
"Apanya yang ketiga?" Frans berkata sambil menatap bingung kearah kakaknya. Udzaa yang tersadar kemudian menggelengkan kepalanya cepat.
"Bukan apa-apa" Frans terlihat tak percaya tapi Udzaa mengalihkan perhatiannya dengan menanyakan siapa gadis yang tengah tertidur disana.
"Aku tak tau" jawab Frans.
"Jose membawa gadis ini semalam, ia menemukannya tak sadarkan diri dibawah reruntuhan batu di tebing tempat ia berjaga semalam"
"Aku merawatnya seperti biasa, ia mengenakan ikat kepala sebelumnya, tapi saat kubuka untuk membersihkan luka di pelipisnya.."
"Bisakah kita bicara diluar?" ucap Udzaa dengan suara berat. Ia memegang dadanya sendiri, keringat dingin mengucur dari dahinya.
"Udara disini mencekikku" Frans mengangguk, Udzaa segera melangkah cepat keluar ruangan sementara Frans menyusulnya setelah berhasil membalut dahi gadis itu dengan sebuah perban, menutupi kristal di dahinya.
Saat Frans melangkah keluar dari bangsal umum ia mendapati kakaknya bersandar di dinding, tepat disebelah pintu. Wajahnya penuh keringat dingin, ia bernafas cepat seolah baru saja mengetahui bahwa udara segar adalah hal terpenting didunia ini. Frans menunggu hingga kakaknya itu menguasai dirinya sendiri sebelum pada akhirnya bicara.
"Kau mau aku memindahkannya ke ruangan lain? kurasa ada beberapa kamar khusus dilantai tiga" ucapnya.
Udzaa menekan dadanya yang masih sedikit sesak. Menghela nafas panjang sambil menggerakkan tangannya didepan wajah Frans.
"Jangan, memindahkannya keruangan khusus sementara para Kapten Divisi dirawat di bangsal umum akan membuat yang lain bertanya-tanya" ucap Udzaa yang merujuk pada Iro, Mou dan Dinda yang sebenarnya telah meninggalkan rumah sakit kemarin sore.
"Cukup segel ruangan ini, jangan biarkan siapapun masuk, terlebih lagi para pengguna elemen solid, mereka akan merasakan aura gadis itu, kita harus menetralisirnya lebih dulu" Frans mengangguk mengerti. Udzaa melihat gadis pirang itu melambaikan tangannya didepan pintu, seketika sebuah tanda yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh para penyembuh muncul, tercetak bagai kertas yang menempel di pintu bangsal umum.
Setelahnya Frans menoleh kearahnya.
"Mau sarapan? aku sudah cukup mahir memanggang tuna asap, juga aku punya beberapa telur jika kau mau"
Udzaa menghela nafas lagi, ini pertama kalinya ia merasa seperti akan terbunuh dirumah sakit. Kemudian ia menoleh.
"Setengah matang? baiklah.."
***
Sementara itu, jauh dari Edenteria, di lembah pegunungan hitam yang jauh, sosok berjubah hitam berjalan perlahan menembus kabut kedalam lembah terdalam di benua itu. Awan hitam yang menaungi langit mencegah sinar matahari menembusnya, membuat lembah dibawahnya segelap malam. Tak ada tanaman yang bisa tumbuh di daerah itu selain Moonroose, mawar bulan, bunga yang dijadikan tanda kegelapan, identik dengan sihir hitam dan menjadi pertanda buruk bagi siapapun.
Sosok itu berjalan hingga bertemu sosok lain. Sosok lain itu adalah laki-laki, dengan bagian bawah tubuhnya menyerupai kuda hitam. Keempat kakinya berderap saat ia melangkah. Centaurus hitam itu membawa sebuah tongkat dari kayu Pinus yang dirambati sulur-sulur hitam. Wajahnya yang kasar membuat tatapan matanya yang berpelupuk dalam terlihat tak menyenangkan.
"Kau terlambat Archie.." ucap Centaurus itu dengan nada tak suka saat melihat sosok berjubah hitam itu datang.
Sosok itu melepas tudung yang menutupi kepalanya, memperlihatkan wajah laki-laki dengan surai perak panjang. Anting-anting di telinganya yang runcing bergoyang saat angin berhembus pelan. Laki-laki yang dipanggil Archie itu menyeringai menatap Centaurus didepannya.
"Kau tau pasti Bode, betapa sulitnya untuk sampai ketempat ini" ucapnya. Centaurus bernama Bode itu menatapnya skeptis, kemudian dengan keempat kakinya ia berbalik.
"Kalau begitu, cepat, dia menunggumu" ucap Bode sambil berderap diatas keempat kakinya. Archie mengikuti dari belakang.
Keduanya melangkah melewati padang Moonroose, sekumpulan gagak hitam melayang berputar-putar diatas mereka, kemudian terbang secara acak saat seekor elang besar melintas. Archie mendongak melihatnya sambil tetap melangkah mengikuti Centaurus hitam didepannya.
"Pemilihan tempat yang bagus" ucap Archie memandang sekitar. Bode menatapnya dari sudut matanya.
"Tak ada seorangpun yang berani datang ketempat ini selama bertahun-tahun, mereka malah menghindari tempat ini" ucap Bode, ia mengayunkan tongkat Pinusnya, menyingkirkan beberapa sulur yang menghalangi jalan.
"Lebih tepatnya tak ada yang pernah keluar hidup-hidup.." ucap Archie saat melihat beberapa potong tulang manusia diantara sulur-sulur Moonroose. Bode terlihat tak tertarik.
Mereka berjalan semakin jauh, masuk ke dalam lembah. Pegunungan yang mengelilingi lembah itu terlihat bagai dinding hitam raksasa di kejauhan. Semakin banyak kerangka makhluk hidup yang berserakan diantara Moonroose yang tumbuh sejauh mata memandang.
"Ah itu.." Archie sedikit takjub saat melihat kerangka yang jauh lebih besar daripada yang lain. Kerangka didepan sana, setidaknya berukuran tiga kali lebih besar dari pada ukuran sebuah rumah, kerangka besar itu terlihat tua, dirambati sulur-sulur Moonroose, beberapa bagiannya masih tersembunyi dibawah tanah. Archie menatap tepat kearah tengkorak yang sepuluh kali lebih besar daripada dirinya sendiri, dihiasi gigi tajam berwarna kelabu sebesar lengannya sendiri. Bode menatap kearah itu.
"Kerangka Naga, salah satu yang terbesar didaerah ini" jelas Bode sedangkan Archie tetap menatap kerangka itu dengan seringai aneh diwajahnya.
"Aku pernah mendengar rumor jika daerah ini disebut sebagai makam naga, tapi tak pernah kubayangkan jika semenarik ini" ucap Archie, Bode tak menjawab ia masih tetap berjalan melewati kerangka naga itu. Archie mengikutinya dari belakang, walau ia masih merasakan ketertarikan besar akan kerangka naga itu.
Bode yang merasakan Archie cukup tertarik dengan kerangka naga akhirnya bicara.
"Masih banyak yang lain.."ucapnya yang kemudian menunjuk ke area luas didepannya yang penuh dengan kerangka naga lain. Archie terkekeh pelan.
"Bangsa Elf tak pernah menghargai betapa menariknya mereka, bahkan dalam kematiannya" ucap Archie sambil menghentikan langkahnya dan menatap puluhan kerangka naga didepan sana, Bode ikut berhenti, menoleh kearah Archie.
"Karena tak ada satupun dari mereka yang cukup bodoh untuk mengganggu ketetapan alam sepertimu" ucap Bode yang membuat Archie tertawa. Bode menatap laki-laki itu dengan tatapan hina. Archie, mata hijaunya berkilat-kilat saat tertawa, ia merasakan tubuhnya tergelitik saat mendengar perkataan Centaurus didepannya.
"Bangsa Elf terlalu naif" Archie mengatakannya dengan suara desisan. Bode menatapnya hina.
"Mereka percaya akan ketetapan alam, takut akan apa yang akan terjadi jika mereka berani menyalahi ketetapan itu, percaya akan ramalan-ramalan kuno dan roh-roh leluhur.." Archie menyentuh salah satu kerangka naga didekatnya, kemudian matanya kembali berkilat tajam. Seketika kerangka yang ia sentuh itu melebur jadi debu.
"Memuakkan.."
Bode menatap Archie yang tengah bicara tentang bangsanya sendiri dengan nada hina, seolah ia tak pernah menginginkan dirinya menjadi bagian dari mereka. Bode mendongak menatap langit, dimana awan hitam masih setia berarak menyelimuti langit.
"Makhluk hidup memang diharuskan untuk tidak ikut campur dan menyalahi ketentuan alam.." Archie menatap Bode dengan tajam tiba-tiba, namun kemudian tatapannya kembali melunak dan terkekeh kearahnya.
"Hoo benar, para Centaurus juga menganut kepercayaan yang sama.." ucap Archie dengan tenang, walaupun Bode tak terlihat suka.
"Dalam hal ini seharusnya kita bisa jadi saudara yang saling menghormati" ucap Archie lagi. Bode tak terlalu yakin, daripada itu Bode kembali melangkah dengan keempat kakinya, Archie menyeringai dibelakangnya sambil ikut melangkah.
Mereka berdua berjalan dalam diam hingga Bode bersuara. Centaurus itu bicara dengan suara dalam yang suram.
"Jika kau tak segera menjauhkan tanganmu dari perkara yang tak boleh kau campuri.." Bode melangkah sembarangan, ia menginjak beberapa kelopak Moonroose dengan keempat kakinya yang berkuku tumpul.
"..alam semesta mungkin akan mencabikmu dengan kutukan mereka" ucap Bode dengan serius, namun dibelakang sana, Archie hanya tertawa seakan Centaurus itu baru saja menceritakan sebuah lelucon. Tawa Archie membuat Bode merasa terhina namun ia berusaha untuk tak memperdulikannya saat ini.
