
Hutan Poryphion, 11 tahun yang lalu.
Perang telah berlangsung ratusan tahun, dan tetap seperti itu hingga saat ini. Dampak peperangan dapat dirasakan di seluruh penjuru benua. Ratusan jiwa menjadi korban setiap harinya, ratusan anak kehilangan orang tuanya, ratusan orang kehilangan kehidupannya.
Aturan kehidupan yang kejam seolah terpatri dibawah lingkaran takdir. Mereka yang kuat akan bertahan, sementara yang lemah hanya akan menjadi pijakan mereka yang kuat.
Peperangan seperti sampah, meninggalkan jejak kesedihan dan kesengsaraan, menciptakan kebencian dan dendam abadi, melahirkan kegelapan dari generasi ke generasi, menyapu cahaya dari pangkuan ibu pertiwi.
Tak ada yang bisa dilakukan selain bertahan, tak ada satupun yang dapat dipercaya, tak ada seorangpun yang mau menolong. Yang ada hanya diri sendiri, dibawah naungan kegelapan abadi.
Apakah semua akan berakhir? Atau bisakah ini berakhir? Kapan semuanya berakhir?. Pertanyaan konyol yang bagai legenda lama, bagai kata-kata pembuka sebuah dongeng. Tak jelas, tak pasti. Hanya angan-angan bodoh, yang takkan pernah terjadi bahkan dalam mimpi.
"Kalau begitu bukankah kita hanya perlu bermimpi, bermimpi dan bermimpi lagi?" seorang anak laki-laki bersurai hitam berkata dengan keras kepada teman-temannya.
Manik Ruby nya menatap kesegala arah, memandang balik dengan semangat ke semua mata yang sejak tadi menatapnya penuh tanya. Kemudian bocah itu menyeringai penuh kemenangan sampai seorang gadis kecil membantah perkataannya.
"Dasar bodoh, bagaimana semua bisa berubah jika kau hanya bermimpi, yang kau lakukan hanya meringkuk ditempat tidurmu" gadis kecil bersurai merah panjang itu menatap balik manik Ruby bocah laki-laki didepannya.
"Jangan memotong perkataanku!!" bocah Ruby itu mendengus kesal.
Diujung ruangan, seorang anak gadis lain ikut bicara dengan nada datar, tak seperti kedua temannya itu.
"Kurasa Alghif benar, jika yang kau lakukan hanya tidur saja, dunia takkan berubah" ucap gadis bersurai coklat itu yang membuat bocah Ruby tadi kembali mendengus kesal.
"Ta-tapi.. bagaimanapun juga, ki-kita juga boleh punya mimpi kan?" anak gadis yang lain ikut berkomentar walau terdengar agak ragu, kemudian pipinya memerah saat bocah Ruby itu memandangnya sambil mengangkat ibu jari kearahnya.
"Lihat, Mirell saja mendukungku" katanya.
Anak laki-laki yang bertubuh lebih besar dari yang lain melompat dari sebuah kotak tempat ia duduk sebelumnya. Garis wajahnya yang kuat memberikan sebuah ekspresi keberanian.
"Kalau begitu, mimpiku adalah untuk menjadi ksatria paling kuat didunia" ucapnya sambil mengangkat sebilah kayu dengan tangannya, layaknya menghunuskan sebuah pedang.
"Kalau kau sih, aku ragu.. bagaimana jadinya jika seorang ksatria terkuat di dunia lari dari seekor kelinci?" anak laki-laki lain mengejek sambil menahan tawanya.
"Walldy, sudah kubilang itu bukan kelinci biasa, itu RoutRabbitt, jenis lain dari kelinci, lebih besar dan ganas" ucap anak laki-laki itu sambil memperagakan bagaimana cara menyarungkan sebuah pedang dengan bilah kayu miliknya.
"Tapi Udzaa berhasil menangkapnya ya kan? tak terlalu ganas sepertinya.." anak gadis dengan sebuah pita biru besar yang menghiasi rambut hitamnya ikut bicara sambil mengedikkan dagunya kearah bocah laki-laki bersurai hitam yang duduk diam disudut lain ruangan.
"Aku bersumpah itu enak sekali, bisakah besok kita menangkapnya lagi?" tanya Walldy. Anak laki-laki yang dipanggil Udzaa itu mengangguk singkat.
"Aku setuju, setelah mendapatkannya, kurasa kita bisa menyerahkannya pada Luna" ucap bocah Ruby itu pada gadis dengan pita biru disana.
"Bisakan? Luna?"
"Serahkan saja padaku" ucap Luna dengan bangga.
Disisi lain, anak gadis bersurai Caramel yang sejak tadi hanya memperhatikan obrolan teman-temannya, akhirnya angkat bicara.
"Bisakah kita dapat sesuatu selain daging? kalian tau, kita juga perlu sayur dan buah-buahan"
"Kirana.. untuk ke sekian kalinya" bocah Ruby itu menyilangkan tangannya didepan dada, dengan gaya memerintah ia kembali berkata.
"Sayur itu tidak enak"
Alghif memukul kepala bocah Ruby itu hingga ia mengaduh kesakitan.
"Apa jadinya kesehatanmu jika yang kau makan hanya daging?"
Bocah Ruby itu mengusap kepalanya ditempat dimana Alghif menghadiahinya sebuah pukulan. Ia menatap Alghif sebal.
