
Tap tap tap..
Noey berjalan menelusuri lorong kastil dengan jubah tidurnya, melewati satu-dua pelayan kemudian berbelok diujung lorong. Lorong lain dengan lantai batu terlihat didepannya, ia terus berjalan hingga tiba tepat didepan sebuah pintu besar.
"Selamat malam nona Noey" seorang pria tua dengan rambut putih dan pakaian pelayan menyambutnya didepan pintu. Noey menatapnya sekilas.
"Apa mereka sudah berkumpul Hermes?"
"Mereka sudah ada diruang utama nona" jawab Hermes sopan, Noey mengangguk. Kemudian Hermes mendorong pintu didepannya, mempersilahkan Noey untuk masuk.
Krieet.
Ruangan dibalik pintu sangat kontras dengan lorong sebelumnya, dibaliknya terdapat sebuah ruangan besar berkilau. Beberapa ornamen ruangan itu terbuat dari kristal. Lampu besar ditengah ruangan memancarkan cahaya dari sesuatu yang terlihat seperti api biru yang segera dipantulkan oleh kristal-kristal disekelilingnya.
Lantai porselen yang amat kontras dengan lantai batu sebelumnya terlihat bercahaya tertimpa sinar api biru diatasnya. Beberapa pelayan terlihat berjalan kesana-kemari, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Beberapa menghentikan pekerjaannya, membungkuk hormat sejenak saat Kapten Divisi Pertama itu lewat.
"Bagaimana dengan makan malamnya? Aldrich keempat sangat pemilih soal makanan"
"Kami akan melakukan yang terbaik, nona" ucap Hermes.
"Dan jangan lupakan pudding api untuk Errol" tambah Noey sambil tersenyum kecil. Hermes mengangguk mengerti, kemudian berhenti melangkah, membungkuk sejenak kemudian berbalik pergi.
Noey sampai dipintu besar lain, mendorongnya terbuka kemudian melangkah masuk.
***
Ruangan itu besar, berbentuk kubah besar berwarna coklat kayu sempurna, ornamen didalamnya dipahat dengan indah sehingga terlihat hidup. Sebuah tungku api besar menyala dengan hebat diseberang pintu utama, lidah api didalamnya menjilat kesana kemari dengan liar.
Sama seperti ruangan lainnya, ruangan itu juga disinari oleh lampu api biru yang menyala tepat dipusat kubah. Dibawah nyala api biru itu, terdapat sebuah meja besar melingkar, yang setiap kursinya telah diisi oleh sosok yang berbeda.
Pria besar dengan zirah perak yang duduk disalah satu kursi yang berdekatan dengan tungku api itu adalah Faruq, dikenal sebagai Kapten Divisi Kedua. Mengenakan zirahnya yang tak sempat ia tanggalkan karena diperintah untuk segera berkumpul, menatap bosan ke sekeliling, mencari wajah-wajah para Aldrich yang sangat ingin ia hajar.
Matanya menangkap sosok lain yang duduk tak jauh dari tempatnya. Sosok itu juga mengenakan pakaian tempurnya, walau sebuah jubah lebih baik daripada baju zirah, tapi ia melihat ketidaknyamanan dari wajah pemakainya.
Greeekk..
"Aku akan kembali setelah ganti pakaian dan mandi" ucap laki-laki itu seraya berdiri dari kursinya.
"Kupikir, sebaiknya kau tetap disini.." sahut sosok lain diseberangnya.
Kevin mengangkat wajahnya, menatap kedua laki-laki yang sedang beradu pandang dengan tajam disana.
"Dimas, kurasa Zayn benar.. tetaplah ditempatmu"
"Untuk apa? sudah cukup lama kita menunggu disini, dan tak ada apa-apa!" ucap laki-laki yang dipanggil Dimas itu dengan keras.
"Setidaknya biarkan aku mengganti pakaianku, ini tak senyaman kelihatannya, kau tau.."
"Kupikir ada orang lain yang terlihat sangat tak nyaman dengan pakaiannya daripada kau" ucap Mou datar namun penuh arti sambil memainkan jarinya diatas meja.
Sebuah kerutan kecil jelas terlihat didahi Faruq.
'Gadis ini minta dihajar ya..' batinnya kesal.
"Terserah kau saja" ucap Dimas tak peduli, ia baru saja ingin melangkah sampai Kevin kembali bicara.
"Aku benar-benar menyarankanmu agar tetap disana, atau dia akan menghajarmu.."
Dimas menoleh. Menatap sosok bertudung itu.
"Siapa? Aldrich itu? Sejak kapan aku takut dengan mereka?" jawab Dimas dengan nada menantang.
"Aku akan pergi, katakan pada mereka aku tak peduli dengan pertemuan ini" ucapnya lagi sambil berjalan menuju pintu.
"Oh, tentu saja bukan Aldrich" ucap Kevin santai. Zayn menguap malas disebelahnya.
"Kau akan berurusan dengan kak Noey.."
Greek..
Dimas telah kembali kekursinya.
"Anggap saja aku tak pernah meninggalkan kursi kesayanganku ini.." ucapnya dengan nada datar namun terdengar agak bergetar.
"Pffttt.." Mou berusaha menahan tawanya.
"Hentikan tawamu itu bodoh!!" teriak Dimas sambil menunjuk Mou kasar. Namun tak bisa mencegah tawa gadis itu yang kini makin membesar.
Kevin menggelengkan kepalanya sedangkan Zayn tak ingin ikut campur dengan pertengkaran bodoh itu.
Ocehan Dimas masih terdengar disela-sela tawa Mou sampai seekor elang terbang masuk kedalam ruangan dari celah ventilasi.
Elang kecoklatan itu terbang mengitari langit-langit kubah, kemudian meluncur turun dan mendarat sempurna tepat didepan sosok bertudung yang duduk tepat diseberang Kevin.
