Elegi Cinta Ayrani

Elegi Cinta Ayrani
Tawaran Akasma


__ADS_3

Sayup suara adzan subuh mulai terdengar, seorang wanita paruh baya yang terbaring dan berselimut tebal, rupanya baru saja terjaga. Dilirik jam dinding, jarum jam merujuk pukul empat pagi. Ia pun hendak bergegas bangun, namun langkahnya tertahan saat melihat seseorang tertidur di sebuah kursi di ujung tempat tidurnya.


"Non Rara!" pekik Bu Dewi kaget sembari menutup bibir.


Asisten rumah tangga Sonia itu mulai mengingat kejadian semalam sebelum ia tidur pulas. Dan kini ia mengingat terakhir kali saat ia hendak memasak namun Rara mencegah dan menyuruhnya untuk beristirahat di kamar.


"Sungguh mulia hati mu, Non! semoga Nona bahagia selalu!" batin Bu Dewi mengusap rambut Ayra.


Baru dua langkah beranjak dari tempat tidur, langkah Bu Dewi terhenti, karena Ayra bersuara.


"Ibu, sudah bangun? gimana kondisi Ibu?" ucap Ayra menyipitkan kedua mata, yang masih belum terbuka sepenuhnya.


"Iya, Non. Alhamdulillah sudah enakan. Terima kasih Non Rara sudah merawat Ibu, sampai sampai tidur di kamar Ibu segala," balas Bu Dewi menyunggingkan senyum.


"Ibu tidak usah berterima kasih, sudah menjadi kewajiban Rara merawat Ibu. Di rumah ini kan hanya ada kita bertiga, kalau bukan Rara, siapa lagi, Bu!" tandas Ayra yang kini mulai bangkit dari kursi tempat ia tidur semalam.


"Iya, Non, sekali lagi terima kasih banyak. Ibu ijin permisi dulu mau sholat, Non," timpal Bu Dewi mengangguk dengan sedikit membungkuk. Dan tak lama kemudian Ayra juga pergi ke kamarnya.


***


"Pagi, Ma!" sapa Prithaya mencium pipi Akasma yang terlihat sudah rapi, duduk di meja makan.


"Pagi, Sayang!" timpal Akasma tersenyum lebar menyambut sang putri.


Pritha duduk di samping Akasma, hanya mengambil selembar roti tawar yang sudah diolesi selai kacang. Gadis itu menyantap roti di hadapannya dengan lahap.


"Sayang, hari ini Pritha jadi kan nemenin Mama ke kantor?" tanya Akasma sembari menyesap kopi di tangannya.


"Iya, Ma. Hari ini adalah hari spesial dari Pritha buat Mama tersayang," balas Pritha mengedipkan mata ke arah sang mama seraya terkekeh kecil.


"Baguslah, Mama senang sekali. Nanti Pritha bisa melihat lihat kerjaan Mama, karena suatu saat nanti Kamu lah yang akan menggantikan posisi Mama, Sayang."


Pritha terus mengunyah roti yang ada di tangannya, seraya diam mendengarkan sang mama tanpa berkomentar. Gadis ini sebenarnya sangat tidak ingin terjun ke dunia bisnis. Namun jika melihat keluh kesah yang keluar dari sang ibunda tiap harinya, ia juga merasa tidak tega membiarkan wanita yang melahirkannya kecewa atas penolakannya.


"Iya, Ma. Tolong beri Pritha waktu untuk berpikir dan belajar tentang bisnis," ujarnya.


"Mama yakin anak kesayangan Mama ini pasti tidak butuh waktu lama untuk belajar. Ya sudah cepat habiskan susu mu, ayo kita berangkat!" seru Akasma.

__ADS_1


Kedua wanita, ibu dan anak itu berjalan meninggalkan meja makan menuju garasi mobil. Pagi itu mereka berdua pergi ke kantor menggunakan mobil Akasma.


***


Jalanan kota mulai padat merayap pagi itu, hingar bingar suara deru motor dan mobil pun juga terdengar. Lalu lalang para pejalan kaki juga turut memadati kemacetan kota. Namun tak lama setelah berhasil menembus kepadatan keduanya baru saja tiba di kantor.


Terlihat beberapa karyawan berdiri membungkukkan badan menyapa kedatangan dua wanita cantik pemilik perusahaan. Dengan langkah gemulai penuh kesopanan, Pritha mengulas senyum balik menyapa para karyawan.


"Selamat pagi, Ibu, selamat pagi, Nona!"


"Selamat pagi!" balasnya.


Sementara di kediaman Kamila, terlihat satu keluarga tengah sarapan pagi bersama. Daniel menghabiskan secangkir kopi buatan sang mama, tanpa menyentuh hidangan yang sudah tersaji di atas meja.


"Tiap hari Mama itu sengaja bangun pagi, hanya untuk buat sarapan kalian. Ini bukannya makan sebentar malah terburu buru terus kerjaannya. Buruan buruan makan!" gerutu Kamila dengan memanyunkan bibir, kesal karena Daniel susah sekali untuk sarapan.