"Kita selalu makan sayur sejak lamaaa sekali, sekarang sejak Udzaa bergabung akhirnya kita bisa berburu, aku hanya ingin Udzaa menggunakan keahliannya saja, bukankah itu bagus?"
"Dan lalu, apa tepatnya keahlianmu?" tanya Alghif.
"Selain makan dan tidur, tentu saja" sambung Kirana.
"Juga sok memerintah.." tambah Walldy
Bocah Ruby itu terdiam, wajahnya cemberut mengaku kalah. Kemudian tawa meledak dari mereka semua, kecuali bocah Ruby itu.
"Baiklah-baiklah, sudah larut lebih baik kita tidur sekarang" ucap Luna saat tawa mereka semua telah mereda.
"Besok pagi aku dan Raha akan mencari sayuran dihutan" ucapnya yang kemudian mendapat anggukan setuju dari gadis bersurai putih disampingnya.
"Dan buah-buahan.." sambung Raha dengan suaranya yang terdengar lucu.
"Faadhi dan Walldy, kali ini kalian yang mengumpulkan kayu bakar" ucap Alghif kearah kedua laki-laki yang sedang beradu pedang-pedangan dengan sebatang kayu.
"Bi-biar aku dan Sana yang mencari Air" ucap Mirell dengan terbata-bata, gadis bersurai hitam dengan poni didahinya yang duduk disamping Mirell mengangguk, namun Kirana menggeleng.
"Biarkan Faiz yang mencari Air"
"Heee?? Kenapa aku? Aku ingin berburu dengan Udzaa" bocah Ruby itu menolak.
"Apa kau tega melihat seorang gadis mengambil air disungai?" ucap Kirana yang membuat bocah Ruby itu terdiam setuju.
"Udzaa bisa berburu dengan Fath, kan?"
"Ya, tak apa" ucap Udzaa singkat.
"Bicara soal itu, dimana Fath?" tanya Alghif. Dilihatnya semua temannya, yang sepertinya tak ada yang tau keberadaan Fath.
"Aku juga belum melihat Lyfa dan Syafa" sambung Sana
Disaat itulah pintu terbuka, gadis bersurai hitam dengan jepit rambut kupu-kupu menyerbu masuk. Ia terengah-engah, wajahnya penuh luka dan keringat. Ia baru saja berlari.
Semua mata tertuju padanya, terkejut kemudian berusaha menghampirinya. Tapi Alghif sampai lebih dulu, ia bertanya pada gadis itu.
"Lyfa ada apa? kenapa kau.." Alghif belum sempat menyelesaikan perkataannya Lyfa sudah jatuh. Alghif menangkap tubuhnya, dengan kesadaran yang hampir hilang Lyfa mengatakan sesuatu.
"Fath.. Syafa.. mereka.. diserang.. tepi sungai.." kemudian Lyfa pingsan.
Faiz lah yang lebih dulu bergerak, memecah keheningan. Ia menyambar sebuah tombak bermata batu runcing disamping pintu kemudian berlari keluar. Sedetik kemudian Faadhi dan Walldy mengikutinya, begitu juga dengan Udzaa yang menyambar sebuah belati perak miliknya.
***
Faiz sampai lebih dulu, ia melihat Syafa tergeletak tak sadarkan diri ditepi sungai. Ia tak melihat keberadaan Fath dimanapun. Faadhi dan Walldy datang setelahnya dengan tombak mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Walldy sedangkan Faadhi memeriksa sekeliling, menyibak semak-semak disekitar sungai, mencoba mencari sesuatu.
Udzaa datang kemudian. Ia melihat Syafa tak sadarkan diri disana bersama Faiz dan Walldy yang sedang mencoba menyadarkannya.
Udzaa datang menghampiri mereka. Syafa terlihat pucat dari biasanya, tubuhnya penuh luka walaupun tidak begitu parah. Sayangnya ada sebuah sayatan kecil dipipinya. Udzaa melihat bukan hanya darah yang mengalir dari sana melainkan cairan lain berwarna keunguan.
Udzaa segera berlutut disamping Syafa. Faiz menatapnya, bertanya.
"Ini racun, aku pernah melihatnya" ucap Udzaa. Faiz tak tau apa yang harus dilakukan, tapi Udzaa cukup tanggap menanganinya. Beberapa saat kemudian ia berhasil mengeluarkan racun dari luka Syafa. Semburat di wajahnya kembali normal dan kemudian perlahan Syafa membuka matanya.
Disaat itu Faadhi datang.
"Belati milik Fath, kutemukan dipinggir hutan" ucapnya sambil mengulurkan sebuah belati ditangannya.
"Aku melihat tanda lain, kurasa Fath pergi kehutan"
"Syafa, apa yang terjadi sebenarnya?" Faiz bertanya.
Dengan lemah, Syafa membuka mulutnya dengan gemetar.
"Pelarian perang.. mereka menyerang, berusaha merebut ikan yang berhasil kami.. dapatkan.. Fath mengejar.. mereka.." Syafa terbatuk, kemudian mengerjap lemah.
"Jangan paksakan dirimu, kau masih lemah" ucap Udzaa. Walldy menyangga kepala gadis itu dengan sebuah tas yang ia bawa. Tapi Faiz berdiri tiba-tiba, kemudian ia menyambar belati Fath dari tangan Faadhi kemudian masuk kehutan.
