu tersenyum lebar lalu kembali pada tujuan utamanya.


Ia menyapu piringan pipih yang melayang ditengah ruangan, kemudian menatap Nia yang seakan mengerti lalu melemparkan sebuah Tiara yang diambil dari sakunya.


"Hei!! Hati-hati dengan itu!" ucap Udzaa.


Alvian meletakkan Tiara batu karang itu tepat ditengah ornamen melayang disana.


"Ohh, jelas sekali ada sesuatu yang gelap didalam sana" ucap Alvian. Kemudian ia mundur beberapa langkah.


"Sebenarnya apa yang mau kita lakukan disini?" tanya Udzaa.


"Kita akan mencoba melihat, apa sebenarnya benda itu" ucap Nia, Udzaa mengangkat sebelah alisnya.


"Aku sudah berhasil menguasai beberapa tehnik Aldrich pertama"


Perkataan Nia itu membuat Udzaa cukup terkejut, memang tak terlalu sulit mengingat beberapa perkamen sihir Aldrich pertama tersimpan di lemari penyimpanan dan bisa diakses para Aldrich lain. Namun bukan persoalan mudah bagi Nia yang notabene tak bisa mengontrol Cloe miliknya dengan stabil, bahkan tehnik termudah akan sangat mustahil.


"Dari wajahmu, jelas sekali kalau kau tak mengerti" ucap Lian tersenyum penuh kemisteriusan, membuat Udzaa jengkel. Lian menarik Udzaa untuk mundur, memberi ruangan untuk Nia.


"Kuperingatkan padamu" ucap Nia sambil melirik sedikit kearah Udzaa.


"Aku takkan bisa menahan ini terlalu lama, begitu penghalangnya terbentuk aku mau kau segera melepas segel Kiso Boukutten dari Tiara itu, apapun yang akan terjadi nanti kuserahkan padamu" ucap Nia menjelaskan.


Udzaa menelan ludahnya dalam. Kemudian Lian segera memberikan pedang besar itu padanya.


"Aku akan mulai" ucap Nia setelah memastikan semuanya dalam posisi aman.


Nia memejamkan matanya, kemudian dengan cepat aura disekeliling ruangan terasa makin menyesakkan. Udzaa memegang erat pedang besarnya, ia tak tau apa yang terjadi, tapi ia bisa merasakan ada aura aneh yang berkumpul disekeliling Nia.


"A-apa yang terjadi? Apa yang sedang ia lakukan?"


"Selama dua tahun ini, bukan hanya dirimu yang berkembang" ucap Lian sambil tersenyum dibelakang Udzaa.

__ADS_1


"Dia sedang menyerap Cloe bumi"


"Me-menyerap apa?"


Mendadak tekanan udara yang besar meledak bersama dengan hembusan angin yang berpusat pada Nia. Menerbangkan beberapa perkamen kesegala arah. Ia membuka matanya yang kini pupilnya telah menghitam sempurna.


"Aura nya sangat menyakitkan gero~" pekik Errol yang segera melesat kebawah sebuah meja.


Tanpa jeda yang berarti, ia terlihat seperti membisikkan sesuatu. Kemudian secara mendadak muncul sebuah penghalang berwarna merah transparan bersamaan dengan rentangan tangannya, mengelilingi ornamen hitam sebagai pusatnya.


"Sekarang" ucap Nia sambil tetap merentangkan tangannya sekuat tenaga.


Udzaa melakukan satu-satunya hal yang terlintas dibenaknya, ia melangkah maju, melewati penghalang yang kemudian segera memadat setelah ia melewatinya.


"Tahan sebentar ya.." ucapnya pada Nia yang berdiri di luar penghalang.


Udzaa menyentuh Tiara itu dengan pedangnya, memusatkan pikirannya kemudian segel Kiso Boukutten segera terserap kedalam pedangnya. Meninggalkan alur hitam tanda segel dibilah pedangnya.


"Bagaimana!?" tanya Nia dengan suara tertahan, sepertinya ia berusaha keras untuk mempertahankan penghalang itu.