Elang itu mengetuk jari sosok itu dengan paruhnya, sontak sosok itu terjungkal karena terkejut.
"HWAAA!!" tudungnya merosot turun memperlihatkan wajahnya yang sangat kacau.
'Dia tertidur..?' batin semua orang diruangan itu.
"Ah, a-ada apa ini?" ucapnya tak jelas, kemudian ia mengamati sekitar, menoleh kekanan dan kiri, kemudian setelah beberapa saat akhirnya ia bisa menguasai dirinya.
"Ahahaaa.. Aku tertidur" tawanya renyah.
'Ocehan Dimas dan tawa keras Mou, dan dia masih bisa tertidur?' batin Faruq heran.
"Terlalu lelah ya?" Zayn menegurnya, mengacuhkan ocehan Dimas yang kini berlanjut.
Sosok itu menatap Zayn, kemudian kembali tertawa renyah.
"Ehee begitulah.." ia segera memeriksa elang yang datang itu, mengeluarkan sebuah gulungan perkamen dari tas dipunggung sang elang, kemudian elang itu kembali terbang dan menghilang dari balik ventilasi.
"Eum.. Laporan biasa, aku heran kenapa harus dikirim malam ini"
"Ada yang aneh Iqbal?" tanya Faruq.
Laki-laki yang dipanggil Iqbal itu menggeleng sambil tetap menatap perkamen ditangannya.
"Hanya laporan biasa, pergerakan sekelompok goblin dibarat, selebihnya tak ada yang aneh"
"Haaahh.. Enak sekali jadi Iqbal" keluh Mou yang kini sudah tak peduli dengam ocehan Dimas, ia meletakkan dagunya diatas meja. Menghela nafasnya.
"Hanya mendapat tugas menjaga, tak perlu pergi jauh"
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu.." Faruq mendengus kesal, diantara yang lain hanya dirinyalah yang mendapat tugas dengan jarak yang jauh.
"Dengan tugas semudah itu kau masih mengantuk?" tanya Iro yang kini telah menyadari kalau dirinya benar-benar tidak dalam pengaruh Amonte.
Iqbal tersenyum kikuk.
"Ah, tugas menjaga perbatasan hanya dilakukan oleh pasukanku, sedangkan aku punya tugas lain.."
"Dan tugas apakah itu?" kini Frans ikut bertanya.
"Aku membantu nenek Yuberia menumbuk Gillybean"
.
.
.
.
.
.
Seketika ruangan itu hening karena jawaban Iqbal, sedangkan Faruq merasa amat bersyukur dengan tugas yang ia miliki.
Tak ada suara sama sekali, bahkan Dimas tak mendapat satupun kata yang ingin ia ucapkan, semuanya memandang Iqbal dengan miris.
Mereka semua tau, Gillybean adalah jenis kacang dengan tempurung terkeras dibenua ini, walau punya banyak khasiat namun perlu tenaga ekstra untuk memecahkannya, dan tak perlu dijelaskan betapa sulitnya itu.
"Em, hanya beberapa buah kurasa?" tanya Mou.
"10 kuali besar penuh.." jawab Iqbal dengan wajah lesu.
Mou mengangguk.
"Baiklah, kini aku sama sekali tak iri dengan tugas mu itu"
Perkataan terakhir Mou seharusnya membuat mereka tertawa, namun tak bisa karena saat itu pintu ruangan terbuka. Noey melangkah masuk dengan jubah hitamnya.
Semua mata menatap kearahnya, Noey yang ditatap seperti itu menaikkan alisnya dengan heran.
"Ada apa dengan kalian?"
"Iqbal baru saja bercerita tentang pengalamannya memecahkan Gillybean" ucap Iro menjelaskan, terdengar lucu ditelinga Mou namun tak berani tertawa didepan Noey.
"Oh, aku turut berduka" ucap Noey dengan nada yang amat datar sambil berjalan menuju kursinya.
"Terima kasih.." ucap Iqbal lirih yang masih bisa terdengar oleh semuanya. Mou benar-benar berusaha menahan tawanya.
Noey duduk dengan anggun dikursinya, menatap kesekeliling, melihat Faruq dan Dimas yang masih mengenakan pakaian yang terlihat tak nyaman.
"Kalian masih mengenakan itu?"
"Aku baru saja sampai sore ini, dan segera datang kesini saat menerima panggilan" jawab Faruq.
"Hoo begitu" balas Noey, yang kemudian kembali bersuara.
"Seharusnya kalian menggantinya lebih dulu, kupikir kalian tau para Aldrich itu tak pernah tepat waktu"
Dimas dengan wajah kesal yang tertahan mencoba memberikan sebuah senyumnya kearah Kevin.
"Terima kasih banyak" ucapnya kesal.
"Tentu saja kawan, kapanpun itu" jawab Kevin santai.
Mou benar-benar tak bisa menahan tawanya, seketika seluruh ruangan terisi penuh dengan suara tawanya. Frans juga ikut tertawa kecil, begitu juga Iqbal yang merasa seperti lelahnya setelah memecahkan Gillybean menghilang begitu saja. Kevin juga ikut tertawa sedangkan Zayn hanya menyeringai lebar.
Noey hanya diam memperhatikan.
"Kuhajar kalian semua.." gerutu Dimas.
"Sepertinya kau harus menahan itu hingga akhir pertemuan" suara Nia membahana diruangan itu. Suara tawa berhenti ketika untuk kedua kalinya pintu terbuka. Nia melangkah masuk bersama Lian dibelakangnya.
Kedua Aldrich itu melangkah ketempat yang tersisa, kemudian duduk membelakangi tungku api.
Lian melihat Faruq dari ekor matanya.
"Zirah yang bagus" ucapnya.
