
Hari telah berganti sore, senja pun perlahan beranjak di peraduan nya. Dengan mata sembab, Pritha berusaha menghubungi Daniyal, sahabat kecilnya.
"Derttt....!"
"Derttt....!"
"Pritha," batin Daniel setelah melirik siapa nama si penelepon, kemudian kembali meletakkan ponsel ke dalam saku.
Beberapa kali panggilan sengaja Daniel abaikan, karena posisi dia saat itu sedang bersama sang atasan. Tengah membahas kejadian tadi siang.
"Benarkah dia menyuruh mu bekerja di sana, dengan tawaran posisi yang tinggi?" ucap CEO ASTANA.
"Benar, Pak. Bahkan karena penolakan Saya, beliau sengaja menunda penandatanganan kontrak kerjasama kita," timpal Daniel menjelaskan.
"Lantas apa yang membuat mu menolak tawaran bagus itu, dan memilih tetap bertahan di sini?"
"Maaf, Pak, ini semua bukan tentang jabatan atau gaji. Melainkan tentang prinsip. Saya bisa saja berkhianat menerima tawaran itu, tapi harga diri Saya sebagai seorang laki-laki dan loyalitas sebagai karyawan terbaik di perusahaan ini bisa hancur," balas Daniel.
"Anak muda, Saya sangat berterima kasih kepada mu. Berkat kegigihan serta keuletan Kamu, perusahaan ini mulai dilirik oleh beberapa perusahaan besar untuk menjadi rekan bisnis mereka. Akan tetapi sebagai atasan yang baik, Saya tidak boleh egois dan menghalangi langkah Kamu untuk menjadi sukses. Jadi, sebaiknya pikirkan kembali tawaran itu!"
Sejenak suasana menjadi hening di ruangan itu.
"Terima kasih atas pengertian Bapak, namun kembali lagi ke prinsip. Apapun yang terjadi Saya akan tetap bertahan bekerja di sini. Dari perusahaan ini Saya banyak belajar, berlian meski tersembunyi dimanapun berada, tetaplah sebuah berlian. Sekalipun di kubangan lumpur atau tempat sampah."
Pria paruh baya yang usianya setara dengan komandan Raican, merasa haru atas ucapan dari anak muda di depannya yang merupakan karyawan terbaik di perusahaan miliknya.
"Baiklah anak muda, sekali lagi Saya sangat berterima kasih kepada mu. Kalau begitu Kamu atur saja pertemuan dengan dia," Daniel mengangguk pasrah.
Beberapa menit setelah obrolan berakhir, Daniel pun pamit undur diri. Semua karyawan sudah pulang sejak sejam yang lalu, jadi suasana kantor saat itu tampak lengang. Hanya ada security yang berjaga.
"Malam, Mas! lembur ya?" sapa salah satu security yang berjaga di depan pintu masuk kantor.
"Malam juga, Pak! bukan lembur Pak, hanya sedang berdiskusi dengan Boss sebentar," balas Daniel disertai senyuman dari bibir indahnya.
__ADS_1
"Oh, begitu. Hati hati, Mas!" timpal security sembari melambai mengiring langkah Daniel yang berjalan menuju area parkir. Daniel pun balas melambaikan tangan ketika mobilnya meninggalkan kawasan ASTANA.
Sesampainya di rumah jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dan begitu Daniel sampai di rumah, ia duduk di sofa teras depan rumah seraya merogoh ponsel miliknya.
"Dertt....!" baru sekali berbunyi, Pritha segera menjawab panggilan Daniel.
"Hai, sorry ya, tadi aku tidak bisa mengangkat telepon Kamu. Lagi di depan Boss," tutur Daniel.
"Iya nggak papa Kak, Pritha ngerti kok," jawaban singkat serta nada yang terdengar sedikit berbeda dari Pritha yang biasanya humble.
"Maaf banget ya! ngomong ngomong ada apa? tumben menelepon," tanya Daniel.
Pritha hanya diam tak menjawab pertanyaan Daniel. Selain kecewa, ia juga bersedih atas sikap Akasma. Mengetahui sahabat kecilnya tetap diam ambigu, Daniel merasa ada yang aneh dari suara sahabatnya itu.