Melihat itu Udzaa juga berdiri, ia berniat mengejar Faiz. Ia meminta Faadhi dan Walldy untuk membawa Syafa pulang, ia berkata untuk merawat mereka sebentar. Menunjukkan beberapa hal untuk mengurangi efek racunnya, dan juga mengatakan untuk memeriksa Lyfa, untuk memastikan apakah ia juga kena racun atau tidak. Kemudian ia berlari mengejar Faiz.
Bocah Ruby itu cepat soal berlari, Udzaa hampir kehilangan jejaknya. Hari sudah semakin larut, membuat hutan semakin gelap. Udzaa tak tau kemana Faiz pergi, setiap jalan terlihat sama didalam hutan. Suara-suara makhluk hutan berdenyar entah dari mana, pohon-pohon besar menjulurkan sulur-sulurnya, mempersempit jarak pandang.
Udzaa menghentikan langkahnya, jalan bercabang didepannya. Ia benar-benar telah kehilangan jejak. Sejujurnya ia tak mau melakukannya lagi, namun ada sesuatu yang lebih mendesak saat ini, karena itu Udzaa mengerahkan Cloe miliknya, mengalirkannya ke seluruh tubuhnya. Sedetik kemudian ia merasakan keberadaan Faiz juga Fath di dekatnya, serta selusin Cloe lain yang lebih kuat daripada mereka. Tanpa membuang waktu Udzaa melesat pergi.
Dengan kecepatannya ia sampai seketika, tapi yang ia lihat adalah hal yang sulit dipercaya. Ia mendapati tubuh Fath tergeletak ditanah, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menghampirinya, memeriksanya. Udzaa menatap sekeliling, menemukan selusin tubuh lain, laki-laki yang jauh lebih besar dari dirinya dengan pakaian tempur lengkap, tergeletak mati.
Diujung sana ia mendapati Faiz tengah berdiri, tubuhnya terbakar api, walaupun begitu lidah api yang menjilat-jilat liar itu bagai tak melukai tubuhnya sama sekali.
Faiz menoleh, ia terengah-engah. Manik Ruby nya berkilat lebih tajam daripada yang pernah Udzaa lihat selama ini. Udzaa menatapnya.
"Kau, mengalahkan mereka semua.."
Faiz menunduk, api ditubuhnya padam seketika. Ia jatuh berlutut ditempatnya.
"..lebih tepatnya membunuh mereka" ucapnya lemah, kemudian pandangan matanya mengabur, dan jatuh tak sadarkan diri.
***
Hari berganti, kejadian sebelumnya tentang serangan pelarian perang itu perlahan terlupakan. Namun hal itu merubah semuanya. Faiz mengubah sudut pandangnya tentang dunia, ia tak lagi mengoceh soal mimpi-mimpi indahnya untuk dunia melainkan merubahnya menjadi sebuah tindakan nyata.
Faiz menceritakan semuanya pada hari itu. Kebenaran tentang dirinya, darimana ia berasal dan apa yang dapat ia lakukan dengan kemampuannya itu.
Ia mengaku sebagai keturunan terakhir klan Anthera. Sebuah klan kuno yang disebut-sebut sebagai klan penakluk naga dimasa lalu. Klan pemilik kekuatan besar yang disegani dunia, namun karena kekuatannya itu, klan Anthera diburu, hingga kini musnah tak tersisa.
__ADS_1
Faiz mengatakan bahwa ia tak berniat menyembunyikan siapa dirinya. Ia hanya tak ingin mereka takut akan kehadirannya. Karena hal itu, Faiz terpaksa menyembunyikan masa lalunya. Namun kini mereka telah mengetahui kebenaran, Faiz meminta maaf karena perbuatannya itu.
Sebagai gantinya, Faiz melakukan hal yang kemudian mengubah hidup mereka semua. Ia mengajari mereka untuk mengendalikan Cloe, mengajari mereka bagaimana membuat sihir, semua itu ia lakukan untuk menghindari kejadian sebelumnya.
Beberapa dari mereka terlihat semangat, termasuk Faadhi yang memang bercita-cita menjadi seorang ksatria. Dilain pihak Fath juga tertarik, karena ia benci tak bisa melindungi teman-temannya sebelumnya. Walaupun begitu beberapa dari mereka tetap terlihat takut saat Faiz menjelaskan. Namun pada akhirnya mereka sepakat.
Kemudian dimulailah hari-hari penuh dengan latihan. Tanpa disangka Faiz, teman-temannya lebih cepat menyerap apa yang ia ajarkan. Hingga setahun telah berlalu, mereka telah berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Faiz dan teman-temannya kini telah berkembang pesat. Atas kesepakatan bersama, Faiz menyebut diri mereka sendiri sebagai sebuah serikat sihir. Sebuah serikat yang nanti akan dikenal sebagai, Serikat Naga Kembar (Twins Dragon Guild).
***
Tahun kedua telah berlalu sejak penyerangan itu. Nama Serikat Naga Kembar melesat kepermukaan, mereka dikenal hingga pelosok negeri sebagai salah satu serikat kuat yang beranggotakan anak berumur belasan tahun. Mereka terjun langsung kedalam pertempuran, ikut sebagai tentara bayaran dengan kesepakatan serta pemilihan pihak yang berdasarkan akan keadilan. Mereka menolak membantu mereka yang bergerak hanya atas nama kekuasaan, mereka menjunjung tinggi keadilan. Hingga kini mereka menjadi salah satu serikat yang ditakuti.