"Tunggu sebentar" jawab Udzaa yang kini memperhatikan Tiara didepannya. Tak ada yang terjadi selama beberapa saat, namun baru saja ia ingin berkata aman, sesuatu terjadi.


Dari Tiara itu muncul sinar yang amat terang, membuat silau seluruh ruangan. Bersamaan dengan itu, muncul suara yang memekik liar dari dalamnya.


KHHIIIIINNNNGG!!!


Suara itu memekakkan telinga, Alvian sampai berlutut demi menahan telingannya. Lian terlihat cemas, menahan telinganya.


"Udzaa!! Segel kembali!!" teriak Lian yang melihat Nia mengerang menahan penghalang itu.


"Geroooo~" teriak Errol menggila.


Didalam penghalang, Udzaa tertegun, menatap kosong kearah Tiara itu, menatap kedalam kilau cahaya yang harusnya dapat membutakan mata. Ia tak lagi bisa mendengar apapun, walaupun begitu tanpa ia sadari, ia meneteskan air mata. Kemudian ledakan hebat terjadi.


DHUAAARRRR!!!


***


Sementara itu digerbang barat.


"Huaaaahhh" seorang penjaga menguap lebar, menandakan kalau dirinya lelah. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha mengusir kantuknya.


"Hei, kau mengantuk?" tegur salah seorang penjaga senior. Penjaga itu mengangguk.


"Cepat cuci mukamu sana, jangan sampai kau tertidur saat bertugas" ucap penjaga senior itu pada bawahannya.


"Tapi ketua, apa tak bisa aku mendapat istirahat sebentar? Aku lelah sekali" ucapnya sambil menguap sekali lagi.


"Ck! Dasar lemah, kau baru saja bertugas sore tadi, dan kini sudah lelah" ucap penjaga senior itu sambil menggelengkan kepala lalu menyuruh bawahannya itu untuk mencuci muka.


"Ahh.. Baiklah" ucapnya malas kemudian melangkah pergi.


"Dasar, pemuda jaman sekarang.. baru sebentar berjaga sudah lelah" ucap penjaga senior itu namun tiba-tiba.


Sett!


"Ah, ketua... Bisakah aku mengambil beberapa limun.." ucap penjaga itu sambil menoleh kearah seniornya, namun dengan tiba-tiba sebuah belati menembus dahinya tepat saat ia menoleh.


Sosok berjubah hitam yang menghunuskan belati itu berbisik pelan ditelinga sang penjaga.


"Shhh.. Jangan berisik, Ketua mu sedang tidur"


Kemudian penjaga itu terjatuh dengan kepala penuh darah, sosok berjubah itu menatap korbannya dengan nanar, menjilat belati berdarahnya.


"Hei!! Siapa kau!!" sebuah teriakan dari penjaga lain terdengar dari belakang tubuhnya. Sosok itu menoleh, menampakkan wajahnya serta belati miliknya.


"Coba tebaklah.." ucap sosok itu.


"Pe-penyusup!!" teriak penjaga itu namun tak berlangsung lama karena sesaat kemudian ia tergeletak ditanah dengan kepala bersimbah darah.


"Kau salaaaaahhh!!" ucap sosok itu dengan lidah yang menjulur.


***


Keadaan kota semakin malam terlihat semakin ramai, semua menunggu upacara penutupan yang sebentar lagi akan segera dilaksanakan, didepan kastil terdapat kayu-kayu yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk layaknya menara, tumpukan kayu itu nantinya akan dibakar menjadi api unggun besar yang menjadi simbol semangat perdamaian.


Walau masih beberapa jam lagi sebelum upacara penutupan berlangsung, namun sudah banyak pengunjung yang tengah memadati halaman kastil.


"Wahhh!! Lihat itu, tinggi sekali" ucap Tarisa sambil menunjuk kearah tumpukkan kayu didepan kastil.


"Tarisa, jangan terlalu dekat, nanti kau bisa terbakar juga" ucap Donna memperingatkan sambil menarik temannya itu kebelakang, lalu duduk ditepi halaman kastil bersama Risma yang sudah ada disana.


"Kalian kemana saja sih" ucap Risma yang sejak tadi mencari keduanya


"Tarisa berjalan kearah api unggun disana, beruntung aku melihatnya, kalau tidak bisa-bisa dia ikut terbakar" ucap Donna sedikit kesal.


