
"Milik almarhum Papa ku!"
tiba-tiba seorang gadis dengan pakaian kerja yang sudah rapi berjalan menghampiri meja makan.
Akash terperanjat kaget mendengar suara Ayrani yang menyebut papanya. Ia merasa sangat tidak layak mengenakan pakaian dari orang terhormat dan sebaik Almarhum Shamir.
"Tidak usah, Nek! Sebaiknya Akash pulang saja sebentar."
"Kenapa begitu Nak Akash, jalanan ibukota di pagi hari sangatlah macet dan Nenek tau sendiri seperti apa kalau sudah macet, butuh berjam jam untuk bisa keluar dari kemacetan."
ujar Sonia mulai beranjak berdiri hendak menuju kamar yang sudah lama digembok rapi.
"Ta- tapi....! Akash sungguh merasa tidak pantas Nek," tolak Akash.
"Nggak usah bawel, tinggal pakai aja ribet banget. Kamu lupa pagi ini kita ada pertemuan dengan ASTANA mengenai penandatanganan kontrak."
ucapan Ayra tiba-tiba membuyarkan rasa segan Akash. Diliriknya jarum jam yang melingkar di tangannya, dan ternyata benar. Jika ia harus pulang untuk berganti pakaian sungguh akan menyita banyak waktu. Maka dengan rasa canggung Akash menerima tawaran nenek Sonia.
"Baiklah, Nek!"
Usai sarapan pagi di kediaman Sonia Akash dan Ayra segera berpamitan berangkat ke kantor. Dengan mobil yang berbeda tentunya, dan seperti biasa aura pesona yang dimiliki gadis yatim piatu itu sungguh tak terkalahkan. Wajah serta body language yang dimiliki wanita muda itu seakan memiliki kharisma dan daya pikat tersendiri, meski sikapnya tidak pernah menunjukkan keakraban bagi siapapun yang baru melihat dia.
***
"Cepat cepat banget sarapan nya Dan,"
tegur Kamila kepada putra semata wayangnya, pagi itu yang sedang duduk bertiga di meja makan.
"Iya nih, Ma. Takut keburu siang. Soalnya pagi ini ada pertemuan tanda tangan kontrak kerja sama di perusahaan ternama di kota ini," sahut Daniel membersihkan sisa makanan di bibirnya.
"Sudah tahu ada pertemuan penting masih saja ngelamun daritadi. Dasar jomblo akut," cibir Kamila.
"Mama....!" lirik komandan Raichan memperingati Kamila.
"Doain anak Mama ini segera membawa pulang calon mantu buat Mama." kelakar Daniel seperti biasa.
"Dadaaahh.... assalamualaikum, Ma, Pa!"
Daniel bergegas pergi setelah berpamitan mencium tangan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Waalaikumussalam!" jawab Kamila dan komandan Raichan bersamaan.
Tak lama berselang mobil sport warna biru metalik milik Daniel, melesat jauh meninggalkan halaman rumah sang komandan.
"Tumben seantusias itu dia, pakai bilang bawa pulang calon mantu segala. Memangnya apa dia sudah mulai suka perempuan?" celetuk Kamila terus berpikir.
"Hussssttt...., kebiasaan Mama ini, ya. Sudah berapa kali harus Papa ulangi, ucapan itu adalah doa. Apalagi dari seorang ibu." protes sang komandan mulai tersulut kesal.
"Memangnya Mama beneran mau anak kita jadi seperti yang Mama bilang tadi?" komandan Raichan sedikit meninggi kan suaranya.
"Lain kali kalau ngomong sama anak itu jangan asal ucap. Kalaupun ingin mengucap, ucaplah hal hal yang baik saja!"
suasana sarapan pagi di kediaman komandan Raichan berakhir keributan seperti biasanya.
***
"Doain aku, ya, Pritha! hari ini aku akan bertemu gadis itu lagi."
sebuah pesan yang sengaja Daniel tulis dan dikirimkan kepada Prithaya.