Namun dibalik nama mereka yang kian naik, sebagai dampaknya mereka selalu diincar oleh serikat lain. Karena hal itu mereka membangun sebuah markas tersembunyi didalam hutan, jauh dari pemukiman penduduk. Puluhan mantra pelindung menjaga markas mereka, membuat tempat itu sama sekali tak terdeteksi.
"Aku baru saja menyelesaikan mantra penolak gangguan disudut sana.." Sana melangkah mendekat kearah teman-temannya yang sedang berkumpul didepan pintu markas mereka.
"Mantra penolak gangguan itu sihir kelas A bukan? kau hebat bisa melakukannya" ucap Luna memberi pujian kepadanya. Sana mengambil tempat duduk disamping Luna.
"Bukan mantra yang sulit sebenarnya.." jawabnya merendah.
Fath datang dari dalam markas bersama Alghif dibelakangnya. Mereka berdua, seperti juga yang lainnya, sudah berkembang dengan pesat selama dua tahun ini.
"Tetap saja, menggunakan sihir pelindung kelas A ditempat seluas ini" ucap Alghif, ia meraih sebuah apel dari meja didepannya.
"Dimana Faiz?"
Udzaa yang tengah duduk bersandar disamping pintu masuk mendongak menatap Alghif.
"Ia sedang mengintai sekeliling bersama Mirell" ucap Udzaa padanya.
Kemudian sebuah kabut hitam terbang mengepul di udara diatas mereka, melayang rendah, berputar beberapa kali kemudian melesat turun. Ketika menyentuh tanah kabut hitam itu memudar, berdenyar menjadi kabut yang lebih tipis lalu dari balik kabut tipis itu Faadhi mewujud dengan cengiran lebar diwajahnya.
"Ini hebat!!" soraknya riang. Kemudian kabut hitam lain turun setelahnya, mewujud menjadi Walldy yang mengenakan topeng putih polos.
"Ahh kurasa aku sudah sedikit menguasainya" ucapnya.
Alghif menatap mereka berdua dengan kesal, melipat kedua tangannya didepan dada.
"Apa yang kalian lakukan? bukankah seharusnya kalian memeriksa bagian utara?"
Faadhi mengambil tempat disamping Raha yang sejak tadi tengah sibuk dengan beberapa permanen diatas meja. Faadhi duduk disampingnya, meraih sebuah apel dari atas meja sambil merangkul pundak Raha yang jelas tak disukai gadis itu.
"Bisakah kau tak menggangguku sekarang?" ucap gadis bersurai putih itu sambil menepis tangan Faadhi dari bahunya.
"Baiklah baiklah.." ucap Faadhi setengah tertawa. Kemudian ia menatap kearah Alghif.
"Aku dan Walldy baru saja selesai memeriksa, kemudian berlomba untuk datang kemari" ucapnya.
Ia beralih kearah Udzaa.
"Tehnik ini keren, apakah kau punya yang lain? maksudku yang lebih hebat.."
Udzaa tersenyum kecil tapi Fath bicara lebih dulu.
"Tehnik itu bukan untuk mainan, Udzaa sudah berbaik hati untuk mengajari kita semua, apa kau harus meminta lebih?" ucapnya yang kemudian membuat Faadhi nampak kesal.
"Kau sebut apa tehnik itu?" kini Walldy yang bertanya. Ia melepas topengnya, menampakkan dirinya yang tersenyum tipis.
Udzaa terdiam, ia terlihat bingung.
"Em, aku tak pernah memberinya nama.. bagaimana menurutmu?" ucap Udzaa. Disaat itu Faiz dan Mirell muncul bersama seorang anak laki-laki yang tak mereka kenal.
Anak laki-laki itu tak sadarkan diri diatas punggung Faiz, beberapa luka terbuka menghiasi wajahnya. Luka yang lebih besar sepertinya terbuka di dadanya, terlihat dari darah yang kini sudah membasahi setengah pakaian Faiz.
"Apa yang terjadi? siapa dia?" Alghif bereaksi pertama kali.
Faiz tak punya waktu untuk menjelaskan ia terlihat kepayahan menahan bobot tubuh anak itu di punggungnya. Mirell jelas terlihat kelewatan khawatir.
"Bawa dia masuk, Kirana sedang mengumpulkan tanaman obat dihutan dengan Syafa, aku akan memanggilnya" ucapnya sambil berlari kehutan.
Faadhi membantu Faiz membawa anak laki-laki itu masuk, sedangkan Fath membukakan pintunya. Mereka bertiga menghilang dibalik pintu.
Alghif mendekat kearah Mirell yang masih berdiri ditempatnya.
"Apa yang terjadi?"
Mirell menceritakan bahwa mereka menemukan anak laki-laki itu saat mereka memeriksa perimeter hutan. Anak laki-laki itu terluka parah, kehabisan darah dan hampir mati, Faiz memaksa untuk membawanya ke markas untuk menolongnya.
"Tapi ini sangat beresiko, membawa orang asing kedalam mantra perlindungan kita, kau tentu tau alasan kita memasangnya kan?"
"Aku mengerti tapi Faiz tak mau mendengarkan" ucap Mirell membela diri. Luna mengambil sebuah selimut, kemudian meletakkannya dibahu Mirell.