"Mama...., ini tuh udah kesiangan loh. Sebentar lagi Daniel harus kunjungan ke perusahaan ternama. Kata si Boss sih ownernya tidak suka bekerjasama dengan perusahaan yang datangnya molor kalau ada janji dengannya," terang Daniel pada seruputan terakhir kopinya.


"Kalau tahu begitu harusnya bangun lebih pagi, bukan tiap mau kerja gelagapan begitu," tegur Kamila sedikit kesal.


"Mama....!" Daniel segera beranjak dari kursinya kemudian bersalaman kepada mereka berdua.


Tuan Raican hanya menggeleng seraya tersenyum mendengar kelakar putra semata wayangnya, bahkan sempat melontarkan sebuah tinju kecil di lengan Daniyal sebelum pergi.


"Danielll....!"


"Dasar, awas nanti ya!" ancam Kamila menggerutu.


Tak lama setelah mengitari jalanan kota, mobil yang dikendarai Daniel pun tiba di perusahaan yang saat ini menjadi tempat kunjungannya.


"Selamat pagi, Mbak. Saya Daniel, utusan dari ASTANA. Bisa bertemu dengan Presdir?" Dengan setelan jas warna abu, Daniel berdiri di depan meja resepsionis.


"Selamat pagi, Pak! kebetulan Ibu Presdir baru saja tiba beberapa menit lalu, apa Bapak sudah membuat temu janji?" jawab resepsionis.


"Oh, iya tentu saja sudah. Tolong sampaikan kepada beliau, utusan ASTANA sudah datang."


"Baik, Pak!" terlihat sang resepsionis segera menekan nomor ekstensi jalur ruangan Akasma.

__ADS_1


"Selamat pagi, Ibu! Maaf mengganggu waktu Ibu, Saya hanya ingin menyampaikan bahwa utusan ASTANA sudah tiba, katanya beliau sudah membuat temu janji dengan Ibu?"


"Pagi! suruh saja dia ke ruangan Saya!"


"Baik, Bu!" sambungan telepon pun berakhir.


"Mari Bapak Saya antar!" Daniel segera mengekor mengikuti langkah sang resepsionis.


"Terima kasih!" ucap Daniel kepada resepsionis yang sudah mengantarnya.


Sebelum masuk ruangan Akasma, Daniel terlebih dahulu mengetuk pintu.


"Masuk!" teriak sebuah suara dari dalam, suara yang berkarakter dan penuh wibawa kedengerannya.


"Selamat pagi!" Daniel mengulurkan tangan bersalaman dengan Akasma, disambut hangat oleh wanita itu.


"Pagi, duduklah!"


Setelah Daniel duduk di depan meja Akasma, keduanya mulai berbincang tentang bisnis yang akan mereka jalin, bahkan tampak Daniel menyodorkan beberapa lembar kertas kertas berisi surat perjanjian kerjasama. Wanita yang duduk di sebuah kursi empuk layaknya singgasana itu, membaca lembar demi lembar isi perjanjian kerjasama tersebut.


"Kalau boleh tahu, siapa yang membuat proposal ini?" Akasma bertanya dan kelihatan nya mulai sedikit tertarik dengan isi proposal di tangannya.


"Maaf, Saya sendiri yang membuatnya. Apa ada yang salah?" Daniel mulai sedikit panik. Pembawaan Akasma yang dingin membuat dirinya nervous.


"Tidak, tidak. Sejauh yang Saya baca semuanya oke. Dan Saya pun tertarik dengan isi proposal itu, makanya Saya bertanya." balas Akasma mengulas senyum.


"Tidak usah takut, santai saja!"


"Sudah berapa lama, Anda bekerja di perusahaan itu? Apa tidak ada keinginan mencoba melebarkan sayap di perusahaan besar?, ya contohnya seperti perusahaan ini."


Akasma mengalihkan pembicaraan mulai merayu Daniel. Sebab wanita itu melihat ada potensi bakat besar yang di miliki anak muda di depannya tersebut. Ia ingin orang berbakat seperti Daniel bekerja di perusahaan miliknya, karena cita cita terbesar Akasma adalah menggulingkan perusahaan Sonia yang saat ini dipegang oleh Ayrani.


"Anak muda ini bukan pemuda biasa. Dia memiliki bakat besar untuk mengangkat perusahaan ini menjadi perusahaan raksasa di kota ini. Aku harus bisa merayunya," batin Akasma masih mengamati pemuda yang duduk di depan mejanya.


Daniel tampak kebingungan mendengar perkataan Akasma. Bagaimana bisa seorang CEO yang belum sehari mengenalnya sudah nekat berani menawarkan dirinya untuk bekerja di perusahaan besar miliknya.


"Jika Anda mau, Anda bisa menentukan sendiri berapa gaji yang Anda inginkan!"

__ADS_1


***


BERSAMBUNG...


__ADS_2