Mereka berdua berjalan melewati beberapa kerangka naga lainnya, hingga sampai didepan sebuah gerbang yang terbuat dari tulang-tulang naga. Archie tak melihat apapun dibaliknya, gerbang itu tak lebih dari sebuah gawang kosong. Namun Bode berderap masuk kedalam gerbang itu, kemudian menghilang kedalamnya, Centaurus itu tak terlihat disisi lain gerbang. Archie mengikutinya dibelakang, melangkah melewati gerbang itu, ia merasa seperti berjalan menembus air terjun, kemudian setelah melewatinya ia mendapati sebuah kastil hitam berdiri tepat didepan matanya.
"Sihir yang bagus.." ucapnya, Bode tak menanggapinya, Centaurus itu tetap melangkah masuk kedalam kastil.
Kastil itu dibangun dengan batu-batu Obsidian yang membuatnya menjadi kastil hitam yang mengilat. Pekarangan kastil penuh dengan kerangka-kerangka tua, menciptakan efek menyeramkan pada kastil itu sendiri. Archie melangkah masuk mengikuti Bode. Mereka menyusuri koridor panjang setelah melewati pintu masuk kastil. Archie tak melihat satupun penjaga dikastil itu, Bode mengatakan bahwa mereka tak memerlukan penjaga karena tak ada satupun orang yang mau mengunjungi lembah itu.
Koridor itu cukup gelap, cahaya disana hanya berasal dari obor yang dipasang disisi dinding. Archie mengomentari arsitektur kastil yang menurutnya buruk, Bode lagi-lagi tak mengindahkan perkataannya, melainkan tetap berjalan menuju koridor gelap yang lain.
Mereka sampai didepan sebuah pintu kayu berukir yang kemudian didorong Bode hingga terbuka, memperlihatkan ruangan dibaliknya. Ruangan itu cukup besar, disisi yang bersebrangan dengan pintu terdapat perapian yang menjadi satu-satunya penerangan diruangan gelap itu. Archie merasakan keberadaan sosok lain diruangan itu selain mereka berdua.
"Kau lama sekali Archie.." suara itu berasal dari sosok laki-laki yang tengah duduk didepan perapian, menatap lurus kearahnya. Cahaya dari perapian dibelakangnya meredup saat laki-laki itu bicara.
Bode melipat satu kaki depannya, membungkuk rendah kearah laki-laki itu. Sedangkan Archie tersenyum miring. Tak seperti Bode, Archie hanya menundukkan sedikit kepalanya.
"Seperti biasa, seleramu tentang penataan ruangan selalu buruk" ucap Archie santai, Bode melempar pandangan hinanya.
"Bolehkah aku?"
"Tentu saja.." jawab sosok itu, kemudian Archie mengibaskan tangannya diudara. Seketika lampu diruangan itu menyala menggantikan cahaya perapian yang kini padam.
Ruangan itu menjadi lebih mudah dilihat, langit-langitnya yang rendah berhias kandil-kandil kosong dibeberapa bagian. Lampu-lampu disetiap sisi dinding menyala terang, menyebarkan cahayanya kesetiap sudut ruangan. Archie menyeringai menatap sosok Exel yang duduk di kursi tepat didepan perapian.
"Ini lebih baik" ucapnya.
Exel tersenyum tanpa arti, ia bangkit dari kursinya yang terbuat dari tulang-tulang yang saling berhubungan. Laki-laki itu masih terlihat sama, rambut hitam yang halus, kulitnya yang pucat dan manik Obsidian gelap yang menatap tanpa arti. Exel mengenakan jubah hitam besar hingga tubuhnya yang tak lebih dari tubuh anak kecil belasan tahun itu terlihat seperti tenggelam dalam jubahnya sendiri.
"Informasimu Archie.." ucap Exel dengan suaranya yang benar-benar terdengar seperti seorang anak kecil.
"Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, ramalan itu hanya omong kosong" ucap Archie yang lagi-lagi mendapatkan tatapan tak suka dari Bode. Exel tak menanggapinya saat Archie melanjutkan.
"Walaupun begitu kau takkan bisa mendekati Pohon Asylum dengan cara biasa, penjagaan disana lebih ketat daripada penjagaan kerajaan itu sendiri" ucapnya lagi. Exel mendengarkan.
"Entah apa yang mereka pikirkan, ramalan mengatakan kalau pohon tua itu dalam bahaya besar, dan kini menjaganya lebih dari penjagaan putra mahkota sepertiku"
"Tapi, karena itulah aku bisa pergi tanpa sepengetahuan siapapun" Archie menatap Exel yang masih berdiri ditempatnya.
"Kukatakan sekali lagi, tak ada yang perlu dikhawatirkan soal ramalan bodoh itu, jika kau cukup pintar" untuk sekali ini Bode tak bisa lagi membiarkan Archie berkata semaunya, karena tanpa peringatan Bode sudah menodongkan ujung tongkatnya tepat ke leher Elf itu.
"Hati-hati dengan lidahmu jika sedang bicara dengan penguasa kegelapan.." Bode berkata dengan tajam dari belakang tubuh Archie, ia mengarahkan bagian tajam tongkat Pinusnya tepat ke leher Archie. Sedangkan Archie hanya tertawa renyah, tak terlihat cemas sedikitpun.
"..atau kau bisa mati" sambung Bode dengan nada mengancam.
"Aku ingin lihat kau berusaha.." tantang Archie yang tak membuat Bode senang. Namun Exel mengangkat tangannya.
"Bode lepaskan dia, kita tak boleh bersikap kasar dengan tamu kita" ucap Exel pelan. Bode mengangguk singkat, kemudian menarik kembali tongkat Pinusnya. Archie membisikkan terima kasih pada Bode dengan nada yang tak disukai Centaurus itu.
"Langsung saja ke inti Archie" ucap Exel lagi.
Archie dengan enggan bicara.
"Baru-baru ini adikku memberi ramalan baru.." ucapnya.
Exel berbalik, kemudian kembali duduk ditempatnya semula. Ia menatap Archie yang melangkah maju, masuk kedalam lingkaran karpet merah dilantai. Bode menatapnya dengan hati-hati.
"Lanjutkan" ucap Exel.
Archie, kemudian menggumamkan sesuatu dengan suara pelan. Ia bicara dalam bahasa Elf kuno yang terdengar seperti kumpulan desisan aneh. Bode menatap tak mengerti.
"Hari dimana kebangkitan langit yang menghancurkan kegelapan akan segera tiba, seharusnya semua orang tetap bersembunyi dibalik selimutnya, kematiannya menandakan peperangan besar, membangunkan sang kembar dari tidur panjangnya" Exel menerjemahkan kata-kata itu, Archie membenarkannya dengan anggukan kecil.
"Sudah kubilang bukan? sebuah omong kosong besar" ucap Archie kemudian. Ia duduk disalah satu kursi disana, mengambil sebuah ceri merah dari meja dan memakannya.
"Semua orang menganggap adikku itu istimewa, bahkan orang tuaku, tapi kenyataannya dia cuma gadis lemah yang bodoh, dua hal yang paling kubenci"
"Tapi kuharap kau tidak melupakan kenyataan bahwa Putri Elena adalah reinkarnasi dari Reyna Maximus Serenade, yang mana ramalan besarnya tentang kepunahan ras naga benar-benar terjadi" ucap Exel, laki-laki itu tersenyum sambil melambaikan tangannya diudara, mengisi gelas perunggu didepan Archie dengan cairan merah anggur.
Archie mendengus meremehkan.
"Serenade hanyalah wanita biasa, ramalannya cuma keberuntungan belaka, lebih dari itu para naga hanya punah karena kebodohan mereka sendiri" ucap Archie santai, ia mengangkat gelas perak berisi anggur itu tepat disaat seorang wanita melangkah masuk kedalam ruangan.
"Sampai mengatakan para naga itu bodoh, oh lihatlah keangkuhanmu itu Archie sayang.." Archie melirik wanita yang baru saja bergabung kedalam ruangan itu. Mendecih kesal.
Wanita itu melangkah anggun dengan jubah merahnya yang terbuat dari sutra berkilau, rambut hitamnya yang panjang terlihat indah dibalik punggungnya, wajahnya yang tirus serta kulit sehalus porselennya membuatnya nampak cantik. Ia menyunggingkan senyuman dibibirnya yang merah merekah kearah Bode yang mengangguk balik kearahnya.
"Lama tak jumpa, Serenade.." sapa Archie tanpa menoleh, ia berniat meneguk habis anggur digelasnya, tapi kemudian ia menghentikan gerakannya karena sebuah tangan pucat berkuku tajam merayap dilehernya.
"Oh ayolah, beberapa saat yang lalu Bode menodongkan tongkat mainannya itu padaku, apa kau juga harus melakukannya?" ucap Archie yang tak ada kecemasan dalam nada bicaranya walaupun lehernya terancam untuk kedua kalinya hari itu.
Wanita yang baru datang itu berdiri dibelakang Archie yang tengah duduk dikursinya. Ia mengalungkan tangan kanannya dileher Archie. Dengan bisikan tajam ditelinga ia mengancam putra mahkota kerajaan Elf itu.
"Jangan pernah memanggilku dengan nama itu.."
"Lepaskan dia, Qwenza, kau tau Archie suka bercanda" ucap Exel sambil tersenyum, tatapannya melembut yang malah membuat kata-katanya terdengar seperti perintah mutlak.
Wanita yang dipanggil Qwenza itu menatap Exel tajam, namun Exel tetap bertahan dengan senyumnya. Qwenza memutar matanya.
"Oh baiklah.." ucapnya sambil melangkah menjauh dari Archie. Ia melangkah kesamping Exel, duduk dilengan kursinya sambil menggumamkan kata-kata lembut kearah Exel.
"Aku tak pernah bisa tahan dengan kata-katamu tuan.." bisiknya halus ditelinga Exel. Wanita itu menundukkan kepalanya rendah, menatap wajah Exel yang tak berubah sedikitpun dari jarak yang amat dekat hingga Qwenza bisa mencium aroma tubuh Exel saat itu. Jari-jarinya yang berkuku merah dan tajam menelusuri tiap inci wajah pucat Exel.
"Tapi, jika anda ingin membunuhnya, aku selalu siap melakukannya.." ucap Qwenza lagi.
"Aku hargai itu Qwenza, tapi kita tak boleh menyakiti tamu kita bukan?" balas Exel. Qwenza tersenyum nakal.