Sana datang beberapa saat kemudian bersama Kirana dan Syafa yang membawa sekeranjang tanaman obat. Mereka berlari kearah pintu.
"Didalam, cepatlah, sepertinya ia kehabisan banyak darah" ucap Udzaa yang melihat jejak darah dari anak laki-laki itu didepan pintu. Kirana segera masuk kedalam, diikuti Syafa yang membawakan keranjang tanaman obatnya.
Lyfa datang dari arah lain, agak terkejut dengan situasi yang terjadi. Ia ikut berkumpul dengan Mirell dan Luna dimeja bersama Raha yang sudah meninggalkan perkamennya.
Beberapa menit kemudian Kirana melangkah keluar, tangannya penuh dengan darah Faiz dan Faadhi mengikuti dibelakang. Alghif segera meminta penjelasan berkaitan dengan hal itu.
"Aku tak mungkin meninggalkannya sendiri bukan?? dia bisa mati disana" ucap Faiz sambil mengatur nafasnya, ia sudah mengganti pakaiannya dengan yang baru.
"Kau harus mencuci pakaianmu sendiri kau tau.." ucap Raha kearahnya.
Walldy keluar dari markas membawa sebotol minuman dan beberapa gelas, meletakkannya dimeja lalu mengambil tempat duduk disamping Faiz yang meraih sebuah gelas, mengisinya kemudian menghabiskan isinya dengan sekali teguk.
"Bagaimana keadaan anak itu?"
Kirana kembali datang setelah mencuci tangannya, ia meraih sebuah kain dari atas meja yang ia pakai untuk mengeringkan tangannya.
"Lukanya cukup parah, tapi untuk saat ini tak ada yang perlu dikhawatirkan.." jelasnya, kemudian menatap Faiz.
"Apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa anak itu mendapat luka sedemikian besar?"
"Aku juga tak tau, aku dan Mirell sedang disekitar sana saat kami menemukan anak itu tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka" jelasnya lagi setelah mengosongkan gelasnya yang kedua.
"Aku tak punya pilihan, dia bisa mati disana"
"Oh baiklah, terserah padamu.." ucap Alghif sambil memutar matanya kemudian ia berbalik.
"Aku punya janji dengan seseorang dari kerajaan, kupikir ada yang harus dibicarakan, Lyfa kau bisa ikut denganku" ucapnya. Lyfa bangkit dari tempat duduknya kemudian mengikuti langkah Alghif ke batas perlindungan mereka, melewatinya lalu berdenyar menjadi kabut hitam yang kemudian melesat terbang.
"Berharap saja anak itu bukan mata-mata" ucap Udzaa yang kini sudah berdiri disamping Faiz yang balik menatapnya.
"Ayolah kau mengerti maksudku, aku tau perbuatanmu itu baik tapi aku setuju dengan Alghif, tak seharusnya kita membawanya masuk"
"Baiklah-baiklah.. kita tunggu ia siuman, lalu kita bisa bertanya, jika ia sudah cukup baik dia bisa pergi" lerai Kirana saat melihat Faiz tak terlalu suka perkataan Udzaa.
"Sepertinya hujan akan turun, lebih baik kita masuk" ucapnya lagi sambil melihat langit yang kini bergemuruh.
***
Malamnya anak laki-laki itu siuman. Alghif dan Lyfa telah kembali beberapa saat lalu, membawa sebuah perkamen berisi permohonan dari kerajaan. Tapi sebelumnya mereka punya banyak pertanyaan untuk laki-laki yang kini sedang berbaring diatas tempat tidur Faiz.
Baju hitamnya yang berlumuran darah telah diganti dengan pakaian lain, walaupun tak ada pakaian yang cocok dengan ukuran tubuhnya yang kecil itu.
Udzaa melangkah masuk mengikuti teman-temannya, ia menatap anak laki-laki yang diselamatkan Faiz siang tadi. Anak itu punya mata hitam yang redup, kulitnya pucat rambut hitamnya jatuh lemas keatas dahinya. Mata hitam itu menatap sekeliling dengan lemah. Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan Alghif dengan penuh selidik, terdengar cukup kasar hingga Kirana terpaksa menggantikannya bertanya.
Anak itu bernama Exel, ia mengaku tak ingat apapun tentang dirinya sendiri dan masa lalunya, yang ia ingat hanyalah dirinya yang bertemu seseorang yang kemudian meminta makanan padanya hingga kemudian menyerangnya.
"Perampok? Snatcher?" tanya Raha.
"Terlalu sopan untuk sekelas Snatcher, kurasa itu salah satu pelarian perang" ucap Sana.
"Kudengar beberapa hari yang lalu ada sebuah peperangan jauh dibarat sana, mungkinkah?" Walldy ikut berkomentar.
Namun kemudian mereka sepakat untuk memberi anak laki-laki itu tempat untuk tinggal, setidaknya hingga ia pulih sepenuhnya setelah Faiz memaksa. Udzaa sendiri tak merasa keberatan, ia mengerti akan keinginan Faiz, ia bahkan ingat hari pertama dirinya bertemu mereka. Hampir serupa dengan anak laki-laki itu. Kemudian ia tersenyum kecil lalu memecahkan suasana.
"Jadi, sudah waktunya makan malam kurasa.."
Akhirnya mereka makan malam dihalaman markas, meja kayu didepan sana diubah menjadi sebuah meja piknik panjang. Faiz membantu Mirell dan Sana menata meja sedangkan Faadhi dan Walldy ikut Udzaa membakar seekor RoutRabbitt.