"Tutup mulutmu, atau kuhajar kau" ucap Faruq sambil tersenyum.
"Bagaimana perjalananmu ke Akiba? Menyenangkan?" ucap Lian lagi tanpa memperdulikan ancaman Faruq.
"Bicaralah sekali lagi, dan aku benar-benar akan menghajarmu" balas Faruq dengan nada yang serius.
"Haahh.. Apa kalian tak bisa akur untuk sekali ini saja?" ucap Nia sambil menghela nafas nya. Lian tersenyum jahil sedangkan Faruq mendengus kesal.
Dari semua itu Zayn akhirnya bersuara.
"Cepatlah katakan alasanmu mengumpulkan kami disini" ucapnya sambil menguap bosan. Ia menyandarkan kepalanya dengan tangan diatas meja.
"Beberapa dari kita sudah tak nyaman dengan kerah tinggi berbulu"
Perkataan terakhir Zayn benar-benar membuat Dimas kesal, pasalnya hanya dirinya yang kini mengenakan jubah berkerah bulu yang tinggi.
Zayn melirik Dimas yang menatapnya kesal sambil menyunggingkan senyuman yang menurut Dimas amat menyebalkan.
"Kuhajar kau nanti" ancam Dimas.
"Kenapa tidak sekarang?" tantang Zayn.
"Karena kalian berdua akan kuledakkan" sambar Iqbal, mencoba melibatkan dirinya dalam pertengkaran tak penting itu.
"Teruslah bicara dan kumasukkan kau dalam daftar orang yang akan kuhajar" ucap Dimas melirik Iqbal.
"Hei, sertakan aku dalam permainan kalian" ucap Lian memperkeruh suasana.
"Tenang saja, aku yang akan menghajarmu nanti dengan Gillybean" sambar Faruq.
"Hei! Kau mengejekku? Zirah tua bodoh!" ucap Iqbal kesal.
"Diam kau! atau kujadikan kau menyatu dengan masakan Mou" balas Faruq yang ikut kesal.
"Hei!! Kau minta dihajar yaa!!" Mou memukul meja didepannya dengan kesal.
"Oh, aku yang akan menjadikanmu bulu tambahan dikerah Dimas" tantang Lian.
"Kupecahkan kacamatamu nanti brengsek!! setelah menghajar pemanah anggun ini" teriak Dimas sambil menunjuk Zayn dengan pedangnya.
"Kau akan kuhajar lebih dulu dengan selimut Aldrich keempat!" Zayn menepis pedang Dimas.
"Libatkan master dengan ini, dan kucabik keluar isi perutmu!" ucap Iro sambil mengeluarkan aura gelapnya.
"Diam atau kujadikan kalian semua makanan ternak" ucap Noey.
.
.
__ADS_1
.
.
"Sudahlah, hentikan pertengkaran bodoh kalian itu" lerai Nia sambil memijat keningnya. Ia bertanya-tanya bagaimana cara Uan menyatukan mereka dalam satu serikat dulu, orang-orang ini bisa menghacurkan sebuah negara dalam sekejap.
Disaat itu pintu terbuka untuk kesekian kalinya, Udzaa melangkah masuk dengan santai.
"Hei, kupikir kita harus meletakkan beberapa penunjuk jalan didepan sana, aku tersesat sampai kedapur" ucap Udzaa sambil menunjuk kepintu, namun saat ia menoleh semua menatap kearahnya dengan mata menyala.
"Eh, kupikir aku salah ruangan" ucap Udzaa dengan senyum kikuk.
***
"Baiklah, setelah kalian dengan sangat bijak menghentikan pertengkaran bodoh tadi, aku akan menjelaskan alasan kalian diminta untuk berkumpul" ucap Nia dengan serius.
Kini ruangan berbentuk kubah itu sudah kembali tenang. Semua kursi sudah terisi, hanya kursi Aldrich pertama yang masih kosong.
Udzaa telah duduk dikursinya, walau masih dengan senyum kikuknya ia menatap setiap orang disana.
"Jadi kau sudah kembali" Faruq bicara lebih dulu tentang kehadiran Udzaa.
"Em, begitulah" jawab Udzaa singkat.
"Ternyata memang bukan pertemuan penting" keluh Dimas sambil menghela nafas kesal.
Nia memutar bola matanya, ia harus segera menguasai pertemuan ini sebelum kekacauan kembali terjadi.
"Ehem, baiklah, pertama aku akan menjelaskan kepergian Udzaa yang kuyakin masih kalian pertanyakan"
"Tunggu, menjelaskan? jadi kau tau semuanya?" tanya Lian yang mewakili keterkejutan yang lainnya.
"Tentu aku tau, akulah yang memberinya izin untuk meninggalkan Edenteria" ucap Nia. Ia menatap semua mata yang terlihat menginginkan penjelasan didepannya.
"Tahan semua pertanyaan kalian sampai penjelasanku selesai" ucapnya lagi dengan cepat sebelum ada seorang pun yang bertanya.
Errol terbang masuk melewati ventilasi, melintasi meja dan kemudian mendarat mulus kepangkuan Frans.
"Dua tahun lalu, kalian tau, setahun setelah perginya Aldrich pertama, Udzaa memberitahuku tentang aktifitas cloe yang tidak wajar" Nia memulai penjelasannya, ia berhenti sejenak, memperhatikan tanggapan teman-temannya sebentar kemudian melanjutkan.
"Tekanan cloe yang tak wajar itu terdeteksi di De Great of Vanor, semula aku tak percaya hal itu, karena jelas dimana De Great of Vanor berdiri adalah pusat benua yang netral, yang takkan berpengaruh dengan sihir apapun"
"Namun, keyakinan Udzaa tentang hal itu cukup membuatku curiga, karena itu dengan bantuan teknologi Alvian, kami menemukan kebenaran bahwa tanah Great of Vanor telah tercemar"
Lian menyatakan keterkejutannya, mewakili semua orang yang ada disana.
