
Acara penutupan festival yang seharusnya berakhir meriah, kini menjadi malapetaka besar. Segerombolan Undead yang entah datang darimana memporak-porandakan seisi kota.
Menara Atrium yang menjulang tinggi kini hancur berantakan, menyisakan kobaran api yang menjalar ke bangunan lain disekitarnya. Para prajurit kerajaan dari berbagai divisi mencoba mengevakuasi para penduduk, menjauhkan mereka dari serangan Undead.
Kobaran api membesar saat hembusan angin malam menerpa, membuatnya menjalar ke bangunan lain, memberikan kerusakan yang lebih besar.
Tak jauh dari sana, segerombolan besar Undead tengah mengepung para prajurit kerajaan yang tengah mengamankan para penduduk, menyudutkan mereka diantara puing-puing Atrium.
Salah satu Undead dengan tubuh besar menerjang maju, mengangkat senjata besarnya, mencoba mengayunkannya kearah para penjaga.
Set!! Set!!
Undead besar itu roboh sebelum melancarkan serangannya, tubuhnya terpotong kemudian berdebam ketanah.
Seseorang datang, laki-laki berzirah perak dengan pedang ditangannya. Sebuah kain merah menutup kedua matanya yang buta.
"Ketua!!" teriak seorang prajurit memperingatkan. Laki-laki yang dipanggil ketua itu menoleh kebelakang tanpa melihat, menyadari serangan lain yang sedang mengarah padanya.
Gerombolan besar Undead menyerang bersamaan, namun dengan lincah laki-laki itu berasil menghindar, menyerang balik, menumbangkan beberapa Undead yang meraung, jatuh berdebam ketanah kemudian melebur menjadi abu. Namun gerombolan besar lainnya datang membantu, tak ada habisnya.
"Kita harus segera pergi dari sini" ucap sang ketua memberikan perintah, ketika ia merasakan kedatangan Undead lain. Hal ini membuatnya sedikit lengah, membuka celah bagi serangan para Undead kearahnya.
Namun secara tiba-tiba, muncul genangan air yang seketika membeku, memadat menjadi es runcing yang segera menghujam tubuh para Undead, membuat mereka jatuh seketika dengan tubuh terbelah dua.
Beberapa penduduk serta prajurit disana terkejut, sesaat kemudian genanan air itu memadat, mewujud menjadi sosok gadis bersurai biru, ia menoleh sedikit kebelakang, kearah kelompok prajurit yang masih mencoba melindungi para penduduk.
"Wakil Kapten, Syifa!!" Ucap salah satu prajurit disana, mencoba melangkah mendekat, namun beberapa Undead kembali menerjang maju, melompat kearahnya.
Syifa, dengan cepat mengayunkan tangannya, membuat sebuah tombak es lain yang kembali menghujam makhluk itu.
"Cepat pergi ketempat lain, biar aku yang mengurus makhluk ini" ucap Syifa memberi perintah.
Mengerti akan perintah yang disampaikan, para prajurit mulai bergerak mundur, memandu para penduduk ketempat aman.
Tapi para Undead yang seakan mengerti jika mangsanya sedang berusaha melarikan diri, meraung keras, kemudian berlari menerjang.
Syifa menatap gerombolan Undead yang tengah berlari kearahnya, ia merentangkan tangan membuat jalur genangan air yang membatasi dirinya dengan para Undead, kemudian kembali menyerang mereka dengan tombak-tombak es miliknya.
Ketua prajurit yang semula terdiam kini segera membantu Syifa, ia menerjang barisan Undead yang datang dari arah berlawanan, memberikan jalan untuk para penduduk.
Bala bantuan datang, menerobos paksa pertahanan air milik Syifa hingga gadis itu melompat mundur.
Kemudian puluhan anak panah melesat cepat, menancap tepat dikepala setiap Undead yang bergerak maju, meledakkan mereka menjadi serpihan debu yang berterbangan.
Syifa menoleh kearah datangnya anak panah itu.
Tepat diatas beranda pertama Atrium, Zayn berdiri dengan busur ditangannya.
Tak banyak bicara, Syifa kembali maju menghabisi Undead yang tersisa. Sedangkan Zayn membantu para prajurit melindungi penduduk dengan panahnya.
"Segera pergi ke kastil.." ucap Zayn sambil tetap membidik mayat hidup yang mencoba mendekat.
"Yoda, pimpin mereka kesana" ucapnya lagi pada laki-laki dengan penutup mata itu.
Yoda menangguk mengerti, ia segera memimpin pasukannya menuju kastil sementara Zayn dan Syifa berhasil berusaha menghentikan serangan Undead.
"Makhluk menjijikkan" desis Syifa yang kemudian menendang salah satu Undead yang mendekat.
"Tak ada habisnya.."
Zayn melompat turun dari beranda Atrium, membantu wakilnya itu, menumbangkan beberapa Undead dengan belatinya.
"Benar-benar merepotkan!"
Disaat itu sebuah asap putih melesat diatas mereka, diikuti Errol yang terbang dibelakangnya.
Syifa melihatnya melesat cepat kearah gerbang utama.
"Itu pasti Udzaa.." ucap Zayn yang tetap fokus pada pertarungannya. Ia berhasil memukul mundur Undead yang datang.
"Kurasa ada hal menarik di gerbang utama"
"Haruskah kita kesana? Aku merasakan Cloe yang kuat digerbang utama" tanya Syifa sambil membekukan 5 Undead sekaligus.
Zayn tersenyum miring, mendengus kemudian meledakkan Undead yang tersisa menjadi abu.
"Kurasa acara utamanya ada disana, pasti Nia sudah memberinya izin untuk mengamuk.." ucap Zayn sambil menyimpan kembali busurnya.
"Lebih baik, serahkan saja padanya.."
***
Sementara itu digerbang utama, Noey terdesak, lawannya kali ini tak bisa diperkirakan. Dirinya hampir mati jika saja seseorang tak datang membantunya.
Trang!!
"!!" Sosok laki-laki berambut cokelat itu terkejut saat belatinya yang hampir menyentuh mata Noey, ditahan oleh sebuah lolipop.
"Angkat kembali mainan mu itu, atau kuhancur leburkan bersama mu" Ucap gadis kecil bersurai coklat yang muncul secara tiba-tiba.
"Hmm?? Begitukah??" Sosok itu menaikkan alisnya, tangannya bergetar saat mencoba untuk memperkuat tikaman belatinya diatas lolipop itu.
Dinda menatap sosok itu dengan tajam, membuat laki-laki itu sedikit tersentak dan segera melompat mundur.
"Yaa begitu lebih baik.." Ucap Dinda sambil menyeringai tipis, kemudian beralih menatap Noey yang masih tak bisa bergerak ditempatnya.
"Bagaimana bisa kau jadi selemah ini hanya dalam beberapa tahun?"
Noey mendecih, tak berniat berkomentar.
"Berhati-hatilah dengan orang itu, belatinya beracun, sejenis racun yang bisa melumpuhkan syaraf.." Ucap Noey kemudian.
Dinda memicingkan matanya kearah laki-laki itu. Kemudian menatapnya tajam.
"Hoo, pantas saja kau kewalahan" Dinda maju beberapa langkah kedepan, melirik Noey dari ekor matanya.
"Biar kuurus dari sini" Ucapnya lagi sambil kemudian berbisik pelan, merapalkan sebuah mantra.
Kemudian secara serentak muncul sejumlah bayangan hitam dari balik tubuhnya, meluncur lurus bagai tentakel, menghujam kearah sosok laki-laki didepannya.
Sosok itu berhasil menghindarinya, namun bayangan-bayangan itu terus mengejarnya, menghujamkan ujungnya yang setajam tombak, menghancurkan pijakan yang ditinggalkan laki-laki itu.