Luna menyiapkan beberapa sayuran yang dibawa Lyfa dari hutan, dibantu Syafa. Fath bergabung dengan Luna saat ia datang. Akhirnya makan malam telah siap, mereka semua menempati kursinya masing-masing. Kirana bergabung ke meja setelah mengantarkan makanan untuk anak laki-laki bernama Exel itu.
Disela-sela makan malam, Fath bertanya tentang perkamen yang dibawa Alghif sebelumnya.
"Itu permohonan dari kerajaan" jelasnya.
"Kerajaan mana tepatnya?" tanya Faiz dengan serius. Ia memang agak sensitif jika bicara mengenai permohonan.
Alghif mendorong piring perunggunya menjauh dari dirinya. Ia menghabiskan isi gelasnya kemudian menjawab.
"Rosemary Kingdom.." ucapnya sambil menatap satu persatu temannya itu. Mengharapkan pendapat dari mereka.
"Dua puluh tahun yang lalu Rosemary Kingdom memimpin aliansi tiga kerajaan besar bersama Clawford dan Akiba, aliansi berakhir saat mereka melakukan gencatan senjata dengan Kerajaan Elf, walaupun begitu Clawford tetap memerangi mereka dan merusak perjanjian" jelas Alghif, semua mata menatap kearahnya.
"Clawford mengubah haluannya, dari mempertahankan wilayahnya hingga kini ingin menjajah kerajaan Elf" ucapnya lagi.
__ADS_1
Fath memotong.
"Jika begitu kita perlu kepastian tentang hal itu, apakah Clawford benar ingin menjajah Kerajaan Elf?"
"Aku mendapat berita tentang setengah wilayah Clawford yang kini dikuasai penyihir hitam, mereka juga melakukan percobaan dengan ras lain untuk menciptakan sebuah senjata" Udzaa menambahkan. Ia meraih sebuah selembar kertas dari balik jubahnya kemudian meletakkannya keatas meja.
"Ini cetak birunya" ucapnya lagi.
Mereka semua menatap kertas yang diletakkan Udzaa diatas meja. Kertas itu tak sepenuhnya sempurna, ada beberapa bagian yang hilang seperti robekan, selebihnya kertas itu memuat sebuah bagan yang menggambarkan sebuah senjata dengan sistem perakitan dan beberapa sihir untuk penggunaannya.
"Kutebak kau mendapatkannya dari pasukan kecilmu itu?" tebak Luna kearah Udzaa yang mengangguk singkat. Mereka semua sudah tau tentang pasukan kecil yang dimaksud Luna. Udzaa memiliki hubungan dengan beberapa anak jalanan diberbagai tempat yang biasa ia pinta untuk melakukan sesuatu dengan sebuah bayaran.
"Lain kali katakan pada mereka untuk mengambil sesuatu yang tidak sobek" ucapnya lagi.
"Ini hanya sebuah gambaran kasar, jika disetujui.." ucap Udzaa sambil menatap Faiz yang masih terdiam menatap kertas itu.
"Aku bisa mencari informasi baru" ucapnya.
Semua terdiam kemudian Faiz menyatakan persetujuannya. Ia mengatakan kepada semuanya untuk tak bergerak sebelum Udzaa mendapatkan informasi terbaru tentang rumor Clawford. Makan malam itu kemudian selesai setelah langit kembali bergemuruh.
***
Seminggu kemudian Udzaa membawa kabar buruk, Kerajaan Clawford tengah menyiapkan sebuah senjata dengan sihir hitam untuk meluluhlantakkan Kerajaan Elf, namun sebelum itu mereka berniat untuk menghancurkan Rosemary Kingdom serta Akiba lebih dulu.
Dengan informasi itu, Faiz memerintahkan mereka untuk bergerak. Alghif kembali dikirim untuk menemui perwakilan Rosemary Kingdom demi menyampaikan informasi itu. Kemudian mereka bekerjasama dengan pihak kerajaan untuk memerangi Clawford.
Peperangan pecah dihari kemudian, berlangsung hingga seminggu, dan untuk pertama kalinya sejak Serikat Naga Kembar muncul ke permukaan, mereka kewalahan dalam pertempurannya. Senjata yang dibuat musuh selesai membuat mereka terpojok.
Disaat genting seperti itu Exel, anak laki-laki yang mereka selamatkan beberapa hari lalu datang ke medan tempur. Tak pernah ada yang menyangka jika Exel punya kekuatan yang luar biasa, karena bantuan dari Exel perempuan itupun dimenangkan oleh mereka. Sebagai imbalannya Rosemary Kingdom memberikan mereka banyak permata, namun Faiz menolaknya.
"Apa kau bodoh hahh!!??" Faadhi berteriak kearah Faiz saat tau ia menolak imbalan dari Rosemary Kingdom.
"Mereka memberinya dengan senang hati, kenapa kau malah menolaknya"
Malam itu mereka semua, Serikat Naga Kembar, berkumpul dihalaman markas mereka, meja panjang disana sudah dipenuhi dengan berbagai makanan. Faiz dengan mulut yang penuh dengan makanan berusaha untuk bicara, akhirnya beberapa potong daging di mulutnya menyembur keluar.
"Menjijikan.." komentar Raha yang duduk tak jauh dari Faiz.