"Tercemar? hal seperti itu tak mungkin terjadi kan?" tanya Lian.
"Memang sulit dipercaya, namun memang itu yang terjadi" jawab Nia. Ia menyatukan jari-jari tangannya.
"Karena itu, aku memberi Udzaa sebuah misi rahasia untuk menyelidikinya, kupikir hanya butuh beberapa hari tapi ternyata perlu waktu yang cukup lama yaa"
"Lalu kenapa kau merahasiakannya, kau tau, para tetua itu selalu meributkan tentang menghilangnya Aldrich pertama, dan kurasa bukan sekali mereka juga mempermasalahkan menghilangnya Udzaa" ucap Kevin yang merujuk pada pembicaraan para tetua sore tadi.
"Emm.. kau boleh menyebutku sebagai Aldrich keempat" ucap Udzaa yang segera mendapat tatapan tajam Noey.
"Em, tapi tak apa jika kalian tak mau"
"Aku perlu memastikan hal ini sebelum memberitahu kalian semua, terlebih lagi pada para tetua" ucap Nia.
"Mereka takkan mau percaya dengan hal ini"
Beberapa dari mereka mengangguk setuju, para tetua memang keras kepala, orang tua yang tak mau menerima pendapat orang lain, dan mereka semua tak pernah setuju dengan ucapan para tetua itu.
"Karena hal itu aku mengirim Udzaa untuk menyelidikinya secara rahasia, memberitahu kalian semua bahwa Aldrich keempat menghilang sekaligus memberi Udzaa cukup banyak waktu untuk menyelidikinya" ucap Nia lagi, kemudian menatap kearah Udzaa.
"Dan kini kurasa kita bisa mendengar informasi apa saja yang telah ia dapat dalam dua tahun ini"
"Pastikan itu berita bagus sebelum kau mengatakannya, atau kusuruh Dimas untuk menyiapkan pemakamanmu" ucap Noey tajam.
"Dengan senang hati" sambar Dimas sambil tersenyum bahagia.
Udzaa menelan ludahnya, ia tak bisa berbohong, ia mulai takut untuk bicara sekarang.
Tapi sesaat ia mulai mengendalikan dirinya. Ia memberi isyarat pada Errol agar datang kepadanya. Segera saja Errol melucur dari pangkuan Frans.
"Aku memeriksa setiap inci Great of Vanor, tak ada apapun yang aneh disana" ucap Udzaa yang kemudian kembali merasakan hawa membunuh yang terpancar dari gadis buas dihadapannya.
"Ta-tapi, aku masih menemukan aktifitas cloe yang tersisa disana, sangat tipis aku perlu konsentrasi penuh untuk melacaknya, mengikutinya hingga perbatasan Akiba, namun kehilangan jejak disana" jelasnya lagi.
"Berminggu-minggu aku disana, berusaha kembali melacaknya hingga akhirnya aku berhasil menemukannya, mengikutinya lagi hingga tepi pantai Corona, tekanan cloe itu terasa makin kuat"
"Butuh berminggu-minggu bagiku untuk menemukan sumbernya, tekanan cloe yang amat kuat hingga terasa menyatu dengan alam membuatku sedikit bingung melacaknya"
"Namun diminggu ketiga aku berhasil menemukannya, sebuah gua bawah laut dilepas pantai Corona, tersegel rapat dengan Kiso Boukutten, kalian tau tehnik segel tingkat tinggi dari 7 Sihir-Tak-Termaafkan"
"Kiso Boukutten? Benda macam apa yang harus disimpan dengan Kiso Boukutten?" tanya Kevin heran.
"Tapi kau hebat juga bisa melepas segel itu" ucap Iqbal.
"Siapa yang bilang aku melepasnya?" balas Udzaa.
"Lalu?"
"Aku menyerapnya"
Seketika ruangan kembali hening. Semua mata menatap Udzaa tak percaya.
"Awalnya aku memang berusaha membukanya, tapi tak berhasil, berbulan-bulan aku mencari cara untuk membukanya tapi tak juga berhasil"
"Sampai dibulan keempat, saat aku hampir gila karena segel bodoh itu, aku mencoba menebas pintu batu itu, aku gagal bahkan batu itu tak tergores sedikit pun"
"Namun pedangku bereaksi dengan segel itu, lalu kulakukan satu-satunya hal yang munkin terlintas dikepalaku, dan aku berhasil menyerapnya"
"Aku tak percaya pedang jelek itu bisa menyerap segel tingkat tinggi" ucap Zayn yang kemudian diprotes Udzaa segera.
"Tapi, Crimson Blade memang terbuat dari Candellion khusus, satu-satunya jenis Candellion terkuat, aku yakin daya serapnya juga kuat, jadi kurasa hal itu mungkin saja terjadi" jelas Lian menganalisa.
"Yang terpenting, apa yang ada didalam sana" ucap Noey.
Udzaa diam sejenak, ia terlihat berusaha mencari kata-kata yang sesuai.
"Aku tau ini akan terdengar sangat mustahil, tapi aku benar-benar melihatnya"
Semuanya menatap Udzaa dengan intens, berusaha mendengarkan dengan seksama.
"Didalam sana, dibalik segel itu, aku bertemu.."
"Seekor naga"
***
"Jangan bercanda!!" ucap Mou menanggapi perkataan Udzaa tentang penemuan seekor naga.
Semua kembali hening, terlihat jelas wajah-wajah tak percaya akan penjelasan Udzaa. Semua orang tau, tak ada lagi naga didunia ini, mereka adalah ras kuno yang sudah lama punah. Namun Udzaa dengan yakin tetap mengatakannya, seolah ia masih melihatnya saat ini.