"Heh! Hanya ini kemampuan mu??" Ucap laki-laki itu meremehkan, ia bergerak kesana-kemari menghindari serangan Dinda dengan mudah.
"Cihh!!" Dinda menambah kecepatan bayangannya, berusaha menangkap laki-laki itu, hingga ia terpojok disudut dinding. Namun bayangan-bayangan milik Dinda kehabisan waktu, memudar dan kemudian menghilang.
"Cih.. cukup main mainnya, aku tak punya waktu untuk gadis kecil sepertimu" Ucap laki-laki itu sambil melemparkan belatinya lurus kearah Dinda, kemudian merapalkan mantra yang membuat belati yang ia lemparkan semakin cepat.
Dinda tak sempat menghindar, namun Frans datang tepat waktu, membuat sebuah penghalang yang mengeluarkan belati itu dari jalur lemparannya.
"Heh.. bantuan lagi ya.." Ucap laki-laki itu sambil menyeringai. Ia menjulurkan tangannya kedepan memanggil kembali belati yang ia lemparkan tadi. Namun sesuatu terjadi. Sebuah lingkaran sihir secara tiba-tiba terbentuk tepat ditempat ia berdiri, memancarkan sinar yang kian lama makin menyilaukan.
"!!!"
DUARRR!!
Sebuah ledakan terjadi di atas dinding pembatas gerbang utama, menguarkan asap hitam ke udara. Dari dalam kepulan asap yang membumbung tinggi dikegelapan malam, laki-laki itu melompat keluar. Jubah hitamnya sudah robek disana-sini karena ledakan, menyisakan sosok laki-laki dengan tubuh penuh luka, rambut coklatnya terlihat lebih berantakan dibandingkan sebelumnya, mata merahnya membara terbakar gairah aneh yang mengalir keseluruh tubuhnya. Pendaratan yang dilakukannya tak cukup mulus, sosok itu menabrak dinding dibelakangnya dengan bunyi mengerikan. Walaupun begitu seringai gila diwajahnya tidak hilang.
"Khukhu.. Hebat sekali" sosok itu terkekeh, ia mencoba untuk berdiri namun Iro mewujud tepat dihadapannya, melakukan serangan cepat hingga sosok itu tak punya kesempatan untuk terkejut.
Sosok itu tak terlihat seperti tandingan bagi Iro. Kapten Divisi Kedelapan itu menghajarnya habis-habisan dengan kecepatan luar biasa hingga laki-laki itu tak dapat bergerak sedikitpun. Iro menyerbunya bagai hewan liar, mengayunkan bilah hitam miliknya kesemua bagian tubuh lawan yang bisa ia capai, meninggalkan luka baru diatas tubuhnya yang memang sudah terluka cukup parah karena ledakan pertama. Namun semua luka yang dibuat Iro sesaat lalu segera menyembuhkan diri, memberi banyak ruang bagi tubuhnya untuk dilukai kembali.
Iro mengakhiri serangannya dengan membentuk segel tepat didada musuhnya, meninggalkan tanda kehitaman yang mulai terbakar. Iro melompat mundur, menjauh dari laki-laki yang masih tak bisa bergerak ditempatnya dengan seringai gila yang masih ia tunjukkan seolah ia menyukai semua hal yang dilakukan Iro padanya.
Tanda kehitaman yang ditinggalkan Iro terbakar habis, membuat semua luka ditubuh laki-laki itu sembuh seketika, membuatnya cukup heran dengan hal itu. Semua lukanya sembuh, bahkan luka dan rasa sakit karena ledakan yang pertama juga ikut menghilang. Namun tak lama setelah itu sesuatu terjadi, nyeri tak terelakkan muncul ditempat tanda kehitaman yang dibuat Iro sebelumnya, kian lama menjalari tubuhnya bagai aliran listrik, terus membesar mengubah rasa nyeri diawal menjadi rasa sakit yang tak tertahankan. Semua luka ditubuhnya yang telah menghilang, kini kembali muncul dalam bentuk rasa sakit yang luar biasa membuat setiap otot ditubuhnya mengejang, tiap hembusan nafasnya terasa bagai kematian. Darah menyembur dari mulutnya, tubuhnya kembali terluka, sayatan-sayatan yang tadi menghilang kembali muncul namun terasa berkali lipat menyakitkan, dari tiap-tiap luka itu mengeluarkan darah hingga kemudian tubuhnya benar-benar bermandikan oleh darahnya sendiri.
Sementara itu Iro berusaha memastikan keadaan Noey. Racun adalah keahliannya, namun Iro terkejut saat menyadari bahwa racun yang ia hadapi kini tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Bahkan dalam mimpi sekalipun, aku tak pernah melihatnya" jelas Iro sambil mencium aroma racun yang ia ambil dari tanah dengan ujung pedangnya. Cairan berwarna gelap itu mengeluarkan sejumlah uap panas bagai lava. Iro segera membuangnya kembali.
Mou melompat datang, ia bergabung dengan teman-temannya dan terkejut saat menyadari cukup banyak penjaga yang tewas. Mou menatap sosok paling mengerikan diantara mayat-mayat itu, sosok diujung lain yang tubuhnya penuh dengan darah, terduduk diam ditempatnya.
"Iro! Kau menggunakan kutukan itu lagi!? Sudah kubilang berulang kali, itu benar-benar mengerikan!"
Iro tak berniat menjawab. Frans tengah mencoba berbagai hal untuk setidaknya memperlambat penyebaran racun ditubuh Noey. Ia cukup terkejut melihat keadaan Kapten Divisi Pertama itu, Iro menyakini racun yang digunakan laki-laki itu adalah jenis racun yang menyerang syaraf, merusak setiap sel musuhnya hingga akhirnya menghentikan fungsi jantung. Frans juga bisa membaui cukup banyak racun ditubuh Noey, melihat kondisinya saat ini membuat Frans cukup takjub ia masih bisa bertahan.
"Terlalu banyak racun" ucap Frans, pendar keemasan ditangannya memudar setelah memeriksa keadaan Noey. Noey sendiri sudah sama sekali tak bisa bergerak, ia bernafas dengan pendek, dadanya terasa nyeri.
"Bahkan lebih banyak daripada semua prajurit yang tewas, gelar wanita terkuat se-Edenteria mungkin memang cocok untukmu"
"Aku tak tau harus merasa bangga atau apa.." ucap Noey lemah, Frans membaringkannya dilantai.
"Bisa kau tangani?" tanya Dinda. Ia baru selesai memindahkan tubuh para prajurit yang telah tewas ketempat lain.
"Ya, kurasa bisa.." ucap Frans tapi nada bicaranya tak terdengar yakin, ia bangkit dari posisi berlututnya. Noey berusaha bangun namun Frans melarangnya, mengatakan bahwa mungkin racun akan menyebar lebih cepat jika ia banyak menggerakkan tubuhnya. Iro sudah mengatakan bahwa itu racun yang tak pernah dilihatnya, itu berarti akan cukup sulit untuk menghilangkannya dari tubuh Noey, tapi bukanlah sebuah hal yang mustahil.
"Akan butuh sebuah operasi besar" ucap Frans lagi.
"Oh ya benar, sebuah operasi besar adalah hal yang sangat kubutuhkan" ucap Noey lemah, ia mencela dirinya sendiri yang kini tak bisa bergerak sedikitpun. Rasa nyeri didadanya mulai membuatnya gila, kakinya kesemutan, terasa linu jika digerakkan.