"Maaf" ucap Tarisa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tarisa, kalau kau terbakar, kau takkan bisa mendapat lencana" goda Risma kearah gadis itu yang kini menutup mulutnya seakan tak ingin melakukan kesalahan apapun.


Mereka bertiga tertawa kemudian.


Para penduduk semakin memadati halaman kastil. Berbondong-bondong bersama masuk lewat gerbang utama kastil. Bertegur sapa satu sama lain. Menambah keceriaan malam ini.


"Hei-hei, tau tidak.. kakak baik hati yang menolong kita membawa peralatan Kapten Noey pagi ini" ucap Tarisa tiba-tiba.


"Kalian tau namanya?"


Donna terlihat berpikir sebentar, kemudian ingin segera menyebutkan namanya tapi disela Risma.


"Fransiska" ucap Risma dengan bangga sedangkan Donna cemberut.


"Kapten Divisi Kesembilan" tambah Donna cepat, sebelum Risma berhasil menjelaskan.


Tarisa mengangguk mengerti.


"Kak Fran baik ya.." ucapnya tersenyum.


"Jadi lebih baik daripada diriku yaa?" suara Noey memotong pembicaraan mereka bertiga yang sontak segera bangkit dari kursinya.


"Kap-Kapten Noey, ka-kami.. bu-kan maksud kami"


Noey tertawa.


"Kalian ini, apa aku terlihat akan memakan kalian?" ucapnya sambil tertawa. Kemudian ia menyodorkan kepada mereka masing-masing sebuah permen kapas.


"Terima kasih sudah membantu pagi ini ya" ucapnya yang membuat ketiga gadis itu tersenyum.


"Menyuap gadis kecil dengan permen itu bukanlah perbuatan baik loh" sebuah suara mengiterupsi, Noey berdecak kesal, tanpa menoleh ia yakin siapa yang ada dibelakangnya.


"Jadi bagaimana anak-anak? Apakah kakak galak ini kasar pada kalian?" ucap Faruq yang muncul begitu saja bersama Dinda disampingnya.


Berbeda dari biasanya, Faruq kini tak mengenakan baju zirahnya, sebagai gantinya sebuah pakaian santai melekat ditubuhnya berbalut sebuah baju hangat hitam. Disisi lain Dinda tampak manis dengan dress putih yang terlihat sama dengan yang dikenakan Tarisa.


Noey segera menatap tajam tiba-tiba sesaat setelah Faruq mengatakan itu. Hal itu membuat Faruq sedikit mundur beberapa langkah. Namun kemudian tatapannya kembali seperti biasa lagi.


"Ck..terserah kau saja" ucap Noey memutar bola matanya, kemudian sekali lagi mengucapkan terima kasih pada ketiga gadis itu kemudian beranjak pergi.


"Heh.. Ada apa sih dengan tatapannya itu" ucap Faruq.


"Mungkin kau bau" tambah Dinda yang semakin membuatnya jengkel.


"Ka-kapten" ucap Donna sambil membungkuk hormat.


Faruq menatap gadis itu, lalu melihat lencana Divisi Kedua ditangannya.


"Hoo, kau berasal dari Divisi ku yaa" ucap Faruq ceria sedangkan Dinda melemparkan pendangan jijik pada laki-laki disebelahnya.


"Um, aku baru lolos seleksi minggu ini" ucap Donna.


"Ahahahaa.. mohon bantuannya ya" ucap Faruq ramah.


"Em, dress yang sama dengan milikku" ucap Tarisa begitu saja saat menyadari dress yang dipakai Dinda. Dinda balas menatap gadis didepannya dengan datar, mulutnya masih sibuk dengan loliglop.


"Eh.. Ano, eto wakil kapten bukan maksud Tarisa.." ucap Risma canggung.


"Namamu Tarisa?" tanya Dinda datar, Faruq yang berdiri disampingnya agak khawatir melihat Dinda menatap gadis didepannya seperti itu. Ia hafal sifat wakilnya itu, Dinda tak tahan saat melihat gadis lain yang lebih manis dari dirinya.