Udzaa menghela nafas singkat sebelum melanjutkan ceritanya. Frans menatapnya penuh selidik.
"Aku tak peduli kalian percaya atau tidak, tapi yang pasti naga itu disana, sebenarnya tidak sepenuhnya disana, yang kuhadapi saat itu hanya tumpukan tulang hidup" ucap Udzaa.
"Undead.." gumam Kevin segera dengan suara berbisik namun masih dapat didengar yang lain.
"Tapi sebuah Undead dengan bentuk seekor naga? berapa banyak sihir yang harus dikeluarkan untuk membuatnya"
Udzaa mengangkat bahunya, tak mengerti. Ia tak mau repot-repot memikirkan hal itu.
"Aku tak punya waktu untuk berpikir karena makhluk itu menyerangku tepat setelah aku melangkahkan kakiku masuk kedalam gua itu"
"Aku cukup mengerti kenapa mereka disebut sebagai ras terkuat yang pernah ada, tak butuh waktu lama baginya untuk menyudutkan ku" ucap Udzaa kembali, Nia menatapnya dengan serius.
"Makhluk itu menghadiahiku sebuah tanda tangan, cakaran dalam dipunggung, aku bisa menunjukkannya jika kalian mau" Udzaa berniat membuka jubahnya tapi Dimas menyela.
"Tidak perlu, terima kasih"
"Aku hampir mati jika saja tak ada Errol disana, tapi akhirnya aku berhasil menang, tentu saja karena aku hebat" ucapnya membanggakan diri.
"Sangat disayangkan.." ucap Noey kejam yang mendapat persetujuan dari, setidaknya setengah dari mereka.
Udzaa memandang kesal. Kemudian menarik keluar sesuatu dari balik jubahnya. Sesuatu itu awalnya terlihat seperti batu karang biasa, namun setelah diperhatikan lebih jauh bentuknya lebih menyerupai sebuah Tiara yang terbuat dari karang.
"Aku berhasil mengalahkannya, kemudian Tiara ini jatuh begitu saja dari puncak kepalanya" Udzaa mengulurkan tangannya agar mereka semua bisa melihat Tiara karang yang ada diatas tangannya.
"Aku tak yakin ini apa, tapi benda ini sangat gelap, auranya hampir mencekikku, karena itu aku menyegelnya, untuk berjaga-jaga"
"Kiso Boukutten? kau menggunakan Kiso Boukutten untuk menyegelnya?" tanya Faruq yang melihat corak segel berwarna disekelliling Tiara itu.
"Ya, aku tak tau segel apa yang harus kupasang, tapi kupikir segel ini cukup ampuh"
"Kau bisa merapalnya?" tanya Kevin dengan heran, begitu juga yang lain. Karena mereka semua tau, Udzaa bahkan tak bisa merapal mantra standar, akan sangat mengejutkan jika ia merapal tehnik segel tingkat tinggi dengan sempurna.
Namun Udzaa menggeleng.
"Tentu saja tidak, Dewan akan segera menyeretku jika mereka tau aku menggunakan salah satu dari 7 Sihir-Tak-Termaafkan" ucapnya dengan wajah mengerikan.
"Aku hanya melepas kembali Kiso Boukutten yang telah kuserap" jelasnya lagi.
Lian mengambil Tiara dari tangan Udzaa, ia memperhatikan benda itu dengan teliti.
"Bisa kau analisa?" tanya Nia.
Lian menimang-nimang Tiara batu itu ditangannya.
"Segel ini menghalangi, kita harus melepasnya terlebih dahulu, tapi mengingat kita tak tau apa yang akan terjadi saat segelnya dilepas, kupikir ada baiknya jika kita memasang penghalang lebih dulu" jelas Lian.
"Jadi benda itu yang mengeluarkan tekanan cloe yang kau rasakan?" tanya Iqbal yang segera dijawab oleh anggukan Udzaa.
"Selain itu, aku juga menemukan hal menarik lainnya didalam gua itu" ucap Udzaa, dia melirik Errop yang segera mengerti maksudnya.
Kemudian Errol membuka mulutnya, lalu dari dalam mulutnya ia mengeluarkan sebuah gulungan besar.
"Itu menjijikan, kau tau" ucap Faruq tajam sambil menunjuk Errol didepannya, Errol hanya menyeringai lebar.
"Apa itu?" tanya Noey penuh selidik.
Udzaa membuka gulungan besar itu diatas meja, menjulurkannya sepanjang mungkin namun karena terlalu panjang tak semuanya bisa dilihat.
"Aku juga tak yakin, tapi kurasa ada beberapa informasi berharga didalamnya"
Semua mata menatap gulungan yang terbuka didepannya, gulungan itu berisi sebuah tulisan yang lebih terlihat seperti coretan asal. Mereka masing-masing menanyakan hal itu, namun Udzaa juga tak mengerti apa maksud dari tulisan itu.
"Aku sempat bertemu beberapa Goblin diperjalanan pulang, menanyakan hal ini pada mereka, tapi mereka juga tak mengerti" ucap Udzaa menjelaskan. Ia juga telah bertanya pada semua orang yang ia temui tentang tulisan itu, namun tak ada yang mengerti.
"Jadi intinya adalah, ini bukanlah bahasa Goblin serta ras lain, bukan juga bahasa Centaur bahkan para Giant, ini pasti sesuatu yang lebih tua dari mereka" ucap Udzaa lagi.
"Aku tak percaya kau bertanya hal ini dengan para Centaur, dan bahkan Giant, orang macam apa kau ini" Dimas menatap curiga.
"Kau tau, tak semua dari mereka membenci manusia, ada beberapa yang kukenal malah mendukung pergerakan kita" jelas Udzaa.