"Yah setidaknya orang gila itu sudah berhasil disingkirkan" Dinda baru saja selesai mengatakannya saat sebuah belati melesat dengan cepat kearahnya, menancap tepat disisi lehernya. Teman-temannya terkejut, menoleh kearah belati itu berasal, menatap lurus kearah laki-laki gila yang baru saja bangkit kembali setelah menerima banyak serangan fatal ditubuhnya.
Sementara itu Dinda terpelanting kesamping karena tenaga lemparan yang cukup kuat, ia menghantam dinding dengan keras. Pecahan dinding menerbangkan sekumpulan debu keudara, lalu terhempas hilang menampakkan sosok Dinda diantara cekungan yang terbentuk karena benturan tadi.
"Dinda!!" Frans berlari kearah Dinda hanya untuk mendapati bahwa temannya itu terluka cukup parah. Belati itu masih menancap dilehernya, namun Dinda telah berubah hampir sepenuhnya.
__ADS_1
Kini ia terlihat mengerikan. Setengah tubuhnya terbakar mengubah kulit porselennya menjadi gelap, mata kirinya menghitam sempurna tanpa pupil, sesuatu mencuat dari sisi kiri dahinya membentuk tanduk sepanjang ketiga ruas jari telunjuknya. Dinda meringis menahan nyeri dilehernya, giginya bergemelutuk memperlihatkan sebuah taring tajam disana.
Frans cukup terkejut melihatnya, ini pertama kalinya ia melihat Dinda dengan wujud itu sejak perang besar sepuluh tahun lalu. Tekanan Cloe hitamnya cukup kuat untuk membuat Frans tertegun sebentar. Sementara itu Dinda mencabut belati dilehernya dengan kasar, membuat sejumlah darah keperakkan menyembur keluar.
"Aku tak apa-apa, ugh" ucapnya dengan suara parau. Ia berusaha menutupi luka dilehernya dengan tangannya.
"Tak perlu khawatirkan aku, aku bisa mengurusnya, sebaiknya kau bantu yang lain" ucapnya lagi sambil mengerling kearah lain.
Musuh mereka, laki-laki gila itu entah bagaimana masih hidup. Padahal serangan Iro harusnya mengutuk laki-laki itu, Frans tak bisa membayangkan berapa banyak luka yang diterima orang itu. Tapi kini Iro kembali berhadapan dengannya, dibantu Mou. Namun lawan mereka tak seperti manusia, laki-laki itu terus bergerak walaupun tubuhnya penuh luka yang terbuka, melelehkan darah kesetiap bagian tubuhnya. Sesaat kemudian Iro dan Mou terpukul mundur.
"Ugh, ini mulai menyenangkan" ucap laki-laki gila itu sambil menyingkirkan darah dari wajahnya. Ia mengernyit nyeri, ia mencoba menyembuhkan dirinya sendiri, namun usahanya sia-sia, luka-luka yang ia dapat kembali lagi.
"Tebakkanku ini sebuah kutukan eh?"
Iro mencoba mengangkat kepalanya yang sempat terbentur saat ia jatuh tadi. Ia menoleh kearah Mou yang juga terlempar tak jauh dari tempatnya berada. Mou terluka dikepala, darah mengalir dari dahinya memaksa ia menutup mata kirinya agar tak kemasukan darah.
"Bagaimana bisa kau masih hidup? Siapa kau sebenarnya?"
Laki-laki itu menunjukkan seringai gila yang biasa. Penampilannya kini terlihat lebih menyeramkan dari pada para Undead yang tengah berkeliaran dibawah sana. Ia praktis tak lagi mengenakan pakaian yang sepertinya telah dilepas begitu saja, tubuhnya penuh luka juga darah yang kini malah terlihat seperti jubah yang menutupi tubuhnya. Celana hitamnya robek disana-sini, kakinya juga tak lebih baik daripada tubuhnya. Walaupun begitu tak ada tanda-tanda kesakitan yang seharusnya berlangsung hingga ia mati, setidaknya setelah menerima kutukan Iro.
"Kutukan yang cukup mengerikan untuk ukuran gadis cantik sepertimu" ucapnya pada Iro.
"Intinya adalah memberi luka sebanyak mungkin pada musuhmu, tak peduli luka itu kecil atau besar, karena setelah segelmu itu tertanam ditubuh musuh, ia akan menderita rasa sakit yang luar biasa. Semua lukanya akan menyembuhkan diri dengan cepat hanya untuk kembali terbuka dengan rasa sakit yang makin besar, hingga berakhir pada kematian" laki-laki itu tertawa. Iro berhasil berdiri begitu juga dengan Mou yang siap menyerang kembali.
"Untuk ukuran seorang laki-laki, kau terlalu banyak bicara ya" Mou bergerak maju menerjang laki-laki itu sambil merapalkan mantra. Setengah lusin lingkaran sihir terbentuk disekelilingnya selagi ia berlari. Rambutnya berkibar karena aura sihir, ia melompat langsung kearah laki-laki itu sambil melepaskan rentetan tembakan sihir.
Laki-laki itu menghindari semua serangan Mou, namun tak lama setelah Mou menambah kecepatan tiap tembakan sihirnya hingga ratusan kali lipat, mengubur laki-laki itu dengan lesatan peluru sihir yang berdesing mengerikan. Iro melesat menyusul langkah Mou, ia melepaskan sihir ledakan lain sebelum laki-laki itu sempat menangani serangan Mou. Ledakan kembali terjadi dengan skala yang cukup besar, cukup untuk membuat mereka kembali terpental kebelakang.
"Kau tak apa-apa?" tanya Iro pada Mou yang ada disampingnya, gadis itu terlihat cukup kelelahan karena telah mengeluarkan sihir yang cukup kuat. Mou bernafas pendek-pendek, jelas sekali lelah.
"Tak pernah menggunakannya selama bertahun-tahun" ucapnya pada Iro, matanya berkunang-kunang, ingin sekali ia memuntahkan makan malamnya saat itu, namun bukan pilihan bagus.
"Kurang latihan kurasa"
Ledakan mereda, angin menyapu debu yang berterbangan, memperlihatkan sosok dibaliknya. Sesuatu yang takkan pernah terpikirkan oleh mereka, namun nyata. Laki-laki itu masih berdiri disana dengan luka yang sepenuhnya sembuh. Tak ada lagi luka, tak lagi darah. Ia sepenuhnya terlihat seperti baru saja terlahir kembali.
"Bagaimana bisa?"
Laki-laki itu terkekeh dengan suara yang menurut Mou cukup menyeramkan. Angin malam berhembus tak membantu, memberi kesegaran kepada lawan mereka yang entah bagaimana selalu lolos dari serangan-serangan yang mereka lancarkan.
"Kurang kuat kurasa, orang yang sungguh beruntung" komentar Mou.
"Kali ini kita coba lebih kuat" Iro mengangguk setuju. Namun Frans maju mencegah mereka melancarkan serangan.
"Jangan serang dia lagi, itu sia-sia" ucap Frans, yang jelas membuat kedua temannya bingung. Frans menjelaskan sesuatu tentang hal yang disampaikan Dinda. Ia berpendapat bahwa lawan mereka ini bukan manusia biasa, dan mereka menyetujuinya mengingat serangan kutukan Iro tak mampu membunuhnya.
"Ia menyerap kehidupan" kata-kata Frans jelas tak bisa dicerna begitu saja. Namun laki-laki itu kembali tertawa.
"Kau cukup pintar" laki-laki itu melangkah maju. Ia membungkuk, menyentuh mayat seorang prajurit yang ia bunuh tepat dibawah kakinya. Kemudian mayat itu meleleh, atau lebih tepatnya menguap meninggalkan seonggok kerangka bersih manusia seolah ia telah lama mati.
Ketiganya menatap tak percaya, Dinda bergabung bersama mereka, terlihat cukup kepayahan, tubuhnya berusaha menekan wujud lain dari dirinya yang sepertinya cukup sulit. Laki-laki itu melihatnya dengan cukup terpesona.