"Emm.. Dinda, apa kau mau permen lagi? Kurasa kita bisa mendapatkannya.." ucap Faruq yang mencoba mengalihkan perhatian wakilnya itu, namun Dinda melemparnya dengan loliglop.


"Aku tak bicara dengan mu"


Tarisa terdiam, kemudian ia mengangguk. Lalu tanpa disangka, Dinda tersenyum kearahnya.


"Aku Dinda" ucapnya sambil mengulurkan tangannya, mengajaknya berjabat tangan.


Tarisa dengan segera menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum. Lalu Dinda juga ikut tersenyum. Sedangkan Faruq menatap horror dengan keringat dingin yang mengucur deras.


'Dia takkan mencabiknya kan?'


***


Ditengah kota terlihat Mou sedang berjalan bersama kedua temannya, Iro dan Frans. Mereka bertiga tengah berjalan menuju kastil untuk melihat upacara penutup.


Diselingi tawa, mereka bertiga terlihat bersenang-senang dengan aura festival.


Mou menceritakan pengalaman lucunya saat menjalankan misinya belum lama ini, membuat Frans bahkan Iro ikut tertawa.


Hingga tiba di atrium, jalan utama kota makin dipadati para penduduk. Membawa atmosfer menyenangkan yang hanya mereka rasakan setahun sekali.


Disela-sela kemeriahan festival, tanpa peringatan Frans terjatuh. Sontak Iro dan Mou terkejut.


"Frans!!"


"Kau tak apa-apa?" tanya Iro memastikan, Frans menggeleng. Mou segera mengajak keduanya untuk duduk dikursi tepi jalan.


"Frans, ini minumlah dulu" ucap Mou sambil memberikan sebuah minuman.


"Ada apa Frans?"


Lagi-lagi ia menggeleng, kemudian tersenyum kearah mereka berdua. Mencoba menghilangkan kekhawatiran diwajah kedua temannya itu, walau ia tak bisa menghilangkan rasa nyeri dikepalanya saat ini.


Ada sesuatu yang mengganggunya, tapi ia tak tau apa itu. Kepalanya terasa bagai tersengat, panas, bagai baru saja dihantam sesuatu.


Ia menatap ke langit saat Mou mengoceh liar. Langit penuh bintang yang berkelip bagai menatap balik kearahnya.


"Aku sudah tak apa-apa, ayo pergi" ucap Frans.


***


Disisi lain, tepat diatas dinding perbatasan kota. Sosok berjubah hitam terlihat tengah duduk diatas mayat pejaga sambil memainkan belatinya, dibelakangnya puluhan penjaga tergeletak bersimbah darah.


Sosok itu menguap bosan dari balik tudungnya.


"Hahhh.. Apa tak ada yang menarik ya?" ucapnya sambil memainkan belatinya dengan bosan, menusukkannya berkali-kali ketubuh besar penjaga dikakinya.


"Kukira, ada yang bisa menghiburku ditempat ini, ternyataa..."


Jlebb! Dakk!!


Ia mendaratkan belatinya kemudian dengan kasar menginjaknya tepat kemata mayat penjaga dibawahnya.


"Membosankaaaaann~"


"Maafkan aku, kurasa pesta harus berakhir disini" sebuah suara membuat sosok itu sedikit terkejut, dibelakangnya kini berdiri Noey dengan pedang terhunus kedepan.


Mengetahui hal itu, sosok berjubah itu tertawa. Kemudian berdiri dari posisi duduknya.


"Khukhukhu!! Aku tak bisa merasakan hawa kehadiranmu hingga saat terakhir, kurasa aku sudah menemukan seseorang yang menarik" ucapnya sambil berbalik menghadap Noey, tudungnya merosot turun menampakkan mata merah yang menyeramkan dengan lidah yang menjulur bagai ular.


Belati dibawah kakinya terangkat secara sihir menuju genggaman tangannya. Ia menjilat darah yang menetes dari belati perak itu sambil menatap Noey penuh gairah membunuh.


Rambut coklatnya yang berantakan menempel dipipinya karena darah, ia melempar jubahnya ke sembarang tempat.