"Kalau begitu, aku bersedia melakukan apapun yang anda inginkan... apapun.." bisik Qwenza dengan lembut, tangannya menelusuri dada Exel sambil menjilat bibir bawahnya. Exel tersenyum dan berkata tidak. Ada sedikit kekecewaan yang muncul diwajah cantik wanita itu, namun kemudian kembali tersenyum menyeramkan.
Tak jauh dari sana Archie menatap hina kelakuan Qwenza, ia mencibir wanita itu dengan tajam.
"Dasar ******.." kata-kata itu membuat Qwenza menoleh kearah Archie, menatapnya tajam.
"TUTUP MULUTMU ELF KOTOR!! ATAU AKU SENDIRI YANG AKAN MEMBUNGKAMNYA, MENCABIK-CABIK MU HINGGA TAK TERSISA!!" Qwenza memekik liar kearah Archie yang tetap tenang dikursinya. Rambut panjang wanita itu melayang naik, langit-langit ruangan bergetar karenanya. Matanya menatap tajam, seakan bisa menusuk siapapun yang menatap balik kearahnya, urat kepalanya menonjol keluar dikedua sisi pelipisnya, sepasang taring tajam menghiasi mulutnya yang masih meneriakkan kutukan-kutukannya pada Archie. Wajah cantiknya menghilang sempurna, digantikan oleh wajah yang menyeramkan.
"DARAH TERKUTUK, BICARA SEENAKNYA DENGAN PENGUASA KEGELAPAN!! KAU SEHARUSNYA MATI SAAT PERTAMA KALI MENGINJAKKAN KAKI HINA MU DITEMPAT INI!!"
Exel tertawa kecil, kemudian meminta Qwenza untuk memaafkan ucapan Archie. Qwenza yang sedang meneriakkan sumpah serapah lainnya segera menoleh kearah Exel, menatapnya dengan lembut.
"Jika itu yang anda mau.. aku tak bisa menolaknya" ucap Qwenza yang sikapnya berubah amat cepat, wajahnya kembali cantik seperti semula. Archie tertawa hina, yang kemudian ditatap tajam oleh Qwenza.
Mereka kembali membicarakan tentang ramalan yang disampaikan Archie. Bode masih terlihat tak suka dengan sikap Archie yang terlalu merendahkan kepercayaannya akan ramalan, namun Bode tetap menutup mulutnya.
Kemudian pembicaraan berganti kearah lain. Archie bertanya tentang penyerangan salah satu anak buah Exel ke Edenteria yang kemudian dibenarkan oleh Exel sendiri.
"Dasar bodoh, bergerak sendiri.. beruntung ia masih hidup" ucap Bode menanggapi hal itu, ia menghentakkan tongkat Pinusnya kelantai.
"Beruntung katamu?" Qwenza menyela. Ia melipat tangannya didepan dada dengan kesal.
"Kehilangan kedua tangannya, tubuhnya hampir hancur dengan luka sebanyak itu, dengan itu semua si bodoh itu bisa saja mati.." ucapnya kesal. Exel tersenyum mendengarnya sedangkan Archie hanya mencibirnya, mengatakan kalau Zach hanya orang lemah dan mencela Exel karena telah menolongnya.
"Biarkan saja ia mati disana, kau melakukan hal yang sia-sia" ucap Archie, Qwenza menatapnya tajam karena cara bicaranya yang sama sekali tak menghormati Exel. Namun Exel mengangkat tangannya, meminta Qwenza untuk tak menghiraukannya.
"Ya jika orang itu bisa mati.." ucap Qwenza kemudian. Exel bertanya tentang keadaan Zach.
"Aku sedang membuatkannya tangan lain, perlu waktu, tapi si bodoh itu malah berteriak-teriak kearahku, dasar tak tau terima kasih, karena kesal aku menghajarnya, dan sekarang aku juga harus membuat tubuh baru untuknya" ucap Qwenza. Exel tersenyum lagi, kemudian beralih pada Archie.
"Lalu bagaimana dengan pertemuannya?"
__ADS_1
"Pertemuan Para Raja di Akiba, akan dimulai tiga hari dari sekarang" ucap Archie, ia berdiri dari tempatnya duduk. Mengibaskan jubahnya, membersihkan debu dari sana.
"Apa yang membuatmu tertarik dengan pertemuan itu?" tanya Archie kemudian.
"Ada seseorang yang aku perlukan, orang itu ditahan di penjara khusus di Akiba" jelas Exel, Archie mengangguk mengerti kemudian bertanya apakah Exel ingin ia mengacau dipertemuan itu untuk memberinya waktu mencari orang yang ia perlukan. Exel menggeleng pelan.
"Tak perlu, aku tak mau menunjukkan keterlibatanmu ke muka umum, terlebih lagi dihadapan para penguasa, tidak, belum saatnya.."ucap Exel, ia bangkit dari tempat duduknya.
"Tugasmu sekarang ini hanyalah mengirimkan informasi terkait ramalan itu, serta segala hal yang terjadi di Kerajaan Elf, terlebih lagi jika kau bisa mengambil alih kerajaan lebih cepat.." Archie menggelengkan kepalanya.
"Tidak untuk sekarang ini.." Archie menatap balik Exel dengan mata hijaunya yang redup. Ada sebuah hasrat besar terpendam dibalik mata itu.
"Ayahku, usianya sudah sekitar seratus tahun, dan kenyataan bahwa ia masih segar cukup membuatku kesal.. yang bisa kulakukan adalah melemahkan penjagaan agar kau bisa menyelinap masuk, kemudian.."
"Aku akan membantumu mendapatkan kursi kerajaan?" Archie mengangguk. Exel tertawa pelan, ia mengangkat lengan jubahnya, menampakkan tanda berbentuk Moonroose berwarna hitam ditempat yang dulunya adalah tanda dua kepala naga. Ia menyentuh tanda itu, sontak saja muncul tujuh sosok berjubah hitam diruangan itu.
"Sebelum kau datang, mereka baru saja melenyapkan sebuah kerajaan besar di benua lain, karena itu mengambil alih kursi kerajaan bukan hal yang sulit untukku, kau tak perlu khawatir"
Archie menatap ketujuh sosok yang baru saja datang itu, satu persatu mereka membuka tudung yang menutupi kepala mereka, memperlihatkan wajah-wajah yang telah dikenalnya, beberapa dari mereka masuk dalam daftar pelarian Battojairu yang dipublikasikan surat kabar Akiba.
"Vermillion.." desis Archie tajam, wajah-wajah baru itu menatapnya tak suka. Archie menguasai dirinya, ia menatap Exel lagi.
"Pasukan yang baru kau bentuk beberapa hari yang lalu, apa mereka bisa dipercaya" ucap Archie, ia kini terlihat santai walaupun banyak mata yang menatapnya tak suka saat ini.
"Aku ragu mereka bahkan bisa menembus pertahanan kerajaan.."
Qwenza bangkit dari posisi duduknya dilengan kursi Exel. Ia menatap Archie dengan tajam lebih dari sebelumnya. Ia merasa direndahkan didepan Exel saat Archie menyatakan keraguannya pada kemampuan Vermillion, yang mana ia juga termasuk didalamnya, sama seperti tujuh sosok yang baru datang itu, Bode dan Zach yang tak berada disana. Disisi lain Bode juga merasa terhina, ia menghentakkan tongkat Pinusnya ke lantai.
Namun Exel segera mengangkat tangannya. Memerintahkan mereka semua untuk tenang. Kemudian tersenyum kearah Archie.
"Kau tak perlu khawatir soal itu, lakukan saja tugasmu dan aku yang urus sisanya" tanpa sengaja Exel membuka sedikit aliran Cloe miliknya yang berdampak begitu besar. Angin berhembus kesegala arah dari tempatnya berdiri, memecahkan tiap gelas dimeja, kandil-kandil dan bahkan lampu, membuat ruangan itu gelap tiba-tiba.
Exel yang hanya sedikit membuka aliran Cloe-nya menyentak tiap orang yang ada disana, bahkan Qwenza menggigil merasakan tekanan Cloe yang begitu kuat sedangkan Bode merasa keempat kakinya tak lagi punya kekuatan untuk menopang tubuhnya, begitu pula dengan tujuh Vermillion lain yang tubuhnya bergetar saat merasakan Cloe milik Exel.
Archie berusaha tetap tenang walaupun guratan diwajahnya menunjukkan sebaliknya. Ruangan kembali terang saat Exel mengembalikan semuanya seperti semula. Exel tersenyum minta maaf pada mereka semua, ia berkata kalau ia tak sengaja melakukannya. Archie tak menjawab, sebagai gantinya ia berbalik.
"Baiklah kalau begitu, aku harus segera kembali sebelum mereka menyadari kepergianku" ucap Archie sambil melangkah menuju pintu, kemudian berhenti saat tangannya sudah membukanya.
"Sampaikan salamku jika kau bertemu ayahku di Akiba, akan sangat menyenangkan jika kunjungannya ke Akiba adalah perjalanan satu arah" ucapnya yang kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.
Exel terdiam ditempatnya cukup lama. Kemudian menatap Bode. Sang Centaurus itu menekuk salah satu kaki depannya kemudian menunduk dalam.
"Awasi dia.." ucapnya pelan, Bode mengangguk mengerti. Exel menoleh kearah Vermillion yang lain.
"Kita akan menyusup ke Kerajaan Elf segera, jadi persiapkan diri kalian" ucapnya dengan nada yang sama, kemudian ia menatap Qwenza yang berdiri tak jauh darinya.
Exel melangkah pelan kearah wanita itu. Qwenza menatapnya, ia jelas lebih tinggi dari Exel, sedangkan tinggi Exel hanya sebatas pundaknya. Dengan pelan ia berkata.
"Aku serahkan masalah di Akiba padamu" ucap Exel. Kemudian ia menatap lurus kearah perapian yang seketika menyala dengan liar.
"Aku tak menerima kegagalan untuk yang satu ini, bawa naga itu ke hadapanku" ucapnya lagi dengan bisikan tajam. Qwenza menatap dengan serius kemudian mengangguk mengerti. Gadis itu melangkah pergi, tujuan utamanya adalah Akiba.