"Ahh.. seorang Dhampire? Jarang sekali aku menemuinya"
"Hati-hati, ia bisa menyerap Cloe milik orang lain. Tak peduli korbannya hidup atau mati" jelas Dinda yang tubuhnya kembali seperti semula. Seorang gadis manis dengan mata yang tajam. Ia terengah-engah sambil menahan rasa sakit yang menjalar dari sisi lehernya. Lukanya masih menganga, membentuk sebuah gua yang cukup besar disisi lehernya. Alih-alih darah, sesuatu berwarna perak mengalir cukup deras dari sana.
"Aku benci mengakuinya, tapi kemampuannya hampir sepertiku"
"Sepertimu? Jangan bercanda, kau bahkan tak sama denganku" ucap laki-laki itu, matanya yang semerah darah menatap dengan tajam, penuh gairah membunuh. Ia kembali berdiri, membuatnya terlihat kembali bugar setelah menyerap Cloe mayat prajurit itu.
"Seorang Dhampire lemah menyamakan dirinya dengan ku.. oh itu sebuah penghinaan bagiku" ia mengeluarkan cukup besar Cloe, auranya begitu kuat bagai angin kencang yang keluar dari tubuhnya.
"Tekanan Cloe yang menyakitkan" Mou bergumam tak jelas sambil berusaha menahan kakinya tetap berada ditanah. Ketiga temannya yang lain juga tak kalah kepayahan, berusaha bertahan ditempat mereka berdiri.
"Teman-teman, kurasa kita butuh rencana"
"Aku benci mengatakan ini sebenarnya" Iro berbisik pelan, menarik perhatian ketiga temannya itu. Ia tak pernah membayangkan akan mengatakan hal ini. Tapi sepertinya tak ada pilihan lain.
"Kita harus menahannya sampai bantuan tiba, Noey tak bisa bergerak, dan kita tak bisa melawannya sendiri, tapi kurasa kita berempat bisa sedikit menahannya"
Dinda menyuarakan persetujuannya begitu juga dengan Frans.
"Kurasa hanya itu pilihannya"
"Kalian ingin melawanku?" laki-laki itu kembali tertawa, kini lebih keras seolah ingin mengabarkan bahwa pilihan mereka adalah kebodohan terburuk. Mata merahnya yang biasa menatap tajam kini bergerak-gerak liar. Gairah membunuh kembali mengalir dipembuluh darahnya.
"Aku akan benar-benar membunuh kalian!"
"Kau benar-benar banyak bicara, majulah jika kau benar laki-laki!" ancam Mou. Dinda menatap kearahnya dengan tatapan 'apa kau benar-benar mau mati?'.
"Apa?"
"Yeah, itu lah yang kita butuhkan saat ini.. terima kasih untuk nona tak bisa masak disebelah sana" ucap Dinda dengan nada kesal. Hal yang seharusnya cukup membuat Frans tertawa, namun bukan saatnya untuk itu.
Laki-laki itu merapal sebuah mantra yang cukup panjang. Selagi ia merapalnya sebuah lingkaran sihir yang cukup besar terbentuk dihadapannya. Dari warna lingkaran sihir yang terbentuk mereka cukup yakin itu adalah sebuah sihir hitam, dan melihat ukurannya yang mungkin bisa membuat laser sihir yang cukup kuat.
"Mungkin sedikit terlambat, tapi kurasa aku akan memperkenalkan diri, sebagai bentuk penghargaan sebelum kalian mati tentunya" ucapnya dengan seringai menyeramkan.
Lingkaran sihir itu akhirnya selesai, aura tak mengenakkan menggantung diudara, angin berhenti berhembus, bahkan keributan dikota akibat serangan Undead terasa berdenyar menghilang.
Frans berbisik merapal mantra. Ia tak berniat menggunakannya, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia berniat membuat perisai cahaya yang menurutnya akan melindungi mereka dari serangan, hanya saja ia tak cukup yakin. Disisi lain Mou sepertinya juga memikirkan hal yang sama, berusaha merapal sihir pertahanan yang menurut Frans cukup besar. Namun sebelum sempat terbentuk, lingkaran sihir milik Mou menghilang begitu saja, membuatnya terkejut. Frans juga merasakan hal yang sama, pendar cahaya ditangannya menghilang bagai ditelan malam.
"Ahh, itulah perbedaan besar yang kusebutkan tadi, nona Dhampire" ucap laki-laki itu yang membuat Dinda menatap kesal.
"Dan ingatlah ini, aku adalah Zach pion terbaik dewa kegelapan" serunya penuh kebanggaan. Kemudian ia meledakkan sihir miliknya yang melesat cepat kedepan. Zach menyukai bagian ini, dimana ketakutan mengalir keluar bagai sungai dari manusia tepat sebelum kematian menjemput. Dan kini ia menyeringai gila.
Frans menatap tajam kearah Zach, mengobarkan tantangan yang bagai menusuk mata. Ia bersiap menyambut kematian, jika memang itu takdirnya, tapi jauh didalam hatinya ia tak berharap takdirnya ikut campur untuk saat ini. Ia sibuk mengirimkan berbagai kutukan pada laki-laki didepannya sampai ia melihat sekelebat bayangan melesat, bergerak cepat mendindingi dirinya serta teman-temannya dari maut.
Noey bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Ia toh akan mati karena racun, cepat atau lambat. Tapi ia tak sudi mati tanpa berbuat apapun. Ia berhasil memerintahkan tubuhnya bergerak demi melindungi teman-temannya. Sudah cukup sulit bergerak dengan saraf yang rusak, ia tak lagi bisa mengeluarkan Cloe sedikit pun, praktis ia hanya merentangkan tangannya, menerima serangan besar Zach tanpa perlindungan apa-apa.
Frans berteriak. Tepat saat ketiga temannya menerjang maju, berusaha menolong Noey. Namun semua terlambat, ledakan besar terjadi, memenuhi gelapnya malam dengan kegelapan lain, bagai selimut yang terbuat dari udara hampa sewarna nebula. Senyum Noey adalah hal terakhir yang bisa mereka lihat sebelum kehampaan membutakan mata mereka.
***
Keadaan kota masih buruk. Edenteria tak pernah terlihat seperti ini sebelumnya. Kebakaran besar masih terus terjadi di berbagai tempat, sepertinya para Undead selalu menyempatkan diri untuk setidaknya membakar sebuah bangunan sebelum mereka melewatinya. Kebakaran terbesar terlihat di Atrium tepat ditengah-tengah kota, sebagian berandanya telah dilahap api yang kemudian menyambar kebagian lain. Angin malam bertiup tak membantu, menghembuskan lidah api yang malah semakin besar. Beberapa penduduk telah diungsikan kebagian kastil atau dibawa ke bangsal rumah sakit.
Bagian Atrium berusaha dikendalikan oleh Kapten Divisi Keenam bersama wakilnya, walaupun begitu pasukan Undead terus berdatangan dari segala arah, bagian Atrium yang merupakan pusat kota menjadikan tempat itu dapat dicapai dari berbagai arah, hal itu tak terlalu menguntungkan melihat sekelompok besar Undead telah sampai disana.
Zayn dan Syifa dipaksa mudur oleh gerombolan Undead, dua manusia melawan kelompok Undead berjumlah ratusan bukanlah rencana yang bagus. Ditambah serangan mereka yang sama sekali tak bisa mengurangi jumlahnya, karena setiap beberapa Undead terbuyarkan menjadi debu, selusin dari mereka datang dari belakang, mendorong kawanan didepannya agar merangsek maju. Karena itu keduanya hanya bisa bertahan, setidaknya mereka sepakat untuk tidak membiarkan gerombolan itu melewati jalan utama menuju kastil.