Faiz mengambil sebuah sapu tangan kemudian membersihkan mulutnya.
"Ayolah, bukan kah kita sudah punya lebih dari cukup?" ucapnya yang membuat Faadhi mendengus kesal.
"Sudahlah, tak perlu bertengkar, bukankah kita ini sedang merayakan keberhasilan kita" ujar Syafa sambil melangkah kearah panggangan, membalik beberapa daging yang dibakar Udzaa sebelumnya.
"Lagipula Exel disini, bagaimana pun dia yang membantu kita, jadi ayo rayakan"
Dari ujung sana, Walldy datang dengan sepiring besar makanan, meletakkannya diatas meja. Udzaa duduk ditempatnya, meneguk habis minumannya, disampingnya Sana tengah sibuk dengan piringnya.
"Itu dia, ayo rayakan atas keberhasilan Exel" Walldy mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, Faiz mengikuti kemudian tertawa.
Disisi lain meja itu, Exel duduk menghadap piring makanannya yang belum ia sentuh sedikit pun. Tiba-tiba Raha menepuk bahu anak itu.
"Ayolah Exel, kau juga harus makan, RoutRabbitt buruan Udzaa selalu enak, jangan sampai Faiz menghabiskannya" ucap Raha dengan riang, diujung sana Faiz merasa tersinggung.
"Hei hei.. biarkan saja, Exel juga akan makan pada akhirnya, lagi pula masih banyak makanan disini.." Faiz mendorong semangkuk sayuran rebus menjauh darinya, bergeser tepat kedepan Exel.
"Makanlah, sayur itu bagus untuk pertumbuhanmu"
"Kau juga harus makan itu!" perintah Alghif, namun matanya menangkap gerakan Faadhi yang tengah membuang sayuran dari piringnya.
"Dan kau, habiskan sayur mu!!" perintah Alghif layaknya seorang ibu yang memarahi anaknya.
"Kalian ini kenapa? kalian harus makan sayur, bukan hanya daging itu, atau aku takkan membiarkan Udzaa berburu lagi!" kata-kata itu cukup membungkam mulut Faiz yang ingin membantahnya.
"Lihat Lyfa, dia makan sayurnya"
"Vegetarian memang tak pernah makan daging" bisik Faadhi kearah Faiz yang mengangguk setuju.
Alghif tak menghiraukannya.
"Exel, bagaimana kau bisa tau kami ada dimana?" tanya Syafa pada anak itu. Exel terlihat takut untuk menjawab, namun tatapan Syafa membuatnya membuka mulut.
"Aku, merasakan Cloe kalian dan kemudian aku berubah jadi kabut lalu.." ucapnya menjelaskan dengan suara pelan.
Mirell terperangah mendapati Exel tau caranya melakukan perjalanan kabut, Exel bercerita kalau dia pernah melihat mereka menggunakan sihir itu.
"Dan kau hanya menconteknya sedikit? tapi itu sempurna, bagaimana menurutmu Udzaa?" Mirell beralih ke Udzaa.
"Sejujurnya aku juga sedikit terkejut, apa tehnik ku yang mudah ditiru atau memang Exel yang terlalu jenius" ucap Udzaa sambil terkekeh.
Makan malam saat itu berlangsung hingga larut, mereka menyanyikan lagu-lagu dengan semangat. Kadang mereka tertawa, memukul satu sama lain, serta semua kegembiraan lainnya. Exel, perlahan beradaptasi, dan malam itu menjadi malam pertama dimana Exel tertawa sejak mereka mengenalnya.
Pada akhirnya, Faiz bertanya pada Exel untuk bergabung dengan mereka. Menjadi bagian dari serikat mereka. Semuanya tampak setuju dan bersemangat yang kemudian Exel mengangguk setuju dengan senyuman lebarnya.
"Untuk keluarga baru kita, Exel!!" Fath mengangkat gelas minumnya yang kemudian diikuti oleh mereka semua.
Exel tersenyum melihat hal itu, ikut mengangkat gelasnya, menyambut kehangatan yang nyata dari keluarga barunya.
Udzaa yang berdiri disamping panggangan tak jauh dari meja juga ikut mengangkat gelasnya. Keceriaan itu takkan pernah ia lupakan, malam yang hangat, ia merasa memiliki keluarga. Dan tanpa sadar, didalam hatinya ia bersumpah untuk melindungi mereka semua. Ia tersenyum kecil kemudian meneguk habis minumannya.
Kebahagiaan adalah hal yang tak pernah didapat yatim-piatu seperti mereka. Walaupun mereka berasal dari tempat yang berbeda, namun mereka sudah layaknya keluarga.
Hari-hari berikutnya penuh dengan kehangatan, Exel telah beradaptasi dengan lingkungan barunya, walaupun hingga sekarang ia tak tau darimana asal-usulnya, bagaimana dengan masa lalunya. Tapi yang ia tau saat ini adalah ia punya sebuah keluarga.
Udzaa juga merasakan hal yang sama, semakin hari semakin ia merasakan hal yang tak pernah ia rasakan. Rasa memiliki keluarga. Rasa memiliki teman. Rasa memiliki tujuan hidup.
Matanya bertemu dengan Exel. Anak itu tersenyum kearahnya yang membalasnya dengan mengangkat gelasnya. Entah kenapa saat ia melihat Exel yang jauh lebih muda darinya, ia merasa seperti melihat dirinya sendiri. Tak tau darimana ia berasal, tak ingat apapun tentang masa lalunya.