***
"Jadi, mereka baru saja berangkat?" tanya Lian pada sosok Kevin yang berdiri tak jauh dari mejanya. Ia sedang duduk dibalik meja kerjanya diruangan Aldrich, Kevin datang menghadap untuk memberitahu tentang keberangkatan para Kapten Divisi mengantar surat permintaan maaf kepada bangsawan mengenai kejadian buruk di festival.
Kevin, seperti biasa, mengenakan jubahnya, kepalanya tertutup tudung jubah yang tak pernah ia lepas itu. Sebagai penasihat kerajaan, Kevin tak terlalu banyak bicara, ia adalah tipe pemikir yang lebih suka melihat dan menganalisa sebelum menentukan pergerakan. Namun kini raut wajah Kapten Divisi ketiga itu terlihat muram. Lian yang mengetahui hal itu segera bertanya, namun Kevin berkata bahwa ia tak apa-apa.
"Aku hanya sedang berpikir tentang penyerangan itu" ucapnya kemudian.
"Aku mengira kalau itu takkan menjadi satu-satunya serangan, ada hal-hal aneh yang aku sendiri tak begitu mengerti"
Lian terdiam di mejanya. Ia menyatukan kedua tangannya, menggunakannya sebagai penyangga kepalanya dimeja. Ia terlihat berpikir. Ia tak menyalahkan kecurigaan Kevin, karena dirinya sendiri juga berpikir seperti itu.
"Aku punya satu permintaan.." ucap Aldrich ketiga itu tiba-tiba. Kevin menatapnya dengan wajah penuh tanya. Ia tau Lian bukan tipe yang mudah meminta sesuatu jika ia bisa melakukannya sendiri, karena itu sesuatu yang ia minta pastilah bukanlah hal yang mudah.
"Bisakah kau pergi ke Kerajaan Elf untukku?"
Mata Kevin membulat sempurna. Alisnya terangkat membentuk raut wajah bingung akan permintaan Lian.
"Kau minta aku untuk apa?"
Lian memperbaiki posisi duduknya yang kini bersandar di kursi. Ia mengulangi kata-katanya, tapi ia masih melihat kebingungan di wajah Kevin.
"Aku tau permintaanku ini cukup sulit, tapi tak ada seorangpun yang kutahu bisa pergi kesana tanpa terdeteksi selain dirimu"
"Maafkan aku sebelumnya.." balas Kevin yang kemudian menghela nafasnya sebelum melanjutkan.
"Apa kau sudah gila? kau tau aku ini apa dan sekarang kau memintaku menggali kuburanku sendiri?" Kevin tak habis pikir, Kerajaan Elf adalah satu-satunya tempat yang takkan pernah ia kunjungi lagi seumur hidupnya. Tapi kini laki-laki berkacamata didepannya itu memintanya untuk pergi kesana.
Lian tak menjawab, sebaliknya ia menarik salah satu laci dibawah mejanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dan menyerahkannya kepada Kevin.
"Aku berharap kau mau melakukannya, anggaplah ini sebuah misi rahasia, kau akan tau apa yang harus kau lakukan disana setelah membacanya" ucap Lian sambil mengedikkan dagunya kearah amplop yang diterima Kevin. Sedangkan laki-laki bertudung itu menatapnya dengan ragu, ia punya sejuta alasan untuk menolaknya namun Kevin mengurungkan niatnya.
"Kau akan mendapatkan jawabanku setelah aku selesai membacanya" ucap Kevin. Lian mengangguk mengerti. Setelah itu Kevin pamit untuk pergi tepat disaat pintu ruangan mengayun terbuka menampakkan sosok Udzaa yang melangkah masuk.
"Oh pagi.." sapa Udzaa kearah keduanya. Kevin membalasnya singkat kemudian melangkah pergi.
"Ada apa dengannya? kenapa wajahnya kesal seperti itu" tanya Udzaa pada Lian yang lebih terdengar seperti gerutuan. Lian tersenyum singkat sambil mengangkat bahunya, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tumpukan perkamen di mejanya.
"Untung kau datang, ada beberapa pekerjaan yang harus kau selesaikan hari ini" ucap Lian pada Udzaa tanpa memalingkan wajahnya dari perkamen di tangannya. Udzaa menatapnya penuh tanya.
"Aku sudah meletakkannya di mejamu" tunjuk Lian kearah meja disudut ruangan yang diatasnya terdapat beberapa tumpukan perkamen.
"Astaga banyak sekali, apa-apaan perkamen-perkamen brengsek ini" umpat Udzaa yang melangkah kearah mejanya. Setidaknya ada tiga tumpukan besar perkamen yang kini memenuhi mejanya. Lian menjelaskan tentang perkamen yang harus ditandatangani olehnya, yang beberapa diantaranya adalah laporan dari tiap Divisi.
"Sebagai Aldrich keempat kau membawahi kesembilan Divisi yang ada, wajar saja mereka memberi laporan padamu" jelas Lian, Udzaa menyumpah di mejanya dengan kesal, namun tetap saja ia duduk dan memeriksa semua perkamen itu. Lian melemparkan sebotol tinta dari mejanya kearah Udzaa yang sepertinya kehabisan tinta.
Pagi itu ruangan Aldrich ramai dengan keluhan-keluhan Udzaa yang keluar dari mulutnya selagi ia memeriksa perkamen yang ada. Lian terkekeh beberapa kali, melempar ejekan tentang Udzaa yang tak terlalu suka membaca. Suara Aldrich keempat itu makin keras saat ia kembali mematahkan penanya untuk kelima kalinya pagi ini.
"Argghhh!! kalau begini terus aku bisa gila" racaunya tak jelas, walaupun begitu ia tetap menyambar pena lain dari meja Nia yang kosong.
Beberapa jam kemudian Udzaa kembali bersuara, ia bersorak gembira saat ia berhasil menyelesaikan perkamen terakhirnya. Ia merenggangkan tubuhnya dikursi, menghela nafas lega. Lian memperhatikannya dari balik buku yang sedang ia baca.
"Laporan dari rumah sakit itu yang terakhir.. akhirnyaaa"
Lian mendongak dari balik bukunya.
"Hoo sudah selesai? baguslah, jadi kau bisa mulai menyelesaikan sisanya" ucap Lian sambil menunjuk tumpukan perkamen lain diatas meja Aldrich pertama. Udzaa melotot horor sampai Lian tertawa.
"Aku bercanda.." tawa Lian sambil menutup bukunya. Wajah Udzaa membuatnya geli.
Lian segera mengalihkan pembicaraan kearah lain. Ia bertanya tentang kondisi Noey saat ini. Udzaa mengatakan kalau Noey baik-baik saja walau belum sepenuhnya sadar hingga saat ini.
"Itu yang dikatakan laporan dari rumah sakit ini" ucapnya sambil memeriksa kembali perkamen terakhirnya.
"Aku tak pernah melihat Kak Noey kalah dalam pertarungan, ini pukulan terberat yang pernah kita terima" ucap Lian pelan, ia menatap sampul buku ditangannya tanpa minat, sedangkan Udzaa hanya terdiam ditempatnya.
"Kau ingat hal yang kutanyakan kemarin?"
Udzaa bergerak ditempat duduknya, berusaha menutupi ketidaknyamanannya, tapi Lian melihat itu. Ia tersenyum kecil, masih menatap sampul buku yang ia pegang.
"Aku tau, kau menyadari hal yang sama sepertiku, sebuah alasan yang mendasari penyerangan itu" ucap Lian lagi. Ia berusaha menyusun kata-katanya sebaik yang ia bisa.
"Andai saja kita tau siapa yang sedang kita hadapi, mungkin kita bisa mencegah hal buruk terjadi"
"Maaf, aku tak tau apa yang kau bicarakan" ucap Udzaa cepat, tapi Lian menangkap nada ragu disuaranya. Udzaa bangkit dari tempat duduknya.
"Karena tugasku sudah selesai aku ingin jalan-jalan sebentar" ucapnya sambil melangkah kearah pintu, namun Lian kembali bersuara tepat disaat ia menyentuh gagang pintu.
"Walau warnanya berbeda, aku masih bisa mengenali kabut itu" ucap Lian yang merujuk pada tehnik yang digunakan para penyerang untuk melarikan diri malam itu.
"Itu bukan tehnik yang mudah ditiru begitu saja" ucapnya lagi sambil melihat pintu ruangan itu ditutup, meninggalkan keheningan menyelimutinya sendiri.
***
Dilain pihak Kevin baru saja selesai membaca perkamen dari amplop besar pemberian Lian. Ia meletakkan perkamen itu keatas meja dengan sedikit kasar, menghela nafas berat sambil bersandar dikursinya. Ia menatap langit-langit ruangan sambil menerawang. Kini ia berada didalam ruang kerjanya yang sekaligus kamarnya. Tak seperti Aldrich keempat dan beberapa temannya yang memiliki flat diluar kastil, ia sendiri tinggal di salah satu kamar yang tersedia di kastil. Kamarnya tak terlalu besar, hanya ada satu tempat tidur serta satu meja dan kursi tempat ia duduk sekarang. Keseluruhan ruangan itu berwarna putih tanpa ornamen tambahan lainnya yang menurutnya bisa membantunya berpikir dengan tenang. Tapi sepertinya tak ada pengaruhnya saat ini.
Kevin kembali menghela nafasnya, ia tak habis pikir. Jelas sekali Lian paham kenapa dirinya tak mau berkunjung ke kerajaan Elf, tapi sekali lagi ia juga menyadari bahwa hanya dirinya yang bisa melakukannya. Kerajaan Elf, yang walaupun telah lama menjalin perdamaian dengan ras manusia sejak perang besar dulu, namun tak membuat mereka membuka diri dari dunia luar. Tak ada yang bisa masuk kesana tanpa melewati pemeriksaan ketat yang sebenarnya bukan sebuah masalah besar untuknya, ia bisa dengan mudah melewatinya hanya saja satu-satunya hal yang membuatnya tak bisa melakukan itu adalah kenyataan tentang dirinya yang jelas sekali takkan disukai para Elf, bahkan melebih rasa tidak suka mereka terhadap ras lain.
Kevin melirik perkamen diatas meja, kemudian memejamkan matanya.