Ruangan besar itu kini penuh dengan gumaman, mereka semua mencoba menerka-nerka apa arti tulisan itu. Iqbal sampai mengambil banyak kamus bahasa dari lemari penyimpanan. Mereka beradu argumen dengan yang lain tentang arti kata-kata didepan mereka, hingga pada akhirnya Nia menarik gulungan itu, menutupnya kembali.
Sreeert...
"Kita sudahi dulu sampai disini, sudah terlalu malam" ucap Nia sambil kembali mengunci gulungan itu.
"Aku hampir saja mengetahui arti coretan dengan bentuk pudding disana" gerutu Dimas tak penting.
"Sudah cukup untuk malam ini, ada festival yang menunggu kita besok, karena itu kalian harus istirahat dengan cukup" ucap Noey sambil berdiri dari kursinya.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, menampakkan Hermes dan Errol yang melayang-layang diatasnya sambil memeluk semangkuk puding api.
"Waktunya makan malam geroooo!!"
Kemudian beberapa pelayan masuk sambil mendorong berpuluh-puluh troli makanan.
"Tak ada yang memberitahuku kalau ada makan malam gratis" ucap Iqbal sambil memandang daging panggang besar yang baru saja dibawa masuk. Sedangkan Udzaa dan Dimas sudah memenuhi piringnya dengan banyak makanan.
"Hei, kalian curang!!" teriak Iqbal sambil berlari kearah tumpukan makanan disana.
"Hee, banyak sekali makanan yang datang" ucap Nia sambil melihat berpiring-piring daging panggang serta bermacam makanan lainnya.
"Ini juga sebagai penyambutan atas kembalinya Aldrich keempat.." ucap Hermes yang berdiri samping Nia.
"Huaa ini enak sekali!!" teriak Udzaa diujung ruangan, ia sudah kembali mengisi penuh piringnya dengan makanan dna menumpuknya hingga melebihi tingginya sendiri.
"Berbulan-bulan hanya makan ikan bakar di gua bawah laut, rasanya yang hambar menyiksa lidah kuu" ucapnya lagi sambil memasukkan potongan besar daging bison kemulutnya, air matanya berlinang karena bahagia.
"Hermes!! Bawakan lagi daging bison itu, jangan sampai dihabiskan sibodoh itu!" perintah Dimas dengan suara aneh karena ia sedang berusaha memasukkan sebuah paha domba gunung kedalam mulutnya.
"Baik master!!" Hermes segera melesat meninggalkan ruangan dan kembali sesaat kemudian dengan mangkuk besar penuh dengan bison panggang.
Nia hanya menggelengkan kepalanya, ia duduk dikursinya sambil menatap gerombolan tukang makan yang sedang bertempur memperebutkan sebuah bison panggang didepannya.
Dimas dan Udzaa saling menarik, ditambah dengan Iqbal yang tiba-tiba melompat kearah mereka berdua. Keributan besar kembali terjadi saat saus bison panggang itu mengenai wajah Faruq yang segera mengamuk ganas setelah melepas zirah besinya.
Berbeda dengan Zayn yang sepertinya sama sekali tak tertarik dengan kompetisi makan disana, ia hanya duduk dikursinya sambil menikmati salad buah bersama dengan Kevin yang memang tak suka makan daging.
Frans dan Mou juga ada disana dengan Amonte mereka yang kini tanpa Iro.
Disisi lain Iro malah terbawa suasana kompetisi, ia ikut merebut daging RoutRabbit dari tangan Udzaa.
"Iro!!, atas nama dewi makanan yang agung!! Lepaskan tanganmu dari daging milikku!!" teriak Udzaa sambil menarik daging putih itu kearah dirinya.
"Aku takkan memberikannya padamu master!!" Iro juga tak mau mengalah, ia mempertahankan daging putih itu dengan tangannya.
__ADS_1
"Errol!! Bantu aku!!" teriak Udzaa pada sosok Errol yang terbang melayang diatas kepalanya.
"Aye aye kapten!!" balas Errol yang kemudian membantu Iro menarik daging putih itu dari tangan Udzaa.
"PENGKHIANAAAATT!!"
Nia memijat keningnya, ia merasa pusing dengan kelakuan teman-temannya itu.
Lian yang melihatnya hanya terkekeh sambil menyodorkan sebuah gelas kearah Nia.
"Kau juga perlu makan malam" ucapnya.
Nia menerima gelas berisi Amonte itu.
"Kupikir saat ia kembali semua akan baik-baik saja, tapi keadaan malah semakin kacau" ucapnya yang kemudian meneguk habis Amonte digelasnya.
Lian kembali terkekeh.
"Tapi memang begitu lah mereka, Edenteria akan sangat sepi jika mereka tak ada"
"Kadang aku berpikir, bagaimana si bodoh itu menyatukan mereka dulu" ucap Nia yang mengacu pada sang Aldrich pertama. Lian mengangkat bahunya sambil tersenyum lebar.
Disaat itu Noey bergabung dengan mereka.
"Aku ingin sekali menghajar mereka" ucapnya kesal.
Lian tertawa saat melihat Iqbal terlempar kearah Dimas karena Faruq, yang kemudian tergelincir oleh pudding api yang dijatuhkan Errol.
"Ini sedikit menghibur kurasa" ucap Lian yang kembali tertawa.
Noey mengambil salah satu gelas yang ada diatas meja.
"Asal mereka tak menghancurkan kastil.." ucapnya sambil meneguk habis minuman ditangannya.
Kini Nia ikut tertawa kecil begitu juga dengan Lian yang makin keras tertawanya. Zayn dan Kevin hanya menatapnya dengan aneh. Sedangkan Frans dan Mou juga ikut tertawa.
"Ini baru bisa disebut perayaan" ucap Mou sambil tertawa disamping Frans.