Noey mengernyit menatap sosok laki-laki didepannya. Menggenggam erat pedangnya.


"Siapa kau?"


"Coba tebak?" ucap laki-laki itu dengan suara parau.


Noey menaikkan alisnya.


"Orang aneh?" ucapnya asal dengan nada datar.


Sosok itu bergidik, tubuhnya bergetar sebelum kemudian melompat liar kearah Noey.


"Kau salaaaaaaahhhh!!"


***


Kembali ke Divisi Riset.


Ledakan tadi membuat ruangan itu berantakan, helaian perkamen berterbangan kemana-mana. Beberapa kuali terjatuh dari tempatnya dan menumpahkan isinya ke lantai.


"Ukh!" Lian bangkit dari posisi terjatuhnya, ledakan tadi membuatnya terlempar kebelakang, begitu juga dengan Alvian yang kini terlihat makin kacau.


Lian menatap kedepan, melihat Nia yang juga jatuh berlutut dengan nafas yang tersenggal, segera ia menghampirinya.


"Kau tak apa-apa?" tanyanya memastikan, Nia tak menjawab, beberapa bagian jubahnya terlihat sobek disana-sini. Nia melirik sebentar sambil mengangguk. Kemudian Lian mengedarkan pandangannya, mencari sosok Udzaa dan menemukannya dari balik debu tebal yang berterbangan.


"Fuhh!! Hampir saja" sosok Udzaa dari balik debu itu perlahan terlihat jelas, penuh debu dan kacau, terlebih lagi yang membuat Lian terkejut adalah sebagian tubuh Udzaa tengah dilahap api.


"Hei.." belum sempat Lian memperingatkan, Udzaa sudah melahap api yang menjilat tubuhnya, semua api itu masuk begitu saja kemulutnya membuat Lian tertegun.


"Kau memakan.."


"Benar-benar tak enak" ucapnya sambil melangkah mendekat.


"Ta-tapi..ah sudahlah, bagaimana keadaanmu?" tanya Lian.


Udzaa merenggangkan tubuhnya, membuat beberapa tulangnya berderak.


"Tak begitu baik sebenarnya" ucapnya.


Alvian bangkit dari posisi jatuhnya, mengibaskan jubahnya yang penuh debu. Kemudian berteriak gila melihat ruangannya kacau balau.


"Apa yang kau lakukan pada surga kuuu!!"


"Gero!" Errol mengerang dari bawah meja.


"Kau baik-baik saja?" tanya Udzaa kearah Nia yang terlihat amat lelah. Nia mengangguk singkat, kemudian ia beralih kearah Lian.


"Kurasa kita berhasil" ucapnya sambil menyodorkan sebuah Tiara yang kini terlihat berkilau, layaknya terbuat dari kristal murni.


"Apa yang sebenarnya terjadi tadi?"


Udzaa terdiam sebentar, mengingat apa yang baru saja terjadi. Sebuah sinar, lengkingan yang memekakkan telinga, kemudian kilasan aneh yang membuat dadanya sesak, lalu ledakan itu.


Ia segera menatap Lian.


"Aku juga tak mengerti, semua terjadi begitu saja" ucapnya cepat, menyembunyikan fakta tentang kilasan yang ia lihat.


"Tapi apapun itu, ledakan tadi cukup berbahaya, beruntung aku sempat menyerapnya, yaa walaupun tak sempurna" ucapnya sambil menunjukkan pedang besarnya yang kini punya retakan besar dibilah kristalnya.


"Apa-apaan itu, Candellion hingga retak seperti ini" ucap Lian sambil menatap pedang didepannya.


"Bahkan segel Kiso Boukutten.."


"Ikut hilang.." tambah Udzaa.


"Apapun itu.." ucap Nia yang kini berusaha untuk berdiri walaupun kakinya sedikit bergetar.


"Kurasa sekarang sudah aman, dan kita tau Tiara itu bukan sekadar Tiara biasa" ucapnya. Lian mengangguk setuju.


"Tak ada yang perlu kita khawatirkan saat ini, Tiara itu.. kurasa sudah murni, ledakan tadi mengahapus sihir hitamnya" ucap Udzaa menjelaskan.