"Situasinya benar-benar gawat" gumamnya. Setelah membaca perkamen itu barulah ia mengerti kenapa Lian memintanya melakukan hal ini. Penyerangan besar-besaran yang terjadi tempo hari membuat Aldrich ketiga itu harus melakukan sesuatu. Kevin membenarkan betapa berbahayanya penyerangan saat itu, dan kini Lian punya sebuah petunjuk untuk mengetahui identitas serta alasan para penyerang yang mungkin akan melakukan hal yang lebih gila lagi.
Kevin mencoba untuk mengingat masa lalunya, yang sebenarnya tak bisa diingatnya dengan jelas. Sama seperti teman-temannya yang lain, ia adalah yatim-piatu korban perang. Perang besar yang terjadi dulu, membuat banyak korban berjatuhan, tak terkecuali orang tuanya. Sejauh yang ia ingat adalah ia telah bergabung dengan teman-temannya di serikat Jeanne Light Cracker sejak lama, mungkin ia menjadi salah satu orang pertama yang ikut bergabung. Sejak itu ia dan teman-temannya bergerak menyebarkan perdamaian demi menghentikan perang yang terjadi, merekrut tiap-tiap orang yang memiliki pandangan yang sama dengan mereka akan masa depan yang lebih baik.
Kevin menatap papan kayu kecil di atas tempat tidurnya sambil berpikir. Papan kayu itu berwarna coklat, ukurannya tak lebih dari 1 meter, memuat banyak bidak kayu diatasnya. Orang-orang menyebutnya catur sihir walaupun nama sebenarnya adalah Ygdrachma, sebuah permainan kuno yang membutuhkan keterampilan untuk berpikir cepat, pemain harus menentukan sebuah strategi untuk mengalahkan bidak-bidak lawan, menghabisi bidak rajanya dan akhirnya memenangkan permainan. Kevin seringkali menggunakannya untuk membuat strategi dalam pertarungan sebenarnya, strategi favoritnya adalah menyerang tiap sudut pertahanan lawan, memecah belah bidak lawan untuk menahan tiap serangan yang ia berikan hingga akhirnya meratakan semua bidak lawan dengan satu gelombang serangan yang besar.
Kevin kesal karena ia tak bisa menerapkan strategi itu untuk kondisi ini. Lawannya kini punya bidak yang tak pernah ia lihat, akan sangat merugikan jika menyerang tanpa mengetahui apa yang akan dilakukan bidak lawan. Bagaimana jika bidak lawan lebih kuat daripada miliknya? Atau jumlah mereka lebih banyak daripada bidaknya sendiri?. Kevin mengerang frustasi.
Satu-satunya cara adalah untuk mengetahui bidak lawan dan mempelajari pola serangannya, dengan begitu ia akan punya waktu untuk menyusun langkah selanjutnya.
"Defendeo" ucapnya lirih pada papan permainan itu. Bidak-bidak miliknya bergerak secara sihir, membuat formasi yang menjorok kebelakang, memperlebar jarak diantara mereka dengan bidak lawan. Formasi itu membentuk sebuah pertahanan besar, memusatkan semua perhatian bidaknya pada bidak raja, bidak paling besar dengan bentuk seorang ksatria berpedang. Meninggalkan kelompok kecil dibaris depan tanpa perlindungan.
Kevin menatap kelompok kecil itu. Posisinya yang lebih didepan praktis membuat mereka mudah dihancurkan bidak serang lawan dari segala arah. Namun memberi waktu bagi bidak lain dibelakangnya untuk mempelajari pola serangan lawan, yang mungkin didapat dengan sebuah pengorbanan kelompok kecil didepannya itu.
Kevin menghela nafas lagi, ia mengangkat pandangannya ke langit-langit ruangan. Menyandarkan kepalanya ke pangkal sandaran kursinya, membuat kepalanya menengadah ke atas. Ia memejamkan matanya sambil berpikir hingga tak sadar bahwa posisi duduknya itu membuat tudungnya jatuh, memperlihatkan wajahnya yang seputih mutiara dengan jelas, telinga runcing khas ras Elf dan rambut panjangnya yang berwarna gelap, segelap takdirnya sebagai Half-Elf.
***
Bangsal umum di lantai dua rumah sakit terlihat sunyi saat ini. Beberapa penyembuh lebih memusatkan perhatiannya pada koridor 'Luka Gawat' dimana kemampuan mereka lebih dibutuhkan.
Didalam bangsal umum itu sendiri hanya ada seorang gadis kecil salah satu tempat tidur disana. Walaupun begitu raut wajah gadis itu menunjukkan kegelisahan dalam tidurnya, keringat dingin mengucur deras diwajahnya yang cantik, membasahi perban di keningnya. Kemudian dengan tiba-tiba kedua matanya terbuka, menampakkan mutiara kelabu sewarna badai yang menatap dari balik kelopak matanya.
Gadis itu tersadar, tersentak oleh sesuatu. Mungkin bermimpi. Ia berusaha bangkit dari posisi tidurnya namun tertahan oleh rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia meringis sambil menatap sekitar, berusaha mengetahui dimana ia berada saat ini.
Dengan susah payah ia berhasil bangkit, memposisikan dirinya untuk duduk diatas tempat tidur yang nyaman itu. Sudah lama sekali ia tak pernah merasakan betapa nyamannya sebuah tempat tidur, walaupun nyeri ditubuhnya tak pernah ia harapkan.
Hal yang terakhir ia ingat adalah ledakan itu, tebing yang hancur serta tubuhnya yang meluncur jatuh bersama puing-puing batu. Selebihnya ia tak mengingatnya. Apa yang terjadi setelah itu, apakah ia mati?.
Tapi gadis itu yakin bahwa ia belum mati, tak pernah ia dengar sebelumnya jika dunia setelah kematian terlihat seperti sebuah rumah sakit.
Gadis itu berusaha mengendalikan diri. Ia belum bisa merasakan kedua kakinya, pemulihan tubuhnya tak pernah selama ini. Ia mendengar beberapa suara dari luar ruangan, beberapa ketukan palu dari arah yang cukup jauh, serta beberapa obrolan orang-orang tentang renovasi atau sebagainya.
Ia belum bisa mengendalikan Cloe nya dengan normal, ia merasa lemah, kepalanya berputar-putar membuat matanya tak fokus. Ia masih bisa merasakan luka-luka ditubuhnya, berdenyut nyeri. Ia tak mengerti, kemampuan tubuhnya untuk memulihkan diri turun hingga tingkat terendah.
"Cih"
Disaat gadis itu masih terdiam, seseorang masuk kedalam ruangan melalui jendela, membuatnya terkejut. Ia bahkan tak menyadari kehadiran sosok itu hingga saat terakhir.
"Ah kau sudah sadar.." ucap sosok itu, melompat masuk dari bingkai jendela kemudian berdiri disisi tempat tidur.
"Tak perlu menatapku seperti itu, aku tak menyalahkanmu karena terkejut" ucap sosok itu.
"Namaku Jose"
Gadis bersurai putih itu menatap sosok yang memperkenalkan dirinya itu. Jose sendiri hanya balik menatapnya dengan santai.
"Baiklah jika kau tak mau mengatakan namamu" ucap Jose kemudian, ia menarik sebuah kursi dari ujung ruangan kesamping tempat tidur gadis itu. Duduk disana sambil menatap gadis asing yang ia selamatkan semalam dengan penuh tanya.
Jose bukanlah seorang yang ahli dalam menginterogasi, walaupun sebenarnya ia tak berniat menginterogasi, ia hanya ingin mengetahui siapa gadis yang ia selamatkan semalam. Keadaan Edenteria saat ini masih dalam status waspada akibat penyerangan beberapa hari lalu, status keamanan yang ditetapkan kini berada pada tingkat tertinggi sejak Edenteria pertama kali dibangun, hal ini membuat semua orang serta Jose sendiri meningkatkan kewaspadaannya pada segala hal, termasuk orang asing yang tiba-tiba ia temukan dibawah reruntuhan tebing.
Dalam hal ini Jose berusaha memulai 'pendekatan' yang baik, seperti yang biasa mereka lakukan. Mereka, para anggota dari serikat Jeanne Light Cracker, sepakat untuk memperlakukan semua orang yang datang ke Edenteria dengan baik, tak peduli ras mereka atau darimana mereka berasal, mereka akan selalu diterima dengan dama di kerajaan ini. Kemudian dengan alasan itu Jose kembali bertanya dengan suara lembut, yang sebenarnya enggan ia gunakan. Yang lain akan mengejeknya jika mendengar nada bicaranya saat ini.
"Aku yang membawamu kesini" ucap Jose. Ia berhenti sebentar untuk melihat reaksi lawan bicaranya, namun gadis didepannya sama sekali tak menunjukkan ketertarikan yang berarti. Ini cukup membuatnya sedikit tersinggung. Apakah tak ada ucapan terima kasih atau sesuatu seperti itu?. Jose menggerutu dalam hati.
"Aku menemukanmu dibawah reruntuhan tebing, nona Frans mengatakan mungkin kau sudah ada disana seharian lebih"
"Bagaimana bisa kau ada disana?" Jose bertanya.
Gadis bersurai putih itu bergeming. Tak menjawab, bahkan tak sedikitpun menunjukkan respon akan kata-kata Jose. Ia terdiam tanpa suara, menatap jari-jari tangannya yang saling bertautan. Kedua alis Jose berkedut kesal, ia sudah rela berbaik hati, bicara dengan lembut yang mana bukanlah gayanya. Jika saja ia bisa memastikan kalau gadis didepannya itu adalah musuh, ia takkan berbaik hati seperti ini.
"Hei, bisakah kau bicara? aku hanya ingin bertanya siapa kau, setidaknya beritahu aku nama.."
"Ryuu.."
Jose berhenti saat tiba-tiba gadis itu bicara. Suaranya terdengar serak, terdengar seperti ia memaksakan diri untuk bicara disaat tenggorokannya terganjal sesuatu. Daripada itu semua, Jose tak merasakan permusuhan dalam suara gadis itu.
***
"Ryuu.."