Dilain pihak para penyembuh bekerja lembur di bangsal rumah sakit yang terletak dua blok dari Atrium. Bagian paling utara di Edenteria itu juga dipenuhi segerombolan Undead yang mencoba masuk, menerobos barikade kawat berduri yang telah dipasang disekeliling bangsal rumah sakit. Divisi Lima dan Sembilan memegang kendali dibagian ini, Iqbal dan pasukannya berhasil menahan para Undead untuk tetap berada dibalik barikade. Sementara wakilnya Meiza, memimpin para penyembuh dari kedua Divisi dalam menangani setiap orang yang terluka. Ia memimpinnya sendiri karena Kiruru harus membantu penyembuhan diarea kastil.
Namun berbeda dengan Atrium, Undead dibagian ini sedikit bisa dikendalikan dan jumlahnya tak terlalu banyak. Divisi Sembilan merupakan sekumpulan pasukan dengan sihir tipe cahaya, membantu memurnikan Undead yang terbuyarkan agar tak kembali mewujud. Walau begitu tetap tak semudah yang dipikirkan karena kelompok lain terus berdatangan.
Dibagian selatan Bella memimpin gabungan tiga Divisi sekaligus, Divisi Pertama, Kedelapan dan selusin pasukan dari Divisi Sembilan. Kemudian Faruq datang membantu dengan sebagian Divisinya setelah menyebarkan sebagian yang lain untuk menuju Atrium. Melihat Faruq datang, Bella segera memecah Divisi Pertama, memerintahkan sebagian dari mereka untuk bergerak kearah bangsal rumah sakit.
Dinding pembatas kerajaan runtuh disisi ini, membuat sebuah pintu masuk khusus untuk ratusan Undead yang menyerbu dari hutan. Sama seperti yang lain, sisi ini juga tak mengalami kemajuan yang berarti. Setiap Undead yang dikalahkan memunculkan setengah lusin lagi dari hutan. Mereka yang terbuyarkan juga kembali mewujud beberapa saat kemudian.
"Akan mustahil tanpa sihir cahaya" ucap Bella sambil menebas kelompok kecil Undead yang merangsek maju dengan liar kearahnya. Faruq yang juga tengah bertarung tak jauh darinya mengangguk setuju. Ia menghantamkan perisai peraknya kewajah salah satu Undead, mengubahnya menjadi tumpukkan debu.
"Sayangnya jumlah makhluk menjijikan ini juga cukup banyak" balas Faruq, ia mengerling sekelompok kecil pasukan Divisi Sembilan dibagian paling belakang barisan, merapalkan sihir-sihir cahaya dari jauh yang melesat kesetiap Undead yang cukup nekat mendekat. Faruq menghindari ayunan kapak besar sosok Undead yang berwajah menyebalkan, ia menebasnya menjadi debu seketika.
"Kuharap para Aldrich bodoh itu turun tangan sekarang juga" Faruq mengayunkan pedangnya menyamping dengan liar menebas kelompok besar Undead yang baru muncul dari hutan.
"Aldrich ketiga akan tertawa mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu" Bella memutar tubuhnya membuyarkan tiga Undead sekaligus, sementara Faruq mendengus kesal dibelakangnya.
Bella melompat maju, merangsek ke tengah-tengah kumpulan Undead, kemudian mengayunkan pedangnya dengan halus bagai sedang menari ditengah-tengah pesta dansa kematian. Dengan lentur ia menggerakan tubuhnya kesana-kemari membuyarkan setiap tamu pesta dansa berkulit terbakar menjadi abu pemakaman. Ia mengakhiri gerakannya dengan tarian pedang peraknya yang anggun.
"Moonlight Dancer.." bisiknya halus disusul dengan terbuyarkannya Undead dalam jumlah besar.
Faruq menggerutu tak jelas, ia menghantam Undead lain dengan perisainya saat sesosok Undead terbesar yang pernah ia lihat menerobos masuk dari dinding yang hancur.
Undead ini besar, tingginya sekitar tiga meter, bertubuh gemuk penuh lemak tanpa kulit yang membuatnya makin terlihat menjijikan. Undead besar itu memanggul sebuah pohon besar di punggungnya. Wajahnya tak terlihat pintar, walau Faruq tak yakin mana bagian tubuhnya yang bisa disebut wajah karena semuanya terlihat kemerahan tanpa kulit. Ditempat yang seharusnya ada mata terlihat kosong, hampa, tak terlihat bola mata satupun, namun mulut besarnya terbuka lebar mengeluarkan suara besar yang jelas tak terdengar merdu.
"Oh tentu, bagus sekali.. kenapa tidak kirim saja Giant padaku" makinya kesal.
Walaupun begitu ia tetap menerjang maju. Beberapa pasukannya bergerak mundur saat Undead besar itu muncul, mengayunkan pohon besar ditangannya dengan liar, menghantam apapun yang bisa dicapainya, menghancurkan sebuah kedai favorit nya yang sudah setengah terbakar.
"Bagus, aku memang butuh seseorang untuk disalahkan soal api di kedai favoritku" ucapnya kesal.
Api dari kedai yang terbakar merambati daun-daun pohon besar itu, membuat Undead besar itu terlihat seperti seorang gadis pembawa bunga pernikahan raksasa yang bermekaran, berusaha mengobarkan semangat pernikahan atau malah memanggang kedua mempelai diatas panggangan barbeque.
Faruq berharap dia mengenakan baju zirahnya, namun kenyataannya tidak. Ia tak pernah menduga festival akan berakhir semeriah ini.
Faruq menunduk, menghindari hantaman pohon berapi. Kemudian meluncur melewati bagian bawah Undead itu, tak lupa memberikan beberapa torehan dikakinya. Sang Undead kembali meraung, ia bergerak liar mencari sosok Faruq diantara kakinya, namun Faruq sudah bersiap menyerangnya dari belakang. Tepat disaat Undead besar itu menoleh, Faruq sudah siaga dengan pedangnya kemudian melompat lalu menancapkan bilah perak itu tepat kearah wajah jelek sang Undead.
Undead besar itu meraung kemudian meledak jadi butiran debu. Sayangnya pohon besarnya tak ikut terbuyarkan. Pohon berapi itu meluncur jatuh tepat diatas Faruq, disisi lain para Undead menyerang dengan kelompok besar dari segala arah.
"Kalian benar-benar membuatku kesal tau!" ucapnya sambil melepaskan sejumlah Cloe dari tubuhnya, yang bukan hanya menghempaskan puluhan Undead, tapi juga membuyarkan mereka, begitu juga dengan pohon api besar yang jatuh diatasnya yang kini berubah menjadi hujan korek api.
"Mighty Roar, ingat namanya makhluk-makhluk jelek!" makinya pada tumpukan debu Undead disekelilingnya. Kemudian ia melompat liar sambil berteriak kepanasan saat sebatang korek api menyala jatuh kedalam bajunya.
***
Sementara itu Dimas melangkah keluar dari sebuah kamar dikastil. Kapten Divisi Ketujuh itu menguap malas, kepalanya masih terasa pusing. Ia terlonjak bangun dari tidur nikmatnya karena suara ledakan besar diluar sana, membuat kepalanya terbentur tempat tidurnya sendiri.
Mungkin beberapa kembang api sebagai penutup sebuah festival terdengar cukup bagus, tapi kembang api dengan daya ledak sebuah bom sihir? Yang benar saja. Ledakan itu membuatnya harus meninggalkan tidurnya yang berharga, ia tak terima dengan hal itu. Ia berniat menghajar Alvian, karena sejauh yang ia tau laki-laki penggila teknologi itu yang merancang kembang api untuk acara penutupan festival.