"Pritha, Kamu baik baik saja kan? suara Kamu beda, nggak kayak biasanya. Apa Kamu habis nangis?"
"Nggak!" jawab Pritha datar.
"Jangan bohong, Aku hapal betul suara Kamu. Cepat katakan! Kamu lagi dimana?"
Daniel yang diliputi kekhawatiran terhadap Prithaya, akhirnya kembali beranjak dari duduk segera meraih kunci mobil yang tadi sempat ia lempar di atas meja.
"Loh, loh, loh, mau kemana? baru juga pulang?" tegur Kamila dari dalam rumah yang melihat punggung Daniel menuju garasi.
"Keluar sebentar, Ma!" teriak Daniel bergegas mengendarai mobil.
"Ini anak ada ada saja, Aku cari kemana pula!" gerutu Daniel memukul kemudi setir.
Tak jua tahu kemana tujuannya, Daniel kembali mencoba menghubungi Prithaya. Namun gadis itu tidak mengangkat teleponnya.
"Ah, sial! pakai ngambek segala tuh anak," Daniel kian khawatir.
Meski tak tahu tujuannya, Daniel tetap saja berputar mencari di sepanjang bahu jalan, barangkali ada mobil Prithaya terlihat. Tapi dari hiruk pikuk keramaian malam itu. Mobil milik Prithaya tak kunjung juga tampak.
__ADS_1
"Sudah satu jam lebih, kemana sih itu anak?"
Berkali-kali telepon pun terus dicoba oleh Daniel. Bukan saja Daniel yang mencemaskan keberadaan Prithaya malam itu. Akasma juga kaget saat dirinya kembali ke rumah. Namun sang putri tidak ada. Bahkan pelayan pun tidak tahu kemana gadis itu pergi. Telepon antara Akasma dan Daniel silih berganti memenuhi panggilan telepon Prithaya. Dan gadis itu masih tetap pada posisinya.
"Sayang, Kamu dimana? jangan bikin Mama khawatir begini, Sayang!" gumam Akasma, yang berjalan mondar mandir di depan teras rumah.
"Kenapa tidak menelepon Saya, jika Nona Pritha tidak pulang?" teriak Akasma kencang kepada salah satu pelayan.
"Ma- maaf, Nyonya, Saya pikir Non Pritha akan kembali bersama Nyonya. Sebab Saya lihat tadi pagi, Nyonya bersama Nona pergi bersama," balas sang pelayan ketakutan.
"Dertt...!"
"Derttt...!"
"Dertt...!"
"Ya Tuhan, kemana Kamu Sayang? ayo angkat telepon Mama! Mama khawatir."
Lelah berkeliling tak jua menemukan keberadaan mobil Prithaya, telepon juga tidak ada sahutan, maka Daniel putuskan kembali pulang mengingat jam sudah pukul 10 malam.
"Pritha!" kedua bola mata Daniel terbelalak kaget melihat Pritha berdiri di sebuah taman, dan sepertinya hendak masuk ke dalam mobil.
Mobil Daniel segera menyeberang jalan menuju arah taman. Betapa kaget Daniel saat itu kala melihat taman, tempat Pritha berdiri. Ia teringat akan masa kecilnya yang pernah bermain di sana, bersama Prithaya dan juga Ayrani, kilatan flashback tragedi yang d alami Ayrani pun membuatnya teringat kembali.
"Ayra!" tanpa sadar sudut mata indah Daniel bergulir setetes air bening.
Beberapa saat Daniel larut dalam kilatan ingatan masa kecilnya, ia segera mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Ia pun bergegas keluar mobil.
"Pritha! apa yang Kamu lakukan malam malam di sini?" tanya Daniel dengan nada marah.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama Kamu? apa Kamu tidak lihat? di sini sepi sekali," Daniel kian emosi melihat Pritha yang hanya diam tidak menjawab. Ia pun mengguncang bahu gadis di depannya sedikit kasar.
"Auw, sakit, Kak!"
__ADS_1
***
BERSAMBUNG....