Akhirnya ia berhasil bicara setelah berusaha keras menggerakkan lidahnya yang kelu sejak ia terbangun, walaupun suara yang keluar terdengar tak lebih dari pada suara seekor katak, setidaknya ia bisa menjawab pertanyaan gadis disampingnya yang terlihat aneh dimatanya. Bagaimana gadis itu memaksa untuk mengikat rambutnya yang pendek itu, membuatnya terlihat seperti nanas.
"Ah baiklah,.." Jose membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Jadi, Ryuu bagaimana kau bisa ada dibawah reruntuhan itu?"
Ryuu, gadis bersurai putih itu terdiam lagi. Bukan tanpa alasan, seluruh indranya sedang kacau, bahkan ia harus berusaha keras untuk mengatakan namanya. Ada sesuatu yang sala pada tenggorokannya yang kering, semakin keras ia berusaha untuk bicara semakin sakit tenggorokannya. Ia tak mengerti, bahkan tubuhnya yang memiliki kemampuan untuk memulihkan diri dalam waktu singkat tak bekerja sebagaimana mestinya.
Ryuu kembali mencoba untuk mengeluarkan suaranya tepat disaat pintu ruangan itu terbuka. Mereka berdua sontak menoleh dan mendapati seorang gadis pirang melangkah masuk sambil membawa gelas kayu ditangannya.
"Ah, kau sudah sadar?" ucap gadis pirang itu saat melihat Ryuu. Kemudian mengalihkan pandangannya kearah gadis nanas yang duduk tak jauh dari tempat tidur Ryuu.
"Jose? bagaimana kau bisa ada disini?" tanyanya.
Gadis nanas itu, Jose, berdiri dari kursinya.
"Aku hanya ingin memastikan semua baik-baik saja, maaf tapi aku datang lewat jendela" ucap Jose menjelaskan sambil mengerling kearah jendela yang terbuka dibelakangnya.
Gadis pirang itu melangkah mendekati mereka. Ia meletakkan gelas kayu yang ia bawa keatas meja disamping tempat tidur, menepuk puncak kepala Ryuu kemudian tersenyum. Ryuu sendiri tak suka dengan apa yang dilakukan gadis pirang itu padanya, dalam keadaan normal ia akan menganggap kontak fisik apapun sebagai serangan, tapi keadaannya saat ini tak memungkinkan dirinya mengatakan itu.
"Kau terlihat baik-baik saja" ucap gadis pirang itu, masih dalam senyumannya. Ryuu menatapnya tajam, bagaimana gadis itu bisa mengatakan kalau dirinya baik-baik saja sementara semua indranya sedang kacau. Tapi gadis pirang itu tak menghiraukan tatapan tajam yang dilemparkan Ryuu, sebaliknya ia mengalihkan matanya kearah Jose.
"Jose, aku minta maaf, tapi bisakah aku minta tolong padamu untuk menyampaikan sesuatu pada kakakku?"
Jose mengangkat bahunya.
"Ya, tentu saja, apa yang harus kusampaikan?" ucapnya ringan.
"Katakan saja kalau RoutRabbitt panggangnya sudah matang, aku akan membawanya ke tempat Poppy, dia bisa menemuiku disana" ucap gadis pirang itu.
"Baiklah, akan kusampaikan"
Gadis pirang itu tersenyum hangat.
"Terima kasih Jose, kau baik sekali"
Kemudian setelah itu Jose melangkah pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Ryuu sendiri bersama gadis pirang itu yang menatap punggung Jose hingga menghilang dari balik pintu. Ryuu menyipitkan matanya, menatap punggung gadis pirang dihadapannya itu, ia tau betul bahwa meminta gadis nanas itu untuk menyampaikan pesan adalah sebuah alasan yang dibuatnya agar gadis pirang itu punya kesempatan untuk berdua dengan Ryuu. Ia tak mengerti apa alasan dibalik kebohongannya itu, tapi apapun itu ia harus waspada.
Ryuu berusaha sekuat yang ia bisa untuk mengendalikan Cloe miliknya agar ia bisa bersiap dengan skenario terburuk. Namun bagaimanapun ia berusaha, ia tetap tak bisa mengendalikannya, aliran Cloe-nya kacau. Selagi Ryuu berusaha, gadis pirang itu membalikkan badannya menghadap Ryuu kemudian tersenyum.
"Bagaimana dengan tubuhmu? lukamu cukup serius sebelumnya, kuperkirakan itu luka akibat ledakan sihir, aku masih bisa merasakan efek sihir itu pada tubuhmu semalam. Karena itu aku terpaksa menggunakan ramuan khusus untuk menetralisirnya" ucap gadisdis pirang itu. Ia melangkah menuju jendela tempat darimana gadis nanas tadi datang, ia menjulurkan kepalanya keluar jendela, menatap sekeliling, memastikan sesuatu.
Ryuu tak mengendurkan kewaspadaannya. Satu hal telah terbukti benar, gadis pirang itulah yang merawatnya sejak ia dibawa ketempat ini, dan melihat pakaiannya saat ini yang jauh berbeda dengan yang ia kenakan sebelumnya, Ryuu telah yakin gadis itulah yang sudah mengganti pakaiannya, termasuk ikat kepalanya. Ryuu menggeram tanpa sedikitpun mengeluarkan suara, gadis itu mungkin sudah tau tentang identitas asli Ryuu.
"Melihatmu yang sudah cukup bersemangat ini.." ucap gadis pirang itu setelah ia menoleh, tersenyum kearah Ryuu yang masih menatapnya tajam. Ryuu yakin gadis itu melihat kedua tangannya yang mengepal kuat diatas selimut putihnya. Namun gadis itu tak menunjukkan reaksi aneh padanya, sebaliknya gadis itu mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela.
"Kurasa ramuannya bekerja dengan baik, tapi aku minta maaf, ramuan itu membuat semua aktivitas sihir dalam tubuhmu menghilang untuk beberapa saat, efek sampingnya bisa membuat kacau aliran Cloe milikmu, karenanya pemulihan tubuhmu mungkin takkan secepat biasanya, maaf ya"
Tatapan Ryuu semakin tajam, gadis itu tau tentang kemampuan tubuhnya untuk memulihkan diri dengan cepat. Tak lagi bisa dipungkiri, gadis pirang itu tau semua hal tentang dirinya. Ryuu menguatkan tekadnya, Cloe miliknya masih tak bisa dikendalikan, tapi perlahan ia bisa merasakan kelima indranya menguat. Setidaknya ia bisa melindungi diri dengan kekuatan fisiknya untuk mengantisipasi keadaan terburuk.
"Kau punya mata yang indah.." ucap gadis pirang itu yang sontak membuat Ryuu bingung, semua rencana yang ia pikirkan di kepalanya seolah tersapu begitu saja. Ia menatap gadis pirang itu dengan bingung. Ryuu tak menemukan kebohongan dalam nada suaranya, mata biru gadis pirang itu terlihat murni, menatap langsung ke matanya.
"Kau juga cantik, aku khawatir kakakku akan 'menyukaimu'.." Ryuu mendelik, membuat kedua matanya yang sekelabu badai terlihat makin jelas.
"Tidak-tidak.." gadis pirang itu menggelengkan kepalanya cepat, Ryuu masih memperhatikannya dengan bingung.
"Aku takkan membiarkannya 'menyukaimu' karena akulah satu-satunya orang yang harus ia 'sukai' didunia ini" ucapnya sambil tertawa kecil. Tapi sedetik kemudian ia terperanjat.
"Astaga aku hampir lupa" ucapnya cepat-cepat.
Ryuu masih bingung dengan kata-kata gadis itu. Suka? Apa maksudnya, ia tak mengerti, atau apakah ia hanya sedang dibuat bingung, tapi Ryuu tak menemukan kebohongan apapun dari masa bicara gadis itu. Ia menatap gadis itu lagi yang terlihat seperti tengah berbicara dengan seseorang yang tak ada disana. Ryuu memperhatikannya dengan tajam hingga gadis itu tersadar jika tengah diperhatikan, kemudian menoleh dan tersenyum.
"Kurasa sudah waktunya" ucapnya sambil melangkah mendekati Ryuu yang masih waspada. Ryuu mengepalkan tangannya dengan kuat, berniat melayangkan pukulan kejutan disaat jarak mereka cukup dekat, namun gadis pirang itu lebih cepat, bukan, Ryuu sendiri yang tak bisa menggerakkan tangannya, dan itu bukan tanpa alasan.
Gadis pirang itu menyentuh bahu Ryuu dengan lembut, membuatnya merasakan sensasi aneh yang menjalar dari bahunya. Tak berhenti sampai disana, alasan terbesar kenapa Ryuu tak bisa melayangkan pukulan yang sudah ia rencanakan itu adalah karena tangannya kini bukanlah tangan yang ia kenal.
Entah pandangannya yang kabur atau memang tangannya yang kini berdenyar aneh. Ryuu menatap gadis pirang didepannya dan terkejut saat gadis pirang itu juga ikut berdenyar, begitu juga dengan tubuhnya uang tampak larut dalam warna kelabu yang terlihat seperti kabut. Ryuu hampir terlonjak saat menyadari kalau semua itu bukanlah karena pandangannya yang kabur, melainkan tubuh mereka berdua yang melebur menjadi kabut, tak punya massa, tak memiliki wujud, bentuk sempurna dari kabut kelabu yang dengan cepat berubah warna menjadi putih.
Disaat Ryuu sedang mencerna apa yang sedang terjadi, tubuhnya terasa ditarik paksa oleh pengait yang tak terlihat. Menariknya dari tempat tidur, melewati jendela dan terbang tertiup angin.
***
Frans melirik gadis bersurai putih dibelakangnya, tangannya menggengam erat gadis itu didalam kabut. Wajah pucat Ryuu terlihat makin pucat dibawah kabut, hampir terlihat bagaikan mayat hidup. Frans tak menyalahkannya, kurang lebih itulah ekspresi yang akan ditunjukkan setiap orang yang baru pertama kali merasakan perjalanan kabut. Mau tak mau ia terkikik geli.