"Dan juga, apapun yang kau lakukan tadi.. jangan sekali-kali menggunakannya lagi"


Nia tersenyum sinis.


"Ceh, jangan sok mengaturku"


"Dia benar, Nia.. " tambah Lian yang segera dipotong Nia.


"Tak perlu khawatir, aku hanya belum terbiasa menggunakannya" ucapnya segera.


Baru saja Lian ingin mengatakan sesuatu, sebuah suara memekik keras. Disusul dengan derap langkah kaki para penjaga yang berdatangan, menyerbu masuk ruangan.


"Maaf mengganggu Tuan Aldrich!" ucap seorang penjaga.


"Kita mendapat serangan!"


"Apa!?"


***


Drap drap drap!


Brakk!!


"Apa yang sedang terjadi!!" suara Lian menggelegar saat ia membuka pintu dan menyerbu masuk kedalam ruangan Aldrich.


Kevin ada disana bersama Bella.


"Sebuah serangan mendadak" ucap Kevin singkat.


"Jelaskan!" ucap Nia sambil berjalan tertatih keberanda diikuti yang lainnya.


"Aku tak tau pasti, semua terjadi begitu saja" jelas Kevin


"Ledakan besar terjadi diatrium, membuat setiap orang panik, kemudian entah darimana muncul ratusan Undead dari setiap penjuru kota" ucapnya menambahkan.


Nia menatap kedepan, dari beranda terbuka ini ia bisa melihat seluruh kota. Terdengar teriakan-teriakan dari para penduduk dibawah sana, dan bisa terlihat jelas, sekelompok makhluk buruk rupa, tak berkulit, dengan penampilan kacau mengepung setiap sudut kota.


"Sial! Apa-apaan ini!"


Drap drap drap!!


"Tuan Aldrich!! Noah dari Divisi Ketiga melapor!" ucap sosok wanita yang baru saja datang terburu-buru, beberapa luka terlihat terbuka ditubuhnya.


"Lanjutkan" ucap Nia tanpa menoleh.


"Terjadi kekacauan dimana-mana, banyak penduduk yang terluka, perkiraan musuh menggunakan Undead tingkat menengah sebagai kaki tangannya, ohookk!!" ucapnya yang tiba-tiba terbatuk, darah segar menyembur dari mulutnya.


Lian menatap luka wanita itu.


"Racun, kau terkena racun.." ucap Lian kemudian menoleh kearah dua pengawal diujung ruangan.


"Kalian berdua, bawa dia ke Divisi Medis!" perintah Lian.


"Tu-tunggu Tuan Aldrich.. Ohookk!!" darah kembali menyembur dari mulut wanita itu.


"Kau sedang sekarat, jangan banyak bicara, kalian berdua cepat bawa dia!!" perintah Lian dengan keras.


Namun wanita bernama Noah itu menggenggam baju Lian dengan keras, wajahnya sudah pucat, tapi ia menatap Lian dengan sisa tenaganya.


"Tuan Aldrich.. Kapten.. Ohookk!! Ka-kapten No-Noey Ohookk! Di.. Gerbang.. U..tama.."


Setelah mengatakan hal itu Noah tak lagi bicara, matanya menatap kosong, kemudian darah menyembur hebat dari mulutnya, memercik diwajah Lian, kemudian genggaman wanita itu di baju Lian mengendur.


Nia memejamkan matanya, ia mengutuk dirinya yang tak bisa bergerak bebas saat ini. Dengan kuat ia memukul pembatas beranda hingga retak.


GRAKKKK!!


"Kevin!" perintah Nia dengan nada tinggi, Kevin menoleh, siap dengan segala perintah yang diserahkan padanya.


"Nyalakan tanda bahaya tingkat 3, aku mau para kapten dari tiap Divisi membersihkan mayat-mayat hidup brengsek itu!! Prioritaskan untuk melindungi para penduduk!! Amankan area disekitar gerbang utama!!" perintah Nia yang segera dipatuhi oleh Kevin.


"Udzaa!!" ucapnya lagi dengan tatapan tajam kedepan.


"Saat yang tepat untuk mengamuk" ucap Nia lagi.