Namun ketika seekor bison panggang kembali dibawa masuk kekacauan makin membesar, terlebih lagi saat Noey bergabung dengan keributan sambil mengangkat pedangnya.
"Bison itu milikku!!" teriaknya pada Udzaa yang sudah dengan cepat menarik bison panggang itu kearahnya.
Lian dan Nia terkejut melihat Noey dengan ganas berlari menyebrangi ruangan menuju Udzaa dengan pedang terhunus.
Lian menoleh kearah gelasnya yang entah kenapa sudah kosong.
"Astaga, kak Noey meminum habis Wisky Api ku!" ucapnya panik.
"Ooh tidak, malapateka besar saat kak Noey mabuk" tambah Kevin sambil melihat kearah lain dimana kini Noey sedang mengambil kendali kekacauan yang terjadi.
"LEPASKAN TANGANMU DARI BISONKU BODOH!!" teriak Noey ganas.
"Ooyy hentikan dia!!"
"Kak Noey apa kau mau membunuh Udzaa?!"
"Master!! Aku akan menolongmu!! Lepaskan dia gadis liar!!"
"Iro!! kau mencekik kak Noey!!"
"Hei!! tunggu!! Aku juga mau bison itu!!"
"Dimas!! Dasar bodoh, kau malah memperkeruh suasana!!"
"Jet Gattling!!" Iqbal melompat dan berputar seperti mata bor yang kemudian menabrak kekacauan itu.
"Iqbal kubunuh kau!!"
"Lepaskan tanganmu dariku kacamata Brengseeekk!!"
"MATI KALIAN SEMUAAAAA!!" teriak Noey ditengah-tengah kekacauan itu, sedangkan Nia hanya bisa menghela nafas dikursinya.
"Dasar orang-orang kacau" desah Nia yang kembali memijat keningnya.
***
Pesta penyambutan atas kembalinya Aldrich keempat berlangsung dengan kacau, ruangan pertemuan itu berubah menjadi medan perang yang penuh dengan makanan yang berserakan.
Setelah Noey yang mabuk berhasil dihentikan dengan cara membuatnya pingsan, pesta penyambutan itu berakhir. Beberapa dari mereka sudah terlalu lelah untuk berbicara, kemudian satu persatu mereka pergi meninggalkan ruangan.
"Arghh.. Kepalaku sakit sekali" ucap Faruq sambil mengambil kembali baju zirahnya dari lantai yang retak karena tertimpa zirah beratnya itu.
Ia berputar dan kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan.
"Kak Noey sudah dibawa para pelayan kekamarnya.." ucap Lian dengan nada lega, ia melepaskan kacamatanya yang retak karena terpukul oleh siku Dimas.
"Benar-benar hebat ya.." ucap Nia sambil menyunggingkan senyumannya kearah Lian.
"Kau gila? Kastil bisa saja hancur karena kak Noey" ucap Lian sambil menjatuhkan dirinya keatas kursi.
"Lain kali aku akan lebih berhati-hati meletakkan minumanku"
Nia terkekeh.
Sebagian besar dari mereka sudah meninggalkan ruangan, menyisakan kekacauan yang akan menjadi pekerjaan para pelayan.
Udzaa bangkit dari posisi tidurnya dilantai, ia memegang kepalanya yang masih berdenyut sakit karena terbentur pegangan pedang Noey. Kemudian ia berdiri, menoleh kesegala arah, lalu berjalan kearah meja tempat Nia dan Lian berada.
"Untuk sesaat aku berpikir aku akan mati tadi" ucapnya.
"Kenapa tidak terjadi yaa" ucap Lian yang membuat Udzaa kesal, namun ia sudah tak punya tenaga untuk meluapkan kekesalannya.
Udzaa menyandarkan kepalanya diatas meja dengan malas.
Disisi lain Frans dan Mou masih menatap Tiara karang yang tertinggal dimeja. Mereka saling memberi pendapat tentang Tiara itu.
"Kupikir ini akan sangat cantik jika saja tak terbuat dari karang" ucapnya.
"..dan jika tak ada sihir hitam didalamnya" tambah Frans. Mou mengangguk setuju.
"Hei, hati-hati dengan itu, kalian bisa saja menjatuhkannya" ucap Lian memperingatkan, ia bangkit dari kursinya kemudian berjalan meninggalkan Udzaa dan Nia disana.
"Oh benar juga, tanganku sedikit licin karena minyak" ucap Mou sambil melihat telapak tangannya.
"Frans tolong pegang ini sebentar" ucap Mou sambil memberikan Tiara itu pada Frans selagi ia membersihkan tangannya.
Frans mengambilnya, namun tak berlangsung lama. Ketika Tiara itu menyentuh kulit tangannya Frans terkejut, ia segera melepas Tiara itu keudara.
"!!!"
"Hup!! Hampir saja" ucap Zayn yang segera menangkap Tiara itu sebelum jatuh kelantai.
Lian yang melihat itu segera berlari kearah mereka, kemudian memarahi Mou dan Frans.
Udzaa yang melihat itu dari kejauhan menyipitkan matanya, namun sesaat kemudian ia berpaling kearah Nia.
Ia melihat sekitar, memastikan jika hanya mereka berdua sekarang ini.
"Nia.."
Nia yang merasa dipanggil menoleh, menatap Udzaa yang mengayunkan tangannya agar dirinya mendekat kearahnya.
***
"Haaahh, malam ini benar-benar melelahkan" ucap Lian sambil menguap lebar, Frans dan Mou serta Zayn sudah pergi.
"Loh dimana Udzaa?" tanyanya saat melihat Nia hanya duduk seorang diri.
"Dia sudah pergi, dia ingin melihat rumahnya.. Kurasa sangat kotor mengingat sudah dua tahun ia tak membersihkannya" jawab Nia.