Mereka berdua, Frans dan gadis bersurai putih itu, Ryuu, kini tengah melayang dalam kabut diatas langit Edenteria. Pergi menjauhi rumah sakit, tujuannya adalah pondok Poppy diluar dinding kerajaan. Ia sengaja menarik Ryuu pergi dengan kabut agar tak ada satupun orang yang melihat mereka, akan cukup merepotkan jika ada yang tau. Semua dikarenakan kehadiran Ryuu yang tiba-tiba setelah penyerangan malam itu. Dari yang ia lihat dari tatapan Jose saat dibangsal umum, Frans cukup yakin gadis putih itu sedang diawasi. Frans tak menyalahkan Jose, wakil kapten Divisi Empat itu hanya menjalankan tugasnya, terlebih lagi protokol keamanan Edenteria sedang berada di tingkat tertinggi, hal itu wajar bila Jose sedikit curiga dengan kemunculan Ryuu.
Frans melirik Ryuu dari sudut matanya, gadis itu terlihat memasang wajah bingung yang tak bisa diartikan, namun segaris kewaspadaan masih tercetak jelas disana. Ia mengerti perasaan itu, sebagai seseorang yang terbangun di tempat asing adalah hal yang lumrah jika meletakkan kecurigaan disetiap tempat. Terlebih lagi fakta tentang identitas aslinya, Frans yang dulu juga akan melakukan hal yang sama persis. Memikirkan hal itu membuat Frans sedikit mengingat masa lalunya. Jika dipikir lagi, Ryuu terlihat mirip dengannya 16 tahun lalu.
Disisi lain, Ryuu yang masih tak bisa mencerna hal yang sedang terjadi itu menatap hamparan bangunan dibawahnya. Ia sedang melayang? terbang? Ia taka tau bagaimana memproses kejadiaan ini, saat ini ia seutuhnya adalah kabut putih yang melesat bagai tertiup angin melewati banyak bangunan dibawahnya.
Gadis pirang yang mengenggam tangannya kini, Frans, juga dalam posisi yang sama dengannya, ia adalah kabut putih seperti dirinya sekarang, lebih-lebih Frans lah yang menariknya terbang entah kemana. Tubuh kabut ini terasa lebih lemah dari tubuhnya yang lama, Ryuu bahkan tak bisa merasakan tubuhnya sendiri yang eksistensinya berubah menjadi zat mirip kabut yang tak memiliki berat dan massa. Hal ini membuatnya frustasi saat pemikiran akan dirinya yang tak bisa kembali ke bentuk semula melintas begitu saja di kepalanya. Atau pemikiran tentang ia akan keluar dari kabut putih itu dan melucur jatuh ketanah dari ketinggian ini. Semua itu, ia tak tau jawabannya, yang ia bisa lakukan saat ini adalah hanya balas menggenggam tangan gadis pirang didepannya.
Frans tersenyum kecil saat merasakan tangannya diremas oleh tangan kecil itu. Ia mengalihkan pandangannya ketempat lain. Mereka sudah berhasil melewati dinding serta gerbang utama yang masih dalam renovasi, kini mereka tengah melesat melewati hutan, Frans menurunkan ketinggian mereka, melesat diantara pohon-pohon besar, berbelok menghindari beberapa sulur-sulur tanaman, kemudian kembali melesat ke langit tinggi hanya untuk kembali melesat turun dengan manuver yang menakutkan, membuat genggaman tangan Ryuu semakin erat.
Jauh lebih dalam ke hutan, Frans telah melihat sebuah pohon yang lebih besar dari pohon lain, berdiri dengan dedaunan yang rimbun persis ditengah hutan, petak-petak tanaman obat disekitarnya tertata rapih. Frans melesat turun, mendarat mulus diantara petak lobak putih dan anggur hutan. Setelah memastikan tanah berada persis dibawah kakinya, ia melepaskan kabut dari tubuhnya, juga tubuh Ryuu.
Ryuu yang telah menyadari bahwa ia kembali ketubuhnya yang semula menghela nafas lega, namun bulir-bulir keringat diwajahnya menunjukkan betapa ia takkan bisa melupakan kejadian tadi. Frans melepas genggaman tangannya pada Ryuu yang walaupun sudah kembali menapak tanah tapi terlihat dua kali lipat lemah dari sebelumnya. Frans melihat kedua kaki gadis itu seperti tak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri, namun Ryuu berusaha mengendalikan diri. Dengan tubuhnya yang dipenuhi keringat dingin ia menatap Frans yang berdiri tepat didepannya.
“Apa ya-yang kau la-lakukan padaku” Ryuu akhirnya bisa bicara dengan normal, namun nafasnya masih berat setelah mendapat pengalaman terbang.
Frans tersenyum.
“Maaf, tapi aku tak ingin ada orang yang tau kalau kau pergi bersamaku” ucapnya dengan tenang, tapi Ryuu tak menerimanya, gadis bersurai putih itu mengepalkan tangannya berusaha menerjang tepat kearah Frans namun ia mengurungkannya saat Frans mengangkat tangannya.
“Aku mengerti perasaanmu saat ini, tapi aku hanya ingin menolongmu, aku tak berniat melakukan apapun, aku hanya ingin bicara” ucapnya, Ryuu tak ingin memercayainya, sudah banyak hal didunia ini yang tak pantas mendapatkan rasa percayanya, namun bahkan sedikitpun Ryuu tak menemukan nada kebohongan dalam suara gadis pirang itu.
Disaat Ryuu tengah berspekulasi dengan pikirannya sendiri seseorang muncul dari balik pintu yang ada dibatang pohon besar tak jauh dari sana.
“Bisakah kalian tak membuat keributan ditempat ini, aku takkan membiarkan kalian merusak ketenangan dihutan ini, terlebih lagi mengganggu lobak putih yang sedikit lagi panen” Poppy, gadis bersurai merah muda yang merupakan rekan Frans serta kakaknya muncul dari balik pintu rumahnya. Ia mengenakan gaun putih yang dibalut dengan jubah tidur berwarna sama.
Frans menoleh kearah Poppy, menyapanya kemudian tanpa persetujuan menarik tangan Ryuu untuk mendekat. Mereka berdua berjalan melewati petak tanaman obat dipekarangan Poppy, naik ke bordes rumah pohon besar itu. Poppy yang berdiri didepan pintu menatap Frans pada awalnya, namun segera mengalihkan pandangannya kearah sosok lain disebelahnya.
“Astaga, kau bercanda?” tanyanya dengan nada tak percaya kearah Frans.
“Seperti biasa Poppy, kau punya insting yang tajam” balas Frans sambil tersenyum.
***
Pondok Poppy terletak jauh didalam hutan, namun masih didalam batas wilayah Edenteria. Secara teknis pondok Poppy adalah sebuah pohon besar yang diubah menjadi sebuah tempat tinggal olehnya. Sebenarnya, sebagai seorang Aldrich, Udzaa sudah menawarkan sebuah tempat di Edenteria untuk Poppy, namun gadis itu menolak, mengatakan ia tak suka berada didalam kerajaan yang bising itu. Dan karena itu Poppy lebih memilih tinggal dipondoknya sekarang.
Poppy adalah seorang Farmasist, seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengolah berbagai ramuan. Kemampuannya berada ditingkat yang sama dengan Frans sebagai seorang penyembuh. Karena hal itu Poppy berperan sebagai penyembuh pribadi bagi Aldrich keempat dan adiknya itu, walaupun mereka berdua bisa mendapatkan penanganan medis dari penyembuh lain seperti halnya Meiza dan Kiruru, namun ada beberapa hal dari mereka yang tak ingin diketahui orang lain, sesuatu yang mungkin bisa menggemparkan Edenteria, bahkan kerajaan pusat Akiba sekalipun.
“Aku tak pernah mengira hal ini akan terjadi” ucap Poppy dengan nada tak percaya. Ia melangkah dari meja kerjanya kearah dua orang gadis yang menjadi tamunya saat ini. Frans tersenyum dikursinya, sedangkan Ryuu tak menunjukkan ekspresi apapun, sebaliknya gadis bersurai putih itu terlihat meningkatkan kewaspadaannya.
Poppy menatap Ryuu dengan intens setelah meletak dua gelas ramuan diatas meja.
“Kau, tatapanmu itu, bukankah itu tidak sopan?” ucap Poppy dengan nada tak suka.
Ryuu bahkan tak menghentikan tatapannya yang tajam dan penuh selidik itu, ia takkan sudi menurunkan pertahanannya semudah itu. Poppy menghela nafasnya sambil mengaduk sebuah gelas lain dengan sendok kayu.
“Oh terserahlah,.” Ucap Poppy mengalah, kemudian menyodorkan geas yang ia pegang tadi kedepan Ryuu.
“Minumlah, kau akan merasa baikan” ucapnya, namun melihat Ryuu yang hanya menatap gelas didepannya dengan curiga membuat Poppy sedikit tersinggung.
“Kau berpikir aku mencampurnya dengan racun? oh aku tak percaya” ucap Poppy, ia bangkit berdiri dari tempat duduknya, Frans hanya tersenyum kikuk di kursinya.
“Aku punya ratusan cara untuk membunuh anak kecil sepertimu, tapi aku takkan melakukannya” ucap Poppy lagi sambil menoleh, kembali menatap Ryuu yang masih saja menatapnya tajam dengan manik kelabu miliknya.
“Oh lupakan, aku benar-benar akan membunuhmu” ucap Poppy kesal, namun jelas itu hanya gurauan yang berasal dari kekesalannya. Frans cepat-cepat mengambil alih.
“Namamu Ryuu bukan?” Frans menatap gadis bersurai putih itu selagi Poppy mengoceh dibelakangnya sambil menumbuk sesuatu untuk ramuannya.
“Aku mendengar kau mengatakannya pada Jose” Ryuu tak menjawab, sebaliknya ia malah menatap Frans dengan tajam. Manik kelabunya bagai badai terhadap manik langit milik Frans.
Frans menghela nafasnya. Ia tak percaya, tapi mungkin dia juga punya sikap seperti itu dulu. Semua anak langit punya keangkuhan seperti itu. Frans bahkan tak bisa membayangkan bagaimana Udzaa bisa bertahan dengannya yang punya sikap menyebalkan seperti ini dulu. Frans memijat keningnya, ia menghela nafasnya sebelum pada akhirnya kembali bicara.