Udzaa mengangguk mengerti.


"Errol, ayo pergi!" ucapnya, lalu melebur menjadi kepulan asap putih yang kemudian melesat pergi disusul Errol yang terbang dibelakangnya.


***


Sementara itu digerbang utama, pertarungan sengit sudah hampir berakhir.


Terlihat sosok Noey yang terjatuh berlutut dengan tubuh penuh luka, pelindung bahu sebelah kiri sudah terlepas, menampakkan luka besar disana, bahkan ia tak lagi bisa bergerak karena tempurung lututnya yang pecah serta racun pelumpuh syaraf yang kini menyebar di pembuluh darahnya.


Beberapa luka sayatan juga menghiasi wajahnya, segaris darah meluncur turun dari pelipisnya, menetes jatuh melalui dagunya.


Disekitarnya, tubuh para penjaga serta petarung dari berbagai Divisi tergeletak tak bernyawa dengan luka terbuka. Menguarkan bau amis darah keudara.


Noey, setidaknya sudah bertarung cukup lama, namun lawannya tak sedikitpun terlihat lelah. Malah semakin bergairah.


Rasa sakit dibahunya tak sebanding dengan apa yang kini ia rasakan. Melihat teman-temannya dipermainkan hingga mati seperti itu, membuatnya ingin meledak.


Namun bagaimanapun ia melawan, tak ada satupun dari serangannya meninggalkan luka berarti. Satu hal yang bisa ia pastikan kini.


Laki-laki didepannya ini, bukan manusia.


Dengan nafas tersenggal ia menatap lawannya.


"Siapa kau sebenarnya?"


Laki-laki dihadapannya menyeringai gila, menatapnya dengan tatapan penuh hasrat membunuh.


"Menarik sekali.. kau bisa bertahan sampai sejauh ini.." ucap laki-laki itu bergidik senang. Layaknya menemukan sesuatu yang amat menyenangkan.


"Kau gila" ucap Noey tajam.


Laki-laki itu hanya tertawa, tertawa keras dan makin keras. Kemudian berhenti tiba-tiba sambil menatap Noey dengan sendu.


"Begitu ya.." kemudian ia tertawa lagi.


Tiba-tiba bantuan datang, beberapa penjaga menyerbu laki-laki itu bersama-sama.


"Hentikaaann!!" teriak Noey, tapi terlambat, tak butuh waktu lama semua penjaga itu tumbang.


"Hentikaaaann!!" tiru laki-laki itu dengan nada mengejek, kemudian tertawa. Mengangkat salah satu penjaga yang belum mati dikakinya.


"Khukhukhu.. Sudah malam, bukan kah lebih baik tidur?" ucapnya diselingi teriakan memelas penjaga itu, sedangkan Noey benar-benar tak bisa bergerak dengan tempurung lututnya yang pecah itu.


"Kenapa? Tak bisa terpejam?" ucap laki-laki itu masih bermain dengan penjaga yang makin merintih pilu.


"Kalau begitu, biar kubantu" ucapnya dengan suara bergetar sambil menusukkan belatinya kemata penjaga itu.


Darah menyembur deras disusul teriakan pilu sang penjaga, bersahutan dengan tawa laki-laki itu. Noey hanya meringis ditempatnya, memaksa tubuhnya untuk bergerak, namun racun ditubuhnya benar-benar telah melumpuhkan syarafnya.


"Kau ********!!" raung Noey, membuat laki-laki itu mengalihkan pandangannya.


Ia melepaskan penjaga yang sudah mati itu dari tangannya, membiarkannya terjatuh begitu saja.


Laki-laki itu menatap Noey. Ekspresi nya berubah, tak ada lagi tawa dan seringai diwajahnya, kini ia menatap tajam kearah Noey.


"Kurasa, aku sudah tak tertarik lagi padamu" ucapnya sambil melangkah kearah Noey. Darah menetes dari belati perak ditangannya.


Laki-laki itu menyeringai tepat saat ia berada didepan Noey.


Mengangkat belatinya tinggi-tinggi.

__ADS_1


"Selamat... malaaaaaaaaaaamm~"


***


__ADS_2