Dimas berbelok disudut lorong, melewati ruang tahta. Ia berjalan lurus menuju ruang kerja para Aldrich setelah berpikir bahwa Divisi riset terletak cukup jauh. Ia memilih untuk memaki para Aldrich saja alih-alih Alvian.
Kastil terlihat begitu sepi, memangnya pukul berapa sekarang. Dimas berpikir sepertinya ia tidur terlalu lama. Mungkin semua orang sedang melihat kembang api diluar sana, mengingat ledakan-ledakan yang kelewat besar itu masih terdengar. Dimas sampai didepan ruang kerja Aldrich, ia mendorong terbuka pintu kecoklatan itu, kemudian melangkah masuk.
"Hei-hei, kalian pikir pukul berapa sekarang?" protes Dimas sambil menguap, kantuknya masih bergelayut dikelopak matanya yang sulit dibuka.
"Maksudku, bukankah berlebihan kembang api itu.. meledak seenaknya dengan suara bagai bom, ingatlah bung, beberapa dari kita perlu tidur yang nyaman malam ini!" makinya pada sosok Aldrich yang sedang berada di beranda.
__ADS_1
Dimas melangkah keberanda, ia berusaha membuka matanya yang masih berkunang-kunang, dari pandangannya yang buram ia melihat cukup banyak orang diberanda utama malam ini.
"Dimas!! Apa sih yang kau katakan! Darimana saja kau ini!!" Lian melangkah menghampirinya, sedangkan Dimas hanya mengusap matanya yang lelah kemudian menguap lagi.
"Apasih, berisik sekali! Biarkan aku tidur, hentikan kembang api itu" racau Dimas disela-sela kegiatannya menggaruk kepalanya perlahan, berusaha agar tidak menjatuhkan topi tidurnya, kerucut hitam dengan motif yang senada dengan celana panjang yang ia kenakan sekarang, motif langit malam berbintang. Dimas akan terus menggerutu tak jelas kalau saja Lian tak segera memukul kepalanya.
Dimas segera merasa segar, kantuknya hilang karena pukulan itu. Ia baru saja ingin membalas pukulan itu sampai pada akhirnya matanya menangkap banyak orang yang berdiri di beranda utama itu. Dikejauhan langit malam yang seharusnya gelap ternoda dengan cahaya jingga, seperti setiap tiang lampu dikota diberi daya berlebih hingga sedemikian terang. Namun ia tersadar sesaat kemudian, semburat jingga dilangit bukan dikarenakan lampu jalan, melainkan lidah api yang menari liar dihampir seluruh bagian kota. Dan akhirnya ia menyadari bahwa ledakan yang ia dengar bukanlah kembang api, melainkan ledakan yang sebenarnya.
"Apa? Apa yang sedang terjadi?" tanya Dimas segera. Ia bisa melihat sosok Nia di dinding pembatas beranda ditemani Kevin, lalu beberapa kepala prajurit dengan pesenjataan lengkap. Terakhir, ia mendapati Kiruru sedang berusaha menyembuhkan seorang gadis yang terbaring bersimbah darah tak jauh darinya.
Lian tak sempat menjelaskan. Dimas mengetahui situasinya tepat disaat ia mengalirkan Cloe miliknya. Kelima indranya kembali menajam, ia dapat merasakan Cloe milik teman-temannya tersebar diseluruh kota, juga merasakan Cloe gelap yang ia ketahui sebagai Cloe monster. Tapi Cloe terkuat sejauh ini ada digerbang utama, bersama dengan beberapa Cloe teman-temannya.
"Rouge!! Bleu!! Rose!! Violet!!" Dimas menyebut nama itu dengan cepat, secepat itu pula keempat wakilnya muncul dari balik lingkaran hitam yang seolah merobek udara. Keempatnya menghadap Dimas dengan pakaian tidur.
"Kemana saja kalian ini!!" tanyanya dengan galak.
Rose menjawab dengan ekspresi tak berdosa dibalik balutan piama aneh berwarna merah.
"Master memerintahkan kami untuk tidur kan?" perkataannya itu disambut anggukan ketiga saudarinya yang juga mengenakan pakaian tidur dengan warna cerah yang sama sekali aneh. Sedangkan Dimas menggumamkan sesuatu seperti 'emm, anoo' saat menyadari Nia menatapnya dari balik punggung Kevin.
"Aku akan menghajarmu nanti" ucapnya yang berusaha tak dihiraukan Dimas, ia terlalu terfokus dengan hal yang datang tiba-tiba ini. Nia tak terlihat begitu prima malam ini, Dimas yakin akan hal itu. Nia terlihat pucat dari biasanya, aliran Cloe miliknya juga tak sekuat biasanya yang merupakan hal aneh, mengingat kekacauan terjadi hingga kepala prajurit berkumpul disini. Setidaknya Dimas bisa menebak tanda bahaya sudah dinyalakan di tingkat tiga atau lebih.
"Yang penting sekarang adalah makhluk-makhluk brengsek itu" ucap Nia lagi. Seakan tidak mengerti Dimas menoleh kearah Lian.
"Undead tingkat menengah dengan jumlah sekitar ratusan atau malah ribuan, terus berdatangan.." jelas Lian yang terputus saat seorang prajurit menyerbu masuk beranda utama memberi kabar buruk tentang pertahanan yang berhasil ditembus.
"Divisi Sembilan tak bisa dipecah lagi, karena jika begitu bangsal rumah sakit akan dalam bahaya besar" ucap Lian lebih kepada dirinya sendiri.
Kevin bergerak dari tempatnya berdiri.
"Biarkan aku pergi ke bangsal rumah sakit, aku akan membantu mereka, setidaknya Iqbal akan punya waktu cukup banyak untuk menahan mereka selagi Divisi Sembilan menyebar" Kevin memberi gagasan. Tapi Lian menggeleng, sebuah penolakan.
"Kau tetap disini, pelajari pola serangannya, aku yang akan pergi" ucap Lian yang kemudian beralih ke Dimas. Dimas seakan mengerti maksudnya, tapi ia malah menguap dengan malas. Menggerakkan tangannya membentuk gestur seolah mengusir Aldrich ketiga itu.
"Yayaya.. aku mengerti, lagi pula tidurku cukup nyenyak, Cloe milikku dalam keadaan siap siaga kali ini" ucapnya sedangkan Lian mengangguk mengerti kemudian pergi sesaat setelah ia mengomentari topi tidur yang dikenakannya.
"Ingatkan aku untuk menghajarnya setelah ini" ucap Dimas pada salah seorang ketua pasukan yang menjawab sekenanya karena bingung harus menjawab apa.
Dimas melangkah mendekat ke tepi beranda, Kevin mengikuti. Ia mendapati pemandangan buruk dibawah sana. Pemandangan yang tak pernah ia lihat selama bertahu-tahun.
"Ada tiga titik utama" Dimas menoleh mendapati Kevin berbicara padanya.
"Salah satunya adalah bangsal rumah sakit, Lian sedang menuju kesana. Kemudian sisi selatan, Faruq dan Bella menangani Undead yang berhasil menjebol dinding pembatas, lalu yang paling parah ada di Atrium tepat ditengah kota, Undead yang ada disana lebih banyak dari tempat lain, aku sudah menempatkan Zayn dan Syifa untuk mengambil alih Atrium, tapi sepertinya mereka kalah jumlah" jelas Kevin panjang lebar tentang peta pertarungan.
"Mereka hanya berdua?" tanya Dimas yang segera diiyakan oleh anggukan Kevin. Dimas memutar matanya kesal.