“Baiklah, aku akan membuatnya mudah” ucap Frans, ia berpikir bisa mengatakan sesuatu sebelum kakaknya datang. Ryuu terlihat tak peduli, tapi Frans juga tak peduli dengan ketidakpedulian gadis itu, singkatnya ia mulai kesal. Namun ia berusaha menenangkan dirinya.
"def serouth sky larc en ciel”
Mata Ryuu melebar, tak ada lagi pancaran curiga dari manik kelabu itu, sebaliknya pupil mata itu mengisyaratkan keterkejutan yang luar biasa. Kata-kata terakhir gadis pirang itu keluar sebagai gemerincing lonceng, setidaknya itulah yang akan didengar orang biasa, tapi bagi Ryuu itu adalah kata-kata yang amat jelas, terdengar bagai kesatuan suara langit. Tenang, bergemuruh, sekaligus mengandung sebuah emosi yang takkan bisa dimengerti orang biasa. Ryuu mengerti, gadis pirang itu mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang berbeda, yang tentu juga dimengerti olehnya, terlebih lagi arti kata-kata itu, kata-kata yang sudah lama tertanam di ingatan Ryuu saat kecil, bahkan sebelum ia bisa bicara.
“Siapa kau sebenarnya?” pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Ryuu.
Frans tersenyum.
“Kelihatannya kau mengerti apa yang kubicarakan, aku senang mengetahuinya” ucap Frans yang kini tersenyum lega. Poppy bergabung ke meja mereka saat itu sambil meletakkan gelas lain ke hadapan Ryuu, kemudian mengambil gelas pertama yang ia sodorkan sebelumnya.
“Ini ramuan khusus, harus diminum segera atau khasiatnya akan hilang sebelum sempat diserap tubuhmu” ucap Poppy, Ryuu yang masih terkejut menatap Poppy namun bukan dengan tatapan tajam seperti sebelumnya, melainkan tatapan bingung yang sama.
“Efek ramuan ini hanya bekerja pada Frans, tapi jika kau mengerti suara gemerincing lonceng menakutkan yang dibuatnya, kurasa ini juga akan bekerja padamu” ucapnya lagi.
Ryuu menatap Frans sekali lagi, yang balas menatapnya adalah mata biru yang lembut dan setenang langit musim panas. Hangat.
“Minumlah” ucap Frans singkat.
Dengan gerakan pelan, Ryuu mengangkat gelas ditangannya, menatap cairan putih didalamnya. Dengan ragu ia mengarahkannya kemulut, meminumnya, menghabiskannya dalam sekali teguk. Sebuah perasaan menyenangkan seperti mengalir kedalam tenggorokannya, menghangatkan tubuhnya, membuat perasaannya jauh lebih baik daripada sebelumnya. Sedetik kemudian Ryuu merasakan tubuhnya menguat, ia tak lagi merasakan nyeri akibat luka ditubuhnya, kepalanya berhenti berputar, indranya menajam, bahkan aliran Cloe miliknya perlahan mengalir dengan normal bagai anak sungai.
Ryuu mengangkat matanya, manik kelabu itu mengilat, menunjukkan kekuatannya yang baru, menegaskan bahwa badai besar didalamnya kini bergolak dengan kuat. Ryuu menatap Frans dan Poppy bergantian, wajahnya telah kembali berwarna, pipinya bersemu merah, sebuah kehangatan yang ia rasakan bergejolak dalam hatinya, dan dalam sesaat ia merasa berada di rumah, duduk bersama ayah dan ibunya didepan perapian, tertawa bahagia sebagai sebuah keluarga yang utuh. Tanpa ia sadari manik kelabunya terlihat lebih cerah, badai yang mengamuk selama ini telah berhenti, berubah menjadi awan mendung yang menggantung di langit, hingga tak lama kemudian hujan pun turun.
Ryuu menangis.
***
"Kau tak apa-apa?"
Suara Frans membuat Ryuu tersadar. Ia berusaha mengendalikan dirinya, kedua pipinya basah oleh air mata. Ia tak mengerti apa yang baru saja terjadi, ia menangis begitu saja. Segera ia menghapus air matanya kemudian menatap Frans yang tersenyum padanya.
"Barusan itu apa?"
"Melihat reaksimu, kurasa ramuannya bekerja" Frans beralih ke arah Poppy yang duduk tepat disampingnya.
"Sejak ia bisa mengerti suara lonceng mu itu, aku yakin ramuan itu akan bekerja" balas Poppy yang berdiri dari tempat duduknya, mengambil gelas kosong diatas meja.
"Dan jangan lagi melakukan itu.. aku benar-benar tak menyukainya"
Frans tertawa kecil saat Poppy dengan kesal menatapnya, kemudian berlalu pergi sambil membawa gelas-gelas kosong ditangannya. Namun menyadari Ryuu masih menatapnya dengan bingung, Frans segera berkata.
"Kurasa Cloe milikmu sudah normal.."
Ryuu tak menjawab, walaupun begitu ia mengiyakannya dalam hati. Aliran Cloe-nya sudah normal, bahkan seluruh indranya kembali. Ia bisa mendengar serta membaui segala hal disekitarnya dalam radius 1 kilometer. Ia juga bisa merasakan bahwa luka-lukanya menutup dengan cepat dibawah perban ditubuhnya. Ya, dia sudah kembali segar. Bahkan jauh lebih baik daripada sebelumnya, bahunya begitu ringan. Walaupun tentu saja ia masih tak mengerti.
"Siapa kau sebenarnya?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Namun sepertinya gadis pirang didepannya sudah menduga kalau dirinya akan menanyakan hal itu.
"Kau yang sekarang pasti bisa merasakannya" jawab Frans dengan santai, disaat itu Poppy telah kembali ke meja dengan dua buah gelas Amonte buatannya sendiri.
Ryuu tak mengerti, namun ia mencoba memperluas deteksi, Cloe miliknya menguap keluar dari tubuhnya, membentuk sebuah kubah tak kasat mata yang menyelimuti dirinya sebagai pusatnya. Sisi-sisi kubah itu terus bergerak menjauh dari pusatnya, melebar kesegala arah. Perlahan kubah itu sampai di tempat Poppy duduk, gadis bersurai merah muda itu tentu tak merasakannya, namun Ryuu bisa merasakan aliran Cloe milik Poppy saat ia masuk dalam jangkauan kubahnya.
Ini adalah tehnik dasar, setiap orang bisa melakukannya. Membuat mereka waspada terhadap setiap bentuk kehidupan disekitarnya. Cara kerjanya mirip seperti radar, yang mampu mendeteksi aktivitas Cloe apapun dalam radius tertentu, bahkan jika mereka tersembunyi sekalipun.
Namun Ryuu terlahir dengan bakat yang berbeda, 'radar' miliknya bisa mencapai jarak yang luas, melebihi jarak yang bisa dicapai manusia biasa. Hanya saja sejak ia terbangun beberapa jam yang lalu, aliran Cloe-nya yang kacau membuatnya tak bisa mendeteksi apapun, dan itulah yang membuatnya menempatkan kewaspadaannya di tingkat tertinggi. Tapi kini, ketika Cloe-nya telah kembali, ia mulai mengaktifkan radar ini lagi.
Ryuu bisa merasakan Cloe milik Poppy, mengalir tenang layaknya sungai kecil. Namun cukup terkejut, kapasitas Cloe milik Poppy cukup besar untuk ukuran manusia biasa. Jarang sekali Ryuu bertemu manusia dengan kapasitas Cloe sebesar ini. Tapi Ryuu menyadari tentang luasnya dunia, dan mungkin hal ini bisa saja terjadi. Disudut dunia ini pastilah ada beberapa orang yang terlahir dengan bakat alami yang membuat kapasitas Cloe yang mereka miliki cukup besar.
Namun sedetik kemudian, Ryuu terkejut. Bola matanya melebar seakan ingin keluar dari rongganya saat kubah deteksinya mulai melebar hingga mencapai tempat Frans.
Ryuu tak tau bagaimana ia memproses hal ini. Besarnya kapasitas Cloe milik Poppy masih bisa ia tolerir. Namun Frans jauh berbeda.
Ryuu menatap gadis pirang itu. Frans yang merasakan sesuatu pada Ryuu yang tiba-tiba menatapnya hanya balas tersenyum. Sebaliknya Ryuu, tangannya secara refleks menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut. Ia bisa merasakan aliran Cloe milik Frans.
Jika Cloe milik Poppy mengalir seperti sungai, sebaliknya Cloe milik Frans terasa seperti lautan. Lautan yang mengamuk karena badai, menggelegar bagai petir, meluap bagai ombak. Hampir seperti miliknya. Tidak, bahkan melebihi dirinya.
Ryuu tak percaya dengan apa yang ia rasakan, kapasitas Cloe milik Frans lebih besar dari miliknya sendiri. Ia tak bermaksud untuk mengatakan kalau dirinya punya kekuatan yang besar, tapi Cloe milik Frans benar-benar jauh melampaui Cloe manusia biasa.
Ini bukan lagi ranah yang bisa dicapai manusia.
"Si-siapa kau..!??"
Poppy melirik kearah Frans. Dilihat dari ekspresinya, sepertinya gadis merah muda itu telah menduga hal seperti ini akan terjadi. Sedangkan Frans hanya tersenyum seperti biasa menanggapi pertanyaan Ryuu dalam keterkejutannya. Ryuu tanpa sadar bergerak mundur dari kursinya, terlihat seperti tak ingin berada lebih dekat dengan gadis pirang didepannya. Disaat itulah Frans berdiri.
"Kita belum berkenalan sebelumnya, jadi izinkan aku untuk memperkenalkan diri.."
"Namaku Fransiska, Kapten Divisi Sembilan, pengguna elemen solid cahaya paling kuat disini, dan kebetulan juga.."
Frans menarik senyumnya lebih lebar lagi, tangannya membentuk gestur 'V' dengan dua jari.
"Aku putri Naga Langit Leoiska"
"Senang bisa mengenalmu Ryuu" kata-kata terakhir Frans keluar sebagai gemerincing lonceng yang membuat Ryuu makin terkejut.
__ADS_1
"Putri Naga Langit Lumiere"
***