"Baiklah, kurasa aku juga perlu istirahat" ucap Lian, ia mengambil gulungan besar yang dibawa Udzaa.
"Aku akan membawanya pada Alvian agar segera diperiksa, aku harap dia belum tidur" ucapnya lagi, Nia mengangguk mengerti, kemudian Lian pergi meninggalkannya sendiri.
Untuk beberapa saat Nia masih terdiam dikursinya, kemudian pada akhirnya bangkit lalu pergi meninggalkan ruangan besar itu.
.
.
.
Nia tak berniat pulang, alih-alih meninggalkan kastil, ia malah menaiki tangga menuju ruang kerjanya.
Kastil sudah sangat sepi saat ini, malam juga sudah larut, mereka semua mungkin sudah tidur saat ini.
Nia membuka pintu ruang kerjanya, ruangan dengan empat meja serta empat lemari kaca tempat mereka menyimpan jubah Aldrich. Nia menatapnya sebentar, kemudian berjalan menuju mejanya, menarik laci disana, kemudian dari dalam laci kecil itu ia menarik keluar sebuah gulungan besar.
***
Udzaa kini telah berhasil membersihkan kamarnya. Dengan kerja ekstra karena Errol tak mau membatu sedikitpun dengan alasan perutnya yang sakit.
Setelah memandangi hasil kerja kerasnya itu, ia menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidurnya. Errol melayang rendah, dan ikut mendarat diatas tempat tidur.
"Haaahh, tubuhku lelah sekali" ucap Udzaa.
"Geroo"
Ia menatap langit-langit kamarnya, teringat sesuatu.
"Errol.." panggilnya.
"Gero"
"Kau lihat saat Frans menyentuh Tiara itu?" tanya Udzaa tanpa melepaskan pandangannya dari langit-langit kamarnya, seolah ada sesuatu yang menarik diatas sana.
Errol tak menjawab, ia hanya bergumam mengiyakan.
"Aku tak merasakan apa apa saat menyentuhnya"
"Mungkin saja hanya kebetulan gero" jawab Errol.
"Mungkin saja" ucap Udzaa mengiyakan, namun ia masih tetap merasa aneh.
"Tapi, kita tak boleh terlalu santai, jika memang benar Frans bereaksi dengan Tiara itu.."
"Ada kemungkinan hal itu berkaitan dengan langit.."
***
Nia kini, tengah berada diruang kerjanya, duduk dibalik mejanya. Ia menatap gulungan besar yang dibawa Udzaa sebagai hasil dari penyelidikannya selama dua tahun.
Nia menatapnya. Kemudian teringat kata-kata Udzaa sebelumnya.
#Flashback: on#
"Ada apa?" Nia menanyakan hal itu pada Udzaa yang memanggilnya dengan cara aneh itu.
"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu" ucapnya dengan nada serius, tapi wajahnya tak seserius nada bicaranya.
"Jika ini salah satu dari leluconmu, aku takkan segan-segan mengirimmu ke neraka" ucap Nia kesal.
Udzaa tak memperdulikan itu, ia melirik Lian serta yang lainnya, memastikan lagi kalau mereka sudah cukup jauh.
"Tak ada waktu menjelaskannya, aku hanya mengatakan ini padamu, ini masalah gulungan itu" ucap Udzaa cepat dengan nada setengah berbisik.
Nia melirik gulungan yang tak jauh darinya.
"Apa maksudmu"
"Gulungan itu palsu" ucap Udzaa yang segera mendapat tatapan tak mengerti dari Nia. Sebelum Nia sempat memberi tanggapan, Udzaa segera menyela.
"Dengarkan ini baik-baik, karena aku takkan mengulanginya lagi"
Nia mendengarkan.
"Itu gulungan palsu yang kubuat, karena aku tak bisa memperlihatkan yang asli didepan kalian semua, jangan tanya kenapa, yang pasti aku sudah menyimpan gulungan yang asli" Udzaa berbisik cepat sambil sesekali melirik kearah Lian yang sudah ingin kembali begitu Frans, Mou dan Zayn pergi.
"Aku meletakkannya dilaci mejamu, takkan ada yang bisa membukanya kecuali kau, aku sudah memasang mantra kecil disana, dan kuharap kau segera mengambilnya setelah ini"
Nia baru saja ingin bertanya maksud dari semua itu, tapi Udzaa menyela lagi.
"Kau akan tau saat melihatnya, oke, jangan lihat yang lain karena semuanya sama saja, cukup perhatikan 10 baris pertama gulungan itu, mengerti? Baiklah aku pergi" ucap Udzaa dengan cepat dan kemudian segera pergi sebelum Lian sampai ketempat itu.
"Haaahh, malam ini benar-benar melelahkan" ucap Lian sambil menguap lebar, Frans dan Mou serta Zayn sudah pergi.
"Loh dimana Udzaa?" tanyanya saat melihat Nia hanya duduk seorang diri.
"Dia sudah pergi, dia ingin melihat rumahnya.. Kurasa sangat kotor mengingat sudah dua tahun ia tak membersihkannya" jawab Nia.
"Baiklah, kurasa aku juga perlu istirahat" ucap Lian, ia mengambil gulungan besar yang dibawa Udzaa.
"Aku akan membawanya pada Alvian agar segera diperiksa, aku harap dia tidur" ucapnya lagi, Nia mengangguk mengerti, kemudian Lian pergi meninggalkannya sendiri.
#Flashback: off#
Nia berhenti memikirkan itu, kemudian ia segera membuka gulungan didepannya.
Sreeet..
Seperti yang dikatakan Udzaa, ia segera melihat 10 baris pertama gulungan itu dan terkejut saat mengetahui apa yang tertulis disana.
"Ini.. Benar-benar buruk"
__ADS_1
***