"Pantas saja mereka kalah jumlah!! Kenapa tak mengirimkan pasukan kesana jika Atrium punya masalah lebih banyak, kau ini bodoh atau ap.." Kevin mengangkat tangannya, membuat Dimas berhenti meracau.
"Bisa saja. Tapi Undead tak bisa dibasmi begitu saja tanpa sihir tipe cahaya dan itu membuat kita tak bisa mengirim bantuan sembarangan, karena hanya akan menambah jatuhnya korban. Divisi Sembilan terlalu sedikit untuk dipecah menjadi tiga bagian, jika dipaksakan, takkan begitu efektif mengingat jumlah Undead yang begitu banyak. Prioritas utama kita saat ini adalah melindungi para penduduk serta para tamu kerajaan yang kini sebagian sedang dievakuasi menuju tebing bersama Akuma dan Jose serta Djabo dan sebagian dari Divisi Delapan" jelasnya sambil mengerling kearah tebing dibelakang kastil, yang merupakan jalan lain untuk keluar dari wilayah Edenteria.
Dimas dapat melihat titik-titik kecil yang tengah bergerombol menaiki tangga di dinding tebing, menuju padang rumput luas dipuncaknya.
"Titik pertahanan kita adalah tempat ini dan bangsal rumah sakit, karena itu sebagian Divisi Sembilan kutempatkan disana, Meiza sedang berupaya mengobati mereka yang terluka termasuk para penduduk. Iqbal yang memimpin Divisinya disana bisa mengulur lebih banyak waktu yang dibutuhkan Meiza untuk mengobati setiap orang yang terluka dengan bantuan Divisi Sembilan. Sebagian yang terluka tak bisa dibawa kesana.."
"Karena itu Kiruru ada disini" sambung Dimas sambil menatap Kiruru yang melambai kearahnya tapi tetap fokus dengan penyembuhannya. Kevin mengganguk mengiyakan.
"Aku baru saja memerintahkan Faruq untuk mengirim setengah Divisinya ke Atrium, Divisi Kedua adalah pasukan dengan pola pertahanan yang kuat, cukup membantu mengulur waktu bagi kita" lanjut Kevin.
"Kau terus-terusan berkata tentang mengulur waktu, sebenarnya apa rencanamu!! Apa yang kau tunggu?" Dimas terlihat kesal dengan pemuda bertudung didepannya.
"Sudah kubilang kan prioritas utama kita saat ini adalah melindungi para penduduk. Dan titik pertahanan kita berada disini dan bangsal rumah sakit. Karena itu kedua sisi inilah yang harus dibersihkan lebih dulu. Bangsal rumah sakit adalah bagian tergawat saat ini, kita harus melindungi Meiza yang tengah mengobati mereka yang terluka, karena itu aku meletakkan sebagian besar Divisi Sembilan disana, dan baru saja aku memerintahkan Bella untuk mengirimkan setengah Divisi Pertama kesana agar sisi itu bisa melawan dan memukul mundur para Undead. Disisi lain tempat Bella dan Faruq cukup jauh dari kastil, karena itu masih ada cukup waktu bagi mereka untuk bertahan semantara kita memusatkan serangan ke pasukan Iqbal" jelas Kevin dengan cepat, Dimas tak berkomentar, kini ia mengerti rencana Kevin.
"Zayn dan Syifa adalah petarung jarak jauh, mereka mungkin akan kewalahan dengan jumlah Undead yang menyerang tapi saat bagian dari Divisi Dua datang, mereka bisa bertahan lebih lama, walau pada akhirnya tetap terpaksa mundur. Tapi tak jadi soal karena jarak Atrium ketempat ini sama jauhnya dengan sisi Faruq dan Bella. Jika Iqbal berhasil menghabisi masalahnya ia akan memecah pasukannya ke sisi Faruq dan Bella, membantu mereka membersihkan sisi itu. Ketika selesai mereka semua akan menggempur Atrium dari segala arah, memerangkap para Undead itu dan kemudian PUFF!!.." Kevin menunjukkan gesture meledak dengan kedua tangannya.
"Siapkan payung anda, ramalan cuaca esok hari adalah hujan debu zombie" ucapnya lagi.
Mau tak mau Dimas tersenyum, namun ia tak mau, membuatnya mengeluarkan senyum bercampur seringai yang terlihat aneh. Kevin menatapnya dengan pandangan 'kau baik-baik saja'. Nia berpaling kearah Dimas.
"Kini kau tau rencananya.."
"Yaahh terserahlah.. si bodoh itu juga sedang bersenang-senang sepertinya, tapi aku yakin merasakan Cloe yang besar digerbang utama" ucap Dimas. Nia mengerti, lalu menjelaskan bahwa Udzaa yang akan membereskannya. Dimas tak terlihat senang.
"Yayaya.. cepat beritahu aku bagian mana yang harus kuserang lebih dulu?"
"Kenapa harus memilih?" ucapan Kevin benar-benar membuat Dimas bingung.
"Memang benar aku sudah menyusun rencana, tapi kau sudah ada disini, kenapa tidak menyerang semuanya sekaligus?" ucap Kevin lagi yang membuat Dimas mengerang kesal. Tapi kemudian ia melemparkan topi tidur kerucutnya kearah Kevin, memaksanya bersumpah untuk menjaga topi itu.
"Kau tau, kau benar-benar menyebalkan" ucap Dimas yang dibalas tatapan Kevin seolah berkata 'Cloe mu dalam keadaan siap siaga kan?'.
Dimas melompat keatas dinding pembatas beranda ia menatap kekacauan yang tersebar diseluruh kota. Ia memanggil keempat wakilnya. Ia mengutuk Kevin karena menyuruhnya melakukan ini, padahal ia belum pernah menggunakan jurus ini lagi selama bertahun-tahun. Ia menghela nafasnya kemudian memerintahkan keempat wakilnya pergi ke Atrium.
"Aku akan menyusul kalian nanti" sontak saja keempat wakilnya itu mengubah pakaian mereka menjadi mode bertempur kemudian melesat dengan cepat menuju Atrium meninggalkan Dimas tetap diatas sana.
Dimas memejamkan matanya, memusatkan aliran Cloe miliknya. Lalu pedang miliknya muncul ditangan kiri, sedangkan tangan kanannya mengeluarkan aura hitam yang menjilat liar bagai lidah api. Ia menoleh kearah Kevin.
"Aku akan meninggalkan Hermes disini untuk berjaga, atau mengirimnya ke Djabo sebagai bantuan atau terserah kalian lah.." ucapnya yang dibalas anggukan singkat Kevin.
Kemudian Dimas mengangkat tangan kanannya yang diselimuti api kehitaman keudara, seolah menggenggam udara itu sendiri dengan kuat, diikuti dengan kerutan hitam diudara kosong bagai kertas yang kusut. Lalu ia melompat, meluncur turun dari beranda utama. Selagi ia meluncur turun, tangan kanannya membelah udara kosong diatasnya, merobek kehampaan, membuka sebuah dimensi lain berwarna hitam dibaliknya. Kemudian robekan gelap itu menampakkan ratusan pasang mata yang menyala, menguarkan aliran Cloe yang besar.
"Hermes tetap disini bersama Kevin dan yang lain, patuhi perintahnya, selebihnya hancurkan semua zombie jelek yang kalian temui" perintah Dimas sambil menapakkan kakinya ketanah, kemudian berguling kedepan lalu berlari menuju Atrium.
"Menyebar!!" sesaat setelah itu ratusan pasang mata yang mengintip dari robekan dimensi hitam itu melompat keluar dengan wujud ratusan Void berpakaian pelayan, menyebar keseluruh Edenteria, siap bertempur.