Di sepanjang perjalanan menuju kantor pusat dari Shamir Corporation, hati Daniel mulai berbunga bunga. Bibir nya tak henti bernyanyi menyanyikan lagu lagu cinta. Menggambarkan dari isi hati dirinya yang sebenarnya.
Mobil sport warna biru metalik milik Daniel, kini sudah tiba di halaman parkir yang sangat luas berjejer dengan barisan mobil mewah lainnya. Dan pria muda ini segera berjalan menuju lobby.
"Selamat pagi, Mbak!"
"Bisa minta tolong antarkan saya ke ruangan Presdir!" ucap Daniel yang kini telah berdiri di depan meja resepsionis.
"Selamat pagi juga, Pak."
"Apa Bapak sudah buat janji dengan ibu Presdir?"
"Sudah, Mbak. Oh ya maaf, perkenalkan saya utusan dari ASTANA, Daniel." Daniel mengulurkan tangannya kepada resepsionis cantik di hadapannya.
"Oh, dengan Bapak Daniel. Baiklah mari ikuti Saya, Pak!"
seorang wanita muda cantik keluar dari balik meja resepsionis, mengantar Daniel menuju lantai lima. Ruangan Presdir dan juga ruang meeting.
"Sudah sampai, Pak. Bapak Daniel bisa langsung jalan lurus ke depan, lalu belok kanan sedikit. Itulah ruangan Presdir!"
__ADS_1
"Saya permisi dulu!"
Daniel berjalan sesuai instruksi dari resepsionis barusan. Sesekali pandangan nya menatap tiap sekat sekeliling yang tampak jauh lebih luas sekali dari tempat ia bekerja.
"Tok, tok, tok....!" seorang pria berdiri di depan pintu dengan tas di lengannya.
"Masuk...!" sahut sebuah suara tak lain adalah suara Akash.
Daniel memasuki ruangan berwarna abu-abu dengan desain interior mewah di dalam nya. Yang dipadukan dengan beberapa sentuhan aksen klasik.
"Selamat pagi, Pak!" sapa Daniel mengulurkan tangan ke arah Akash.
"Oh, Pak Daniel. Mari silahkan duduk, Pak. Kebetulan Presdir sedang menunggu Bapak!"
Daniel duduk di sofa yang ada di ruang kerja Ayra. Terus berusaha mencari foto wanita pujaannya, namun tidak ia temukan.
"Ruangan kerja sebesar ini, dia tidak menaruh satu pun foto cantiknya. Sungguh terlalu kau nona cantik," batin Daniel mengerutkan dahinya.
Akash pergi ke ruangan Ayra yang hanya bersebelahan dengan meja kerjanya, namun ruangan itu jika dilihat dari luar tidaklah tampak.
"Orang ASTANA sudah datang," ucap Akash yang berdiri di depan meja kerja Ayrani.
"Bawa ke ruangan meeting! pastikan terlebih dahulu semua berkas serta proposal dari mereka. Jangan sampai ada kekeliruan di lain hari," Ayra memperingatkan Akash.
"Baiklah!"
Akash kembali ke ruangannya dan membawa Daniel menuju ruang meeting yang bersebelahan dengan ruang kerja Ayra. Dan tapa harus berjalan keluar, wanita smart itu bisa terhubung dengan ruang meeting. Bahkan ia bisa melihat kinerja seluruh karyawan nya dari balik monitor CCTV yang dipasang hampir di seluruh sudut ruangan.
Daniel dan Akash mulai membuka percakapan dan kini keduanya tengah membahas perjanjian kerja sama yang akan mengikat kedua belah perusahaan.
Pria tangan kanan Ayra dan Sonia, kini terlihat sibuk memeriksa isi proposal serta perjanjian kerjasama dari PT. ASTANA. Yang sebentar lagi akan mereka tanda tangani.
"Kemana sih kamu nona cantik?" batin Daniel menggumam kesal, karena masih belum bisa melihat wajah wanita pujaannya.
"Kenapa harus bersembunyi sih, aku sudah sangat rindu melihat senyum serta bola matanya," batin Daniel kembali.
***
BERSAMBUNG.....
__ADS_1