Keesokan harinya Faiz membubuhkan tanda Serikat dibawah lengan kanannya, tanda terbakar berbentuk dua kepala naga yang saling bersilangan. Dan dengan itu, Exel resmi menjadi bagian dari mereka.
Tahun berikutnya berlalu dengan cepat, mereka banyak berperan di berbagai peperangan, membuat nama mereka semakin dikenal sebagai serikat yang kuat.
Namun mereka tak pernah tau akan malapetaka yang makin dekat menghampiri mereka, menghancurkan serikat kuat itu dalam semalam, mengikat mereka dengan bayangan penderitaan yang lain.
***
Malam itu langit terlihat lebih gelap, Udzaa sedang berjalan menuju markas setelah menyelesaikan misinya. Ia mempercepat langkahnya demi menghindari hujan yang sepertinya akan turun. Pada akhirnya ia telah sampai dibatas perlindungan markas mereka, ia masuk kedalam perlindungan itu hanya untuk melihat tubuh teman-temannya yang tergeletak ditanah.
Udzaa amat terkejut, ia berlari menghampiri salah satu tubuh temannya. Ia melihat Sana disana, diam tak bergerak ditanah, Udzaa juga tak merasakan Cloe milik temannya itu. Sana telah mati. Ia melihat sekeliling nya, mendapati semua temannya mati dengan tubuh penuh luka.
Udzaa tak bisa berkata-kata. Otaknya terlalu sibuk mencerna apa yang baru saja ia lihat. Faadhi tak bergerak bersandar dibawah pohon, Fath dengan luka disekujur tubuhnya, Raha yang juga tak bergerak dipintu masuk markas.
Ia melihat Alghif yang jantungnya ditembus sebuah tombak, Luna yang terbaring berlumuran darah, serta yang lainnya. Tak bergerak, tak bernyawa.
"A-apa yang su-sudah terjadi!!??" Udzaa berdiri linglung, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Disaat itu ia melihat salah satu tubuh bergerak lemah, ia segera berlari menghampiri.
Faiz terbaring disana, sebagian tubuhnya penuh luka tapi masih bernafas. Udzaa berlutut disisinya.
"Hey.. Anthera!" Udzaa mengguncang tubuh temannya itu. Faiz membuka matanya dengan lemah, kemudian tersenyum kearahnya.
"Syukurlah kau masih selamat" Faiz berkata dengan suara lemah.
"Apa yang terjadi, yang lain.." Faiz memotong perkataan Udzaa, lagi-lagi ia tersenyum walau sepertinya cukup sulit.
"Exel lepas kendali.." Udzaa terkejut.
"Exel yang melakukannya? tapi..tapi kenapa?" Udzaa bertanya dengan nada terkejut.
Faiz menceritakan semuanya, disaat Udzaa sedang pergi. Exel mengamuk dan menyerang mereka semua, membunuh mereka. Faiz berusaha menahannya namun kekuatan Exel terlalu besar, hingga ia tak berdaya. Faiz hanya bisa melihat teman-temannya dibunuh, sedangkan ia tak bisa bergerak. Setelah itu Exel pergi meninggalkan mereka.
"Hei, kau tau.." Faiz berkata dengan lemah.
"Kau punya hutang padaku, bisakah aku meminta bayarannya sekarang?"
"Bisakah kau tutup mulutmu, keadaan mu sedang gawat, aku akan mengobatimu, aku rasa obat simpanan Kirana bisa.."
"Tak perlu.." Faiz memotong perkataan Udzaa, kemudian ia terbatuk, darah menyembur dari mulutnya.
"Aku punya permohonan sebelum waktuku benar-benar habis" Udzaa ingin menyelanya namun Faiz membuatnya menutup mulut.
"Mendekatlah.."
Faiz membisikkan sesuatu ditelinga Udzaa yang terbelalak saat mendengarnya.
"Kau bisa melakukannya?"
Udzaa mengangguk enggan, tapi Faiz menganggap nya sebuah persetujuan.
"Sejak dulu aku ingin sekali bertemu Ayah dan Ibu.." Faiz kembali batuk, membuat darah kembali keluar dari mulutnya.
"Akhirnya aku akan segera bertemu dengan mereka, aku akan mengatakan pada mereka berdua kalau aku punya teman-teman yang hebat" Udzaa meremas tangan temannya itu. Faiz tersenyum padanya hingga ia menutup matanya dengan damai dan melebur menjadi abu, menghilang dari dunia ini.
Udzaa terbelalak tak percaya. Kesedihan menusuk jantungnya. Cloe miliknya mengalir deras, keluar menjadi aura hitam yang berputar mengelilingi tubuhnya. Tekanan Cloe miliknya menyentak begitu kuat, menciptakan hembusan angin yang menyakitkan. Hujan turun dengan derasnya tepat disaat Udzaa meraung keras menatap langit.
Petir menyambar dengan liar, menggelegar di langit yang gelap tanpa bintang, aura hitam yang mengelilingi tubuhnya berputar semakin cepat, menekan tubuhnya sendiri hingga tertutup aura hitam itu, mengaburkan pandangannya, membuat ia meraung lebih keras.
Hingga matanya terbuka, menatap langit-langit bangsal rumah sakit.
__ADS_1
***