Elegi Cinta Ayrani

Elegi Cinta Ayrani
Penolakan Daniel


__ADS_3

"Maaf, kehadiran Saya ke sini adalah untuk menjalin kerjasama atas utusan dari ASTANA , bukan untuk berkhianat," tolak Daniel dengan tegas.


"Apa itu artinya Anda menolak tawaran bagus dari Saya?" Akasma terus berusaha merayu Daniel.


"Jika Anda bersedia bergabung di perusahaan ini, posisi yang Saya tawarkan adalah manager. Tolong Kamu pikirkan ulang, anak muda!"


Daniel semakin tidak mengerti maksud dari wanita yang duduk di depannya tersebut. Tawaran tawaran yang diajukan Akasma semakin membuat Daniel merasa aneh.


"Sepertinya ada maksud tidak baik dari Presdir ini," batin Daniel terus mengamati gaya bicara Akasma.


"Aku harus bisa meyakinkan agar Presdir ini bersedia menandatangani kontrak kerjasama," gemuruh batin Daniel.


"Emmmm...., begini saja Nyonya, sebaiknya kita sepakati dulu perjanjian kerjasama ini. Dan mengenai tawaran Anda, akan Saya coba pikirkan kembali. Bagaimana pun juga Saya harus berunding dengan kedua orang tua," tepis Daniel dengan sopan.


Bukan Akasma namanya kalau ia mengiyakan begitu saja jawaban dari anak muda di hadapannya. Wanita pebisnis itu mulai menemukan ide untuk bisa menempatkan Daniel di perusahaannya.


"Baiklah, kalau begitu, sama halnya dengan Anda yang masih meminta waktu untuk berpikir, Saya pun akan mempelajari proposal ini. Tolong juga sampaikan kepada Presdir ASTANA bahwasanya Saya meminta sedikit waktu beliau untuk bertemu secara empat mata."


Pagi yang perlahan sudah mulai bergeser menjadi siang, rupanya sedikit membuat hati Daniel kesal. Atas penolakan Akasma.


"Baik, akan Saya sampaikan. Kalau begitu Saya ijin pamit undur diri."


"Permisi!"


Daniel beranjak bangun dari kursinya dan meninggalkan lembaran proposal di atas meja Akasma dengan perasaan kecewa. Ia segera meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Setelah kepergian Daniel, Prithaya yang sedari tadi berada di belakang ruangan sang mama, keluar dan kembali duduk.


"Eh Sayang, apa Kamu mendengar percakapan Mama dengan anak muda itu barusan?" tanya Akasma mengulurkan tangannya meraih jemari sang putri.


Prithaya duduk di ujung meja kerja Akasma, seraya mengangguk.


"Iya Pritha mendengar semuanya."


"Maaf, Ma, kalau Pritha boleh tahu, kenapa Mama tiba tiba begitu saja hendak memperkerjakan orang yang belum Mama kenal. Apa Mama tidak takut orang itu akan menghancurkan perusahaan ini nantinya?"


Akasma tersenyum menatap putrinya yang kebingungan dengan sikapnya.


"Dengar Sayang, Mama bukanlah orang kemarin sore yang terjun ke dalam dunia perbisnisan. Mama tahu persis kemampuan yang dimiliki anak muda tadi. Kalau Pritha tidak percaya, coba pelajari proposal yang dia buat!" terang Akasma menyodorkan lembaran proposal di atas meja kepada Prithaya.


"Ma, ini hanya sebuah proposal, dan siapa pun pasti bisa membuat seperti ini. Sebaiknya Mama pikir kembali tentang keputusan Mama itu. Pritha tidak mau, perusahaan yang Papa bangun dengan kerja keras ini, hancur di tangan orang asing."


Terlihat Pritha sangat tidak setuju dengan kemauan sang mama. Karena ia tidak ingin perusahaan satu satunya warisan dari sang papa, hancur begitu saja. Dan siang itu kedua wanita tersebut sedikit melakukan perdebatan tentang keinginan masing-masing.


"Kalau begitu, jika Kamu tidak ingin Mama memperkerjakan dia, secepatnya Kamu harus segera masuk di perusahaan ini mendampingi Mama!" sebuah ultimatum keras tercetus dari bibir Akasma. Hal itu membuat Prithaya ambigu seketika.


"Tolonglah, Ma, ini namanya tidak adil buat Pritha, kalau Mama memaksakan kehendak. Ini pilihan yang sangat sulit bagi Pritha. Iya Pritha sudah berjanji akan belajar dan menggantikan posisi Mama, tapi tidak secepat itu juga," wajah cantik Prithaya kini berubah murung.Gurat kekecewaan juga terlihat di wajah ayu nya.


"Maafkan Mama, Sayang. Tolonglah pahami Mama, kalau tidak sekarang Kamu ambil peran di sini. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun ke depan. Perempuan sialan itu yang akan merajai dunia perbisnisan di kota ini. Mama tidak mau itu terjadi. Kamu harus menghancurkannya!"


Kedua bola mata Pritha membulat sempurna seketika, tatkala kedua telinganya mendengar ucapan yang dipenuhi oleh kebencian serta kemarahan keluar dari mulut wanita yang dicintainya.

__ADS_1


"Mama! maksud Mama, wanita sialan siapa?"


Prithaya mengayun tangan Akasma, meminta penjelasan dari ucapannya.


"Wanita sialan itu. Dia yang sudah merebut semua kebahagiaan kita."


Bagai disambar petir bagi Pritha kala mendengar apa yang dimaksud sang mama. Batinnya terasa sakit, harus mengingat kembali tentang Ayrani. Adik cantik yang sangat ia sayangi harus terpisah hanya karena kesalahpahaman dan kebencian.


"Ma, ini tentang Pritha, bukan tentang Ayra. Bisa nggak sih sekali saja Mama membuang kebencian Mama. Haruskah dalam setiap kehidupan Pritha Mama bawa bawa Ayra?" suara kemarahan Prithaya mulai melengking.


Perang adu mulut ibu dan anak itu kian memanas. Pritha sungguh tidak menyangka jika sampai detik itu kebencian sang mama terhadap Ayrani belum juga terkikis. Justru seolah kian menggunung yang siap meledak kapan saja seperti bom waktu.


"Pritha sungguh kecewa sama Mama!"


Dengan mata yang mulai berkaca, Prithaya pergi meninggalkan ruangan sang mama. Dan mengendarai mobilnya berkeliling tak menentu.


Lama gadis itu berputar putar ke seluruh area kota dengan tangis yang telah pecah. Tak menemukan satupun tujuan tempat singgah dari kekecewaannya siang itu. Dan akhirnya perjalanan membawa Prithaya pada suatu tempat, yaitu kebun tempat ia dulu sering menghabiskan waktu bermain bersama Ayra dan Daniyal.


"Ayra, hiksss..., Kaka rindu!" Raung Pritha sekencangnya sembari bersimpuh di dekat bunga bunga.


"Ayraaaaa....!"


*****


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2