***
Frans terpaku ditempatnya berdiri, matanya terbelalak melihat tubuh Noey berdebum ketanah tak jauh didepannya, kemudian tak lagi bergerak. Setelah itu waktu bagai terhenti selamanya, bergerak amat lambat hingga ia tak mampu menggerakkan seujung kuku pun.
Dinda dan Iro menyerbu Zach dengan liar bersama dengan sihir alam yang dilepaskan Mou, meluncurkan berpuluh-puluh dahan pohon yang entah bagaimana menyeruak dari lantai batu dibawah mereka. Iro melesat diantara dahan pohon yang terus tumbuh kian tinggi sedangkan Dinda menghancurkan beberapa dan melemparkannya kearah Zach.
Zach tertawa makin keras, menyambut serangan-serangan yang diarahkan padanya dengan gairah membuncah.
Disisi lain Frans berlutut disamping tubuh Noey, ia tak bisa berkata apa-apa. Noey sama sekali tak bergeming, tubuhnya penuh luka, ia tak sadarkan diri. Mou ikut berlutut didekatnya setelah sebelumnya mengubah dinding perbatasan itu menjadi pagar tanaman raksasa.
Mou menunjuk zirah perak Noey dengan dua jari, kemudian memotongnya secara diagonal dengan semburan api dari ujung jarinya, melelehkan zirah itu. Kini zirah Noey telah tertanggal sepenuhnya. Mou menatap Frans cepat yang dimengerti olehnya.
Frans meletakkan tangannya yang kemudian berpendar keatas dada Noey. Frans merasakan jantungnya berdenyut semakin lemah.
"Kau harus segera membawanya ke bangsal rumah sakit" ucap Mou.
"Kami akan menahannya.." namun Mou tak bisa menyelesaikan ucapannya, ia terlempar kesamping. Zach berdiri disana, tepat didepan Frans saat ini dengan seringai gilanya.
Frans terkejut, ia melihat Iro dan Dinda jauh didepan sana, terjebak diantara batu dan dahan pohon. Sedangkan Mou terlempar kesamping, membentur dinding dan jatuh tak bergerak.
"Aku tau dia belum mati, berikan dia padaku, aku akan membunuhnya" Zach melangkah mendekat.
Frans bangkit, memanggil tombak emasnya dari ketiadaan kemudian menghunuskannya kedepan. Mengancam Zach agar tak mendekat. Laki-laki itu berhenti, melambaikan tangannya kearah Frans, membuat gadis bersurai pirang itu terlempar kebelakang.
Frans membentur dinding dengan keras, ia merasakan beberapa tulang iganya patah. Namun tak ada waktu untuk mengeluh, ia memaksa diri untuk bangkit, berlari menerjang laki-laki itu yang tengah mengarahkan tangannya kearah Noey.
Zach menatap kearah Frans yang menerjangnya dengan tombak, ia tak berusaha menghindar, ia memilih menyambut hujaman tombak emas itu.
Zraashh!!i
"Khukhu" Zach terkekeh walaupun tombak milik Frans berhasil menembus tubuhnya, membuatnya menyemburkan darah.
"Kau puas sudah melukai ku?"
"Apa yang kau inginkan dari kami!!" Frans berteriak mengancam, tangannya bergetar menggenggam tombaknya dengan keras.
"Aku hanya mencari lawan untuk bermain, dan kebetulan temanmu itu cukup menghibur, karenanya aku akan memberinya hadiah berupa kematian yang indah" ucap Zach dengan sinting, mata merahnya berkilat-kilat seolah menegaskan betapa inginnya ia membunuh.
"Temanmu ini cukup menarik, biarkan aku membunuhnya dan aku takkan menyentuh yang lain" ucapnya lagi sambil mengerling kearah Noey yang terbaring tak berdaya ditanah.
Frans mengirimkan tatapan tajam tepat ke manik semerah darah didepannya. Berusaha keras membayangkan dirinya yang akan mencabik habis laki-laki didepannya itu. Frans semakin kuat menggenggam tombaknya, berniat menghujamkan nya lebih dalam. Pikirannya berkecamuk, rumahnya yang hancur, teman-temannya yang terluka, Noey yang diambang kematiannya. Semua itu berkumpul menjadi satu, bertumpu diujung tombaknya, memberi sentakan listrik yang dapat dirasakan lawannya.
Zach terbelalak, ia mengernyit. Menatap Frans dengan pandangan tak mengerti. Ia menggenggam tombak yang menembus dadanya itu dengan lemah.
"Ka-kau.. tak mungkin"
Frans tak tau apa yang terjadi, tapi apapun itu ia tetap melakukannya. Mendorong tombaknya agar lebih menusuk kesisi Zach yang kini berusaha menahan tikaman tombak itu lebih jauh.
Zach berusaha membebaskan diri, ia menendang perut Frans dengan keras hingga gadis itu terdorong kebelakang, tombaknya tertarik paksa dari dada Zach, menyemburkan darah lebih banyak lagi.
Zach terhuyung kebelakang, matanya berkunang-kunang. Ia tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Untuk pertama kalinya sejak ia bertarung malam ini, dadanya terasa sakit sekali, sebuah tombak baru saja menembus dadanya. Zach tak mengerti, seharusnya ia tak bisa merasakan sakit, tubuhnya sudah mati. Tapi kini sensasi tercabik menggerogoti tubuhnya, berdesir kesuluruh sendinya. Jantungnya memompa cepat.
"Apa yang baru saja kau lakukan!??" Zach menatap marah gadis pirang didepannya.
Frans berusaha berdiri, mengenyahkan rasa nyeri ditulang iganya yang patah. Ia menjadikan tombaknya sebagai tumpuan. Ia menatap Zach dengan tatapan kebencian yang sudah lama tak ia rasakan. Nafasnya berpacu, mengirimkan adrenalin peperangan yang tak pernah ia rasakan sejak lama. Jauh didalam kepalanya suara-suara menyeruak, menyerukan kebencian. Memerintahkan tubuhnya untuk berlari menerjang, menghabisi semua musuhnya. Mata birunya berkilat tajam, mengirimkan kegetiran kesetiap orang yang memandang kearahnya.
Zach merasakan itu, terkejut saat bertemu pandang dengan Frans. Manik biru itu, seolah membakarnya, ia merasakan insting liar dari sana. Ia berpikir cepat kemudian menemukan fakta yang membuatnya tertawa.
"Ka-kau!!! Tak kusangkaa!!" Tubuh Zach bergetar karena gairah. Ia memusatkan tenaga, membuat lubang didadanya menutup dengan cepat, menyisakan jejak darah.
Belati peraknya melayang ketangannya entah dari mana. Ia tertawa semakin keras kemudian mengeluarkan tekanan Cloe yang luar biasa.
"Bergembiralah, aku sudah kehilangan minat pada temanmu itu" ucapnya dengan suara parau, ia mengerling ke tubuh Noey tak jauh dari tempatnya berdiri
"Sebagai gantinya, aku akan membunuhmu!!!" Zach melesat dengan cepat kearah Frans, belatinya tergenggam kuat, diarahkan pada gadis pirang itu.
Frans berusaha tak gentar, ia siap menyambut serangan itu. Mata kirinya berdenyut gila-gilaan, sesuatu bagai hendak merobeknya dari dalam. Frans siap dengan kuda-kudanya, menghunuskan tombaknya.
Namun ketika hanya beberapa meter lagi keduanya bertemu, sesuatu melesat kearah mereka, membuat mereka terpental kebelakang. Frans berlindung dari pecahan lantai batu yang berterbangan bersama debu didepannya.
Debu perlahan menghilang, menampakkan sosok berjubah hitam berdiri disana tepat disebelah pedang besar bermata kristal biru. Berdenyar diantara kabut kehitaman, Aldrich keempat menatap penuh amarah kearah musuhnya.
__ADS_1
***